“Dengan siapa kamu di restoran tadi, Anya?!”
“Bukan urusan, Papa!” Anya melenggang pergi, melewati ruang tamu dimana papanya menunggu dirinya. Ia sedang malas bertengkar. Seluruh energinya telah tersedot habis oleh rangkaian peristiwa yang dirinya lalui hari ini. Anya membutuhkan istirahat cukup untuk melalui hari-hari selanjutnya.
“Anya! Papa bertanya sama kamu!”
Menghakimi lebih tepatnya. Papanya tak pernah hanya bertanya. Apa pun topik yang dibuka, pria itu akan berakhir menyudutkan dirinya. Jadi Anya tak akan meresponnya kali ini. Sungguh, ia ingin merasakan empuknya ranjang.
“Mas, ada apa sih ini? Kenapa teriak-teriak begitu?!”
Anya memperlambat langkah kakinya saat suara Soraya terdengar pada gendang telinganya. Nenek sihir itu sudah muncul. Anya ingin memastikan mulutnya yang jalang tidak mengeluarkan kata-kata buruk untuk mamanya.
Kalau urusan menghadapi Soraya, Anya memiliki simpanan energi ekstra yang tercadang di dalam tubuhnya. Seletih apa pun dirinya, Anya siap jika harus war.
Ia tidak kabur dari rumah papanya memang dikhususkan untuk itu.
“Anak kamu, Mah.”
Tangan Anya mengepal mendengar kalimat sang papa. Sejak kapan dirinya lahir dari rahim seorang jalang, hah?! Mamanya merupakan wanita terhormat yang mengalah karena fitnah keji perempuan itu. Ia tak sudi walau menjadi anak tiri Soraya.
“Mas, kenapa kamu nggak kirim dia ikut Mamanya aja?! Kalau Mas takut dia kekurangan uang, Mas bisa setiap bulannya kirimin kan?! Jangan memperumit keadaan, Mas! Inget kesehatan Mas Tanu, sendiri!”
Untuk pertama kalinya, Anya setuju dengan pemikiran itu. Meski Anya tahu wanita itu tidak menyukai keberadaannya, ia akan sangat berterima kasih kalau si jalang mampu merayu papanya. Ia rela ditendang asal tak harus tinggal di neraka jahanam yang membelenggunya.
“Ngomong apa kamu, Mah?!”
Dari nada suaranya yang meninggi, Anya tahu papanya marah. Pria itu tak menyukai saran istrinya.
“Anya adalah harta berharga saya! Saya tidak akan melepaskan putri kesayangan saya untuk dirawat wanita itu! Sekali lagi kamu berbicara seperti itu, saya benar-benar tidak akan memaafkan kamu!”
Usai amarah papanya tersampaikan, suara kepanikan terdengar. Anya bisa mendengar jika Soraya terus memohon untuk dimaafkan atas kesalahannya.
Anya mengulum senyumnya. Tahtanya memang tinggi jika menyangkut hak asuh anak. Entah apa yang ada dipikiran papanya sampai tak mau melepaskan dirinya. Padahal dengan melepaskannya, mereka semua dapat hidup bahagia— pria itu bersama keluarga baru pilihannya, dan dirinya dengan sang mama. Sebanding bukan?
Kembali meneruskan langkah, manik matanya menangkap sosok Josephin berdiri menyorot ke arahnya. Anya menghela napasnya. Ia baru saja lolos dari papanya, dan sekarang cobaan keduanya telah menunggu untuk dilewati.
‘Taik Anjing, emang!’
“Bisa kita bicara?!”
Lengan Anya ditarik, membuat langkahnya terhenti.
“Lepas!” Sentak Anya sembari menghentakkan lengannya. “Jangan sentuh orang sembarangan! Gue bisa laporin lo atas tuduhan pelecehan!”
“Sebentar aja, Nya..”
“Nggak ada hal yang perlu kita omongin! Better lo mikir gimana cara nyenengin bokap gue, biar lo bisa jadi anak kesayangannya!”
