Sampai di usianya yang sekarang, Shaka belum pernah mendapati wanita yang tidak tertarik padanya. Hanya Lirea inilah yang menolaknya dan tidak sedikit pun tertarik pada statusnya. Ditambah lagi, gadis ini sudah menyelamatkan nyawanya. Jadi dia berpikir jika dirinya harus menjadi milik Lirea seorang.
Lirea benar-benar linglung dibuat Shaka. Dia berpikir kalau Tuan Muda Shaka ini memang tidak waras. Padahal, banyak wanita yang menyukainya tetapi dia tidak menerimanya, malah memaksanya yang jelas-jelas tidak menyukainya. Apa ada masalah di otaknya? Dia merasa kalau seharusnya caranya tidak seperti ini. Melihat kelakuan Shaka, dia semakin tidak suka. Akhirnya, Lirea mengangkat kepalanya ke atas dan menatapnya, "Mana ponselku. Tolong kembalikan. Aku janji tidak akan kabur lagi. Aku hanya ingin menghubungi ibuku." Melihat Lirea yang tiba-tiba patuh begitu padanya, Shaka terlihat senang, “Kamu sendiri yang bilang kalau tidak akan kabur lagi. Kalau kamu kabur lagi, kamu tidak akan sanggup menanggung resikonya." "Aku tahu. Kalau aku bilang tidak kabur lagi, pasti tidak akan kabur lagi," balas Lirea. Shaka mengeluarkan sebuah ponsel berwarna putih dari tubuhnya seperti sebuah sulap. "Kamu sudah tahu kan, apa yang harus dikatakan dan apa yang tidak boleh dikatakan? Apa perlu aku ingatkan lagi?" Lirea melotot ke arahnya dengan galak. Memangnya aku bodoh? Apa kamu pikir aku akan menelpon ibuku dan mengatakan kalau aku sedang berada di ibu kota dan disekap oleh Tuan Muda Shaka, yang juga memaksaku untuk bertunangan dengannya? Kalau perkara ini sampai di dengar ibunya, ibunya pasti malah akan khawatir setengah mati atau malah bisa jadi akan jantungan. Ditambah lagi, keluarganya bukan keluarga yang memiliki latar belakang keluarga yang kuat. Membawa-bawa tentang keluarga Brahmana sama saja dengan membunuh keluarganya sendiri secara perlahan. Masalah pribadinya, tidak harus didengar oleh ibunya. Sekarang Lirea baru paham kalau berhadapan dengan Shaka untuk membuat pikiran pria itu berubah, tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat dan terburu-buru. Dia harus mencari cara dengan perlahan untuk bisa keluar dari jeratan iblis ini. Setelah menerima ponselnya, Lirea juga tidak langsung menelpon ibunya. Dia hanya menyimpannya dalam tas. Lalu Shaka mengajaknya makan bersama. Setelah selesai, Shaka segera menarik Lirea ke mobil. Lirea baru menyadari kalau waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Sudah waktunya pria itu akan membawanya pulang ke villa. Pria ini benar-benar membuatnya tidak bisa menikmati dunia malam walau hanya sebentar saja. Saat melewati sebuah apotek yang masih buka, Lirea berkata, "Hentikan mobilnya!" Shaka pun menginjak pedal gas dengan penuh tenaga. "Ada apa?" Lirea mengusap-usap perutnya, lalu berkata, "Perutku rasanya tidak nyaman. Aku ingin beli obat." Shaka menepikan mobil yang dikendarainya di tepi jalan. "Pergilah. Lima menit, tidak boleh lebih," katanya. Kemudian, Lirea bergegas mendorong pintu mobil hingga terbuka dan berjalan ke dalam toko obat. "Tolong beri aku aku obat pencahar," ucapnya. Pelayan toko segera mengambil tablet pencahar dan menyerahkannya pada Lirea. Dia menerimanya dengan santai lalu berjalan pergi. Akan tetapi, saat melangkah keluar dari pintu, dia bertabrakan dengan seorang gadis yang baru saja masuk, dan tablet pencahar yang dibelinya jatuh ke lantai. Dia