Share

61. Lamaran Naumira

Author: pramudining
last update Last Updated: 2025-02-05 08:39:03

Happy Reading

*****

"Enggak usah ngegombal, Pak. Enggak pantes," protes Kiran setelah berhasil meredakan irama jantungnya.

Tawa Amir terdengar. "Aku nggak ngegombal, Ran. Boleh kamu tanya sama Syaif, aku ini lelaki seperti apa. Nggak ada perempuan yang pernah aku puji seperti dirimu tadi."

Kiran membasahi kerongkongannya. Pipinya terasa memanas, pasti saat ini merah akibat perkataan Amir tadi.

Gugup, Kiran mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tak ada seorang pun di ruangan itu kecuali dirinya dan Amir. Sementara lelaki itu masih tertawa.

"Pak, kenapa cuma kita berdua di sini. Di mana Rara dan lainnya?" tanya Kiran setelah sekian lama.

"Duduk aja dulu. Bentar lagi mereka pasti datang. Kayaknya ini kejutan buat kita," kata Amir tenang. Dia menyeret satu kursi dan menyilakan gadis itu untuk duduk.

"Pak." Suara Kiran bergetar saat memanggil nama Amir. Jelas sekali jika gadis itu sangat gugup saat ini.

"Jika boleh jujur, aku juga gugup duduk berdua denganmu. Riasan dan segala hal yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   62. Seperti Siput

    Happy Reading*****"Papa sama Mama, bisa-bisanya minta Rara ngomong kayak gitu," gerutu Amir. Walau bibirnya berkata tidak setuju, tetapi hati lelaki itu bersorak gembira. Jika sudah seperti ini, Kiran tidak akan menolak apa yang diminta oleh Rara. "Emang kenapa? Kalau Papa yang nyuruh dan ngajarin dia?" Lelaki paruh baya itu merangkul Laila dan Naumira untuk segera duduk. "Gerakanmu kayak siput, lambat banget. Keburu uban Papa bertambah, baru bisa lihat kalian di pelaminan," ucap Wijananto enteng.Setelah Wijananto duduk, dia kembali berkata, "Mulai sekarang, kamu resmi jadi menantuku, Ran. Jangan ada lagi kata Pak atau Bu saat memanggil kami berdua. Panggil kami seperti Amir." Sang kepala keluarga menatap Kiran yang terbungkam."Ayo makan! Papa dah laper banget."Selesai berkata, Wijananto mengerakkan tangan dan datanglah beberapa karyawan membawa hidangan mereka. Naumira duduk di antara Amir dan Kiran. Menyatukan kedua tangan pasangan itu di pangkuannya. "Mami cepet pulang ke r

    Last Updated : 2025-02-05
  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   63. Ragu, tetapi Mau

    Happy Reading*****"Alhamdulillah," ucap Wijananto dan Laila bersamaan. Amir juga mengucapkan kata tersebut walau salam hati. Obrolan mereka berlanjut masalah lain. Naumira lebih banyak mendominasi pembicaraan keluarga tersebut hingga Kiran tak lagi merasa canggung. Waktu terus berlalu, Wijananto mengajak Naumira pulang. Meminta putranya untuk mengantar sang calon menantu. "Hati-hati di jalan. Papa nggak mau sampai ada kabar jelek tentang kalian berdua," nasihat Wijananto mewanti-wanti putranya. "Calon mantu Mama, harus selamat sampai rumah, lho, Mir," tambah Laila."Mi, nanti kabari Rara kalau Papi nyetirnya ngebut. Biar Rara jewer sampai rumah." Si kecil juga ikut-ikutan menasihati membuat Kiran tersenyum dan merasa sangat diinginkan oleh keluarga atasannya.Amir mencebik, menatap anggota keluarganya bergantian. "Sebenarnya, anak kandung Papa sama Mama itu siapa? Rara juga kenapa ikut-ikutan ngasih nasihat gitu?" tanya Amir disertai lirikan penuh arti pada gadisnya. "Biarin,

