Malam semakin larut, tetapi pikiran Reyhan terus berputar. Perkataan Raisa bergema di benaknya.Ada sesuatu yang menggelisahkan dalam nada suaranya, seolah-olah ia telah merencanakan sesuatu yang berbahaya.Reyhan meraih jaketnya dan keluar dari apartemen. Ia tidak bisa tinggal diam. Ia tahu Raisa, dan ia tahu perempuan itu tidak akan menyerah begitu saja.Dengan langkah cepat, ia menuju mobilnya dan melajukannya ke satu-satunya tempat yang terpikir olehnya: rumah Arga dan Naira.Sementara itu, di kediaman Arga, Naira masih berusaha untuk tidur, tetapi bayangan penculikan itu terus menghantuinya.Arga yang tidur di sampingnya merasakan kegelisahannya. Ia merengkuh Naira ke dalam pelukannya.“Kau masih memikirkan kejadian tadi?” tanyanya dengan suara serak.Naira mengangguk pelan. “Aku masih merasa ada yang tidak beres, Arga. Seakan-akan ini belum berakhir.”Arga mengecup puncak kepalanya. “Aku akan memastikan tidak ada yang bisa menyentuhmu lagi. Aku sudah meningkatkan keamanan di sek
Keesokan harinya, matahari terbit dengan tenang, seolah-olah tidak ada ancaman yang menggantung di udara.Namun, suasana di rumah Arga masih terasa tegang. Tidak ada tanda-tanda serangan seperti yang mereka takutkan, tetapi itu tidak membuat Naira bisa bernapas lega.Malam berlalu tanpa kejadian mencurigakan, dan meskipun Arga merasa sedikit lega, nalurinya tetap mengatakan bahwa badai belum benar-benar berlalu.Saat sarapan, Naira duduk di meja makan dengan ekspresi muram. Tangannya mengaduk teh di dalam cangkir tanpa benar-benar meminumnya.Arga, yang duduk di seberangnya, memperhatikannya dengan seksama. Ia tahu Naira masih terguncang, dan itu membuat hatinya perih.Arga meletakkan cangkir kopinya dengan tenang dan berkata, “Sejauh ini tidak ada tanda-tanda pergerakan dari mereka. Aku sudah menugaskan anak buahku untuk berjaga di sekitar rumah. Tidak ada yang bisa menyentuhmu tanpa sepengetahuanku.”Naira menatapnya, matanya penuh dengan kegelisahan. “Tapi bagaimana jika mereka hany
Raisa menatap cincin pertunangan yang tergeletak di meja. Jemarinya gemetar saat mengambil benda kecil itu, seolah berharap semua ini hanyalah mimpi buruk. Namun, kenyataan menamparnya begitu keras. Reyhan telah meninggalkannya.Tidak, dia tidak boleh kalah. Bukan sekarang.Dengan cepat, Raisa meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Reyhan lagi. Nada sambung terdengar, tetapi panggilan itu langsung diputus.Ia mengirim pesan berulang kali, tetapi tak satu pun mendapat balasan. Amarah mulai mendidih dalam dirinya."Naira..." desisnya penuh kebencian. "Kau benar-benar sudah keterlaluan."Di sisi lain kota, Bu Maya menemui Pak Alfian dan Bu Ratna, orang tua Raisa. Suasana pertemuan itu penuh ketegangan, dengan Pak Alfian dan Bu Ratna yang tampak cemas dan gelisah."Bu Maya, kami mohon..." suara Bu Ratna bergetar, matanya penuh air mata. "Pertunangan ini... bisakah tidak diputus? Kami bisa membujuk Raisa untuk berubah, kami bisa memperbaiki semuanya."Pak Alfian mengangguk, wajahnya puca
