Laura dibuat dilema oleh lamaran yang dilakukan Sean kepadanya, karena ia baru saja mengenal pria itu dan dengan begitu cepat Sean melamarnya.
Bahkan mereka belum pacaran atau berkenalan secara resmi, Laura hanya bisa terdiam dan menatap tidak percaya ke arah pria di hadapannya.
Satu hal yang berada di pikiran Laura saat ini adalah, jika dirinya menolak Sean, maka hal itu akan membuat pria itu malu di hadapan banyak orang.
"Pak Sean, saya ... ."
Laura takut jika nanti ia sudah menerima lamaran dari Sean dan mereka menikah, Sean akan kecewa jika mengetahui bahwa Laura sudah tidak mempunyai mahkota lagi.
"Aku benar-benar ingin melamar kamu untuk menjadi istriku, karena jika boleh jujur aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama," ujar Sean dengan lantang.
Laura menatap semua orang yang berada di hadapan mereka berdua, begitu banyak tatapan tidak suka yang diberikan kepadanya.
"Tidak perlu kamu pedulikan tatapan dari semua orang yang berada di sini, karena yang akan menikah itu aku dan juga kamu, bukan mereka."
Siapapun wanita yang berada di posisi Laura saat ini, akan merasa bangga dan akan langsung menerima lamaran dari Sean.
"Hei! Jika kalian berdua ingin melakukan lamaran jangan di sini! Kalian sudah mengganggu acara pertunangan anak saya!" tegas Tuan Samudra.
"Pak Sean, aku akan menjawabnya setelah acara ini selesai. Bukankah tidak baik mengganggu acara pertunangan orang lain."
Laura mencoba untuk menasehati Sean, tetapi pria itu bersikeras untuk mendengar jawaban langsung dari wanida di hadapannya.
"Sean, apa yang kamu lakukan!" Diandra dengan cepat menarik Sean dari hadapan Laura.
Tangan wanita itu ditepis kasar oleh Sean. "Jangan pernah menyentuh saya, paham!"
"Aku akan menunggu sampai acara ini selesai dan aku berharap kamu bisa memikirkan semua ini dengan baik."
Laura segera pergi dari hadapan Sean, langkah kakinya menuju ke arah toilet.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin. " jika aku menerima lamaran dari Sean, maka para karyawan di kantor akan begitu membenciku. Tetapi jika aku menolak lamaran tersebut, maka aku akan dicap sebagai wanita sok jual mahal dan Pak Sean pasti akan mananggung malu."
Laura benar-benar dibuat bingung dan saat ini kepalanya terasa ingin pecah.
"Tolak lamaran itu!"
Lauda menatap ke arah pintu masuk dan ia terkejut melihat Diandra sedang berdiri di sana dan menatap ke arahnya.
Laura memutar bola matanya malas. "Siapa kamu berani menyuruh aku untuk menolak lamaran itu!"
"Aku adalah ... ."
"Laura, kamu di dalam?"
Suara dari seorang pria di luar, membuat Diandra menghentikan ucapannya.
"Aku katakan sekali lagi, tolak lamaran itu dan pergi jauh dari kehidupan Sean!"
Laura menatap malas kepergian Diandra dari hadapannya, kini ia begitu menyesal menerima tawaran dari Sean dan juga datang ke acara pertunangan mantan kekasih dan sahabatnya.
Ia melangkahkan kakinya menuju ke luar toilet dan terkejut Sean sedang menunggunya keluar.
"Kenapa kamu tidak langsung menerima lamaranku?" tanya Sean.
Laura menjelaskan apa yang berada di pikirannya, tetapi ia menyembunyikan rahasianya.
Karena Laura yakin bahwa semua pria itu sama saja. Mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan dari pasangan mereka, setelah itu mereka meninggalkan pasangan itu dengan rasa sakit yang luar biasa.
Karena masih belum bisa melupakan apa yang Rey lakukan kepadanya, membuat Laura begitu takut untuk menerima orang baru agar dapat mengisi kekosongan di dalam hatinya.
