Share

Bab 273

Author: Hazel
"Perahu itu terlalu kecil, paling maksimal cuma bisa muat dua orang," kata salah seorang polisi veteran bernama Harris.

"Ini adalah perahu bekas yang digunakan oleh mantan kepala desa kami dulu untuk menangkap ikan. Sejak dia meninggal, nggak ada lagi yang pakai perahu ini. Bisa muat dua orang saja sudah patut disyukuri."

Tirta melihat perahu itu bahkan sudah berlubang. Dia benar-benar curiga perahu itu akan langsung tenggelam begitu memasuki danau.

"Dua orang juga nggak masalah. Tirta, kamu ikut aku turun!" ujar Susanti sambil mengernyit dan menarik Tirta ke arah perahu kayu tersebut.

"Bu Susanti, tunggu dulu! Fenomena siphon sebesar ini mungkin bisa makan korban nyawa. Kamu sama sekali nggak ada perlengkapan, bahkan tabung oksigen saja nggak ada. Siapa tahu apa yang bakal muncul di bawah sana? Bahaya sekali kalau pergi begitu saja!"

"Kamu masih muda, nggak perlu berkorban sebesar ini. Kalau nggak, biar aku saja yang turun sama Tirta!" ujar Harris mencegahnya.

"Ya, Bu Susanti. Ini ter
Locked Chapter
Continue Reading on GoodNovel
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Maman Suryaman
nunggu nanti malam jam 11 an
goodnovel comment avatar
brahm manurung
ngarang ceritanya terlalu berlebihan, diluar logika dan kenyataan
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 274

    "Tapi kamu harus pikirkan dengan baik. Kita ini hanya berdua, mereka ada belasan orang. Kemungkinan juga semuanya bawa senjata.""Kamu nggak mengira mereka akan langsung menyerah hanya dengan kamu mengatakan kamu ini polisi, 'kan? Aku bukan takut, aku cuma bicara kenyataan saja," ucap Tirta."Lalu ... mau bagaimana kita sekarang?" tanya Susanti yang mulai ketakutan."Bisa bagaimana lagi? Nekat saja. Ikuti aku, jangan sampai terpisah sedikit pun. Aku akan melindungimu." Ekspresi Tirta saat ini sangat serius. Dia tidak lagi terlihat bercanda seperti biasanya."Kamu lindungi aku .... Ya, kalau begitu kamu harus lindungi aku dengan baik. Terima kasih, Tirta. Setelah kasus ini selesai nanti, aku akan traktir kamu makan." Susanti merasa terharu mendengarnya, sehingga dia langsung memeluk Tirta tanpa sadar.Susanti merasa bahwa Tirta bisa saja tidak mengambil risiko ini jika bukan karena dia yang memaksa Tirta. Namun, Tirta tetap tidak pergi bahkan setelah menyadari betapa berbahayanya misi i

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 275

    Aliran air yang dingin menyapu tubuh Susanti. Hawa dingin yang kuat, rasa takut yang menyelimuti dirinya membuat Susanti menangis tak terkendali. Karena ketakutan, Susanti sama sekali tidak berani membuka matanya dan hanya bisa meronta-ronta dengan tak berdaya.Apa yang harus dilakukan? Apakah ini akhir dari hidupnya?Waduk yang luas ini tidak terlihat ujungnya. Bahkan perenang andal sekalipun tidak akan bisa selamat jika terjatuh ke dalam air. Di saat Susanti merasa putus asa, tiba-tiba dia merasakan sepasang tangan yang kuat mengangkatnya. Tangan itu memegang pinggulnya yang berisi dan mengangkatnya ke permukaan air."Uhuk uhuk ...." Begitu membuka mata, Susanti melihat Tirta yang terombang-ambing di hadapannya."Tirta .... Huhuhu .... Aku benar-benar takut!" Setelah terjatuh ke air, Susanti langsung memegang Tirta dengan erat."Kak, aku benar-benar salut padamu. Kalaupun kamu dendam sama aku, nggak perlu sampai merusak perahu kita! Jangankan mau tangkap pencuri makam, sekarang kita

