"Aku takut terlambat datang ke sini dan aku ti-tidak sempat sarapan," cicit Nami malu bercampur tak enak. Dia sudah sadarkan diri dan saat ini masih di rumah sakit. Saat matanya bersitatap dengan Pepita, Nami langsung menundukkan kepala karena takut pada Pepita. Benar memang jika dia tak sempat sarapan, tetapi bukan karena takut terlambat ke butik. Dia dan Nanda janjian ke butik jam sepuluh pagi. Jelas dia bisa sarapan. Yang membuat Nami tak sarapan itu karena harus menyiapkan dress Pepita serta membersihkan kamar sepupunya tersebut. Pamannya selalu berangkat jam setengah tujuh dan selalu memilih sarapan di kantor. Setiap kali pamannya berangkat, Pepita akan bersikap jahat padanya. Walau begitu, selama ini Pepita selalu membiarkannya ikut sarapan. Tapi entah kenapa tadi pagi Pepita benar-benar jahat padanya, dia tak diizinkan sarapan sebelum menyelesaikan semua pekerjaannya. Sepertinya Nami melakukan kesalahan sehingga Pepita marah padanya. "Tidak sempat sarapan padahal kita be
"Nice." Pepita tersenyum manis ketika sudah berhasil mengirim foto tersebut pada salah satu wartawan ternama di kota ini.Dengan kekuasaan yang dimiliki ayahnya, dia mengancam supaya wartawan tersebut membuat berita tentang Lea–sesuai dengan foto yang dia kirim, di mana Lea terlihat tengah dipeluk oleh seorang pria. Perusahaan itu jelas takut padanya karena ayahnya cukup berkuasa di negara ini. Satu lagi, wartawan tersebut tak akan tahu jika yang Lea peluk adalah Haiden karena wajah Haiden tertutup. "Ahahaha … tunggu saja kehancuranmu, Lea sialan. Kamu tidak cantik dan kamu tidak cocok bersanding dengan Tuanku Haiden!" Di awal kalimat, Pepita tertawa tetapi di akhir kalimat nadanya berubah menggeram dan cukup menyeramkan. "Sekarang aku harus memberi pelajaran pada Nami! Cih, gadis kampungan itu tidak cocok bersanding dengan Pak Nanda! Dia juga tidak pantas diperlakukan manis, dia itu pembantu!" pekik Pepita, kesal ketika mengingat Nanda memperlakukan Nami dengan begitu lembut dan pe
Ketika Haiden dan Reigha mengobrol tentang anak--di mana Haiden terus bertanya bagaimana cara merawat anak pada Reigha, istri dari masing-masing pria itu malah asyik mengobrol. Lea tentu menceritakan kejadian di rumah sakit, tentang Pepita yang berusaha menggoda Haiden. "Eh, laris juga yak Kak Den, banyak yang suka," bisik Ziea pelan, supaya kakaknya tak mendengar. Meskipun dia yakin suaminya mendengar karena telinga suaminya sangat tajam. "Iya dong! Suami aku kan tampan maksimal, Bestod!" jawab Lea bangga, dengan nada cukup arogan dan penuh ekspresi. "Ih, macam kambing pun!" Ziea menatap kakaknya sinis kemudian bergidik ngeri. Ziea tak melihat sedikitpun ketampanan dari kakaknya. Yang dia lihat adalah sebuah monsters pemarah seperti cicak raksasa. Tapi-- sebenernya kakaknya siluman kambing atau cicak? Ah, Ziea pusing! "Elleh!" Lea memutar bola mata jengah, "stop menyebut my honey sweety bunny kakanda Haiden Terlope-lope mirip kambing! No! My honey sweety bunny kakanda Haide
