"Hahaha! Memangnya kalian pantas menjadi keluargaku? Kalian cuma mau uangku, 'kan?" Tirta tergelak saking kesalnya. Amarah masih berkecamuk hebat dalam hatinya."Ya. Karena semua sudah jelas di sini, aku akan terus terang saja! Aku awalnya cuma ingin minta 6 miliar dan kamu bisa lanjut membangun rumah. Tapi, karena kamu melukai Pandu dan Danang, kamu harus membayar 20 miliar! Kalau nggak, jangan harap masalah ini bisa berakhir!" ancam Elvi."Dua puluh miliar? Kamu pergi rampok bank saja. Kamu kira nyawa kalian bertiga begitu berharga? Nggak tahu malu sekali!" bentak Melati sambil menunjuk Elvi dengan berang."Janda, ini bukan urusanmu! Minggir sana! Jangan sampai aku memukulmu lagi!" ancam Elvi sambil mengangkat batu bata di tangannya. Terlihat noda darah di atas batu itu.Tirta yang tidak tahan lagi akhirnya meledakkan energinya. Seketika, batu bata itu hancur berkeping-keping. Dia mengancam balik, "Kalau kamu berani memaki Kak Melati lagi, aku bisa membuatmu berakhir seperti batu bat
"Kenapa bisa ada orang yang begitu nggak tahu malu sepertimu di dunia ini? Tirta sudah berniat melepaskanmu, tapi kamu malah terus menantangnya," ujar Melati yang amarahnya masih belum mereda. Dadanya sampai bergerak cepat karena napasnya yang memburu."Jangan bicara omong kosong! Kalau nggak memberiku uang itu, aku akan menuntut kalian!" teriak Elvi yang terkapar di tanah."Tuntut saja kalau kamu berani," ucap Tirta dengan dingin."Benar! Tuntut saja kalau kamu nggak takut ditangkap!" sahut Agus."Pak, temanku seorang pengacara. Aku pernah melihat kasus serupa sebelumnya. Kita akan menang kalau menuntut mereka, bahkan mereka harus bayar ganti rugi. Kalau butuh, telepon saja temanku," kata Farida sambil mengeluarkan ponselnya."Elvi, kamu ingin menuntut Tirta, 'kan? Kami sudah punya pengacara, kamu sudah boleh mulai cari pengacara. Kalian pasti akan kalah!" Sebelum Tirta berbicara, Melati sudah menakut-nakuti Elvi."A ... aku pasti akan menuntut kalian! Kalian kira aku takut? Kalian tu
"Sialan. Lemah sekali Elvi ini. Masa gagal menyulitkan bocah itu? Dasar nggak berguna! Tirta pasti makin sombong setelah masalah ini." Ketika Tirta hendak pergi, dia tiba-tiba mendengar suara Boris dan Dina yang memaki di kerumunan.Tirta sontak menghentikan langkah kakinya dan bertanya, "Apa yang kalian katakan? Kalau berani, bicara di depanku. Ayo, kemari."Boris dan Dina tahu kehebatan Tirta sehingga tidak mungkin berani memakinya secara langsung. Jadi, kedua orang itu pun membalas, "Kami nggak mengatakan apa pun."Usai berbicara, mereka berdua segera berbalik dan pergi. Tirta pun tidak ingin bersikap perhitungan kepada mereka. Namun, Agus tiba-tiba berkata, "Tirta, jangan biarkan mereka pergi. Tadi penduduk desa ingin maju untuk membantu, tapi mereka berdua menghalangi!""Benar! Tirta, kamu harus menghajar mereka! Beri mereka pelajaran supaya nggak berani macam-macam lagi! Kalau nggak, aku nggak akan puas!" Melati turut bersuara."Sialan. Sepertinya aku nggak mengusik kalian, 'kan?