"Jika hanya alasan seperti itu yang kamu berikan, maka aku akan memberikan sebuah jawaban kepada kamu."
Sean menggenggam tangan Laura dengan erat dan membawa wanita itu ke tempat yang cukup sepi.
"Banyak orang yang pacaran setelah menikah dan saling mengenal juga setelah menikah. Bukankah jika mereka bisa, kenapa kita tidak bisa?" tanya Sean.
Laura menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Katakan saja dan aku akan mendengarnya."
"Aku punya sebuah rahasia yang tidak mungkin aku katakan kepada siapapun!" tegas Laura.
Laura sedikit terkejut ketika Sean tersenyum ke arahnya. "Simpanlah rahasia itu dan tidak boleh katakan kepada siapapun tentang rahasia yang kamu miliki termasuk aku. Kamu juga harus mengetahui satu hal, bahwa semua orang yang berada di dunia ini memiliki rahasia yang mereka simpan dengan baik dan juga rapih," jelas Sean.
'Kamu tidak akan pernah mengerti rahasia apa yang sedang aku miliki, karena rahasia itu mungkin saja kamu tidak akan menerimaku atau melamarku untuk menjadi istrimu,' batin Laura.
"Aku juga memiliki satu rahasia dan sampai saat aku menyimpan rahasia itu begitu dalam dan bahkan aku sendiri hampir melupakan rahasiaku itu."
Kini Laura mulai berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Sean. Mungkinkah ia mampu melupakan semua itu? Tapi bagaimana bisa ia melupakannya.
"Ayo kita masuk, acara lamaran itu hampir selesai dan aku menunggu jawaban darimu."
Laura berjalan berdampingan dengan Sean menuju ke tempat acara dan menyaksikan Rey dan juga Emily yang saling berpelukan satu sama lain.
Laura berpikir jika Rey bisa melupakannya dan berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, kenapa Laura tidak bisa membalasnya dengan cara yang jauh lebih baik.
Terlebih lagi Laura yang telah dikhianati oleh Rey dan kini ia sadar bahwa ia tidak pantas memiliki pria sampah seperti Rey.
Tetapi Laura juga sadar bahwa posisi mereka berdua begitu berbeda. Jika saja Laura kehilangan kesuciannya, mungkin kini ia akan menerima lamaran dari Sean.
Setelah acara lamaran selesai, Laura meminta kepada semua orang untuk tetap berada di dalam ruangan.
Kini ia akan menjawab lamaran yang diberikan Sean kepadanya. Apapun keputusan yang diambil oleh Laura, menurutnya itu adalah keputusan terbaik.
"Sean melamar aku di tempat ini dan meminta aku untuk menjawab lamaran tersebut."
Sean berjalan ke depan menuju ke arah Laura, kini keduanya saling menatap satu sama lain.
"Aku tidak begitu mengenal Sean dengan baik dan yang aku tahu Sean adalah atasanku di kantor." Laura menceritakan kisahnya berkenalan dengan Sean.
Semua orang yang berada di sana masih menunggu apa yang akan dikatakan oleh Laura, bahkan saat ini Rey sudah mengepalkan kedua tangannya.
"Sejujurnya aku tidak bisa menerima lamaran dari orang yang tidak aku kenal atau pria yang saat ini menjadi atasanku!"
Terlihat dengan jelas bahwa ada beberapa orang yang begitu senang mendengar apa yang dikatakan oleh Laura, sedangkan sebagian orangnya lagi tidak begitu senang dengan penolakan Laura.
Karena menurut mereka, Laura adalah wanita yang tidak pantas bersanding dengan Sean seorang CEO muda.
Berbeda dengan Sean. Tatapannya seketika berubah, saat ini ia merasakan jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Entah kenapa, ia begitu takut dengan jawaban yang akan Laura berikan.
"Kamu menolakku?" tanya Sean.