mengulurkan tangannya untuk mengambilnya, lalu tiba-tiba suara tajam gadis itu menggema. "Kamu tidak punya mata, ya? Kalau jalan lihat-lihat!" Lirea menggenggam obat di dalam genggamannya dan melirik gadis itu dengan tidak peduli, "Memangnya siapa yang tidak punya mata? Bukannya yang menabrak itu kamu?" Gadis itu memperhatikan Lirea dan sempat terpaku sejenak. Tiba-tiba, dia berteriak dengan semakin tajam, "Lirea!" Lirea mengernyit, saat dia mengangkat kepalanya, dia langsung mengenali siapa gadis yang ada di hadapannya itu. Musuh memang selalu ditakdirkan untuk saling berpapasan. Padahal selama seminggu ini berada di ibukota, dia sama sekali tidak keluar dari rumah, namun saat keluar mobil untuk membeli obat selama beberapa menit saja, dia sudah bertemu dengan gadis itu. Dunia ini benar-benar kecil! Lirea menyilangkan tangannya di depan dada dan menatap gadis itu dengan geli, lalu berkata, "Pasti sangat sulit bagimu untuk mengingat wajahku. Tapi boleh juga otakmu. Aku memang Lirea!" Pandangan Rania pun jatuh pada sekujur tubuh Lirea dan hatinya langsung penuh dengan kebencian. Lirea tumbuh besar menjadi sangat cantik dengan kriteria wajahnya yang lembut dan menawan. Selain itu, dia memiliki batang hidung kecil yang terlihat cantik dan elegan serta bibir kecil yang seperti buah ceri. Dia benar-benar seperti seorang putri yang berjalan keluar dari cerita dongeng, begitu indah dan lembut. Terutama senyuman malasnya itu, yang seolah seperti tersenyum tetapi juga tidak tampak seperti tersenyum, benar-benar tidak tertandingi. Terakhir kalinya Rania melihat Lirea sudah sekitar tiga tahun yang lalu. Dia juga tidak menduga, kalau matanya sendiri bisa mengenali gadis itu. Rania memasang ekspresi meremehkan pada Lirea lalu berkata, "Kenapa kamu datang ke ibu kota? Ayah juga tidak memanggilmu. Biar kuberitahu, kamu jangan berharap kalau ayah akan mengakuimu. Dulu ayah memanggilmu, itu hanya karena kakek sedang kritis dan ingin melihatmu. Ingat ya, nama keluargamu itu Handoyo, bukan Juwanda!" Kalau kedatangan Lirea kesini karena menginginkan aset keluarga Juwanda, Rania tidak akan mungkin membiarkan hal itu terjadi. Semua yang ada di keluarga Juwanda adalah miliknya, tidak ada hubungannya sedikitpun dengan orang luar yang bernama Lirea ini. Sementara itu, sebuah senyum malah menggantung di wajah Lirea. Dia memainkan rambutnya sendiri sambil memasang ekspresi malas dan santai. "Oh, tidak bisa begitu. Sekarang ibuku sudah tidak bisa menanggung diriku lagi. Jadi, aku ingin mendaftar kuliah dan bagaimanapun aku juga anak gadis dari Tomi Juwanda. Sudah seharusnya di membayar biaya kuliahku. Aku sudah merencanakannya, kalau ayah tidak bersedia membayarnya, aku akan menuntutnya di pengadilan. Apalagi, sudah bertahun-tahun lamanya, dia tidak pernah sedikit pun menafkahiku." Mendengar Lirea yang ingin mencari ayahnya untuk mendapatkan uang, rona wajah Rania langsung menggelap. "Lirea, kamu itu hanya anak haram! Kamu punya hak apa sampai menginginkan uang dari ayahku. Apa kamu tahu anak haram itu apa? Memalukan! Tidak pantas untuk diungkapkan! Selama ayah tidak mau mengakui keberadaanmu itu, meskipun kamu berusaha mengungkapkannya sampai suaramu serak dan lidahmu rusak, tidak akan ada orang yang percaya!” "Oh… benarkah?" kata Lirea yang tidak peduli. Di wajahnya yang cantik muncul sebuah senyuman yang lembut dan elegan."Sebutan 'anak