    Last Updated : 2025-02-05
  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   64. Instrospeksi Diri

    Happy Reading*****"Apa, Sayang," goda si lelaki, sengaja supaya pipi Kiran makin merah dan Amir makin senang melihatnya. "Jangan aneh-aneh panggilannya. Saya masih belum menerima Bapak sepenuhnya. Kalau terus seperti ini, saya akan memberikan poin minus," ancam Kiran."Berjanjilah kamu akan menepati semua perkataanmu tadi. Jika belum ada rasa yang hadir untukku, mulailah belajar membuka hati," pinta Amir ketika mereka sudah berada di halaman rumah Kiran. Lelaki itu menatap gadis di sebelahnya dengan serius."Udah malam, Pak. Saya masuk dulu, enggak enak sama tetangga." Kiran membuka pintu dan mengeluarkan kaki kanannya. "Tunggu!" pinta Amir dengan mencekal pergelangan si gadis. "Banyak-banyak doa dan minta petunjuk. Aku menunggumu. Kalau tidur nanti, jangan lupa mimpiin aku, ya." Amir memainkan kedua alisnya, naik turun."Pulang, Pak! Udah malam, nanti khilaf bisa dicoret dari kartu keluarga Wijananto." Kiran berlari setelah mengatakannya. Jangan ditanya bagaimana keadaan jantungn

    Last Updated : 2025-02-07
  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   65. Tamu Pagi-pagi

    Happy Reading*****Setelah berpikir semalam, Kiran mencoba membuka hatinya untuk memaafkan sang Ayah. Seperti kata Agung, mungkin sudah saatnya mereka sekeluarga mulai melangkah, berusaha berdamai dengan masa lalu.Pagi ini, suasana hatinya berubah lebih plong. Kiran baru akan keluar dari kamar ketika ibunya berteriak memanggil untuk sarapan. Gegas dia berlari keluar dan menuju meja makan. Nur terlihat sibuk menyiapkan makanan dan memasukkan pada rantang ketika gadis itu sampai di meja makan. "Ibu mau ke rumah sakit sekarang?" tanya Kiran sambil berusaha membantu Nur."Iya. Numpang masmu pas berangkat kerja nanti. Ibu kasihan sama adikmu, Ran. Cukup lama dia nunggu ayahmu di rumah sakit," jelas perempuan paruh baya tersebut. Perlahan, dia sudah bisa menerima kehadiran Farel menjadi bagian keluarganya. Kiran cuma bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban. Dia tahu persis jika Farel tidak pernah pergi dari sisi Agus selama berada di rumah sakit.Suara bel berbunyi bertepatan dengan

    Last Updated : 2025-02-07
  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   66. Godaan Menggemaskan

    Happy Reading*****Bau harum mawar menyeruak ketika Kiran membuka mobil atasannya. Gadis itu diam termenung ketika melihat sebuah buket mawar merah yang tergeletak di kursi belakang kemudi. Pikirannya sudah mengembara ke mana-mana.Amir melirik Kiran dan senyum-senyum sendiri ketika melihat arah pandang gadisnya. Lelaki itu jelas mengetahui isi pikiran Kiran saat ini. "Ayo cepet masuk! Aku ada meeting pagi ini di hotel Putri Sri Tanjung," perintah Amir ketika Kiran malah terdiam sambil melihat buket mawar tersebut.Sang gadis tersentak, sadar dari segala lamunnya tadi. Lalu, masuk dengan bibir sedikit maju. Duduk di sebelah si bos dengan gelisah. Berharap, Amir menjelaskan untuk siapa buket itu. Namun, nyatanya tak terjadi. Kiran duduk masih dengan raut kekesalan. Beberapa saat setelah melajukan kendaraannya, Amir menoleh pada gadis yang terlihat kesal. " Kamu pasti bertanya-tanya untuk siapa buket itu. Rara, tadi nyuruh aku ngasih buket mawar di belakang itu buat kamu. Ambil, gih

    Last Updated : 2025-02-07
  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   67. Ada apa dengan Kotak Bekal?

