Home / Horor / DiSUKAI SILUMAN ULAR / Mengantar Rehan

Share

Mengantar Rehan

Author: KARTIKA DEKA
last update Last Updated: 2022-12-16 22:17:03

Bu Zubaedah sangat terkejut dengan kehadiran Wak Esah dan Budi di rumahnya yang diantar oleh Cik Nar. Jiran tetangga satu gang, tapi agak jauh dari rumahnya.

"Ya Allah, Rehan," kata Bu Zubaedah seraya memeluk Rehan yang menangis dan langsung merangsek ke pelukannya.

"Mana ayahmu?" tanya Bu Zubaedah. Rehan hanya menangis hingga sesenggukan. Hatinya sangat pilu hingga tak bisa berkata-kata selain Bunda.

Rehan terus memanggil bundanya dalam pelukan Bu Zubaedah. Hati Bu Zubaedah rasa teriris melihat cucunya itu. Tak pernah dia melihat Rehan sesedih saat ini.

"Maaf ya Mak Hasan. Kami terpaksa mengantar Rehan kesini. Hasan dari semalam tak pulang. Tak pun dia bilang hendak kemana. Ditinggalkannya si Rehan sendiri di rumah," jelas Wak Esah.

"Astaghfirullah hal adzim. Kenapa lah jadi keras hati betul si Hasan?" sesal Bu Zubaedah.

Tak ada dalam sangkaannya, kalau amarah Hasan akan berlarut dan berimbas kepada Rehan. Kalau dia tau Hasan akan menelantarkan Rehan, tak akan dibolehkannya sem
Locked Chapter
Continue to read this book on the APP
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Wati Vicino
kpn up nya episode terbaru k?
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Mempertemukan Rehan dan Sari

    "Tumben sekali Mamak minta antar ke pasar? Ini belum pun penghujung minggu." Gadis manis yang sedang memakai hijab di depan cermin berkata pada emaknya yang sudah rapi, dan bersiap menunggunya. Bu Zubaedah sengaja tak bilang mau ke pasar pada Ratna, tadi malam. Agar Ratna tak banyak pertanyaan yang akan membuat rencananya gagal untuk mempertemukan Rehan dan Sari. Hatinya sangat tak tega melihat Rehan yang sangat rindu dengan Sari."Mamak mau belikan Rehan baju. Kalau di hari libur pasti mahal, akan sulit menawarnya. Juga mau beli buat Adik si Rehan." Bu Zubaedah menemukan alasan yang bisa diterima akal Ratna. Kalau alasannya ingin berbelanja kebutuhan dapur, Ratna tak akan percaya. Sudah jadi kebiasaan Bu Zubaedah berbelanja kebutuhan rumah tangga di penghujung minggu. Masih banyak stok sayur juga ikan di kulkasnya."Kak Sari kapan balik, Mak? Sudah tak sabar Ratna ingin melihat kemanakan perempuan. Pastilah cantik seperti Kak Sari. Kalau sampai hari Minggu Kak Sari belum diperbolehk

    Last Updated : 2022-12-21
  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Mengobati rasa rindu

    "Bunda! Huhuhuhu." Rehan langsung merangsek ke pelukan Sari saat melihat perempuan berwajah manis itu keluar dari dalam rumahnya.Sari juga langsung memeluk Rehan dengan hangat. Deraian air mata tak lagi terbendung. Membalut dengan deras tanpa diperintah dari kelopak mata Sari yang indah. Dihujaninya wajah Rehan dengan ciuman dan memeluk putra kesayangan dengan sangat erat. Seolah sudah sangat lama mereka tak bertemu dan tak ingin berpisah lagi. Padahal baru beberapa hari saja. "Mak." Sari menyapa Bu Zubaedah lalu mencium tangan wanita yang sudah seperti ibunya itu. Sari menyeka wajahnya yang bersimbah air mata dengan hijabnya. "Mak kok tau Sari di sini?" tanya Sari sambil mengajak mertuanya dan menuntun Rehan untuk duduk di atas dipan bambu yang ada di teras rumahnya. "Mak yang menyarankan Fudin untuk sementara membawa kau kesini. Sampai Hasan bisa menerima kenyataan tentang anaknya," kata Bu Zubaedah. Sari menghela nafasnya. Dengan begitu dia semakin yakin, kalau bukan hanya sua