"Aku tidak mungkin menolak kesempatan emas kali ini, jadi aku menerima lamaran kamu."Sean menarik tubuh Laura ke dalam dekapannya. "Apakah ini bukan setingan?" bisik Laura."Ini nyata, untuk apa aku melamarmu di depan semua orang."Laur sedikit curiga dengan Sean, karena tidak mungkin pria kaya dan mapan seperti Sean mau melamarnya.Tetapi melihat raut wajah Rey dan Emily membuat Laura begitu bahagia.Laura menggandeng tangan Sean dan menariknya menuju ke arah keluarga Rey. "Kalian bisa lihat, aku sudah buktikan bahwa bisa menemukan pria yang jauh lebih baik daripada Rey!""Kamu jangan mau dibodohi, kamu belum tahu siapa dia–""Siapa saya sebenarnya?" tanya Sean. "Saya adalah Sean Edbert, saya adalah CEO muda yang memiliki banyak saham di Indonesia, ada yang kurang dari saya!""Setidaknya calon suami gue jauh lebih baik daripada dia!" tunjuknya ke arah Rey.Ting.Semua ponsel yang berada di dalam aula acara berbunyi. "Jangan lupa untuk datang ke acara pertunangan saya, itu undangan k
Setelah melihat apa yang telah terjadi, Laura memutuskan pergi dari sana dan berjalan tanpa arah.Sampai langkah kakinya terhenti dan melihat Sean berdiri di hadapannya. "Mau ke mana, Sayang?"Terlihat dengan jelas Diandra yang berdiri di belakang Sean, tatapannya seakan tidak suka kepadanya."Pergi! Kekasihku sedang menungguku dan aku tidak ingin dia curiga terhadapku!""Sean, kamu lebih memilih dia daripada–""Cukup!" tegasnya ke arah Diandra, ia berbalik dan menggenggam erat tangan Laura. "Ayo, kita pergi dari sini."Diandra mengepalkan kedua tangannya, ketika melihat Sean yang menggenggam tangan Laura begiti erat.Cintanya Sean yang dulu kepada Diandra begitu besar, bahkan pria itu tidak ingin membuat Diandra merasa sakit di dalam hati atau tubuhnya.Tetapi kini semua itu hilang, Sean jelas-jelas begitu peka terhadap Laura dan begitu mencintainya.***Di tempat lain Sean menyuruh Diandra untuk duduk di sebuah taman, tatapannya menatap seluruh wajah wanita di depannya."Kenapa? Kam
Hari ini adalah hari pertunangan Laura dan juga Sean, mereka akan melaksanakan acara pertunangan tersebut di sebuah gedung yang cukup besar."Semoga acara hari ini berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan seperti kemarin."Laura menatap pantulan dirinya di cermin. Kemarin ia dan Sean mendapatkan kabar, bahwa dekorasi acara mereka dihancurkan oleh seseorang.Tetapi Sean berhasil membuat dekorasi yang baru dengan harga yang fantastis, bahkan tempat yang baru juga begitu aman."Acaranya sudah di mulai, mari bersiap-siap lebih dulu."Saat keluar dari ruang ganti, Laura dapat melihat Rey bersama dengan keluarganya yang sedang duduk di kursi tamu.Kedua tatapan mereka bertemu, tetapi beberapa saat Laura mengalihkan pandangannya dan tersenyum ke arah Sean."Tenang saja, Rey tidak akan berani membuat acara ini menjadi berantakan," ujar Sean.Semua dekarasi mereka kemarin hancur karena ulah dari Rey dan Emily. Entah mereka memiliki dendam apa kepada Laura.Padahal setelah acara pertunangan me
