"Tuan Putri, apa Kau baik-baik saja?" tanya Selir Song Yin yang datang bersama beberapapengawal istana.Xian Ling tahu kalau semua ucapan Selir Song Yin ini hanyalah basa basi belaka, karena selir ini membiarkan dirinya bertarung sendirian dan menghilang. Tentunya Selir Song berharap Iblis Hantu akan menghabisi nyawanya untuk memuluskan jalan selir istana ini menjadi permaisuri dan merebut tahta lewat putra mahkota yang akan dilahirkannya bersama Kaisar Xian Shen."Aku baik-baik saja!" jawab Xian Ling diplomatis. Ia juga tidak mau terlalu konfrontasi dengan Selir Song Yin karena selir ini memiliki banyak pengikut setia yang menjadi mata-matanya di istana. Selama ia menjaga ritme agar tidak bermusuhan maka hidupnya tidak akan terancam di dalam istana."Masalah sudah selesai, apa kita pulang saja, Tuan Putri?" tanya Selir Song Yin."Aku masih penasaran dengan Hutan Hantu ini, jadi aku akan masuk untuk menyelidikinya!" kata Xian Ling yang cukup mengejutkan Selir Song Yin.Langit di atas
Langit di atas Hutan Hantu semakin gelap. Suara angin yang melewati pepohonan besar menciptakan siulan rendah, seolah-olah ada bisikan tak kasat mata yang mengikuti setiap langkah Xian Ling. Ia berdiri di depan hutan yang dikenal sebagai tempat terlarang, tempat di mana orang-orang yang masuk jarang sekali kembali."Byakko, masuklah ke dalam kantong ajaib," perintah Xian Ling. Ia menatap harimau putih bersayapnya yang terlihat enggan untuk pergi."Tuan Putri, ini berbahaya. Kau seharusnya tidak masuk sendirian," ujar Byakko dengan suara yang lembut namun penuh peringatan."Aku tahu, tapi kehadiranmu bisa menimbulkan kecurigaan jika ada makhluk yang tinggal di sini. Aku akan memanggilmu jika situasinya memerlukan bantuanmu," jawab Xian Ling. Dengan enggan, Byakko menghilang ke dalam kantong ajaib, meninggalkan Xian Ling seorang diri di depan pintu masuk hutan.Langkah pertama yang diambil Xian Ling langsung disambut dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Kabut tebal melayang rendah, m
Xian Ling merasakan jantungnya berdegup kencang ketika hawa gelap yang mencekam memenuhi goa. Sosok gelap yang baru saja muncul di hadapannya memancarkan aura kematian, membuat udara terasa berat dan mencekik. Ia sudah bersiap-siap mengeluarkan pedang di pinggangnya, namun sebelum ia sempat bertindak, petapa tua yang duduk di depannya hanya mengangkat satu tangan. “Pergilah! Jangan ganggu kami!” seru petapa tua dengan suara yang menggema di dalam goa. Kibasan tangannya terasa seperti angin kencang yang menyapu sosok gelap itu hingga lenyap seketika. Xian Ling terpaku. Perlahan-lahan, hawa mencekam itu memudar, digantikan oleh keheningan yang nyaris magis. Udara kembali terasa ringan, dan nafasnya yang semula tersengal kini mulai normal. “Siapa yang sedang kamu cari, Putri Mahkota?” tanya petapa tua dengan nada tenang, tatapannya yang dalam seolah mampu membaca isi hati Xian Ling. Gadis itu terdiam sejenak sebelum menjawab, “Aku mencari seorang gadis muda. Apa paman melihatnya?” P
