Share

Bab 126

Author: Zayba Almira
last update Last Updated: 2025-03-24 11:41:04
Hari itu, seperti biasa, Clara mulai dengan langkah ringan menuju kantor Kieran. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Ada ketegangan yang belum bisa diajelaskan, sebuah ketidakpastian yang seolah mengikat dadanya.

Meskipun sudah berusaha mengesampingkan perasaan tersebut, entah mengapa, semuanya terasa semakin rumit.

Clara selalu memulai pagi dengan semangat meskipun kadang sulit untuk tidak memikirkan sosok Kieran.

Pria itu bukan hanya CEO yang cerdas dan berkarisma, tapi juga seseorang yang mampu menggetarkan hati Clara dengan cara yang tak pernah ia duga.

Meski hubungan mereka telah berlangsung cukup lama, Clara tahu ada banyak yang harus dihadapi.

Ia masih merasa ada dinding tebal antara mereka, satu yang tak bisa ia tembus meski sudah berusaha sekuat tenaga.

Sesampainya di kantor, Clara langsung menuju ruang kerja Kieran.

Seperti biasa, pintu terbuka dengan suara desisan halus, menandakan bahwa Kieran sudah berada di dalam. Clara menatap sosok Kieran yang sedang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 127

    Hari demi hari, Clara mulai merasakan perubahan yang semakin nyata dalam hubungannya dengan Kieran. Sesuatu yang dulu tampak begitu sederhana, kini terasa semakin rumit dan penuh dengan ketegangan yang tak terucapkan. Walaupun di luar tampak biasa, di dalam dirinya, Clara merasa seperti berada di tepi jurang—sebuah tempat yang penuh dengan ketidakpastian.Kieran, meskipun mencoba untuk bersikap profesional dan jarang menunjukkan kelemahan di depan Clara, tak bisa menyembunyikan kegelisahan yang ada. Clara bisa melihatnya, dengan cara-cara kecil yang selama ini ia anggap biasa—seperti caranya menatap layar komputer tanpa benar-benar fokus, atau cara dia menggigit bibir bawahnya saat merasa tertekan.Clara mengerti, meskipun dia tidak tahu persis apa yang sedang terjadi dalam hidup Kieran. Dia tahu bahwa ada banyak hal yang sedang dihadapi oleh pria itu, tetapi dia tidak pernah bisa mengungkapkan semuanya. Mungkin, me

    Last Updated : 2025-03-25
  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 128

    Pagi itu, Clara terbangun dengan perasaan campur aduk. Meski semalam ada langkah besar yang diambil oleh Kieran untuk membuka hatinya, ia tahu bahwa perjalanan mereka tidak akan mudah. Ada begitu banyak hal yang harus mereka selesaikan, banyak ketakutan yang masih harus dihadapi, dan perasaan-perasaan yang masih perlu dibereskan. Namun, setidaknya ada satu hal yang Clara bisa yakini: Kieran mulai belajar untuk mempercayainya.Clara menatap bayangannya di cermin, mencoba merasakan setiap emosi yang ada dalam dirinya. Kadang-kadang, dia merasa seperti berada di ujung tebing—antara keinginan untuk melangkah maju, dan rasa takut akan jatuh. Tetapi, hari ini, Clara memutuskan untuk tidak membiarkan ketakutan itu menguasainya. Jika Kieran bisa mengungkapkan ketakutannya, maka ia juga bisa menghadapi ketakutannya sendiri. Sementara itu, Kieran, seperti biasa, sudah berada di kantornya lebih pagi daripada yang di

    Last Updated : 2025-03-25
  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 129

    Hari itu, Clara merasa ada yang berbeda dengan suasana kantor. Ada ketegangan yang menggantung di udara, seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Dia tak bisa mengabaikan perasaan itu, meskipun dia berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya. Matanya sesekali melirik ke arah Kieran yang sedang berdiri di balik meja kerjanya, tampak lebih serius dari biasanya.“Clara,” suara Kieran terdengar memecah kesunyian. Clara menoleh, menatapnya dengan penuh perhatian. “Kita perlu berbicara.”Clara mengangguk pelan, merasakan jantungnya berdegup kencang. Ada sesuatu yang berbeda pada nada suaranya kali ini. Kieran bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan perasaannya, apalagi jika itu berkaitan dengan pekerjaan. Ada yang mendalam di balik permintaan tersebut.Dengan hati-hati, Clara berjalan mendekat ke meja Kieran. Begitu dia berdiri di hadapan pria itu, Kieran mengarahkan pandangannya ke Clara, matanya berkilat-