Drttt Lea menoleh ke arah HP, teralihkan karena suara handphonenya yang cukup mengganggu. Dia menatap nama kontak yang menelpon kemudian izin pada Ziea dan Nami untuk pergi mengangkat telepon. "Bentar yah, Beib, aku angkat telepon dulu," ucap Lea, mendapat anggukkan dari Ziea dan Nami. Dia pergi ke halaman samping, lalu segera mengangkat telepon. "Halo, Mantan Bos-ku," sapa Lea, membuat seseorang pria di seberang sana tertawa geli. 'Aahaha … seperti biasa, selalu ceria dan manis. Ah, begini, Lea. Apa kamu sudah membaca berita yang kubuat?'"Berita apa, Bos? Berita kebakaran yah? Atau-- apa nih?" tanya Lea, mengerutkan kening karena bingung. Dia belum membuka HP setelah datang ke kediaman Mahendra, jadi dia sama sekali tak tahu berita apa yang Reza maksud. 'Berita yang akan membuatmu senyum-senyum. Ngomong-ngomong, Bapak mengikuti caramu membuat artikel berita. Kamu harus lihat dan kamu pasti bangga pada bos-mu ini, Anak muda.'Lea cekikikan pelan, merasa lucu pada sang mantan bos
"Dia Pepita, Mas Den," jawab Lea, semakin panik dan takut pada suaminya sendiri. Aura Haiden begitu mengerikan, membuat Lea merinding dan tak nyaman. "Jalang sialan itu!" maki Haiden pelan, memalingkan wajah untuk menyembunyikan ekspresi marah dari istrinya. "Mas Haiden Terlope-lope." Lea menyentuh rahang Haiden, membuat suaminya tersebut kembali menoleh padanya, "kumohon, kamu tidak perlu melakukan apapun pada Petita." "Tidak bisa," jawab Haiden cepat. "Mas Haiden," cicit Lea pelan, semakin panik dan khawatir. Masalah Melody saja belum lepas dari bayang-bayang Lea, dia masih suka takut sendiri saat mengingat hukuman mengerikan yang Haiden berikan pada Melody. "Dia punya pilihan untuk tak melakukan kejahatan. Tetapi dia memilihnya. So-- dia harus terima konsekuensinya, Sweetheart." Satu tangan Haiden memeluk pinggang Lea erat, satu lagi menangkup pipi Lea. Ciuman lembut mendarat di bibir Lea, salah satu cara Haiden mendapatkan ketenangan. Lea juga paham, dan dia membiarkan sua
'Aku tak menyangka kalau Lea punya masalah berat dengan keluarga ini. Tetapi dia tetap menjadi pribadi yang ceria, dia berani dan tegar. Aku mengidolakan Lea dan aku akan menjadikannya panutanku.' batin Nami, tersenyum bangga dan tulus–sembari menatap sosok Lea. Setelah makan malam, mereka kembali mengobrol bersama. Nami sangat takjub pada Lea, karena dia besar hati tetapi juga berani menyuarakan isi hatinya. Nami ingin menjadi seperti Lea. Tetapi apakah dia bisa? "Mak Le, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Ziea. Sejujurnya sejak dari tadi dia ingin menanyakan perihal ini, akan tetapi dia tak enak. Dia takut membuat Lea tersinggung serta tak nyaman. Namun, Ziea memberanikan diri. Lea menggelengkan kepala, tersenyum lembut pada Ziea. "Aku nggak apa-apa, dan aku merasa sangat lega," ujar Lea pelan, "kamu nggak perlu merasa nggak enak begitu, Ziea. Mereka memang keluargamu tetapi, perbuatan mereka bukan tanggung jawabmu." Ziea menganggukkan kepala kecil, meskipun begitu dia tetap tak
"Pagi, Daddy, Mommy," sapa Lea pada mertuanya, tak lupa tersenyum tipis. "Pagi, Lea.""Pagi, Nak." Mertuanya balik menyapa Lea. Di sisi lain, Ziea yang sedang membantu mommynya menyiapkan sarapan, seketika dibuat kaget melihat Lea. "Loh, kamu kok tiba-tiba di sini?" tanya Ziea, mengerutkan kening dan melebarkan mata. Lea tersenyum tipis, mendekat pada sahabat tersebut kemudian berbisik. "Tadi malam kami balik lagi ke sini.""Kenapa, Mak?" balas Ziea, balik berbisik pada Lea. "Itu … Ma--" Lea ingin sekali mengatakan apa yang terjadi tadi malam antara dia dan suaminya, akan tetapi makhluk yang ingin dia bahas tiba-tiba muncul. Haiden datang dengan pakaian sudah tapi, mengenakan balutan tuxedo mahal–begitu berwibawa dan sangat mempesona. "Nanti ajah, Ziea. Aku lagi terpesona sama My Baby Haiden Terlope-lope. Ugh … tampan banget suami aku!" bisik Lea, senyum-senyum tipis di akhir kalimat sembari terus mengamati suaminya. "Najis banget!" Ziea mendengkus sebal, menepuk cukup kuat leng