Tirta tidak akan berbelaskasihan pada kedua orang yang tidak tahu malu ini. Boris dan Dina tentu ketakutan karena telah melihat kekejaman Tirta. Satu tamparan dari Tirta sudah bisa membuat gigi mereka rontok!"Ja ... jangan keterlaluan ya!" ujar Boris."Lamban sekali." Tirta yang tidak bisa menunggu lagi pun maju dan menampar Boris. Boris sontak terhuyung-huyung dan berputar beberapa kali sebelum terjatuh."Ber ... berhenti! Aku bisa sendiri!" Ketika Tirta hendak menampar lagi, Boris bergegas melambaikan tangan dan mulai menampar diri sendiri."Gimana denganmu? Butuh bantuanku nggak?" tanya Tirta kepada Dina."A ... aku bisa sendiri." Dina menelan ludah, lalu mulai menampar wajah sendiri."Kak Farida, tolong awasi mereka. Aku akan pulang dulu," pesan Tirta. Kemudian, dia pergi. Dia tidak punya kesabaran untuk menunggu Boris dan Dina.....Sementara itu, Pandu sedang mengemudikan mobil untuk mengantar Danang ke rumah sakit. Pandu menggenggam kemudi dengan erat sambil berkata, "Ibu, boca
Tirta keenakan bermesra-mesraan dengan Melati belakangan ini, sampai-sampai lupa diri. Kalau tidak, dia tidak mungkin menggoda Melati di depan Ayu.Tirta tentu panik karena dirinya hampir ketahuan. Dia takut Ayu marah besar. Saat ini, dia tidak tahu cara menjelaskan."Pintar sekali kamu berbohong. Kamu kira aku nggak mendengar apa pun tadi? Cepat jawab jujur, kejahatan apa yang kamu lakukan di belakangku?" tanya Ayu dengan ekspresi suram, seolah-olah dirinya sangat marah."Aku nggak melakukan apa pun. Serius! Jangan sembarangan bicara!" Tirta bersikeras membantah. Dahinya sampai bercucuran keringat dingin."Masih nggak mau bicara jujur? Melati sudah memberitahuku semuanya! Kamu mau merahasiakan masalah ini sampai kapan?" Ayu benar-benar murka saat melihat Tirta menolak untuk jujur. Dia pun menjewer telinga Tirta, tetapi tidak terlalu kuat."Aduh. Bi, aku sudah salah, maaf. Kita bicara baik-baik ya," mohon Tirta. Pada saat yang sama, dia menatap Melati dengan tatapan bertanya-tanya. Bag
Tok, tok, tok! Ketika Tirta ingin bertingkah nakal, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dia pun berteriak dengan agak kesal, "Siapa yang datang malam-malam begini?""Permisi, apa ini alamat Pak Tirta? Aku ingin mengantar pakaian yang dibelinya!" Terdengar suara seorang wanita dari luar. Itu sudah pasti Lilies. Dia datang bersama sopir."Oh? Sudah sampai ya? Tepat waktu sekali," gumam Tirta. Kemudian, dia berseru, "Ya, ini alamatku! Tunggu sebentar! Aku akan keluar!"Tirta merapikan pakaiannya, lalu bergegas bangkit. Melihat ini, Melati segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dengan tubuh Ayu dan bertanya, "Tirta, kamu beli pakaian apa? Kenapa dikirim malam-malam begini?"Keduanya awalnya masih berpakaian. Namun, sekarang mereka sudah telanjang bulat dan merasa sangat tidak nyaman karena ditinggal oleh Tirta."Tirta, apa mungkin itu penipu? Jangan tertipu!" ujar Ayu dengan cemas. Napasnya masih memburu karena sentuhan Tirta barusan."Hehe. Tenang saja, Bi. Ini buka
