Share

Bab 121

Penulis: Zayba Almira
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-21 15:48:54

Clara kembali duduk di mejanya, mata memandang layar komputer yang menyala, namun pikirannya melayang jauh.

Proyek besar yang mereka kerjakan mendekati akhir, dan tekanan semakin terasa.

Setiap langkah yang mereka ambil sepertinya dipenuhi dengan risiko, dan kadang, Clara merasa seperti ia sedang berada di tepi jurang, siap jatuh.

Namun, saat pandangannya melirik ke foto kecil di meja kerjanya—foto bersama Kieran di sebuah restoran kecil di luar kota beberapa bulan yang lalu—semua kecemasan itu sejenak menghilang.

Senyuman Kieran di foto itu terasa begitu nyata, seperti dirinya hadir di ruangan ini, memberikan dukungan tak terucapkan.

Pintu ruangan itu terbuka perlahan, dan suara langkah kaki yang pasti terdengar.

Clara menoleh, dan seperti yang dia duga, Kieran sudah berdiri di sana dengan senyum khasnya.

"Kamu sibuk?" tanya Kieran dengan suara rendah, seakan sudah tahu jawabannya.

Clara hanya mengangkat bahunya dengan sedikit canggung. "Sibuk, tapi... aku rasa aku bisa mengatur
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 122

    Hari-hari berlalu dengan cepat, dan tekanan dari proyek besar yang sedang mereka jalani semakin intens. Clara merasa beban itu semakin berat, terutama karena ia mulai menyadari bahwa banyak keputusan yang mereka ambil tidak hanya mempengaruhi perusahaan, tetapi juga kehidupan pribadi mereka. Keputusan yang penuh dengan konsekuensi, yang jika salah, bisa menghancurkan segalanya.Malam itu, setelah seharian bekerja tanpa henti, Clara akhirnya duduk di ruang tamunya yang sunyi, hanya ditemani lampu meja yang redup. Suara hujan yang jatuh di luar jendela memberi kesan tenang, meskipun hatinya tak secerah itu. Di mejanya, ada tumpukan dokumen yang menunggu untuk dibaca, tapi Clara tak mampu lagi melanjutkan pekerjaan. Matanya terasa lelah, dan pikirannya mulai buntu.Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Namun, suara ketukan di pintu membuatnya terjaga. Tanpa menunggu lebih lama, Clara membuka pintu dan mendapati Kieran berdiri di sana dengan senyum yang tampak sedikit

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-21
  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 123

    Pagi itu, Clara terbangun dengan perasaan yang lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya. Meskipun tantangan proyek besar yang mereka jalani masih mengintai, ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Semalam, perbincangannya dengan Kieran memberi perspektif baru. Ada banyak ketidakpastian di depan mereka, tapi saat itu, mereka saling menguatkan. Clara berjalan menuju dapur dan menyeduh kopi. Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk berlarut-larut dalam keraguan. Mungkin inilah waktunya untuk melangkah lebih jauh. Sambil menunggu kopi di atas meja, matanya melirik ponsel yang tergeletak di sampingnya. Ada pesan singkat dari Kieran yang baru saja masuk. "Selamat pagi, Clara. Hari ini kita akan membuat keputusan besar. Tapi jangan khawatir, kita akan lakukan bersama-sama. Semangat!"Clara tersenyum kecil membaca pesan itu. Ada kehangatan yang terpancar dari setiap kata yang ditulisnya. Sepertinya, Kieran benar—meskipun keputusan besar menunggu di depan, mereka tidak sendirian. Mere

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-22
  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 124

