"Menikahlah dengan Zahra, Pak Er. Anda dan Zahra saling mencintai bukan?" "Pak Andi." Erlangga menggelengkan kepalanya tak percaya. "Tidak Pak Andi. Saya ikhlas melepas Zahra. Aku yakin Pak Andi bisa membahagiakannya." Andi beranjak dan menghampiri Zahra lalu menariknya untuk duduk di samping Erlangga. "Pak penghulu, bisakah Bapak menikahkan mereka sekarang?" "Nak Andi, tolong jangan gegabah mengambil keputusan." Malik menatap Andi dengan sendu."Tidak, Ayah. Aku yakin ini yang terbaik. Aku tidak ingin menyesal menjadi orang jahat yang menjadi penghalang hubungan mereka, Ayah. Mereka saling mencintai bukan?" Malik akhirnya mengeluarkan air matanya yang sudah tidak bisa ditahan. Bagaimana pun dirinya paling merasa menyesal karena keegoisannya yang membuat Zahra dan Erlangga harus berpisah. Dan kini Andi pun harus tersakiti karena ternyata cinta Erlangga dan Zahra yang begitu kuat. "Maafkan Ayah, Nak Andi. Maafkan Ayah. Ini semua salah Ayah." Malik terisak menyadari kesalahannya di
Suasana kembali haru karena kini kedua mempelai begitu terlihat bahagia. Andi duduk di samping Erlangga seperti halnya tadi Erlangga duduk di samping Andi. Bedanya kini pengantin wanitanya begitu terlihat bahagia. Tak ada yang tahu bagaimana perasaan Anda saat ini. Akan tetapi, Andi begitu pintar menyembunyikan perasaannya. "Beda ya raut wajahnya. Kini berseri, enggak kaya tadi," ujar Andi saat Zahra duduk di samping Erlangga. "Aku bercanda, Ra, he he. Berbahagia lah, aku yang akan menjadi saksi pernikahan kalian." Santosa izin untuk tidak hadir dalam acara itu. Andi pun tidak ingin memaksa sang ayah karena tentu saja itu rasanya sakit. Melihat sang putra tak jadi menjadi sang pengantin pria. Dan mantannya itu. Ya, mantan. Zahra kini sudah menjadi mantan tunangan Andi. Andi hanya meminta pada ayahnya untuk tidak banyak berpikir tentang dirinya. Andi sudah benar-benar ikhlas dan bahkan akan merasa sangat bersalah jika dirinya menikah dengan wanita yang dicintai oleh orang lain dan m
"Er, astaghfirullah ... kenapa kamu menikah dengan tiba-tiba seperti ini?" Yudistira segera menghampiri Erlangga setelah saat memasuki gedung itu. "Kamu tidak melakukan kesalahan kan, Er?" Malik menatap Yudistira dengan masih menyisakan penyesalan. Menyesal karena pernah menolak Erlangga dan bahkan memakinya. Padahal Erlangga adalah putra dari sahabatnya yang terkenal baik hati juga dermawan seperti Yudistira. "Lik, apa yang terjadi? Mengapa anak kita menikah dadakan? Bukankah-" "Pah, Papah lagi sakit. Dudukla dulu, nanti Er jelaskan dengan detailnya. Sekarang Papa duduk dulu yang tenang untuk menyapa tamu. Tapi kalau Papa cape, mungkin sebaiknya Papah istirahat." Malik begitu tak percaya dengan Erlangga yang dulu dimakinya karena di anggapnya hanya seorang preman tak punya masa depan bisa berbicara yang baik-baik. Nyatanya, Erlangga begitu lembut dan perhatian pada papanya. Malik kembali menyadari kesalahannya yang hanya menilai orang dari penampilannya. Malik serasa di tampar b
