Aku menangis tersedu-sedu dengan film yang diputar di layar lebar. Bahkan beberapa kepala menoleh ke arah kami karena suara tangisku yang mengalahkan movie di hadapan.
Entah mengapa aku merasa sedih tiba-tiba dan ingin menangis keras. Seharusnya tadi kami tidak usah ke sini, karena bukannya menghibur, tetapi membuat lukaku semakin pedih.
“Dia pria jahat, huaaaa,” tangisku keras yang membuat Mason sedikit mencondongkan tubuh ke arah berlawanan, dan berpura-pura tidak mengenalku karena sejak tadi dia menutupi wajah dengan kotak pop corns.
“Lihatlah, wanita itu padahal sangat mencintainya.” Tunjukku sembari menarik baju Mason pada adegan dimana si wanita menangisi tubuh kekasihnya yang terluka.
Aku mengambil kotak pop corn yang Mason pegang dan memasukan isinya ke mulut sebanyak satu ganggaman tangan.
Dia menggelengkan kepala, karena aku tidak berhenti mengunyah dengan air mata luruh di pipi. Setelah puas melihatku menangis, Ma
Selama perjalanan, aku mendiamkan Gavin dan membuang pandangan ke luar jendela. Dan kurasa dia juga melakukan hal yang sama; mengabaikanku dengan sengaja.Amarahku semakin besar, begitu menyadari dia membawaku ke jalanan yang biasa kulalui saat pulang ke rumah. Tadinya kupikir dia akan mengajakku ke suatu tempat berdua, menghabiskan sisa malam bersama. Tetapi aku salah.Lalu untuk apa dia membawaku di mobil pribadinya, dan menyuruh Mason membawa mobilku ke rumah, jika pada akhirnya tujuan kami juga ke sana.Setelah sampai di halaman, tidak sekali pun aku menoleh dan kudengar dia mendengus sebelum membuka kunci pada pintu.Tanpa mengatakan apa-apa, aku langsung berlari ke luar hingga masuk ke dalam rumah dan mengabaikan Ayah yang melintasi ruang tengah.“Krista?” panggil Ayah yang sedang memegang mug kopi.Kepalaku hanya menoleh sebentar dan melambaikan tangan tanpa berkata-kata.Disaat sedang marah atau kesal, aku lebih su
Sudah beberapa minggu berlalu sejak Jaxon mengirimkan foto Gavin berciuman dengan wanita asing. Dan selama itu pula aku tidak lagi mencari tahu kabar tentangnya.Untuk apa? Hanya akan membuatku sakit hati karena mengingat kejadian yang sama.“Apa kau tidak ingin pulang?” tanya Audrey yang berjalan di depan.Aku mengehela napas dan menutupi wajah dari terik matahari yang mulai membakar kulit.Rasanya aku ingin cepat-cepat lulus dan bebas melakukan apa saja tanpa harus terikat waktu untuk menghadiri kelas setiap hari.“Apa kau tahu tempat yang bagus untuk melupakan sesuatu yang mengganggu kepalamu selama beberapa hari?”Sebenarnya, aku salah bertanya pada seseorang karena jelas sekali Audrey tidak akan tahu. Dia anak rumahan, sama sepertiku.Apa kutanya saja pada Evan, karena biasanya dia suka kelayapan malam-malam.Kulihat dahi Audrey berkerut mendengar pertanyaan konyol barusan, mungkin dia membatin; &ls
Tatapanku terpaku pada pantulan bulan dari danau di hadapan. Dan terdengar suara-suara serangga di sekitar yang tidak lagi kupedulikan, begitu pula dengan kumpulan bebek di dekat pasir berbatu, tak jauh dari danau, kini terdengar ribut karena sepertinya terganggu akan hadirku. “Aku juga butuh tempat sama seperti kalian, dasar berisik,” kataku sengit saat salah satu bebek itu mulai mengepakkan sayap, seolah mengusirku pergi. Aku mendengus keras dan mulai beranjak mencari tempat nyaman untuk merenung kembali. Baru saja aku menemukan spot yang bagus, saat tiba-tiba bayangan seorang pria hadir di hadapan yang seketika menghentikan langkahku. Duh, mengejutkan saja. Apa sulitnya membuat suara? Untung saja aku tidak berteriak dan membuat semua bebek itu semakin ribut dan mengejarku dengan sayap terkembang karena sudah mengganggu tidur mereka. “Mau apa Om ke sini?” tanyaku kesal ketika menyadari bukan dia pria yang kuharapkan. Padahal biasanya
