Home / Romansa / Duda Incaran Shana / 57. Terasa Aneh

Share

57. Terasa Aneh

Author: Viallynn
last update Last Updated: 2025-04-01 18:50:46

Di rapat kedua, Ndaru mulai tidak fokus. Dia mendengarkan presentasi bawahannya dengan pandangan menerawang. Tidak ada yang tahu apa yang ada di kepalanya saat ini. Semua orang kompak berpikir bahwa Handaru Atmadjiwo tengah menyimak dengan serius.

Kenyataan tentu berbanding terbalik. Ndaru terus melirik ponselnya di atas meja. Berharap ada notifikasi yang akan menjawab rasa gelisahnya. Namun sayang, hingga saat ini tak ada kabar yang datang.

"Suster Nur hubungi kamu?" bisik Ndaru pada Gilang.

Gilang yang tengah menyimak seketika menoleh. "Enggak, Pak. Kenapa?"

"Gimana kabar Mas Juna? Dia rewel?"

Gilang membuka ponselnya sambil menggeleng. "Kata Bu Shana nggak rewel, sih, Pak."

"Shana?" Ndaru mengerutkan dahinya. "Dia hubungi kamu?"

Gilang mengangguk polos. "Iya, tadi Bu Shana tanya tentang Dokter Hamdan. Terus sekalian periksa Mas Juna tadi, demamnya sudah turun katanya."

"Kenapa dia tanya ke kamu? Kenapa nggak ke saya langsung?"

Gilang ikut menunjukkan kebing
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Duda Incaran Shana   58. Suara Juna

    Rasa lelah tak lagi bisa ditahan. Pulang malam selalu jadi kebiasaan. Namun hal itu merupakan kewajiban. Tanggung jawab berat menjadi seorang pemimpin perusahaan. Malam ini Ndaru pulang jam 12 malam. Begitu larut karena dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Sesuai prinsip hidupnya, dia tidak akan membawa pekerjaan ke rumah jika tidak dalam keadaan terdesak. Toh, kesehatan anaknya sudah mulai membaik. Shana juga sudah kembali ke rumah. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi. Setelah membersihkan diri, Ndaru tak langsung merebahkan diri. Dia keluar dari kamar dan menatap pintu kamar Juna dengan ragu. Berpikir apa dia harus masuk untuk melihat keadaan anaknya sebentar? Memang sebagai orang tua, Ndaru tak bisa bersikap tak acuh. Dia tetap melangkah untuk masuk ke dalam kamar Juna. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah dua manusia yang tertidur dengan saling berpelukan. Shana dan Juna, mereka tidur berdua. Ada rasa lega di hati Ndaru melihat ada seseorang yang bisa

    Last Updated : 2025-04-02
  • Duda Incaran Shana   59. Undangan Asing

    Shana kembali berbaring sepenuhnya dan memeluk Juna erat. Ndaru mendengkus dan tetep berjalan menuju pintu kamar. Bukan untuk keluar, melainkan untuk menutup pintu rapat. Berhasil, ucapan Shana berhasil membuatnya memilih tinggal malam ini. "Malam ini saja." Ndaru berjalan ke sisi ranjang kosong dan mulai merebahkan diri. Baiklah, tak masalah. Toh, ini bukan yang pertama mereka tidur bersama. Shana tersenyum penuh arti. Matanya begitu sayu karena kantuk yang masih menyerang. "Sebenernya saya masih kesel sama Bapak," bisik gadis itu. Ndaru memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Shana. "Saya juga." "Pak Ndaru nyebelin." "Seharusnya kamu sadar kalau kamu juga menyebalkan." Tersindir memang. Bukannya marah, Shana malah terkekeh. Dia membenarkan ucapan Ndaru. Karena menurut juga bukan hal yang Shana suka. Apalagi pada Handaru Atmadjiwo. "Maaf." Shana yang sudah memejamkan matanya, kembali membuka mata. "Maaf?" Seorang Handaru Atmadjiwo meminta maaf? "Sa