    Last Updated : 2022-12-23
  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Pernikahan tak biasa

    Hasan memperhatikan sekeliling rumah orang tua Rosa tanpa berkedip. Dia tak menyangka, calon mertuanya kali ini orang yang sangat kaya raya. Istana ular sudah berubah bak rumah yang megah di mata Hasan. Banyak pengawal yang tampak berbaju petugas keamanan yang berjaga. Rosa terus menggandeng Hasan sampai ke sebuah ruangan, dimana ada Tuan Anaconda di dalamnya. Hasan tertunduk dalam saat berhadapan dengan sosok yang ada di hadapannya. Tuan Anaconda yang kini sudah beralih raga menjadi manusia sejati. Tampak memperhatikan Hasan dengan sangat lekat. Tuan Anaconda menelisik Hasan dari atas ke bawah, mencari kelebihan apa pada manusia itu hingga putrinya begitu tergila-gila."Kau serius ingin menikah dengan anakku?" Pertanyaan tegas keluar mulut Tuan Anaconda."Se–serius Pak." Hasan mengangguk gugup juga takut. "Apa yang kau punya untuk kau jadikan mahar?" "Em …." Hasan kebingungan mau menjawab apa. bahkan mahar juga tak terpikirkan olehnya. "Rosa tak minta apapun dari Bang Hasan, Ayah

    Last Updated : 2022-12-27
  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Memulai usaha

    Sari merasakan cuaca malam ini sangat bersahabat. Angin bertiup sangat kencang. Hingga membuat pohon-pohon sawit yang berdiri gagah tampak terombang ambing ke segala arah."Ada apa ini? Kenapa perasaanku tak enak sekali?" gumam Sari. "Ayaahh huhuhuhu." Sari terkejut, tiba-tiba Rehan bangun dari tidurnya dan langsung menangis memanggil ayahnya. "Oe oe oe." Disusul Rubi yang juga terbangun.Sari langsung menggendong Rubi, dan menarik Rehan agar berada di pelukannya. "Ayaaahh huhuhuhu." Rehan masih terus memanggilnya. Benak Sari langsung mengaitkan perasaan tak enak yang sedang menggelayuti hatinya dengan tangisan Rehan. Apa terjadi apa-apa dengan suaminya? Sari segera mengambil hape yang baru dibelikan Fudin untuknya. Dia masih hafal nomor ponselnya. Sebaiknya dia menelepon Jasa. Karena ponsel itu ada sama Hasan. Tut tut tutMasih suara nada sambung yang terdengar. Tak.kunjung diangkat hingga nada sambung itu mati. Sari terus berusaha hingga beberapa kali untuk menghubungi Hasan.

    Last Updated : 2022-12-27
  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Cari toko

    "Modal buka toko di Mall lumayan besar. Kau bisa cari lapak di pasar. Biasa nya sewa ruko di pasar, sekitar dua puluhan juta pertahun. Barangnya nanti, bisa kau order melalui Abang," saran Ismet.Jelas Ismet tak mau menunjukkan pada Hasan dimana membeli barang dengan harga grosiran. Kalau Hasan belanja melalui dirinya, dia akan mendapatkan keuntungan juga pastinya. Hasan sangat senang mendengar masukan dari Ismet. "Boleh juga seperti itu. Jadi aku tak perlu repot mencari kesana kemari." Tak jadi masalah kalau Hasan mengambil barang dagangannya dari Ismet. Tapi tentunya dia tak akan mendapatkan harga yang murah, seperti kalau dia belanja langsung ke grosir. Hasan yang tak memiliki pengalaman apapun di bidang ini, setuju saja. Dia berpikir, Ismet akan tulus membantunya. "Ok kalau begitu. Nanti kita akan cari, baju-baju seperti apa yang kau mau." Ismet sangat senang, untung besar sudah ada di depan mata."Aku rencananya mau jual pakaian lengkap Bang. Mulai dari perlengkapan bayi, baju