    Happy Reading*****Di rumah sakit ketika Nur baru sampai, beberapa dokter tengah memeriksa Agus. Panik menyerang apalagi melihat Farel yang duduk dengan menutup muka, terlihat frustasi. Perempuan itu mendekat, menyentuh lengan anak tirinya.Farel mendongak, menyalami Nur dengan mata berkaca-kaca. "Pagi ini kondisi Ayah memburuk, Bu. Farel nggak tahu apa sebabnya. Setelah memangil-manggil nama Mbak Kiran. Kondisi beliau drop," terangnya. "Ya Allah. Semoga keadaan ayahmu baik-baik saja," doa Nur, "sebaiknya kamu sarapan dulu. Ibu bawakan makanan." Dia memberikan rantang di tangannya pada Farel. "Terima kasih, Bu. Nanti saja Farel makan," ucap Farel. Salah satu perawat memanggil lelaki itu. "Tolong jaga emosional Ayah Anda. Kesehatannya sewaktu-waktu bisa drop seperti ini," pinta perawat, "siapa di antara kalian yang bernama Kiran?"Nur dan Farel saling pandang. "Dia putri saya, Sus. Ada apa?" tanya Nur. "Kalau bisa suruh Kiran datang ke sini. Dari tadi pasien terus mencarinya." Set

    Last Updated : 2025-02-08
  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   68. Cincin di dalam Kue

    Happy Reading*****"Ran, Halo. Halo," ucap Amir setengah berteriak. "Yah, kok malah dimatiin, sih. Aku kan belum selesai ngomongnya. Apa dia marah, ya? Apa perkataanku terlalu keras?"Berbagai pertanyaan itu bermunculan di pikiran Amir. "Apa sebaiknya aku ke rumah sakit sekarang, ya? Nyusul dia. Ah, Kiran ... Kiran. Seneng banget buat aku khawatir seperti ini."Resah, lelaki itu kembali ke parkiran, melajukan kendaraan ke arah rumah sakit. Amir memutuskan untuk mendatangi gadisnya. Bunyi perut yang menandakan rasa lapar dihiraukan begitu saja. Lelaki itu memilih meneruskan perjalanan untuk bertemu lngsung dengan gadisnya. Dia, hanya mengganjal rasa lapar dengan meminum air putih. "Kalau kamu nggak makan bekal itu bisa gagal kejutan yang aku siapkan. Kenapa nggak mau pamit, padahal kirim chat 'kan bisa biar aku nggak khawatir kayak gini." Amir menggerutu dalam perjalanan menuju rumah sakit. Mencoba sekali lagi melakukan panggilan, Kiran me-reject teleponnya. "Kok, malah di-reject,

    Last Updated : 2025-02-08
  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   69. Tegang

    Happy Reading*****Tatapan marah, diberikan Kiran pada sang lelaki. "Cuma karena ini, Anda marah tadi?""Maaf," pinta Amir sambil menyatukan kedua tangannya. Senyum lelaki itu dibuat semanis mungkin. Tangan kanan Amir mulai bergerak, mengambil isi di dalam kotak yang dipegang Kiran. Lalu, memegang tangan kiri si gadis dan melepaskan cincin yang dipasangkan Naumira kemarin, menggantinya dengan yang baru. Cincin pemberian putrinya dipindahkan ke tangan kanan si gadis. Si gadis diam mematung. Semua perlakuan Amir begitu cepat hingga dia tidak sempat melayangkan protes."Kalau kemarin Papa ngomong kamu resmi jadi menantunya setelah Rara memasangkan cincin itu. Sekarang aku mengatakan, kamu resmi menjadi tunangan dan calon istriku. Cincin ini sebagai tandanya," ucap Amir.Tak ada waktu bagi Kiran untuk menolak atau mendebat ucapan Amir. Semua dilakukan dengan sangat cepat oleh sang lelaki. Tanpa diketahui, di belakang keduanya ada Agung yang mengamati tingkah mereka. Dia cuma bisa meng

