Ternyata, tangan Sean memang cukup cekatan.Meskipun Tiffany merasa agak sakit saat Sean menggosok tubuhnya. Namun setelah selesai mandi, tubuhnya terasa segar dan nyaman.Namun, tidak lama setelah itu, Tiffany mulai merengek dan memaksa Sean untuk menemaninya keluar berbelanja."Aku sudah janji sama Paman mau belikan oleh-oleh untuk Bibi dan yang lain," katanya sambil tengkurap di sofa. Kedua tangannya menggenggam lengan Sean yang sedang mengetik di laptop dan menggoyangkannya dengan manja."Sayang, kamu nggak tega lihat istrimu disebut suka ingkar janji, 'kan?"Sean tersenyum tipis, lalu melepaskan tangannya dari genggaman Tiffany dan mengusap kepalanya. "Jangan coba-coba memanipulasiku. Aku dengar jelas tadi, itu kamu sendiri yang menawarkan oleh-oleh."Tiffany terdiam. "Meskipun aku yang menawarkan, aku sudah telanjur janji. Masa mau ditarik lagi?"Dengan nada memelas, Tiffany kembali menggenggam lengan Sean, menggoyangkannya lagi. "Sayang ....""Sayang ... sayang ... sayang ...."
"Nggak sibuk," ujar Sean sambil tersenyum ringan. "Dibandingkan denganmu, semua hal itu nggak penting."Wajah Tiffany langsung memerah dan akhirnya menurut untuk naik ke mobil bersamanya.Saat mobil mulai melaju, Tiffany duduk di kursi belakang sambil sibuk membolak-balik panduan wisata lokal di ponselnya untuk mencari oleh-oleh khas yang bisa dia bawa pulang untuk keluarganya.Sementara itu di sampingnya, Sean melihat ponselnya dengan ekspresi tak tahu harus tertawa atau menangis. Ternyata, karyawan yang tadi terputus percakapan di laptop sudah mengiriminya belasan pesan.[ Bos, apa yang saya lakukan nggak cukup baik sampai Anda bahkan nggak ingin mengkritik saya lagi? ][ Bos, kalau saya membuat kesalahan, tolong katakan! Saya pasti akan memperbaikinya! ][ Anda lama sekali nggak membalas. Bos nggak lagi memikirkan cara untuk memecat saya, 'kan?" ][ Bos .... ]Sean hanya bisa menggelengkan kepala dengan pasrah dan mengetik balasan.[ Jangan mikir yang aneh-aneh. Aku nggak ada masala
Tiffany sebenarnya punya tujuan lain saat meninggalkan Sean di area istirahat pria. Dia ingin membeli hadiah untuk Sean.Setelah bersama sekian lama, semua yang dia makan, pakai, dan habiskan selalu berasal dari Sean. Tiffany sendiri merasa belum melakukan sesuatu yang berarti untuk Sean.Beberapa hari yang lalu, bantuan beasiswanya sudah cair. Itu adalah beasiswa terakhir yang dia terima. Sebab, setelah menikah dengan Sean, dia sudah tidak lagi memenuhi kriteria sebagai mahasiswa yang kurang mampu.Meskipun begitu, beasiswa ini adalah hasil pengajuan dari semester lalu, sehingga tetap diberikan kepadanya sesuai prosedur.Saat berjalan-jalan di mal, Tiffany berpikir keras. Dengan uang 16 juta, hadiah apa yang bisa kuberikan untuknya?Sean tidak kekurangan apa pun. Semua yang dia miliki, mulai dari pakaian hingga aksesori, harganya selalu bernilai puluhan juta. Dia melihat-lihat sambil terus berpikir, mungkin sebuah pena, manset, atau dasi?Namun, pikirannya berhenti saat dia melihat se