    Last Updated : 2025-04-02
  • Duda Incaran Shana   60. Tertangkap Basah

    Shana memang bukan orang yang rajin, dia mengakui itu. Di akhir pekan, biasanya dia memanfaatkan waktunya untuk bermalas-malasan. Namun kali ini berbeda. Tepat menjelang subuh, mata Shana terbuka dengan sendirinya. Dia terbangun tanpa alarm. Hal yang jarang terjadi pada dirinya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah kepala Juna. Posisi mereka masih sama, saling berpelukan. Bedanya, tak ada lagi Ndaru di sisi ranjang. Tangan Shana mulai meraba, tidak merasakan dingin. Masih ada rasa hangat di sana, artinya Ndaru belum lama pergi. Shana melepas pelukannya dan berbaring terlentang. Menatap langit kamar dengan tatapan menerawang. Memikirkan kejutan yang Shana dapatkan semalam. Bukan karena Ndaru yang meminta maaf terlebih dahulu, melainkan setelahnya, yaitu mengenai Nurdin Hasan. Siapa sangka jika Nurdin Hasan akan mengundang Ndaru? "Sudah bangun?" Lamunan Shana buyar. Dia menoleh dan melihat Ndaru keluar dari kamar mandi kamar Juna dengan wajah basah. "Saya pikir Pa

    Last Updated : 2025-04-02
  • Duda Incaran Shana   61. Mertua VS Menantu

    Handaru sangat menghormati ayahnya. Di matanya, Harris Atmadjiwo adalah seorang panutan yang luar biasa. Bukan hanya sebagai kepala keluarga, tetapi juga untuk ribuan manusia yang tersebar di seluruh Indonesia. Tanpa otak jeniusnya, Atmadjiwo Grup tidak akan pernah ada. Sebagai penerusnya, Ndaru tentu banyak belajar dari ayahnya. Mulai dari cara berbisnis hingga cara mengatasi masalah. Seperti saat ini, Ndaru terjebak pada pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Bukannya panik, Ndaru justru bersikap santai. Menyikapi pertanyaan ayahnya yang terlihat marah itu dengan tenang. Ndaru memilih ruang kerjanya untuk berbicara empat mata. Hanya di tempat ini ayahnya bisa meluapkan kekesalannya dengan leluasa. Lalu Ndaru akan siap mendengarnya. "Bukan hal serius, Pa." "Bukan hal serius gimana? Kamu tidur berdua sama dia, Mas!" "Ada Juna di tengah." Ndaru mengelak. "Tapi yang Papa liat tadi nggak seperti itu." Harris memijat keningnya. "Sebenarnya Papa malu untuk ikut campur masal

    Last Updated : 2025-04-02
  • Duda Incaran Shana   62. Mertua VS Menantu 2

    "Mau Kakek suapin?" tawar Harris. Juna menatap sang kakek dengan mata bulatnya. Tampak berkedip pelan seolah mencerna ucapan kakeknya itu. "Mas Juna makan sendiri, ya? Kan udah besar," ucap Shana. Harris mengerutkan dahinya. Dia menatap Shana tidak suka. "Kenapa saya nggak boleh suapin cucu saya sendiri?" tanya Harris galak. Shana menoleh jengah. "Siapa yang ngelarang, sih, Pak? Kan saya cuma mau Mas Juna belajar mandiri dan tanggung jawab habisin makanan yang dia ambil sendiri." "Dia baru dua tahun!" geram Harris ingin melempar Shana dengan anggur hijau. "Lagian tau apa kamu sama tanggung jawab? Jam segini aja baru bangun, wanita macam apa itu?" Shana ikut menatap Harris kesal. "Ya, salahin anak Bapak, dong. Siapa suruh peluk saya kenceng banget? Kan, jadi keterusan tidurnya." Ndaru yang mendengar perdebatan itu hanya bisa memejamkan mata. Tak mau ikut terprovokasi yang akan semakin membuat anaknya bingung. "Jangan salahin anak saya, ya! Seharusnya kamu sadar diri