Dalam kegelapan, terdengar suara tangisan yang berasal dari sudut ruangan.Sudah satu jam lebih suara tangisan itu berlangsung, tanpa adanya jeda.Hujan yang deras membuat luka yang berada di dalam hatinya semakin sakit dan suara tangisannya semakin besar."Aku tidak mau mempercayai siapapun lagi, aku sudah takut untuk terluka lagi!"Laura pergi meninggalkan Sean yang sedang asyik berciuman dengan Diandra di bawah derasnya hujan."Ternyata sakit ... aku pikir tak akan sesakit ini ... tetapi ini begitu sakit."Tangannya bergerak menutup wajahnya, ia sudah lelah dengan semua orang yang telah membohonginya.Di luar sana suara ketukan pintu terus berbunyi. "Laura, aku ingin menjelaskan semuanya, aku mohon buka pintunya."Tidak hentinya Sean meminta Laura untuk membukakan pintu untuknya, pria itu menangis tanpa mengeluarkan suara."Laura, tolong jangan menangis seperti itu."Di dalam ruangan Laura membaringkan tubuhnya di atas lantai yang dingin, ia memeluk tubuhnya dengan sangat erat.Air
"Duduk di sini dan makan dulu, kamu sudah melewatkan satu jam untuk minum obat.""Nggak mau! Jawab dulu untuk apa ... eh ... eh turunkan aku!" teriak Laura.Tubuhnya digandong paksa oleh Sean dan membawanya ke tempat duduk."Makan!"Tangannya bergerak mendorong semangkuk bubur di hadapannya. "Nggak mau!""Makan atau aku suap!"Karena mendengar ancaman dari kekasihnya, Laura dengan cepat memakan bubur tersebut.Selesai sarapan, ia mengambil obat yang diberikan oleh Sean dan meneguknya dengan secangkir air hangat."Aku ingin menjelaskan semuanya, kamu diam dan dengarkan apa yang akan aku katakan!"Sean paham betul bahwa Laura tidak akan mendengarkannya, tetapi ia tidak bisa untuk tidak menjelaskan semuanya.Penjelasaannya di mula saat Diandra yang menelfonnya untuk berbicara, terapi ia tidak sadar bahwa dirinya di jebak oleh Diandra dan Rey.Karena itu saat Laura sudah pergi, Sean memberikan banyak pukulan ke tubuh dan wajah adiknya itu."Sekarang aku ingin bertanya, ada hubungan apa ka
Menggunakan pakaian yang dibelikan oleh Sean, membuat Laura terlihat cantik di pagi hari.Karena ini adalah hari pertamanya menemani sang kekasih pergi ke kantor, ia ingin terlihat berbeda dari hari yang lain.Ternyata bukan hanya Laura yang berpenampilan begitu cantik, Sean juga tidak ingin kalah dengan penampilannya."Sudah siap, ayo kita berangkat."Sean dan Laura berangkat menuju ke kantor. Karena terlalu pagi, mereka memutuskan untuk berhenti di sebuah kedai bubur untuk sarapan pagi.Selesai sarapan mereka segera melanjutkan perjalanan. "Sesampainya di kantor, apapun yang kamu dengar dari para karyawan tolong jangan dimasukkan ke hati."Saat kedua kaki Laura turun dari mobil, semua para karyawan yang sedang menunggunya menatap dirinya dengan sangat tajam.Kedua tatapan Laura menatap penuh arti ke arah kekasihnya. "Aku menyuruh mereka untuk menyambut calon istri CEO," jelas Sean.Sean menggenggam erat tangan Laura, membawa wanita cantik itu untuk masuk ke dalam kantor."Mulai seka
"Nggak bisa! Keputusan sudah di tetapkan dan aku tidak ingin kamu jauh dariku, paham!" tegas Sean.Hellan nafas panjang terdengar dari Laura. "Jika itu yang kamu mau, bolehkah aku memintamu agar memberikan jabatan kepala bendahara kembali kepadanya?" Ia mencoba untuk membujuk kekasihnya.Karena rasa bersalah pada Laura, ia merasa bahwa Clara juga pantas mendapatkan haknya kembali."Baiklah, sejujurnya aku tidak bisa menerima semua itu karena tindakan yang Clara berikan sudah dimelampaui batas. Tetapi karena aku juga tidak ingin kamu menjauh, aku mengalah."Seketika kedua pipi Laura merah seperti tomat, karena mendengar perkataan dari sang kekasih.Sean adalah pria yang peka, tetapi dia tidak romantis dalam hal menggombali seorang wanita.Tetapi untuk kali ini Laura dapat mengakui keahlian dari kekasihnya. Jantungnya berdebar kencang, ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Sean."Kenapa wajahmu merah begitu, tersipu malu?""Nggak! Ayo kembali ke kantor, banyak berkas yang harus diker