    Last Updated : 2022-12-29
  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Amarah Pak Fudin

    Pak Fudin dan Bu Midah baru sampai di gubuk Sari. Sari langsung membantu mereka mengeluarkan semua barang belanjaan yang dipesannya. Semua langsung di pajang di warungnya yang kecil. Kini, warung yang tadinya mulai kosong, kembali berisi lagi. "Bi, ini uangnya." Sari memberikan uang pembayaran belanja untuk barang dagangannya pada Bu Midah. "Tak usah Sari, kau simpan saja." Bu Midah menolak."Tak Bi. Bibi harus menerima uang ini. Ini kan buat dijual kembali, Sari akan dapat keuntungannya. Lagipula, nanti Sari akan sungkan mau titip lagi," kata Sari membujuk Bu Midah menerima uang yang ada di tangannya. "Gunakan saja buat kepentingan anakmu. Bibi dan Paman masih ada uang." Bu Midah tetap menolak. "Alhamdulillah, buat anak-anak sudah tercukupi Bi. Keuntungan Sari cukup lumayan, karena pembeli lumayan ramai. Jadi Bibi tak usah cemas. Kalau Bibi tak mau menerima uang ini, Sari tak akan lagi mau menitip belanjaan sama Bibi. Sari akan ke Pasar sendiri saja." Sari tetap memaksa. Bu Mid

    Last Updated : 2023-01-02
  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Iri hati

    Aina terus mondar mandir di halaman rumahnya. Berulangkali kepalanya melongok ke jalan, barangkali dia melihat kedua orang tuanya. "Kemana Mama sama Ayah? Di telpon nggak diangkat! Bukannya pesan dari semalam kalau akan pergi." Aina terus menggerutu, dia menghentakkan kaki berjalan masuk ke rumahnya. Dia rebahan di sofa rumah tamu, menyalakan tivi untuk membunuh rasa bosan. Tapi tak ada acara yang menarik untuk dilihat karena dia masih memikirkan keberadaan orang tuanya. Berulangkali kali dia berdecak kesal dan melihat jam di dinding. Waktu seakan sangat lama berputar dia rasa. Padahal baru beberapa menit dia menunggu, tapi dirasa bagai sudah berjam-jam.Mobil Pak Fudin mulai memasuki pekarangan rumah, Aina yang mendengar suara mesin mobil segera bangkit. Beranjak keluar, namun hanya sampai di ambang pintu saja dia menghentikan langkah kakinya. Dari depan pintu dia memperhatikan Ayah dan mamanya yang baru saja sampai."Aina, bantu dulu angkat belanjaan!" Bu Midah memanggil Aina. De

    Last Updated : 2023-01-04
  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Siapa yang datang?

    Aina melaju lagi dengan kencang. Menuju ke rumah kontrakan Hasan. Dia tau dimana kontrakan Hasan, karena pernah menyelidiki sebelumnya. Waktu itu, Bu Midah yang meminta Aina mencari tau keberadaan Sari. Sekedar ingin tau, apakah Sari masih diam-diam meminta uang pada ayahnya. Saat itu, Bu Midah belum melunak hatinya. Masih keras seperti Aina. Perjalanan yang harusnya ditempuh satu jam, dengan kecepatan penuh, bisa ditempuh Aina dalam waktu setengah jam saja. Wak Esah yang sedang membersihkan rumt yang ada di halaman rumahnya, merasa heran, melihat ada seorang pengendara motor besar yang berhenti di depan kontrakan mereka. Lebih terkejut lagi, saat tau pengendaranya adalah seorang wanita. "Cari siapa Nak?" tanya Wak Esah. Aina tak turun dari atas motornya. Dia hanya memperhatikan pintu rumah Hasan yang tertutup rapat."Ini rumah si Hasan sama Sari kan, Bu?" tanya Aina. 'Iya, betul." "Orangnya ada di rumah?" tanya Aina lagi, tanpa sopan santun berbicara dengan orang yang lebih tua.