    Last Updated : 2025-02-08

Latest chapter

  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   133. Jangan Egois

    Happy Reading*****Amir tersenyum lebar dan langsung memeluk sng istri, seolah-olah mereka sudah berpisah cukup lama. "Mas, lepas. Malu sama Mama," pinta Kiran sambil sedikit mendorong tubuh lelakinya. Amir terpaksa mengurai pelukan sang istri. Menatapnya penuh kekecewaan. "Malu kenapa, sih? Mas, nggak salah apa-apa. Lagian kita cuma pelukan nggak ngapa-ngapain juga."Laila cuma bisa tersenyum dengan tingkah manja Amir. Jika sudah seperti itu, maka si bos tidak akan memiliki rasa malu lagi. "Sudahlah, kalian pulang berdua saja. Mama sama sopir dan langsung menjemput Rara," putus perempuan paruh baya tersebut, memberi kesempatan pada keduanya untuk melepas rindu. Laila bukanlah mertua yang tidak bertoleransi, dia juga pernah muda dan pernah merasakan gairah sang suami yang begitu menggebu-gebu. Jadi jika Amir sekarang bersikap seperti itu, sudah tidak kaget lagi."Tapi, Ma. Aku tadi sudah janji sama Rara bakalan nganter jemput," kata Kiran antara keberatan dan tidak enak hati suda

  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   132. Sang Pelakor

    Happy Reading*****Laila mencolek sang menantu, lalu berbisik. "Kamu kenal sama dia, Ran?"Istri Amir itu menggerakkan kepalanya ke bawah. Lalu, dia menoleh ke arah lelaki yang digandeng Rosa tadi. "Kabar baik, Mas. Gimana kabarnya Mbak Nonik?" tanya Kiran membuat dua insan yang sedang terlihat mesra itu tegang. Laila juga ikut tegang, matanya menyipit dengan alis yang hampir bertautan. "Apa maksud Kiran sebenarnya?" gumamnya dalam hati. "Aku nggak tahu gimana kabarnya sekarang, Ran. Kami sudah lama nggak ketemu," kata lelaki yang digandeng oleh Rosa tadi."Oh, kalian sudah berpisah?" tanya Kiran bermaksud memastikan hubungan sahabat masa kuliahnya dulu. Walau dia tidak dekat dengan perempuan yang sudah dinikahi lelaki itu, tetapi Kiran memiliki hubungan yang cukup baik. Waktu bertemu di reuni tahun lalu, Nonik dan lelaki itu masih terlihat mesra. Namun, sekarang si lelaki sudah menggandeng perempuan lain."Berpisah secara resmi belum, sih. Kami sedang proses perceraian," jawab s

  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   131. Siapakah Dia

    Happy Reading*****Merasa menantunya diremehkan, Laila menatap orang yang berkata kasar tersebut dengan kasar. "Rosa?!" tanyanya sedikit terkejut ketika melihat gadis yang dulu pernah dijodoh-jodohkan dengan Amir ada di sekolah cucunya.Perempuan yang dipanggil namanya itupun membulatkan mata ketika melihat siapa yang menyebut namanya tadi. "Tante Laila?" tanyanya tak percaya akan bertemu dalam keadaan tidak mengenakkan seperti sekarang. "Ngapain kamu ada di sekolahannya Rara? Siapa anak ini?" Laila mengerutkan kening. Merasa aneh jika Rosa ada di sekolah Rara. Jelas sekali dalam keluarga sahabatnya tidak memiliki anak kecil seumuran Naumira."Pastinya nganter anak sekolah kalau sudah ada di sini. Memangnya kenapa?" Suara Rosa meninggi seolah sedang berbicara pada musuhnya. Sekarang, Laila baru menyadari jika apa yang dikatakan putranya, benar. Rosa tak sebaik yang terlihat. "Tante ngerti kalau datang ke sini pasti nganter anak sekolah. Cuma dia anak siapa? Bukannya, kakakmu, anak