Raisa duduk di dalam mobil, tangannya mengepal erat. Ia tidak akan membiarkan Naira menang begitu saja.Setelah panggilan telepon terakhir mereka, amarahnya semakin membara. Ia tidak hanya ingin menghancurkan Naira secara mental, tetapi juga secara fisik. Dan kali ini, ia tidak akan gagal.Dengan bantuan beberapa orang suruhannya, Raisa telah merencanakan penculikan ini dengan matang.Naira harus merasakan ketakutan yang sama seperti yang ia rasakan saat kehilangan segalanya.Mobil yang ia tumpangi berhenti di dekat sebuah gudang tua di pinggiran kota. Tempat ini akan menjadi saksi kehancuran Naira.Di dalam gudang yang gelap dan lembap, Naira duduk di kursi dengan tangan terikat.Beberapa pria berbadan kekar mengelilinginya, mengawasi dengan waspada. Naira bisa merasakan udara yang berat dan aroma karat dari besi tua di sekelilingnya.Langkah sepatu hak tinggi bergema di lantai semen yang dingin. Raisa masuk dengan anggun, tetapi tatapan matanya penuh kebencian yang membara."Akhirny
Malam itu, setelah semua kekacauan mereda, Naira duduk di dalam mobil bersama Arga.Pria itu mengemudikan mobilnya dengan tatapan lurus ke depan, rahangnya mengeras.Ia belum mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka meninggalkan gudang tempat Naira ditahan."Arga..." panggil Naira pelan, namun pria itu tetap diam.Naira tahu, suaminya sedang menahan emosi. Wajar saja. Bagaimana mungkin seorang pria yang sangat protektif terhadap istrinya bisa tenang setelah tahu bahwa Naira hampir kehilangan nyawanya di tangan Raisa?Setelah beberapa saat, Arga menghela napas panjang, lalu menepikan mobil di sisi jalan yang sepi.Ia mematikan mesin, lalu menatap Naira dengan ekspresi yang sulit dibaca.Arga terdiam, menahan gejolak di dalam dadanya. "Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau mau menghadapi Raisa? Kenapa kau lakukan ini sendirian?"Naira menunduk sejenak, suaranya pelan. "Karena aku tidak mau melibatkanmu, Arga. Aku tahu kau akan menghentikanku. Tapi aku butuh penutupan. Aku perlu menu
Beberapa hari kemudian, suasana kantor Arga mendadak berubah seperti arena pertempuran.Pintu lobi bergetar ketika dua sosok angkuh muncul, langkah mereka cepat dan penuh kemarahan.Bu Ratna dan Pak Alfian, orang tua Raisa, datang tanpa undangan, namun kehadiran mereka segera menyedot perhatian seluruh lantai direksi."Mana Arga?! Suruh dia keluar sekarang juga!" teriak Bu Ratna, suaranya melengking membelah keheningan kantor.Resepsionis yang berjaga tampak panik, tapi belum sempat ia bertindak, Arga sudah berjalan keluar dari ruangannya, diikuti oleh Naira. Pria itu berjalan dengan tenang, tapi matanya menyala tajam."Bu Ratna, Pak Alfian. Silakan bicara dengan tenang," ucap Arga tegas."Tenang?! Kami di sini untuk menuntut satu hal: bebaskan Raisa dari tahanan!" bentak Pak Alfian. "Dia tidak seharusnya diperlakukan seperti penjahat!"Naira menegang di samping Arga. Namun pria itu melangkah maju."Bebaskan? Wanita itu mencoba membunuh istri saya. Dia menyekap Naira, mengancam dengan
Cahaya kamera berpendar ke segala arah. Aula hotel bintang lima itu dipenuhi wartawan dari berbagai media nasional, para editor hiburan, jurnalis hukum, bahkan akun gosip yang biasanya hanya hidup di balik layar media sosial.Di atas podium, berdiri dua sosok yang tampak tenang, namun menyimpan badai di dalam dada.Naira berdiri di samping Arga. Penampilannya sederhana namun elegan. Kemeja putih dengan potongan tegas dan celana panjang hitam memberi kesan profesional.Riasan wajahnya tipis, tapi sorot matanya tajam seolah menantang siapa pun yang berani meragukan kebenaran.Arga menyesuaikan mikrofon. Suaranya berat dan mantap ketika membuka acara."Terima kasih atas kehadiran semua pihak hari ini. Saya, Arga Wicaksana, bersama istri saya, Naira, mengadakan konferensi ini untuk meluruskan berbagai informasi yang telah beredar… dan membuka fakta yang selama ini ditutup-tutupi."Suasana mendadak hening. Tak ada bunyi selain gemeretak kamera dan ketikan laptop.Arga melanjutkan. "Kami ti
