"Tirta, ini semua uang kami. Totalnya 300 juta. Kumohon, ampuni kami," pinta Elvi. Meskipun merasa enggan, Danang dan Pandu hanya bisa berlutut. Penghinaan semacam ini hampir membuat mereka kehilangan akal sehat.Amarah Tirta mulai mereda. Dia mendengus, lalu menerima kartu bank itu dan melemparkannya ke dalam waduk."Aku nggak butuh uang sesedikit itu. Sebaiknya kalian jangan mengusikku lagi mulai sekarang. Kalau berani mencari masalah lagi, aku nggak akan berbelaskasihan. Angkat kaki kalian dari sini!" bentak Tirta.Setelah mendengarnya, Elvi sekeluarga pun merasa lega. Kemudian, mereka hendak melarikan diri. Jika terus berada di sini, mereka hanya akan terus dipermalukan.Tiba-tiba, terdengar suara Bima. "Danang, mulai hari ini kamu bukan muridku lagi. Aku nggak punya murid sepertimu!"Begitu mendengarnya, Danang pun terkejut dan hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat. Meskipun demikian, dia tidak berlama-lama dan bergegas pergi.Adapun Bima, dia tiba-tiba menghampiri Tirta da
"Cih, kamu pasti berniat jahat!" Nabila merangkul lengan Tirta dengan wajah tersipu.Setibanya di klinik, Arum yang sedang memasak sontak terkejut melihat Tirta. Dia menyapa dengan penuh semangat, "Tirta, kamu sudah pulang! Syukurlah!"Arum tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk mengungkapkan kegembiraannya. Tirta pun menghampiri dengan tersenyum, lalu berkata, "Kak Arum, aku sudah pulang. Kamu nggak perlu mencemaskanku lagi."Arum menyahut dengan tenang, "Baguslah. Istirahat dulu, aku akan menyiapkan makanan untukmu. Nanti kita semua makan bersama."Sejam kemudian, Tirta makan dengan lahap. Dia merasa sangat bersyukur karena bisa pulang. Kalau sampai dirinya mati, Ayu dan lainnya pasti akan sangat sedih.Selesai makan, mereka bersiap-siap untuk tidur. Namun, Nabila tiba-tiba menarik Tirta ke mobil dengan wajah tersipu."Nabila ini memang nakal ...." Ayu dan Melati tentu melihat semua ini. Mereka merasa agak getir. Bagaimanapun, mereka sangat mencemaskan Tirta belakangan ini. Merek
Ketika langit hampir terang, mobil baru berhenti bergoyang. Nabila tampak kelelahan, tetapi juga memperoleh kepuasan. Kemudian, keduanya tidur sampai siang hari.Siang harinya, Arum yang sudah selesai memasak membangunkan mereka. "Nabila, Tirta, sudah waktunya makan."Nabila dan Tirta membuka pintu mobil dan masuk ke klinik. Tirta merasa kasihan pada Nabila. Dia memenangkan pertempuran semalam, tetapi Nabila terlihat sangat lelah karena tidak beristirahat.Namun, begitu melihat kantong mata Ayu dan Melati yang hitam, Tirta pun terkesiap. Dia bertanya, "Bi, Kak, kenapa kantong mata kalian hitam sekali?"Tirta jelas-jelas tidak mengganggu mereka semalam. Lantas, mengapa mereka tidak tidur nyenyak semalam?Ketika Tirta masih kebingungan, kedua wanita itu tak kuasa mengerlingkan mata. Semalam, mereka terus mendengar suara Nabila. Gadis ini seperti ingin menyombongkan diri bahwa dirinya bercinta dengan Tirta semalaman.Suara itu tentu tidak bisa membuat mereka tidur. Terutama setelah merasa