Staf toko bertanya, "Apa kamu nggak mau lihat harganya dulu?"Tiffany kelelahan karena berlari. Dia tidak menyadari maksud dari ucapan staf toko. Tiffany melambaikan tangannya dan berujar dengan napas tersengal-sengal, "Nggak ... aku mau beli tas ini!"Begitu Tiffany melontarkan ucapannya, wajah Cathy memucat. Tadi dia tidak jadi membeli tas itu karena harganya terlalu mahal.Jayla juga mengernyit. Dia langsung menghentikan staf toko yang hendak mengurus pembayaran, "Cathy mau beli tas ini."Staf toko mengangguk dan menimpali, "Oke. Aku bungkus tas ini untuk Bu Cathy."Tiffany berujar seraya mengernyit, "Tapi, aku yang bilang mau beli tas ini terlebih dulu."Jelas-jelas tadi Tiffany mendengar Cathy tidak jadi membeli tas itu, jadi Tiffany baru mengatakan pada staf toko dia ingin membelinya.Cathy dan Tiffany memang berselisih, tetapi Tiffany tidak suka mencari masalah. Biarpun orang asing mengatakan ingin membeli tas itu, Tiffany juga tidak akan merebutnya. Paling-paling dia hanya meng
Staf toko terdiam. Bos mereka berstatus tinggi, kenapa gadis yang terlihat seperti mahasiswa ini berbicara seolah-olah suaminya adalah bos dari mal ini?Staf toko memang tidak memercayai ucapan Tiffany, tetapi dia segera meletakkan tas dan pergi mengecek nama bos mereka agar Tiffany tidak berebutan dengan Cathy lagi.Satu menit kemudian, staf toko tersenyum kepada Tiffany. Dia mengambil tas dan berucap, "Nyonya Tanuwijaya, aku urus pembayarannya untukmu sekarang. Kamu mau bayar pakai kartu atau uang tunai?""Pakai kartu," sahut Tiffany.Respons staf toko benar-benar di luar dugaan Jayla. Dia melihat perubahan sikap staf toko kepada Tiffany dengan ekspresi kaget dan marah-marah, "Kenapa kamu bersikap seperti ini? Bagaimanapun, selama ini Cathy menghabiskan uang ratusan juta di sini setiap bulan. Apa seperti ini pelayanan kalian terhadap pelanggan lama?"Staf toko menimpali tanpa berbalik, "Bu, nggak masalah kalau kami kehilangan pelanggan penting seperti Bu Cathy. Tapi, kami nggak boleh
Cathy juga terdiam.....Setelah mengusir 2 wanita yang menyebalkan itu, Tiffany mengambil tas itu dengan perasaan gembira dan lanjut jalan-jalan di mal. Akhirnya, Tiffany memutuskan untuk memberikan pena kepada Sean.Pena yang biasanya dipakai Sean di ruang kerjanya sudah terlihat lama. Tiffany menebak pena itu pasti mempunyai kegunaan istimewa untuk Sean.Jadi, Tiffany berencana memberikan pena baru kepada Sean agar Sean bisa menyimpan pena di ruang kerjanya sebagai kenang-kenangan.Sesudah Tiffany selesai jalan-jalan, Sean sudah selesai bertengkar dengan Mark. Sean menyuruh Sofyan mengantar barang-barang ke kediaman Keluarga Japardi, lalu membawa Tiffany makan di restoran yang unik.Sean tersenyum saat melihat Tiffany yang duduk di seberangnya memotong steik dengan susah payah. Dia berkata, "Kamu makan ini saja."Sean memberikan steiknya yang sudah dipotong kepada Tiffany, lalu memindahkan piring Tiffany ke tempatnya. Tiffany tersenyum canggung dan berkomentar, "Aku memang agak bodo
"Tapi, sekarang kamu yang melindungiku," kata Tiffany. Dia tersenyum lebar kepada Sean dan menambahkan, "Sebenarnya aku merasa sangat bahagia menikah denganmu."Pada saat berusia 17 tahun, Tiffany pernah bermimpi bisa menikah dengan pria yang tampan, lembut, kaya, dan memanjakannya. Julie mentertawakan mimpi Tiffany yang tidak realistis.Siapa sangka, Tiffany yang berasal dari desa benar-benar menikah dengan pria seperti Sean. Mungkin banyak orang tidak percaya dengan hal ini.Jadi, Tiffany bisa terima jika orang lain cemburu padanya. Dia juga terima jika orang lain menyindir dan mentertawakannya. Semua ini karena Tiffany mendapatkan banyak hal.Sean memandangi Tiffany, lalu tersenyum dan berjanji, "Tiffany, aku akan menyayangimu selamanya.""Aku tahu," ujar Tiffany. Dia berkata lagi, "Kapan kita pulang ke Kota Aven? Julie bilang sekarang ayam yang dibuat Zara sangat enak dengan bantuannya. Aku ingin mencicipinya."Kemudian, Tiffany mendongak dan meneruskan, "Oh, iya. Kita belum menemu