Kerajaan Benua Timur, dipimpin oleh Kaisar Xian Shen, seorang Immortal yang hebat di masa mudanya, dikenal kuat dan disegani oleh semua kalangan. Meskipun usia tidak membatasi kehidupannya, penampilan Kaisar Xian Shen kini berbeda dari saat ia masih menjadi seorang kultivator.Hari ini, kebahagiaan meliputi istana. Permaisuri Zhi Yang, istri tercinta Kaisar, sedang melahirkan putri pertama mereka setelah sekian lama dinantikan. Kaisar Xian Shen, yang selama ini mendambakan seorang anak, akhirnya melihat impiannya terwujud.“Selamat, Paduka! Putri pertama Baginda telah lahir. Semoga diberi kesehatan dan kekuatan,” ucap salah satu pejabat kerajaan, disusul oleh ucapan selamat dari berbagai kalangan.Kaisar tersenyum lebar, menatap putri kecilnya dengan penuh kasih. "Xian Ling, namamu akan dikenal di seluruh penjuru negeri. Aku akan menamakanmu demikian, agar kelak kau bisa menjadi naga yang memimpin negeri ini, jika memang kau satu-satunya pewaris tahta Kerajaan Benua Timur."“Aku setuj
Alam semesta membagi dunia menjadi tiga bagian yaitu Dunia Atas, Dunia Tengah, dan Dunia Bawah.Dunia Atas dihuni oleh dewa dan dewi yang sudah turun temurun, juga dewa dan dewi yang berhasil mencapai tingkatan keabadian ini melalui kultivasi. Penghuni Dunia Atas ini menganggap mereka adalah tingkatan tertinggi dalam kehidupan yang kadang menganggap remeh Dunia Bawah yang dihuni oleh manusia tanpa keabadian.Dunia Tengah adalah dunia yang kejam yang banyak dihuni oleh cultivator yang mati-matian berusaha berkultivasi untuk mencapai keabadian. Selain berkultivasi, mereka juga mempelajari ilmu bela diri yang hebat sehingga mereka hanya menganggap manusia tanpa keabadian di Dunia Bawah sebagai budak mereka saja.Dunia Bawah adalah dunia yang berjalan normal dengan banyaknya manusia yang tanpa keabadian. Dunia ini banyak dihuni oleh pendekar-pendekar sakti, namun sayangnya mereka tetap akan mati bila waktunya sudah tiba, tidak memandang seberapa besar kesaktian mereka. Itulah yang juga me
Di sudut istana yang megah dan penuh kemewahan, ada satu bangunan yang selalu dihindari, tempat yang bahkan para pelayan istana enggan menatap terlalu lama. Itu adalah menara lonceng—sebuah bangunan tua yang kini tampak merana, ditinggalkan begitu saja. Dulu, menara ini menjadi pusat perhatian, tempat lonceng berat yang menggema di seluruh istana, memperingatkan para penghuni tentang bahaya yang mendekat. Namun, sejak Kaisar Xian Shen berkuasa, menara itu telah sunyi, dan tak seorang pun berani mengganggu keheningan yang melingkupi kekuasaan sang kaisar.Xian Ling, putri mahkota yang selalu diliputi rasa ingin tahu, merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar cerita hantu yang beredar di antara para pelayan. Dengan hati berdebar dan keberanian yang mendidih dalam dirinya, ia memutuskan untuk menembus tabu yang telah lama membayangi menara lonceng. "Mungkin di sana aku bisa menemukan hantu yang bisa mengajariku jurus-jurus inti dengan cepat," gumamnya dengan semangat yang tak bisa ia ke
Menara Lonceng berdiri megah, menjulang tinggi di atas dataran luas Benua Timur, bayangannya memanjang seiring matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Menara yang telah berdiri kokoh selama ribuan tahun ini menyimpan rahasia yang tak terhitung jumlahnya, namun satu di antaranya adalah yang paling berharga—Kitab Nirvana Surgawi, sebuah artefak legendaris yang telah lama dianggap hilang.Di tengah keheningan yang mencekam, suara langkah kaki lembut terdengar, menggemakan keheningan di dalam menara tua itu. Putri Xian Ling, dengan pakaian sutra emas yang mengalir lembut di tubuhnya, melangkah hati-hati di antara reruntuhan menara. Rambut hitamnya yang tergerai dihiasi oleh pin emas berbentuk burung phoenix, dan matanya yang cerah berkilau seperti bintang-bintang di langit malam. Dia tidak tahu bahwa takdir besar akan menyambutnya di puncak menara ini.Setelah berjam-jam mendaki dan menjelajahi setiap sudut menara yang berdebu, Xian Ling tiba di sebuah ruang tersembunyi yang hanya diteran
