Share

Bab 5 Mencurigakan

Author: Dinara L.A
last update Last Updated: 2023-05-04 09:45:55

Meski pesan dari nomer yang tidak dikenal itu cukup menghentak jantungku dan mengusik hati, tetap saja berusaha kuabaikan. Aku anggap saja itu hanya orang iseng.

Ponselku bergetar. Mengejutkan aku yang masih melamunkan pesan asing itu. Segera kugeser ikon hijau di layar untuk mengangkat.

“Hai Ayang, istriku tercinta. Aku kangen,” seru Hans setelah panggilan video terhubung.

“Kalau kangen, kenapa pergi juga ke Bali?” Bibirku mengerucut.

“Mohon pengertiannya, Ayang. Aku harus menjaga adikku satu-satunya dari lelaki badboy itu.”

“Ya. Mas, sudah makan?”

“Ini lagi makan.”

“Mana? Kok, makanannya enggak kelihatan?”

“Kan menu makannya kamu, Ayang. Hanya dengan melihat dan mendengarmu, aku pasti kenyang.”

“Alah, gombal. Paling ada maunya. Apa kehabisan uang? Katakan butuh berapa?”

“Idih, bukan! Aku benar-benar lagi butuh kamu. Di sini banyak sekali hilir mudik pasangan yang pamer kemesraan. Bikin hatiku kepanasan. Coba kamu ikut, Ayang. Suamimu ini tidak akan menderita.”

“Ya, aku bisa apa? Orang kita jauh.”

“Ayang, please … kirimkan aku videomu," rengek Hans.

“Kan di ponsel Mas juga videoku udah banyak.”

“Jangan lamban begitu napa? Yang suamimu mau itu bukan video biasa. Tapi video yang bisa menemani malam panjang nan dingin ini.”

“Maksudnya?”

Sebenarnya aku sudah paham video seperti apa yang dimaksudkan. Akan tetapi, tidak percaya saja kalau Hans sampai memintanya. Bahkan dia menjelaskan secara gamblang, bahwa dengan videoku yang seksi bisa memenuhi kebutuhan biologisnya.

Meski awalnya terdengar itu ide gila, tetapi akhirnya demi suami aku lakukan juga. Dari pada dia jajan di sana, ya, sudah aku penuhi dari jauh melalui cara itu. Setelah video terkirim, kuwanti-wanti agar dia hati-hati dengan ponselnya. Jangan sampai hal memalukan tersebut bocor. Jangan lupa menghapusnya, jika sudah selesai.

“Siap, Ayang. Terima kasih istriku memang yang terbaik.” Hans berujar seraya mengacungkan jempol.

Panggilan video pun berakhir. Jadi teringat akan kontrasepsi bekas pakai yang kutemukan. Sekarang kuyakin, kalau Hans melakukannya sendirian sambil menonton video. Akhir-akhir ini aku memang selalu sibuk dan karena cape, mudah sekali tertidur kalau malam hari.

“Maaf Mas, aku terus berpikiran yang tidak-tidak sampai mencurigaimu,” sesalku.

*

Pagi ini aku terbangun dengan malas. Rasa kantuk masih menggelayuti kedua mata. Pasalnya semalam tidurku tidak pulas. Mungkin karena tidak terbiasa tidur tanpa Hans. Saat pagi, dia selalu menghujaniku dengan kecupan hingga tubuh ini menggeliat seperti bayi.

“Oh, suamiku betapa kusudah sangat merindukanmu.”

Tiga puluh menit kemudian. Aku sudah rapi dengan setelan kantor. Duduk manis di meja makan sambil memakan satu buah apel sebagai menu sarapan.

Satu notifikasi chat masuk. Kuraih ponsel yang tergeletak di meja. Jari jentik langsung menggeser layar. Satu pesan dari nomer tidak dikenal lagi.

[Kamu ini lugu atau bego, sih? Masa suami selingkuh tidak tahu.]

“Siapa sih, ni orang iseng?” geramku.

Segera kusentuh nomer yang terpampang. Memanggil, lalu berdering. Tidak disangka orangnya mengangkat cepat.

“Hallo, kamu siapa?”

“Ekhm,” dehamnya. Ternyata suara milik seorang wanita.

