Info update novel saluran Whatsapp, ketik pencarian "Piemar The Author" jangan lupa follow ya.
Sekonyong-konyong Danar kembali ke teras rumah dan menghampiri Gilang dan Embun yang tengah duduk berdua di sana. Menyadari kedatangan Danar, Gilang dan Embun lantas berdiri menyambutnya.“Pagi, Tuan!” sapa Gilang dengan penuh keramahtamahan. Denyut jantung Gilang tidak beraturan saat melihat ekspresi wajah Danar yang kecut. Bukankah sudah sesuai perintahnya, ia datang ke sana untuk langsung berbicara dengan Embun. Tapi, ia merasa jika bosnya itu tidak suka melihat kedekatan mereka. Memang serba salah berurusan dengan pria dingin itu.Danar melirik sekilas ke arah Gilang kemudian menatap ke arah Embun—yang menatapnya. “Sudah perjanjian, kau tidak bisa pulang. Apapun alasannya! Kau sudah menandatangani surat kontrak menjadi ibu susu Sagara! Jika kau melanggar ketentuan, kau harus bayar denda!”Duar,Perkataan Danar mirip seperti sebuah ultimatum bagi Embun. Wajah Embun langsung pias saat mendengar perintahnya. Cairan bening sudah menggenang di pelupuk matanya, nyaris tumpah.Embun menga
Saat Embun pergi membesuk ayahnya, Danar tidak ingin membuang waktu. Diam-diam ia menyusul mantan istrinya itu karena dilanda penasaran. Rupanya, apa yang ia temukan ialah sesuatu yang mencengangkan. Danar pun menyaksikan drama antara ibu dan anak dengan perasaan yang tak sedap. Kesimpulannya, ibunya Embun memperlakukan Embun dengan tidak menyenangkan, bahkan semena-mena. Meskipun ia tidak langsung mendengar percakapan mereka. Namun melihat Embun diseret hingga ditampar sudah cukup mewakili apa yang terjadi di antara mereka. Danar pergi kembali ke mobilnya dan sejenak melupakan apa yang dilihatnya. Jangan sampai Embun melihatnya, menguntitnya. Ia bisa melihat Embun berjalan ke arahnya dengan teramat cepat. Wanita berjilbab itu membuka pintu mobil dan duduk di sampingnya.“Maaf, menunggu lama. Aku terlambat tiga menit karena pergi ke toilet,” lirih Embun bahkan tidak berani menatap Danar. Ia hanya melihat arloji di pergelangan tangannya.Danar melirik sekilat ke arah wajah mantan istr
“Kemana Tuan Danar?” tanya Mita saat pria yang datang menyerahkan berkas penting milik perusahaan ialah Gilang—bukan suaminya. Ia memindai Gilang dari atas hingga ke bawah. Gilang jadi salah tingkah ditatap seperti itu oleh atasannya. Apalagi tatapan yang dilayangkan Mita terkesan intimidatif. Aura wanita mandiri dan berkarakter memang beda.“Nyonya Mita, Tuan Danar langsung pergi ke kantor. Beliau hanya menitipkan berkas ini.”Gilang menjawab dengan tenang. Sebetulnya ia keberatan jika harus berdusta namun bagaimana lagi, Danar memintanya untuk merahasiakan soal Embun Ganita. Mita pasti marah besar jika tahu suaminya pergi mengantar ibu susu Sagara pulang. Sepasang suami istri itu memang pencemburu.Mita hanya mengerutkan alisnya kemudian menurunkan pandangannya pada berkas yang berada di atas meja. Mengabaikan Gilang, ia langsung memeriksa berkas itu dengan sorot mata yang tajam. Mita sosok yang perfeksionis. Ia tidak akan membiarkan secuil pun kesalahan terlewat.“Permisi, Nyonya! S