Baru saja aku menaruh tas di kamar setelah pulang dari sekolah, saat tiba-tiba ponselku berbunyi dan nama ‘Om Jaxon’ muncul di layar.Huh, tidak biasanya dia mengirimi pesan.Dia sendiri yang mengakui lebih menyukai panggilang suara dibanding text. Kurasa dia tidak begitu mahir membaca dan rasa ‘suka tidak suka’ tersebut hanya alasan agar orang-orang tidak curiga, bahwa kepala Mafia paling ditakuti buta literasi.Om Jaxon: Kau sudah pulang?Aneh sekali dia menanyai, bukankah tadi orang suruhannya mengikuti sampai ke rumah. Dasar basa-basi busuk.Me: Memangnya kenapa bila belum? Kau mau mengajak makan siang? Kebetulan sekali aku ingin makan di La Fontana.Om Jaxon: Siapa juga yang akan mengajakmu ke sana. Aku tidak mau berbicara dengan Dune Fontana saat ini. Kemarin saja dia nyaris tidak memberiku kursi. Reservasi penuh.Membaca pesannya, aku sangat yakin dia mengajak teman kencan seorang wanita ke La Fontana. H
Kakiku pegal karena terlalu lama berdiri sehingga aku pun memutuskan untuk berjongkok.Tidak lama kemudian petugas penjaga pintu mendatangi lagi, dan ini sudah sekian kali dengan menyakan hal yang sama berulang-ulang.“Apa kau benar-benar tidak apa-apa berada di sini?”Dapat kulihat wajahnya yang cemas, karena bisa saja dia takut kedapatan membiarkan tamu berada di luar gedung malam-malam.Untuk meyakinkannya, aku mengangguk pasti hingga membuat leherku sedikit pegal.“Tidak apa-apa. Kembali saja ke dalam, aku lebih suka menunggu di luar,” kataku sembari mengibaskan tangan, pertanda mengusir petugas itu agar membiarkanku sendiri, tetapi dia sangat keras kepala, atau mungkin saja rasa takut berlebih membuatnya enggan beranjak.“Di dalam lebih hangat dan nyaman,” bujuknya lagi yang membuatku ingin memutar bola mata.Bagaimana cara mengusir petugas ini agar membiarkanku sendiri?“Aku lebih
Aku menatap langit-langit kamar, dan dengan perasaan kesal, kedua tanganku memukul sisi tempat tidur diikuti hentakan kaki berkali-kali.Dasar pria menyebalkan!Setelah membawaku ke sini, Gavin pergi keluar dan meninggalkanku sendiri, tapi tidak lama setelahnya dia datang lagi dengan sebuah kemeja dalam genggaman bersamaan dengan T-Shirt dan juga celana boxer.Tanpa sekali pun melihat ke arahku, dia menaruh semua itu di kaki ranjang, lalu keluar begitu saja.Aku bahkan tidak mendengar sedikit pun dia bicara, membuatku sedikit menderita karena itu artinya dia benar-benar abai sehingga pergi tanpa sepatah kata.Apa aku pulang saja? Tapi … aku tidak mau di rumah sendiri.Bagaimana bila ke rumah Evan?Hhh … takutnya dia sedang ke party dan tidak di rumah.Saat kedua tanganku memukul kasur kembali, maka saat itu pula Gavin memutuskan untuk masuk ke kamar dan berdiam diri di depan pintu sembari bersandar pada kusen seda