“Hei, dengar ya! Aku yakin kamu hanya orang iseng yang iri dengan kebahagiaanku. Asal kamu tahu, suamiku itu selalu setia. Bahkan sangat setia. Aku istrinya, lebih tahu dari siapa pun. Jadi jangan mengada-ngada!” cecarku meluap-luap saking emosi.

Eh, dia malah menutup panggilan sepihak.

“Isshh, kurang aj4r!” umpatku.

“Nyonya kenapa?” tanya Meti yang ternyata tengah memerhatikan.

“Eh, Met. Tahu tuh, orang iseng banget.”

“Iseng kenapa, Nya? Kok, kayak yang kesal gitu?”

“Masa dia ngatain Mas Hans selingkuh.”

Satu cangkir teh di nampan yang dipegang Meti terjatuh spontan.

“Maaf, Nya. Saya ceroboh.” Meti langsung memungut pecahan cangkir keramik di lantai.

“Kamu kenapa, Met? Kok mencurigakan? Apa ada yang kamu sembunyikan?” todongku langsung. Sebab, tangan dia tampak terus bergetar.

“Maksud Nyonya apa?” Meti bersikap seolah tak paham.

“Kamu tidak biasanya seperti ini. Kamu terlihat gelisah, Met.”

“Permisi, Nyonya, saya mau ke belakang dulu,” pamit Meti sambil membawa pecahan cangkir yang telah dikumpulkannya. Sedikit pun tidak menggubris pertanyaanku.

Dia kenapa, ya? Begitu aku menceritakan orang iseng tadi, glagatnya langsung berubah. Aku yakin ada apa-apanya. Akan tetapi, kalau kudesak sekarang, mungkin dia tidak akan ngaku. Sebaiknya kulakukan pelan-pelan. Lagian sekarang harus berangkat kerja juga.

*

Ketika kumenaiki anak tangga menuju ruang kerja di lantai tiga, tiba-tiba high heelku terpeleset. Untung ada Li yang menangkap tubuh ini.

“Ya ampun, Sal. Kamu ini kenapa?”

“Li? Eh, Bos.” Tidak enak rasanya jika karyawan lain mendengarku memanggil orang nomer satu yang dihormati di kantor ini hanya dengan sebutan nama.

“Kamu melamunkan apa?” selidik Li.

“Tidak penting.”

“Terus kenapa juga jalan tangga? Kan ada lift.”

“Oya, lupa. Astaga!" Aku menepuk jidat sendiri.

Kemudian aku ngeloyor pergi menuju lift tanpa menghiraukan Li lagi.

“Eh, tunggu. Main tinggal saja," gerutu Li seraya mengejar.

“Sorry.” Maafku hanya formalitas.

Kami tak saling bicara lagi sampai aku masuk ruangan. Li pun sengaja memberi jeda waktu untukku sendiri dulu.

Tumpukkan dokumen yang harus kuperiksa sedari pagi masih saja menumpuk. Biasanya sebelum dzuhur, semua sudah kelar. Ini sudah lewat dzuhur, aku hanya baru bisa menyelesaikan beberapa saja.

Sial! Gara-gara chat tidak dikenal dan gelagat Meti yang mencurigakan, semuanya jadi kacau. Sungguh aku tidak bisa fokus.

Ponsel di saku terdengar berbunyi lagi-lagi membuyarkan lamunan. Kulihat nama ibunya Hans di layar menari-nari. Mau apa dia menelepon? Pasti tidak jauh dari perkara uang. Seperti biasa kalau dia menghubungi, selalu ada maunya. Harus bayar uang arisanlah, harus bayar inilah, itulah. Tiba-tiba kali ini aku merasa jengah dan bosan.

“Assalamualaikum, mantu Ibu yang cantik,” sapanya setelah kuangkat.

“Waalaikum salam, Bu,” jawabku berusaha tenang.

“Bagaimana kabarnya, mantu?”

“Baik, Bu.”

“Sudah makan siang belum?” tanyanya basa-basi.

“Sudah.” Aku berbohong agar tidak jadi panjang.

“Oh, syukurlah. Begini mantu, apa boleh Ibu pinjam uang? Kali ini Ibu benar-benar pinjam. Bulan depan kalau Hans kasih jatah, Ibu akan bayarkan jatah itu kepadamu.”

Nah, nah ... Tuh 'kan! Emang ada maunya.