Erlangga dan Zahra pun menunaikan sholat isya di lanjutkan dengan sholat sunnah. Walau pun Erlangga bukan pria yang sholehah, tapi untuk adab ketika akan melaksanakan ibadah suami istri Erlangga pun sudah mempelajarinya dari sang guru agama yang pernah dulu didatanginya. Erlangga dan Zahra memohon ampun atas segala dosa-dosa yang telah mereka lakukan, lalu memanjatkan berbagai doa untuk kemaslahatan dalam rumah tangganya. Mereka juga berdoa agar mereka bisa menjadi suami istri yang bisa saling melengkapi satu sama lain. Terakhir, mereka pun meminta pada sang pemilik hati agar cinta mereka tetap terjaga dalam balutan cinta karena Allah. Erlangga pun menyimpan tangannya di ubun-ubun Zahra dan memberikannya doa. Sampai akhirnya mereka pun saling tatap. Erlangga mengangkat dagu Zahra. "Ingat, ya! Malam ini kamu dapat hukuman dariku," ucapnya dengan mengedipkan mata genit pada sang istri. Zahra kali ini tidak terkejut karena sudah mengerti arti ucapan dari suaminya. Zahra justru malah t
"Er, kenapa kalian ke sini?" "Ck, kenapa Papa bertanya seperti itu? Tentu saja Er sama Zahra ke sini." Erlangga mengambil tangan Yudistira. "Apa yang terjadi, Pah?"Yudistira menoleh pada Zahra yang kini duduk di samping Erlangga. "Ra, Zahra menantu papa." Zahra menoleh pada Erlangga lalu kembali menatap sang ayah mertua. "Iya, Pah. Apa yang terjadi dengan Papah? Apa yang sakit, Pah?" Yudistira memalingkan wajahnya dari anak dan menantunya sedikit kesal. "Ck, kalian ini pertanyaannya sama saja. Papa tidak apa-apa, papa hanya tengah kambuh. Sono bulan madu, bikinin papa cucu yang banyak," ujarnya membuat pipi Zahra merah. "Lik, apa kamu yang tadi ganggu mereka?" tanya Yudistira pada Malik. "Kamu ini, Lik. Bukan nya biarin aja mereka bi-" "Pah, bagaimana mungkin Er bisa tenang bikinin cucu buat papa, kalau keadaan papa seperti ini?" Erlangga mengusap lembut pipi sang papa. "Papa sembuh dulu, baru nanti Er bikinin cucu yang banyak." Pipi Zahra semakin merah. Padahal Erlangga dan Yud
Jantung Zahra kembali berdetak kencang. Apalagi Erlangga menyeringai penuh arti padanya. Jangung Zahra semakin berdebar saat Erlangga mulai mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya dengan lembut."Aku mencintaimu, Ra. Aku ingin memilikimu seutuhnya," ucap Erlangga dengan sentuhan lembut pada bibir Zahra. "Kita lanjutkan yang kemarin tertunda," ucapnya lagi tersenyum tipis.Erlangga mulai melumat kembali benda ranum itu dengan sedikit manaikkan temponya. Zahra hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Erlangga padanya. Erlangga juga mengerti jika Zahra baru pertama kali melakukannya sehingga tentu saja masih amatir dan belum bisa ngimbangi apa gerakan Erlangga. "Manis," ucap Erlangga dengan mata sudah mulai sayu. "Masih ori sih," ucapnya lagi dengan menggoda Zahra. Zahra menunduk malu atas pujian Erlangga. Lalu kembali dikejutkan dengan gerakan tangan Erlangga yang mulai merayap ke seluruh tubuhnya satu persatu. Erlangga kembali mengecup bibir Zahra dengan sedikit
"Aw." Zahra memegang bagian kewanitaannya.Erlangga segera menghampiri Zahra yang memang sudah bangun duluan. "Kenapa, Za?" Zahra hanya menatap Erlangga, merasa malu jika mengatakan bagian kewanitaannya sakit. "Eh, enggak apa-apa, Kak." Zahra mencoba berjalan dengan sedikit tertatih. Erlangga mengerutkan keningnya, lalu langsung menggendong Zahra setelah menyadari apa yang membuat sang istri jalan tertatih. "Kenapa enggak bilang kalau masih sakit, Hem?" Zahra terkejut. "Huwaa, Kak Er, turunin!" Erlangga tak menghiraukan ocehan Zahra dan terus menggendong Zahra. "Diam, Ra. Nanti kamu jatuh.""Turunin," rengek Zahra, "aku masih bisa berjalan. "Tapi tertatih," sahut Erlangga dengan sedikit tertawa, membuat Zahra menunduk malu. "Maaf, sayang. Itu karena ulahku, kan? He he." Erlangga terus menggendong Zahra sampai tiba di kamar mandi. Erlangga menurunkan Zahra dengan begitu hati-hati. Kali ini Zahra hanya pasrah dan tidak berontak lagi. Erlangga sampai menyiapkan air hangat untuk san