"Oh ya? Sepertinya Kak Arum yang terlalu sensitif." Melihat Arum mengernyit, Tirta sontak merasa bersalah. Dia buru-buru membuka jendela mobil dan menginjak pedal gas agar angin berembus masuk. Gawat kalau sampai Arum menyadari sesuatu!"Kak Arum, sebaiknya kita cepat pulang. Selain beli benih, kita masih bisa beli beberapa sayuran. Kalau nggak, nanti nggak dapat sayuran yang segar!" ujar Tirta mencari-cari alasan."Ya, persediaan sayuran di rumah memang tinggal sedikit." Arum hanya mengangguk tanpa berpikir terlalu jauh.Tirta baru menghela napas lega melihat hal itu. Kurang dari setengah jam kemudian, mereka tiba pasar kota."Tirta, kalau nggak, kamu beli beberapa perlengkapan bertani saja dulu untuk tanam sayuran. Aku bisa beli sayur dan benihnya sendiri. Jadi kita nggak menghabiskan terlalu banyak waktu," usul Arum setelah turun dari mobil."Boleh juga. Kalau begitu, aku pergi duluan ya Kak." Mendengar usul Arum, Tirta langsung menyetujuinya tanpa ragu-ragu. Setelah turun dari mobi
"Entah siapa pun ayahmu, aku harus mewakilinya memberi pelajaran padamu!" Setelah berkata demikian, Tirta langsung menyerbu ke arah preman itu lagi. Kini dia benar-benar marah, sehingga dia tidak akan segan-segan lagi terhadap mereka.Kurang dari lima menit kemudian, para preman itu berteriak histeris dengan air mata dan darah yang melumuri wajah mereka."Bos dipukul!" seru beberapa preman lainnya yang terkejut. Mereka tidak menyangka bos mereka akan berakhir seperti ini. Perlu diketahui bahwa ayah dari bos mereka yang bernama Herman ini adalah camat!Namun, saat ini para preman itu juga tidak sempat memikirkan mengapa pria di hadapan mereka ini berani bersikap sekasar ini. Mereka langsung mengeluarkan ponsel untuk menelepon. Jika sampai terjadi sesuatu pada Herman, mereka juga akan bernasib sial!Di saat Tirta sedang asyik memukuli pria itu, awalnya kerumunan yang menyaksikan hal itu juga tampak senang. Akan tetapi, begitu melihat para preman itu menelepon seseorang, mereka langsung t
"Apa katamu?!" Herman semakin emosional saat mendengar ucapan Tirta. Sejak kecil, dia telah terbiasa dimanjakan. Belum pernah ada seorang pun yang membuatnya semarah ini sebelumnya."Kubilang, memangnya kamu pantas kuberi nama? Bocah nggak tahu aturan!" Melihat ekspresi Herman yang merasa kesal, Tirta kembali menerjang ke arah Herman dan memukulnya. Herman bahkan tidak sanggup melawan saat dipukuli Tirta.Pada saat ini, terdengar sebuah suara yang penuh kemarahan dari kejauhan, "Hentikan! Besar sekali nyalimu!""Beraninya kamu memukul orang di depan umum! Nggak ada hukum lagi ya? Kulihat kamu ini sepertinya sudah bosan hidup!"Tirta yang mendengar suara itu langsung menoleh. Terlihat seorang pria paruh baya yang menatap Tirta dengan sorot mata penuh amarah. Di belakangnya tampak beberapa pria kekar yang baru turun dari mobil sambil memelototi Tirta dengan beringas."To ... Tora sudah datang!" Melihat adegan ini, para penjual sayuran di sekitar mereka semakin ketakutan. Mereka langsung
Tora menatap Tirta dengan pandangan penuh penghinaan. "Berani-beraninya kamu mengkritikku? Sebaiknya kamu khawatirkan dulu dirimu sendiri ...."Namun sebelum Tora selesai berbicara, dia tiba-tiba terkejut dan membuka mulutnya lebar-lebar. Saat ini, Tirta sudah menerobos masuk ke kerumunan. Meskipun para preman itu memegang tongkat besi di tangan mereka, senjata tersebut tidak ada gunanya di hadapan Tirta.Tirta menyerbu ke kerumunan bagaikan serigala yang masuk ke kawanan domba. Dalam waktu singkat, dia telah berhasil menjatuhkan semua preman itu. Melihat kejadian ini, warga di sekitarnya bertepuk tangan dengan gembira. Sementara itu, Tirta berjalan mendekati Tora dengan senyuman sinis.Pada saat ini, keangkuhan dan kesombongan Tora sudah lenyap, digantikan oleh ketakutan di matanya. Dengan keringat dingin mengalir di dahinya, dia bertanya, "A ... apa maumu?"Mendengar pertanyaan itu, Tirta mendengus. "Aku mau apa? Tentu saja mau memberimu pelajaran!"Melihat tinju Tirta mengarah padan