Ucapan Anya begitu pedas, menusuk tepat pada jantung Josephin. Dahulu kala penghalang mereka hanyalah keyakinan yang berbeda, tapi kini semua lebih berat. Anya tak akan mungkin tergapai dengan seluruh kebencian yang tertanam akibat ulah mamanya.
“Apa nggak akan pernah ada kesempatan buat kita perbaikin ini semua, Nya?!” lirih Josephin memandang pintu kamar Anya yang tertutup.
Bukan hanya Anya, dirinya pun terluka. Ia tidak hanya kehilangan harga diri sebagai laki-laki, tapi juga sahabat dan gadis yang dirinya cintai. Ia pun banyak merasakan kehilangan.
“Jo..”
Melihat mamanya menaiki anak tangga, Josephin memutar arah tubuhnya. Karena wanita itu, sebuah kotoran berada di wajahnya. Ia harus menanggung malu dan luka secara bersamaan.
“Jo, mama mau ngomong..”
Soraya memejamkan matanya. Putranya semakin menjauh. Suaminya pun tak lagi sehangat ketika mereka baru menikah. Ia kesepian ditengah kekayaan yang digenggamnya.
Soraya pikir menjadi Sasmita sangatlah enak. Perempuan yang pernah menjadi sahabatnya itu hidup bergelimang harta. Beberapa kali ketika mereka makan bersama, keluarga sahabatnya terlihat begitu sempurna. Ada seorang suami dan ayah yang mencintai istri beserta anaknya. Tidak seperti kehidupannya yang berantakan. Ia mendapatkan KDRT, harus melunasi hutang karena perselingkuhan suaminya, belum lagi cercaan orang-orang. Untuk itulah ia begitu terobsesi ingin memiliki apa yang sahabatnya miliki.
Suami, anak dan harta yang memudahkan langkahnya menuju hidup tenang. Tapi semakin lama berada di posisi Sasmita, lubang hampa kerap menariknya masuk ke dalam. Suaminya selalu gila kerja. Tanu Handoyo jarang berada di rumah. Kalau pun ia bisa bersama pria itu, hal tersebut dikarenakan dirinya yang selalu menyambangi sang suami.
“Nggak! Udah sejauh ini. Aku akan bertahan sampai mati!” Keukeuhnya tak ingin melepaskan apa yang telah ia dapat dengan susah payah.
Telah banyak hal yang dirinya korbankan, meski seluruh keluarga Handoyo menentang pernikahan mereka. Ialah yang merawat dan mengobati luka hati suaminya pasca perceraian. Posisi yang ia tempati memang pantas dipertahankan.
.
.
Di dalam ruang kerjanya, Tanu membuka brankas yang dirinya sembunyikan. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan brankas tersebut, termasuk para asisten rumah tangganya. Kotak itu ia simpan rapat dibalik sebuah lemari.
Tanu lantas mengambil satu-satunya isi brankas. Memandang foto dalam pigura yang menampilkan potret mantan istrinya.
Tatapannya menyendu. Tangannya yang berada pada pinggiran pigura bergetar.
Sasmita Calista— sebuah nama yang tidak pernah ingin Tanu sebutkan, bahkan sekali pun memanggil nama lengkap sang putri.
Tanu tidak membenci pemilik nama itu. Tidak pernah— meski perasaannya dihancurkan tanpa sebuah alasan. Tanu takut menampakkan kesedihannya di depan sang putri. Ia tak ingin putrinya melihat kelemahannya, lalu menggunakan cara itu untuk pergi meninggalkan dirinya.
Calista merupakan nama yang indah. Nama yang ia pilih agar seluruh dunia tahu, jika dari wanita terindahlah, putri kesayangannya terlahir.
Sasmita adalah wanita pertama yang dirinya cintai. Sosok yang ia pilih untuk mendampingi dan melahirkan keturunannya. Wanita yang dirinya agungkan diatas segala-galanya.
Namun mengapa wanita itu mengkhianati dirinya? Tidur dengan pria lain saat ia tengah memenuhi permintaannya untuk menyelesaikan masalah sahabatnya.
Tak pernah ada pengkhianatan yang terasa menyakitkan, melebihi apa yang Sasmita lakukan kepadanya. Hanya Sasmita yang mampu menyakitinya. Hanya wanita yang dirinya cintai itu.