"Apa ... apa yang kamu katakan?"Wanita cantik itu menahan air matanya agar tidak menetes. "Maafkan aku, tetapi setelah aku lihat jika aku–""Cukup Laura," potong Sean dengan cepat. "Apakah kamu tidak memiliki rasa cinta kepadaku?"Perkataan Sean kali ini membuat Laura terdiam. Mungkin ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa saat ini ia sudah mulai jatuh cinta kepada kaka dari mantannya."Laura, jawab pertanyaanku. Kenapa kamu diam saja""Kamu masih mencintai Diandra, saat aku berada bersamamu nyawa Clara hampir saja menghilang."Laura sudah tidak ingin menahannya lagi, bahkan ia menjelaskan semua yang berada di dalam pikirannya."Untuk apa kamu memberikanku harapan, jika kamu belum melupakan masa lalumu!" tegasnya.Terlihat kekasihnya hanya terdiam, mendengar apa yang ia katakan, bahkan tidak menjawab apapun."Kamu tahu aku hancur karena adikmu, apa kamu ini membuatku hancur juga? Ternyata selama ini adik dan kakak sama saja!""Siapa yang beritahu kamu, jika aku masih mencint
Beberapa hari setelah keluar dari kantor, Laura benar-benar menjalani hari-harinya sendiri tanpa ditemani oleh sang kekasih.Kekasihnya kemarin pergi dinas ke luar kota selama dua minggu dan hari ini Lauren memutuskan untuk pindah apartemen dan benar-benar menghilang dari kehidupan Sean.Mungkin di saat seperti ini ia harus belajar untuk melupakan kekasihnya, karena hanya dengan begitu Sean bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik darinya."Maaf, di mana barang yang akan kami bawa?" Laura memesan tim pengangkut barang karena ia akan memindahkan semua, barangnya ke apartemen yang baru.Kemarin saat dirinya ingin menghilang dari Sean, tetapi pria tampan itu malah menemukannya dengan sangat mudah.Laura benar-benar lupa, bahwa kekasihnya itu memiliki bisnis lain selain mempunyai perusahaan yang besar."Semua ini!"Ia melangkah keluar dan akan meninggalkan apartemen yang memberikannya banyak kenangan.Laura hanya akan menitipkan kunci apartemen kepada satpam, karena ia sudah mengetahui
Semua karyawan sudah berkumpul di tempat acara, begitupun dengan Sean dan juga Laura.Malam ini adalah malam perpisahan mereka, karena itu semua harus hadir tanpa terkecuali.Seorang karyawan perempuan masuk membawakan kue yang cukup besar, bahkan tertulis dengan jelas namanya yang begitu indah."Adakah kesan dan pesan yang ingin Anda sampaikan?"Dengan senang hati Laura menuju ke depan dan mengambil mikrofon, ia menatap balik semua karyawan yang sedang melirik arahnya.Di sana Laura menyampaikan bahwa ia begitu beruntung bisa bekerja di kantor dan bertemu dengan semua karyawan.Bahkan kali ini Laura sudah menyiapkan beberapa hadiah kepada para karyawannya."Silahkan maju ke depan dan ambil hadiah kecil dariku untuk kalian."Satu persatu karyawan maju. Setelah mengambil hadiah, mereka menarik lengan Laura menuju ke depan. "Mari bersulang, malam ini kita harus party."Laura menatap minuman di tangannya, ia tidak bisa mengkonsumsi alkohol selama masa kehamilannya.Bahkan rasa mual saat