  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   130. Penjelasan Ribet

    Happy Reading*****Semua orang menepuk kening masing-masing mendengar permintaan Naumira. "Sekarang, bagaimana caramu menjelaskan padanya?" tanya Wijananto. Segera menggandeng tangan sang istri untuk meninggalkan Amir dan Kiran."Pa, kok, malah ditinggal gitu aja, sih," kata Amir yang mulai kebingungan untuk mencari alasan supaya putrinya mengurungkan niatnya semula. Laila dan Wijananto berbalik, keduanya menjulurkan lidah, mengejek sng putra mahkota. Akibat ulahnya sendiri, kini dia harus menjelaskan pada Naumira. "Suruh siapa pake alasan itu. Anakmu itu sudah mulai kritis, jadi pake alasan yang logis," kata Laila. "Yah, Mama," keluh Amir mulai frustasi karena belum menemukan cara ampuh untuk menjelaskan semuanya. "Jadi, gimana, Pi?" tanya bocah kecil dalam gendongan Amir. "Sayang," panggil Kiran membuat Amir dan Naumira menoleh padanya secara bersamaan. "Aku manggil Rara, Mas.""Kirain, Mas, Sayang." Amir menggaruk kepala, nyengir kuda karena sudah salah paham akibat panggila

  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   129. Proses Pembuatan Adik

    Happy Reading*****"Cup ... cup," ucap Kiran sambil mengusap air mata yang membasahi si kecil. "Jangan nangis, dong, Sayang. Coba ceritakan dengan jelas. Kenapa Mami disebut jahat sama Rara?"Gadis kecil itu mencoba menghentikan tangisannya, tetapi tetap tidak bisa. Isakannya sesekali masih terdengar."Sini, sama Nenek," pinta Laila. Merentangkan kedua tangan agar si kecil mau pindah ke gendongannya. "Rara bisikin aja sama Nenek. Apa yang sudah Papi sama Mami lakukan hingga menyebut mereka jahat?"Naumira menatap Laila penuh kesedihan. Walau air matanya sudah berhenti mengalir, tetapi isakan itu masih ada. Jelas sekali jika si kecil sangat sedih. "Ran," panggil Laila. Tatapannya penuh selidik pada sang menantu. "Coba kamu ingat, apa yang sudah kalian lakukan sampai Rara seperti ini."Kiran cuma bisa menggelengkan kepala. Semalam setelah dari rumah Dokter Rini, jelas-jelas dia dan Amir langsung ke kamar dan tidak pernah keluar lagi sampai subuh. "Coba ngomong pelan-pelan, Sayang," p

  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   128. Malam Panjang

    Happy Reading*****Kiran mundur, tubuhnya bergetar hebat ketika mendengar suara keras suaminya. Tersadar, Amir merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan."Maafkan, Mas, Sayang," ucap si bos ketika menyadari kesalahannya yang sudah berkata keras tadi.Mengalungkan tangannya pada leher sang suami, Kiran menyembunyikan wajahnya. "Mas, aku cuma mau ngomong. Biar aku aja yang mimpin, tapi sepertinya njenengan enggak suka. Malah bentak tadi."Amir kembali membulatkan mata, tetapi bibirnya malah tersenyum, tak menyangka jika sang istri akan berkata demikian. Dia benar-benar salah sangka akan sikap Kiran. "Terus, sayannya Mas ini takut, ya, mendengar suara keras tadi?"Kiran menggeleng. "Takut, sih, enggak. Cuma agak syok aja. Kok, suamiku ini ternyata enggak bisa nahan keinginannya. Kalau enggak dituruti marah. Jadinya, persis kayak Rara." Perempuan mencubit pelan hidung Amir.Manja, Amir mulai menciumi bagian leher sang istri. Tangannya mulai bergerilya secara aktif memberikan rangsangan di t

