POV Bella
Aku rasakan banyak cairan yang keluar dari selangkanganku. Ketika usai menuntaskan aktivitas panasku dengan Mas rengga. Namun aku tak dapat membedakan, itu sperma yang mengalir atau malah air ketubanku yang pecah. Karena setelahnya kontraksiku datang kian hebat dan panjang. Aku sudah tak dapat fokus. Ketika Mas Rengga mengingatkanku tentang makan siang. Karena sakit yang kian menjadi.
Aku merasa kepala bayi yang sudah mendekati liangku, terasah perih dan panas. Ketika Mas Rengga memeriksa, aku hanya dapat mengerang sakit. Lalu dengan mudah dia memindahkanku ke ruang pemeriksaan.
“Mas jangan tinggalkan aku,” ujarku pelan. Tak mampu mengeluarkan suara. Dia diam, hanya terus menggenggam tanganku. Dan menatap mataku dalam. Mengusap rambutku yang sudah bera
POV Bella. Aku mendengar suara tangisan, tidak hanya satu namun ada tawa yang lain. Aku hampiri suara itu. Lalu kutemukan dua anak-anak berlarian, berkejaran mengelilingi taman. Aku langkahkan kakiku mendekat, seperti sadar salah satu dari mereka menerjangku. Aku rendahkan badanku, menyamakan dengan tinggi mereka. “Mama Ares nakal,” adunya, dengan mata yang mengerjap lucu, air mata sudah hilang darinya. Kemudian tak lama anak lain datang menghampiriku. Ikut menerjangku dari samping. “Mama Ares enggak nakal kok,” katanya dengan cengirang lebar. Aku pandangi mereka, sangat mirip dengan orang yang kukenal. 
POV Bella Setelah kepergian Dokter Andre. Aldo terpaksa aku berikan pada Kara. Karena suster sudah datang, untuk membantuku mandi. Seusai Mas Rengga pamit menemui Dokter Andre tadi. Dia belum kembali lagi ke ruanganku. Mas Rengga memang agak berubah. Setelah umur kehamilanku memasuki bulan ke-8. Dia tidak lagi menyuruhku untuk memakai dress tipis. Namun intensitas bercinta kami yang seakan tiada habisnya. Ketika itu, aku begitu cemas dengan kondisi kandunganku. Tetapi sepertinya tidak ada yang perlu dicemaskan, sebab tidak sampai berpengaruh pada kandunganku. Karena aku yang sudah tidak bisa banyak bergerak. Maka sisa bercinta kami biasanya, dirapihkan oleh bibi.  
POV Bella “Kamu capek?” Tanya Mas Rengga, ketika sampai dikamar. “Capek tapi aku menikmatinya Mas,” jawabku, sambil merapihkan tempat tidur. Aku rasakan lengan hangat melingkari perutku. Aku tegakkan badanku. Lalu dia mulai menyerukkan wajahnya ke leherku. “Maafkan Mas ya. Yang kurang ada waktu untuk kalian,” Kata Mas Rengga. Semakin mengeratkan pelukannya. Aku usap tangannya yang melingkar disekitar perutku. “Kamu bekerja keras untuk kami Mas. Terimakasih untuk selalu meluangkan waktunya,” ucapku lembut. “Aku berusaha. Aku juga tidak mau me
POV Rengga Saat ini aku sedang menikmati kebersamaanku bersama keluarga kecilku. Setelah puas bermain dengan Bella. Kami lanjutkan dengan mandi bersama, yang bukan hanya mandi. Walau dia bilang capek. Namun dia selalu kembali antusias jika berkaitan dengan kedua jagoan kami. Dengan tetap dibantu Kara dan Andin, yang mengawasi. Kami main disekitar taman belakang rumah. Aldo dan Ares dengan cepat merangkak. Menggapai setiap rerumputan, daun ataupun bunga yang dilihat mereka. Sedangkan kami berdua hanya mengawasi mereka dari kejauhan. Sesekali aku bangkit, mengikuti Aldo dan Ares yang membuat kedua baby sisternya kewalahan. Beruntunglah Dokter Ani merekomendasikan mereka be