"Waaah ... Kak, ini indah banget," ucap Zahra saat Erlangga memberikan satu tangkai bunga bawar. "Tentu aja wajahku memang indah," celetuk Erlangga asal. Zahra menarik senyuman dari bibirnya. "Apaan sih, Kak? Orang aku bilang bunganya juga yang indah," tepis Zahra dengan bibir mengerut. "Sejak kapan sih Kak Er itu jadi penggombal ulung?" "Jangan digituin mulutnya nanti ku cium," ujar Eerlangga mencuil bibir Zahra. "Jadi wajahku enggak indah, Ra?" Zahra mendelikkan matanya. "Ck, Kak ... wajah Kakak tentu saja indah. Tapi, ini bukan saatnya aku memuji wajah Kakak. Nanti aja puji wajah Kakak mah. Sekarang aku muji dulu ini bunga, ok." Erlangga tersenyum sedikit menyeringai. "Nanti itu saat kapan sih, Ra?" godanya, "apa ada waktu tertentu untuk memuji wajahku?" Zahra memutar bola matanya dan sedikit menghembuskan napas. "Kak, tolong ya jangan mesum terus. Aku ingin menikmati taman ini sekarang, nanti aja mau mesum-mesuman mah!" Alih-alih marah, Erlangga malah semakin tertawa mendeng
Tujuh bulan kemudian ... "Aaaakh! Sakit, Kak!" Zahra memegang erat tangan Erlangga saat kontraksi itu menyerangnya. "Dokter, lakukan sesuatu untuk istriku! Atau aku akan menghancurkan rumah sakit ini!" geram Erlangga karena tak tega melihat melihat istrinya kesakitan. "Er, tenang. Ini memang proses persalinan. Semua wanita merasakannya," Sarah berusaha menenangkan menantunya. "Buatlah Zahra nyaman dan tetap tenang." Zahra pun mengapit wajah Erlangga. "Kak, aku tidak apa-apa. Aku bisa tahan ini." Erlangga pun berusaha untuk tenang dan melakukan apapun sesuai nasehat ibu mertuanya untuk menenangkan Zahra. "Sayang, jangan bikin mommy sakit ya. Daddy sayang kamu." Erlangga terus mengusap perut itu berusaha untuk tenang, walau Erlangga sebenarnya tak bisa karena Zahra terus meremas erat lengannya. "Ya Allah ... lancarkan persalinan istriku. Selamat kan lah anak dan istriku." Zahra semakin kesakitan. Dokter pun mengatakan jika pembukaannya sudah lengkap. Zahra sudah mulai mengejan. Er
Tiga bulan kemudian ... "Undangan pernikahan." Zahra mengambil kertas undangan yang ada di atas meja. "Elsa dan Jimmy, apaaa?" Zahra membekap mulutnya tak percaya undangan pernikahan itu dari sahabatnya dengan pria yang katanya adalah pria paling rese yang Elsa bilang. Erlangga baru keluar dari kamar mandi. "Ada apa, sayang? Kenapa kamu teriak sih?" "Kak ini undangan pernikahan namanya benar?" Erlangga mengerutkan keningnya. "Maksudnya?" Zahra membuang napasnya. "Elsa bilang Kak Jimmy adalah pria paling rese yang pernah ditemuinya. Masa tiba-tiba ada undangan pernikahan?" Erlangga terdiam sejenak lalu tertawa renyah. "He he, namanya juga manusia." Zahra mengerucutkan bibirnya mendengar sahutan Erlangga. "Malah tertawa." Erlangga yang hendak menuju tempat ganti baju pun berhenti melaju. "Terus aku harus bagaimana, sayang?" "Terserah deh, aku mau telpon Elsa dulu. Memastikan undangan ini benar atau tidak." Erlangga menggaruk pipinya yang tak gatal. "Huuh, dasar wanita." ***"