Dua Bulan Setelah Konferensi PersLangit Jakarta diselimuti mendung sejak pagi. Gerimis jatuh lembut di atap kaca bangunan besar bercat putih, tenang dan terpencil di pinggiran kota. Di gerbangnya tertulis: "Rumah Pemulihan Jiwa dan Trauma Estrella".Di dalam kamar rawat nomor 213, seorang perempuan muda duduk di ranjang dengan kaki memeluk lutut, berbicara lirih ke dinding.Lila.Wajahnya pucat pasi, matanya kosong. Rambut yang dulu selalu ditata rapi kini terurai acak-acakan. Setiap beberapa menit, ia akan menoleh ke jendela, matanya liar."Dia di sana... dia tersenyum ke aku... dia mau balas dendam... Naira..."Seseorang berdiri di samping tempat tidurnya. Bukan perawat. Bukan dokter. Tapi wanita paruh baya, berpakaian anggun, dengan tas kulit mahal dan ekspresi nyaris membeku oleh amarah yang belum juga reda.Bu Maya.Sejak Lila dibawa ke Estrella, Bu Maya hampir setiap hari datang, menemani dari pagi hingga sore.Duduk di sana, mengelus rambut putrinya, kadang membisikkan doa, ka
Beberapa hari setelah kunjungan ke butik Bu Rina.Langit sore menghitam perlahan saat Naira melangkah keluar dari kafe kecil dekat kantornya.Hatinya resah, seolah ada sesuatu yang salah. Udara terasa lebih dingin dari biasanya."Naira."Suara itu serak, berat, dan penuh beban menghentikan langkahnya.Ia menoleh.Di sana, berdiri Reyhan.Tubuhnya lebih kurus, matanya cekung dan berkilat aneh, seakan dihantui sesuatu yang tak bisa ia lepaskan.Naira membeku. Jantungnya berdegup keras di dadanya."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya tegang, melindungi dirinya sendiri.Reyhan melangkah mendekat perlahan. Ada luka dalam tatapannya dan kegilaan samar yang membuat Naira bergidik."Aku cuma mau lihat kamu," bisik Reyhan. "Aku cuma mau pastikan... kamu masih Naira yang aku kenal."Naira menggenggam erat tali tasnya, menahan diri untuk tidak lari."Kita sudah selesai, Reyhan," katanya dingin. "Kamu harus terima itu."Namun Reyhan tertawa kecil, getir, seolah mendengar sesuatu yang absurd.
Tiga Bulan KemudianPagi itu, Naira melangkah masuk ke kantor, mencoba menyesuaikan diri kembali setelah berbulan-bulan absen.Meskipun senyumnya terlihat sempurna, ada perasaan yang sulit disembunyikan.Dulu, kantor ini adalah tempat penuh kebahagiaan, tetapi sekarang terasa penuh ketegangan dan kebingungan.Begitu melangkah ke ruangannya, suara manis Liza langsung menyapa, terdengar begitu ceria, bahkan sedikit berlebihan."Naira, Kak!" Liza menyapanya dengan senyum yang tampak lebih lebar dari biasanya.Naira menoleh, dan senyumnya kembali muncul meskipun sedikit terpaksa. "Hai, Liza," jawab Naira dengan nada datar, menahan perasaan yang semakin berat di dadanya.Liza melangkah lebih dekat, mata berbinar dengan tujuan yang tak jelas. "Aku dengar kamu sudah kembali. Kak Naira, kamu baik-baik saja?" tanyanya, tampaknya sangat peduli.Naira merasakan sesuatu yang ganjil. Liza terlalu berusaha baik. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik pertanyaan itu.Liza jelas berusaha menunjukkan b