Di dalam istana megah yang berdiri kokoh di bawah langit biru, Selir Song Qian memendam iri yang membara terhadap kemewahan dan kekuasaan yang dipegang oleh Permaisuri Zhi Yang. Setiap kali ia melintasi aula yang dipenuhi ornamen emas dan permata, matanya tertuju pada tahta permaisuri yang megah, disertai dengan kilauan harapan dan rencana yang terukir dalam hatinya."Permaisuri Zhi Yang," gumam Song Qian pelan, sambil menyentuh ornamen emas di dinding, "kau mungkin berkuasa sekarang, tapi semuanya bisa berubah."Malam itu, Selir Song Qian menghiasi dirinya dengan jubah sutra merah yang lembut, rambutnya yang hitam seperti malam disanggul tinggi, dan wewangian melati menguar dari setiap pori kulitnya. Ia berjalan menuju kediaman Kaisar Xian Shen dengan langkah ringan namun penuh perhitungan. Saat ia tiba di depan pintu, ia berhenti sejenak, mengatur napas, dan mengetuk perlahan."Yang Mulia," suaranya lembut dan menggoda, "bolehkah hamba menemani Anda malam ini?"Kaisar Xian Shen mena
Xian Ling merasakan jantungnya berdegup kencang ketika hawa gelap yang mencekam memenuhi goa. Sosok gelap yang baru saja muncul di hadapannya memancarkan aura kematian, membuat udara terasa berat dan mencekik. Ia sudah bersiap-siap mengeluarkan pedang di pinggangnya, namun sebelum ia sempat bertindak, petapa tua yang duduk di depannya hanya mengangkat satu tangan. “Pergilah! Jangan ganggu kami!” seru petapa tua dengan suara yang menggema di dalam goa. Kibasan tangannya terasa seperti angin kencang yang menyapu sosok gelap itu hingga lenyap seketika. Xian Ling terpaku. Perlahan-lahan, hawa mencekam itu memudar, digantikan oleh keheningan yang nyaris magis. Udara kembali terasa ringan, dan nafasnya yang semula tersengal kini mulai normal. “Siapa yang sedang kamu cari, Putri Mahkota?” tanya petapa tua dengan nada tenang, tatapannya yang dalam seolah mampu membaca isi hati Xian Ling. Gadis itu terdiam sejenak sebelum menjawab, “Aku mencari seorang gadis muda. Apa paman melihatnya?” P
Langit di atas Hutan Hantu semakin gelap. Suara angin yang melewati pepohonan besar menciptakan siulan rendah, seolah-olah ada bisikan tak kasat mata yang mengikuti setiap langkah Xian Ling. Ia berdiri di depan hutan yang dikenal sebagai tempat terlarang, tempat di mana orang-orang yang masuk jarang sekali kembali."Byakko, masuklah ke dalam kantong ajaib," perintah Xian Ling. Ia menatap harimau putih bersayapnya yang terlihat enggan untuk pergi."Tuan Putri, ini berbahaya. Kau seharusnya tidak masuk sendirian," ujar Byakko dengan suara yang lembut namun penuh peringatan."Aku tahu, tapi kehadiranmu bisa menimbulkan kecurigaan jika ada makhluk yang tinggal di sini. Aku akan memanggilmu jika situasinya memerlukan bantuanmu," jawab Xian Ling. Dengan enggan, Byakko menghilang ke dalam kantong ajaib, meninggalkan Xian Ling seorang diri di depan pintu masuk hutan.Langkah pertama yang diambil Xian Ling langsung disambut dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Kabut tebal melayang rendah, m