    Hari itu terasa berbeda. Setelah keputusan untuk menunda jadwal pengumuman, Clara merasa bahwa beban di pundaknya sedikit lebih ringan. Namun, meski itu keputusan yang tepat, ada sesuatu yang masih mengganjal di dalam hatinya. Seperti ada teka-teki yang belum terungkap, dan entah kenapa, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sambil memeriksa laporan terbaru di meja kerjanya, matanya melintas pada gambar proyek besar yang mereka kerjakan. Itu adalah mimpi besar yang mereka bangun bersama—sebuah pencapaian yang tidak hanya penting untuk perusahaan, tetapi juga bagi masa depan Clara dan Kieran. Namun, di tengah perjalanan itu, Clara merasa seolah ada sesuatu yang lebih besar yang sedang mengintai mereka.Kieran datang menghampiri meja Clara dengan langkah santai. Tanpa sepatah kata, dia duduk di kursi di sebelah Clara dan meletakkan secangkir kopi di depan Clara. Sepertinya, Kieran tahu bahwa Clara membutuhkan waktu untuk berpikir dan merefleksikan semua yang terjadi."Sudah lam

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-22
  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 125

    Hari-hari berlalu dengan cepat, namun Clara tak bisa menepis rasa gelisah yang menggerogoti dirinya. Setiap langkah yang diambil terasa lebih berat, seakan ada bayangan yang mengikuti, menunggu untuk menjatuhkan mereka semua. Meski ia sudah bekerja keras untuk menggali lebih dalam, teka-teki yang dihadapi masih tetap kabur, menyisakan ketidakpastian yang menghantui pikirannya. Pagi itu, Clara duduk di meja kerjanya dengan secangkir teh yang sudah lama dingin. Matanya tertuju pada layar komputer, namun pikirannya terlempar jauh, berpacu pada jejak-jejak yang baru saja ia temui. Ia sudah berbicara dengan beberapa orang di departemen pengembangan, dan dari percakapan itu, satu hal yang semakin jelas: ada seseorang di dalam perusahaan ini yang bermain di belakang layar, yang tidak hanya memiliki motif tersembunyi, tetapi juga memiliki koneksi yang kuat. Clara menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Mencari tahu siapa pengkhianat yang telah mencoba mengacaukan p

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-24
  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 126

    Hari itu, seperti biasa, Clara mulai dengan langkah ringan menuju kantor Kieran. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan yang belum bisa diajelaskan, sebuah ketidakpastian yang seolah mengikat dadanya. Meskipun sudah berusaha mengesampingkan perasaan tersebut, entah mengapa, semuanya terasa semakin rumit. Clara selalu memulai pagi dengan semangat meskipun kadang sulit untuk tidak memikirkan sosok Kieran. Pria itu bukan hanya CEO yang cerdas dan berkarisma, tapi juga seseorang yang mampu menggetarkan hati Clara dengan cara yang tak pernah ia duga. Meski hubungan mereka telah berlangsung cukup lama, Clara tahu ada banyak yang harus dihadapi. Ia masih merasa ada dinding tebal antara mereka, satu yang tak bisa ia tembus meski sudah berusaha sekuat tenaga. Sesampainya di kantor, Clara langsung menuju ruang kerja Kieran. Seperti biasa, pintu terbuka dengan suara desisan halus, menandakan bahwa Kieran sudah berada di dalam. Clara menatap sosok Kieran yang sedang

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-24
  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 127

    Hari demi hari, Clara mulai merasakan perubahan yang semakin nyata dalam hubungannya dengan Kieran. Sesuatu yang dulu tampak begitu sederhana, kini terasa semakin rumit dan penuh dengan ketegangan yang tak terucapkan. Walaupun di luar tampak biasa, di dalam dirinya, Clara merasa seperti berada di tepi jurang—sebuah tempat yang penuh dengan ketidakpastian.Kieran, meskipun mencoba untuk bersikap profesional dan jarang menunjukkan kelemahan di depan Clara, tak bisa menyembunyikan kegelisahan yang ada. Clara bisa melihatnya, dengan cara-cara kecil yang selama ini ia anggap biasa—seperti caranya menatap layar komputer tanpa benar-benar fokus, atau cara dia menggigit bibir bawahnya saat merasa tertekan.Clara mengerti, meskipun dia tidak tahu persis apa yang sedang terjadi dalam hidup Kieran. Dia tahu bahwa ada banyak hal yang sedang dihadapi oleh pria itu, tetapi dia tidak pernah bisa mengungkapkan semuanya. Mungkin, me

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-25
  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 128