Rumah Keluarga Reyhan, 04.23Pintu rumah Reyhan berderit pelan saat dibuka.Tubuh Reyhan basah kuyup, bajunya kotor dengan bercak tanah dan lumpur. Matanya merah, wajahnya keras, penuh amarah yang ditahan.Bu Maya yang sejak tadi gelisah di ruang tamu langsung bangkit, menghampiri dengan langkah tergesa."Reyhan! Gimana, Nak? Kamu ketemu Raisa, kan? Dia nggak apa-apa, kan?!" seru Bu Maya dengan nada cemas, matanya membelalak penuh harap.Reyhan hanya diam, tatapannya kosong.Tanpa menjawab, ia melepas jaket kotor itu dan melemparkan ke sofa dengan kasar, berjalan menuju kamarnya."Reyhan, jawab, Nak! Raisa gimana?! Jangan diam aja!" teriak Bu Maya, suaranya pecah.Langkah Reyhan mendadak terhenti.Ia membalikkan badan perlahan, wajahnya merah karena menahan emosi."BU!" Reyhan menghardik, suaranya meledak. "Kenapa Ibu nggak pernah berhenti BICARA?!"Bu Maya terkejut, tubuhnya gemetar."Semua ini... semua kekacauan ini... itu KARENA IBU!" teriak Reyhan, dadanya naik turun menahan amara
Jalan Raya Margasari, 23.29Hujan mengguyur semakin deras. Di tengah malam basah itu, Reyhan masih berlutut di samping tubuh Raisa, yang tergeletak tak berdaya, terbungkus dingin dan sepi.Darah bercampur air hujan, membentuk aliran kecil yang mengalir menjauh, seolah ingin membawa pergi semua dosa malam ini.Alex kini menatapnya dalam diam. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya sesuatu yang jauh lebih mengerikan: kekecewaan dingin.Alex berhenti di depan Reyhan, menghela napas panjang, lalu berjongkok hingga sejajar dengan wajah bawahannya itu."Aku pikir kamu lebih pintar dari ini, Reyhan," katanya datar. "Menyembunyikan Raisa... dariku?"Reyhan ingin membela diri, ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Tubuhnya menggigil bukan hanya karena hujan, tapi karena takut.Alex menatap tubuh Raisa sesaat, lalu kembali menatap Reyhan, mata tajamnya seperti menelanjangi setiap kebohongan."Aku seharusnya membereskanmu sekarang juga," lanjutnya pelan, nadanya nyaris ramah. "Seharusnya aku
Langit kota diselimuti mendung pekat, gerimis turun menyapu aspal yang dingin. Reyhan menyetir pulang dengan kecepatan nyaris melanggar batas, dadanya terasa sesak.Pikirannya masih terguncang oleh satu pesan singkat dari Alex, bos sekaligus lelaki yang selama ini bisa menggenggam lehernya dalam satu perintah:“Aku akan membereskan satu urusan malam ini. Selesaikan proposal perencanaan malam ini.”Urusan.Reyhan langsung tahu: itu tentang Raisa."Jangan sampai…" gumamnya, jari-jarinya mencengkeram setir, napasnya memburu.Begitu sampai di rumah, dia langsung melompat keluar dari mobil, membanting pintu dan menerobos masuk.“RAISA!” suaranya menggema keras. Lila meringkuk di sudut, menutup telinga. Bu Maya muncul dari dapur dengan wajah panik.Braak!Pintu rumah dibuka dengan keras. Reyhan masuk terburu-buru, napasnya memburu. Jaketnya basah oleh hujan gerimis yang baru saja mengguyur kota."Raisa!" teriaknya dari pintu, suaranya menggema, nyaris putus asa.Tak ada jawaban. Rumah teras
Dua hari kemudian, matahari sore menyinari pelataran rumah sakit, keemasannya membias di kaca jendela, menyelimuti dunia seolah ikut bersyukur atas kembalinya satu jiwa dari ambang maut.Kursi roda didorong perlahan oleh seorang perawat, roda menggesek lantai dengan suara lirih, seolah ikut menghormati momen ini. Naira, dengan selimut tipis menutupi kakinya, tampak lemah tapi matanya tak lagi kosong.Di sampingnya, Arga berjalan setia. Setiap langkahnya bagai janji sunyi, bahwa ia tak akan membiarkan Naira terluka lagi.Rambut Naira masih belum ditata rapi, kulitnya pucat, tapi ada cahaya tak tergoyahkan di sorot matanya.Cahaya dari perempuan yang tak mau jadi korban lagi. Bukan dari siapa pun.Bu Rina, ibu mertua Naira, menahan air mata yang sudah membentuk barisan di pelupuk. Suaranya bergetar, tangan menggenggam dada.“Alhamdulillah, ya Allah… akhirnya kamu bisa pulang, Nak. Maafin Ibu kalau selama ini terlalu keras.”Naira menoleh pelan, bibirnya tersenyum tipis. “Terima kasih, B
