Pak Fudin dan Bu Midah baru sampai di gubuk Sari. Sari langsung membantu mereka mengeluarkan semua barang belanjaan yang dipesannya. Semua langsung di pajang di warungnya yang kecil. Kini, warung yang tadinya mulai kosong, kembali berisi lagi. "Bi, ini uangnya." Sari memberikan uang pembayaran belanja untuk barang dagangannya pada Bu Midah. "Tak usah Sari, kau simpan saja." Bu Midah menolak."Tak Bi. Bibi harus menerima uang ini. Ini kan buat dijual kembali, Sari akan dapat keuntungannya. Lagipula, nanti Sari akan sungkan mau titip lagi," kata Sari membujuk Bu Midah menerima uang yang ada di tangannya. "Gunakan saja buat kepentingan anakmu. Bibi dan Paman masih ada uang." Bu Midah tetap menolak. "Alhamdulillah, buat anak-anak sudah tercukupi Bi. Keuntungan Sari cukup lumayan, karena pembeli lumayan ramai. Jadi Bibi tak usah cemas. Kalau Bibi tak mau menerima uang ini, Sari tak akan lagi mau menitip belanjaan sama Bibi. Sari akan ke Pasar sendiri saja." Sari tetap memaksa. Bu Mid
Aina terus mondar mandir di halaman rumahnya. Berulangkali kepalanya melongok ke jalan, barangkali dia melihat kedua orang tuanya. "Kemana Mama sama Ayah? Di telpon nggak diangkat! Bukannya pesan dari semalam kalau akan pergi." Aina terus menggerutu, dia menghentakkan kaki berjalan masuk ke rumahnya. Dia rebahan di sofa rumah tamu, menyalakan tivi untuk membunuh rasa bosan. Tapi tak ada acara yang menarik untuk dilihat karena dia masih memikirkan keberadaan orang tuanya. Berulangkali kali dia berdecak kesal dan melihat jam di dinding. Waktu seakan sangat lama berputar dia rasa. Padahal baru beberapa menit dia menunggu, tapi dirasa bagai sudah berjam-jam.Mobil Pak Fudin mulai memasuki pekarangan rumah, Aina yang mendengar suara mesin mobil segera bangkit. Beranjak keluar, namun hanya sampai di ambang pintu saja dia menghentikan langkah kakinya. Dari depan pintu dia memperhatikan Ayah dan mamanya yang baru saja sampai."Aina, bantu dulu angkat belanjaan!" Bu Midah memanggil Aina. De
Aina melaju lagi dengan kencang. Menuju ke rumah kontrakan Hasan. Dia tau dimana kontrakan Hasan, karena pernah menyelidiki sebelumnya. Waktu itu, Bu Midah yang meminta Aina mencari tau keberadaan Sari. Sekedar ingin tau, apakah Sari masih diam-diam meminta uang pada ayahnya. Saat itu, Bu Midah belum melunak hatinya. Masih keras seperti Aina. Perjalanan yang harusnya ditempuh satu jam, dengan kecepatan penuh, bisa ditempuh Aina dalam waktu setengah jam saja. Wak Esah yang sedang membersihkan rumt yang ada di halaman rumahnya, merasa heran, melihat ada seorang pengendara motor besar yang berhenti di depan kontrakan mereka. Lebih terkejut lagi, saat tau pengendaranya adalah seorang wanita. "Cari siapa Nak?" tanya Wak Esah. Aina tak turun dari atas motornya. Dia hanya memperhatikan pintu rumah Hasan yang tertutup rapat."Ini rumah si Hasan sama Sari kan, Bu?" tanya Aina. 'Iya, betul." "Orangnya ada di rumah?" tanya Aina lagi, tanpa sopan santun berbicara dengan orang yang lebih tua.