“Maaf, Bu. Aku lagi tidak ada uang. Proyek juga belum pada goal." Kali ini aku memilih berbohong.

“Apa, mantu?” Dia terdengar terkejut. Sebab, baru kali ini aku tidak bisa meminjamkan.

“Aku tidak bisa pinjamkan, Bu. Lagi tidak ada uang,” ulangku.

“Tiga juta saja, mantu,” bujuknya.

“Tidak ada, Bu.”

“Oh, tidak ada, ya? Ya, sudah tidak apa.” Terdengar suaranya lemas memendam kecewa.

Panggilan pun berakhir.

“Ekhm,” deham Li tiba-tiba.

“Sejak kapan kamu di situ?”

“Sejak kamu angkat telepon.”

“Kebiasaan. Bukan ketuk dulu sebelum masuk," omelku kepada Li yang sering slonong masuk.

“Orang pintunya terbuka. Apanya yang harus diketuk. Oh, iya ketuk ini ajalah, nih!” Li iseng ketuk dahiku.

“Ih, apaan sih?” desisku sebal.

“Kamu yang apaan? Ini kerjaan dari pagi masih belum kelar-kelar.” Tunjuknya kepada tumpukan dokumen.

“Sorry.”

“Sorry? Enggak bisa! Lebih baik kamu pulang gih! Rehat saja di rumah. Kalau sudah merasa baikan, baru kerja lagi. Ambillah cuti sepuasnya!” usul Li selalu pengertian.

“Kamu enggak pecat aku ‘kan?”

“Ya Tuhan, enggaklah. Bosmu ini hanya tidak tega melihat keadaan bawahannya linglung seperti ini.”

“Ya sudah. Aku balik, ya!” putusku cepat.

Dahi Li mengernyit. Mungkin tumben sekali aku langsung memutuskan pulang dengan sekali perintah. Padahal aku teringat Meti, tidak sabar ingin mengintrogasinya.

Kubergegas menyambar tas dan meninggalkan ruangan.

“Hati-hati di jalan!” pesan Li setengah berteriak.

*

Setengah jam kuhabiskan dengan mobil pribadi untuk sampai ke rumah.

“Met, Met!” Dari ruang depan aku sudah teriak saja memanggilnya tak sabar.

Langsung kusisir ruang demi ruang. Sosok Meti belum ditemukan. Netraku malah tertuju ke secarik kertas di atas meja depan TV. Rupanya tulisan tangan Meti terangkai untukku.

Nyonya, maafkan saya. Saya pergi tanpa izin. Tolong jangan cari! Apa lagi ke kampung halaman saya. Sebab, saya tidak pulang ke sana. Terima kasih atas kebaikan Nyonya selama ini. Semoga Nyonya selalu baik-baik saja.

-Meti-

Spontan kuremas kertas yang bertuliskan pesan dari asisten rumah tangga itu. Napasku mulai menderu berat seiring bibir yang mengatup rapat. Ada sesak berjejal tidak tertahankan.

"Meti!"

***

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Syamzul Syam
menunggu. sama dengan bikin kesal
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 6 Janggal

    KB-7 Heh, dia pikir aku akan melepaskannya begitu saja? Dengan perginya dari rumah ini, si Meti telah menabuh genderang perang. Nomer yang Anda hubungi sedang tidak aktif. Silahkan coba beberapa saat lagi. Suara operator seluler terdengar saat kucoba menghubungi nomer ponselnya. “Sudah kuduga.” Meski sedang tidak aktif, aku tetap mengirimkan sebuah pesan. Kuyakin sesekali ia akan mengaktifkannya untuk mengecek. [Beritahu aku, kalau tidak akan kudatangi keluargamu dan mempermalukanmu di sana.] Sejam, dua jam, pesan itu masih centang satu. Aku mondar-mandir dengan pikiran semrawut. Kalau sampai terbukti suamiku selingkuh dengannya, awas saja! Kuremas kepala yang kian pusing. Lambat laun, dadaku bergemuruh berdenyut nyeri. Apa mungkin suami sebaik Hans tega melakukan pengkianatan? Setelah apa yang kuberi selama ini. Dia juga selalu ada untukku. Bagaimana mungkin sampai kecolongan? Apa lagi kalau ia melakukannya dengan pembantu sialan itu. Oh, tidak! Kamarku, ranjangku, dipakai ber