“Calista…” tenggorokan Tanu tercekat. Pada kesunyian malam, dimana ia berkata ingin menyelesaikan pekerjaannya, nama itu terlontar dari bibirnya.
Sebuah nama yang tidak ingin ia sebutkan dihadapan siapa pun, tapi selalu menjadi nama yang dirinya panggil-panggil ketika sendirian.
“Putri kita, apa dia habis bertemu kamu, Calista?”
Tanu sempat berharap jika pertemuan dengan putrinya tadi akan menghantarkan matanya untuk melihat sang mantan istri. Namun harapannya tidak terkabul. Anya pergi tanpa sempat mempertemukannya dengan wanita itu.
“Semakin hari, wajahnya semakin mirip dengan kamu. Dia cantik, persis seperti mamanya saat muda.”
Tanu tergugu. Bukan tanpa sebab Tanu memperjuangkan Anya. Putrinyalah satu-satunya peninggalan terakhir yang ia miliki tentang Sasmita. Dari wajah putrinya, ia dapat melepaskan rindu yang setiap detiknya menetap pada sosok sang mantan istri.
“Wajahnya serupa kamu, tapi keras kepalanya memang mirip Mas, Calista. Dia menyebalkan, seperti Mas ketika tidak mau menurut,” Tanu terkekeh, pedih.
Tahun demi tahun ia lalui dalam penyesalan yang dalam. Seandainya saja ia memaafkan istrinya dulu. Andaikan ia tak terbawa emosi dan memilih diam-diam menikahi sahabatnya untuk membalaskan sakit hatinya.
Sasmita Calista tidak akan pergi meninggalkannya. Wanita itu akan tetap berada disisinya, hingga mereka dapat merawat Anya bersama-sama dan putri mereka tak mungkin membencinya seperti sekarang.
“Jangan terlalu keras bekerja, Calista. Kebutuhan Anya, Mas sudah memenuhinya. Carilah untuk diri kamu sendiri.”
Tanu tahu seberapa keras mantan istrinya mengumpulkan kekayaan. Wanita itu ingin menyewa pengacara ternama untuk mengambil Anya darinya. Sebuah hal termustahil yang tidak akan pernah dirinya berikan.
Kehilangan Anya, berarti sama halnya kehilangan seluruh memori mengenai mantan istrinya. Mereka bisa saja pergi menjauh, meninggalkan dirinya seorang diri. Keluarga Handoyo pasti akan membantu menghilangkan jejak mereka untuk semakin menghukum pilihannya.
“Jaga diri kamu, ya. Mas nggak mau melihat kamu terbaring di rumah sakit lagi karena tipes.” Tanu menutup komunikasinya malam ini. Mengembalikan bingkai foto berisikan wanita pertamanya masuk ke dalam brankas. Satu-satunya tempat yang tidak mungkin diketahui istri keduanya.
Rahasia kelam tersebut tersimpan begitu rapat, sampai-sampai tak ada yang dapat merasakannya. Dihadapan Soraya, Tanu bertingkah menjadi suami yang baik. Memenuhi segala kebutuhan wanita itu, namun di dalam hati kecilnya, Tanu menyimpan rapat sosok yang tidak mungkin tergantikan oleh siapa pun keberadaannya.
Sasmitanya— Mama putrinya Anya, yang teramat sangat dirinya cintai.