    Last Updated : 2025-04-02
  • Duda Incaran Shana   63. Musuh Mendekat

    Acara lelang amal yang dibuat oleh Nurdin Hasan bertema pesta topeng. Meski mendadak, Shana tak perlu kebingungan. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, koleksi butik Gadis Amora akan datang ke rumah beserta dua pegawainya. Satu untuk dirinya dan satu untuk Ndaru. Kali ini Shana memilih dengan tak lagi melihat harga. Toh, Ndaru yang akan mengeluarkan uang untuk pakaiannya. Shana pun memilih model pakaian yang ia suka. Tentunya juga sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Gaun berwarna hitam menjadi pilihan Shana. Panjang hingga mata kaki, tetapi ada belahan yang berhenti di atas lututnya. Menampilkan kaki jenjangnya yang selama ini ia tutupi rapat. Selain itu, gaun itu juga menampilkan lengan bersihnya. Warna gaun yang hitam begitu kontras dengan warna kulitnya. Untuk topeng, Shana memilih topeng bulu berwarna putih. Tema yang ia pilih malam ini adalah black swan. "Sudah selesai. Bu Shana cantik sekali malam ini," ucap pegawai yang juga membantu merias wajahnya. Setuju.

    Last Updated : 2025-04-03
  • Duda Incaran Shana   64. Nurdin Hasan

    Acara lelang amal yang dibuat Nurdin Hasan berhasil menjadi trending topic di berbagai sosial media. Semua hal yang ada di dalam acara tersebut mencuri perhatian masyarakat. Mulai dari barang-barang mewah yang akan dilelang, megahnya acara, hingga sampai daftar tamu undangan yang datang. Lalu Handaru, menjadi salah satu tamu yang ramai diperbincangkan. Bak pangeran dari negeri dongeng, banyak kata-kata pujian ditujukan untuk Ndaru. Penampilan pria itu malam ini sangat memukau. Juga ditemani istri yang seperti bidadari, seolah melengkapi kesempurnaan Ndaru malam ini. Bagi para netizen, Handaru Atmadjiwo dan Shana Arkadewi malam ini adalah bintang utama. Jarang muncul di layar kaca dan sekali muncul mampu menggoyahkan iman di dada. Pasangan kontroversi yang lambat laun mulai disenangi oleh para pemuja sosial media. "Saya tau lukisan ini," ucap Shana berhenti di depan lukisan abstrak, salah satu barang mewah yang akan dilelang. Saat ini baik Ndaru dan Shana tengah melihat bara

    Last Updated : 2025-04-03
  • Duda Incaran Shana   65. Acara Lelang

    Ndaru tersenyum miring. "Begitu juga saya, Pak. Saya juga tidak akan diam jika ada seseorang yang mengusik keluarga saya." "Oke, sekarang apa yang kamu cari? Tanyakan langsung sama saya? Akan saya jawab." "Siapa yang jamin kalau jawaban jujur yang akan keluar dari mulut Bapak?" "Apa ini tentang proyek besar saya? Atau tentang kakak kamu? Oh, atau keduanya?" Tepat sasaran. Ndaru masih bungkam, bukan karena merasa terintimidasi. Melainkan ia tengah membaca ekspresi wajah Nurdin saat ini. "Kalau itu yang kamu cari, maka jawabannya adalah tidak." Nurdin kembali berbicara. "Saya nggak ada hubungannya dengan kematian Haryadi, kakak kamu." Ndaru mengangguk dengan senyuman tipis. Dia sudah menemukan jawabannya. Nurdin memang terlihat santai dan tak gentar. Namun justru itu yang membuat Ndaru yakin jika Nurdin Hasan memang terlibat. "Kalau begitu saya duluan, istri saya sendirian." Ndaru berlalu melewati Nurdin. "Ah, omong-omong tentang istri." Nurdin menghentikan langka