Setelah kejadian beberapa hari lalu, aku pun melakukan apa saja untuk merusak hari-hari yang Gavin lalui dengan sengaja. Dimulai dari mendatanginya ke Red Cage, lalu mengobrak-abrik kesenangannya saat dia bersama wanita lain. Bahkan, banyak wanita yang perlahan menjauhinya karena tahu aku akan melabrak mereka satu per satu, namun hanya satu orang saja yang tidak terpengaruh, yaitu si Jalang Nayla.Tidak hanya mendatangi Gavin di mana saja, aku juga menerornya dengan pesan-pesan singkat serta menghubunginya tengah malam, hanya untuk memastikan dia sendiri apa tidak. Untungnya Om Jaxon berbaik hati memberiku nomor Gavin dan tanpa peduli dia akan kesal, aku pun mengganggunya setiap waktu.Mulai dari menanyakan apakah dia sudah makan, hingga kegiatan apa yang sedang dia lakukan. Meski dengan marah-marah, Gavin tetap membalas dan menjawab semua pertanyaan.Hanya saja, saat kami mengadakan pesta Piyama di Penthouse milik saudara laki-laki Slaine, yaitu Danny Johanson,
Malam semakin larut, tetapi aku tidak juga bisa tidur, sehingga aku pun terbangun kembali dan duduk di atas kasur sembari menatap ke arah jendela yang sengaja kubuka.Bulan tampak bersinar terang di luar, tetapi cahayanya yang lembut tidak bisa memberiku ketenangan.Bahkan aku tidak menyadari pipi yang basah selama beberapa menit. Dan begitu lelehan air mata jatuh ke lengan, barulah aku mengusap semua jejak tangis yang tidak ingin kubiarkan bertahan lama di pelupuk.Kepalaku melirik ke arah ponsel yang terletak di atas meja, namun sekuat tenaga aku mengenyahkan keinginan untuk meraihnya.Buat apa? Menghubungi Gavin tengah malam dan menangis hanya untuk diabaikan? Atau mungkin saja dia mengangkat panggilan dan aku mendengar suara feminim yang sedang menghangatkan ranjangnya di seberang.Mengingat kemungkinan terakhir, hatiku merasa sakit tiba-tiba, dan tanpa sadar aku meremas dada lalu menepuk-nepuknya pelan.“Kau bahkan tidak peduli,&r
“Kemana kau akan membawaku?” tanya gadis itu ketika Gavin mengemudikan mobil menuju ke jalanan yang jauh dari kota, seolah-olah mereka menuju sebuah tempat terpencil.Dengan tatapan ingin tahu, Krista tidak bisa melepas pandangan pada pria yang menyetir di sebelah.Cukup lama Gavin akhirnya menjawab.“Kau akan tahu bila kita tiba,” ucap pria itu dengan senyuman simpul.Bahkan, Krista melihat sesuatu yang sangat tidak biasa dari cara Gavin menatapnya, seolah pria itu melihat bongkahan berlian dengan ekspresi antusias, yang seketika menghangatkan pipi gadis itu hingga bersemu merah.Bukannya kecanggungan yang tercipta, suasana di sekitar beruba
Saat terbangun pagi itu, Krista meraba sisi ranjang di sampingnya hanya untuk mendapati tempat itu terasa dingin, seolah-olah tidak ada tubuh yang berbaring di sana dalam waktu yang cukup lama. Seketika dia pun terkesiap dan terduduk sembari memperhatikan ke sekitar ruangan.Perlahan-lahan rasa takut mulai menjalari diri, membuat kepanikan menyelimuti hingga dia merasakan getir pada mulut.“Gavin,” panggil gadis itu, layaknya seseorang yang kehilangan.Dengan tergesa-gesa, Krista menyibak selimut sembari berlari keluar kamar menuju tangga ke lantai bawah.Napas gadis itu memburu ketika dia tiba-tiba saja melihat sosok Gavin tengah berdiri di dekat jendela di ruang keluarga dengan ponsel di telinga. Sembari menata napas, Krista memperhatikan pria di hadapan yang berpakaian sangat rapi dengan kemeja biru dongker membalut tubuh, lengkap dasi dan sepatu kulit hitam mengkilat.Mendengar suara yang berasa dari balik tubuhnya, pria itu p
