"Sudahlah kenapa sih harus membahas itu lagi aku juga kan sekarang sudah sedikit demi sedikit mengiklaskan semua yang terjadi kalau memang sekarangharus menjadi istri kamu ya sudah, kita jalani sebagai layaknya suami istri dulu aku memang selalu menangis ketika ingat kalau aku dipaksa menikah dengan kedua orang tuaku seperti ini tapi mau gimana lagi tidak bisa dirubah ya kan," ucap Sinta kepada Feri."Jadi mau gimana sekarang? harus bagaimana lagi! aku merasa bersalah kepada kamu memang sih sebenarnya aku yang salah, tapi aku tidak ada niatan untuk menyakiti hati kamu aku hanya ingin menikah dengan kamu itu saja," ujar Feri kepada istrinya itu."Mas kalau kamu memang mau mempertahankan pernikahan dengan aku ya kamu stop dengan hubungan kamu dengan Lita, aku tidak bisa mas melihat kamu bersama dia terus kamu seperti itu apalagi sekarang dia menjadi asisten kamu," ucap Sinta."Aku harus bagaimana yang memilih dia menjadi asisten aku tuh bukan aku tapi Bapak sendiri yang memilihnya. aku
"Oh kalau begitu menurut aku juga sama sih seperti apa yang aku pikirkan karena memang siapa sih perempuan di dunia ini yang tidak mau dengan mas Feri sedangkan mas itu adalah anak dari pengusaha apalagi sekarang dia sudah ikut bekerja," ujar Lita kepada Sinta."Iya kamu memang benar tapi suami aku itu orangnya tidak gampang tergoda dengan wanita lain selain aku jadi aku mau memberitahukan kepada seluruh wanita agar tidak bermain api bersama suamiku," ujar Sinta kepada Lita."Memangnya kenapa sih mbak kalau mbak itu dimadu takut ya?" tanya Lita kepada Sinta."Maksud kamu apa ya bertanya seperti itu kepada aku? itu kan tidak mungkin dan rumah tanggaku dengan mas Feri baik-baik saja kok tidak ada renggang ataupun sedang tidak baik-baik saja," ucap Sinta."Ya kan aku hanya bertanya mbak siapa tahu mbak tidak mau atau tidak rela kalau suami mbak itu bakalan suka dengan wanita lain karena kan kadang istri sah itu terlalu takut apalagi mas Feri banyak yang mengincar," ucap Lita."Percaya sa
Ketika Sinta dan juga Sari membersihkan tanaman tiba-tiba terdengar suara mobil yang terparkir di depan rumah Feri."Loh mbak sepertinya ada yang datang deh, aku kayaknya tadi mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah," ucap Sari kepada Sinta."Coba kamu lihat dulu siapa tahu memang ada yang datang kan tidak enak kalau kita tidak tahu," ucap Sinta.Sari pun bergegas untuk melihat siapakah sebenarnya yang datang dan memarkirkan mobilnya di depan rumahFeri.Ketika Sari mendekati pagar rumah majikannya itu, tiba-tiba Sari melihat ada seseorang menggunakan masker keluar dari mobil yang terparkir di depan rumah Feri.Sari pun menyapa seseorang yang menggunakan masker itu dengan sopan."Ada yang bisa kubantu?" tanya Sari kepada seseorang yang menggunakan masker itu.Tak butuh waktu lama seseorang itu membuka maskernya dan Sari terkejut ketika melihat siapa yang datang."Loh mas Dafa sudah datang ke sini aku kira masih lama mas, kemarin itu Ibu membicarakan Mas terus katanya mau ke