Wanita itu terperangah melihat siapa yang datang? Dia berdiri kaku, dengan sorot mata tak kalah tajam dengan Nyi Baisucen. "Bibi. Sari pikir, Bibi tak mendengar Sari memanggil," bisik Sari pada Nyi Baisucen yang memandang tamu Sari dengan sorot mata yang tajam. Sri belum menyadari situasi yang tengah terjadi. "Pastilah Bibi mendengar. Bibi sudah berjanji akan selalu melindungimu. Kapanpun dan dimanapun. Meski kau hanya menghubungi Bibi lewat telepati," sahut Nyi Baisucen. Matanya tetap tak lepas dari wanita itu yang kini berdiri tegak, urung hendak menggendong Rubi."Kenapa kau memanggil Bibi tengah malam begini?" tanya Nyi Baisucen pada Sari. "Tanda lahir Sari berdenyut. Bukankah Bibi bilang, itu pertanda ada siluman yang mendekat?" bisik Sari agar tak terdengar tamunya. Sari belum tau, siapa wanita yang ada di hadapannya. Hingga dia masih menjaga adab."Kau benar sekali," kata Nyi Baisucen, matanya tetap mengawasi wanita cantik yang merasa tak nyaman dengan kehadirannya."Sebenta
"Bi, Sari akan sabar menunggu. Sampai Emak bisa menerima Sari. Terasa ada yang mengganjal di hati Sari, bila Sari meninggalkan kota ini tanpa mengajak Emak. Walaupun Paman dan Bi Midah sudah menerima Sari sebagai bagian dari keluarganya. Tapi tetap saja, hati Sari menginginkan Emak untuk ikut dengan Sari. Sari benar-benar ingin merawat Emak." Sari mengungkapkan keinginan hatinya pada Nyi Baisucen. "Baiklah. Mungkin besok, Bibi akan membawanya ke sini. Biar dia mengenalmu," kata Nyi Baisucen memberi angin segar buat Sari.Senyum Sari merekah sempurna, menambah manis wajahnya. Hatinya sangat gembira, karena besok dia akan bertemu dengan Rasidah. Ibu kandung yang sangat dia rindukan. "Bibi hendak pulang sekarang, sebelum Paman Hanif curiga karena Bibi hanya meninggalkan raga Bibi saja. Ingat pesan Bibi, jangan bukakan pintu pada siapapun, kalau dia datang di tengah malam. Meskipun itu orang yang kau kenal. Dan jangan lalai, mandikan anak-anakmu dengan air bunga dan minyak kasturi," pes
"Ya Allah, kuatkan hamba. Beri kelapangan bagi hati hamba menerima setiap ketentuan dariMu," doa Sari sangat lirih.Sebelum turun dari tempat tidurnya. Dia memandangi wajah Rubi. Iba hatinya, sudut matanya berair, memikirkan masa depan Rubi. "Nak, tumbuhlah jadi pribadi yang baik, ya solehah Bunda. Ikhlas menerima keadaanmu. Bunda nggak akan pernah meninggalkan Rubi, meski semua orang menjauhi Rubi. Buat orang lain menyukai Rubi karena akhlakmu, ya Sayang," lirih Sari di telinga Rubi. Lalu turun dari tempat tidur setelah mencium bayi merahnya. "Abang. Bunda masak dulu ya Nak. Sebentar lagi, Nenek mau datang," kataku pada Rehan."Asik, benelan Bun?" Rehan seakan tak percaya. Dia sangat senang neneknya akan datang. Tapi dia tak tau, kalau yang dimaksud Sari adalah Rasidah. Bukan Bu Zubaedah. "Iya. Abang bantuin Bunda jaga warung ya. Sambil lihat Adek," kata Sari."Iya Bun. Cepat masaknya ya. Lehan lapal," kata Rehan. Meski bicaranya sudah lancar, tapi Rehan belum bisa melafazkan R de