Langit tampak mendung di pemakaman, membuat Krista mendongak sebentar sebelum memusatkan perhatian kembali pada dua batu nisan di hadapan.Lama dia terdiam, dengan kepala menunduk, menyembunyikan tangisan yang tadi sempat mengering.Sementara itu, Gavin yang berada di sampingnya sejak tadi hanya diam sembari mengawasi. Pria itu menatap batu nisan yang sering dia kunjungi selama beberapa tahun terakhir dengan tatapan sama sendunya dengan langit yang hendak menurunkan hujan.Dalam kesunyian yang menyelimuti, keheningan itu pun pecah dengan suara serak Krista yang berkata; “Terima kasih.”Mendengar ucapannya, Gavin hanya menoleh pelan.Kini, gadis itu memandang ke arahnya dengan mata yang basah kembali.“Terima kasih sudah merawat keduanya selama aku tidak ada,” lanjut Krista yang mendapat senyuman lemah.“Bagaimana kau tahu?” tanya Gavin lembut.Dia merapikan anak rambut gadis itu yang diterban
Sentuhan lembut di bahu membangunkan Krista. Tubuhnya menggeliat pelan sembari menoleh ke samping dengan mata sedikit terbuka. Kemudian, dia pun terdiam ketika mendapati wajah Gavin yang mengulas senyuman halus di wajah rupawannya.“Bangunlah sleepy head,” bisiknya pelan sembari mengelus pipi gadis itu.Krista tampak masih dikusai kantuk, membuat Gavin sedikit merasa bersalah telah membangunkan.“Kita ada di mana?” tanya Krista sembari melirik ke luar jendela.Dia pun terdiam saat mendapati bangunan yang sangat familiar.“Kita sudah tiba,” bisik Krista itu gugup saat menyadari mereka telah berada di dalam Kota Denver.Dengan cepat Gavin menggamit lengan gadis itu, lalu meremasnya hati-hati.“Ya. Aku akan membawamu ke tempatku,” ucap Gavin, tanpa melepaskan pegangan keduanya.Kepala Krista menunduk seketika, dia tahu bahwa Gavin mengerti perasaannya saat ini.“Ok
Gavin hendak membawa Krista ke dalam kamar hotel, saat tiba-tiba gadis itu menahannya.Mendapati mata Krista yang mendelik tajam, hati Gavin pun meringis melihat itu.“Masuklah, kita bisa bicarakan di dalam,” ucapnya, membuat Krista tampak ingin pergi, sehingga Gavin pun menangkup wajah gadis itu di antara kedua telapak tangan.Dia mendekatkan wajah dan berbisik pelan dengan tatapan mata yang lembut.“Kau tahu bahwa tidak ada pilihan untuk menghindariku, Baby Girl,” tambahnya sembari mengusap dagu Krista dengan kedua ibu jari penuh kehati-hatian. “Berkali-kali aku meminta kesempatan, namun kau tidak memberikannya. Dan ini satu-satunya cara yang kutahu untuk menghilangkan egomu itu.”Krista meremas jas yang melekat di tubuh Gavin. Dia ingin menumpahkan kemarahan, akan tetapi tatapan pria itu yang tulus membuatnya merenggangkan pegangan. Mata gadis itu berubah panas, sebelum akhirnya lelehan air mata bergulir pelan
