Pagi itu, Clara merasa ada sesuatu yang berbeda di udara. Pagi biasanya selalu dimulai dengan secangkir kopi di meja kerjanya, tetapi kali ini ada ketegangan yang terasa lebih berat. Sejak beberapa hari terakhir, dia merasakan adanya tekanan yang tak terucapkan. Keputusan-keputusan penting mulai datang bertubi-tubi, dan Clara merasa seolah-olah berada di persimpangan jalan, bingung memilih arah yang tepat. Sejak pengumuman hubungan mereka ke seluruh tim, Clara dan Kieran mencoba untuk tetap menjaga jarak profesional di kantor. Mereka tidak membiarkan perasaan pribadi mengganggu pekerjaan mereka, tetapi meskipun begitu, Clara tahu bahwa dunia tidak seceria seperti yang mereka bayangkan. Spekulasi masih terus berkembang, dan beberapa orang di kantor mulai lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan mereka. Belum lagi, beberapa hari yang lalu, ada sebuah kabar buruk yang datang dari luar perusahaan. Beberapa klien besar yang sedang dalam tahap negosiasi mulai menarik diri
Hari itu terasa lebih berat dari biasanya. Clara duduk di mejanya, menatap layar komputer dengan pikiran yang tidak terfokus. Pekerjaan menumpuk, namun hatinya terasa kosong. Ada begitu banyak hal yang masih belum diselesaikan—baik di tempat kerja maupun dalam hubungannya dengan Kieran. Meskipun mereka berhasil melalui rapat dewan yang menentukan nasib mereka, ketegangan yang tersisa tetap ada, seolah-olah sebuah bayangan yang terus mengikutinya. Dua minggu terakhir memang terasa penuh perubahan. Keputusan restrukturisasi yang diambil perusahaan memang memberi Clara dan Kieran sebuah kesempatan untuk bertahan, namun perasaan tidak tenang tetap menghantui. Beberapa rekan kerja mulai terlihat lebih dingin dan kurang terbuka, bahkan ada yang mulai memperlakukan Clara dengan sikap yang lebih dingin daripada sebelumnya. Clara tahu itu bukan sekadar perasaan—perubahan itu nyata. Saat Clara sedang memeriksa email, pintu ruangannya terbuka. Kieran masuk dengan langkah yang cepa
Hari-hari berlalu dengan kecepatan yang tak terduga. Clara merasakan bahwa dunia di sekelilingnya semakin penuh tekanan. Setiap kali dia berjalan ke kantor, ada beban yang berat di pundaknya, seperti ada ribuan pasang mata yang mengawasi setiap langkahnya. Begitu banyak hal yang harus dijalani dan dipertanggungjawabkan, tetapi satu hal yang tidak bisa ia pungkiri: segala sesuatunya kini lebih rumit daripada sebelumnya. Keputusan-keputusan penting mengenai restrukturisasi perusahaan terus datang, dan meskipun posisi Kieran sebagai CEO tetap kokoh, banyak pihak yang mulai meragukan kemampuan mereka untuk menjaga stabilitas perusahaan, terutama setelah hubungan pribadi mereka terungkap. Pada pagi itu, Clara sedang duduk di mejanya, menatap layar komputer dengan pikiran yang kosong. Seminggu terakhir terasa seperti serangkaian pertemuan yang tak berkesudahan, dengan klien yang semakin khawatir dan rekan kerja yang mulai menunjukkan sikap dingin. Clara tahu bahwa situasi ini
Setelah keputusan besar yang mereka buat di kafe kecil itu, Clara merasa seolah-olah dunia di sekitarnya berhenti sejenak. Namun, kenyataan yang tak terelakkan segera kembali menghampiri. Tugas-tugas yang menumpuk, ketegangan yang melingkupi mereka, dan pertanyaan tentang masa depan perusahaan yang semakin nyata membuat Clara merasa semakin tertekan. Tapi ada satu hal yang tetap memberi Clara semangat. 'Kieran memilih kita,' pikirnya dengan penuh keyakinan. 'Kami akan melewati ini bersama-sama.' Namun, seperti halnya hidup yang tak pernah berjalan mulus, ada banyak rintangan yang harus dihadapi. Clara merasakan hari-hari berikutnya begitu penuh dengan tekanan, baik di tempat kerja maupun dalam hubungan mereka. Meski Kieran berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan situasi di luar sana, hubungan mereka tetap berada di bawah sorotan yang tajam. Pada suatu pagi yang kelabu, Clara berjalan menuju ruang rapat dengan langkah yang terhuyung-huyung. Hari itu adalah rapat pent