Bu Midah belum mengetahui, siapa sebenarnya yang telah melakukan kekejian di masa lalu terhadap Rasidah. Dia hanya mengira, kalau orang kejam itu adalah manusia biasa juga. Apalagi setelah diberitahu, kalau orang jahat itu adalah kerabat Nyi Baisucen. Awalnya Bu Midah merasa heran, kenapa Nyi Baisucen bisa tau tentang Rasidah. Akhirnya Nyi Baisucen dan Pak Fudin mengarang cerita, kalau Nyi Baisucen tau, saudaranya telah memperkosa Rasidah, namun karena waktu itu dia masih remaja, dia juga tak berani buka suara. Tapi dia masih ingat dengan wajah Rasidah hingga kini. Beruntung, Bu Midah mudah saja percaya. Sebuah mobil sedan berhenti di depan gubuk Sari. Sari dan Bu Midah memperhatikan mobil itu, mengira hanya orang singgah yang hendak membeli sesuatu. Tapi, alangkah terharunya Sari, saat melihat Nyi Baisucen turun bersama dengan Rasidah.Sari berjalan mendekati emaknya, yang kini terlihat cantik dengan rambut yang digulung rapi. Rasidah masih bingung, mereka ada dimana sekarang. Sar
Hasan melihat rumah kontrakannya sangat sepi. 'Apa Sari belum belum balik ke rumah' batinnya.Hasan melihat dari balik pohon rambutan yang tak jauh dari rumahnya. Meski rasa rindu membuncah di dada, namun rasa malu juga takut pun mendominasi di hati. "San!""Hah!" Hasan terkejut, saat bahunya ditepuk oleh Budi."Buat apa kau mengintip seperti itu, seperti maling saja kau," sindir Budi. Mau tak mau, Hasan keluar dari persembunyiannya."Udah banyak duitmu," kata Budi sambil mencebik melihat sepeda motor matic jumbo model terbaru yang berada di dekat Hasan. Hasan terdiam, bingung mau bilang apa. Budi tak bisa menyembunyikan raut wajah tak suka pada Hasan. Budi marah, karena Hasan tak bertanggung jawab pada keluarganya. Apalagi berita Hasan telah menikah lagi dengan wanita kaya, sudah terdengar sampai ke telinga Budi. Sebagai sahabat, Budi sangat kecewa pada tindakan Hasan. "Motor baru, baju bagus, sepatu bagus. Mantap juga bini barumu," kata Budi sinis. Hasan menelan salivanya yang
Sari terus berusaha berkonsentrasi memanggil Nyi Baisucen. Dia harus tau kebenaran tentang Rosa. Apakah Rosa adalah saudari yang dicarinya selama ini?"Bibi Baisucen." Berulang kali Sari memanggil Nyi Baisucen. Namun Nyi Baisucen tak juga menjawabnya. Sari hampir putus asa. Kenapa bibinya tak menjawab panggilan darinya? Kalau dia ke klinik Pak Hanif, akan memakan waktu yang lama. Hampir setengah hari perjalanan menuju ke sana. Belum lagi perjalanan pulang. Dia tak bisa meninggalkan keluarganya dalam waktu yang lama. Sari mencoba untuk berkonsentrasi lagi. Mungkin tadi bibinya sedang sibuk pikirnya."Bibi Bai. Bibi Bai. Bibi Bai.""Ada apa Sari?" Sari lega, akhirnya Nyi Baisucen menjawab panggilannya. "Bibi bisa Bibi datang lagi? Ada yang hendak Sari bicarakan." "Bibi akan datang malam nanti. Klinik sedang ramai saat ini. Paman Hanif akan curiga." "Baik Bibi. Sari akan menunggu Bibi di taman kota." "Ya, Bibi akan menemuimu di sana." Sari mengakhiri panggilan telepatinya. Dia seg
Dua orang wanita cantik tampak sedang duduk berbincang di sebuah taman kecil yang ada di sebuah klinik pengobatan alternatif. Mereka adalah Nyi Baisucen dan Rosa. Sama dengan Sari, Rosa juga merasakan ada suatu kejanggalan dengan perbincangan mereka tadi malam. "Bi, katakan yang sejujurnya. Apa yang sedang Bibi sembunyikan? Kenapa Bibi bilang Sari adalah kemanakan Bibi? Bagaimana hal itu bisa terjadi, sementara Sari itu manusia sejati? Berbeda dengan Bibi." Rosa mencecar Nyi Baisucen dengan pertanyaan yang sejak tadi malam juga menggelayuti hatinya. Nyi Baisucen masih diam dengan pandangan lurus ke depan. Dia sedang memikirkan, bagaimana cara mengawali ceritanya pada Rosa."Kenapa Bibi diam? Apa ada yang sedang Bibi sembunyikan." Rosa menyelidik."Rosa, memang sudah seharusnya kau tau cerita ini. Sejak lama Bibi ingin menceritakan padamu, tapi Bibi tak bisa. Ayahmu melarang siapapun untuk menceritakan kebenaran ini padamu." "Apa maksud Bibi?" tanya Rosa dengan alis menaut. Nyi Bai