"Apa-apaan, Pak Er? Saat ini kita tidak sedang kekurangan karyawan, Pak. Bagaimana mungkin saya harus menerima karyawan baru."Jimmy tidak mengerti mengapa sang bos menyuruhnya menerima karyawan baru. Padahal jelas-jelas kantornya tidak tengah kekurangan karyawan. Jimmy semakin tidak mengerti pada jalan pikiran Erlangga yang sudah terlihat begitu bucin. "Itu permintaan isteriku, Jim. Kamu atur aja pokoknya ya!" titah Erlangga dengan kembali mengirim pesan pada sang istri yang baru saja ditinggalkan olehnya beberapa menit lalu. "Pokoknya terserah kamu mau di tempat kan di mana." Jimmy mengusap leher belakangnya karena bingung. "Iya tapi dia kerja bagian apaaaa? Enggak ada lowongan, Pak Er. Masa jadi asisten pribadi saya?" Erlangga menoleh pada Nino, lalu menyipitkan matanya berpikir sejenak. "Boleh," ucap Erlangga, "mau jadi asisten pribadi kamu mau jadi istri kamu, terserah deh pokoknya. Yang penting dia bisa bekerja, oke! Saya pulang lagi karena masih masa bulan madu, he he." Jim
"Ooh, iya, Sa. Nanti aku coba bicarakan pada suamiku ya. Semoga aja ada lowongan pekerjaan buat kamu." Zahra menutup telponnya dengan perasaan iba pada sahabatnya. Erlangga baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk sepinggang. Zahra dengan refleks menutup matanya agar tidak melihat dada bidang yang selalu dikaguminya. Al pun melihatnya, Erlangga malah semakin mendekati Zahra dengan sengaja. "Iih, Kak. Sono, aaaakkkkhh!" Zahra mendorong tubuh Erlangga agar menjauh darinya. "Kamu kenapa sih, Ra? Sok-sokan enggak mau sama dada bidangku." Erlangga kembali mendekati Zahra dengan seringai jahil. "Jangan mesum, Kak!" Zahra mendorong lagi tubuh Erlangga namun, bukannya tubuh Erlangga yang menjauh, melainkan handuk Erlangga yang melorot akibat dorongan Zahra."Huwaaaaaa, Kak Er mesum!" Zahra menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Erlangga tertawa terbahak karena geli melihat tingkah istrinya yang polos. Erlangga pun segera menuju ruang ganti. Zahra sendiri masih menu
"Loh, kok sudah pulang?" Yudistira terkejut karena Erlangga dan Zahra kini sudah berada di teras rumahnya. "Baru juga satu Minggu, Er?" Erlangga menarik napasnya. "Tenang aja, Pah. Satu Minggu juga jadi kok itu cucu Papah," ucap Erlangga dengan tidak ada wibawanya sebagai CEO PREMAN. Zahra sendiri hanya meremas jari-jari tangannya sedikit takut jika sang papa mertua marah padanya. "Papah ... ini karena Zahra minta pulang," kata Zahra tak ingin membuat sang Papa mertua khawatir.Yudistira menoleh pada Zahra lalu menatapnya sejenak. "Apa Er tidak membahagiakanmu, Ra?" Erlangga terbelalak. "Apa maksudnya? Mana ada aku tidak membahagiakannya, Pah? Zahra minta pulang karena rindu pada orang tuanya." Zahra mengerucutkan keningnya. "Bukannya Kak Erlangga yang mengajakku pulang karena cemburu pada bule itu?" Yudistira menoleh dan menatap Erlangga dengan tatapan tak suka. "Sudah Papah duga. Kamu biang keroknya, Er." Yudistira menarik tangan Zahra ke dalam rumah. "Kalau begitu kamu ikut Pa
"Kamu? Ngapain ke sini?" sentak Jimmy saat melihat Dinda kini berada di ruangannya. "Iiih, jangan galak-galak napa? Aku ke sini kan dengan niat baik." Dinda duduk di sofa tamu ruangan Jimmy tanpa menunggu Jimmy menyuruhnya duduk. "Eh eh eh, siapa yang nyuruh kamu duduk?" Jimmy beranjak dari duduknya menghampiri Dinda yang kini sudah duduk di sofa tamunya. "Kagak ada yang nyuruh." "Nah, itu tahu. Terus kenapa kamu malah duduk?" Dinda menatap Jimmy dengan menyipitkan matanya. "Aku itu bingung harus nagnggap kamu itu baik atau tidak? Dibilang tidak baik, kamu sudah membantuku. Tapi, aku bilang baik juga bingung kamu marah-marah terus," ucapnya dengan mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya. "Ini ... aku ke sini mau mengembalikan uang yang kamu pakai untuk membiayai pengobatanku hari itu. Lunas, ya! Jangan sampai di tengah jalan kamu nagih! Aku pamit, sekali lagi terima kasih." Dinda beranjak dan pamit kembali pada Jimmy setelah menyimpan lembaran uang di meja tamu Jimmy. Jimmy pu