Hari-hari berlalu dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, seperti arus deras yang tak bisa dihalangi. Clara merasakan tekanan yang semakin berat dari setiap sisi. Keputusan untuk menghadapi dunia luar dengan pernyataan terbuka dari Kieran memang memberikan dampak yang cukup signifikan. Beberapa klien utama mereka mulai menunjukkan tanda-tanda dukungan, namun ada juga yang semakin ragu. Di sisi lain, para karyawan di kantor tampak semakin lelah dan cemas. Semua orang bisa merasakan perubahan, dan mereka semua tahu, hari-hari ke depan tidak akan mudah. Clara berjalan menyusuri koridor kantor yang lengang, memikirkan segala sesuatu yang baru saja terjadi. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan, pertanyaan yang tidak hanya berkisar pada pekerjaan, tetapi juga tentang hubungan mereka dengan Kieran. Keputusan besar yang mereka buat bersama, untuk bertahan melawan tekanan dan ketidakpastian, mulai terasa lebih menantang. Meski mereka berdua merasa yakin, dunia di seki
Hari-hari berlalu, dan Clara merasakan kelelahan yang semakin berat. Meskipun mereka telah melakukan segala upaya untuk memperbaiki kondisi perusahaan, dunia di luar sana tidak memberi tanda-tanda akan berubah. Setiap panggilan telepon, setiap rapat, setiap percakapan dengan Kieran dan tim, terasa semakin menambah beban di pundaknya. Namun, ada satu hal yang Clara tahu dengan pasti: apapun yang terjadi, dia harus tetap ada di sisi Kieran. Tak peduli betapa beratnya keadaan, tak peduli seberapa besar rasa takut dan cemas yang dia rasakan, dia tahu mereka harus menghadapi semuanya bersama. Beberapa hari setelah pertemuan dengan klien utama mereka, Kieran mulai menerima kabar buruk dari beberapa klien lainnya. Salah satu investor besar, yang selama ini menjadi penyokong utama perusahaan, mulai mengurangi investasi mereka. Laporan keuangan yang masuk ke meja Kieran menunjukkan angka-angka yang menurun tajam. Keputusan yang sudah diambil ternyata tidak cukup untuk membali
Beberapa minggu setelah keberhasilan proposal mereka, Clara dan Kieran merasakan perubahan yang cukup signifikan dalam alur kerja mereka. Meskipun mereka berhasil mendapatkan kembali kepercayaan dari klien-klien utama, tekanan untuk mempertahankan dan mengembangkan perusahaan semakin berat. Tidak hanya itu, hubungan profesional mereka yang semakin intens juga mulai menunjukkan sisi-sisi yang lebih rumit. Mereka kini berada dalam sebuah persimpangan jalan. Di satu sisi, mereka harus terus berjuang untuk mencapai target-target yang lebih tinggi, di sisi lain, kedekatan yang semakin dalam antara mereka berdua mulai merambah ke ranah pribadi yang sulit dihindari. Kieran mengumpulkan seluruh timnya untuk membahas langkah-langkah ke depan. Ruangan rapat di lantai atas gedung perusahaan dipenuhi oleh para eksekutif dan staf penting yang terlibat langsung dalam rencana ekspansi besar-besaran. Clara duduk di samping Kieran, selalu siap memberikan ide dan masukan yang bisa memb
Suasana di ruang konferensi terasa lebih berat dari biasanya. Clara duduk di meja panjang, matanya fokus pada layar di depannya yang penuh dengan angka-angka dan grafik yang semakin menurun. Hatinya mulai merasa tertekan, dan perasaan cemas mulai merayap di setiap sel tubuhnya. Di sisi lain meja, Kieran duduk tegak, ekspresinya lebih serius dari biasanya. Bibirnya rapat, seolah ada sesuatu yang sangat berat yang sedang dipikirkannya. Di luar jendela, cuaca mendung, menyarankan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Hujan rintik-rintik tampak mengaburkan pandangan kota, menciptakan suasana murung di dalam ruangan. Kieran mengangkat tangan, menyentuh dahi sejenak, lalu menatap Clara dengan tatapan yang penuh beban. "Clara," suara Kieran menggema lembut, namun di dalamnya tersirat ketegangan yang begitu dalam. "Kita di ujung tanduk. Ekspansi internasional ini—aku butuh kamu lebih dari sebelumnya." Clara menatapnya, mencoba membaca ekspresinya. Di balik tatapan tajam
Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu, dan Clara merasa seolah-olah berada di persimpangan jalan yang tak kunjung menemukan petunjuk yang jelas. Meskipun ia berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya, bayang-bayang percakapan dengan Kieran terus menghantui pikirannya. Setiap detik, setiap menit, ia merenung, berusaha mencari jawaban yang tepat. Kieran, di sisi lain, memberi ruang untuk Clara. Ia tidak mendesak, tidak memaksa. Ia tahu bahwa keputusan itu harus datang dari Clara sendiri. Meski demikian, ia tetap merasa cemas. Setiap kali ia melihat Clara di kantor, ada kerinduan di matanya, sebuah harapan yang belum sepenuhnya terkubur. Pagi itu, Clara berdiri di depan cermin di kamarnya, mencoba untuk meresapi setiap kata yang pernah ia dengar. "Aku ingin kita bersama, dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi. Tapi aku menghormati keputusanmu." Kata-kata Kieran itu terus mengiang di telinganya. Namun, yang lebih mengganggunya adalah perasaan di dalam hatinya yang terus bergejol