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 276

    Meskipun aliran air di waduk menjadi sangat kacau karena fenomena siphon, Tirta sama sekali tidak terpengaruh. Hanya dalam waktu singkat, dia sudah menempuh jarak sekitar 7 sampai 8 meter."Sialan, besar sekali lubangnya! Pantas saja tekanannya begitu kuat!" gumam Tirta.Ketika Tirta mendekati area fenomena siphon, situasi di sana benar-benar kacau. Tirta dan Susanti seperti semut kecil yang tidak berdaya saat menghadapi lubang hitam dengan diameter 10 meter itu.Tirta sudah terbiasa dengan aliran air ini sehingga tidak begitu takut lagi. Di sisi lain, Susanti ketakutan hingga wajahnya memucat dan tubuhnya gemetar. Siapa pun yang mengalami kejadian seperti ini pasti akan merasa sesak!"Peluk aku dengan erat. Aku akan masuk!" instruksi Tirta sambil memeluk Susanti. Kemudian, mereka pun diisap oleh pusaran dan masuk ke lubang hitam itu.Supaya Susanti tidak kehabisan napas, Tirta hanya bisa memberinya napas buatan lewat mulut. Saat berikutnya, keduanya disapu oleh arus deras dan masuk ma

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 277

    Tirta belum masuk, tetapi sudah melihat mayat yang baru mati. Jelas, ini bukan pertanda baik. Seketika, Tirta pun merasakan firasat buruk.Pintu masuk gua yang gelap gulita membuat suasana menjadi makin menegangkan. Apalagi gua ini benar-benar hening hingga suara napas dan suara air mengalir terdengar sangat jelas. Jika mental seseorang tidak kuat, mungkin mereka sudah terduduk lemas di tanah."Ada yang mati? Anggota Black Gloves nggak mungkin saling membunuh. Apa mungkin ada sesuatu yang menakutkan di dalam sana?" tanya Susanti yang terpikir akan kemungkinan ini. Sebagai polisi, Susanti sudah sering melihat jasad. Itu sebabnya, dia tidak panik mendengar Tirta menyebut jasad."Tebakanmu masuk akal. Biasanya di makam kuno begini ada mekanisme yang berbahaya. Kita akan tahu setelah memeriksa jenazahnya," ujar Tirta. Kemudian, dia menurunkan Susanti dan mendekati jenazah itu untuk memeriksa.Setelah mengetahui penyebab kematian orang ini, Tirta kira-kira bisa tahu hal berbahaya apa yang a

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 278

    "Aku juga nggak bisa memastikan itu beracun atau nggak. Tapi, biasanya cerita di novel begitu," timpal Tirta sambil menggaruk kepalanya."Eee ... rupanya kamu punya waktu untuk baca novel ...." Susanti merasa agak malu. Meskipun demikian, dia tetap menutup mulut dan hidungnya."Lihat, ada sesuatu di dinding!" seru Tirta mendadak. Kemudian, dia langsung berlari ke depan.Dinding yang awalnya kosong tiba-tiba memunculkan sebuah lukisan indah. Terlihat banyak pria dan wanita di lukisan itu. Semuanya berlutut kepada seorang wanita cantik bertanduk naga dengan ekspresi tulus dan terobsesi.Di samping wanita itu, terlihat seekor harimau putih yang ganas dan seekor burung merah yang terbang di atas mereka.Jika dilihat dengan saksama, wanita itu berdiri di atas platform. Terlihat juga beberapa ekor duyung yang diikat sedang berlutut kepadanya, seolah-olah akan diberi hukuman.Tirta juga melihat seekor ular besar berwarna merah melilit pilar besar yang ada di platform. Semua yang ada di lukisa

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 279

    "Di sini nggak ada peti mati ataupun harta karun. Ini lebih mirip ... altar?" Tirta tertegun sejenak melihat pemandangan di depan. Setelah merenung sesaat, dia baru terpikir akan kata yang tepat.Keduanya terus maju. Tanah di depan menjadi makin rendah. Terlihat ratusan anak tangga yang terhubung ke lapangan bawah tanah. Lapangan itu seukuran dengan lapangan sepak bola.Dilihat dari atas, lapangan itu seperti delapan diagram. Setiap sudutnya memiliki pintu batu yang tertutup rapat. Sementara itu, terlihat pola ikan yin dan yang di bagian tengahnya."Tirta, lihat. Kedua pilar itu persis dengan yang ada di lukisan!" seru Susanti dengan terkejut. Tirta memandang ke arah yang ditunjuk Susanti. Memang terlihat 2 pilar batu besar yang berhadapan. Ini persis dengan pilar yang dililit oleh ular cecak di lukisan."Bukannya ini makam kuno seorang pangeran? Kenapa dekorasinya seperti ini ...." Tirta sungguh kebingungan. Yang jelas, dia merasa makam kuno ini tidak biasa. Tempat ini berbeda dari ba