Sepulang dari kantor, Mita menatap mobil suaminya—yang terparkir di area carport dengan tatapan yang kesal. Namun ia mencoba menahan diri. Jika ia bertindak gegabah, maka pasti akan menimbulkan pertengkaran yang tak berarti. Dalam benak wanita berambut panjang itu, sekalipun suaminya selingkuh, ia tidak akan begitu mudah melepaskan suaminya. Suaminya seorang pengusaha dan konglomerat. Jika dibandingkan usaha keluarganya sebetulnya perusahaan suaminya bernilai lebih besar saat ini. Oleh karena itu ia tidak akan membiarkan pelakor merebut suaminya.Perusahaan yang dipimpin oleh Mita sebetulnya sedang mengalami kendala. Namun Mita pandai menyembunyikan kesulitan perusahaan di depan publik. Ia tidak ingin dipandang rendah oleh orang lain karena tidak mampu mengelola perusahaan dengan sebaik mungkin.Pukul tujuh malam, Mita pulang ke rumah lalu pergi ke lantai dua di mana kamarnya berada. Saat ia tiba kamar utama—yang ditempati oleh dirinya dan suaminya, Danar tidak terlihat di sana. Biasa
Setiap fajar menyingsing, Embun sudah bangun menyambut pagi dengan penuh syukur. Ia begitu bersemangat setiap kali akan pergi melihat putranya. Namun kali ini ia terlihat waspada mengingat Mita ternyata menghabiskan waktu di rumah lebih lama tak seperti biasanya. Hari itu ia akan mulai memakai cadar kendati ia merasa berat hati sebab seharusnya memakai cadar itu berasal dari hati bukan untuk bersandiwara. Namun ia terpaksa melakukannya demi anaknya. Semalam Gilang mengantarkannya beberapa pakaian yang indah dan berharga mahal sesuai perintah Danar. Embun tersenyum tipis saat melihat di antara tumpukan pakaian itu ada secarik surat yang ditulis langsung oleh Gilang.‘Dear, calon ibu dari bayi anak-anakku, semoga suka dengan pilihanku,’Seketika Embun tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya pelan. Gerak-geriknya membuat Linda yang baru saja masuk ke dalam kamar itu penasaran.“Mbak Embun sedang lihat apa? Kok senyum-senyum deh,” Linda memanjangkan lehernya demi mengintip kerta
“Tidak semudah itu, J*lang!” Mita yang tengah dikuasai amarah dan kesal semakin mempererat cekalan tangannya pada leher Embun. Embun tidak tinggal diam. Ia berusaha menepis cekalan tangan wanita bermanik hitam bagai malam itu.Nafas Embun pendek-pendek. Namun Mita sama sekali tidak memiliki rasa simpati. Rasa cemburu telah mengendalikan dirinya–menghilangkan setengah kewarasannya.Namun Embun tidak ingin menyerah. Dalam bayangannya ada Sagara yang tengah tersenyum dan berceloteh tak jelas. Ia harus bertahan demi putra semata wayangnya.Dengan sisa kekuatannya, Embun meraih benda apapun yang ada di sampingnya. Satu tangannya akhirnya bisa menggapai parfum yang berada di atas meja rias. Ia pun menyemprotkan parfum itu ke segala arah, terutama pada wajah Mita hingga mengenai matanya.“Oh shit! Dasar Lont*!” umpat Mita dengan kesal.Sontak, karena matanya terasa perih, ia pun melepas ke dua tangannya dan berusaha mengucek matanya. Sementara itu Embun langsung buru-buru berlari menuju pint
Mita meluangkan waktu datang ke kantor suaminya. Ia berjalan dengan wajah dingin. Bahkan ia tidak membalas sapaan para karyawan yang bekerja di sana. Wanita bertubuh jangkung itu tampak bengis dan galak. Beberapa orang karyawan terlihat bergidik ngeri melihat sosok istri Bos mereka yang tak biasanya tampak anggun.Blam!Suara pintu terbuka dengan begitu kerasnya. Beberapa orang yang berada di dalam ruangan CEO sampai terperanjat melihat kedatangan wanita cantik yang terlihat masam.Tatapan Danar bergulir dari layar laptop tertuju pada istrinya. Padahal mereka sedang melaksanakan meeting internal dengan karyawan. Pria dingin itu hanya mendesah pelan melihat kedatangan istrinya. Beruntung meeting baru saja selesai. “Baiklah, meeting selesai. Terima kasih.”Danar menerima laporan notulen dari sekretarisnya. Kemudian ia mengangkat tangannya—memberikan isyarat kepada bawahannya agar keluar dari ruangannya.Danar langsung menyematkan senyuman tipis pada istrinya. “S-Sayang tumben datang