Sinta yang melamun memikirkan kenapa hal ini terjadi kepada dirinya, tiba-tiba Sinta dikagetkan dengan Sari yang tiba-tiba datang melihat Sinta melamun tidak jelas."Ada apa Sih Kok melamun seperti itu? apa yang dipikirkan mbak? tadi ada tamu itu kakak dari mas Feri apakah mbak Sinta sudah ketemu?" tanya Sari kepada Sinta."Iya sudah ketemu kok tadi juga aku sudah banyak ngobrol dengan dia sekarang dia menemui Ibunya, Alhamdulillah kakak ipar aku sudah datang di sini," ujar Sinta kepada Sari.Sinta sangat terlihat gugup dan tidak ingin siapapun tahu akan hubungan di masa lalunya antara Sinta dan juga Dafa."Oh iya mbak kalau begitu bagus sekali karena mas Dafa itu orangnya sangat baik mbak ya hampir sama dengan mas Feri, dia itu sangat baik dan juga tidak sombong dengan orang-orang," ujar Sari kepada Sinta"Oh seperti itu ya aku malah baru tahu loh kalau mas yang tadi itu adalah kakak ipar aku atau kakak kandung dari suami aku karena kan memang dia tidak datang ketika aku menikah," uj
Akhirnya Sinta pun bergegas untuk pergi ke kamarnya untuk beristirahat karena dia merasa dia tidak terlalu sehat dan Sari Pun membuatkan teh untuk Ibu mertua dari Sinta dan juga kakak iparnya.Ketika Sari mengantarkan teh itu kepada mertua dan kakak iparnya tiba-tiba Dafa bertanya kepada Sari."Tadi sepertinya yang ingin membuatkan teh Sinta kok sekarang jadi kamu yang mengantarkan?" tanya kepada Sari."Iya mas tadi soalnya ketika mbak Sinta membuatkan teh mbak Sinta tidak enak badan dia sering melamun akhir-akhir ini aku juga tidak tahu kenapa," ujar Sari."Memangnya ada apa? memangnya selama ini dia tidak enak badan ya?" tanya Dafa."Ah tidak juga kok mas selama ini juga dia sehat-sehat saja, iya kan Bu," ucal Sari kepada kakak ipar Sinta dan juga Ibu mertua dari Sinta."Iya kok dia juga biasanya orangnya sangat ceria dan tidak pernah sakit," ujar Ibu Tina kepada Dafa."Loh kok sekarang kenapa dia nanya lagi banyak pikiran ya atau lagi ada masalah sama Feri biarkan saja dia beristir
Sari pun pergi meninggalkan Lita yang sangat sombong itu.Lita merasa dirinya itu akan menang merebut Feri karena jika benar-benar itu terjadi harta Feri akan jatuh ke tangan Lita.ketika Dafa masuk ke dalam rumah Feru Dafa pun menanyakan banyak hal kepada Feri."Ya ampun aku sudah lama tidak ketemu kamu ya, sedangkan kamu menikah saja aku tidak datang maafkan aku ya kalau memang aku mengecewakanmu dengan cara aku tidak datang ke acara pernikahan kamu tadi juga aku sudah meminta maaf kepada Sinta loh,l ujar Dafa kepada Feri."Ya ampun tidak apa-apa lah kak ya namanya juga orang sibuk tidak bisa diganggu kita kan hanya mengundang dan nanti-nanti ke datangnya, tapi kalau memang tidak datang juga tidak apa-apa kok kan juga ada alasan tidak disengaja," ujar Feri."Ya aku juga sebenarnya tidak enak sama kamu apalagi dengan pasangan kamu sedangkan akunya adalah kakak kandung kamu tapi tidak bisa mendampingi haduh bagaimana aku ini," ucap Dafa kepada Feri."Ya sudahlah mungkin aku mau berist
Lita yang sedang melihat Sari berdiam diri menatap dirinya itupun bertanya kepada Sari."Kamu kenapa Sari melihat aku seperti itu seperti melihat teroris saja," tanya Lita kepada Sari."Kenapa sih mbak aku tidak mau lihat kamu kok jangan ke gr-an lah jadi orang itu yang positif saja jangan selalu berpikiran negatif kepada orang lain," ujar Sari."Ya tidak sih dari tadi aku memperhatikan kamu melihat aku tanpa berkedip memangnya ada apa? ada yang salah dengan aku ya?" tanya Lita."Sudahlah mbak jangan kepedean lah jadi orang itu yang biasa saja jangan merasa cantik sekali tapi padahal zonk dan jangan hanya bisanya menjadi benalu!" tegas Sari."Kamun berbicara apa seperti ini, kenapa kamu berpikir seperti itu kepadaku kamu tidak punya sopan santun! aku ini tamu di rumah ini," ujar Lita."Oh mbak ini tamu ya aku baru tahu kalau kamu tamu di rumah ini mas Feri tidak pernah bilang apa-apa tuh sama aku justru kamar aku yang kamu pakai harusnya kan kalau memamg kamu adalah tamu harusnya kamu