    Last Updated : 2023-01-05

Latest chapter

  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   TAMAT

    Sari terus berusaha berkonsentrasi memanggil Nyi Baisucen. Dia harus tau kebenaran tentang Rosa. Apakah Rosa adalah saudari yang dicarinya selama ini?"Bibi Baisucen." Berulang kali Sari memanggil Nyi Baisucen. Namun Nyi Baisucen tak juga menjawabnya. Sari hampir putus asa. Kenapa bibinya tak menjawab panggilan darinya? Kalau dia ke klinik Pak Hanif, akan memakan waktu yang lama. Hampir setengah hari perjalanan menuju ke sana. Belum lagi perjalanan pulang. Dia tak bisa meninggalkan keluarganya dalam waktu yang lama. Sari mencoba untuk berkonsentrasi lagi. Mungkin tadi bibinya sedang sibuk pikirnya."Bibi Bai. Bibi Bai. Bibi Bai.""Ada apa Sari?" Sari lega, akhirnya Nyi Baisucen menjawab panggilannya. "Bibi bisa Bibi datang lagi? Ada yang hendak Sari bicarakan." "Bibi akan datang malam nanti. Klinik sedang ramai saat ini. Paman Hanif akan curiga." "Baik Bibi. Sari akan menunggu Bibi di taman kota." "Ya, Bibi akan menemuimu di sana." Sari mengakhiri panggilan telepatinya. Dia seg

  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Kebenaran terungkap

    Dua orang wanita cantik tampak sedang duduk berbincang di sebuah taman kecil yang ada di sebuah klinik pengobatan alternatif. Mereka adalah Nyi Baisucen dan Rosa. Sama dengan Sari, Rosa juga merasakan ada suatu kejanggalan dengan perbincangan mereka tadi malam. "Bi, katakan yang sejujurnya. Apa yang sedang Bibi sembunyikan? Kenapa Bibi bilang Sari adalah kemanakan Bibi? Bagaimana hal itu bisa terjadi, sementara Sari itu manusia sejati? Berbeda dengan Bibi." Rosa mencecar Nyi Baisucen dengan pertanyaan yang sejak tadi malam juga menggelayuti hatinya. Nyi Baisucen masih diam dengan pandangan lurus ke depan. Dia sedang memikirkan, bagaimana cara mengawali ceritanya pada Rosa."Kenapa Bibi diam? Apa ada yang sedang Bibi sembunyikan." Rosa menyelidik."Rosa, memang sudah seharusnya kau tau cerita ini. Sejak lama Bibi ingin menceritakan padamu, tapi Bibi tak bisa. Ayahmu melarang siapapun untuk menceritakan kebenaran ini padamu." "Apa maksud Bibi?" tanya Rosa dengan alis menaut. Nyi Bai

  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Kecurigaan Sari

    "Siapa yang datang pagi buta begini?" tanya Nyi Baisucen pada Sari, pandangannya tak lepas dari Honda HR V warna silver yang sedang parkir di pekarangan rumah Sari."Itu mobil Bang Hasan, Bi. Ada apa ya?" Sari pun bertanya-tanya. Hasan turun lebih dulu, baru disusul oleh Rosa. Nyi Baisucen terkesiap melihat keduanya. Matanya tak bisa berkedip sama sekali. "Siapa yang bersama dengan Hasan, Sari?" Dia bertanya, untuk memastikan dugaannya tak salah. "Itulah istri kedua Bang Hasan, Rosa namanya." Nyi Baisucen terperangah, tak percaya mendengar hal yang diungkapkan Sari. Nyi Baisucen terduduk lemas. 'Berarti, orang yang telah kudukung untuk menikahi Rosa adalah Hasan' batinnya.Penyesalan segera menyergap kalbu Nyi Baisucen. Kenapa dulu dia tak menyelidiki terlebih dahulu, siapa laki-laki yang dicintai Rosa? Sayangnya dia tak hadir pada saat Rosa menikah, hingga dia tak juga mengenal suami Rosa. Apalagi sudah sangat lama Rosa dan Nyi Baisucen tak lagi bertemu."Bibi!" Rosa sangat terk

