Damian menyesap wine di tangannya seraya membaca dokumen yang ada di hadapannya. Tampak raut wajahnya begitu serius membaca dokumen tersebut. Setiap point yang ada di dalam dokumen itu sangat dia perhatikan secara seksama dan teliti. Seperti tak ingin mendapatkan kesalahan. Sejak dulu memang dia sangat teliti dalam hal mengenai pekerjaan. “Kerja bagus, Fargo. Kau mampu membuat perusahaan keluargamu keluar dari masalah yang dulu kau sebabkan.” Damian menutup dokumen itu sambil meletakan wine di tangannya ke atas meja. Ya, saat ini Damian berada di ruang meeting bersama dengan Fargo. Pagi ini dia memiliki meeting dengan Fargo. Adapun tujuannya meeting bersama dengan Fargo karena Damian diminta Olsen untuk mengawasi Jerald Group. Hasil yang Damian dapatkan adalah Fargo berhasil membuat Jerald Group jauh lebih baik. Dulu, Fargo pernah membuat Jerald Group mengalami penurunan tajam, akibat Fargo salah melangkah. Akan tetapi sekarang Fargo mampu mengembalikan posisi. Itu yang membuat Da
Weekend tiba, dan Kimberly tetap bangun lebih awal memasak membuatkan sarapan untuk suami dan anaknya. Sekalipun wanita cantik itu memiliki pelayan dan pengasuh, tetap saja dia tidak mau menghilangkan perannya. Baginya, anak akan tetap bertumbuh dengan baik jika seorang ibu akan terus ikut andil dalam tumbuh kembang anak.Menjadi istri, ibu, dan juga masih harus memimpin perusahaan adalah hal yang luar biasa di hidup Kimberly. Sampai detik ini dia masih sering tak mengira kalau dirinya sudah memiliki kehidupan rumah tangga yang indah bersama dengan Damian. Bahkan sekarang dirinya dan Damian sudah memiliki seorang putra yang sangat tampan. “Selesai.” Kimberly tersenyum kala dirinya sudah selesai menyajikan menu sarapan ke atas meja. Menu sarapan khusus yang disukai oleh suami dan anaknya. “Nyonya, saya sudah meletakan pudding cokelat kesukaan Tuan Muda Diego. Apa pudding buahnya juga harus dikeluarkan dari kulkas?” tanya sang pelayan bertanya penuh sopan. “Hm, tidak usah. Pudding co
Suara tawa Diego memenuhi halaman belakang di mana keluarga Darrel telah berkumpul. Tawa renyah Diego membuat semua orang di sana ikut tersenyum senang. Tawa itu seakan menyalurkan energy positive pada semua orang di sana. Ya, di halaman belakang ada Damian, Kimberly, Diego, Deston dan Rula. Diego tertawa kala Deston menghujaninya kecupan, setelah tadi Diego tengah bermain dengan mobil mini miliknya. Diego memang sangat dekat dengan Deston. Tak heran kala mereka bertemu, maka Diego dan Deston sudah sangat teramat menempel. Cucu pertama laki-laki di keluarga Darrel tentu menjadi kesayangan semua orang. “Kau tampan sekali, mirip seperti Daddy-mu,” ucap Deston seraya memeluk erat Diego. Pelukan yang sangat hangat.“Benarkah, Grandpa?” Mata Diego melebar menatap riang Deston. Bocah laki-laki itu selalu senang jika dibilang mirip dengan Damian. Deston menganggukkan kepalanya. “Ya, benar. Kau sangat mirip seperti Daddy-mu. Hidungmu, matamu, bibirmu, rambutmu. Semua sangat mirip. Kelak sa