    Last Updated : 2023-06-07
  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 7 Diluar dugaan

    “Iya, Bu. Foto Dea sewaktu kecil mana?”“Eeu … anu, itu.”“Apa, Bu? Kenapa enggak jelas?”“Foto Dea sewaktu kecil tidak ada.”“Lha, kok bisa?”“Hilang, ya, hilang albumnya.”“Jangan bohong, Bu! Kasih tahu aku yang sebenarnya!” tekanku.“Ibu tidak bohong, Mantu.”“Katakan! Dea itu siapa sebenarnya?” bentakku.“Mantu, kamu bentak Ibu?”“Ya. Memangnya kenapa? Kaget? Aku bisa bertindak lebih jauh dari ini.” Mataku menyalang.“Dea itu adiknya Hans. Memang siapa lagi?”“Jadi Ibu tetap tidak mau bilang? Tidak mau memberitahu aku?”“Apa yang harus Ibu bilang? Dea itu memang adiknya Hans,” kukuhnya.“Justru sikap Ibu menunjukkan sebaliknya.”“Apa maksudnya?”“Heh! Masih menanyakan apa maksudnya?”“Ibu benar-benar tidak mengerti.”“Aku akan memberi Hans, Ibu dan si Dea perhitungan.” Telunjukku mengacung ke mukanya.“Perhitungan apa, Mantu? Memangnya apa yang telah kami lakukan?”“Masih bertanya? Lucu!”Gegas aku beranjak dan menyambar tas untuk pergi dari rumah orang penip

    Last Updated : 2023-06-07
  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 8 Pintu Rahasia

    Tubuhku terlonjak mundur saat dinding lemari bergeser pelan. Tak ayal seperti sebuah pintu rahasia yang pernah aku lihat di film. Kini dinding lemari yang terbuka setinggi aku berdiri dan selebar satu meteran membuat mata kian melebar.Kuayunkan langkah dengan pelan tapi pasti, melewati pintu yang baru saja terbuka. Ternyata terhubung ke sebuah ruangan berukuran sekitar 3x3 meter persegi. Di dalam hanya ada kardus-kardus menumpuk serta beberapa barang yang telah usang. Seperti sebuah gudang lebih tepatnya. Aku pikir akan ada banyak harta karun atau paling tidak sebuah rahasia.Tunggu! Kok, ada sebuah pintu lagi? Kumencoba melangkah lebih jauh, menghampiri pintu tersebut. Lalu diputar kenopnya, tetapi terkunci."Bagaimana ini?"Samar getar ponsel terdengar dari arah kamarku. Entah siapa yang menelepon. Aku segera keluar dari ruang rahasia."Hans? Ada apa dia menghubungi?"Mengambil napas panjang, terus embuskan. Aku harus terdengar baik-baik saja. Walau dalam dada bergemuruh. Rasanya i

    Last Updated : 2023-06-08
  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 9 Gosip

    Aku hanya membalas dengan anggukan."Emang, ya, Hera itu orangnya enggak jelas. Tertutup. Hanya Pak RT yang sering ketangkap basah bolak balik ke rumahnya. Secara Pak RT itu duda," terang salah satu tetangga."Tahun depan, kita ganti saja RT-nya," seru tukang warung."Iya, pasti ada apa-apanya," sahut si ibu tambun.Karena tidak terbiasa bergosip, kupingku berasa panas saat mendengar gunjingan mereka. Menyimak sebentar saja, bahuku diam-diam bergidik. Buru-buru kuselesaikan proses transaksi beli telurnya."Jadi berapa, Bu?""Dua puluh lima ribu, Neng."Kusodorkan uang selembar Soekarno-Hatta. Setelah mendapat kembalian aku lekas meninggalkan warung."Mari semua," pamitku."Iya, silahkan, Mbak."Sehabis dari warung aku langsung menuju dapur. Kuambil wajan dan menuangkan minyak goreng seperti yang biasa Hans lakukan."Telur ceplok sajalah yang gampang." Aku bergumam sendiri.Satu telur kupecahkan ke atas penggorengan dengan hati-hati. Eh, ya Allah, lupa kompornya belum dinyalakan. Karen

    Last Updated : 2023-06-08
  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 10 Meledak