  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   127. Gelora Membara

    Happy Reading*****Semua orang tertawa mendengar balasan Farel pada saudara perempuannya. Namun, hal berbeda terjadi pada Agung. Lelaki itu mu lai merasa canggung ketika semua orang meninggalkannya cuma berdua dengan Rini. Seluruh keberanian bahkan semangatnya yang ingin terus berdekatan dengan dokter cantik itu mendadak lenyap karena menatap kecantikan sang istri. "Mas," panggil Rini. Dia sudah duduk, kembali ke tempatnya semula."Ya." Agung menatap perempuan yang baru dinikahinya itu dengan kagum. Seperti di film-film kartun jika sedang jatuh cinta yang akan terdapat gambar hati di kelopak mata ketika melihat orang yang dicintai. Maka, hal sama pun terjadi pada saudara sulung Kiran. Cinta itu begitu jelas terlihat di matanya ketika menatap sang istri."Njenengan nggak capek berdiri terus. Sini, duduk." Rini menepuk sisi kosong pada sofa yang didudukinya. Seperti sapi yang dicocok hidungnya, Agung menuruti semua perkataan sang istri. Tatapannya masih sama seperti, tadi bahkan mung

  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   126. Pernikahan Kilat (2)

    Happy Reading*****Sebelum prosesi akad dilanjutkan, beberapa orang masuk dengan didampingi karyawan yang dipekerjakan oleh keluarga Rini. Ternyata sang pemilik rumah sengaja mengundang beberapa tetangga untuk menyaksikan prosesi pernikahan putri semata wayang mereka yang terbilang sederhana.Rini duduk di sofa terpisah dari Agung. Para wanita juga melakukan hal sama,mereka berkumpul di ruang tengah sambil menunggu Agung mengucapkan akad. "Baiklah karena semua ornag sudah hadir, kita bisa lanjut lagi prosesinya," kata sang penghulu yang mendapat angukan serta ucapan setuju dari semua orang.Agung benar-benar tidak menyangka jika pernikahannya akan berlangsung mendadak seperti pernikahan Kiran dan Amir. Dia sedih sekaligus bahagia. Sedih karena tidak bisa memberikan pernikahan yang berkesan dan bahagia karena statusnya sebentar lagi akan berubah menjadi suami.Setelah mengucap basmalah, papanya Rini mulai mengucap akad dipandu oleh sang penghulu yang duduk tepat di sampingnya. Tak bu

  • Gadis Lugu Penakluk Bos Galak   125. Pernikahan Kilat

    Happy Reading*****Agung mulai resah, pasalnya tidak pernah menyangka kalau akan ditodong dengan pertanyaan seperti tadi. Selain itu, dirinya juga tidak memiliki persiapan apa pun juga untuk menikah. Melihat ke arah ibunya, Nur cuma menjawab dengan senyuman. Mungkin sama seperti dirinya, perempuan paruh baya itu juga syok mendengar permintaan papanya Rini. Agung pun beralih menatap Kiran dan Amir, mereka berdua langsung menganggukkan kepala tanda setuju. Demikian juga dengan Farel, si bungsu juga mengangguk sebagai tanda persetujuan dengan rencana papanya Rini."Jadi, gimana Mas Agung?" tanya sang kepala keluarga, memastikan bahwa putri dimiliki oleh orang yang tepat ketika dia meninggalkan negaranya."Ehmm," gumam Agung sambil menggaruk kepala yang tak gatal."Gini aja, Gung. Kalau kamu ragu dengan mahar yang diberikan pada dokter Rini, kamu bisa memberikan cincin berlian yang tadi dibawa sebagai maharnya," saran Wijananto seolah mengerti keresahan hati sulung keluarga Kiran.Senyu

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status