“Sayang, kenapa sampai sekarang kau belum bertindak? Carol adalah putri kita satu-satunya. Aku tidak ingin Carol mendapatkan pria sembarangan. Kau harus segera melakukan sesuatu.”Cadey berucap dengan nada penuh kecemasan. Pancaran mata wanita paruh baya itu memancarkan jelas rasa khawatir yang menelusup ke dalam diri. Sejak di mana Cadey tahu Carol menjalin hubungan dengan Fargo, dia tak pernah bisa tenang. Selalu saja dia mengkhawatirkan putri tunggalnya. Hal yang membuat Cadey mencemaskan Carol adalah Carol menjalin hubungan dengan Fargo—yang mana Fargo memiliki track record yang sangat buruk. Di masa lalu, Fargo telah mengkhianati Kimberly. Skandal panas Fargo dan adik tiri Kimberly telah menghebohkan berita media di Amerika. Tentu Cadey mengetahui berita itu. “Aku bukan tidak mau melakukan apa pun, tapi aku menunggu mendapatkan informasi yang sebenarnya.” Bobby mengambil kopi yang ada di hadapannya, dan meminum kopi itu perlahan. Tampak jelas raut wajah pria paruh baya itu memi
“Sialan!” Seorang pria berpakaian hitam memukul setir mobilnya kala merasakan Kimberly sudah curiga. Pasalnya, Kimberly melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Bahkan terlihat jelas bahwa Kimberly menghindar darinya. Ya, di mobil itu ada dua orang pria yang memang bertugas mengawasi Kimberly. Mereka mengawasi, karena Kimberly memiliki janji bertemu dengan Carol. Sayangnya, tugas mereka ini harus terhalang karena Kimberly menyadari ada yang mengikuti. “Ck! Istri Damian Darrel itu cerdas juga! Cepat ambil jarak aman agar dia tidak curiga!” seru pria yang lainnya. Nadanya terdengar begitu kesal mendengar Kimberly sudah curiga. Rencana yang disusun menjadi rusak. Pria yang menyetir mobil mengembuskan napas kasar. “Apa yang harus kita lakukan?” “Berhenti mengikuti Kimberly Darrel. Kita gunakan rencana kedua kita. Jangan sampai Tuan tahu tentang ini. Kita bisa mendapatkan masalah besar kalau sampai Tuan tahu,” seru pria yang lainnya menegaskan serta mengingatkan. “Baiklah.” Pria yang m
Adrik mengisap rokok kuat, dan mengembuskan asap ke udara. Pria itu duduk di sebuah ruangan besar yang tampak seperti gudang. Aroma alkohol dan tembakau begitu kental di sana, menyeruak menjadi satu. Sepasang iris matanya begitu tajam, menatap lurus ke depan. Tatapan yang mengisyaratkan tentang emosi yang terpendam. Beberapa kali, dia berdecak akibat rasa tak sabarnya. Dadanya memburu, yang kerap muncul diingatan pria itu adalah Carol menginap di apartemen Fargo. “Shit!” Adrik langsung mengumpat mengingat itu semua. Dia memejamkan mata sebentar, berusaha mengendalikan diri. Persetan tentang hubungan Carol dan Fargo. Sebab Carol hanya miliknya, sampai kapan pun Carol tidak akan dimiliki oleh pria lain. Apa pun cara akan Adrik lakukan asalkan Carol menjadi miliknya seutuhnya. Adrik mengingat pertemuannya dengan orang tua Carol yang tak menuaikan hasil. Di sana Adrik benci Bobby Hanson sangatlah lama dalam bertindak. Hanya Cadey Hanson yang begitu mendukungnya. Namun, Cadey Hanson,
Pelupuk mata Kimberly terbuka secara perlahan, bersaman dengan suara rintihan sakit yang dia rasakan di area wajahnya. Tubuhnya terasa pegal luar biasa. Beberapa kali, dia mengerjap—dan kepalanya terasa begitu berat seperti terkena hantaman batu keras. Rasa pusing menyerang, membuatnya terpaksa memejamkan mata lagi, tak langsung membuka matanya. Perlahan ketika rasa pusing Kimberly mulai mereda, wanita itu mulai membuka kedua matanya secara perlahan—dan seketika raut wajahnya berubah mendapati dirinya berada di dalam mobilnya. “Kenapa aku bisa tertidur di mobil, akh—” Baru saja Kimberly merangkai kata, dia sudah langsung merasakan sakit di bagian hidung dan juga ujung bibirnya. Dia menyentuh hidung dan ujung bibirnya—yang ternyata mengeluarkan darah. Tampak dia terkejut melihat darah yang ada ujung bibirnya dan juga hidungnya. Kimberly terdiam sejenak, berusaha mengingat apa yang terjadi padanya sampai dirinya terluka. Lantas, detik itu juga kepingan memori segera tersusun selayakny