Tirta pun menatap tumpukan pakaian dalam seksi itu sesaat, lalu memilih beberapa pasang dan membawanya masuk."Tirta, apa ini?" Melati sontak bangkit sehingga tidak ada selimut yang menutupi tubuhnya lagi. Dia tidak peduli Tirta melihat seluruh tubuhnya.Ayu tidak bisa melihat, jadi tidak tahu apa yang dibawa oleh Tirta. Dia hanya bisa menunggu jawaban Tirta."Biar kubuka." Tirta tersenyum lebar, lalu membuka salah satu bungkusan. Seketika, terlihat pakaian dalam yang sangat seksi. Terlihat bra berenda hitam dengan desain setengah tembus pandang.Baik Melati ataupun Ayu, keduanya akan terlihat sangat menggoda jika memakainya. Mereka akan membuat Tirta kehilangan akal sehat!"Astaga! Apa-apaan ini? Pakaian macam apa yang kamu beli? Mana bisa kain semacam ini menutupi tubuhku! Kamu nakal sekali!" tegur Melati.Melati tentu memahami pemikiran Tirta. Jangankan Tirta, Melati saja merasa sekujur tubuhnya menjadi sangat panas saat melihat pakaian itu.Meskipun mengeluh, Melati tetap menjulurk
Setelah memilih pakaian dalam yang tepat, langit sudah malam. Mereka pun berbaring dan tidur.Keesokan paginya.Tirta berbaring di tempat tidur dengan penuh kepuasan sambil memeluk pinggang ramping Melati di sebelah kiri. Kaki Melati yang putih dan lembut menekan tubuh Tirta. Wajah cantiknya memperlihatkan kepuasan yang tidak bisa disembunyikan.Di sebelah kanan, telapak tangan Tirta menutupi bokong Ayu yang montok. Wajah lembutnya penuh dengan kelelahan, kepuasan, dan kebahagiaan yang terpancar. Jari-jarinya yang putih mulus, memegang erat lengan Tirta, seolah-olah takut tidak bisa melihat Tirta setelah bangun.Tiba-tiba, Tirta merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya. Dengan menggunakan mata tembus pandangnya, Tirta melihat bahwa mutiara perak di dalam perutnya yang sebelumnya seukuran kuku, sekarang telah berubah menjadi sebesar buah leci.Selain itu, aliran udara berwarna perak yang menyebar dari mutiara itu, kini menjadi lebih murni dan pekat dibandingkan sebelumnya.Seiring
Melihat sikap Yusril dan Chiko yang hormat kepadanya, Tirta mengangguk puas dan berucap, "Oke, kalian latihan pelan-pelan saja. Kalau ada yang nggak paham, tanyakan padaku. Setelah menguasai teknik tinju itu, aku akan ajarkan teknik tinju yang lebih hebat kepada kalian."Yusril dan Chiko menyahut dengan antusias, "Terima kasih, Tirta!"Sementara itu, Kimmy menebak Tirta adalah dalang dari penculikannya setelah melihat sikap Yusril dan Chiko yang hormat. Kimmy marah-marah, "Sebenarnya kamu siapa? Kita nggak punya dendam, kenapa kamu menangkapku? Kakekku itu Kurnia, pemimpin Sekte Delapan Cakrawala!"Kimmy melanjutkan, "Jangan nggak tahu diri! Aku sarankan kamu untuk lepaskan aku! Kalau nggak, aku akan meminta kakekku untuk memberi kalian pelajaran!"Tirta menghampiri Kimmy, lalu mengamatinya dan membalas, "Wah, kamu galak juga, ya! Siapa bilang kita nggak punya dendam? Dua kakak seperguruanmu itu menyinggungku dan ingin meminta kakekmu untuk membalasku."Tirta meneruskan, "Sebagai cucu
Setelah setengah jam, Tirta baru keluar dari kamar Yasmin. Sebelum keluar, Tirta tidak lupa berpesan kepada Yasmin untuk fokus berlatih di dalam kamar.Tirta memijat Yasmin terlalu lama, jadi sekarang Tirta agak kesulitan berjalan. Saat kembali ke kamar Ayu, Tirta melihat Ayu sudah selesai mandi.Ayu yang hanya memakai jubah mandi membuka pintu untuk Tirta dan bertanya, "Tirta, cepat masuk. Apa kamu sudah membereskan Yasmin?"Ayu buru-buru menutup pintu kamar sesudah Tirta masuk. Tirta menjawab, "Sudah beres, dia nggak akan datang kemari begitu cepat. Bibi, kamu wangi sekali. Apa kamu pakai parfum?"Tirta mendekati Ayu, lalu mencium aroma di tubuhnya. Tirta langsung menelan ludah. Ayu membalas, "Kapan Bibi pernah pakai parfum? Aroma tubuhku memang begini."Ayu menambahkan, "Kamu sudah nggak sabar, ya? Cepat ikut aku biar aku bantu kamu mandi."Ayu memandang Tirta sambil menjepit kakinya. Wajah Ayu juga memerah. Dia menyentil kepala Tirta, lalu menarik Tirta ke kamar mandi.....Dua jam