haram' itu, pantasnya untuk aku atau untuk kamu? Kamu sudah tahu kebenarannya, kan? Tentang ayah yang mau atau tidak untuk mengakuiku, aku sudah punya cara untuk membuatnya mengakuiku. Percaya atau tidak, aku juga punya cara untuk membuat ayah bersedia memberiku uang! Karena kebetulan hari ini kita bertemu, aku akan memperingatkanmu. Tunggu saja aku dengan manis di rumah keluarga Juwanda, dalam dua hari ini aku akan pergi ke rumah itu untuk bertemu ayah dan meminta uang!”Lirea melempar tatapan arogan pada Rania. Dia lalu memalingkan kepalanya dengan percaya diri, membalikkan badannya dan kemudian melenggang pergi."Kamu tidak punya malu, Lirea! Tidak punya malu!” Rania menghentak-hentakkan kakinya dengan marah. Dia kini benar-benar kehilangan sikap elegan sebagai seorang gadis kaya raya.Lirea segera naik ke mobil dengan ekspresi yang sedikit muram. Tangan kecilnya yang putih dan indah itu mengepal dengan pupil mata hitamnya terlihat menderita dan suram.Shaka menatap
Putrinya bisa menikah dengan keluarga Brahmana? Pasti setelah ini, posisinya di ibu kota ini bisa naik beberapa tingkat.Pria itu lalu segera memanggil kedua anak gadisnya dan Laras istrinya.Tomi terlihat sangat bersemangat dengan senyum lebar di hadapan Laras dan kedua anak gadisnya. Dia lalu berkata, "Nyonya Brahmana baru saja menelponku, dia bilang dua hari lagi akan datang ke rumah kita untuk melamar putri kita.""Melamar putri kita?" tanya Laras agak kebingungan. "Melamar siapa? Terus , Nyonya Brahmana itu siapa?”Laras terlihat berpikir, lalu setelah ingat sesuatu dia berkata setengah berteriak karena kaget. “Nyonya Brahmana, maksudmu, keluarga kaya raya itu?”"Iya, ya yang itu, lah! Nyonya Brahmana! Dia bilang, Tuan muda Shaka sangat menyukai anak gadis kita. Sekarang ini, dia itu sedang ada di luar negeri dan akan segera terbang kembali ke sini. Setelah dia tiba di tanah air, dia akan datang ke rumah kita untuk mengatur perjodohan dengan anak kita.""Apa?" Mendengar berita it
"Apa maksudmu?""Kamu ternyata selama ini tinggal dengan seorang pria, ya?!"Sekarang sudah pukul sebelas malam, seorang laki-laki dan perempuan sedang berduaan. Baru saja Tomi juga mendengar dengan jelas suara pria itu. Kalau bukan tinggal bersama, lalu apalagi? Batinnya.“Tidak perlu ikut campur. Kalau memang tidak ada apa-apa, aku akan menutup teleponnya. Jangan menelponku lagi!""Lirea, tunggu sebentar!" Tomi yang ada di seberang sana segera teringat kalau ada hal penting yang perlu dibicarakan dengan Lieea, lalu segera melembutkan suaranya."Kalau ada urusan bilang saja, jangan terlalu banyak omong kosong!" Lirea berkata lagi."Aku tahu kamu sekarang ada di ibu kota. Ayo keluar besok, akú akan mengajakmu makan.""Tunggu sebentar!” Lirea buru-buru menutupi telepon dan membalikkan tubuhnya.Lirea bertanya pada Shaka yang ada di dalam kamar, "Apa kamu sudah memberitahu ibumu kalau ingin pergi ke rumah keluarga Juwanda untuk mengatur soal perjodohan?"Bukannya menjawab, Shaka hanya t