Keputusan yang berat diambil oleh Laura, kini ia sudah memutuskan untuk berhenti bekerja."Sayang, jelaskan kepadaku tentang semua ini."Tatapannya menatap ke arah semua barang di dalam kardus. "Ini sudah keputusanku, tolong hargai keputusanku," pinta Laura.Langkah kecilnya melangkah keluar dari dalam ruangan sekretaris, ia harus pergi dari kantor agar sang kekasih dapat mencari sekretaris baru.Saat keluar dari lift, ekspresi murungnya berubah menjadi terkejut, ketika melihat semua karyawan berdiri di depan lift."Bu Laura. Kami semua di sini tahu, bahwa kami telah melakukan kesalahan, tetapi kami mohon untuk tidak pergi dari sini. Karena beradaptasi dengan orang baru, bukanlah hal yang mudah."Kedua matanya terpejam, ia tidak boleh merasa ibah dengan ekspresi sedih yang ditunjukkan oleh para karyawan."Aku ingin bertemi kasih sebelumnya. Tetapi aku juga ingin minta maaf, karena keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi!" tegasnya.Satu persatu karyawan melangkah ma
Berhasil dibujuk untuk pulang, saat ini pasangan kekasih itu sedang berada di apartemen milik Laura."Sayang, aku tunggu di bawah."Setelah kepergian Sean, dengan cepat ia mencari sesuatu yang mampu menyembunyikan kehamilannya.Mereka akan pergi ke dokter, Laura takut jika kehamilannya diketahui oleh Sean.Korset yang sudah lama ia beli tetapi tidak digunakannya, kini benda itu mampu menutupi perutnya yang hemailannya."Maafkan aku."Sejujurnya ia tidak ingin melakukan hal kejam seperti ini, tetapi untuk saat ini Laura tidak bisa menerima anak yang berada di dalam kandungannya.Matanya membulat sempurna ketika melihat Sean berada di depan kamar. "Ada apa? Wajahmu pucat."Satu langkah mundur ke belakang ketika wajahnya disentuh oleh sang kekasih, hal itu membuat Sean terdiam cukup lama."Sean, bisakah kita tidak perlu ke rumah sakit? Aku baik-baik saja.""Kamu yakin? Atau begini saja, aku panggil dokter ke sini."Laura berpikir mungkin hal itu akan jauh lebih baik, daripada harus ke ru
Tatapan teduh dan wajah suram terlihat jelas pada wajah wanita cantik yang duduk sambil menatap ke arah jalan.Berkali kali ia menundukkan kepalanya, ketika melihat sepasang kekasih yang melewatinya.Melihat kemesraan mereka berdua, membuat Laura teringat jelas dengan Sean dan semua kenangan mereka."Aku tak mampu memaksa untuk bersama, aku tidak ingin membuatmu hancur."Tangannya bergerak mengelus perutnya yang belum terisi apapun sejak tadi malam.Bahkan pagi tadi ia harus tidur di taman, menahan dinginnya malam yang begitu menusuk."Apakah aku mampu menahan semua ini? Aku tidak ingin hal ini terjadi kepadaku!"Hidupnya sekarang begitu hancur, tidak mempunyai apapun dan bahkan ia tidak tahu harus berbuat apa.Langkah kecilnya menjauh dari taman dan berhenti di depan restauran, ia sedikit tersenyum ketika melihat ada lowongan pekerjaan."Permisi, apakah di sini sedang membutuhkan karyawan?"Sedikit rasa takut melihat ekspresi dari wanita di hadapannya. "Lu hamil?"Dengan pelan ia men
Ekspresi yang awalnya bahagia, tersenyum senang melihat test peck dihadapannya, tiba-tiba berubah dalam waktu sekejap.Terlihat jelas garis dua pada test peck yang ia gunakan, membuat tubuh Laura melemas dan terjatuh di kamar mandi.Hancur, kecewa dan sedih hal itu yang ia rasakan, tak pernah terbayangkan semua ini akan terjadi kepadanya."Aku harus ke rumah sakit, tempat di mana aku di operasi!"Laura berdiri menguatkan dirinya, melangkahkan kakinya keluar dari apartemen.Sudah cukup lama Laura tidak mengemudi mobil, tetapi dengan pelan ia menjalankan mobil ke rumah sakit.Sepanjang perjalanan, Laura hanya ditemani dengan air mata yang tak hentinya menangis."Sean, aku merasa bersalah jika harus menyembunyikan semua ini disaat kamu begitu tulus mencintaiku!" Cinta yang Sean tunjukkan bukan hal yang serius, tak hentinya Laura mengucapkan permintaan maaf.Saat tiba di rumah sakit, Laura masuk ke dalam rumah sakit dan bertemu dengan dokter utama."Nona Laura, ada apa malam-malam datang