    Last Updated : 2025-03-25
  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 130

    Clara menatap pemandangan dari jendela ruangannya yang menghadap ke kota. Hiruk pikuk kehidupan yang tak pernah berhenti seakan menjadi latar belakang bagi pergulatan hatinya. Di satu sisi, ia merasa lebih dekat dengan Kieran, CEO yang tampaknya tak bisa ia hindari. Di sisi lain, perasaan ragu dan takut semakin menggigitnya. Setelah beberapa hari penuh ketegangan di kantor, Clara merasa seolah ada kekosongan yang semakin dalam. Meski Kieran selalu ada untuk mendampinginya, memberikan dukungan, dan kadang-kadang memberikan perhatian lebih, Clara tak bisa menepis perasaan bingung yang datang silih berganti. Pekerjaan besar yang tengah mereka kerjakan—proyek kolaborasi dengan perusahaan luar negeri—menjadi titik puncak dari berbagai tantangan yang mereka hadapi. Setiap hari mereka terjebak dalam rapat panjang dan diskusi yang menguras pikiran. Namun, semakin dekat Clara dengan Kieran, semakin kuat pula perasaan yang sulit untuk dipahami.Suatu sore, setelah rapat yang berlangsung

    Last Updated : 2025-03-26
  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 131

    Clara duduk di kursi kantornya, tangan memegang secangkir kopi yang sudah hampir dingin. Matanya menatap layar komputer, namun pikirannya jauh melayang. Semua yang terjadi beberapa hari terakhir terasa seperti badai yang datang tanpa peringatan. Pertemuan dengan Kieran sore itu masih terngiang di telinganya. Kalimat-kalimatnya yang lembut namun penuh makna mengguncang hatinya."Aku ingin melihatmu bahagia, entah itu dengan atau tanpa aku." Kata-kata itu seperti menancap dalam-dalam di jantungnya. Clara tahu bahwa Kieran tidak akan pernah mengungkapkan perasaannya jika ia tidak merasa bahwa hal itu penting. Tapi mengapa ia merasa begitu bingung? Apa yang seharusnya ia lakukan setelah ini?Pikirannya terus berputar, mencoba mencari jawaban yang tepat. Ia tidak bisa mengabaikan perasaan yang mulai tumbuh di dalam hatinya, perasaan yang lebih dari sekadar profesionalisme. Tetapi di sisi lain, Clara tahu bahwa hubungan seperti itu bisa berisiko. Mereka bekerja di dunia yang sama, di

    Last Updated : 2025-03-26
  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 132

    Hari itu terasa berbeda. Clara berjalan menyusuri koridor gedung kantor dengan langkah yang lebih ringan, meski hatinya masih dipenuhi dengan kegelisahan. Setelah pertemuannya dengan Kieran kemarin, ada sesuatu yang berubah. Sebuah keputusan telah dibuat, dan meski dia tahu jalan yang akan ditempuh tidak mudah, dia merasa ada kekuatan baru dalam dirinya. Sebuah keberanian untuk menghadapi perasaan yang selama ini dia pendam.Dia tahu, hubungan mereka—apakah itu hubungan pribadi atau profesional—akan diuji. Tetapi ada satu hal yang pasti. Clara tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Semua yang dia rasakan, semua yang ada dalam hatinya, kini terasa lebih nyata dan lebih terarah. Setiap langkahnya menuju ruang kerjanya terasa lebih berarti, meski masih banyak ketidakpastian yang menghantuinya.Sesampainya di ruang kerjanya, Clara menatap layar komputernya, memandangi daftar tugas yang belum selesai. Namun, pikirannya kembali melayang ke Kieran. Dia tidak bisa menahan perasaan y

    Last Updated : 2025-03-27
  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 133