Dobrakan pintu keras membuat Adrik terkejut. Pria itu bangkit dari tubuh Carol, lalu menatap tajam ke arah pintu. Tepat di kala Adrik sudah bangkit dari tubuh Carol—Carol langsung memeluk erat tubuhnya. Tampak Carol meneteskan air mata seraya menatap ke ambang pintu. Namun, seketika itu juga mata Carol menatap haru dua pria yang berdiri di ambang pintu. Dua pria yang mana salah satunya adalah pria yang Carol cintai. Pria yang hanya Carol inginkan di dunia ini. Sungguh, jika saja mereka terlambat datang entah apa yang terjadi di hidup Carol. Ya, di ambang pintu ada Fargo dan Damian datang menyelamatnya. Tepat di belakang Damain ada Kimberly yang tak diperbolehkan jauh dari Damian. Kehadiran Fargo dan Damian sangat tepat waktu. Itu yang sejak tadi membuat Carol menetskan air mata penuh syukur. Rasa takut dalam dirinya mulai terkikis menghilang, tergantikan dengan ketenangan meski belum sepenuhnya. Raut wajah Fargo berubah melihat Adrik ingin menyentuh Carol. Sepasang iris mata Fargo m
Paris, Prancis. Lampu Menara Eiffel bersinar indah di malam hari. Suasana menyejukan, serta angin berembus memberikan ketenangan, dan kedamaian. Tampak jelas tatapan mata Fargo dan Carol menatap penuh hangat keindahan malam di kota Paris. Mereka menikmati keindahan kota itu bersama dengan Arabella—putri kecil mereka. “Sayang, Paris benar-benar kota yang indah. Terima kasih telah mengajakku dan Arabella berlibur.” Carol menyandarkan kepalanya di lengan kekar sang suami. Arabella kini ada digendongan Fargo tepat di tangan kanan pria itu. Sebelumnya Carol meminta Fargo untuk berlibur bersama dengan putri kecil mereka. Selama ini, mereka belum pernah liburan ke luar negeri bersama dengan Arabella. Beruntung, akhirnya Fargo mewujudkan keinginan Carol. Walau sebenarnya, pria itu sempat khawatir, karena usia kandungan Carol masih enam minggu, tapi akhirnya Fargo luluh karena dokter mengantakan kandungan Carol sehat dan kuat. “Maaf belakangan ini, aku selalu sibuk sampai tidak bisa mengaj
Carol tersenyum di kala sudah selesai menata foto-foto keluarga kecilnya. Bayi cantik dengan rambut cokelat dan mata abu-abu begitu menyejukan hati. Sebuah foto keluarga yang tersirat menunjukkan kebahagiaan yang tak terkira. Ya, di hadapan Carol adalah fotonya bersama dengan suami dan putri kecilnya. Sungguh, setiap kali Carol menata foto keluarga kecilnya, hatinya bergetar penuh dilingkupi kebahagiaan. Tanpa terasa hampir tiga tahun Carol menikah dengan Fargo—pria yang teramat, sangat dia cintai. Selama dua tahun ini, hidupnya memiliki warna yang baru. Sebuah warna yang mana memang tak pernah dia dapatkan sebelumnya. Menikah dan memiliki anak adalah hal yang indah. Arabella Fargo Jerald, adalah anak pertama perempuan Carol dan Fargo. Anak perempuan yang sangat cantik dan baru berusia 1,5 tahun. Arabella adalah anak yang penurut. Carol tak pernah kesulitan menjaga Arabella, karena putrinya itu begitu patuh padanya. Selama ini, Carol dibantu dua pengasuh dalam penjaga Arabella. Se