    "Mas, apa-apaan ini? Jelaskan!""Ayang, maaf!" Dia menggenggam tanganku. Kutepis kasar. "Dea bukan adikmu 'kan?" Mata ini menyelidik tajam. "Bukan adik kandung," akunya lesu. "Sudah kuduga," sinisku. "Maksudnya?" "Lekas kemasi barangmu! Angkat kaki dari rumahku sekarang juga! Satu lagi, jangan bawa mobil yang telah kubelikan untukmu!" Murkaku langsung tersulut. Meski tungkai terasa lunglai, tetap berusaha berpijak dengan kepalan tangan. "Ayang, ada apa? Kenapa kamu mengusirku?""Masih bertanya? Tidak tahu malu!" Urat-urat leher terasa mau putus saja. "Yang, sungguh aku tak paham.""Kamu ada main gila 'kan dengan Dea? Tega kamu, Mas!" Tubuh yang gemetar kini luruh ke lantai. Begitu pun dengan tangis yang pecah. "Astaghfirullah, Yang. Pikiran apa yang telah merasukimu?" Hans mendekat dan hendak meraih kedua bahuku yang terguncang hebat. "Jangan sentuh aku! Jijik!""Yang, kumohon, kenapa kamu berpikiran aku serendah itu?"Aku terus menangis, air mata tumpah ruah seolah tak akan

    Last Updated : 2023-06-08
  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 11 Kejutan

    Gerak cepat aku memasuki ruang rahasia yang tampak seperti gudang itu. Ada pintu terkunci menuju ruang lain. Kuyakin di ruang tersebut akan mendapatkan jawaban. Jika kubuka paksa, pintu pasti rusak dan meninggalkan jejak. Bagaimanapun harus menemukan kuncinya.Kulihat sekeliling ruangan. Mencari keberadaan kunci pintu. Ada sebuah nakas tua dengan laci-laci. Lekas kuperiksa. Bibir menyunggingkan senyuman, tatkala mata menangkap apa yang kucari di salah satu laci. Terasa begitu Tuhan memberi kemudahan agar aku mengetahui kebenaran.Klik, kunci kuputar dan handle ditekan. Berhasil! Lha, jadi ini sebuah kamar juga? Kuedarkan pandangan ke ruang yang didominasi warna merah dan sangat rapi. Kesadaranku tersentak saat melihat tas yang kukira hilang ternyata ada di sini. Kudekati lemari kaca di mana tas bertengger. "Benar. Ini tasku." Aku berseru setelah memastikan. Selanjutnya meja rias mencuri perhatian. Dari make up yang berjejer, sudah pasti ini kamar perempuan. Jadi si Hans pelihara gu

    Last Updated : 2023-06-09
  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 12 Duo Laknat

    Kutitipkan mobil yang biasa aku pakai di salah satu tetangga. Tentu saja mereka tidak keberatan, karena aku membayar. Bukan hanya itu, aku temui Ceu Lia dan kawan-kawan yang sering bergosip di warung. Mereka akan kuajak menonton sebuah pertunjukan gratis. Diam-diam, Kukembali ke rumah. Bersembunyi di kamar tamu yang Hans jarang mendatanginya. Cukup lama juga menunggu kepulangan dia. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba setelah satu jam. Terdengar derap langkah kaki memasuki rumah.Aku mengintai dengan degup jantung yang tak karuan. Apalagi ketika Hans tampak tak sabar memasuki kamar. Untunglah dia tidak mengunci pintunya, jadi aku bisa leluasa masuk. Biipp ... Bahkan dia langsung menuju si gundik--bekas pembantuku melalui jalur rahasia itu. Pertempuran pasti akan segera dimulai sesuai janjinya tadi.[Ceu, cepat! Tapi pelan-pelan, ya! Jangan sampai gaduh.] Kulayangkan chat dan langsung centang biru. Rupanya Ceu Lia dkk. sudah standby.[Ok, Mbak Bos.] Balasnya.Hanya menunggu lima

    Last Updated : 2023-06-09
  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 13 Pembalasan