"Kenapa sih kok murung seperti itu atau mau aku pijitin," ujar Lita kepada Feri."Kamu tuh orang yang paling mengerti aku ya, aku lagi down seperti ini saja kamu pasti ada di samping aku dari dulu kamu mempunyai sifat yang aku sukai," ujar Feri kepada Lita."Ya iya lah masa aku ini selalu ada buat kamu, karena aku masih sayang sama kamu dan kamu juga masih sayang sama aku, aku tidak mungkin meninggalkanmu disaat kamu seperti ini Lita," ujar Feri."Iya aku tahu kok terimakasih banyak ya kamu sudah mau perhatian kepada aku dan selalu ingin menjadi yang terbaik untukku," ucap Feri.Feri dan juga Lita pun bermesraan di dapur dan tanpa disengaja Sari melihathal itu."Ya ampun belum saja 5 menit, kenapa sudah menggoda mas Feri saja itu perempuan memang tidak tahu diri," batin Sari.Sari yang melihat Feri dan juga Lita bermesraan di dapur itu pun tidak hanya tinggal diam, diam mempergoki mereka berdua dan juga berbicara keras kepada Lita."Ya ampun tadi katanya ada yang mau buat teh terus m
Entah apa yang ada dipikiran Dafa tetapi Dafa ketika melihat Sinta diperlakukan seperti itu dengan adiknya.Selalu saja Dafa apa tidak terima karena dia merasa dia masih menyayangi Sinta, maka itu selalu saja Dafa memantau ketika Feri dan juga Sinta berbicara.Sementara itu setelah berbicara dengan Sinta akhirnya Feri meninggalkan Sinta.Dan Sinta pun pergi ke kamar dan duduk, dia tidak ingin banyak pikiran Sinta berusaha sabar untuk mengatasi kelakuan Feri terhadapnya dan dia selalu saja terlihat baik-baik saja karena dia harus mengurus ibu mertuanya yang sedang sakit.Sinta harus mengurus Ibu mertuanya itu karena Feri sedang bekerja di kantor dan sedangkan yang berada di rumah hanya Sinta.Sinta sering kali di anggap remeh dengan Feri padahal Sinta yang selalu saja mengurus Ibu mertuanya.Tetapi adik dari Dafa tetap saja masih mencintai mantannya."Aku salah tidak sih mempunyai rasa seperti ini," batin Dafa ketika melihat Sinta.Sinta yang sedang mengurus Ibu mertuanya itu Dafa tida
"Maaf ya mbak kalau aku lancang berbicara seperti itu kepadamu tapi memang aku baru kali ini mendapatkan seorang Istri yang sangat sabar seperti mbak Sinta," ucap Sari."Halah Sari sudahlah jangan berbicara itu ngapain sih aku juga masih memikirkan Ibu mertua aku bagaimana supaya dia cepat sembuh dan aku bisa kok untuk selalu saja mengurus dia," ujar Sinta kepada Sari.Beberapa hari kemudian Ibu mertuanya pun sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit dan menggunakan kursi roda.Ibu Tina sudah tidak bisa berdiri dengan tegak dan juga tidak bisa berbicara dengan lancar Sinta harus selalu mengurus Ibu mertuanya itu karena anak-anaknya sibuk untuk bekerja dan hanya dia yang bisa membantu mengurus Ibu mertuanya itu."Alhamdulillah sekarang Ibu sudah boleh pulang ke rumah," ujar Dafa."Iya, Alhamdulillah Ini Ibu kalian sudah bisa pulang ke rumah dan Bapak meminta kepada kalian harus bisa menjaga Ibu kalian ya," ucap bapak Heri kepada anak-anaknya itu."Tenang Pak selama masih ada Si