Keesokan harinya, Clara terbangun dengan perasaan campur aduk. Matanya masih sedikit berat, seolah semalam tidur tidak cukup, tapi ada satu hal yang membuatnya terjaga lebih cepat dari biasanya—panggilan yang sudah lama ia hindari. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya meraih telepon genggamnya. Pesan dari Kieran masuk beberapa menit lalu._"Clara, bisa kita bicara serius hari ini? Aku butuh kamu di kantor lebih awal. Ada keputusan penting."_Clara menatap layar teleponnya, berpikir sejenak. Beberapa minggu terakhir, ia merasa hubungan mereka semakin intens. Tidak hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam hubungan pribadi mereka yang mulai berkembang ke arah yang tidak terduga. Meskipun dia mencoba untuk tetap profesional, ada perasaan yang sulit diabaikan.Dia mengenakan jas hitam yang sudah siap disiapkan di lemari, memperhatikan dirinya di cermin. Wanita itu merasa siap, tetapi hatinya terasa tidak sepenuhnya tenang. Ada pertanyaan yang terus menghantui pikirannya: Apakah
Hari-hari setelah percakapan itu terasa berbeda bagi Clara. Setiap kali dia bertemu Kieran, perasaan di antara mereka semakin sulit untuk disembunyikan. Setiap tatapan, setiap senyuman, bahkan setiap kali mereka berbicara, terasa lebih dalam, lebih penuh makna. Namun, meskipun ada kedekatan yang mulai tumbuh, Clara merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Sebuah perasaan takut yang tak bisa dia singkirkan begitu saja.Di sisi lain, Kieran juga tidak bisa menyembunyikan perasaan yang semakin kuat. Dia tahu bahwa hubungan mereka yang awalnya profesional kini telah bergeser, tetapi dia juga tidak bisa lagi mengabaikan perasaan itu. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk Clara, tetapi dalam proses itu, dia juga merasakan kecemasan—apakah keputusan yang mereka ambil ini benar? Apakah mereka siap menghadapi konsekuensinya?Suatu sore yang mendung, Kieran mengajak Clara untuk berjalan-jalan setelah rapat yang cukup panjang. Mereka berdua berjalan keluar dari kantor, menuju tam
Clara menatap layar ponselnya dengan mata yang mulai lelah. Setiap detik yang berlalu terasa seperti beban berat di pundaknya. Meskipun bekerja dengan Kieran sudah menjadi rutinitas yang familiar, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan yang tak bisa dia pungkiri. Setiap kali dia bertemu dengannya, rasanya ada jarak yang semakin besar, meskipun mereka hanya berada beberapa langkah dari satu sama lain.Ponsel di tangannya bergetar. Clara segera mengangkatnya, berharap itu adalah Kieran yang ingin membahas beberapa hal penting.“Clara, bisa ketemu di kantor sebentar? Ada hal yang perlu dibicarakan,” suara Kieran terdengar begitu serius, bahkan sedikit dingin. Clara bisa merasakan ketegangan yang mengalir dalam kata-katanya.“Baik, saya akan segera ke sana,” jawab Clara, berusaha menjaga ketenangan dalam suaranya meskipun hatinya berdebar tak karuan.Setelah menutup telepon, Clara menatap sekilas ke luar jendela. Cuaca yang mendung seakan mencerminkan perasaan yang sedang m
Pagi berikutnya, Clara tiba lebih awal di kantor. Pagi itu terasa berbeda. Semua terasa lebih sunyi, lebih hening. Hanya ada suara langkah kakinya yang menggema di sepanjang lorong kantor. Meskipun seluruh dunia terasa sama, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Perasaan yang dia rasakan sejak pertemuannya dengan Kieran kemarin semakin menggelora. Kata-kata Kieran terngiang di telinganya, memutar ulang setiap detil percakapan mereka. Aku sangat menghargaimu lebih dari yang kamu bayangkan.Kalimat itu mengusik pikirannya, membuatnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya dimaksud Kieran. Apa benar kata-kata itu hanya sekedar ungkapan dukungan profesional? Ataukah ada lebih banyak yang ingin ia sampaikan? Clara berusaha mengalihkan pikirannya dengan menatap layar komputernya, berharap pekerjaan yang menumpuk bisa membuatnya fokus kembali. Namun, ada sesuatu yang menghalangi pikirannya—keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang Kieran. Perasaan itu semakin sulit untuk dibendung.