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 280

    Tirta menggunakan pisau untuk mengambil sesuatu yang berwarna merah. Benda itu berkilauan dan ukurannya sebesar telapak tangan."Itu ... sisik ular?" tanya Susanti dengan terkejut. Meskipun dilumuri darah, Susanti tetap tahu benda apa itu."Benar. Aku nggak nyangka seekor ular bisa mendatangkan bencana sebesar ini," sahut Tirta dengan ngeri. Ini sungguh di luar nalar."Sisiknya saja seukuran telapak tangan? Berarti tubuh ular itu setidaknya sepanjang puluhan meter! Apa mungkin ada monster berusia ribuan tahun di makam kuno ini?" Setelah memikirkan ini, raut wajah Susanti menjadi makin takut."Seharusnya begitu. Aku sudah menebaknya sejak tadi, tapi belum berani memastikannya. Setelah melihat sisik ini, aku jadi makin yakin. Ular cecak yang menggigitmu tadi mungkin keturunan ular ini," ujar Tirta dengan ekspresi serius."Jasad di pintu masuk makam itu seharusnya juga dibunuh oleh ular cecak ini," tambah Tirta.Sebelumnya, Susanti mengatakan makam ini seharusnya memiliki sejarah lebih da

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 281

    "Se ... sejak kapan jalan ini ditutup? Kita nggak bisa pulang lagi?" Susanti pun menyadari mereka berada dalam situasi terpuruk.Celah di pola ikan yin dan yang menjadi makin lebar hingga akhirnya terlihat lubang hitam besar yang menakutkan.Suara gemeresik terus terdengar, seolah-olah ada benda besar dan berat yang bergesekan dengan tanah. Bau busuk di sini pun menjadi makin kuat hingga membuat kepala mereka agak pusing."Tirta, apa yang ada di dalam sana?" tanya Susanti dengan suara bergetar dan menggenggam tangan Tirta dengan erat. Dia benar-benar ketakutan sekarang."Ada ular besar. Kita cari jalan keluar. Kalau diincar ular itu, kita bakal mati!" sahut Tirta. Jantungnya berdetak kencang. Dia terus membawa Susanti berlari. Siapa pun akan panik menghadapi monster aneh seperti ini.Meskipun begitu, akal sehat Tirta memberitahunya untuk tidak panik dan takut di situasi seperti ini. Jika tidak, dia hanya akan mati lebih cepat. Dia harus tenang!Tidak semua anggota Black Gloves mati di

Latest chapter

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1147

    "Memangnya apa yang bisa terjadi padaku, Bella? Jangan pikir yang aneh-aneh. Kamu sudah bekerja seharian. Pasti capek, 'kan? Mau aku pijat bahumu atau kakimu?"Merasa diperhatikan oleh Bella, Tirta tidak bisa menahan senyuman. Dia menarik Bella duduk di atas tempat tidur, menunjukkan sikap manisnya."Hah, seharian ke sana ke sini, bahkan makan pun nggak tenang. Menurutmu, aku capek nggak? Untung kamu masih punya hati, bisa peduli padaku. Pijatnya yang pelan ya. Aku takut kamu meremukkan bahuku." Bella bercanda sambil membalikkan badan membelakangi Tirta."Hehehe, tenang saja. Aku janji bakal pelan-pelan!" Tirta berlari ke kamar mandi untuk mencuci tangan, lalu segera kembali.Tangannya diletakkan di atas bahu Bella, lalu perlahan-lahan turun ke kerah bajunya. Merasakan kulitnya begitu lembut, Tirta langsung menyelinapkan tangannya masuk, memijat, meremas, dan menggoda dengan nakal.Bella sampai mengeluarkan erangan manja. "Mmmh ... dasar kamu ini! Aku sudah capek setengah mati, tapi ka

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1146

    "Bisa, semua ini cuma perkara kecil. Kami berdua pasti bisa menyelesaikannya," ucap Kurnia menangkupkan tangannya. Bahkan, Kimmy yang keras kepala tadi juga berubah sekarang. Dia mengangguk dengan rendah hati."Kalian berdua kembali dulu ke hotel. Tunggu sampai besok pagi. Aku akan langsung ke turnamen bela diri. Kalau butuh bantuan, aku akan mencari kalian lagi."Di dalam hati, Tirta merasa takjub dengan kehebatan Janji Darah. Dia melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Kurnia dan Kimmy pergi.Tepat pada saat itu, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Yusril dan Chiko ternyata mengejar mereka.Mereka melihat Tirta baik-baik saja, sementara Kurnia yang hendak pergi justru kehilangan satu lengannya dan tampak jauh lebih tua. Bahkan, Kimmy yang berjalan di belakangnya terlihat lesu seperti kehilangan jiwanya. Ayah dan anak itu terkejut bukan main!"Dik, apa benar ... kamu mengalahkan Kurnia sendiri?" Yusril terperanjat dan begitu terkejut hingga beberapa helai janggutnya ik