    Last Updated : 2025-04-03

Latest chapter

  • Duda Incaran Shana   66. Aksi Handaru

    "Ibu Nancy Isabel, 3 miliar rupiah," ucap pemandu lelang menunjuk seseorang yang Shana yakini merupakan wanita sosialita. "Bapak Vincent Wiranto, 3,3 miliar rupiah!" Jantung Shana seketika berdetak cepat saat mendengar nominal itu. "Ibu Nancy, 3,7 miliar rupiah!" "Kembali ke Bapak Vincent, 4 miliar rupiah. Wah-wah persaingan yang ketat antara Bu Nancy dan Pak Vincent," ucap pemandu dengan diiringi tawa puas. "Tidak terduga, ada Bapak Nendra Hasan di sana dengan angka 5 miliar rupiah!" "Nendra?" Shana menegakkan duduknya. Dia menoleh ke arah di mana pemandu lelang menunjuk dan melihat seorang pria yang sudah lama tak ia lihat. "Mas Nendra?" gumam Shana yang kali ini diiringi dengan senyuman. Mendengar nama yang tak asing di telinga, Ndaru pun ikut menoleh. Tatapannya jatuh pada pria yang duduk bersama anggota keluarganya, bersama Nurdin Hasan. "Jadi dia yang namanya Nendra?" gumam Ndaru pelan. "Pak Ndaru kenal?" Shana menatap Ndaru cepat. Dia mendengar gumamam p

  • Duda Incaran Shana   65. Acara Lelang

    Ndaru tersenyum miring. "Begitu juga saya, Pak. Saya juga tidak akan diam jika ada seseorang yang mengusik keluarga saya." "Oke, sekarang apa yang kamu cari? Tanyakan langsung sama saya? Akan saya jawab." "Siapa yang jamin kalau jawaban jujur yang akan keluar dari mulut Bapak?" "Apa ini tentang proyek besar saya? Atau tentang kakak kamu? Oh, atau keduanya?" Tepat sasaran. Ndaru masih bungkam, bukan karena merasa terintimidasi. Melainkan ia tengah membaca ekspresi wajah Nurdin saat ini. "Kalau itu yang kamu cari, maka jawabannya adalah tidak." Nurdin kembali berbicara. "Saya nggak ada hubungannya dengan kematian Haryadi, kakak kamu." Ndaru mengangguk dengan senyuman tipis. Dia sudah menemukan jawabannya. Nurdin memang terlihat santai dan tak gentar. Namun justru itu yang membuat Ndaru yakin jika Nurdin Hasan memang terlibat. "Kalau begitu saya duluan, istri saya sendirian." Ndaru berlalu melewati Nurdin. "Ah, omong-omong tentang istri." Nurdin menghentikan langka

  • Duda Incaran Shana   64. Nurdin Hasan

    Acara lelang amal yang dibuat Nurdin Hasan berhasil menjadi trending topic di berbagai sosial media. Semua hal yang ada di dalam acara tersebut mencuri perhatian masyarakat. Mulai dari barang-barang mewah yang akan dilelang, megahnya acara, hingga sampai daftar tamu undangan yang datang. Lalu Handaru, menjadi salah satu tamu yang ramai diperbincangkan. Bak pangeran dari negeri dongeng, banyak kata-kata pujian ditujukan untuk Ndaru. Penampilan pria itu malam ini sangat memukau. Juga ditemani istri yang seperti bidadari, seolah melengkapi kesempurnaan Ndaru malam ini. Bagi para netizen, Handaru Atmadjiwo dan Shana Arkadewi malam ini adalah bintang utama. Jarang muncul di layar kaca dan sekali muncul mampu menggoyahkan iman di dada. Pasangan kontroversi yang lambat laun mulai disenangi oleh para pemuja sosial media. "Saya tau lukisan ini," ucap Shana berhenti di depan lukisan abstrak, salah satu barang mewah yang akan dilelang. Saat ini baik Ndaru dan Shana tengah melihat bara