Saat Tirta ingin pergi, orang-orang yang dibawa oleh Tora tentu tidak berani menghalanginya sedikit pun. Mereka bahkan terlihat ketakutan. Tirta kemudian membawa Arum ke mobil dan bergegas kembali ke Desa Persik.Di perjalanan, Arum akhirnya bisa bernapas lega. Dia berkata pada Tirta seraya menepuk dada, "Tirta, tadi aku benar-benar ketakutan. Untung ada kamu, kita jadi bisa pulang dengan selamat!""Tapi, lain kali kamu harus lebih hati-hati. Jangan sampai bertindak gegabah seperti itu lagi. Orang yang kamu pukul tadi itu camat. Gimana kalau mereka cari masalah sama kita nanti?"Saat berkata demikian, Arum merasa semakin ketakutan. Dia mencondongkan tubuhnya dan menatap Tirta dengan penuh kekhawatiran.Awalnya saat Arum menepuk dadanya, gerakan itu membuat kedua buah dadanya yang montok bergetar. Pemandangan ini langsung menarik perhatian Tirta. Sambil menyetir, Tirta terus mencuri pandang ke arah payudara Arum dengan kegirangan.Kini saat Arum mencondongkan tubuhnya, sabuk pengaman di
Bella merapikan rambutnya, lalu buru-buru keluar. Sementara itu, Tirta melihat jam. Sekarang hampir pukul 9 pagi. Masih ada 1 jam lagi sebelum turnamen bela diri dimulai.Tirta segera mandi dan memakai baju. Dia menggunakan alasan yang sama, yaitu membantu Mauri mengurus kasus. Setelah berpamitan dengan Ayu, Tirta keluar dari vila Keluarga Purnomo.Kemarin Tirta sudah berpesan kepada Yusril dan Chiko untuk melindungi Bella dan Ayu. Dengan begitu, Tirta bisa mengikuti turnamen bela diri dengan tenang.Kala ini, Yasmin juga berada di kamar Ayu. Dia mengusap matanya dan menguap. Yasmin bertanya kepada Ayu yang sedang melihat ke luar, "Bibi, apa semalam aku mimpi buruk?"Mendengar ucapan Yasmin, Ayu segera menutup pintu kamar. Jantungnya berdegup kencang. Dia menggigit bibir dan bertanya balik, "Nggak, Yasmin. Apa semalam kamu mendengar sesuatu?"Yasmin memandang Ayu dengan ekspresi polos sembari menjelaskan, "Iya, semalam aku dengar Bibi terus memanggil nama Kakak Guru waktu tidur. Kamu j
Di tengah tidurnya, Ayu merasakan sepasang tangan besar yang panas menjamah tubuhnya. Teknik tangan yang familier itu sontak membangunkannya, membuatnya terus menginginkannya."Tirta, Yasmin ada di sini ...." Karena gelap, Ayu tidak bisa melihat Tirta. Namun, dia bisa merasakan Tirta berada di atasnya.Suhu yang panas membuat napas Ayu memburu. Kedua tangannya memeluk Tirta, menyuruhnya berhenti dengan tidak berdaya.Ayu mengira Tirta tidak akan menginginkannya lagi karena telah melakukannya di siang hari. Siapa sangka, Tirta masih kemari malam-malam begini. Energinya sungguh tak ada habisnya!"Nggak apa-apa, Bi. Dia sudah tidur. Aku akan lebih pelan. Kamu sudah basah lho. Aku tahu kamu menginginkannya, biar aku memuaskanmu." Tirta terkekeh-kekeh, menjulurkan tangan untuk melepaskan pakaian Ayu.Meskipun gelap gulita, di mata Tirta, dia bisa melihat semuanya dengan jelas. Wajah Ayu merah, tatapannya tidak fokus. Wanita ini seperti terkena obat perangsang, membuat Tirta ingin sekali men