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1145

    Kimmy mulai panik. Dia tidak bisa membuat keputusan. Kimmy berkata kepada Kurnia seraya menangis, "Kakek, apa yang harus kita lakukan? Aku masih muda, aku nggak ingin mati. Kak Azhar masih menungguku."Kimmy menambahkan, "Tapi Kakek, kalau suruh aku jadi budaknya, lebih baik aku mati."Sementara itu, Kurnia juga baru menerobos ke tingkat semi abadi. Umurnya sudah bertambah 50 tahun lebih. Ke depannya, mungkin Kurnia bisa menerobos ke tingkat abadi. Tentu saja dia tidak ingin mati.Setelah ragu-ragu sesaat, akhirnya Kurnia mendesah dan membujuk Kimmy, "Kimmy, aku nggak pernah dengar teknik yang dilancarkan orang ini. Jadi, sangat sulit dihadapi. Aku juga nggak ingin berkompromi, tapi kita harus bertahan hidup."Kurnia meneruskan, "Sebaiknya kita terima saja. Paling-paling ke depannya kita cari kesempatan untuk kembali ke dunia misterius dan jangan kembali ke dunia fana selamanya."Tirta tidak keberatan setelah mendengar percakapan Kurnia dan Kimmy dengan jelas. Dia berujar, "Karena kali

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1144

    Kurnia memutuskan untuk meminta ampun kepada Tirta, tetapi Tirta tidak berniat melepaskan mereka. Tirta tahu dia pasti celaka jika orang lain tahu teknik rahasianya.Hanya saja, Tirta tidak suka membunuh. Dia memang tidak sanggup membunuh Kurnia dan Kimmy. Akhirnya, Tirta mendesah dan berkata kepada Genta, 'Kak, kamu serap energi di dalam tubuh Kurnia saja. Nanti aku suruh Pak Mauri penjarakan mereka seumur hidup.'Genta menanggapi, "Nggak usah, kamu yang mengalahkan orang ini. Suruh dia jadi budakmu saja. Kalau ke depannya masih ada pesilat kuno yang kuat, aku baru serap energinya."Genta menambahkan, "Lagi pula, kamu bisa memerintahkan Kurnia untuk mencari batu dan obat spiritual di dunia misterius setelah mengendalikannya. Dengan begitu, kamu bisa memenuhi perjanjian di antara kita lebih cepat."Tirta tidak menyangka Genta akan berbicara seperti ini. Bahkan, Genta juga terdengar sedikit bangga.Tirta membalas, 'Suruh Kurnia jadi budakku? Mereka berdua nggak seperti Yusril dan Chiko

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1143

    Kurnia merasa gusar dan juga takut. Hal ini karena dia tidak pernah melihat teknik yang dilancarkan Tirta.Kimmy juga kaget melihat kejadian yang mendadak ini. Dia segera mengingatkan, "Kakek, cepat lepaskan bajumu untuk memadamkan apinya!""Nggak usah, aku punya cara," timpal Kurnia. Dia memasukkan energi ke lengannya yang terbakar, lalu meninju tanah.Namun, api itu tidak padam sedikit pun setelah Kurnia menarik lengannya. Kurnia segera melepaskan bajunya. Api terus membakar lengan Kurnia. Sepertinya sebentar lagi lengan Kurnia akan gosong.Kurnia terpaksa menahan rasa sakit. Dia mengayunkan tangan kirinya dan memotong lengan kanannya. Kalau api merambat ke seluruh tubuhnya, Kurnia pasti akan mati terbakar.Kurnia memegang luka di lengannya yang patah sambil berteriak, "Sialan! Dasar berengsek! Kalau berani, cepat keluar! Aku pasti akan mencincangmu!"Tirta membalas, "Dasar pria tua sialan! Terus teriak saja! Bagaimanapun, aku juga nggak akan keluar!"Tirta yang bersembunyi di dekat