  • Duda Incaran Shana   63. Musuh Mendekat

    Acara lelang amal yang dibuat oleh Nurdin Hasan bertema pesta topeng. Meski mendadak, Shana tak perlu kebingungan. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, koleksi butik Gadis Amora akan datang ke rumah beserta dua pegawainya. Satu untuk dirinya dan satu untuk Ndaru. Kali ini Shana memilih dengan tak lagi melihat harga. Toh, Ndaru yang akan mengeluarkan uang untuk pakaiannya. Shana pun memilih model pakaian yang ia suka. Tentunya juga sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Gaun berwarna hitam menjadi pilihan Shana. Panjang hingga mata kaki, tetapi ada belahan yang berhenti di atas lututnya. Menampilkan kaki jenjangnya yang selama ini ia tutupi rapat. Selain itu, gaun itu juga menampilkan lengan bersihnya. Warna gaun yang hitam begitu kontras dengan warna kulitnya. Untuk topeng, Shana memilih topeng bulu berwarna putih. Tema yang ia pilih malam ini adalah black swan. "Sudah selesai. Bu Shana cantik sekali malam ini," ucap pegawai yang juga membantu merias wajahnya. Setuju.

  • Duda Incaran Shana   62. Mertua VS Menantu 2

    "Mau Kakek suapin?" tawar Harris. Juna menatap sang kakek dengan mata bulatnya. Tampak berkedip pelan seolah mencerna ucapan kakeknya itu. "Mas Juna makan sendiri, ya? Kan udah besar," ucap Shana. Harris mengerutkan dahinya. Dia menatap Shana tidak suka. "Kenapa saya nggak boleh suapin cucu saya sendiri?" tanya Harris galak. Shana menoleh jengah. "Siapa yang ngelarang, sih, Pak? Kan saya cuma mau Mas Juna belajar mandiri dan tanggung jawab habisin makanan yang dia ambil sendiri." "Dia baru dua tahun!" geram Harris ingin melempar Shana dengan anggur hijau. "Lagian tau apa kamu sama tanggung jawab? Jam segini aja baru bangun, wanita macam apa itu?" Shana ikut menatap Harris kesal. "Ya, salahin anak Bapak, dong. Siapa suruh peluk saya kenceng banget? Kan, jadi keterusan tidurnya." Ndaru yang mendengar perdebatan itu hanya bisa memejamkan mata. Tak mau ikut terprovokasi yang akan semakin membuat anaknya bingung. "Jangan salahin anak saya, ya! Seharusnya kamu sadar diri

  • Duda Incaran Shana   61. Mertua VS Menantu

    Handaru sangat menghormati ayahnya. Di matanya, Harris Atmadjiwo adalah seorang panutan yang luar biasa. Bukan hanya sebagai kepala keluarga, tetapi juga untuk ribuan manusia yang tersebar di seluruh Indonesia. Tanpa otak jeniusnya, Atmadjiwo Grup tidak akan pernah ada. Sebagai penerusnya, Ndaru tentu banyak belajar dari ayahnya. Mulai dari cara berbisnis hingga cara mengatasi masalah. Seperti saat ini, Ndaru terjebak pada pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Bukannya panik, Ndaru justru bersikap santai. Menyikapi pertanyaan ayahnya yang terlihat marah itu dengan tenang. Ndaru memilih ruang kerjanya untuk berbicara empat mata. Hanya di tempat ini ayahnya bisa meluapkan kekesalannya dengan leluasa. Lalu Ndaru akan siap mendengarnya. "Bukan hal serius, Pa." "Bukan hal serius gimana? Kamu tidur berdua sama dia, Mas!" "Ada Juna di tengah." Ndaru mengelak. "Tapi yang Papa liat tadi nggak seperti itu." Harris memijat keningnya. "Sebenarnya Papa malu untuk ikut campur masal