    Pagi itu, Clara terbangun dengan perasaan campur aduk. Meski semalam ada langkah besar yang diambil oleh Kieran untuk membuka hatinya, ia tahu bahwa perjalanan mereka tidak akan mudah. Ada begitu banyak hal yang harus mereka selesaikan, banyak ketakutan yang masih harus dihadapi, dan perasaan-perasaan yang masih perlu dibereskan. Namun, setidaknya ada satu hal yang Clara bisa yakini: Kieran mulai belajar untuk mempercayainya.Clara menatap bayangannya di cermin, mencoba merasakan setiap emosi yang ada dalam dirinya. Kadang-kadang, dia merasa seperti berada di ujung tebing—antara keinginan untuk melangkah maju, dan rasa takut akan jatuh. Tetapi, hari ini, Clara memutuskan untuk tidak membiarkan ketakutan itu menguasainya. Jika Kieran bisa mengungkapkan ketakutannya, maka ia juga bisa menghadapi ketakutannya sendiri. Sementara itu, Kieran, seperti biasa, sudah berada di kantornya lebih pagi daripada yang di

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-25
  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 129

    Hari itu, Clara merasa ada yang berbeda dengan suasana kantor. Ada ketegangan yang menggantung di udara, seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Dia tak bisa mengabaikan perasaan itu, meskipun dia berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya. Matanya sesekali melirik ke arah Kieran yang sedang berdiri di balik meja kerjanya, tampak lebih serius dari biasanya.“Clara,” suara Kieran terdengar memecah kesunyian. Clara menoleh, menatapnya dengan penuh perhatian. “Kita perlu berbicara.”Clara mengangguk pelan, merasakan jantungnya berdegup kencang. Ada sesuatu yang berbeda pada nada suaranya kali ini. Kieran bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan perasaannya, apalagi jika itu berkaitan dengan pekerjaan. Ada yang mendalam di balik permintaan tersebut.Dengan hati-hati, Clara berjalan mendekat ke meja Kieran. Begitu dia berdiri di hadapan pria itu, Kieran mengarahkan pandangannya ke Clara, matanya berkilat-

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-25

Bab terbaru

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 146

    Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu, dan Clara merasa seolah-olah berada di persimpangan jalan yang tak kunjung menemukan petunjuk yang jelas. Meskipun ia berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya, bayang-bayang percakapan dengan Kieran terus menghantui pikirannya. Setiap detik, setiap menit, ia merenung, berusaha mencari jawaban yang tepat. Kieran, di sisi lain, memberi ruang untuk Clara. Ia tidak mendesak, tidak memaksa. Ia tahu bahwa keputusan itu harus datang dari Clara sendiri. Meski demikian, ia tetap merasa cemas. Setiap kali ia melihat Clara di kantor, ada kerinduan di matanya, sebuah harapan yang belum sepenuhnya terkubur. Pagi itu, Clara berdiri di depan cermin di kamarnya, mencoba untuk meresapi setiap kata yang pernah ia dengar. "Aku ingin kita bersama, dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi. Tapi aku menghormati keputusanmu." Kata-kata Kieran itu terus mengiang di telinganya. Namun, yang lebih mengganggunya adalah perasaan di dalam hatinya yang terus bergejol

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 145

    Keesokan harinya, Clara terbangun dengan perasaan campur aduk. Matanya masih sedikit berat, seolah semalam tidur tidak cukup, tapi ada satu hal yang membuatnya terjaga lebih cepat dari biasanya—panggilan yang sudah lama ia hindari. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya meraih telepon genggamnya. Pesan dari Kieran masuk beberapa menit lalu._"Clara, bisa kita bicara serius hari ini? Aku butuh kamu di kantor lebih awal. Ada keputusan penting."_Clara menatap layar teleponnya, berpikir sejenak. Beberapa minggu terakhir, ia merasa hubungan mereka semakin intens. Tidak hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam hubungan pribadi mereka yang mulai berkembang ke arah yang tidak terduga. Meskipun dia mencoba untuk tetap profesional, ada perasaan yang sulit diabaikan.Dia mengenakan jas hitam yang sudah siap disiapkan di lemari, memperhatikan dirinya di cermin. Wanita itu merasa siap, tetapi hatinya terasa tidak sepenuhnya tenang. Ada pertanyaan yang terus menghantui pikirannya: Apakah