Tirta mengambil kursi kayu di dalam kamar, lalu duduk di depan tempat tidur Yasmin dan mengarahkan, "Yasmin, aku nggak menyangka ternyata daya ingatmu sangat bagus. Kamu duduk di tempat tidur dulu, lalu fokuskan pikiranmu dan kerahkan Teknik Kondensasi Energi Yin."Tirta meneruskan, "Kalau kamu bisa merasakan kondensasi energi di bagian perutmu, berhenti sebentar dan beri tahu aku.""Oke, Kakak Guru. Aku coba dulu," sahut Yasmin. Dia duduk bersila di tempat tidur, lalu memejamkan matanya dan mulai melafalkan mantra Teknik Kondensasi Energi Yin dalam hati.Yasmin tidak bergerak dan napasnya stabil. Bulu matanya panjang, kulitnya mulus, dan wajahnya sangat cantik. Dia terlihat seperti boneka.Namun, Tirta bisa merasakan energi spiritual dalam radius ratusan meter mengalir ke tubuh Yasmin. Tak lama kemudian, Yasmin membuka mata dan menyingkap bajunya.Yasmin menunjuk perutnya sambil berucap dengan antusias, "Kakak Guru, aku merasakan ada aliran energi seukuran ibu jari berwarna biru di da
Sekarang baru pukul 3 sore. Setelah tahu Bella pulang saat jam makan malam, Tirta mulai mengincar Ayu. Beberapa waktu ini, Tirta berlatih Teknik Pasangan dengan beberapa wanita. Kekuatannya meningkat pesat.Peningkatan kekuatan dan kenikmatan saat menggunakan Teknik Pasangan membuat Tirta terlena. Tak lama kemudian, Tirta sampai di kamar Ayu.Hanya saja, sekarang Yasmin masih bermain dengan Ayu di kamar. Tirta ingin berlatih Teknik Pasangan dengan Ayu. Jadi, dia harus mengusir Yasmin terlebih dahulu.Melihat Tirta yang berhasrat, Ayu menggigit bibirnya dan menghampiri Tirta. Dia melirik Yasmin sekilas, lalu berbisik, "Tirta, kalau nggak, kamu baru datang nanti malam."Tirta berpikir sejenak. Setelah menemukan ide, dia berucap, "Nggak apa-apa, Bibi. Aku punya cara untuk mengusir Yasmin. Kamu tunggu aku di kamar saja."Kemudian, Tirta menghampiri Yasmin dan berujar seraya tersenyum, "Yasmin, kamu ikut aku keluar sebentar. Aku mau ajar kamu sesuatu."Yasmin merasa Tirta sedikit aneh. Dia
Yusril berpikir sejenak sebelum menyahut, "Aku nggak tahu. Tapi, aku rasa mereka akan mengizinkan kamu mengikuti turnamen bela diri kalau kamu menunjukkan identitasmu di Sekte Mujarab."Yusril melanjutkan, "Hanya saja, kamu sudah melukai 2 murid Kurnia. Sepertinya kurang cocok kalau kamu mengikuti turnamen bela diri."Tirta menyipitkan matanya dan menegaskan, "Kenapa nggak cocok? Kedua muridnya menggoda bibiku. Aku harus mengikuti turnamen bela diri untuk membuat perhitungan dengan Kurnia."Mendengar ucapan Tirta, Yusril masih merasa ragu. Akhirnya, dia memberi hormat dan berujar, "Tirta, kamu nggak tahu. Waktu mencari tahu informasi di dekat Gunung Tisatun, aku mendengar kabar Kurnia sudah menerobos ke tingkat semi abadi. Senior Sekte Mujarab nggak mendampingimu, kamu pasti nggak mampu melawan Kurnia."Tirta melambaikan tangannya, lalu menanggapi, "Yusril, aku tahu kamu berniat baik. Tapi, aku tetap harus pergi. Biarpun Kurnia sudah mencapai tingkat semi abadi atau tingkat abadi, aku