Dirumah Reyhan, lampu kuning temaram menggantung di sudut ruangan, menyinari tubuh Raisa yang terbaring di sofa panjang.Selimut tipis membungkus tubuhnya, tapi bagian lengannya yang terbuka masih menunjukkan bekas luka-luka menghitam dan memar yang belum sepenuhnya hilang.Beberapa masih segar, garis merah keunguan menyapu kulit pucatnya.Ia memejamkan mata, mencoba tidur. Tapi suara dari dapur membuatnya mendengus pelan.Bu Maya tak pernah lelah berbicara tentang apapun, kepada siapa pun, bahkan jika tak ada yang mendengarkan.“Sudah seminggu tinggal di sini, nggak ada perkembangan. Kerja juga nggak, bantu-bantu juga nggak,” ocehnya sambil memotong sayuran.Suaranya cukup keras untuk sampai ke ruang tengah. “Cuma diam aja kayak patung. Anak zaman sekarang, memang keterlaluan.”Raisa membuka mata perlahan. Kedua bola matanya tajam. Ia menggeser duduk, membetulkan selimutnya.“Sudah Reyhan kasih makan, kasih kamar, sekarang tinggal nyuruh-nyuruh. Dasar nggak tahu diri.”Ia mencoba men
Beberapa hari setelah Naira sadar. Naira duduk di kursi roda, didampingi Tari. Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju taman kecil di belakang gedung.Angin malam menyapa lembut, dan bunga melati mulai bermekaran, menyebarkan aroma tenang. Tapi hati Naira tidak tenang.Tatapannya jauh. Kosong, tapi dalam.“Na… kamu yakin mau keluar malam-malam gini?” tanya Tari sambil mendorong pelan kursi roda.Naira tersenyum kecil. “Aku cuma… butuh lihat langit. Rasanya udah lama banget nggak hidup…”Tari menunduk. Lalu berbisik lirih, “Kamu masih ingat sesuatu?”Naira menoleh. Tatapannya berubah. Lebih tajam. Lebih sadar.“Sedikit,” bisiknya. “Aku ingat... ada suara. Lembut, tapi seperti pisau. Ada sesuatu disuntikkan. Aku merasa sangat ngantuk. Terlalu ngantuk.”Tari berhenti mendorong. “Kamu yakin?”Naira mengangguk. “Dan aku yakin… itu bukan suster. Bukan dokter.”Sunyi.Angin mendesis pelan seperti menyampaikan peringatan.“Liza,” kata Tari pelan. “Aku juga curiga. Waktu itu aku p
Hujan tak lagi turun pelan, tapi mengguyur kota dengan derasnya seolah langit pun tak kuat menahan beban rahasia yang selama ini tertahan.Petir menyambar di kejauhan, bayangannya memantul di kaca jendela kamar rumah sakit yang temaram.Tari masih duduk di sisi ranjang, wajahnya letih, matanya sembab. Buku doa di tangannya mulai lusuh karena terlalu sering dibuka.Sesekali ia membisikkan ayat-ayat pendek di telinga sahabatnya, seperti menuntun jiwa Naira untuk kembali dari dunia sunyi yang tak bisa dijangkau siapa pun.Tapi malam itu... ada yang berbeda.Jemari Naira bergerak.Sekilas. Sangat pelan. Tapi cukup untuk membuat napas Tari terhenti.Dia membeku. Lalu menoleh cepat."Naira...?" suaranya lirih, penuh ketakutan, harapan, dan ketidakpercayaan. Ia mendekat, wajahnya nyaris sejajar dengan wajah pucat sahabatnya.Kelopak mata Naira bergetar. Pelan. Lalu terbuka… seperti kelopak bunga yang merekah setelah badai panjang.Mata itu masih sayu. Pandangannya kabur. Tapi saat ia menatap