Sebenarnya, Shaka orang yang lumayan baik dan asyik. Dia juga orang yang masih sangat lumayan. Menjadi pacar atau suami, semuanya merupakan pilihan yang lumayan. Tidak heran kalau banyak wanita yang tergila-gila padanya.Tiba-tiba, Shaka melempar tablet yang ada di tangannya. Tablet itu terlontar dan terbang di udara membentuk lintasan di udara parabola yang sempurna, lalu mendarat dengan mantap di atas sofa. Bersamaan setelah itu, sosok manusia yang berbadan tinggi dan besar menyelimuti Lirea dalam sekejap mata dan menekannya di atas kasur.Lirea menutup kedua matanya tanpa sedikit pun merasa gugup. Akan tetapi, Shaka menaikkan sudut mulutnya dan berkata dengan begitu arogan, "Tadi waktu melihatku, kamu seperti terpesona. Apa kamu merasa penampilanku yang menjagamu tadi terlihat sangat tampan?"Lirea memutar matanya dan menatap balik Shaka. "Soal kamu yang sangat tampan ini, seharusnya sudah ada banyak wanita yang mengatakan itu, kan? Ini adalah sebuah fakta, jadi tidak perlu untuk k
Lirea tahu kalau Shaka memikirkan sesuatu yang menjijikkan tapi dia juga tidak bisa untuk protes. Dia pun cepat-cepat bangkit dan kabur masuk ke dalam kamar mandiShaka sekarang benar-benar menahan diri untuk menunggu selama 2 bulan. Dan setelah Lirea resmi berumur 18 tahun, pria itu akan memakannya. Memikirkan hal itu, Lirea jadi gemetaran. ۱Sebenarnya, Lirea bukanlah orang yang terlalu polos dan bisa menerimanya jika terjadi hubungan yang semacam itu. Hanya saja, entah bagaimana mengatakannya, menurutnya hubungan begituan harus berdasarkan perasaan sama-sama suka.Dia tidak menyukai Shaka dan itu adalah fakta. Dia bersama dengan bersama pria itu karena dipaksa. Pria itu membuatnya memasang status kalau kalau dirinya adalah gadis miliknya, padahal sejak awal dia sudah tidak bersedia. Dia juga tidak bersedia menjadi tunangannya, bahkan juga tidak bersedia untuk datang ke kota ini.Akan tetapi, keseluruhan rasa tidak bersedia yang digabung menjadi satu itu masih belum bisa sebanding
Saat bangun di pagi hari, Shaka akan menggoda Lirea. Dia juga bisa menonton kelakuan dan sifat keras kepala gadis itu yang tidak ingin mengakui kekalahannya dalam berlari. Hal itu benar-benar sangat membuatnya senang.Dan saat malam hari sebelum tidur pun dia akan menggoda-goda Lirea. Dia berpikir kalau sepertinya dari pagi hingga malam, dirinya benar-benar bisa memiliki mood yang bagus.Setelah jogging, kedua orang itu kembali ke rumah dan masing-masing pergi mandi.Saat sedang sarapan Shaka berkata pada Lirea, "Karena hari ini kamu ada janji bertemu dengan Tomi Juwanda, aku akan memberimu waktu satu hari untuk mempersiapkannya sendiri. Pergi berkeliling keluar juga hal yang bagus, apalagi seminggu lagi kamu akan mulai sekolah, jadi butuh mengakrabkan diri dengan ibu kota.""Oke," jawab Lirea sambil mengangguk.Setelah selesai memakan sarapan, Shaka lalu mengendarai mobilnya dan pergi keluar. Belakangan ini, dia selalu mengurus Lirea hingga tidak memiliki waktu untuk pergi ke perusah
Tomi pun memutar kepalanya, lalu berkata pada Tuan Lesmana dan istrinya, "Sejak kecil, Lirea tidak tumbuh besar di sisiku hingga karakternya jadi sedikit suka seenaknya. Di pertemuan yang selanjutnya tidak akan begini.”Tuan Lesmana dan Istrinya, keduanya sama-sama tidak menyukai Lirea. Namun, anak mereka, Rega menyukainya. Di matanya, semua yang dilakukan oleh gadis itu begitu unik. Dia sudah dibuat kagum oleh karakter gadis itu.Rega pun duduk bersama dengan Lirea dan segera menyerahkan menu padanya sambil berkata, "Apa pun yang ingin kamu makan, pesan saja."Lirea menyapukan pandangannya pada menu dan wajah menunjukkan keceriaan. Dia lalu menatap Rega dengan bahagia dan berkata, "Di menu ini ada begitu banyak makanan yang sebelumnya belum pernah aku makan dan semuanya berharga mahal. Apa aku benar-benar bisa memesan sesukaku?"Melihat Lirea yang tersenyum, hati Rega meleleh. "Tentu saja, pesanlah sesukamu!"Senyum manis Lirea pun terlukis di wajahnya, dia terkesima karena Rega begi