Sebelum Tirta menyelesaikan perkataannya, Ayu menyela, "Yasmin, pria dan wanita nggak boleh tidur bersama. Kamu nggak boleh tidur dengan Tirta!"Yasmin menanggapi dengan ekspresi bingung, "Tapi ... Bibi, kenapa Kak Bella boleh tidur dengan Kakak Guru? Bukannya Kak Bella itu wanita? Aku juga wanita, kenapa aku nggak boleh tidur dengan Kakak Guru?"Ayu menjelaskan, "Karena Bu Bella sudah tunangan dengan Tirta. Nanti mereka akan menikah, jadi mereka boleh tidur bersama. Tapi, Tirta itu gurumu. Kalian nggak boleh tidur bersama."Yasmin membalas, "Oh, aku paham. Hanya wanita yang menikah dengan Kakak Guru boleh tidur dengannya. Kalau begitu, malam ini aku tidur sendiri. Besok aku baru temani Bibi tidur lagi.""Oke. Kamu memang anak yang baik. Bibi mau bicara dengan Tirta. Kamu tunggu di kamar dulu, kami akan segera kembali," timpal Ayu.Ayu mengusap kepala Yasmin, lalu memberi isyarat kepada Tirta. Mereka berdua keluar bersama.Setelah sampai di ujung koridor, Tirta bertanya, "Bibi, apa yan
Tirta meninggalkan Desa Persik pada pukul 1 siang. Dia pergi ke labirin obat untuk melihat pertumbuhan bahan obat-obatan. Untung saja, Nia mengikuti gambar yang diberikan Tirta dengan menggabungkan cara penanaman bibit bahan obat di buku kuno pengobatan.Jika bukan karena Tirta memahami keistimewaan labirin obat, takutnya dia juga tidak bisa keluar. Tirta juga melihat banyak mobil polisi yang berpatroli di luar Desa Persik.Dengan adanya perlindungan dari polisi, labirin obat, dan jimat, Tirta baru bisa meninggalkan Desa Persik dengan tenang. Dia pun pergi ke ibu kota provinsi.Dua jam kemudian, mobil Tirta berhenti di depan pintu vila Keluarga Purnomo. Saat kembali ke ruang istirahat, Tirta tidak menemukan Bella. Bahkan, Bella tidak menjawab panggilan telepon Tirta.Saat ini, pesilat kuno berkeliaran di ibu kota provinsi. Tentu saja Tirta mengkhawatirkan keselamatan Bella. Dia pergi ke kamar Ayu untuk menanyakan keberadaan Bella.Pintu kamar Ayu terbuka. Kala ini, Ayu sedang menemani
Sejam akhirnya berlalu. Tirta mengikuti ingatan yang diberikan oleh Genta, berhasil membuat 18 lembar jimat yang mengandung kekuatan sihir."Baiklah. Kak Farida, pegang jimat ini dan teriak 'aktif'. Setelah itu, kamu akan melihat sesuatu yang ajaib."Tirta memilih Jimat Menghilang dari tumpukan jimat yang sudah jadi, lalu menyerahkannya kepada Farida, yang kebetulan berada paling dekat dengannya."Aktif? Kenapa begitu, Tirta? Bukankah jimat pelindung biasanya cukup dibawa saja?" Farida tampak kebingungan, sementara Arum dan Melati yang berdiri di belakang juga menunjukkan ekspresi yang sama."Karena jimat buatanku nggak biasa. Jangan banyak tanya dulu. Coba saja, nanti kamu sendiri akan tahu perbedaannya!"Tirta sendiri merasa agak gugup. Bagaimanapun, ini adalah pertama kalinya dia mencoba membuat jimat. Tidak menutup kemungkinan jika hasilnya gagal."Oh, ya sudah, aku akan coba ...." Dengan jantung yang sedikit berdebar, Farida menggenggam jimat itu erat-erat, lalu berteriak, "Aktif!
"Aku masih harus mengunjungi temanku yang ada di ibu kota. Mungkin nggak akan secepat itu kembali ke desa. Aku khawatir kalian kangen berat, makanya pulang malam-malam hanya untuk menemani kalian," jelas Tirta."Huh! Rupanya kamu punya hati nurani juga. Tapi, kamu nggak boleh pergi begitu saja. Temani kami sebentar lagi dong ...," pinta Arum yang tidak rela berpisah sambil menatap Tirta."Tirta, temani kami sebentar lagi. Selama kamu pergi, aku nggak bisa tidur nyenyak lho," ujar Melati sambil melemparkan diri ke pelukan Tirta. Dia mencoba memulai pertempuran lagi.Ketika melihatnya seperti itu, Tirta pun tidak ingin pergi secepat itu. Setelah melihat jam, dia lantas membuat keputusan."Di mana Kak Farida? Aku cari dia dulu. Kita lanjutkan pertempuran kita. Nanti sore aku baru balik!"....Lagi-lagi, pertempuran yang panjang dan melelahkan terjadi. Melati dan Arum pun tidak meminta Tirta untuk tinggal lagi. Bahkan, mereka berharap Tirta pergi secepat mungkin."Hehe, kalian istirahatlah