Ketukan pintu kamar menampilkan salah satu ART keluarganya. Satu yang tersisa setelah mereka memilih mengundurkan diri karena sang nyonya tak lagi berada di istananya. Wanita paruh baya itu memberitahu, jika Tanu sudah menunggu kehadiran Anya di meja makan. Memuakkan! Papanya sama sekali tak pernah menyerah meski tahu acara makan itu akan berakhir dengan sebuah pertengkaran. Dia terlalu terobsesi ingin membangun keluarga cemara. Sayangnya Anya tak akan mengabulkannya. Ia bukan bagian dari Tanu Handoyo beserta nyonya barunya. “Bilang sama Papa, Bik. Duluan aja. Aku mau langsung ke kampus.” Anya menjelaskan kalau dosennya pagi ini sangat killer. Dosennya tidak menerima keterlambatan, walau itu satu menit saja. Mengingat ramainya kota Jakarta, kemungkinan terjebak macet sangatlah besar. “Tolong ya, Bik,” pinta Anya ramah. Wanita dihadapannya merupakan seseorang yang membantu mamanya untuk merawat dirinya sejak kecil. Dia sengaja tetap tinggal bersama suaminya. Mengabdikan dirinya unt
Anya berlari, menyongsong tubuh sang mama. Wanita itu telah menunggunya dengan tangan direntangkan. “Mama!” Panggil Anya, menumpahkan segala kerinduannya. Hanya beberapa hari tak bertemu, rasanya seperti lima abad. Kerinduan kepada sosok sang ibu membuat Anya melupakan kekesalannya. Ia tak lagi ingat pada cekcoknya dengan Kamarudin di mobil. Pria menyebalkan itu benar-benar spesies terkampret di dunia. Mulutnya yang nyinyir melebihi si nenek sihir, mengomentari dirinya yang tidak sengaja mendengkur saat tertidur. Woy, ngorok itu manusiawi ya! Apalagi setelah tidak tidur semalaman. Tubuh manusia juga memiliki batas. Wajar ia mendengkur karena terlalu lelah. Memang dasarnya Kamarudin saja yang suka cari gara-gara. “Anya kangen banget.” Anya bergelendot manja. Sebuah hal yang tidak Kamarudin pernah lihat ketika anak itu berada di kampus. Mahasiswanya itu selalu tampil garang. Hampir tak ada mahasiswa lain berani mengganggu karena kegalakannya. Macam-Macam sedikit, pasti langsung diliba
Plak!!Tanu Handoyo membulatkan matanya ketika sebuah tamparan mendarat pada pipinya. Matanya berkilat marah, tak menyangka mantan istrinya memberikan salam pembuka yang begitu kasar.“Apa yang kamu lakukan, Sasmita?!” Ia baru saja sampai dan hendak menyapa wanita itu. Belum sempat mulutnya yang terbuka mengeluarkan suara, sapaan lain justru menyambutnya. Membuat pipinya terasa kebas.“Seharusnya saya yang bertanya begitu, Mas!” Murka Sasmita, membentak. Kelembutannya tak lagi terlihat saat berhadapan dengan sang mantan suami. Ia kecewa— teramat sangat. Disaat pria itu dapat menugaskan seseorang untuk mengawasinya, mengapa dia tak melakukan hal yang sama untuk putri mereka. Dengan begitu putri mereka tidak akan terperosok pada lubang kesalahan.“Apa yang selama ini Mas lakukan sampai nggak becus jaga anak kita satu-satunya?” “Maksud kamu apa?” tanya Tanu. “Ada apa ini, Anya? Kenapa Mama kamu marah-marah ke Papa?” Pria itu lantas mengalihkan fokusnya, meminta penjelasan kepada sang pu