"Tuan Putri, apa Kau baik-baik saja?" tanya Selir Song Yin yang datang bersama beberapapengawal istana.Xian Ling tahu kalau semua ucapan Selir Song Yin ini hanyalah basa basi belaka, karena selir ini membiarkan dirinya bertarung sendirian dan menghilang. Tentunya Selir Song berharap Iblis Hantu akan menghabisi nyawanya untuk memuluskan jalan selir istana ini menjadi permaisuri dan merebut tahta lewat putra mahkota yang akan dilahirkannya bersama Kaisar Xian Shen."Aku baik-baik saja!" jawab Xian Ling diplomatis. Ia juga tidak mau terlalu konfrontasi dengan Selir Song Yin karena selir ini memiliki banyak pengikut setia yang menjadi mata-matanya di istana. Selama ia menjaga ritme agar tidak bermusuhan maka hidupnya tidak akan terancam di dalam istana."Masalah sudah selesai, apa kita pulang saja, Tuan Putri?" tanya Selir Song Yin."Aku masih penasaran dengan Hutan Hantu ini, jadi aku akan masuk untuk menyelidikinya!" kata Xian Ling yang cukup mengejutkan Selir Song Yin.Langit di atas
Hening menyelimuti reruntuhan desa yang hancur. Xian Ling memutar tubuhnya dengan sisa tenaga, mencari sumber suara yang begitu mengguncang perasaan. Cahaya bulan yang sebelumnya redup kini tertutup oleh bayangan pekat yang melingkupi desa. Aura dingin semakin menekan, membuat kawanan harimau putih bersayap menahan gerakan mereka, merasakan bahaya yang lebih besar.Iblis Hantu, yang sebelumnya begitu angkuh, tampak berubah. Ia menoleh ke arah kegelapan dengan sorot mata tajam, seolah mengenali kehadiran tersebut. "Kau... Tidak mungkin kau di sini," desisnya dengan nada marah bercampur ketakutan.Xian Ling, yang masih memegang pedangnya, menatap Iblis Hantu dengan kening berkerut. "Apa maksudmu? Siapa yang kau bicarakan?"Iblis Hantu tidak menjawab. Sebaliknya, ia melayang mundur perlahan, sikapnya yang dominan kini berubah menjadi waspada. "Aku tidak datang untuk menghadapi itu," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.Dari kegelapan, langkah kaki terdengar. Berat dan perlahan, setiap
Xian Ling berdiri tertatih-tatih di atas reruntuhan desa, tubuhnya berlumur darah dan keringat. Pedang peraknya masih tergenggam erat, meskipun beratnya kini terasa berlipat ganda. Sementara itu, Iblis Hantu melayang di udara, mengelilinginya dengan angkuh, seolah menikmati keputusasaan lawannya."Kau mengesankan, Putri Mahkota," ejek Iblis Hantu dengan tawa serak yang menggema. "Tapi kekuatanmu tak cukup untuk mengalahkanku. Setiap luka yang kuberikan padamu, semakin mendekatkanmu pada kehancuran."Xian Ling menarik napas panjang, mencoba mengatur Qi-nya yang mulai kacau. Ia menutup matanya sejenak, membiarkan energi di dalam tubuhnya menyatu dengan aliran di sekitarnya. Saat ia membuka mata, cahaya keperakan yang terpancar dari pedangnya semakin intens, memecah kegelapan yang menyelimuti desa."Jangan terlalu percaya diri, Iblis," balas Xian Ling dengan suara penuh keteguhan. "Aku belum menunjukkan segalanya."Ia mengangkat pedangnya tinggi, membentuk formasi jurus "Seribu Cahaya Me
Aura gelap yang mengelilingi Iblis Hantu semakin pekat, membuat udara di sekitarnya terasa berat dan pengap. Para pengawal yang masih berusaha berdiri tampak menggigil, beberapa mundur perlahan, tak sanggup menahan tekanan. Byakko menatap tajam, bulunya berdiri, mengeluarkan raungan yang menggema ke seluruh desa. "Jadi, Putri Mahkota Xiang Ling ingin bertarung denganku? Kau memiliki keberanian yang luar biasa... atau kebodohan yang tak terukur," suara Iblis Hantu terdengar seperti geraman dan tawa yang menyatu. Xian Ling menarik napas panjang, tangannya mengangkat pedang peraknya yang memancarkan cahaya lembut. "Aku tidak akan membiarkan makhluk sepertimu menghancurkan desaku. Jika harus bertarung, maka aku siap." Iblis Hantu mulai bergerak, tubuhnya melayang rendah dengan gerakan yang tak lazim, seperti asap yang bergulir ke depan. "Bagus. Aku akan menikmati meremukkan jiwa pemberani sepertimu." Namun, sebelum makhluk itu dapat menyerang, Song Yin melangkah maju, berdiri di a