Dua tahun berlalu … “Brisa, aku tidak bisa hadir meeting launcing product. Tolong kau minta Carol untuk gantikan aku. Atau kau bisa minta direktur perwakilan. Sekarang aku harus ke sekolah Diego. Aku baru saja mendapatkan kabar Diego berkelahi di sekolah.” Kimberly berkata dengan nada cepat seraya memasukan barang-barangnya ke dalam tas. Tampak jelas, dia sedang terburu-buru. Namun, sayangnya dia tak menemukan kunci mobilnya. Dia langsung mengumpat saat tak menemukan kunci mobilnya. Terpaksa, dia menggunakan mobil lain, kala kunci mobil yang biasa dia pakai tak bisa ditemukan. “Nyonya, Nyonya Carol juga sibuk. Beliau ada meeting dengan—” “Brisa, putraku lebih penting. Kau urus saja. Kalau kau tidak mengerti, kau bisa meminta Freddy untuk membantumu. Aku yakin Freddy tahu apa yang harus dilakukannya. Aku harus tutup telepon.” “Nyonya, tapi—” Kimberly menutup panggilan secara sepihak. Dia tak bisa berlama-lama. Dia langsung berlari masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobil dengan
Beberapa bulan berlalu … Gilda mengusap perutnya yang buncit dengan penuh kelembutan. Dia tampak begitu bahagia setiap kali melihat perut buncitnya. Hatinya menyejuk. Gelenyar akan secercah pengharapan indah, selalu menyelimutinya. Dia merasa seperti mimpi. Namun tidak! Ada bayi di perutnya, dan itu nyata! Dia akan segera menjadi seorang ibu. Gilda duduk di taman belakang rumahnya. Saat ini, dia masih berada di Los Angeles, dia belum pindah ke Melbourne, karena dia memilih melahirkan di Los Angeles. Usia kandungannya telah memasuki minggu ke dua puluh. Dokter mengatakan dia mengandung anak laki-laki. Sungguh, Gilda tak pernah mengira dirinya akan menjadi seorang ibu. Dari segala kejahatan yang dilakukannya di masa lalu, harusnya Gilda tak diberikan kesempatan untuk memiliki sebuah keluarga indah. Tapi rupanya, takdir masih berbaik hati padanya. Dulu, Gilda hampir menjadi seorang ibu, tapi bayi yang ada di kandungannya tak selamat. Pun kala itu sifatnya masih buruk. Dia bersyukur b
Beberapa minggu berlalu … Kimberly tersenyum melihat lukisan yang baru saja dirinya pesan dalam pemasangan di dinding. Kehamilan kali ini, membuatnya menyukai menata rumah. Jika biasanya, dia selalu menyerahkan pada pelayan, kali ini benar-benar berbeda. Entah kenapa, selalu saja ada ide dalam benaknya untuk menata rumah. Mulai dari menata taman, ruang tengah, ruang tamu, bahkan kamar. Dia selalu mengganti suasana agar tak bosan. Usia kandungan Kimberly saat ini sudah tiga belas minggu—yang mana kehamilannya sudah memasuki trimester kedua. Perutnya mulai membuncit. Well, bisa dikatakan perutnya jauh lebih membuncit ketimbang, kehamilan pertamanya. Padahal usia kandungan Kimberly masih baru tiga belas minggu. Mungkin efek terlalu banyak makan. Itu yang ada di dalam pikirannya. Kehamilan kedua ini memang membuat nafsu makan Kimberly meningkat tajam. Tentu, dia pasrah di kala tubuhnya mengalami kenaikan cukup drastis. Baginya yang paling terpenting adalah bayi yang ada di dalam kandu
“Aw—” Carol meringis saat tangan Fargo terlepas di pergelangan tangannya. Tampak jelas pergelangan tangan wanita itu memerah, akibat Fargo mencengkeram tangannya dengan sangat kencang. Ya, sejak tadi suaminya itu menarik tangannya dengan keras. Carol berusaha menjelaskan tentang Bruno, tapi Fargo menolak membahas Bruno. Alhasil, sekarang amarah Fargo semakin menjadi. Carol mengerti pasti Fargo salah paham tentang Bruno. Apalagi tadi Bruno sampai memeluknya. Ya Tuhan! Carol menjadi serba salah. Ingin menjelaskan, karena takut semakin salah paham, tapi di sisi lain, dia juga malu untuk menjelaskan. Dia benar-benar dalam keadaan dilema. “Siapa pria yang bernama Bruno, Carol? Berani sekali kau berpelukan dengannya!” bentak Fargo keras dan menggelegar. Dia dan sang istri kini sudah tiba di kamar hotel. Dia tampak jelas dilingkupi kemarahan dan cemburu yang besar. “Sayang, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kau salah paham. Bruno adalah—” “Adalah apa?! Kau ingin beralasan Bruno adala