    [27/3, 17.35] ChatGPT: Tentu, Kang Luqman! Berikut kelanjutan cerita di Bab 131.---*Bab 131: Pilihan yang Tak Terucapkan*Pagi itu, Clara duduk di meja kerjanya, menatap tumpukan dokumen yang belum terselesaikan. Namun, pikirannya teralihkan. Kieran masih ada di benaknya. Percakapan mereka semalam meninggalkan kesan yang dalam. Ada kebingungan yang tak bisa dia hilangkan, perasaan yang semakin terjaga setelah semua yang mereka ungkapkan. Clara ingin yakin, ingin tahu apakah Kieran benar-benar serius dengan keputusannya untuk melangkah perlahan, atau jika itu hanya sekadar alasan untuk mundur dari sesuatu yang lebih besar.Hatinya terasa kacau. Meski dia sudah berusaha untuk tenang, rasa penasaran dan kekhawatiran terus mengganggu. Jika Kieran ragu, apakah itu artinya dia tidak cukup percaya pada hubungan mereka? Ataukah, seperti yang dikatakan Kieran, dia hanya ingin menghindari konsekuensi buruk dari langkah besar yang mereka ambil?Saat Clara tengah melamun, pintu ruangannya terbu

    Last Updated : 2025-03-27
  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 134

    Hari itu, Clara merasa perasaan cemas menguasai dirinya. Pagi tadi, Kieran telah memanggilnya ke ruang kerjanya dengan ekspresi yang serius. Biasa, Kieran memang memiliki aura misterius yang tak mudah ditebak, namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan yang Clara rasakan di antara mereka, seolah ada sesuatu yang harus diungkapkan, tapi entah kenapa, kata-kata itu sulit keluar dari bibir Kieran.Dia berdiri di luar pintu ruangan Kieran, menarik napas panjang sebelum akhirnya mengetuk pintu dengan ragu. "Masuk," suara Kieran terdengar jelas, tanpa rasa khawatir.Clara membuka pintu dan melangkah masuk. Kieran sedang duduk di kursi kulit hitam besar di balik meja kerjanya yang penuh dengan dokumen dan laptop terbuka. Namun, kali ini, ekspresinya terlihat sedikit lebih tegang daripada biasanya."Kieran?" suara Clara terdengar sedikit ragu. "Ada yang bisa saya bantu?"Kieran mendongak, matanya bertransisi dari rasa cemas menjadi tegas, meskipun masih ada sesuatu yang tak t

    Last Updated : 2025-03-28

Latest chapter

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 135

    Setelah pertemuan pagi itu, Clara merasa seolah ada sebuah perubahan yang tak bisa ia ungkapkan. Sesuatu yang mengganggu pikirannya sepanjang hari, membuatnya tak bisa fokus pada pekerjaan. Kieran sudah meminta agar dia terlibat lebih jauh, tetapi Clara merasakan tekanan yang semakin berat di pundaknya. Tugas mereka bukan sekedar proyek besar ini—ada hal yang jauh lebih besar yang sedang tersembunyi di balik itu.Sore hari, Clara kembali ke ruang kerjanya. Pikirannya masih terpaut pada pertemuan tadi pagi. Ia duduk di kursi, menyandarkan tubuhnya, dan menatap laptop di depannya. Namun, fokusnya tidak ada di layar. Sesekali matanya beralih ke jendela besar yang memperlihatkan langit senja yang mulai gelap, tanda malam akan datang.Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka pelan. Clara mengangkat wajahnya dan melihat Kieran berdiri di ambang pintu, mengenakan jas hitam yang sudah sedikit kusut di bagian kolar. Wajahnya tak tampak lega, justru ada ekspresi yang lebih cemas.“Kieran?” Clara

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 134

    Hari itu, Clara merasa perasaan cemas menguasai dirinya. Pagi tadi, Kieran telah memanggilnya ke ruang kerjanya dengan ekspresi yang serius. Biasa, Kieran memang memiliki aura misterius yang tak mudah ditebak, namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan yang Clara rasakan di antara mereka, seolah ada sesuatu yang harus diungkapkan, tapi entah kenapa, kata-kata itu sulit keluar dari bibir Kieran.Dia berdiri di luar pintu ruangan Kieran, menarik napas panjang sebelum akhirnya mengetuk pintu dengan ragu. "Masuk," suara Kieran terdengar jelas, tanpa rasa khawatir.Clara membuka pintu dan melangkah masuk. Kieran sedang duduk di kursi kulit hitam besar di balik meja kerjanya yang penuh dengan dokumen dan laptop terbuka. Namun, kali ini, ekspresinya terlihat sedikit lebih tegang daripada biasanya."Kieran?" suara Clara terdengar sedikit ragu. "Ada yang bisa saya bantu?"Kieran mendongak, matanya bertransisi dari rasa cemas menjadi tegas, meskipun masih ada sesuatu yang tak t