Pemandangan menyakitkan terlihat ketika Tanu Handoyo menyeret lengan Anya. Gadis itu diseret memasuki rumah mewahnya, menimbulkan kepanikan dalam diri Asih— wanita yang selama ini menjaga Anya, layaknya putri sendiri.Asih sudah mendapatkan pesan dari sang nyonya. Ia langsung berlari keluar, menanti kedatangan dua majikannya dengan hati berdebar.“Tuan, tolong lepaskan Mbak Anya. Kasihan Mbak Anya, kesakitan, Tuan,” mohon Asih, mengiba.Tanu menghentikan langkah kakinya, “masukan Anya ke kamarnya. Jangan biarkan dia keluar atau kamu yang menanggung akibatnya, Asih!” Ancam Tanu sembari mendorong tubuh Anya. Ia tidak akan membiarkan putrinya melangkah satu senti pun dari rumahnya. Anya akan dirinya tawan layaknya seorang tawanan.“Pah ada apa lagi ini? Anak kamu bikin ulah lagi?” Tanpa sebuah basa-basi, Soraya muncul dengan pemikirannya. Dimantanya Anya memang selalu saja bertingkah hingga menyebabkan papanya uring-uringan. Padahal gadis itu hanya perlu menurut dan kehidupannya akan sej
Anya— Perempuan muda itu menatap nyalang Tanu ketika dengan lugasnya, sang papa menyampaikan syaratnya. Rahangnya mengeras. Jari-jari telapak tangannya terkepal hebat dengan napas yang memburu.Pria itu rupanya sudah kehilangan kewarasannya. Bagaimana bisa dia! Hilang ke mana rasa malu dan wajahnya.Menuruti kata hatinya, Anya mengambil satu langkah maju. Tayangnya melayang, mendaratkan satu tamparan.Plak!!Ya, papanya pantas mendapatkan. Bahkan lebih dari tamparan pun, dia pantas menerimanya.Ia mengetahui benar sedalam apa luka mamanya dan sebesar apa pria dihadapannya membenci sang mama. Tidak akan Anya biarkan mamanya menderita lagi.“Lelucon macem apa yang pengen Papa peranin? Lebih baik Anya nggak nikah seumur hidup, dibandingin ngeliat Mama jadi istri kedua Papa!” berang Anya. Sekali pun ia hamil nanti, ia sanggup merawat anaknya. Menikah memang tidak pernah ada di dalam kamusnya. Ia menyetujui semua itu karena Kamarudin mendesak, menyeret nama-nama tak bersalah yang dirinya b
“Bagaimana para saksi?”“Sah!” Koor para saksi, yang menyaksikan ijab qobul secara serempak.Anya menangis tersedu-sedu. Perempuan itu tak henti mengeluarkan air mata. Pernikahan mendadak ini begitu menyakiti hati kecilnya.Karena kesalahannya, sang mama harus kembali merasakan lara. Dirinya dinyatakan hamil dan untuk menutupi itu semua, mamanya terpaksa berkorban. Menerima tawaran papanya hanya agar ia tak dicemooh oleh banyak orang.“Hiks, ini semua gara-gara lo, Udin Penyok!”Kamarudin tak terpancing plesetan Anya. Pria itu mengulurkan tisu untuk kesekian kalinya ke tangan mahasiswinya. “Ya jangan salahin saya! Siapa yang ngira kalau bibit saya ternyata unggul” balasnya santai, mendapatkan cubitan maut dari kuku-kuku panjang Anya.Dosennya memang mengesalkan. Tidak salah Anya menjuluki pria itu manusia kampret. Seharusnya kan dirinya ditenangkan. Bukan malah menyombongkan dirinya sendiri berkat aib yang mereka terima.Dibelakang Anya, Flora dan Angel terkikik. Anya terkena karma. M
Plak!!“Mama!” Anya menjerit saat seseorang tiba-tiba saja menampar Sasmita. Mereka tengah memperhatikan sebuah kursi pijat hingga tak menyadari keberadaan Soraya yang mendekat.Suara lantang Anya menarik perhatian dua laki-laki yang juga berkeliling. Kamarudin dan Tanu langsung menghampiri keduanya. Setelah drama penarikan rambut Kamarudin, Tanu memboyong istri serta anaknya berkeliling pusat perbelanjaan. Kedua sahabat Anya pun memutuskan tak mengikuti agenda keluarga yang baru saja kembali utuh itu. Mereka memberikan waktu agar mereka dapat mengakrabkan diri.“Apa-Apaan lo?!” bentak Anya lalu membalas tamparan dipipi kanan Soraya.“Jalang! Beraninya kamu menggoda suami saya sampai menikahi kamu!”“Soraya!” geram Tanu, menarik lengan Soraya saat wanita itu terlihat ingin menyerang Sasmita lagi.Mendengar hinaan istri papanya, Anya meradang. Ia melemparkan sebutan yang sama, dengan apa yang wanita itu layangkan. Mengutuk mulut Soraya habis-habisan. Karena perilaku Soraya, semua orang