Mereka ingin menggali lebih banyak rahasia tentang dunia misterius dari para pesilat tersebut.Sementara itu, perempuan yang memimpin kelompok ini adalah seorang praktisi ilmu mistis yang paling dihormati di seluruh Negara Yumai, baik oleh pejabat tinggi maupun rakyat biasa.Dia adalah Yara dari Keluarga Gomies, seorang wanita dengan kedudukan tinggi yang mampu mengendalikan kekuatan roh!"Meskipun tubuhnya sudah mengalami kerusakan, kebenciannya sangat mendalam. Dia memang bahan yang sangat cocok untuk dijadikan boneka mayat. Kalian berdua bawa dia ke sini."Mendengar perkataan pria di belakangnya, Yara menyipitkan matanya yang panjang dan indah. Suaranya terdengar menggoda tanpa dibuat-buat sedikit pun."Baik, Master!" Segera, dua pria berbaju hitam maju, mengangkat tubuh Bryan dari dalam kolam, membawanya ke hadapan Yara.Yara berjongkok, mengamati tubuh Bryan tanpa merasa takut atau jijik sedikit pun. Sepertinya, dia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Tanpa mendongak, d
"Karena Paman yang memintanya, mana mungkin aku berani menolak? Apa yang membuatmu gelisah? Mungkin kalau diceritakan, aku bisa membantu meringankan beban di hatimu."Saat ini, Bryan masih bergantung pada Kurnia karena dia masih membutuhkan bantuannya untuk kembali ke dunia misterius. Tentu saja, dia tidak berani menolak ajakan Kurnia.Setelah berpikir sejenak, dia berkata, "Kita bicara setelah keluar dari hotel. Di sini terlalu banyak orang, pasti nggak nyaman bicara di sini."Kurnia tidak berbasa-basi, hanya berbalik dan berjalan di depan untuk memimpin jalan. Bryan mengikuti Kurnia keluar dari hotel hingga sampai di kaki Gunung Tisatun, lalu berhenti di depan sebuah kolam dalam yang tak terlihat dasarnya."Paman, bukannya kamu menyuruh Kak Fasahat dan Kak Lior membelikan obat untukku? Tapi, kenapa dua hari ini aku nggak melihat mereka. Ke mana mereka?" tanya Bryan penasaran."Oh, dua bocah itu memang nggak berguna. Entah ke mana mereka pergi. Hari ini aku juga pergi mencari mereka,
"Memangnya apa yang bisa terjadi padaku, Bella? Jangan pikir yang aneh-aneh. Kamu sudah bekerja seharian. Pasti capek, 'kan? Mau aku pijat bahumu atau kakimu?"Merasa diperhatikan oleh Bella, Tirta tidak bisa menahan senyuman. Dia menarik Bella duduk di atas tempat tidur, menunjukkan sikap manisnya."Hah, seharian ke sana ke sini, bahkan makan pun nggak tenang. Menurutmu, aku capek nggak? Untung kamu masih punya hati, bisa peduli padaku. Pijatnya yang pelan ya. Aku takut kamu meremukkan bahuku." Bella bercanda sambil membalikkan badan membelakangi Tirta."Hehehe, tenang saja. Aku janji bakal pelan-pelan!" Tirta berlari ke kamar mandi untuk mencuci tangan, lalu segera kembali.Tangannya diletakkan di atas bahu Bella, lalu perlahan-lahan turun ke kerah bajunya. Merasakan kulitnya begitu lembut, Tirta langsung menyelinapkan tangannya masuk, memijat, meremas, dan menggoda dengan nakal.Bella sampai mengeluarkan erangan manja. "Mmmh ... dasar kamu ini! Aku sudah capek setengah mati, tapi ka
"Bisa, semua ini cuma perkara kecil. Kami berdua pasti bisa menyelesaikannya," ucap Kurnia menangkupkan tangannya. Bahkan, Kimmy yang keras kepala tadi juga berubah sekarang. Dia mengangguk dengan rendah hati."Kalian berdua kembali dulu ke hotel. Tunggu sampai besok pagi. Aku akan langsung ke turnamen bela diri. Kalau butuh bantuan, aku akan mencari kalian lagi."Di dalam hati, Tirta merasa takjub dengan kehebatan Janji Darah. Dia melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Kurnia dan Kimmy pergi.Tepat pada saat itu, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Yusril dan Chiko ternyata mengejar mereka.Mereka melihat Tirta baik-baik saja, sementara Kurnia yang hendak pergi justru kehilangan satu lengannya dan tampak jauh lebih tua. Bahkan, Kimmy yang berjalan di belakangnya terlihat lesu seperti kehilangan jiwanya. Ayah dan anak itu terkejut bukan main!"Dik, apa benar ... kamu mengalahkan Kurnia sendiri?" Yusril terperanjat dan begitu terkejut hingga beberapa helai janggutnya ik