Esok paginya, sebuah nada dering membangunkan Krista dari tidur lelap. Seketika dia terjaga dan meraba permukaan meja untuk mencari-cari benda pipih yang sangat ribut sejak tadi menjadi alarm pengganti.Namun, ketika melihat nama yang tertera di layar, seketika Krista menggeram kesal. Dia tidak ingin berbicara dengan pria tua itu di jam sepagi ini. Bisa-bisa mood-nya rusak seharian karena pastilah yang dibicarakan tidak jauh-jauh dari masalah hutang dan bank.Setelah mematikan ponsel, Krista kembali menarik selimut dan mengundang alam mimpi menyelimuti. Akan tetapi, suara gedoran keras yang berasal dari depan pintu membuat Krista menyibak selimut dengan gerakan marah.“Ini masih pagi!” hardiknya kesal.Kepala Krista berputar ke seluruh ruangan, mencari-cari keberadaan Linda yang ternyata tidak pulang sejak semalam.Sembari memijit pelipis, dia bergumam pelan; “Di saat semua orang memiliki kisah cinta yang berbunga, aku malah mende
Suasana hening di dalam mobil tampaknya tidak sedikit pun mengusik Gavin, karena sejak tadi dia terus mengulas senyuman sembari mengelus permukaan kulit Krista yang berada dalam genggaman.Sejak mereka berhenti di parkiran asrama, tidak satu pun dari keduanya keluar dari sana. Bahkan, rasa enggan berpisah terlihat jelas dari wajah Gavin yang terus memegangi tangan Krista.Pandangan pria itu tidak sedikit pun lepas, walau hanya sekedip saja. Seakan tidak ingin gadis itu pergi dan mereka kembali pada situasi semula.“Sebentar lagi libur semester, ikutlah denganku ke Denver,” ucap Gavin lembut.Mendengar itu, Krista membuang wajah dan menatap ke luar jendela. Tampaknya, dia masih belum menerima Gavin sepenuhnya. Atau mungkin, Gavin saja yang terlalu percaya diri bahwa hubungan mereka sudah lebih baik dari sebelumnya.“Jika kau tidak mau ke sana, aku akan menemanimu di sini,” tambahnya yang masih tidak Krista pedulikan.M
Sebuah tamparan mendarat di pipi Gavin hingga meninggalkan jejak merah seukuran lima jari.Seketika pria itu memejamkan mata, dan dia menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka kelopak matanya kembali dengan tatapan mengunci pandangan mereka.Mata sebiru samudra yang diarahkan pada Krista menatap tulus, seolah mengisyaratkan bahwa dia akan menerima tamparan dari wanita itu sebanyak apa pun itu. Dan dengan jari-jemari yang mengelus pipi Krista lembuat, Gavin pun melontarkan pertanyaan yang sama kembali.“Maukah kau menikah denganku, Princess?” Tatapan matanya lurus ke depan, dan tidak sedikit pun dia membiarkan pandangan keduanya lepas.Lagi, satu tamparan mendarat di pipi Gavin yang seketika membuat kepalanya berputar Sembilan puluh derajat ke kiri.Tanpa mengatakan apa-apa, pria itu pun menoleh pelan untuk menatap Krista yang mendelik tajam dari balik bulu matanya yang basah. Bahkan, sebulir air matanya tampak menetes jatuh hingga
“Aku tidak bisa melakukannya,” jawab Jaxon dari seberang sambungan, membuat Krista terdiam seketika.Detak jantung gadis itu memompa cepat hingga keringat dingin membasahi telapak tangan.Susah payah Krista menata diri akan rasa tidak percaya yang perlahan menguasai.Saat dia hendak bertanya alasannya, pria itu pun menjawab dengan sendirinya.“Dengar, aku tahu bahwa kita punya kesepakatan, tapi untuk masalah ini aku benar-benar tidak bisa membantu. Kau bisa saja meminta yang lain, tapi kali ini aku angkat tangan.”Pembicaraan keduanya pun menjadi hening. Dan saat itulah Krista dapat mendengar suara serangga yang berasal dari danau di taman.Kini, matanya menatap lurus, pada siluet pria yang sabar menunggu di ujung jalan.Bila saja dia meneriakkan nama pria itu, maukah dia berlari ke tempatnya berdiri?Merasa diperhatikan, Gavin memiringkan kepala dan balas menatap dengan seksama. Seolah-olah dia me