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 144

    Hari-hari setelah percakapan itu terasa berbeda bagi Clara. Setiap kali dia bertemu Kieran, perasaan di antara mereka semakin sulit untuk disembunyikan. Setiap tatapan, setiap senyuman, bahkan setiap kali mereka berbicara, terasa lebih dalam, lebih penuh makna. Namun, meskipun ada kedekatan yang mulai tumbuh, Clara merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Sebuah perasaan takut yang tak bisa dia singkirkan begitu saja.Di sisi lain, Kieran juga tidak bisa menyembunyikan perasaan yang semakin kuat. Dia tahu bahwa hubungan mereka yang awalnya profesional kini telah bergeser, tetapi dia juga tidak bisa lagi mengabaikan perasaan itu. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk Clara, tetapi dalam proses itu, dia juga merasakan kecemasan—apakah keputusan yang mereka ambil ini benar? Apakah mereka siap menghadapi konsekuensinya?Suatu sore yang mendung, Kieran mengajak Clara untuk berjalan-jalan setelah rapat yang cukup panjang. Mereka berdua berjalan keluar dari kantor, menuju tam

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 143

    Clara menatap layar ponselnya dengan mata yang mulai lelah. Setiap detik yang berlalu terasa seperti beban berat di pundaknya. Meskipun bekerja dengan Kieran sudah menjadi rutinitas yang familiar, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan yang tak bisa dia pungkiri. Setiap kali dia bertemu dengannya, rasanya ada jarak yang semakin besar, meskipun mereka hanya berada beberapa langkah dari satu sama lain.Ponsel di tangannya bergetar. Clara segera mengangkatnya, berharap itu adalah Kieran yang ingin membahas beberapa hal penting.“Clara, bisa ketemu di kantor sebentar? Ada hal yang perlu dibicarakan,” suara Kieran terdengar begitu serius, bahkan sedikit dingin. Clara bisa merasakan ketegangan yang mengalir dalam kata-katanya.“Baik, saya akan segera ke sana,” jawab Clara, berusaha menjaga ketenangan dalam suaranya meskipun hatinya berdebar tak karuan.Setelah menutup telepon, Clara menatap sekilas ke luar jendela. Cuaca yang mendung seakan mencerminkan perasaan yang sedang m

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 142

    Pagi berikutnya, Clara tiba lebih awal di kantor. Pagi itu terasa berbeda. Semua terasa lebih sunyi, lebih hening. Hanya ada suara langkah kakinya yang menggema di sepanjang lorong kantor. Meskipun seluruh dunia terasa sama, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Perasaan yang dia rasakan sejak pertemuannya dengan Kieran kemarin semakin menggelora. Kata-kata Kieran terngiang di telinganya, memutar ulang setiap detil percakapan mereka. Aku sangat menghargaimu lebih dari yang kamu bayangkan.Kalimat itu mengusik pikirannya, membuatnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya dimaksud Kieran. Apa benar kata-kata itu hanya sekedar ungkapan dukungan profesional? Ataukah ada lebih banyak yang ingin ia sampaikan? Clara berusaha mengalihkan pikirannya dengan menatap layar komputernya, berharap pekerjaan yang menumpuk bisa membuatnya fokus kembali. Namun, ada sesuatu yang menghalangi pikirannya—keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang Kieran. Perasaan itu semakin sulit untuk dibendung.