Embun bahkan tak berani mengangkat kepalanya. Ia menunduk dalam, berusaha menyimak perkataan mantan suaminya. Sungguh ia merasa sudah seperti terdakwa yang hendak diadili. Aura sepasang suami istri itu kentara terasa gelap. Ia sudah mempersiapkan diri untuk diadili. Ia siap menerima muntahan amarah dari Danar—yang mungkin marah karena keberadaannya diketahui oleh Mita, padahal ia sudah menyuruhnya mengenakan cadar agar bisa menutupi wajahnya.Pun, Embun sudah siap menghadapi Mita untuk ke dua kalinya. Mungkin, ia akan dipecat dan diusir dari sana. Harapan untuk merawat putra kesayangannya pupus sudah pada akhirnya. Membayangkan semua hal itu terjadi, dada Embun terasa sesak sekali. Ia merasa frustrasi.Suara Danar mengalihkan pikiran Embun yang malang. “Baiklah, Sayang, maafkan Mas yang telah membuatmu salah paham.”Danar membuka suara. Ia memandang istrinya dengan tatapan sayang dan berbicara padanya dengan lembut. Embun hanya menelan salivanya yang mendadak terasa pahit sesaat men
Di kediaman Sulis, suasana menjadi tegang. Sulis hampir saja menjatuhkan gelas tehnya saat seorang polisi mengetuk pintu rumahnya. Dengan wajah cemas, ia buru-buru membuka pintu dan mendapati dua petugas kepolisian berdiri tegap.“Bu Sulis? Kami dari kepolisian ingin berbicara dengan putra Anda, Alby. Ada laporan insiden perkelahian yang melibatkan dirinya.”Sulis merasakan jantungnya hampir berhenti. “Perkelahian? Alby? Tidak mungkin. Dia pianis, bukan petarung jalanan!”Salah satu polisi menunjukkan dokumen laporan. “Kami hanya menjalankan tugas, Bu. Menurut laporan, putra Anda terlibat dalam baku hantam dengan seorang pria bernama Roger, di sebuah pantai di Bali.”Sulis memijit pelipisnya, mencoba memahami situasi yang tiba-tiba meledak ini. “Ini pasti ada kesalahpahaman. Alby tidak mungkin mencari gara-gara.”Semalam Alby baru pulang namun ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan tidak menceritakan apapun soal kejadian di Bali.“Kami akan tetap membutuhkan keterangannya. Bisa kami
Setelah konser selesai, Levina berpikir mereka akan langsung pulang. Namun, Alby malah berbelok ke arah pantai. Tentu saja, pemuda itu tidak akan menyia-nyiakan waktu bersamanya. Ia tahu, sangat sulit mengajak Levina pergi berdua. Dan, ini adalah kesempatan emas baginya. “Aku mau pulang ke hotel,” kata Levina dengan ekspresi datarnya.Alby menoleh sambil tersenyum. “Kau serius? Setelah menghabiskan tiga jam mendengarkan konser tanpa ekspresi, aku yakin kau butuh udara segar.”Levina mendengus. “Konsernya bagus, hanya saja terlalu lama.”Alby terkekeh. “Oh? Lalu kenapa kau ketiduran?”Levina mendelik. “Aku tidak ketiduran.”“Aku harus menyenggolmu supaya kau tidak jatuh dari kursi,” balas Alby sambil menggoda.Levina mendecak, malas berdebat. Mereka berjalan menyusuri pasir pantai yang dingin, diterangi cahaya bulan yang memantul di permukaan laut. Suara deburan ombak menemani langkah mereka.Dari kejauhan, mereka seperti sepasang kekasih yang sedang menghabiskan waktu berduaan.Alby