  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Penyakit kiriman

    Rosa langsung membawa Hasan ke rumah ayahnya, setelah sebelumnya memanipulasi penglihatan Hasan. Sehingga yang tampak di pandangan Hasan adalah sebuah rumah yang mewah juga megah, dengan banyak security yang berjaga di setiap sisinya, baik diluar maupun di dalam. Security itu langsung membuka pintu rumah tatkala melihat kehadiran Rosa beserta suaminya. Sampai di dalam Rosa berpapasan dengan Sanca yang melihatnya dengan sinis. "Mau apa kesini, tengah malam begini?" sinis Sanca. ''Aku mau bertemu Ayah." Rosa tak lagi memperdulikan Sanca, dia langsung berjalan melenggang tanpa peduli dengan tatapaan tak suka Sanca pada Hasan.Apalagi Rosa melihat wajah Hasan kian memerah karena suhu tubuhnya semakin meningkat. Rosa menggandeng tangan Hasan yang panas untuk mempercepat langkah kakinya. Tak dipedulikan rasa terbakar di telapak tangannya.Rosa langsung menuju ke kamar Tuan Anaconda, sempat dia juga berpapasan dengan Panglima Derik di depan pintu kamar Tuan Anaconda. Walaupun Panglima Der

  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Tiba-tiba sakit

    Hasan merasa sangat gelisah malam ini, tubuhnya terasa panas. Dia senantiasa merasa kegerahan, hingga bajunya basah karena keringat. Berulang kali dia mengganti posisi tidurnya tapi tak membantu juga untuk mengurangi rasa gerah yang sedang menderanya. Rosa merasa tempat tidurnya terus berderit sejak tadi. Dia membuka matanya, lantas melihat suaminya yang tidur dengan gelisah. Alisnya menaut melihat suaminya yang bertingkah aneh."Kenapa Bang?" tanyanya pada suaminya, lantas duduk di atas ranjangnya.Dicepolnya asal rambutnya yang ikal mayang itu, hingga menampakkan dengan jelas lehernya yang jenjang."Gerah," jawab Hasan sambil mengipasi tubuhnya dengan baju sendiri. Rosa melihat ac di kamarnya, ac nya hidup. Tak ada masalah dengan itu. Gadis cantik itu bangkit, untuk memeriksa kondisi suaminya. "Astaga! Badan Abang panas sekali!" pekiknya ketika punggung tangannya ditempelkan ke dahi Hasan. Hasan duduk, dibukanya baju yang telah basah oleh keringat. Namun tak juga mengurangi rasa

  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Rubi masuk perangkap

    Aina duduk di hadapan seorang laki-laki paruh baya yang penampilannya tampak biasa saja. Siapa yang sangka kalau orang yang berada di depannya itu adalah seorang Dukun yang dikenal cukup handal dalam memuaskan semua kliennya.Aina mengenalnya dari rekomendasi seorang rekannya yang sudah tau jam terbang si Dukun."Ini Ki, fotonya." Aina menyerahkan dua lembar foto ke tangan laki-laki itu. Laki-laki yang dipanggil Aki melihat foto itu dengan seksama. Tadinya dia duduk dengan santai sambil bersandar di sandaran sofanya. Tapi ketika melihat kedua foto itu, matanya membulat sempurna."Ada apa Ki?" tanya Aina yang melihat perubahan pada ekspresi Dukun itu. "Ini sulit dipercaya," gumam Dukun itu. "Kenapa emangnya Ki?" Aina semakin bingung melihat sikap Dukun itu. "Ini, siapa perempuan ini?" Dukun itu bertanya seraya menunjuk wajah Rosa."Dia istri kedua si Hasan, Ki. Orang yang mau saya hancurkan. Ini Ki." Aina menunjuk wajah Hasan dan Sari."Saya ingin menghancurkan keduanya Ki. Mereka