Amsterdam, Netherlands. Setelah perjalanan cukup panjang, akhirnya Fargo dan Carol tiba di Amsterdam, sebuah ibu kota Belanda yang sangat indah dan menawan. Selain itu, Belanda terkenal dengan sepeda. Ya, budaya bersepeda memang sudah mendarah daging di Belanda. Pemerintah bahkan telah membangun infrastruktur berupa jalan khusus pesepeda yang membentang di seluruh wilayah di negara ini. Amsterdam bukan hanya sekadar kota yang indah, tapi kota yang menyimpan jutaan kenangan antara Carol dan Fargo. Lihat saja, ketika dua insan itu mendarat di Amsterdam, mereka tersenyum semeringah bahagia. Mereka tak mengira kembali lagi ke kota ini, dalam keadaan mereka berdua telah resmi menjadi sepasang suami istri. Dulu, Carol ke Amsterdam karena ingin melakukan pertemuan bisnis. Sementara Fargo tinggal di Amsterdam, karena mengurus perusahaannya. Pun di kala Fargo bercerai dari Kimberly, pria itu memang memutuskan tinggal di Amsterdam. Sekarang, dua orang asing yang tak pernah berpikir akan ber
Fargo dan Carol tak menunda bulan madu mereka ke Amsterdam. Setelah Gavin dan Gilda menikah, mereka langsung bersiap untuk melakukan penerbangan ke Amsterdam. Hal itu membuat Carol tadi sempat sibuk dengan barang-barang yang akan dia bawa. Namun, sekarang barang yang akan dibawa Carol telah dimasukan ke dalam mobil oleh pelayan. Perasaan yang dirasakan Carol adalah bahagia. Tentu dia bahagia karena akan segera ke Amsterdam—tempat yang dulunya menyebalkan, tapi ternyata memberikan kebahagiaan mendalam. Namun, sekarang bukan hanya kebahagiaan yang dia rasakan, melainkan rasa khawatir tentang ucapan nenek tua tempo hari. “Astaga Carol, kenapa kau masih memikirkan ucapan peramal tidak jelas itu?” gumam Carol seraya menepuk jidatnya, mengumpati kebodohannya di mana masih mendengar ucapan peramal tidak jelas. Tiba-tiba ponsel Carol berbunyi, membuyarkan lamunannya. Dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja, dan menatap ke layar tertera nomor ‘Gilda’ yang terpampang di sana. Detik i
The Ritz-Carlton tempat di mana yang dipilih Gavin dan Gilda melangsungkan pernikahan mereka. Gilda melangkah dengan pelan dan anggun—mamasuki ballroom hotel dengan tangan yang terus memeluk lengan Ernest. Ya, yang menemani Gilda adalah Ernest—tentu ini semua karena permintaan Ernest sendiri. Hal itu yang membuat Gilda merasakan syukur tanpa henti. Meski dia pernah jahat, tapi ternyata kesalahannya mampu dimaafkan oleh keluarga. Gilda tersenyum hagat, dan kini kilat kamera yang terus tersorot padanya. Tampak jelas dia sedikit gugup, tapi wanita itu berusaha mengatasi rasa gugupnya. Ribuan tamu undangan yang datang, menatap hangat dan kagum pada penampilannya. Di ujung sana, tepat di kursi paling depan ada Maisie yang tak henti menangis. Pun Kimberly yang duduk di belakang Maisie ikut menangis kala Gilda mulai mendekat. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru bahagia. Dari altar, Gavin begitu tampan dengan tuxedo berwarna putih menatap kagum penampilan Gilda yang sangat cantik