    "Bang, kamu berani menamparku?" Meti meradang."Ma-maaf, Sweety!" sesalnya."Apa, Sweety?" Geli sekali rasanya aku mendengar panggilan si Hans kepada gundiknya."Eh, maksudnya Meti," jelasnya sambil nyengir.Tiba-tiba Hera dan Pak Rt menerobos kamar."Ada apa ini ribut-ri--" tanya Hera menggantung saat melihat keberadaanku, ceu Lia dan kawan-kawan."Oh, jadi di rumah ini kalian doble date, doble zina gitu?" sinis Ceu Lia."Diam kamu, Ceu! Kalian semua yang masuk tanpa izin akan saya persulit jika butuh sesuatu menyangkut ke-RTan," gertak Pak Rt."Haha ... jabatan Rt aja belagu! Ada juga Pak Rt yang akan kami lengserkan," teman Ceu Lia gertak balik."Iya. Kami tak sudi punya Rt model begitu," imbuh teman yang lain.Keributan tidak bisa dihindari lagi. Semuanya beradu mulut bahkan saling dorong. Kalau saja tidak melihat perut si Hera yang besar, sudah kubejek-bejek juga dia."Kalian semua akan saya laporkan ke polisi dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan," cetus Hera tidak tahu malu

    Last Updated : 2023-06-09

Latest chapter

  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 75 Cinta Sejati

    Kami menyerahkan masalah terkait teman Daffa yang melecehkan Qia kepada pengacara. Biarlah pengacara yang mengurusi segalanya. Sedangkan aku dan Irsyad fokus kepada dampak psikologis putri kami itu.Irsyad mengkonsultasikan masalah Qia kepada psikolog anak terbaik di kota Bandung. Kami masih beruntung, karena dampaknya belum terlalu jauh. Mungkin karena efek ada pembelaan juga dari Daffa sebagai kakak. Jadi rasa aman itu masih ada. Meski ada trauma berupa sedikit ketakutan kepada semua teman laki-laki di sekolahnya.Setelah 3 kali konsultasi, Alhamdulillah bisa dibilang Qia pulih. Kami memutuskan kalau Qia tidak masuk ke sekolah terlebih dahulu.“Bagaimana kalau kita liburan. Kalian mau ke negara mana?” tanya Irsyad di suatu sore.“Negara?” Daffa membelalak tak percaya. Sungguh terasa mimpi. Selama ini ingin sekedar berlibur ke tempat wisata terdekat saja tidak pernah kesampaian. Lalu tiba-tiba ia diajak ayah angkatnya berlibur ke luar negri.“Iya. Dafa sukanya Negara mana?” t

  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 74 Masalah Daffa

    Aku dan Irsyad tentu panik saat Qia mengatakan kalau Daffa hilang. Orang dalam rumah semua berlarian mencari ke setiap sudut. Termasuk kami sebagai orang tua baru. Daffa benar-benar tak ditemukan.Lemas. Tungkaiku mendadak tak ada daya dan melorot ke lantai.“Dek!” Irsyad memburu dan memapahku untuk duduk di sofa. Sedangkan salah seorang asisten rumah bergegas membawakan segelas air minum. “Bang, kenapa Daffa pergi? Kemana dia? Bukankah ini baru pertama kali di Bandung? Kalau dia diculik atau dalam bahaya gimana?” Aku mencecar suami dengan segala pikiran burukku.Sungguh tak pernah terpikirkan jika Daffa akan pergi dari rumah. Dia tampak baik-baik saja dan tidak keberatan. Lalu hal apa yang membuat ia akhirnya memutuskan pergi? Kepala ini sakit sekali saat berusaha mencari jawabannya.“Tuan, apa kita nggak lapor polisi saja?” saran satpam rumah kami.“Belum 24 jam. Tidak bisa,” tangkas Irsyad.“Lagian, kenapa juga sampai tidak ada yang melhat Daffa pergi?” Nadaku ngegas kal