Mendengar ucapan Lirea, raut wajah Tomi langsung berubah menjadi hijau. Anaknya itu seperti mengangkat batu dan menjatuhkannya ke kaki ayahnya sendiri. Padahal, dia berniat baik dengan membantu merencanakan urusan perjodohan untuk gadis itu. Keluarga Lesmana adalah ambang awal yang begitu bagus, tapi tanpa diduga-duga anaknya malah mengatakan hal yang seperti itu.Bagaimanapun, setelah perkataan itu keluar dari mulut Lirea, ekspresi wajah Nyonya Lesmana dan Suaminya langsung menggelap.Tuan Lesmana menatap Tomi dan berkata, "Direktur Tomi, apa sebenarnya maksudmu? Tanpa diduga-duga anda memungut seorang anak haram yang bahkan belum pernah mengerti soal bisnis untuk mencurangi keluargaku? Hmm, bagus, bagus sekali! Karena Direktur Tomi begitu tidak jujur, maka kerjasama di dalam lahan bagian selatan lebih baik dihentikan.” Tuan Lesmana juga merasa sangat marah. Tidak heran saat dia melihat Lirea, gadis itu terlihat membutuhkan pelajaran sopan santun. Ternyata dia adalah seorang anak har
Shaka melirik mata kekasihnya yang tampak cerah, "Yah, setiap tahun kami akan datang untuk bermain-main."Mendengar itu, mata Lirea menjadi lebih cerah, "Tolong bawa aku, ajaklah aku! Ajaklah aku saat bermain-main yaaa!"Dia paling suka bermain dengan Shaka. Terakhir kali saat menyelamatkan Shaka di Kota X, Shaka memberinya banyak hadiah tetapi Lirea tidak menginginkannya. Alhasil, dia menghentikannya di depan pintunya setiap hari, menyeretnya ke dalam mobil dan membawanya terbang ke luar negeri selama beberapa hari.Bungee jumping, terjun payung, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.Permainan yang benar-benar memicu adrenalin.Oleh karena itu, meskipun dia tidak berdaya untuk semua jenis perlakuan tirani Shaka, tapi dia bersemangat setiap kali Shaka membawanya keluar untuk bermain.Mendaki gunung mungkin dianggap pekerjaan berat di mata orang lain, tapi bagi Lirea ini sangat menarik.Tidak bisa dipungkiri jika dia paling suka saat diajak bermain dengan Shaka.Tak lama, Shaka me
Marah!Murka!Saking marahnya, dia bahkan memiliki dorongan untuk menguliti seseorang!Shaka pasti sangat murah hati untuk mengakui jika dia cemburu!Gunung biša terbalik dan bumi berguncang!Dia marah!Marah setengah mati!Namun, Shaka tidak akan menanyakan apa pun pada Lirea. Dia bukan orang bodoh. Pukul berapa sekarang? Bukankah mempertanyakannya sama saja dengan mengungkit keberadaan pria di hadapannya lagi?Dia juga tidak memiliki masalah mental! Selain itu, Shaka dapat melihat jika Lirea telah berusaha untuk melupakannya. Dalam hal ini, kenapa dia harus menyebut pria di depan gadis itu untuk kepentingan dirinya sendiri?Tak bisa dipungkiri jika biasanya Shaka terlihat sombong dan angkuh, tidak bisa menyembunyikan sesuatu, dan tidak ada yang bisa ditutupi darinya. Namun, jika dipikir-pikir dengan hati-hati, Shaka dapat berdiri tegak di ibu kota dan memiliki gelar "Tuan Muda", jelas itu bukan hanya karena latar belakang keluarganya, tetapi juga sarana, keberanian, dan otaknya send