POV Rengga Seperti janjiku, akan mengusahakan pulang lebih awal. Beberapa pekerjaan yang tersisa. Aku selesaikan secepat mungkin dan sisanya akan aku bawa pulang. Meeting terakhir baru saja selesai, dengan hasil yang memuaskan. Untuk keperluan pekerjaan diluar kota atau luar negeri. Aku serahkan pada asisten yang sudah ditugaskan papa, untuk membantuku. Karena aku tidak ingin berjauhan, apalagi meninggalkan Bella dan anak-anak. Karena soal pekerjaan. Bagiku mereka lebih penting, dari pertemuan-pertemuan bisnis yang masih dapat diwakilkan. Mengetahui perkembangan anak-anak, serta update kesehatan Bella jauh lebih penting buatku. Aku masih dalam perjalanan, ketika Andre tiba-tiba menelpon. “Ya Dre?” balasku seadanya. &n
POV Rengga Setelah drama tangisan Bella beberapa hari yang lalu. Aku mulai menyeleksi tamu-tamu yang membuat janji, apalagi itu perempuan. Kalau jadinya seperti ini. Mungkin lebih baik menyertakan Ria kedalam ruangan. Sebagai saksi mata, selama jalannya pertemuanku dengan Renita. Penyesalanku bertambah besar, kala keesokan harinya Bella sakit. Dan hanya bisa melakukan aktivitas diatas tempat tidur. Setelah diperiksa Andre, penyebab imunnya menurun. Adalah faktor strees dan tekanan pikiran. Mengetahui faktornya berawal dariku. Rasa bersalah juga penyesalan, seakan menikamku. Hingga beberapa hari, sampai hari ini. Aku menahan semua hasratku, untuk menyentuhnya. Saat ini aku sedang menunggun
POV Bella Saat ini aku sedang mengawasi kedua jagoanku. Bermain di taman sisi selatan rumah. Sambil menunggu guru les yang akan mengajari mereka berenang. Minggu lalu, mereka sempat diajari oleh Mas Rengga. Karena Mas Rengga juga belum tahu, kapan lagi bisa mengajari. Akhirnya aku berinisiatif memanggil guru les renang kerumah. Hal tersebut disetujui olehnya. Hari ini Ibu dan Mama akan mampir ke rumah. Katanya sudah pada kangen dengan si kembar. Ketika bibi mengantar seorang pria, sekitar awal 20-an. Aku pastikan, dia adalah guru berenang anak-anakku. Aku jabat tangannya lalu mempersilahkan duduk. Bibi dengan sigap mengantarkan minum juga camilan. “Oh ya, sebelumnya saya hanya berkomunikasi dari lembaga saja. Belum mengenal anda secara langsung. Perkenalkan nama saya Bella
POV Bella Kami sedang piknik didekat hutan buatan belakang rumah, Ketika aku rasakan kontraksi mendatangiku. Sudah seharian ini, terjadi kontraksi yang masih dalam intensitas rendah. Subuh tadi, selesai bercinta dikamar mandi dengan Mas Rengga kontraksi itu datang. Mungkin bayiku akan lahir besok atau 2 hari lagi. Mengingat intensitas kontraksi yang masih rendah. Aldo dan Ares begitu menikmati waktu bersama dengan Papa mereka. Mas Rengga dibuat kewalahan dengan tingkah mereka, yang kian aktif. Setelah aku amati, Aldo selain lebih manja dan rewel. Dia juga terlihat menyebalkan. Lihat sekarang saja, dia sedang menggoda Ares. Dengan merebut dan memainkan mainan Ares. Padahal mereka sudah punya mainan yang sama. Aku hanya dapat menggelengkan kepala. Seda