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 133

    [27/3, 17.35] ChatGPT: Tentu, Kang Luqman! Berikut kelanjutan cerita di Bab 131.---*Bab 131: Pilihan yang Tak Terucapkan*Pagi itu, Clara duduk di meja kerjanya, menatap tumpukan dokumen yang belum terselesaikan. Namun, pikirannya teralihkan. Kieran masih ada di benaknya. Percakapan mereka semalam meninggalkan kesan yang dalam. Ada kebingungan yang tak bisa dia hilangkan, perasaan yang semakin terjaga setelah semua yang mereka ungkapkan. Clara ingin yakin, ingin tahu apakah Kieran benar-benar serius dengan keputusannya untuk melangkah perlahan, atau jika itu hanya sekadar alasan untuk mundur dari sesuatu yang lebih besar.Hatinya terasa kacau. Meski dia sudah berusaha untuk tenang, rasa penasaran dan kekhawatiran terus mengganggu. Jika Kieran ragu, apakah itu artinya dia tidak cukup percaya pada hubungan mereka? Ataukah, seperti yang dikatakan Kieran, dia hanya ingin menghindari konsekuensi buruk dari langkah besar yang mereka ambil?Saat Clara tengah melamun, pintu ruangannya terbu

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 132

    Hari itu terasa berbeda. Clara berjalan menyusuri koridor gedung kantor dengan langkah yang lebih ringan, meski hatinya masih dipenuhi dengan kegelisahan. Setelah pertemuannya dengan Kieran kemarin, ada sesuatu yang berubah. Sebuah keputusan telah dibuat, dan meski dia tahu jalan yang akan ditempuh tidak mudah, dia merasa ada kekuatan baru dalam dirinya. Sebuah keberanian untuk menghadapi perasaan yang selama ini dia pendam.Dia tahu, hubungan mereka—apakah itu hubungan pribadi atau profesional—akan diuji. Tetapi ada satu hal yang pasti. Clara tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Semua yang dia rasakan, semua yang ada dalam hatinya, kini terasa lebih nyata dan lebih terarah. Setiap langkahnya menuju ruang kerjanya terasa lebih berarti, meski masih banyak ketidakpastian yang menghantuinya.Sesampainya di ruang kerjanya, Clara menatap layar komputernya, memandangi daftar tugas yang belum selesai. Namun, pikirannya kembali melayang ke Kieran. Dia tidak bisa menahan perasaan y

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 131

    Clara duduk di kursi kantornya, tangan memegang secangkir kopi yang sudah hampir dingin. Matanya menatap layar komputer, namun pikirannya jauh melayang. Semua yang terjadi beberapa hari terakhir terasa seperti badai yang datang tanpa peringatan. Pertemuan dengan Kieran sore itu masih terngiang di telinganya. Kalimat-kalimatnya yang lembut namun penuh makna mengguncang hatinya."Aku ingin melihatmu bahagia, entah itu dengan atau tanpa aku." Kata-kata itu seperti menancap dalam-dalam di jantungnya. Clara tahu bahwa Kieran tidak akan pernah mengungkapkan perasaannya jika ia tidak merasa bahwa hal itu penting. Tapi mengapa ia merasa begitu bingung? Apa yang seharusnya ia lakukan setelah ini?Pikirannya terus berputar, mencoba mencari jawaban yang tepat. Ia tidak bisa mengabaikan perasaan yang mulai tumbuh di dalam hatinya, perasaan yang lebih dari sekadar profesionalisme. Tetapi di sisi lain, Clara tahu bahwa hubungan seperti itu bisa berisiko. Mereka bekerja di dunia yang sama, di