"Siapa yang datang pagi buta begini?" tanya Nyi Baisucen pada Sari, pandangannya tak lepas dari Honda HR V warna silver yang sedang parkir di pekarangan rumah Sari."Itu mobil Bang Hasan, Bi. Ada apa ya?" Sari pun bertanya-tanya. Hasan turun lebih dulu, baru disusul oleh Rosa. Nyi Baisucen terkesiap melihat keduanya. Matanya tak bisa berkedip sama sekali. "Siapa yang bersama dengan Hasan, Sari?" Dia bertanya, untuk memastikan dugaannya tak salah. "Itulah istri kedua Bang Hasan, Rosa namanya." Nyi Baisucen terperangah, tak percaya mendengar hal yang diungkapkan Sari. Nyi Baisucen terduduk lemas. 'Berarti, orang yang telah kudukung untuk menikahi Rosa adalah Hasan' batinnya.Penyesalan segera menyergap kalbu Nyi Baisucen. Kenapa dulu dia tak menyelidiki terlebih dahulu, siapa laki-laki yang dicintai Rosa? Sayangnya dia tak hadir pada saat Rosa menikah, hingga dia tak juga mengenal suami Rosa. Apalagi sudah sangat lama Rosa dan Nyi Baisucen tak lagi bertemu."Bibi!" Rosa sangat terk
Rosa langsung membawa Hasan ke rumah ayahnya, setelah sebelumnya memanipulasi penglihatan Hasan. Sehingga yang tampak di pandangan Hasan adalah sebuah rumah yang mewah juga megah, dengan banyak security yang berjaga di setiap sisinya, baik diluar maupun di dalam. Security itu langsung membuka pintu rumah tatkala melihat kehadiran Rosa beserta suaminya. Sampai di dalam Rosa berpapasan dengan Sanca yang melihatnya dengan sinis. "Mau apa kesini, tengah malam begini?" sinis Sanca. ''Aku mau bertemu Ayah." Rosa tak lagi memperdulikan Sanca, dia langsung berjalan melenggang tanpa peduli dengan tatapaan tak suka Sanca pada Hasan.Apalagi Rosa melihat wajah Hasan kian memerah karena suhu tubuhnya semakin meningkat. Rosa menggandeng tangan Hasan yang panas untuk mempercepat langkah kakinya. Tak dipedulikan rasa terbakar di telapak tangannya.Rosa langsung menuju ke kamar Tuan Anaconda, sempat dia juga berpapasan dengan Panglima Derik di depan pintu kamar Tuan Anaconda. Walaupun Panglima Der
Hasan merasa sangat gelisah malam ini, tubuhnya terasa panas. Dia senantiasa merasa kegerahan, hingga bajunya basah karena keringat. Berulang kali dia mengganti posisi tidurnya tapi tak membantu juga untuk mengurangi rasa gerah yang sedang menderanya. Rosa merasa tempat tidurnya terus berderit sejak tadi. Dia membuka matanya, lantas melihat suaminya yang tidur dengan gelisah. Alisnya menaut melihat suaminya yang bertingkah aneh."Kenapa Bang?" tanyanya pada suaminya, lantas duduk di atas ranjangnya.Dicepolnya asal rambutnya yang ikal mayang itu, hingga menampakkan dengan jelas lehernya yang jenjang."Gerah," jawab Hasan sambil mengipasi tubuhnya dengan baju sendiri. Rosa melihat ac di kamarnya, ac nya hidup. Tak ada masalah dengan itu. Gadis cantik itu bangkit, untuk memeriksa kondisi suaminya. "Astaga! Badan Abang panas sekali!" pekiknya ketika punggung tangannya ditempelkan ke dahi Hasan. Hasan duduk, dibukanya baju yang telah basah oleh keringat. Namun tak juga mengurangi rasa