Lea ingin sekali menegur Haiden, akan tetapi dia sadar kalau Haiden lebih meledak-meledak setelah sebelumnya ditegur olehnya. Mungkin Haiden merasa kalau tadi Lea membela Ziea sehingga dia semakin marah pada semua orang. "Haiden." Kenzie kembali menegur putranya, "Usiamu sudah kepala tiga tetapi kelakuanmu masih seperti bocah tiga tahun. Sebentar lagi kau juga akan menjadi seorang papa, ubah sikapmu yang seperti ini." "Jangan senyum-senyum, Zie. Kamu juga sama seperti Kakak. Sudah besar tetapi masih bertingkah seperti anak kecil." Kenzie beralih menegur putrinya, membuat senyuman penuh kemenangan Ziea seketika luntur. "Maaf, Daddy," sungut Ziea pelan, mendapat anggukkan kepala dari daaddynya. Mereka semua pada akhrinya sarapan bersama, tak ada lagi yang berani ribut karena para petarung sudah ditegur oleh Kenzie. Selesai sarapan, Haiden ke kantor dan begitu juga dengan Maxim. Hanya Reigha yang tak kemana-mana, karena pekerjaannya memang lebih longgar kalau sedang di tanah ai
"Jam tangan," gumam Ethan, membuka kado yang Alana berikan padanya. Dia sudah di rumahnya, di dalam kamar dan sedang bersantai. Senyuman tipis muncul di bibirnya, mengusap jam tangan pemberian perempuan yang ia cintai. Ethan mencoba jam tangan tersebut ke pergelangan tangan dan ternyata pas. Dia lagi-lagi tersenyum tipis, merasa semakin senang ketika jam tersebut telah ada di pergelangan tangan. Namun, karena dia takut jam tersebut lecet dan terkena debu, Ethan melepas jam itu. Dia kembali memasukkan ke dalam kotak lalu membawanya ke walk in closet. Tetapi Ethan mengurungkan niat, memilih menyimpan jam tersebut di atas nakas sebelah ranjang. Karena dengan begitu, setiap hari Ethan akan melihat jam ini. Setelah meletakkan jam tersebut di atas nakas, Ethan mengeluarkan sebuah surat dari saku celana. Surat tersebut adalah surat yang Alana lempar tadi. Dia diam-diam memungutnya karena dia sangat penasaran dengan isi surat tersebut. [Untuk, Kak Ethan. Selamat hari kasih sayang dan ci
Alana mendekati Daddynya lalu merampas kertas kecil tersebut. "Daddy sama Mommy rese banget sih," ucap Alana dengan nada cemberut, dia meremas kertas secara diam-diam kemudian membuangnya secara sembarang arah. Sebenarnya tak ada yang istimewa pada kertas itu, soalnya yang menulis adalah staf toko jam tangan. Palingan hanya ucapan terimakasih. Namun, kalau daddynya membaca, tetap saja Alana merasa malu. "Jadi Alana dan Kak Ethan kencan sambil mencari kado? Kalian ingin tukar kado yah?" tanya Nanda dengan nada hangat tetapi tatapan jahil pada Alana. "Enggak, Uncle," bantah Alana, memilih di sebuah sofa tunggal. Sebetulanya Alana sudah tak punya muka dan dia ingin sekali meninggalkan tempat ini. Namun, dia takut sekali mommynya mengatakan hal-hal aneh pada Ethan. Alana juga takut kalau Ethan me-melamarnya. Awalnya Alana tak masalah dilamar oleh Ethan. Itu bukan sebuah ancaman baginya karena dia putri kesayangan sang Haiden. Daddynya tak mungkin merelakan Alana pada Ethan. Namun