“Lon*te!”“What?” Desis Anya, mencengkram telapak tangannya. Ia mengenal dua diantara lima gadis yang sedang melakukan perundungan terhadapnya. Dua gadis itu merupakan teman satu angkatannya sedangkan yang lain, adalah adik juniornya yang tergabung ke dalam aliansi pemuja Dosen Kampret-nya.“Lemparin lagi aja! Biar parfum wanginya berubah busuk kayak kelakuan dia!” Kompor salah satu gadis membuat rahang Anya sekeras batu. Tidak hanya berada di tahun ajaran yang sama, gadis yang membuka mulut terkutuknya itu juga merupakan teman sekolahnya dulu. Dia memang tak menyukai Anya karena kedekatannya dengan Josephin.‘Si Anjing gagal move on ini,’ batin Anya, menggeram.Hidupnya semakin sial sejak berhubungan dengan Kamarudin. Dosennya itu membawa petaka masuk ke dalam kehidupannya yang sudah rusak.Disisi lain, Kamarudin yang melihat itu menuruni mobilnya. Ia tidak langsung membantu Anya, melainkan membuka pintu belakang mobilnya untuk mengambil sesuatu.“LEMPAR!”“Bang..”Buagh!Mata Anya m
Kegagalan Josephin dalam menikahi Jesika secara dadakan akhirnya terbalas. Dikarenakan dirinya yang merupakan kakak Kamasea, ijab qobulnya pun dilaksanakan terlebih dahulu. Tak seperti biasa, Josephin benar-benar tidak mau mengalah pada saudara kembarnya. Untuk pertama kalinya ia bersikap egois, memprioritaskan dirinya di atas kemauan sang adik. “Hi, Wife..” Sapa Josephin dengan senyuman sehangat mentari kala penghulu telah mengesahkan pernikahan mereka. “Hello, Jo..” Pada meja yang bersebelahan dengan prosesi ijab qobul Josephin, Kamasea berseru. “Cih! Abang shut up! Gilirannya Ceya ini!!” Seruannya itu terdengar oleh seluruh tamu undangan mengingat adanya alat pengeras yang terpasang di atas meja ijabnya. “Ya Tuhan.. Punya anak pada ngebet kawin.. Dikira kawin enak kali ya..” gumam Anya, menepuk keningnya. Setelah Michellion yang biang kerok itu ia lepaskan dengan segenap keikhlasan hati, kini tibalah pada momen yang menurut Anya paling berat. Sebagai seorang ibu yang mencintai
Duka mendalam sedang dirasakan oleh Alexiz. Sejak penghulu yang menikahkan putrinya pulang, pria tampan itu terus saja menangis. Kenyataan dimana putrinya telah dipersunting oleh anak sahabatnya semakin terasa nyata.“Tell me! It was a dream, right? Tadi mereka cuman simulasi ijab aja kan?!” Ucap lirih Alexiz yang belum dapat menerima kenyataan.Melepaskan putri kesayangannya ke tangan pria lain merupakan mimpi terburuk Alexiz. Apalagi kepada orang seperti Michellion Hasan yang ia kenal baik kebobrokannya.“Alexiz, wake up! ini nyata! Lexa kita udah nikah, Lex. Dia akhirnya bisa raih cita-citanya..”Alexiz pun terhenyak. ‘Cita-Cita sampah sialan!’ maki pria itu dalam hati.Sejak kapan tepatnya menikah menjadi cita-cita? Putrinya sungguh abnormal. Disaat anak lain mencita-citakan pekerjaan setinggi langit, putrinya yang cantik dan sedikit tidak baik hati justru mengidam-idamkan lelaki bermasa depan suram seperti Michellion.Ngenes.. Ngenes! Mana anak satu-satunya lagi ah!“Stop crying