Rendra hanya merasa, ketika dia mendengar penegasan dari Shaka ini, sesuatu di hatinya seperti tiba-tiba terkoyak.Kenapa Lirea?Kenapa harus Lirea?Sebenarnya pemikiran itu hanya terlintas di benaknya, tetapi tiba-tiba dia menanyakannya begitu saja, bahkan dia sendiri sama sekali tidak menyadarinya.Sementara Shaka juga sempat terhenyak dengan pertanyaan yang diajukan Rendra, namun setelahnya dia tersenyum tanpa daya. Ya, hanya senyuman. Senyuman yang bahkan lebih cerah dan murni daripada sinar bulan di langit."Aku sendiri juga tidak yakin kenapa harus dia. Yah... ini seperti setiap kali kamu mendesain game baru, kamu selalu harus membuat NPC terpenting untuk Peri Bungamu. Sebelumnya, aku juga bertanya kenapa kamu harus memilihnya, tapi saat itu kamu juga sangat keras kepala dan mengatakan kalau pengisi suara itu Harus dirinya. Hanya dia yang cocok. Sekarang, tiba-tiba aku dapat memahami perasaanmu. Begitulah aku sekarang."Diam.Rendra hanya bisa terdiam.Betapa pentingnya Peri Bun
Lirea hanya bergumam dalam pelukan Shaka, suaranya lembut dan imut.Shaka menyukai suaranya saat dia sedang bingung. Suaranya terdengar renyah dan indah, bahkan terdengar tajam dan murni di saat yang bersamaan. Ini berbeda dari yang biasa dia lakukan, yang mampu meluluhkan hati Shaka.Bahkan Shaka masih bisa memikirkan.Ketika mereka benar-benar mulai melakukan malam pertama nanti, betapa indah suara erangannya Lirea. Itu akan sulit untuk dihentikan, bukan?Saat memikirkan ini, Shaka merasakan bagian bawah perutnya menegang. Seketika itu juga dia mengutuk dirinya sendiri.Tapi melihat gadis itu dalam pelukannya dengan napas teratur dan tak berdaya, ini benar-benar menggemaskan. Shaka merasa dirinya begitu menderita dan tersiksa melihat ini semua!"Sayangku, kapan kamu bisa tumbuh dewasa…?" Shaka hanya bisa mengeluh, mengeluh dan mengeluh saja tanpa biša protes.Dia benar-benar tersiksa setengah mati!Faktanya, dia benar-benar merasakan itu. Apa yang terjadi dua bulan sebelumnya atau d
Shaka berbalik menatapnya dengan tatapan yang tak kalah lembut. Lampu di ruangan itu telah padam, hanya cahaya lilin hati merah bertanda "22" di kue yang menerangi ruangan itu.Lalu Shaka menyentuh kepala Lirea dengan tatapan penuh kasih yang tak berujung."Bukan tugas laki-laki untuk membuat permohonan."Karena sebenarnya perayaan dengan kue hari ini hanya untuk membuat Lirea bahagia.Lirea tertegun sejenak, "Lilin sudah dinyalakan. Ayo buatlah permohonan.""Kalau begitu, bantu aku membuatnya.""Ini hari ulang tahunmu, bukan ulang tahunku. Bagaimana bisa aku membuatnya untukmu?""Kamu akan menjadi istriku nantinya dan keinginanmu adalah keinginanku juga. Ayo, buatlah permohonan!"Akhirnya, Lirea hanya duduk dengan tangan menengadah dan benar-benar mulai membuat permohonan. Segera setelah membuka matanya, dia menatap Shaka, "Kita tiup sama-sama."Mata Shaka tetap menunjukkan kelembutan yang dalam, "Oke."Saat lilin padam, ruangan menjadi gelap. Seketika, Lirea ditarik dari kursinya da
Melihat ruam merah di wajahnya malam itu, sebenarnya Shaka juga ketakutan. Tapi sekarang dia dapat melihat bahwa gadis itu sangat manis. Wajahnya sangat putih dan lembut, dan tidak ada cacat sama sekali.Tapi ruam di wajahnya, meski mengejutkan, sebenarnya juga cukup indah.Mungkin setelah ini, dia bisa menumbuhkan beberapa bintik merah di wajahnya, dan yang pasti akan terlihat sangat menarik.Jika saja Lirea tahu apa yang sedang dipikirkan Shaka saat ini, dia yakin dirinya pasti akan muntah darah. Mana ada pria yang menyukai bintik-bintik di wajah kekasihnya?Sepertinya hanya Shaka saja yang benar-benar memiliki pemikiran aneh seperti itu!Untuk beberapa saat, Shaka terus memeluk Lirea dan berusaha keras untuk membujuknya. Dia juga mengoleskan salep di tubuh Lirea, lalu meraih tangannya, "Sudah hampir jam sebelas. Ayo kita main game dan potong kue tepat di jam dua belas."Mendengar itu, Lirea mengerutkan bibirnya, "Oh."Ketika turun, dia tidak lagi menutupi wajahnya karena penampilan