"Kamu dari mana sih, Alana sayang?" tanya Lea ketika putrinya telah kembali. Dia langsung menghampiri sang putri, menatap Alana lekat dan penuh perhatian. Lea tentu khawatir pada Alana. Tadi malam putrinya hampir terkena masalah yang luar biasa mengerikan. Pagi ini, ada berita buruk tentang seseorang yang membenci putrinya. Lea khawatir orang tersebut melakukan aksi kejahatan pada Alana; menyerang Alana secara fisik. Lea sangat panik tetapi dia tidak berani memberitahu suaminya karena dia takut jika Haiden mengamuk. Meski sekarang suaminya jauh lebih lembut dan hangat, tetapi Haiden tetaplah Haiden. Sumbu pendek, nuklir ataupun gunung berapi. Jadi Lea tak ingin mengambil resiko. Dia memilih menghubungi Ethan, pria yang sudah ia dan suaminya setujui untuk menjadi menantu. Sebenarnya ada opsi menghubungi putranya, tetapi sifat Ebrahim tak jauh dari dadanya–sangat mudah marah. Takutnya, Ebrahim memarahi adiknya yang pergi tanpa pamit. "Aku habis jalan-jalan, Mommy," jawab Lea,
"Aku calon suami Alana." Deg deg deg Alana reflek mendongak pada Ethan, menatap pria itu dengan mimik muka campuran tegang dan malu-malu. Namun, Alana tak seperti biasanya, di mana dia akan kesal serta tak terima ketika Ethan menyebutnya pasangan. Alana hanya … merasa gugup. Satria menatap Ethan dengan senyuman remeh, pria ini pasti orang yang mengaku-ngaku sebagai calon suami Alana. Atau jangan-jangan dia fans fanatik dari Alana? "Kau ini--" Satria menatap Ethan dari atas hingga bawah. 'Pakaiannya sangat berkelas, dia penuh wibawa dan karisma. Orang sepertinya seharusnya jarang menonton televisi. Ah, bisa saja dia berpenampilan seperti ini untuk memikat perempuan. Tapi tak bisa ku pungkiri, dia memiliki aura yang mahal.' batin Satria, dia memperhatikan penampilan Ethan untuk menghina pria ini. Akan tetapi, dia tidak memiliki bahan untuk menghina pria ini. Bahkan semua yang pria ini pakai harganya hampir setara dengan harga mobil miliknya yang biasa ia pakai ke lokasi shooting.
"Angkat kamera kalian dan kalau berani, menghadap padaku!" dingin Haiden, nada menggeram marah dan tatapan sangat tajam–penuh emosi. Alih-alih mengangkat kamera, para wartawan tersebut bergerak mundur. Mereka menunduk dalam, menutupi wajah agar tidak dilihat oleh sang legendaris Mahendra. Rurom menyebut, apabila dalam keadaan marah Haiden menatap seseorang, maka orang tersebut akan menghilang. Tak ada yang bisa membenarkan rumor tersebut, akan tetapi banyak yang menyebutnya nyata. "Kalian berani mengganggu putriku, Hah?!" bentar Haiden dengan suara menggelegar–para wartawan tersentak kaget, tubuh bgemetar hebat dan jantung berdebar kencang. "Ma-maafkan kami, Tuan Haiden," ucap salah satu dari wartawan tersebut. "Kalian semua pantas mati!" dingin Haiden. Lea melepas pelukannya pada putrinya lalu buru-buru menghampiri suaminya. "Mas Deden Terlope-lope, tenangkan diri kamu," peringat Lea, memeluk suaminya sembari satu tangan mengusap dada bidang sang suami. "Sebaiknya kita p
"Putriku. Di-dimana putriku?" Haiden dan yang lainnya datang ke sana. Ebrahim yang memberitahu supaya daddynya datang ke tempat ini. Awalnya Ebrahim dan Ethan sepakat ingin menutup-nutupi masalah ini dari Haiden dan Lea. Akan tetapi, daddynya terus menghubunginya–menyuruh Ebrahim untuk mencari Alana ada di mana. Pada akhirnya Ebrahim mengatakan yang sejujurnya. "Daddy …." Alana langsung berdiri, menangis sembari menatap ke arah daddynya. Haiden merentangkan tangan supaya putrinya datang dan memeluknya. Alana langsung berlari dan …- Bug' Memeluk sosok perempuan di sebelah daddynya–mommynya. Haiden yang masih merentangkan tangan–berharap dipeluk oleh putrinya, terlihat memasang muka kaku dan dengan mata berkedut-kedut. Hell! Dia hanya mendapat angin untuk dipeluk. Semua orang yang melihat itu, berusaha menahan tawa. Lucu akan tetapi salah waktu saja. "Su-sudah, Den. Tak ada yang ingin memelukmu," ucap Reigha, menurunkan tangan Haiden yang masih direntangkan. "Nanti kita