“Saya terima nikah dan kawinnya, Alexa Sasongko bin..” “Bin.. Bin-tiiii..” Plak! “Argh, Mama!!” erang Michellion kesakitan. “Satu tarikan napas, Ichell!! Satu tarikan!” berang Anya tak mengindahkan protes kesakitan bungsunya. “Serius dong! Jangan salah-salah mulu! Sekali salah lagi, nggak bisa kawin selamanya kamu!” timpal Anya, menakut-nakuti Michellion. Putranya sudah dua kali mengacaukan ijab qobulnya. Anya kan gemas jadinya. Kalau memang tidak niat menikah, anak itu seharusnya bersikap gentle, berani mengakui ketidaksiapannya di depan Alexa dan keluarganya. Memang dasar Michellion! Otaknya hanya berkembang jika menyangkut uang, selebihnya mah nol besar. Michellion yang ragu dengan pernyataan Anya pun bertanya, “masa sih, Mah? Masa gitu doang Ichell terus harus jadi jomblo seumur hidup?” “Dih, nggak percaya-an! Auto blacklist kamu tuh. Iya kan Pak Penghulu?” “Ng..” Melihat pelototan maut Anya, penghulu yang tadinya hendak menyangkal pun merubah jawabannya. “Iya, Mas! Mas h
“Gundulmu!” Sembur Alexiz, ngegas.Calon menantunya memang minta ditendang sampai ke Afrika. Ya mengapatidak– disaat suasana sedang panas-panasnya, anak itu tetap bisa mengelantur.Padahal ia sedang panas dingin karena mendeteksi adanya sinyal permusuhan dariorang-orang rumahnya.Anya menjentikan jari. “Woi! Jadinya gimana? Kaki gue pegel nih berdiri mulu!” tanya perempuan itu tak santai.“...”“Mah, Mah!!” sela Josephin karena omnya tak kunjung menanggapi pertanyaan sang mama. “Nikahin sekarang aja sekalian, Mah. Itung-itung jagain Om Lexiz kalau berubah pikiran lagi ntarnya..”“What?!”Siapa sangka jika usul Josephin itu mengagetkan dua pria disana.Iya, kalian tidak salah jika menebak pekikan tersebut berasal dari mulut Michellion dan calon papa mertuanya.Kali ini keduanya terlihat sangat kompak. Karena kekompakan yang jarang terlihat itu, keduanya bahkan sampai bertatapan mesra.Respon kaget yang mengisyaratkan ketidaksetujuan itu berbanding terbalik dengan Alexa.Alexa yang te
‘Anjing lah! Perasaan gue jadi anak udah sholeh, kenapa ada aja sih ujiannya!’Ditengah umpatan yang Michellion pendam, bibir anak itu berkedut dikarenakan senyuman yang terpaksa harus dirinya hadirkan.“Kamu, bla-bla-bla..”Dengan wajah datarnya— bungsu kamarudin itu berpura-pura fokus mendengarkan. Setiap kali nada papa Alexa berubah, ia menganggukkan kepala. Padahal ia sendiri tidak menyimak serius kalimat-kalimat yang dikeluarkan oleh omnya.“Gara-gara kamu masa depan Lexa jadi kacau gini! Kalau sampai kamu nanti nggak bisa bahagiain Lexa... Siap-siap aja ya kamu.. Om bakal kirim kamu ke neraka jahanam!”“Heum..” gumam Michellion lemah sebagai jawaban.“Jalur express!!”“Via darat apa laut, Om?” celetuk Michellion. Ia paling tidak betah jika harus terus dalam mode serius. Menjadi orang serius bukanlah bakatnya. Melakukan itu hanya membuatnya lelah jiwa dan raga.“What the..”“Uhuk!! Banyak anak dibawah umur disini, Lex!” tegur Kalingga. Setelah tak bisa menghadiri acara lamaran ke
Pada hari berikutnya, kediaman Anya kembali ramai. Kali ini lamaran datang dari pihak orang kepercayaan Kamarudin.“Apaan nih, Man? Pake repot-repot segala.”“Sogokan biar lamarannya nanti diterima, Bu.” Kekeh Lukman dengan tawa renyah di akhir kalimatnya.“Aigo! Mana ada Kenan ditolak.. Bawa diri aja udah pasti diterima lamarannya.” Sahut Anya, membalas.Anya tak mungkin mempersulit masuknya Kenan ke dalam keluarga besar mereka. Selain dikarenakan putrinya yang terlanjur cinta mati, Kenan sendiri sudah dirinya incar sejak keduanya baru mendekatkan diri.Andaikan Kamarudin tidak bertindak sebagai ayah yang terlewat posesif kepada putrinya, pembicaraan tentang pernikahan Kamaseda dan Kenan pasti sudah lama terealisasikan.“Masuk, yuk.. Kita kirain nggak jadi kesini.. Abisnya lama banget nggak nyampe-nyampe kaliannya.” Ujar Kamarudin, mempersilahkan.“Iya, nih!! Ceya sampe udah mau banjir air mata itu..” pungkas Anya, menimpali perkataan Kamarudin.Kenan pun meminta maaf karena telah me