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1142

    Sekarang sudah pukul 8 malam. Hari ini tidak terlihat bulan di langit, hanya terlihat bintang-bintang. Daerah pegunungan sangat gelap.Namun, Tirta tidak mengurangi kecepatannya. Dia bisa menghindari bebatuan. Mata tembus pandang Tirta bisa membuatnya bergerak dengan mudah dalam kegelapan.Tirta berbalik dan melihat kecepatan Kurnia mulai berkurang. Dia tahu ini bukan karena Kurnia kehabisan tenaga, melainkan karena penglihatan Kurnia terpengaruh saat malam hari. Sementara itu, Yusril dan Chiko sudah ketinggalan.Tirta sengaja mengurangi kecepatannya, lalu menyindir Kurnia, "Kurnia, kamu itu sudah mencapai tingkat semi abadi. Kenapa kamu masih seperti kura-kura? Kalau kamu lebih lambat lagi, aku akan ketiduran saking bosannya. Kamu mau membunuhku dengan kecepatan seperti ini? Jangan harap!"Kurnia juga merasa malu karena tidak bisa mengejar Tirta yang baru mencapai energi internal tahap puncak. Dia membalas, "Hei, kamu nggak akan bisa bangga terlalu lama. Biarpun aku lebih lambat darim

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1141

    Tirta sering memandangi pemandangan gunung dari kamar Bella. Dia memutuskan untuk memancing Kurnia ke daerah pegunungan yang belum dikembangkan. Tirta akan melawannya di tempat itu.Tirta berseru, "Kurnia, aku ini orang yang kamu cari! Kalau kamu ingin tahu rahasiaku, ikut aku!"Tirta segera berpesan kepada Yusril dan Chiko, "Kalian berdua pulang ke kediaman Keluarga Purnomo dulu. Aku akan segera cari kalian."Selesai bicara, Tirta tidak peduli Yusril dan Chiko mengikuti arahannya atau tidak. Dia sudah mengerahkan Teknik Pengendali Angin dan pergi ke daerah pegunungan di dekat sana.Teknik Pengendali Angin bisa menambah kecepatan gerakan Tirta. Saat berlari, Tirta seperti didorong oleh angin. Bukan hanya kecepatannya meningkat, Tirta juga tidak merasa lelah sedikit pun. Dalam sekejap, Tirta sudah berlari sejauh belasan meter.Kurnia berujar, "Apa? Ternyata dia itu orang yang membunuh Naushad! Pantas saja! Aku nggak boleh biarkan dia kabur."Kurnia terbelalak. Melihat Tirta pergi, dia l

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1140

    Kedua serangan yang dahsyat beradu dan menimbulkan suara dentuman. Aliran energi yang kuat menyebar di sekeliling gazebo sehingga suasananya terasa mencekam.Dengan Tirta dan Kurnia yang berada di tengah sebagai pusat, angin berembus hingga membuat pepohonan di sekitar gazebo bergemeresik. Kedua telapak tangan mereka beradu hanya sekejap, lalu kembali terpisah.Tirta mundur beberapa langkah. Lengannya sedikit kebas. Dia menceletuk, "Sialan!"Kurnia yang diam-diam menyerang Tirta juga mundur. Dia mengamati Tirta dan berkomentar sembari mengernyit, "Orang ini ... nggak sederhana!"Sudah jelas Kurnia tidak menyangka Tirta bisa melawan serangannya. Bahkan, Tirta terlihat baik-baik saja.Kimmy tidak melihat kejadian yang diperkirakannya. Dia berteriak, "Apa? Serangan Kakek nggak membuatnya mati? Dia juga nggak terluka ... ini nggak mungkin!""Tirta, kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya Yusril. Dia dan Chiko segera menghampiri Tirta. Mereka juga tidak memperkirakan hasil seperti ini.Tirta makin

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 1139

    Yusril menceletuk, "Suaranya begitu keras. Setidaknya dia sudah mencapai tingkat semi abadi!"Chiko menimpali, "Gawat! Apa Kurnia benar-benar datang?"Ekspresi Yusril dan Chiko berubah drastis. Mereka melihat sekeliling dengan waswas, lalu melindungi Tirta. Namun, mereka tidak menemukan keberadaan Kurnia.Yusril dan Chiko makin cemas karena tidak melihat Kurnia. Jika Kurnia tiba-tiba melancarkan serangan saat mereka lengah, mereka bukan hanya tidak bisa melindungi Tirta. Bahkan, mereka berdua akan mati."Ternyata Kurnia datang," ucap Tirta yang terkejut. Dia segera memanggil Genta. Tirta memang sudah mencapai tingkat pembentukan energi tahap ketiga, tetapi dia tidak berani melawan Kurnia hanya dengan mengandalkan kekuatannya sendiri.Sebelum menjadi benar-benar hebat, sebaiknya Tirta memikirkan keselamatannya. Tidak disangka, Genta malah mengancam Tirta pada saat-saat seperti ini, "Aku bisa bantu kamu lawan dia, tapi kamu harus mengakui kesalahanmu padaku dulu."Tirta mengeluh, 'Kak, a

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status