  • Duda Incaran Shana   60. Tertangkap Basah

    Shana memang bukan orang yang rajin, dia mengakui itu. Di akhir pekan, biasanya dia memanfaatkan waktunya untuk bermalas-malasan. Namun kali ini berbeda. Tepat menjelang subuh, mata Shana terbuka dengan sendirinya. Dia terbangun tanpa alarm. Hal yang jarang terjadi pada dirinya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah kepala Juna. Posisi mereka masih sama, saling berpelukan. Bedanya, tak ada lagi Ndaru di sisi ranjang. Tangan Shana mulai meraba, tidak merasakan dingin. Masih ada rasa hangat di sana, artinya Ndaru belum lama pergi. Shana melepas pelukannya dan berbaring terlentang. Menatap langit kamar dengan tatapan menerawang. Memikirkan kejutan yang Shana dapatkan semalam. Bukan karena Ndaru yang meminta maaf terlebih dahulu, melainkan setelahnya, yaitu mengenai Nurdin Hasan. Siapa sangka jika Nurdin Hasan akan mengundang Ndaru? "Sudah bangun?" Lamunan Shana buyar. Dia menoleh dan melihat Ndaru keluar dari kamar mandi kamar Juna dengan wajah basah. "Saya pikir Pa

  • Duda Incaran Shana   59. Undangan Asing

    Shana kembali berbaring sepenuhnya dan memeluk Juna erat. Ndaru mendengkus dan tetep berjalan menuju pintu kamar. Bukan untuk keluar, melainkan untuk menutup pintu rapat. Berhasil, ucapan Shana berhasil membuatnya memilih tinggal malam ini. "Malam ini saja." Ndaru berjalan ke sisi ranjang kosong dan mulai merebahkan diri. Baiklah, tak masalah. Toh, ini bukan yang pertama mereka tidur bersama. Shana tersenyum penuh arti. Matanya begitu sayu karena kantuk yang masih menyerang. "Sebenernya saya masih kesel sama Bapak," bisik gadis itu. Ndaru memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Shana. "Saya juga." "Pak Ndaru nyebelin." "Seharusnya kamu sadar kalau kamu juga menyebalkan." Tersindir memang. Bukannya marah, Shana malah terkekeh. Dia membenarkan ucapan Ndaru. Karena menurut juga bukan hal yang Shana suka. Apalagi pada Handaru Atmadjiwo. "Maaf." Shana yang sudah memejamkan matanya, kembali membuka mata. "Maaf?" Seorang Handaru Atmadjiwo meminta maaf? "Sa

  • Duda Incaran Shana   58. Suara Juna

    Rasa lelah tak lagi bisa ditahan. Pulang malam selalu jadi kebiasaan. Namun hal itu merupakan kewajiban. Tanggung jawab berat menjadi seorang pemimpin perusahaan. Malam ini Ndaru pulang jam 12 malam. Begitu larut karena dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Sesuai prinsip hidupnya, dia tidak akan membawa pekerjaan ke rumah jika tidak dalam keadaan terdesak. Toh, kesehatan anaknya sudah mulai membaik. Shana juga sudah kembali ke rumah. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi. Setelah membersihkan diri, Ndaru tak langsung merebahkan diri. Dia keluar dari kamar dan menatap pintu kamar Juna dengan ragu. Berpikir apa dia harus masuk untuk melihat keadaan anaknya sebentar? Memang sebagai orang tua, Ndaru tak bisa bersikap tak acuh. Dia tetap melangkah untuk masuk ke dalam kamar Juna. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah dua manusia yang tertidur dengan saling berpelukan. Shana dan Juna, mereka tidur berdua. Ada rasa lega di hati Ndaru melihat ada seseorang yang bisa

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status