"Sudah?" tanya Ethan, melirik sekilas pada Alana yang masih berendam dalam bath up. Sebenarnya Ethan ingin sekali melirik Alana lebih dari satu detik, tetapi … damn! Dia takut dia mencelakai gadis ini. Alana menekuk kaki lalu memeluk diri sendiri. Dia sudah sadar dan tubuhnya tidak lagi merasa terbakar. "Sudah, Kak," jawabnya pelan, malu karena keadaannya hampir telanjang. "Humm." Ethan berdehem singkat, meraih handuk lalu memberikannya pada Alana. "Aku keluar," ucapnya setelah itu."Kak Ethan, bajuku basah dan aku tidak punya baju lagi," cicit Alana ketika Ethan berniat keluar dari kamar mandi. "Humm." Ethan hanya berdehem, dia keluar dari kamar mandi lalu menghubungi seseorang untuk mengantar pakaian pada Alana. Orang yang dia hubungi adalah Zana, perempuan itu dekat dengan Alana dan tentunya tahu selera berpakaian Alana. Satu lagi. Zana sepupunya dan mereka lumayan dekat. Tak lama Zana datang dengan Ebrahim, di mana raut muka Ebrahim sangat tak bersahabat–khawatir dan marah
Alana menjauhkan pandangan, meraih handphonenya dan pura-pura sibuk dengan ponsel. Jantung Alana berdebar kencang, padahal dia hanya bersitatap dengan Ethan tetapi kenapa dia gugup? Ada getaran yang tak ia pahami di dalam hati. Di sisi lain, Ethan menghela napas, Alana tidak suka padanya dan dia tidak ingin memaksa. Acara berlanjut dan begitu meriah. Di depan sana, orangtuanya membanggakan Ethan, granddad dan grandma-nya juga memuji Ethan. Di tempatnya Alana ikut senang melihatnya. Dia masih ingat waktu Ethan termenung di ruangannya karena masalah yang iklan. Masih teringat jelas wajah murung Ethan ketika kakaknya menyalahkannya di depan banyak orang, karena masalah tersebut. Namun, di sini Ethan terlihat bersinar. Dia bisa membuktikan dirinya sendiri dan akhirnya dia diakui. Tanpa sadar Alana tersenyum dan bertepuk tangan kecil. Akan tetapi senyumannya langsung lenyap ketika Ethan menatapnya. Lagi-lagi jantungnya berdebar kencang dan Alana tidak nyaman dengan tatapan Ethan. Semua
"Dia memang Azam, tetapi dia berdiri diatas kakinya sendiri. Dia tidak pernah mengandalkan nama belakangnya. Dan Kakak perhatikan Kak Ethan sangat memperhatikanmu, kau sangat beruntung jika mendapatkannya. Karena Kak Ethan tidak peduli pada sekitarnya, dan kau satu-satunya yang akan dia perhatikan.""Kak! Tolong jangan paksa aku. Aku nggak suka Kak Ethan," pekik Alana. Ebrahim menghela napas, berdiri dari sebelah adiknya lalu mengusap pucuk kepala Alana. "Terserah. Tapi-- gengsinya jangan lama-lama. Yang suka pada Kak Ethan itu bukan hanya kau.""Ih apaan sih?!" ketus Alana, langsung menutup pintu dengan kasar–setelah Ebrahim keluar dari kamarnya. Semua orang gila! Sudah Alana bilang kalau dia tidak suka pada Ethan, tetapi orang-orang terus keukeuh menganggap Alana suka pada Ethan. Hell! Bukan hanya Ethan laki-laki di dunia ini, dan … big no untuk pria Azam. Sekalipun Ebrahim sudah menasehati, itu tak mempan pada Alana. Tidak tetap tidak suka! Tok tok tok'Alana membuka pintu deng