"Ini kita mau ke mana, Kak?" Erlangga tak menjawab pertanyaan Zahra dan terus menuntunnya karena mata Zahra diminta untuk ditutup. Walau merasa sedikit cemas, Zahra terus berusaha mengikuti tarikan tangan dari Erlangga. Hingga sampai di tempat tujuan, Erlangga mendudukkan Zahra di kursi. "Tunggu! Kok tempatnya sejuk gini sih, Kak? Kakak enggak aneh-aneh kan? Jangan bilang kalau Kakak mau menceburkan aku ke kolam?" Erlangga tak tahan untuk menahan tawanya akibat sangkaan Zahra. "Hhhmmff, kamu ini suudzon terus sih?" Erangga membuka tali penutup mata Zahra dengan perlahan. "Taraaaa." Mata Zahra mengerjakan menatap indahnya pemandangan dari atas bukit. "Wah ... Masya Allah, Kak. Ini indah banget," ucapnya begitu takjub. "Pemandangannya ya, yang indah. Bukan wajah Kakak," ralatnya lagi-lagi membuat Erlangga tertawa. "Ya ampun, istriku gemesin banget sih." Erlangga mencuil dagu Zahra. "Enggak ada bilang terimakasih, gitu?" Zahra memutar bola matanya. "Astaghfirullah, ini tuh ngasih s
"Waaah ... Kak, ini indah banget," ucap Zahra saat Erlangga memberikan satu tangkai bunga bawar. "Tentu aja wajahku memang indah," celetuk Erlangga asal. Zahra menarik senyuman dari bibirnya. "Apaan sih, Kak? Orang aku bilang bunganya juga yang indah," tepis Zahra dengan bibir mengerut. "Sejak kapan sih Kak Er itu jadi penggombal ulung?" "Jangan digituin mulutnya nanti ku cium," ujar Eerlangga mencuil bibir Zahra. "Jadi wajahku enggak indah, Ra?" Zahra mendelikkan matanya. "Ck, Kak ... wajah Kakak tentu saja indah. Tapi, ini bukan saatnya aku memuji wajah Kakak. Nanti aja puji wajah Kakak mah. Sekarang aku muji dulu ini bunga, ok." Erlangga tersenyum sedikit menyeringai. "Nanti itu saat kapan sih, Ra?" godanya, "apa ada waktu tertentu untuk memuji wajahku?" Zahra memutar bola matanya dan sedikit menghembuskan napas. "Kak, tolong ya jangan mesum terus. Aku ingin menikmati taman ini sekarang, nanti aja mau mesum-mesuman mah!" Alih-alih marah, Erlangga malah semakin tertawa mendeng
"Aw." Zahra memegang bagian kewanitaannya.Erlangga segera menghampiri Zahra yang memang sudah bangun duluan. "Kenapa, Za?" Zahra hanya menatap Erlangga, merasa malu jika mengatakan bagian kewanitaannya sakit. "Eh, enggak apa-apa, Kak." Zahra mencoba berjalan dengan sedikit tertatih. Erlangga mengerutkan keningnya, lalu langsung menggendong Zahra setelah menyadari apa yang membuat sang istri jalan tertatih. "Kenapa enggak bilang kalau masih sakit, Hem?" Zahra terkejut. "Huwaa, Kak Er, turunin!" Erlangga tak menghiraukan ocehan Zahra dan terus menggendong Zahra. "Diam, Ra. Nanti kamu jatuh.""Turunin," rengek Zahra, "aku masih bisa berjalan. "Tapi tertatih," sahut Erlangga dengan sedikit tertawa, membuat Zahra menunduk malu. "Maaf, sayang. Itu karena ulahku, kan? He he." Erlangga terus menggendong Zahra sampai tiba di kamar mandi. Erlangga menurunkan Zahra dengan begitu hati-hati. Kali ini Zahra hanya pasrah dan tidak berontak lagi. Erlangga sampai menyiapkan air hangat untuk san