Kimmy mulai panik. Dia tidak bisa membuat keputusan. Kimmy berkata kepada Kurnia seraya menangis, "Kakek, apa yang harus kita lakukan? Aku masih muda, aku nggak ingin mati. Kak Azhar masih menungguku."Kimmy menambahkan, "Tapi Kakek, kalau suruh aku jadi budaknya, lebih baik aku mati."Sementara itu, Kurnia juga baru menerobos ke tingkat semi abadi. Umurnya sudah bertambah 50 tahun lebih. Ke depannya, mungkin Kurnia bisa menerobos ke tingkat abadi. Tentu saja dia tidak ingin mati.Setelah ragu-ragu sesaat, akhirnya Kurnia mendesah dan membujuk Kimmy, "Kimmy, aku nggak pernah dengar teknik yang dilancarkan orang ini. Jadi, sangat sulit dihadapi. Aku juga nggak ingin berkompromi, tapi kita harus bertahan hidup."Kurnia meneruskan, "Sebaiknya kita terima saja. Paling-paling ke depannya kita cari kesempatan untuk kembali ke dunia misterius dan jangan kembali ke dunia fana selamanya."Tirta tidak keberatan setelah mendengar percakapan Kurnia dan Kimmy dengan jelas. Dia berujar, "Karena kali
Kurnia memutuskan untuk meminta ampun kepada Tirta, tetapi Tirta tidak berniat melepaskan mereka. Tirta tahu dia pasti celaka jika orang lain tahu teknik rahasianya.Hanya saja, Tirta tidak suka membunuh. Dia memang tidak sanggup membunuh Kurnia dan Kimmy. Akhirnya, Tirta mendesah dan berkata kepada Genta, 'Kak, kamu serap energi di dalam tubuh Kurnia saja. Nanti aku suruh Pak Mauri penjarakan mereka seumur hidup.'Genta menanggapi, "Nggak usah, kamu yang mengalahkan orang ini. Suruh dia jadi budakmu saja. Kalau ke depannya masih ada pesilat kuno yang kuat, aku baru serap energinya."Genta menambahkan, "Lagi pula, kamu bisa memerintahkan Kurnia untuk mencari batu dan obat spiritual di dunia misterius setelah mengendalikannya. Dengan begitu, kamu bisa memenuhi perjanjian di antara kita lebih cepat."Tirta tidak menyangka Genta akan berbicara seperti ini. Bahkan, Genta juga terdengar sedikit bangga.Tirta membalas, 'Suruh Kurnia jadi budakku? Mereka berdua nggak seperti Yusril dan Chiko
Kurnia merasa gusar dan juga takut. Hal ini karena dia tidak pernah melihat teknik yang dilancarkan Tirta.Kimmy juga kaget melihat kejadian yang mendadak ini. Dia segera mengingatkan, "Kakek, cepat lepaskan bajumu untuk memadamkan apinya!""Nggak usah, aku punya cara," timpal Kurnia. Dia memasukkan energi ke lengannya yang terbakar, lalu meninju tanah.Namun, api itu tidak padam sedikit pun setelah Kurnia menarik lengannya. Kurnia segera melepaskan bajunya. Api terus membakar lengan Kurnia. Sepertinya sebentar lagi lengan Kurnia akan gosong.Kurnia terpaksa menahan rasa sakit. Dia mengayunkan tangan kirinya dan memotong lengan kanannya. Kalau api merambat ke seluruh tubuhnya, Kurnia pasti akan mati terbakar.Kurnia memegang luka di lengannya yang patah sambil berteriak, "Sialan! Dasar berengsek! Kalau berani, cepat keluar! Aku pasti akan mencincangmu!"Tirta membalas, "Dasar pria tua sialan! Terus teriak saja! Bagaimanapun, aku juga nggak akan keluar!"Tirta yang bersembunyi di dekat