  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Masih ada luka

    "Sari, bisa kau temani aku ke toko Hasan? Aku juga ingin berkenalan dengan istri keduanya." Aina sudah mendapatkan foto Sari dan semua yang ada di rumahnya. Kini tinggal foto Hasan dan madu Sari.Permintaan Aina cukup mengundang tanya di hati Sari. Untuk apa Aina ingin berkenalan dengan Rosa?"Tak apa kan kalau aku ingin berkenalan dengan istri Hasan. Siapa tau, suatu hari nanti aku bersama dengan kawan-kawanku bertandang ke toko itu untuk membeli baju, jadi bisa diskon," kata Aina dibarengi dengan tertawa yang palsu, seolah Aina bisa mendengar kata hati Sari."Oh, boleh saja. Paman dan Bibi, mau ikut juga ke toko Bang Hasan?" tanya Sari. Beberapa tahun ini, Pak Fudin dan Bu Midah sudah sering datang ke rumah Sari dan sudah tau toko Hasan juga istri keduanya. Namun masih saja Pak Fudin belum bisa menerima kehidupan berpoligami yang dijalankan keponakannya itu. Hingga membuatnya sedikit enggan kalau harus sering bermanis-manis dengan Hasan. Dia tak marah karena Sari. "Kalian sajalah.

  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Akal busuk Aina

    "Emak mau kemana?" tanya Sari pada Rasidah yang ingin menuruni anak tangga. "Mau nasi," jawab Rasidah dengan wajah merajuk seperti anak kecil."Sebentar lagi ya Mak." Sari mencoba menahan Rasidah.Tapi Rasidah malah menepiskan tangan Sari. Wanita setengah baya yang terkadang sifatnya seperti anak kecil itu, tak peduli akan larangan Sari. Dia terus saja turun ke bawah. Sari menghentikan langkah kakinya tak berniat menyusul Rasidah. Akhirnya Sari hanya memperhatikannya dari atas saja. Denyut di punggungnya masih terasa, Sari meringis sambil mencoba merana bagian punggungnya.Bersamaan dengan itu, dia merasa mendengar suara Nyi Baisucen. "Kau dimana Sari?" Sari mencoba berkonsentrasi lagi. Mungkin dengan mengirimkan sinyal telepati, bibinya akan tau keberadaannya. Namun Sari merasa semua cukup aman, jadi dia tak perlu meminta bibinya untuk datang. Mungkin karena dia merasa cemas dengan kedatangan Ayah Rosa maka tanda lahirnya berdenyut."Bibi, Sari di rumah Bang Hasan." Suara batin Sa

  • DiSUKAI SILUMAN ULAR   Kedatangan Tuan Anaconda

    Tuan Anaconda sekali lagi memanggil Rosa dengan suara yang lebih kuat, "ROSA!" "I–iya Ayah," jawab Rosa gugup. Hasan segera mengajak Rehan dan Rasidah naik ke atas lagi. Namun Rasidah justru menolak, dia masih memegang paha ayam goreng yang sangat pesat terasa baginya. "Mamak bawa aja ayamnya semua. Makan di atas," bujuk Hasan. Akhirnya Rasidah mau juga. Rosa harap-harap cemas. Setelah melihat Hasan, Rehan dan Rasidah hampir sampai di lantai dua rumah mereka. Baru Rosa membuka pintu rukonya. "Kenapa lama sekali!" hardik Tuan Anaconda. "Tadi kuncinya susah dibuka Ayah," alasan Rosa."Kenapa Ayah datang malam-malam kesini?" tanya Rosa. "Apa harus ada alasan untuk bertandang ke rumah anak sendiri?" tanya Tuan Anaconda. Tuan Anaconda menyapu seluruh sudut ruko dengan matanya. Dia berjalan perlahan melihat setiap bagian sudut ruko Rosa yang banyak dihiasi manekin-manekin cantik yang dipakaikan baju contoh. "Mana suamimu?" "A–ada Yah. Di–atas." Rosa sangat gugup, takut kalau ayahn

DMCA.com Protection Status