Levina baru saja selesai minum obat ketika pintu kamar klinik terbuka. Ia mengangkat kepalanya dan terkejut melihat Roger berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh penyesalan.“Levina…” suara Roger terdengar berat. “Aku minta maaf.”Levina terdiam. Perasaannya bercampur aduk. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Roger, dalam keadaan mabuk, mencoba melecehkannya di pantai. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena amarah yang masih mengendap.Sebelum Levina sempat merespons, sebuah bayangan melesat di hadapannya.BUGH!Alby, yang tadinya duduk santai di kursi dekat tempat tidur, kini telah menerjang Roger dengan tinjunya.Roger terhuyung ke belakang, terkejut. “Apa-apaan kau?!”Alby, yang biasanya penuh candaan, kini tampak berbeda. Rahangnya mengeras, matanya tajam menatap Roger dengan penuh kebencian. “Kau masih punya muka buat datang ke sini setelah apa yang kau lakukan pada Levina?”Levina terkesiap. Ia tidak menyangka Alby akan bereaksi seperti ini.Roger men
Tiba-tiba, seseorang menangkap tangan Levina.Levina refleks ingin menyerang, tapi pandangannya berputar. Dunia seolah bergoyang, napasnya pendek dan berat. Matanya bertemu dengan sepasang mata tajam milik Alby.“Levina!” suara Alby penuh kepanikan.Levina mencoba mengatakan sesuatu, tapi suaranya tersendat di tenggorokan. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak bicara. Namun ini untuk pertama kalinya, Levina yang terkenal kuat, dingin dan misterius itu merasa ketakutan dan kepanikan. Jantungnya masih berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena takut—melainkan karena keterkejutan yang luar biasa. Ia tidak menyangka jika Roger akan melecehkannya. Ia sangat syok. Insiden yang baru saja terjadi mengingatkannya pada memori tempo dulu yang pernah ia alami.Saat Levina masih duduk di bangku sekolah dasar, ia dilecehkan oleh gurunya di sekolah. Sejak saat itu ia berusaha mati-matian belajar bela diri.“Alby...?”Dalam hitungan detik, tubuh Levina ambruk ke tanah. Alby pun merasa panik. “Levina!” p
Levina menikmati suasana pantai di balkon kamar hotelnya. Ombak berderu pelan, langit keemasan mencerminkan kehangatan yang seharusnya ia rasakan di dalam hatinya. Namun, kenyataannya ia justru merasa gelisah. Sejak pertemuan pertamanya dengan Roger, putra teman ayahnya, ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.Roger memang tampan, berpakaian necis, dan memiliki senyum yang bisa membuat wanita jatuh hati dalam hitungan detik. Tapi Levina tahu, di balik pesona itu ada sesuatu yang tidak beres. Dari cara Roger berbicara, dari tatapan matanya yang terlalu tajam dan gerakan tangannya yang selalu berusaha menyentuhnya, Levina merasa ia harus tetap waspada.Hari itu, Roger mengundangnya untuk makan malam di restoran seafood mewah di tepi pantai. Awalnya, Levina ingin menolak, tapi Roger terlalu gigih. “Hanya makan malam santai, Levina. Kau bisa anggap ini sebagai pertemanan,” ujarnya dengan nada santai.Levina akhirnya mengiyakan, namun tetap membatasi diri. Ia mengenakan dress biru sederha
Langit sore berpendar jingga ketika Alby memarkirkan mobilnya di halaman rumah Ana. Ia keluar dengan langkah ringan, meski ada kegelisahan yang bersembunyi di balik tatapan matanya. Rindu dalam dadanya tak bisa lagi ia bendung. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Levina, pikirannya terus dipenuhi oleh bayangan wanita itu. Ia ingin mengajaknya pergi, mungkin sekadar mengobrol sambil menikmati kopi di kafe favoritnya.Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Ana akhirnya membukakan pintu dengan senyum ramah. Namun, ekspresi wajahnya sedikit berubah ketika melihat Alby berdiri di ambang pintu.