Clara menghirup napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri setelah pertemuan tadi. Semua rasanya semakin rumit. Di satu sisi, dia merasa semakin terikat dengan Kieran, tapi di sisi lain, perasaan cemas terus menghantui dirinya. Apakah dia mampu menghadapi semua ini? Apakah dia bisa tetap menjaga profesionalismenya di tengah perasaan yang semakin kuat?Setelah pertemuan yang intens tadi, Clara merasa seolah-olah dunia di sekitarnya tiba-tiba bergerak lebih cepat. Kieran, CEO yang sangat karismatik dan penuh pesona, sudah cukup membuatnya merasa terombang-ambing. Namun, ada satu hal yang membuatnya merasa terjebak dalam perasaan yang semakin dalam: Kieran tak pernah ragu menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya.Dan itu yang membuat Clara bingung.Di luar kantor, dia berusaha menjaga jarak, namun dalam setiap interaksi yang mereka miliki, ada semacam kedekatan yang tak bisa dia hindari. Clara merasa seperti berada dalam perangkap antara hati dan kewajiban profesionalnya.Seusai p
Keputusan yang diambil Clara beberapa hari lalu masih terus menghantuinya. Meskipun Kieran sudah memberikan ruang dan waktu baginya untuk berpikir, hatinya tidak bisa menenangkan diri. Setiap detik yang berlalu terasa berat, penuh dengan pertanyaan yang menggantung di benaknya. Apakah mereka benar-benar siap untuk menjalani hubungan ini? Apakah mereka bisa menghindari masalah yang mungkin muncul, terutama di tempat kerja mereka yang penuh dengan tekanan dan harapan tinggi?Hari itu, Clara duduk di meja kerjanya, menatap layar komputer tanpa benar-benar melihat apa yang tertulis di sana. Pikirannya melayang, berulang kali kembali pada percakapan terakhirnya dengan Kieran. Ada sesuatu tentang lelaki itu yang membuat Clara merasa nyaman, merasa diterima, dan itu sangat jarang dia rasakan. Namun, ada juga rasa takut yang tak terelakkan—takut akan kehilangan kontrol, takut akan mengorbankan sesuatu yang lebih besar dari perasaan mereka berdua.Kieran muncul di pintu kantor Clara, me
Pagi itu Clara merasakan ada yang berbeda. Meskipun hari-harinya dipenuhi dengan rapat dan tenggat waktu yang ketat, ada sesuatu dalam udara yang membuatnya merasa lebih waspada. Tidak ada yang dapat dia ungkapkan, namun perasaan itu mengendap dalam hati, menyesakkan. Kieran datang lebih pagi dari biasanya, dan itu membuat Clara penasaran. Ada yang aneh, ada ketegangan yang tidak bisa dia hilangkan meskipun mereka sudah berusaha untuk menjaga semuanya tetap profesional.Hari ini, meskipun rapat dimulai seperti biasa, ada suasana yang berbeda di antara mereka. Kieran duduk di meja yang biasa, matanya tidak langsung beralih ke Clara. Namun, ketika rapat berakhir, matanya bertemu dengan Clara dalam sekejap—penuh makna. “Kita perlu bicara,” ucap Kieran, suara rendah namun tegas.Clara mengangguk, merasa ada sesuatu yang penting yang perlu diungkapkan. Tanpa kata-kata lebih lanjut, mereka berjalan keluar dari ruang rapat, menuju ke ruang yang lebih pribadi. Ketika pintu tertutup, Cla
Clara duduk di meja kantornya, jari-jarinya bermain dengan pena sambil matanya terfokus pada layar komputer. Kerjaannya terasa begitu membebani, tapi dia tahu ini adalah pilihan yang telah dia buat. Proyek besar yang dihadapi Kieran dan perusahaan mereka tidak bisa dianggap remeh. Namun, Clara merasakan ada sesuatu yang lebih dalam yang mengikat dirinya dengan Kieran.Pikirannya terus berputar tentang percakapan mereka semalam. Kieran—yang tampak dingin dan profesional—ternyata memiliki sisi lain yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Sesekali, tatapan Kieran yang tajam dan penuh tekanan, mengarah padanya, namun malam itu, dia menunjukkan sisi manusiawi yang lebih lembut. Apa yang membuatnya berubah? Ataukah Clara yang mulai melihat Kieran dengan cara yang berbeda?Keringat mulai terasa di pelipisnya. Fokusnya terganggu oleh detak jantung yang terasa lebih cepat dari biasanya. Clara menutup matanya sesaat, mencoba menenangkan diri. Dia harus tetap profesional. Tidak boleh ada ru