"Aku kasihan lihat Sinta seperti itu dia sama sekali tidak dihargai dengan Feri padahal dia adalah wanita yang sangat baik dan sangat Setia menurutku," batin Dafa.Ketika melihat Sinta yang sedang duduk di taman bersama Sari Dafa pun tidak tega melihat istri dari adiknya itu ditelantarkan seperti itu drmgan adik dari Dafa yang menikahi mantan kekasih Dafa itu.Tetapi Daffa selalu saja memikirkan kebahagiaan Sinta bersama Feri karena yang sering dilihat Dafa Feri sama sekali tidak ada perjuangan yang diberikan kepada Sinta.Akhirnya Dafa pun pergi untuk pulang ke rumah sementara itu Sari dan juga Sinta yang sedang duduk berdua di taman depan rumah sakit itu pun bercerita dan menenangkan diri."Kamu kenapa sih mbak kok seperti banyak sekali yang dipikirkan," ujar Sari bertanya kepada Sinta."Tidak aku hanya ingin tenang saja masih memikirkan Ibu mertuaku," ucap Sinta."Sebenarnya aku tahu kalau mbak masih memikirkan tentang yang terjadi tadi kan di depan ruangan Ibu Tina," ucap Sari kep
Feri pun terdiam ketika mendengarkan perkataan dari istrinya itu sementara itu Lita yang sangat takut ketika keluarga dari Feri mengetahui jika jus yang diminum oleh Ibunya itu adalah buatan dia dan dia memang sengaja untuk mencelakai Ibu Tina."Waduh gawat ini kalau mereka sampai mencari tahu sebenarnya apa yang ada di dalam kandungan jus yang aku buat itu, untung saja Ibu tidak bisa berbicara jadi aku aman," batin Lita."Nanti kita lihat sebenarnya siapa dari dalang semua ini aku juga penasaran kenapa Ibu meminum jus pagi-pagi sedang biasanya tidak pernah meminum jus sebelumnya," ujar Dafa."Sudahlah mungkin dibahas nanti saja sekarang kan Ibu harus beristirahat kita tidak boleh ribut dan tidak boleh mengganggu istirahat Ibu," ujar Sinta."Sudah kalau begitu Ibu istirahat dulu ya Bu kami semua ada di luar kalau Ibu membutuhkan apa-apa dan Bapak juga Istirahat di dalam sini," ucap Feri.Akhirnya mereka pun keluar dari ruangan di mana Ibu tidak dirawat, sedangkan di dalam ruangan itu
Tidak lama kemudian dokter pun keluar dan memberitahukan hasil pemeriksaan dari Ibu Tina.Akhirnya Bapak Heri pun ikutdengan dokter dan dokter menjelaskan apa yang terjadi dengan Ibu Tina.Akhirnya dokter pun menjelaskan semuanya dan pada akhirnya Ibu Tina pun terkena stroke Bapak Heri sangat terpukul ketika mendengar kabar istrinya itu terkena penyakit stroke.Dia tidak menyangka jika Kejadian ini bakalan serius ini."Maaf ya Pak aku mau mengabarkan kalau bisa ke rumah sakit sudah mengusahakan dengan semaksimal mungkin tapi Ibu Tina terkena stroke," ujar dokter yang merawat atau yang memeriksa Ibu Tina.Bapak Heri pun kaget ketika mendengar kabar dari dokter itu."Ya ampun aku saja tidak tahu doa kalau dia mempunyai sakit itu," ucap Bapak Heri."Penyakit itu datangnya dari Allah dan kalau sudah seperti ini kita hanya bisa berdoa Pak," ucap dokter itu kepada Bapak Heri.Bapak Heri sampai lemas ketika mendengar berita dan informasi tentang istrinya itu Bapak Heri terduduk dan lemah ti
"Mas kamu kenapa?" tanya Sinta dengan lembut kepada suaminya itu tetapi tetap saja Feri melamun dan memandangi istrinya itu dengan sangat tajam."Mas kamu memikirkan apa sih kok bengong seperti itu mas kamu sekarang lagi nyetir lah kamu harusnya fokus kedepan dan jangan sampai kamu bengong seperti ini," ujar Sinta kepada Feri."Ya Allah maafin aku ya aku tadi malah bengong memikirkan sesuatu ya sudah kalau begitu aku fokus bawa mobil dulu," ucap Feri.Feri tidak menyadari bahwa dia melamun dan memandang wajah istrinya itu.Sinta pun heran ketika melihat tingkah suaminya seperti orang yang baru saja membuat kesalahan tetapi Sinta sama sekali tidak memikirkan hal itu karena dia sekarang memikirkan keadaan dari Ibu mertuanya.Akhirnya Feri pun bergegas dan fokus untuk menyetir dan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Ibunya.Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit dan Feri memarkirkan mobilnya di parkiran di Rumah Sakit Cemara."Mas tarik nafas dulu ya, jangan sampai kamu khawat