“Alby? Ada apa?” tanya Ana, meski sudah bisa menebak alasan kedatangannya.Alby mengusap tengkuknya, sedikit canggung. “Aku mau ketemu Levina, Tante. Dia ada?”Ana tersenyum tipis, lalu menghela napas pelan. “Levina sedang pulang kampung. Dia izin libur beberapa hari untuk mengunjungi keluarganya.”Alby tertegun. Matanya berkedip beberapa kali, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Ana mulai mencurigai sesuatu. Beberapa kali ia melihat Alby dan Levina berbincang diam-diam. Tidak seperti biasanya. Mata Ana mengerut curiga, tetapi ia memilih diam. Hanya mengamati dari jauh.Pertama Alby mau menjemput Jeena di bandara. Tunggu, bukan pertama kali. Tapi setahun yang lalu, Alby juga mengantar Jeena ke bandara! Tentu saja, bukan karena tidak ada supir. Alby memang tengah melakukan pendekatan pada Levina. Seperti saat ini, saat yang lain sibuk mengobrol dengan Jeena di ruang tamu, di taman belakang, Alby dan Levina tengah berdiri berhadapan. Seperti biasa, perdebatan kecil pun terjadi di antara mereka.“Kau terlalu keras kepala,” ucap Alby sambil menyilangkan tangan.“Dan kau terlalu sok tahu,” balas Levina, menghela napas panjang.Alby mengangkat dagunya. “Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kau tidak bisa terus bersembunyi di balik sikap dinginmu.”Levina terdiam. Tatapan matanya lebih lembut dari biasanya. “Alby, kenapa kau selalu ingin mengorek isi kepalaku?”“Kar
Levina menundukkan wajahnya, merasakan telapak tangannya yang mulai berkeringat. Ia tidak menyangka Alby akan mengatakannya secara gamblang seperti ini. Hatinya bergetar, tetapi pikirannya menolak. Ia tidak boleh percaya pada pria seperti Alby. Tidak boleh.Makan siang itu berakhir dalam keheningan. Jeena yang kembali dari toilet hanya mengangkat alis melihat atmosfer yang berbeda antara Levina dan Alby. Namun, ia memilih diam. Tidak mau mengusik apa yang sedang terjadi di antara mereka.Saat mereka kembali ke mobil, Levina tetap menjaga jarak dari Alby. Namun, pria itu tidak menyerah. Bahkan ketika mereka sudah tiba di depan rumah Ana, Alby masih bersikeras ingin berbicara.“Lev, aku serius dengan perasaanku,” ujarnya pelan, tetapi tegas.Levina menatapnya tajam. “Jangan buang waktumu, Alby. Aku tidak akan berubah pikiran.”“Aku tidak meminta jawaban sekarang. Aku akan menunggumu,” Alby tersenyum tipis. “Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku akan tetap ada. Sampai kapan pun.”Levina mena
Setahun berlaluBandara Internasional Soekarno-HattaJeena menghela napas lega saat pesawat mendarat dengan mulus di landasan. Setelah setahun di Manhattan, akhirnya ia pulang ke Indonesia. Selama ini ia hanya pulang beberapa kali ke Indo, selebihnya keluarganya yang rutin menjenguknya. Di sebelahnya, Levina tampak sibuk mengecek ponselnya, memastikan tidak ada pesan penting yang terlewat.“Akhirnya, pulang juga,” gumam Jeena sambil meregangkan tubuhnya. “Aku sudah kangen makanan Indonesia.”Levina hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Sebenarnya, hatinya sedang sedikit gelisah, meski ia sendiri enggan mengakuinya. Kenapa? Karena orang yang menjemput mereka bukan sembarang orang.Alby.Pria itu sudah menunggu mereka di pintu kedatangan, bersandar santai di mobilnya dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Dari kejauhan, ia terlihat seperti tokoh dalam film, menunggu dengan ekspresi tenang namun penuh keyakinan.Saat Jeena melihatnya, ia langsung tersenyum penuh arti. “Wah, wah…