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 141

    Clara menghirup napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri setelah pertemuan tadi. Semua rasanya semakin rumit. Di satu sisi, dia merasa semakin terikat dengan Kieran, tapi di sisi lain, perasaan cemas terus menghantui dirinya. Apakah dia mampu menghadapi semua ini? Apakah dia bisa tetap menjaga profesionalismenya di tengah perasaan yang semakin kuat?Setelah pertemuan yang intens tadi, Clara merasa seolah-olah dunia di sekitarnya tiba-tiba bergerak lebih cepat. Kieran, CEO yang sangat karismatik dan penuh pesona, sudah cukup membuatnya merasa terombang-ambing. Namun, ada satu hal yang membuatnya merasa terjebak dalam perasaan yang semakin dalam: Kieran tak pernah ragu menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya.Dan itu yang membuat Clara bingung.Di luar kantor, dia berusaha menjaga jarak, namun dalam setiap interaksi yang mereka miliki, ada semacam kedekatan yang tak bisa dia hindari. Clara merasa seperti berada dalam perangkap antara hati dan kewajiban profesionalnya.Seusai p

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 140

    Keputusan yang diambil Clara beberapa hari lalu masih terus menghantuinya. Meskipun Kieran sudah memberikan ruang dan waktu baginya untuk berpikir, hatinya tidak bisa menenangkan diri. Setiap detik yang berlalu terasa berat, penuh dengan pertanyaan yang menggantung di benaknya. Apakah mereka benar-benar siap untuk menjalani hubungan ini? Apakah mereka bisa menghindari masalah yang mungkin muncul, terutama di tempat kerja mereka yang penuh dengan tekanan dan harapan tinggi?Hari itu, Clara duduk di meja kerjanya, menatap layar komputer tanpa benar-benar melihat apa yang tertulis di sana. Pikirannya melayang, berulang kali kembali pada percakapan terakhirnya dengan Kieran. Ada sesuatu tentang lelaki itu yang membuat Clara merasa nyaman, merasa diterima, dan itu sangat jarang dia rasakan. Namun, ada juga rasa takut yang tak terelakkan—takut akan kehilangan kontrol, takut akan mengorbankan sesuatu yang lebih besar dari perasaan mereka berdua.Kieran muncul di pintu kantor Clara, me

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 139

    Pagi itu Clara merasakan ada yang berbeda. Meskipun hari-harinya dipenuhi dengan rapat dan tenggat waktu yang ketat, ada sesuatu dalam udara yang membuatnya merasa lebih waspada. Tidak ada yang dapat dia ungkapkan, namun perasaan itu mengendap dalam hati, menyesakkan. Kieran datang lebih pagi dari biasanya, dan itu membuat Clara penasaran. Ada yang aneh, ada ketegangan yang tidak bisa dia hilangkan meskipun mereka sudah berusaha untuk menjaga semuanya tetap profesional.Hari ini, meskipun rapat dimulai seperti biasa, ada suasana yang berbeda di antara mereka. Kieran duduk di meja yang biasa, matanya tidak langsung beralih ke Clara. Namun, ketika rapat berakhir, matanya bertemu dengan Clara dalam sekejap—penuh makna. “Kita perlu bicara,” ucap Kieran, suara rendah namun tegas.Clara mengangguk, merasa ada sesuatu yang penting yang perlu diungkapkan. Tanpa kata-kata lebih lanjut, mereka berjalan keluar dari ruang rapat, menuju ke ruang yang lebih pribadi. Ketika pintu tertutup, Cla

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 138

    Clara duduk di meja kantornya, jari-jarinya bermain dengan pena sambil matanya terfokus pada layar komputer. Kerjaannya terasa begitu membebani, tapi dia tahu ini adalah pilihan yang telah dia buat. Proyek besar yang dihadapi Kieran dan perusahaan mereka tidak bisa dianggap remeh. Namun, Clara merasakan ada sesuatu yang lebih dalam yang mengikat dirinya dengan Kieran.Pikirannya terus berputar tentang percakapan mereka semalam. Kieran—yang tampak dingin dan profesional—ternyata memiliki sisi lain yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Sesekali, tatapan Kieran yang tajam dan penuh tekanan, mengarah padanya, namun malam itu, dia menunjukkan sisi manusiawi yang lebih lembut. Apa yang membuatnya berubah? Ataukah Clara yang mulai melihat Kieran dengan cara yang berbeda?Keringat mulai terasa di pelipisnya. Fokusnya terganggu oleh detak jantung yang terasa lebih cepat dari biasanya. Clara menutup matanya sesaat, mencoba menenangkan diri. Dia harus tetap profesional. Tidak boleh ada ru

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status