Aina duduk di hadapan seorang laki-laki paruh baya yang penampilannya tampak biasa saja. Siapa yang sangka kalau orang yang berada di depannya itu adalah seorang Dukun yang dikenal cukup handal dalam memuaskan semua kliennya.Aina mengenalnya dari rekomendasi seorang rekannya yang sudah tau jam terbang si Dukun."Ini Ki, fotonya." Aina menyerahkan dua lembar foto ke tangan laki-laki itu. Laki-laki yang dipanggil Aki melihat foto itu dengan seksama. Tadinya dia duduk dengan santai sambil bersandar di sandaran sofanya. Tapi ketika melihat kedua foto itu, matanya membulat sempurna."Ada apa Ki?" tanya Aina yang melihat perubahan pada ekspresi Dukun itu. "Ini sulit dipercaya," gumam Dukun itu. "Kenapa emangnya Ki?" Aina semakin bingung melihat sikap Dukun itu. "Ini, siapa perempuan ini?" Dukun itu bertanya seraya menunjuk wajah Rosa."Dia istri kedua si Hasan, Ki. Orang yang mau saya hancurkan. Ini Ki." Aina menunjuk wajah Hasan dan Sari."Saya ingin menghancurkan keduanya Ki. Mereka
"Sari, bisa kau temani aku ke toko Hasan? Aku juga ingin berkenalan dengan istri keduanya." Aina sudah mendapatkan foto Sari dan semua yang ada di rumahnya. Kini tinggal foto Hasan dan madu Sari.Permintaan Aina cukup mengundang tanya di hati Sari. Untuk apa Aina ingin berkenalan dengan Rosa?"Tak apa kan kalau aku ingin berkenalan dengan istri Hasan. Siapa tau, suatu hari nanti aku bersama dengan kawan-kawanku bertandang ke toko itu untuk membeli baju, jadi bisa diskon," kata Aina dibarengi dengan tertawa yang palsu, seolah Aina bisa mendengar kata hati Sari."Oh, boleh saja. Paman dan Bibi, mau ikut juga ke toko Bang Hasan?" tanya Sari. Beberapa tahun ini, Pak Fudin dan Bu Midah sudah sering datang ke rumah Sari dan sudah tau toko Hasan juga istri keduanya. Namun masih saja Pak Fudin belum bisa menerima kehidupan berpoligami yang dijalankan keponakannya itu. Hingga membuatnya sedikit enggan kalau harus sering bermanis-manis dengan Hasan. Dia tak marah karena Sari. "Kalian sajalah.
"Emak mau kemana?" tanya Sari pada Rasidah yang ingin menuruni anak tangga. "Mau nasi," jawab Rasidah dengan wajah merajuk seperti anak kecil."Sebentar lagi ya Mak." Sari mencoba menahan Rasidah.Tapi Rasidah malah menepiskan tangan Sari. Wanita setengah baya yang terkadang sifatnya seperti anak kecil itu, tak peduli akan larangan Sari. Dia terus saja turun ke bawah. Sari menghentikan langkah kakinya tak berniat menyusul Rasidah. Akhirnya Sari hanya memperhatikannya dari atas saja. Denyut di punggungnya masih terasa, Sari meringis sambil mencoba merana bagian punggungnya.Bersamaan dengan itu, dia merasa mendengar suara Nyi Baisucen. "Kau dimana Sari?" Sari mencoba berkonsentrasi lagi. Mungkin dengan mengirimkan sinyal telepati, bibinya akan tau keberadaannya. Namun Sari merasa semua cukup aman, jadi dia tak perlu meminta bibinya untuk datang. Mungkin karena dia merasa cemas dengan kedatangan Ayah Rosa maka tanda lahirnya berdenyut."Bibi, Sari di rumah Bang Hasan." Suara batin Sa
Tuan Anaconda sekali lagi memanggil Rosa dengan suara yang lebih kuat, "ROSA!" "I–iya Ayah," jawab Rosa gugup. Hasan segera mengajak Rehan dan Rasidah naik ke atas lagi. Namun Rasidah justru menolak, dia masih memegang paha ayam goreng yang sangat pesat terasa baginya. "Mamak bawa aja ayamnya semua. Makan di atas," bujuk Hasan. Akhirnya Rasidah mau juga. Rosa harap-harap cemas. Setelah melihat Hasan, Rehan dan Rasidah hampir sampai di lantai dua rumah mereka. Baru Rosa membuka pintu rukonya. "Kenapa lama sekali!" hardik Tuan Anaconda. "Tadi kuncinya susah dibuka Ayah," alasan Rosa."Kenapa Ayah datang malam-malam kesini?" tanya Rosa. "Apa harus ada alasan untuk bertandang ke rumah anak sendiri?" tanya Tuan Anaconda. Tuan Anaconda menyapu seluruh sudut ruko dengan matanya. Dia berjalan perlahan melihat setiap bagian sudut ruko Rosa yang banyak dihiasi manekin-manekin cantik yang dipakaikan baju contoh. "Mana suamimu?" "A–ada Yah. Di–atas." Rosa sangat gugup, takut kalau ayahn