Xavier tersenyum kepada Derek, lalu bertanya seraya mengerjap, "Kamu nggak puji dia?"Derek mengusap janggutnya dan menjawab, "Prestasi Tiffany bagus, itu berarti dia belajar dengan serius. Dia lebih hebat dari putraku. Dulu, putraku hanya memikirkan untuk meninggalkan kampung halamannya dengan membawa gitar waktu sekolah."Bronson berdeham, lalu menimpali sembari mengernyit, "Ayah!"Kenapa Derek mengungkit hal memalukan yang dilakukan Bronson sewaktu muda di depan para junior?"Apa? Dulu prestasimu memang jelek!" tegur Derek sambil memelototi Bronson. Kemudian, dia menggenggam tangan Tiffany dan berujar seraya tersenyum, "Kamu harus rajin belajar dan capai cita-citamu, lakukan hal yang kamu sukai. Jangan ... tiru Sean yang cuma sibuk kerja setiap hari."Tiffany menyahut, "Oke, Kakek."Derek berucap sambil berlinang air mata, "Kakek menyukaimu. Ke depannya kamu harus sering datang. Setelah kamu pergi, Kakek nggak bisa melihat kamu yang ceria lagi."Tiffany merasa tidak tega saat meliha
Tiffany terpaku menatap video di ponsel Brandon, lalu menyeka ujung matanya yang basah. Wanita itu menarik napas dalam-dalam. "Bisa nggak kamu kirimkan video ini ke aku?""Tentu saja!" Brandon mengangguk dengan cepat, lalu langsung mengirimkan video itu ke e-mail Tiffany."Ngomong-ngomong, Dok Tiff, setelah melihat semua yang sudah dilakukan Kak Sean untukmu, kamu nggak merasa terharu?"Tiffany menerima file video itu dan mengangguk pelan. "Tentu saja aku terharu.""Kalau begitu, apakah kalian akan berdamai?" Brandon masih menatap Tiffany dengan ekspresi penuh harapan. "Kalau kamu merasa terharu, bukankah itu berarti hatimu sudah nggak terlalu menolaknya lagi?"Brandon menatap Tiffany dengan serius. "Kak Sean benar-benar tulus sama kamu, Dok Tiff.""Waktu makan siang tadi, dia menunjukkan video ini ke aku dan menceritakan banyak hal tentang perjalanan panjangnya mencarimu selama bertahun-tahun. Waktu itu, aku tiba-tiba menyadari betapa jauhnya perbedaan antara aku dan dia.""Aku bilang
Mendengar hal itu, Julie melirik Tiffany. "Kalau aku nggak bilang, kamu sendiri nggak kepikiran?"Tiffany menatapnya sejenak, lalu menggeleng pelan. Sebenarnya, dalam hatinya, dia sudah memiliki keputusannya sendiri mengenai Sean. Bahkan tanpa Julie mengatakannya sekalipun, dia tetap bisa mempertimbangkannya.Namun, bagaimanapun juga, masa lalunya dengan Sean masih menjadi luka yang belum sembuh. Dia tidak bisa merelakan masalah itu begitu saja. Kata-kata Julie sebenarnya memberikan dorongan, sekaligus alasan baginya untuk tidak terlalu keras pada dirinya sendiri.Ternyata, bukan hanya dia yang berpikir seperti ini. Orang-orang di sekitarnya juga mendukungnya."Kamu ini ...." Julie mengusap kepala Tiffany dengan lembut. "Bi Nancy sudah lama meninggal. Relakanlah hal-hal yang seharusnya dilepaskan. Dia nggak pernah memilih untuk terlahir dari keluarga seperti itu, dengan ayah seperti itu.""Sama seperti dulu, waktu kamu nggak percaya bahwa pamanmu bisa membakar rumah dan membunuh orang,