Menjelang hari pernikahannya, Laura sering merasa aneh dengan keadaan tubuhnya. "Apakah aku sakit?"Kaki jenjangnya turun dari kasur, tatapannya menatap hujan lebat yang turun sejak sore.Karena merasa tubuhnya sudah jauh lebih baik, ia beranjak dari kasur dan menuju ke dapur.Saat membuka kulkas ia tidak menemukan apapun, yang ada di pandangannya hanyalah cake.Tatapannya beralih ke arah ponsel yang berdering, tertulis nama Sean di sana. "Halo."["Mau makan apa, aku belikan atau mau makan di luar?"Hembusan nafas terdengar jelas."Apa saja, terserah!"Panggilan ditutup secara sepihak, moodnya tiba-tiba berubah menjadi buruk.Ia terkejut ketika tangannya terkena tetesan air. "Aku menangis? Sebenarnya ada apa denganku!"Tiba-tiba ketukan pintu membuatnya sedikit terkejut, dengan rasa kesal ia pergi dan melihat siapa yang datang.Saat pintu dibuka, Sean tersenyum dan menunjukkan makanan untuknya."Aku nggak mau makan!""Sayang, kamu kenapa?"Dengan kasar ia menghempaskan tangan sang kek
80% persiapan untuk acara pernikahan mereka sudah siap, tersisa hanyalah gaun dan juga undangan pernikahan.Calon pasutri itu sedang menuju ke tempat desainer pakaian mereka. Selama perjalanan, wajah keduanya dihiasi dengan senyuman.Saat mobil berhenti di persimpangan lampu merah, Laura merasa begitu gelisah dan merasa tubuhnya tidak enak badan."Ada apa, Sayang?"Kedua matanya tertutup, ketika merasakan sentuhan tangan sang kekasih ke wajahnya. "I'am fine, aku hanya butuh istirahat saja," jawabnya dengan pelan.Mobil kembali dijalankan dengan pelan menuju ke tempat tujuan. Saat tiba, Laura segera keluar dan menghirup udara segar.Ia merasakan sesak. "Kita ke rumah sakit, sepertinya kamu tidak baik-baik saja."Laura melepaskan tangan kekasihnya dengan pelan. "Aku baik-baik saja, ayo kita masuk."Matanya berbinar ketika melihat gaun yang diimpikannya sudah siap untuk digunakan. "Nona Laura, gaunnya bisa dicoba sekarang."Dengan senang hati ia mencoba gaun pernikahannya. Tidak ada satu
Mulutnya tidak mampu terbuka untuk mengucapkan sepatah katapun, ia hanya bisa menangis menatap pria di hadapannya yang berlumuran darah."Kamu menembak ayahmu sendiri!"Tatapan yang dingin menatap tajam ke arah sang ayah. "Kenapa? Anda bisa membunuh ibu saya jauh lebih kejam daripada ini, kenapa saya tidak bisa!"Tangan kanannya bergerak mengangkat senjata, mengarahkannya ke arah sang ayah."Ja ... ngan." Suaranya terbata-bata.Laura mencoba menahan sang kekasih, agar tidak melewati batas. "Aku ... baik-baik saja." Rasa tubuhnya begitu sakit ketika ia berusaha untuk bangkit."Ambulans!" teriak Sean.Kerah baju Sean ditahan dengan kuat. "Aku mohon ... maafkan ayah kamu."Kedua tangannya terlepas. Karena ambulans tidak bisa masuk melalui gang sempit, Sean memutuskan untuk membawa Laura menuju ke mobil.Saat keluar dan meninggalkan ayahnya sendiri di dalam, Sean berpesan kepada para petugas rumah sakit agar membawa sang ayah secepatnya untuk menemui dokter.'Aku bukan memaafkannya, tetap