Seketika itu juga Lirea memelototi Dani. Jika dipikir-pikir, ini juga salah Dani.Jika dia tidak mengeluh dan mengadu pada Shaka, Lirea tidak akan berpura-pura menderita dan menangis dengan getir, dan dia tidak akan mengatakan tentang keinginannya makan kepiting.Jika dia tidak mengatakannya, tentu saja Shaka tidak akan mengajaknya makan kepiting.Tidak akan ada tumis kepiting, tidak akan ada kacang, yang terpenting tidak akan ada alergi! Itu tidak akan merusak wajahnya!Semua ini disebabkan oleh Dani.Ketika Lirea menatapnya, di balik lapisan kacamata hitam itu, Dani bisa merasakan bagian belakangnya dingin!"Aahh..."Tiba-tiba, Lirea berteriak karena syal di kepalanya ditarik oleh Shaka yang ada di belakangnya, dan dia mengerutkan dahi, "Anak manis, Dokter Lia mengatakan kalau kulitmu perlu bernapas. Tidak ada orang luar di sini, jadi kamu bisa membukanya!""Aaah, tidak mau!"Namun, sudah terlambat. Tidak hanya syalnya yang ditarik oleh Shaka, kacamata hitamnya juga dilepas oleh pri
Setelah Shaka menelepon, Rendra berdiskusi dengan Dani, "Shaka benar-benar ingin bermain-main dengan kita. Jelas, dia ingin mendamaikan hubungan antara kita dan wanitanya. Dia sengaja melakukannya. Dia sengaja memberikan penekanan pada kita arti penting Lirea bagi dirinya!"Rendra mengatakannya dengan tatapan yang dalam."Katakan pada Shaka kita akan pergi ke gunung barat. Dani, kali ini bawa Alex bersamamu."Awalnya, Dani masih biasa saja mendengar lokasi yang disebut Rendra, namun begitu Rendra mengatakan membawa-bawa Alex, seketika itu juga hatinya bergetar.Rendra pasti ingin melakukan sesuatu!Dengan hati-hati Dani berkata, "Apa kamu akan bertindak kejam? Alex, aku khawatir dia tidak tahan...""Dia," Orang itu adalah musuh wanita! Saat itu mereka akan menunjukkan bagaimana wajah asli Lirea, lalu akan melihat apa Shaka akan berpaling darinya atau tidak?"Beri dia pelajaran, dan lihat apa dia masih berani membuat masalah di depan Shaka," cibir Rendra sembari menyeringai samar.Dani
Lirea mendongak dari pelukan Shaka dan menunjuk ke bintik-bintik merah yang masih terlihat di wajahnya. Suaranya hampir tercekat di tenggorokan.“Kalau begini bukan hantu, terus apa?”Sejujurnya, Lirea adalah gadis berusia 18 tahun, dan seperti banyak wanita, dia sangat peduli dengan penampilan. Bintik-bintik merah yang memenuhi kulitnya membuat siapa pun yang melihatnya pertama kali mungkin akan terkejut. Ruam itu muncul di tempat yang tidak bisa ditutupi pakaian—termasuk wajahnya.Melihat wajah Lirea yang penuh bintik merah itu, Shaka tidak lagi bisa menahan tawanya. Jika mengingat kejadian semalam, rasanya dia beruntung bisa menahan diri dan tidak terbangun panik di tengah malam karena melihat bintik-bintik merah itu saat menyalakan lampu.Dengan tawa yang masih tertahan, Shaka meliriknya dengan wajah serius, seperti seorang ayah yang menegur anaknya. "Siapa suruh kamu rakus. Kamu tahu tidak kalau kamu alergi kacang?"Lirea terdiam sesaat, lalu membuka mulutnya dengan raut wajah te