"Sudah kubilang Sean bukan orang seperti itu."Di dalam kantor, Julie menuangkan secangkir teh untuk Tiffany sambil menggeleng pelan. "Brandon itu memang selalu di luar dugaan. Percaya sama dia lebih baik percaya sama anjing kampung di luar sana."Tiffany terkulai lesu di atas meja kerja. "Aku benar-benar salah paham sama Sean." Dia menutup matanya dan bayangan pria itu di depan hotel kembali terlintas dalam pikirannya. Sean tampak begitu kesepian dan begitu menyedihkan.Sean tidak melakukan apa pun yang membahayakan pasiennya. Namun, Tiffany malah menuduhnya macam-macam.Tiffany menghela napas panjang, lalu menutupi wajahnya dengan tangan. "Lalu, aku harus bagaimana?"Sean pasti menganggapnya keterlaluan, menganggapnya tidak masuk akal, dan terlalu keras kepala. Semua ini gara-gara Brandon!"Kenapa nggak minta maaf saja?"Julie duduk di hadapannya sembari menyeruput kopi dan membalik halaman majalah. "Kalau nggak, mau gimana lagi?""Dia datang jauh-jauh untuk mendekatimu. Ini baru har
Mungkin sejak lima tahun lalu, saat Sean memilih Sanny dan meninggalkannya, Tiffany sudah tidak berani lagi memercayainya ....Julie menghela napas, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Tiffany. "Tunggu saja sampai Brandon sadar, nanti kita akan tahu semuanya."Tiffany mengangguk.Dua wanita itu menunggu di luar ruang gawat darurat selama lebih dari setengah jam. Setelah setengah jam berlalu, pintu ruang gawat darurat akhirnya terbuka. Seorang perawat mendorong ranjang Brandon menuju kamar perawatan.Dokter yang menangani Brandon keluar dan menepuk bahu Tiffany. "Pasien ingin ketemu kamu."Tiffany segera berdiri dan melangkah cepat menuju kamar perawatan.Di dalam kamar, Brandon yang wajahnya masih pucat bersandar di ujung ranjang. Matanya berkaca-kaca saat menatap Tiffany. "Dokter Tiffany ...."Melihat pria dewasa menangis seperti ini, Tiffany merasa tidak tega. Dia menggigit bibirnya, lalu melangkah mendekat dan menyerahkan selembar tisu kepadanya. "Aku di sini."Brandon ter
Setelah berkata demikian, wanita itu langsung melepaskan tangan Sean dan berlari menuju kamar tempat Brandon berada. Sean tetap berdiri di tempatnya dan matanya menyipit tajam.Tak lama kemudian, ambulans rumah sakit pun tiba. Tiffany bersama staf hotel mengangkat Brandon ke atas tandu dan ikut pergi bersama ambulans.Saat hendak naik ke ambulans di luar hotel, dia melihat Sean berdiri di pintu masuk hotel dan memandangnya dengan tatapan suram. Wanita itu menggertakkan giginya dan langsung menutup pintu ambulans.Sean ... tidak pantas!Jelas-jelas hubungan mereka sudah berbeda dari lima tahun lalu. Meskipun Sean ingin mendekatinya kembali, itu tetap membutuhkan waktu. Sekarang hubungan mereka masih terasa asing, tetapi Sean sudah berani melakukan hal seperti itu terhadap orang yang mendekatinya.Selain itu, Brandon adalah seorang pasien!Tadi Brandon sudah memberi tahu Sean bahwa jantungnya bermasalah. Namun, Sean tetap saja bertarung dengan Brandon hingga membuatnya pingsan.Setelah l
"Pertama, aku nggak enak membicarakan masa lalu di antara kami di depannya secara langsung. Aku takut itu akan membangkitkan kenangan menyakitkan baginya.""Kedua, Dokter Tiffany masih belum kenyang. Nggak mungkin kita mengganggunya bahkan saat dia sedang makan, 'kan?"Brandon berpikir sejenak dan merasa itu masuk akal. Dia pun bangkit dan berucap, "Dokter Tiffany, silakan lanjut makan. Kami akan keluar sebentar untuk mengobrol."Tiffany bahkan belum sempat bereaksi. Kedua pria itu sudah bangkit dan turun dengan lift bersama.Tiffany termangu sesaat. Kemudian, dia berdiri untuk mengejar mereka. Namun, setelah mengambil dua langkah, akhirnya dia berhenti.Sudahlah. Terserah mereka mau melakukan apa. Lagi pula, dia ingin menjauh dari kedua pria ini. Jadi, kalau mereka pergi bersama, itu justru lebih baik.Dengan tenang, Tiffany melanjutkan makannya. Sesudah selesai, dia bahkan membayar tagihan di restoran.Sepuluh menit kemudian, saat turun ke lobi hotel, dia mendengar suara panik dari m