  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 73 Anugerah

    Hari ini, kami mempersiapkan kamar untuk Daffa. Salah satu kamar tamu, akan disulap jadi kamar anak. Qia turut serta memilihkan segala macam fortnitur untuk keperluar kamar kakaknya itu. Sedangkan Daffa sendiri lebih banyak terdiam. Keceriaan belum kembali hiasi hari-harinya. Tentu saja jejak kesedihan ditinggal Meti masih berbekas luka.“Daf, kamu mau gambar apa?” tanyaku saat memilih seprei.“Bagaimana Ibu saja,” jawabnya pasrah.Ada rasa kagum di hati ini. Umumnya anak kekurangan seperti Daffa saat ditawari kemewahan akan antusias dan senang. Berbeda dengannya yang seolah semua ini tidak ada arti bila dibandingkan dengan kehadiran sang mama. Sekali pun Meti bukanlah orang tua yang baik. Sekali pun hidup bersama Meti, ia harus bekerja keras.Karena Daffa menyerahkan semua pilihan, jadi aku dan Qia saja yang memutuskan. Tak ingin berlama-lama belanja, kami segera menyelesaikannya. Aku juga tidak mau pusing-pusing menimbang untuk memilih. Asalkan sesuai dengan anak lelaki seumuran Daf

  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 72 Keputusan

    Tiga bulan kemudian. “Hallo, Bu … Ma-ma, mama su-dah dipang-gil oleh Allah,” ucapnya terdengar serak di sambungan telepon. “Innalillahi wainnailaihi rojiun.” Aku, Irsyad dan Qia langsung berangkat ke Sukabumi untuk melayat.Sesampainya ternyata Meti baru saja sudah dikebumikan. Masih beruntung warga sekitar peduli dan mau mengurusi. Dengar-dengar marbot mesjid yang paling berjasa membantu. Karena beliau katanya cukup dekat dengan Daffa meski tidak ada hubungan darah.Di rumah duka, aku tidak melihat ibunya Hans atau Dea. Kata Daffa, merek memang belum dikasih tahu.Kini bocah hitam kurus itu tampak sembab juga kuyu. Kepergian sang mama benar-benar menyisakan duka yang mendalam."Maaf sudah menghubungi ibu dan bapak. Itu permintaan terakhir mama." Daffa merasa bersalah."Tidak perlu minta maaf, Nak. Kami pasti datang saat seperti ini." Irsyad yang menyahut."Iya, Nak." Aku duduk di tepat di sampingnya. Membelai lembut Surai Daffa. Terbersit rasa iba dan tak tega kepadanya.Kini di

  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 71 Rencana

    POV. 3Dengan tubuh yang ringkih Meti berusaha untuk ke kamar mandi. Setidaknya ia harus cuci muka sebelum memutuskan keluar rumah.Daffa yang baru datang beli nasi uduk pagi ini terkejut melihat mamanya kepayahan. Ia lekas memburu untuk membantu."Mama mau kemana? Kenapa nggak tunggu aku aja?""Cuma mau ke kamar mandi. Mama kuat kok, Daffa."Meti menolak untuk dibantu. Ia ingin melakukannya sendiri meski dengan gerakan lamban. Daffa hanya memperhatikan tak berani membantah. Sebab, kalau mamanya sudah bersikukuh dan jika ia memaksa, maka akan kena marah.Meti sampai juga di kamar mandi yang langsung aroma tak sedap tercium dari dalam. Begitu masuk, lantainya juga kotor serta licin. Jika ia sedang kuat, biasanya ia sendiri yang sikat dan kuras. Namun, akhir-akhir ini tenaganya seolah terus tersedot oleh rasa nyeri.Masih dalam gerakan lamban Meti menggosok gigi serta mencuci muka. Setelah itu kembali ke kamar dan memilih pakaian terbaiknya."Mama mau kemana?""Mama ada perlu sama papam

  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 70 Mendung

    Meti tampak sudah putus asa. “Apa kamu melakukan pengobatan?” “Sekarang sudah tidak lagi."“Lho, kenapa? Kamu jangan menyerah, demi Daffa.” Aku mengulanginya. Berharap, Meti tetap hidup dan Daffa tetap tumbuh bersamanya. Maaf, aku merasa tidak siap mengurus anak itu.“Sudah kubilang jangan beri aku harapan!” nadanya penuh penekanan. “Semuanya akan sia-sia. Lihatlah ini!” sambung Meti seraya membuka ciputnya.Aku terperangah saat melihat kepala tanpa sehelai rambut. Sepertinya Meti sudah benar-benar hilang harapan.Hari beranjak semakin sore. Sebentar lagi magrib datang. Setelah mengobrol panjang, Daffa tetap mau tinggal dengan mama-nya. Sebetulnya yang merayu untuk tinggal bersama kami hanya Irsyad. Aku hanya diam dan tak berani membantah. Sebelum pulang, aku meninggalkan nomer kontak. Jadi kalau ada apa-apa, mereka tinggal menghubungi. Kurasa kebaikanku sudah lebih dari cukup.Namun saat Irsyad berikan sejumlah uang, baik anak ata