Sudah diputuskan!! Demi menghargai silsilah persaudaraan diantara anak-anaknya, Kamarudin dan Anya pun akhirnya menentukan hari yang berbeda untuk prosesi lamaran ketiganya. Ya, hanya 3 karena Josephin tidak dihitung.. Menjelang hari lamarannya, Josephin untuk sementara waktu diungsikan ke rumah orang tua Anya. Anak itu akan mengetuk pintu rumah mereka dengan didampingi opa dan kedua omanya. Terdengar rempong kan?! Namun bagi Anya, alur seperti itu, hukumnya wajib untuk dijalankan. Anya tidak ingin melepas putri pertamanya dengan asal-asalan. Ia ingin putrinya dilepaskan dengan alur yang semestinya, seperti para anak perempuan milik orang lain. Untuk itu, Josephin pun harus melakukannya sesuai prosedur, dengan bertindak seolah-olah dia merupakan pihak luar yang hendak meminang putri dari keluarganya. Yah, salah sendiri ngebet nikahnya sama dengan angota keluarga sendiri. Coba saja anak itu memilih gadis lain, pendampingan pada lamarannya pasti akan ditemani Anya dan Kamarudin se
“Ya Tuhan,” desah Kamarudin.Pria itu meletakkan ponselnya ke atas meja kerja.“Sialan lo, Lex!”Beberapa detik yang lalu Kamarudin baru saja mendapatkan laporan. Ia akhirnya mengetahui jika sahabat baiknya lah yang menjadi dalang dari meledaknya tagihan putra bungsunya.Sungguh sahabat yang baik. Pria itu sangat tahu cara untuk membalaskan dendamnya. Dengan begini, ia jadi tak bisa berkutik, termasuk memarahi putranya agar Michellion dapat belajar artinya bertanggung jawab dalam menggunakan uang.Yah, mereka juga tak mungkin mengambil kembali barang-barang yang telah diberikan. Hal itu sangat tidak etis. Sebesar apa pun mereka merugi, apa yang mereka hadiahkan jelas sudah menjadi hak si penerima, terlepas dari seberapa liciknya Alexiz dalam memanfaatkan momentum lamaran putrinya.“Man, buat lamaran Ceya nanti, kalian udah nyiapin apa?” tanya Kamarudin, mengangkat kepalanya dan memandang Lukman yang saat ini tengah membaca berkas di meja tamu ruangan kerjanya.“Standar saja sih, Pak..
Michellion berjalan mengendap setelah melewati pintu utama rumahnya.Kepalanya celingukan, memastikan jika dirinya aman, tak berpapasan dengan sang mama.Gila, Gila!Seharian berkeliling mencari hadiah benar-benar membuatnya ingin mati berdiri.Ia tidak tahu pasti berapa uang yang telah dirinya gelontorkan, tapi mengingat banyaknya perhiasan dan hal-hal lain yang calon papa mertuanya beli, sudah dipastikan ia akan tinggal nama ditangan mamanya.“Chell..”“Ssst, Kak, jangan kenceng-kenceng!” hardik Michellion, pelan. Ia kan tengah menghindari pertemuan dengan mamanya. Kalau sampai mamanya tahu ia sudah pulang, habis sudah telinga dan kewarasannya.Di Balik tembok yang memisahkan ruang tamu dengan keluarga, Michellion melambaikan tangan, mengundang sang kakak untuk mendekat ke arahnya.“Apaan sih? Kamu yang kesini lah!”Mendengar jawaban kakaknya, Michellion pun menghentakkan kaki-kakinya.“Cepetan ih!!” pinta Michellion, setengah mengerang.Rumahnya mungkin terlihat sepi, tapi dibalik