"Terimakasih banyak ya mas, kamu sudah mempercayai aku buat pegang ATM kamu," ucap Lita kepada Feri."Kenapa sih kamu berterima kasih kepadaku itu juga hak kamu kan aku mencintai kamu dan menyayangi kamu, jadi apa salahnya kalau aku berbagi juga denganmu," ujar Feri kepada Lita.Lita tersenyum bahagia ketika melihat Feri yang bisa dibodohi seperti anak kecil dan Feri tampak bahagia ketika di dekat Lita.Dia merasa beban pikirannya hilang ketika bersama Lita dia sama sekali tidak memikirkan istrinya yang sedang di rumah dan tidak pernah memikirkan perasaannya."Untuk pin nya nanti kamu bisa chat aku saja ya biar aku tidak lupa," ujar Lita."Apa sih yang tidak buat kamu sayang," ucap Feri.Lita pun berhasil untuk mengambil hati Feri yang sempat dingin karena dia telah meninggalkan Feri pada masa lalu."Kamu ini semakin hari semakin cantik ya," ucap Feri sambil menatap Lita dan memegang rambutnya."Lah tumben kamu berbicara seperti itu kepadaku coba saja kamu berani berbicara seperti itu
Akhirnya Feri dan juga Lita pun bergegas untuk pergi ke kantor bersama-sama.Sementara itu Dafa yang melihat Lita dan juga Feri satu mobil pun Dafa bertanya kepada Sinta."Sudah berapa lama Lita tinggal di sini?" tanya Dafa kepada istri dari adiknya itu."Ya cukup lama sih mas memangnya ada apa ya?" tanya Lita."Ya aku hanya mau bertanya saja kenapa sih Lita ada disini siapa yang menyuruh dia datang ke rumah ini?" ucap Dafa."Aku mas yang suruh dia tinggal di sini karena aku merasa kasihan dengan dia, dia terlantarkan dan tidak mempunyai tempat tinggal waktu itu," ujar Sinta.Sinta menjelaskan semua apa yang terjadi ketika pertama kali dirinya bertemu dengan Lita dan sampai membawanya ke rumah Feri."Aku hanya mengingatkan dengan kamu mungkin kamu sudah tahu siapa Lita tanpa aku kasih tahu, kamu kan mengerti apa yang ada du pikiranku iya kan," tanya Dafa kepada Sinta."Ya aku tahu mas kamu pasti mau memberitahu aku kan kalau Lita adalah mantan kekasih dari Mas Feri, tapi aku juga tida
Tetapi ketika Feri keluar dari kamarnya Feri pun teringat Sinta berbicara seperti orang yang benar-benar sakit dan dia tiba-tiba takut jika istrinya itu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."Apa benar ya sinta sakit aku Makin khawatir dengan dia, kalau dia berbicara tentang penyakit seperti ini yang belum pernah sakit dan dia juga jauh dari orang tuanya tidak mungkin aku tidak mengurusinya," ujar Feri.Akhirnya Feri pun kembali ke kamarnya untuk mengecek suhu badan istrinya itu."Kamu beneran sakit?" tanya Feri kepada Sinta."Untuk apa aku berbohong dengan kamu mas aku sangat pusing dan lemas sekali sepertinya aku demam," ujar Sinta dengan lirih."Sudah lah kamu istirahat dulu aku mau tidur dulu maaf ya aku pegang," ucap Feri.Akhirnya Feri pun mengecek suhu badan Sinta dan berharap kalau Sinta tidak sakit, tetapi ternyata Sinta demam dan sangat lemah keadaannya."Kamu tadi malam makan banyak?" tanya Feri lepada Sari."Aku makan bersama Sari kenapa memangnya?" ucap Sinta."Aku hanya