  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 69 Luka Lama

    Akhirnya urusan Irsyad sudah selesai. Dia langsung menjemput kami dari rumah neneknya Qia. Mengingat mami sedang kurang fit di rumah, jadi kami memutuskan untuk langsung pulang lagi ke Bandung.Namun, sebelum pulang, kami membeli dulu oleh-oleh khas Sukabumi. Pilihan jatuh kepada Mochi. Sebuah kue yang terbuat dari beras ketan, bertekstur lembut dan lengket. Bercita rasa manis dengan aneka varian isi.Usai membeli oleh-oleh sampai bagasi mobil penuh, kami melanjutkan perjalanan pulang. “Ayah, tolong berhenti!” teriak Qia tiba-tiba.“Ada apa, Sayang?” Irsyad terkejut.“Berhenti dulu, Yah!” pintanya lagi.Irsyad pun menepikan mobil.“Ada apa, Nak?” tanyaku.“Mom, itu anak yang tadi!” tunjuknya kepada sosok anak yang sedang berjalan di trotoar.“Oh, iya.”“Anak yang tadi apa, sih?” Aku pun menceritakan tentang tadi sewaktu di Mesjid.“Kasihan, Yah,” ujar Qia.“Hei, Dek! Sini sebentar!” Irsyad melambaikan tangan ke anak itu.Anak itu tampak celingukan. “Saya?” Ia menunjuk dirinya sendir

  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 68 Bocah Hitam

    Jika biasanya pengantin baru berbulan madu hanya berdua, berbeda dengan kami. Aku dan Irsyad memilih untuk memboyong dua keluarga yang baru bersatu ini. Awalnya tentu keluarga kami menolak karena berpikiran akan mengganggu. Akan tetapi kami terus bersikukuh untuk mengajaknya.Aku, Irsyad, Qia, mama, papa, mami serta asisten rumah tangganya yang sudah dianggap keluarga itu menghabiskan waktu keliling Indonesia. Dari mulai Gorontalo, Bangka Belitung, Lombok, Bali, hingga pulau Komodo. Kami benar-benar berlibur.“Mih, malam ini Qia biar tidur sama kita aja,” tawar Irsyad.“Enggak! Qia malam ini giliran tidur dengan Mama lagi, Syad.”“Mah. Aku juga kangen sama Qia,” ucapku.“Kalian ‘kan bisa sama Qia siangnya. Malamnya biar Qia tidur sama Mama, ya!”Sejak pergi bulan muda, belum pernah sekalipun Qia tidur bersama aku dan ayahnya. Oya, anakku memanggil Irsyad dengan sebutan ‘ayah’. Kami sangat paham kenapa orang tuaku dan mami Mohan melakukan semua itu.Mereka hanya ingin agar kami bisa

  • Dalam Pernikahan Tanpa Nafkah   Bab 67 Hangat

    Karena kami sudah menyelenggarakan pernikahan di ballroomnya, pihak hotel memberikan hadiah menginap gratis satu malam pasca resepsi.Saat pintu kamar terbuka wewangian langsung menguar dari dalam. Terlihat taburan kelopak mawar merah muda di atas bad ukuran king. Di tengah bad ada sepasang handuk berbentuk angsa dalam posisi beradu. Kemudian ada beberapa balon berbentuk hati menggantung di langit kamar. Serta pencahayaan remang dari lampu tumblr menambah kesan semakin romantis.Irsyad menggandengku untuk duduk di tepi ranjang.Tik tok tik tok, bunyi jarum jam yang berputar begitu terdengar jelas bagi kami saat ini. Jarumnya sudah menunjukkan pukul 22.30 Wib.“Eum … karena kita sudah menikah, enaknya aku panggil apa, ya?”“Tidak tahu,” jawabku seraya menunduk malu.Sungguh tidak disangka, seorang yang sudah lama kukenal, seorang teman, seorang rekan, dan seorang Bos, bisa membuat jantungku dag Dig Duk tidak karuan seperti ini. “Aku panggil kamu … Sayang?” Aku menggeleng karena mirip

DMCA.com Protection Status