Restoran di Grand Oriental, restoran bintang lima, sunyi senyap.Demi mengundang Tiffany dan Sean makan, Brandon meminta manajer hotel untuk mengosongkan seluruh restoran. Di dalam restoran yang luas itu, hanya ada tiga orang, yaitu Brandon, Tiffany, dan Sean.Di sebuah meja persegi panjang, ketiganya duduk dalam posisi yang aneh. Tiffany duduk di satu sisi, sementara Brandon dan Sean duduk di sisi lainnya.Dari sudut pandang mereka berdua, Tiffany seperti sedang berhadapan langsung dengan masing-masing dari mereka.Tak lama setelah mereka duduk, pelayan mulai menyajikan semua hidangan. Sean duduk di kursi yang empuk, tersenyum tipis sambil menatap meja makan di depannya.Jelas sekali, Brandon benar-benar telah berusaha keras untuk Tiffany. Jika tidak, bagaimana mungkin seluruh meja dipenuhi makanan yang sesuai dengan selera Tiffany?Memikirkan hal ini, Sean mengangkat alisnya sedikit, lalu menatap Tiffany sambil bertanya kepada Brandon dengan suara datar, "Semua ini makanan favorit Ti
Brandon mengernyit, menatap Tiffany dengan curiga. "Jadi, kalian berdua di dalam itu ...."Tiffany hanya merasa kepalanya semakin pusing. Dia menarik napas dalam-dalam. "Barusan mantan suamiku sakit, aku hanya merawatnya."Brandon memiliki banyak koneksi di rumah sakit. Tiffany tidak ingin semua orang di rumah sakit mengetahui hubungan serta perkembangan antara dirinya dan Sean.Jadi, dia tersenyum tipis ke arah Brandon. "Kamu juga tahu, dokter harus memiliki hati yang penuh belas kasih.""Dia memang mantan suamiku, tapi saat dia sakit dan butuh perawatan, aku nggak mungkin tinggal diam."Brandon langsung menatap Tiffany dengan mata berbinar. "Dokter memang seperti yang aku bayangkan, benar-benar malaikat kecil yang baik hati!"Tiffany terdiam untuk sesaat. Kemudian, dia berdeham pelan. "Bukannya kamu bilang ingin aku memeriksamu? Kemarilah ...."Brandon langsung berlari kecil ke arah Tiffany. "Maaf sudah merepotkanmu."Tiffany berdeham dua kali. "Duduk dulu, aku akan memeriksamu ...."
Usai berbicara, Tiffany mengambil jasnya dan keluar dari kamar.Di luar, Brandon menatapnya dengan penuh kekaguman. "Dokter, sudah setengah bulan kita nggak bertemu, kamu tetap secantik seperti biasanya."Tiffany mengerutkan alisnya, lalu meliriknya sekilas dengan ekspresi datar. "Cari tempat duduk saja. Sebenarnya jantungmu sudah nggak ada masalah lagi. Tapi kalau kamu masih merasa khawatir, aku akan melakukan pemeriksaan sederhana.""Baik! Baik!" Brandon menatapnya dengan terkagum-kagum. "Aku akan pesan kamar sekarang ...."Tiffany langsung mengernyit. "Kita cuma berdua, jangan pesan kamar."Setelah berkata demikian, Tiffany melirik ke arah area duduk di kejauhan yang biasanya digunakan untuk menikmati pemandangan dari atas. "Kita duduk di sana saja."Brandon menggigit bibir dan bergumam, "Justru aku suka kalau cuma berdua denganmu ...."Tiffany mengambil barang-barangnya, lalu berjalan ke tempat duduk itu. Sementara itu, Brandon tampak sedikit enggan, tetapi tetapi mengikuti dari be