Selir Song Yin berdiri tegap di bawah tatapan mengerikan Iblis Hantu, tetapi ada kilatan dingin di matanya, sesuatu yang membuat Xian Ling semakin curiga. Dengan langkah mantap, Song Yin melangkah maju, membuat pengawal-pengawal di belakang mereka terkejut, bahkan ada yang menahan napas."Kau berani mendekat?" Suara Iblis Hantu menggema seperti guruh yang melayang di udara. Asap hitam di sekeliling tubuhnya menggeliat liar, seolah siap menerkam kapan saja.Song Yin berhenti tepat beberapa langkah dari makhluk itu, lalu menyeringai tipis. "Aku tahu batasanku," katanya dengan nada rendah namun tegas. "Dan aku tahu kau bukan sekadar makhluk liar yang ingin merusak. Kau makhluk yang hidup dari energi jiwa—kau tidak pernah menyerang tanpa alasan."Mata kuning itu menyipit, memperhatikan Song Yin dengan lebih intens. "Hmph. Kau tahu banyak, wanita. Lalu, apa yang akan kau tawarkan untuk menyelamatkan desa ini?"Xian Ling merasa darahnya mendidih mendengar percakapan itu. Apa maksud Song Yin
Langit malam berubah menjadi lautan merah dengan kilat yang menyambar-nyambar di kejauhan. Sosok besar yang mulai terbentuk di balik awan gelap tampak seperti bayangan raksasa dengan mata bercahaya kekuningan. Desir angin kencang membawa suara-suara aneh—bisikan, tawa, dan jerit tangis yang menggema, memeluk udara dengan kengerian yang dingin menusuk.Xian Ling menghunus pedangnya, kilau tajam logamnya memantulkan cahaya api dari desa yang terbakar. "Song Yin, makhluk apa ini?" tanyanya tegas, meski ketegangan menggantung di setiap katanya.Selir Song Yin menatap ke langit, matanya menyipit seolah berusaha membaca rahasia di balik kabut merah yang meliuk-liuk. Namun, sekilas bayangan rasa takut melintas di wajahnya sebelum ia kembali memasang ekspresi tenang. "Itu bukan makhluk biasa," katanya dengan suara rendah. "Itu Iblis Hantu, penjaga Hutan Hantu. Tidak ada yang pernah melihatnya dan hidup untuk menceritakannya.""Bagaimana mungkin kau tahu banyak tentang ini?" Xian Ling memandan
Bayangan malam mulai menyelimuti Desa Huang Yang, tetapi nyala api yang membakar sisa-sisa rumah penduduk membuat kegelapan tampak lebih mencekam. Bau hangus kayu dan jerami bercampur dengan aroma besi dari darah memenuhi udara. Angin dingin berhembus, membawa bisikan samar yang terdengar seperti rintihan pilu.Xian Ling dan Selir Song Yin berdiri di tepi desa, menyaksikan pemandangan yang lebih mengerikan daripada yang mereka bayangkan. Rumah-rumah berserakan, beberapa telah rata dengan tanah, sementara yang lain masih menyala, memuntahkan asap hitam ke langit. Tubuh-tubuh penduduk tergeletak di tanah, beberapa dengan luka yang terlalu mengenaskan untuk dilihat."Apa-apaan ini..." gumam Xian Ling, matanya menyipit, menahan gejolak emosi. Ia menggenggam pedangnya lebih erat, merasakan ketegangan yang semakin menyesakkan dada.Sementara itu, Selir Song Yin berdiri sedikit di belakang, wajahnya tetap tenang meskipun matanya menyapu pemandangan dengan penuh perhitungan. Namun, senyum tip