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 130

    Clara menatap pemandangan dari jendela ruangannya yang menghadap ke kota. Hiruk pikuk kehidupan yang tak pernah berhenti seakan menjadi latar belakang bagi pergulatan hatinya. Di satu sisi, ia merasa lebih dekat dengan Kieran, CEO yang tampaknya tak bisa ia hindari. Di sisi lain, perasaan ragu dan takut semakin menggigitnya. Setelah beberapa hari penuh ketegangan di kantor, Clara merasa seolah ada kekosongan yang semakin dalam. Meski Kieran selalu ada untuk mendampinginya, memberikan dukungan, dan kadang-kadang memberikan perhatian lebih, Clara tak bisa menepis perasaan bingung yang datang silih berganti. Pekerjaan besar yang tengah mereka kerjakan—proyek kolaborasi dengan perusahaan luar negeri—menjadi titik puncak dari berbagai tantangan yang mereka hadapi. Setiap hari mereka terjebak dalam rapat panjang dan diskusi yang menguras pikiran. Namun, semakin dekat Clara dengan Kieran, semakin kuat pula perasaan yang sulit untuk dipahami.Suatu sore, setelah rapat yang berlangsung

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 129

    Hari itu, Clara merasa ada yang berbeda dengan suasana kantor. Ada ketegangan yang menggantung di udara, seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Dia tak bisa mengabaikan perasaan itu, meskipun dia berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya. Matanya sesekali melirik ke arah Kieran yang sedang berdiri di balik meja kerjanya, tampak lebih serius dari biasanya.“Clara,” suara Kieran terdengar memecah kesunyian. Clara menoleh, menatapnya dengan penuh perhatian. “Kita perlu berbicara.”Clara mengangguk pelan, merasakan jantungnya berdegup kencang. Ada sesuatu yang berbeda pada nada suaranya kali ini. Kieran bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan perasaannya, apalagi jika itu berkaitan dengan pekerjaan. Ada yang mendalam di balik permintaan tersebut.Dengan hati-hati, Clara berjalan mendekat ke meja Kieran. Begitu dia berdiri di hadapan pria itu, Kieran mengarahkan pandangannya ke Clara, matanya berkilat-

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 128

    Pagi itu, Clara terbangun dengan perasaan campur aduk. Meski semalam ada langkah besar yang diambil oleh Kieran untuk membuka hatinya, ia tahu bahwa perjalanan mereka tidak akan mudah. Ada begitu banyak hal yang harus mereka selesaikan, banyak ketakutan yang masih harus dihadapi, dan perasaan-perasaan yang masih perlu dibereskan. Namun, setidaknya ada satu hal yang Clara bisa yakini: Kieran mulai belajar untuk mempercayainya.Clara menatap bayangannya di cermin, mencoba merasakan setiap emosi yang ada dalam dirinya. Kadang-kadang, dia merasa seperti berada di ujung tebing—antara keinginan untuk melangkah maju, dan rasa takut akan jatuh. Tetapi, hari ini, Clara memutuskan untuk tidak membiarkan ketakutan itu menguasainya. Jika Kieran bisa mengungkapkan ketakutannya, maka ia juga bisa menghadapi ketakutannya sendiri. Sementara itu, Kieran, seperti biasa, sudah berada di kantornya lebih pagi daripada yang di

  • Di Balik Kantor CEO: Cinta yang Tak Terucapkan   Bab 127

    Hari demi hari, Clara mulai merasakan perubahan yang semakin nyata dalam hubungannya dengan Kieran. Sesuatu yang dulu tampak begitu sederhana, kini terasa semakin rumit dan penuh dengan ketegangan yang tak terucapkan. Walaupun di luar tampak biasa, di dalam dirinya, Clara merasa seperti berada di tepi jurang—sebuah tempat yang penuh dengan ketidakpastian.Kieran, meskipun mencoba untuk bersikap profesional dan jarang menunjukkan kelemahan di depan Clara, tak bisa menyembunyikan kegelisahan yang ada. Clara bisa melihatnya, dengan cara-cara kecil yang selama ini ia anggap biasa—seperti caranya menatap layar komputer tanpa benar-benar fokus, atau cara dia menggigit bibir bawahnya saat merasa tertekan.Clara mengerti, meskipun dia tidak tahu persis apa yang sedang terjadi dalam hidup Kieran. Dia tahu bahwa ada banyak hal yang sedang dihadapi oleh pria itu, tetapi dia tidak pernah bisa mengungkapkan semuanya. Mungkin, me

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status