Ternyata dia masih perawan, astaga, apa yang sudah aku lakukan?Hati Kazumi bicara demikian sambil menatap Rachel yang terlihat masih kesakitan meskipun ia sudah mengeluarkan miliknya dari milik perempuan tersebut."Kamu, masih perawan?"Pertanyaan Kazumi membuat Rachel spontan membuka matanya. Dan ia terdiam melihat Kazumi yang menatapnya dengan tatapan mata tidak percaya sambil melontarkan pertanyaan seperti tadi. "Kamu benar-benar berpikir kalau aku ini sudah enggak perawan?" "Tapi, kamu ke tempat hiburan malam, Rachel, dan ada Radit di sana!""Radit membeli istri keduamu! Harusnya dia yang tidak perawan lagi bukan aku!"Kazumi memalingkan wajahnya. Benar-benar tidak menyangka ia justru membuat Rachel memiliki pengalaman menyakitkan padahal gadis itu tidak pernah melakukan hubungan intim dengan seorang pria. "Maaf ...."Rachel mengerutkan keningnya ketika Kazumi mengucapkan maaf sesaat kemudian."Kenapa minta maaf?" tanyanya."Aku minta maaf karena aku, milikmu sudah robek, seha
"Zumi, kenapa?" tanya Syena sambil bergerak mundur menyadari aura Kazumi seperti menahan kemarahan.Kazumi yang diselimuti perasaan cemburu karena melihat Syena dengan Bertrand di jam tidak biasa benar-benar tidak bisa mengontrol perasaannya.Ia maju meskipun Syena mundur setiap kali ia melakukan hal tersebut. "Kamu meminta tolong Bertrand di jam tidak biasa seperti ini untuk membetulkan kunci kamar kamu? Kenapa kamu tidak melaporkan hal itu dulu padaku? Kau kira kau siapa? Seenaknya meminta tolong untuk membetulkan rumah orang?" kata Kazumi bertubi-tubi dan Syena sadar dengan apa yang ia perbuat hingga ia merasa bersalah."Maaf, aku minta maaf. Aku salah, memang seharusnya aku konfirmasi kamu dulu, tapi karena kupikir kamu enggak mau diganggu jadi, aku langsung minta tolong Bertrand.""Bertrand? Kamu ringan sekali menyebut nama dia, apa kamu masih punya perasaan dengan dia?"Masih dengan suara sinis, Kazumi melontarkan pertanyaan tersebut hingga membuat Syena benar-benar sulit bicar
"Ah, bukan seperti itu, Tuan. Saya tidak menyukai dan disukai oleh siapapun, jadi-""Kau tidak merasa bahwa dirimu itu tampan?""Tidak setampan Tuan.""Kau tidak merasa jika kau berada di luar kau itu menarik perhatian kaum hawa? Apakah kau pernah menyukai perempuan?""Tidak, Tuan. Kaum hawa tertarik pada Tuan, bukan saya.""Kau kira aku tidak bisa membedakan perempuan yang menyukaimu dengan perempuan yang menyukaiku?""Tuan, sudahlah, saya belum berpikir ke arah sana, yang sekarang kita bahas itu adalah Tuan, bukan saya, jadi, apa yang membuat Tuan sampai melakukan hal itu pada Syena?""Kau tadi menanyakan tentang apa yang akan aku lakukan jika aku tahu orang yang disukai dan menyukai Syena ada di rumah ini? Jika memang ada lagi, aku akan memusnahkan dia dari mataku, paham?"Aku tidak bisa mengatakan masalah Syena yang menyukai Tuan Kazaya, lagipula, Tuan Kazaya juga tidak menyukai Syena jadi kurasa, lebih baik aku diam saja daripada masalah bertambah banyak....Hati Alex bicara dem
Kazaya bicara seperti itu di hadapan Alex hingga Alex hanya bisa menghela napas."Sabar, Tuan, seperti yang saya katakan tadi, semua itu ada alasannya, Tuan Kazumi bertindak seperti itu ada alasannya, nanti akan diselesaikan dengan baik dan saya pastikan tidak akan terjadi lagi hal demikian."Alex masih berusaha untuk menenangkan Kazaya, karena ia bisa merasakan adik kembar Kazumi itu sangat emosi. "Alasan apa? Memperkosa Syena itu alasan apa? Gue malu, karena dia kakak kembar gue! Mau ditaro dimana muka gue kalo dia kagak bisa jaga sikap macam itu?""Tuan Kazumi khilaf, Tuan, saya pastikan itu tidak terjadi lagi, nanti juga Tuan Kazumi akan menyelesaikan semuanya, Tuan kembali saja ke kamar, saya mohon."Kazaya menghembuskan napas kesal mendengar ucapan Alex yang terdengar sangat memohon. Terpaksa, Kazaya menahan diri untuk tidak marah meskipun ia sangat ingin marah. Namun, karena hari juga sudah terlalu larut malam, Kazaya akhirnya menyerah. "Baiklah, tapi lu harus bisa menasihati
"Maaf, Nona, saya tidak bisa mengatakan apapun pada Nona, nanti tanyakan sendiri pada Tuan Kazumi, ya?"Alex mengucapkan kalimat tersebut sambil membungkukkan tubuhnya, dan Rachel lagi-lagi sebal karena Alex tidak mau mengatakan tentang tugas yang diberikan Kazumi padanya."Alex, bisakah kamu mengatakan sedikit saja apa yang ditugaskan Kazumi padamu? Kenapa kau hanya patuh dengan Kazumi? Kenapa kamu tidak menganggap aku majikan kamu juga?""Maaf, Nona. Saya hanya menjalankan tugas, Tuan Kazumi meminta saya untuk merahasiakan segalanya, saya hanya menjalankan perintah.""Kalau dia memintamu terjun ke jurang, kau juga mau melakukannya?""Tergantung alasannya, jika itu hukuman untuk kesalahan yang saya perbuat, saya akan melakukannya.""Kamu memang benar-benar menyebalkan!"Setelah memaki seperti itu pada Alex, Rachel meninggalkan asisten pribadi Kazumi tersebut dengan perasaan berkecamuk. Apa sebenarnya yang ditugaskan oleh Kazumi pada Alex?Rachel akhirnya berinisiatif untuk menghubung
"Kamu mengancam?""Tidak hanya mengancam, tapi ini kenyataan jika kamu tidak mau patuh padaku!""Kalau kamu menyakiti ibuku, kamu akan berurusan dengan polisi! Jadi jangan suka mengancam, ada hukum yang akan kamu terima kalau kamu melakukan hal itu!"Setelah bicara demikian, Syena berbalik dan meninggalkan sang ayah tiri. Pak Boris ingin mengejar tapi niatnya terhenti ketika sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumah besar milik Kazumi.Pak Boris buru-buru pergi sambil mengawasi nomor plat mobil yang berhenti di depan gerbang tersebut. "Pasti mobil itu milik suami Syena, dia sudah mempermalukan aku di depan umum waktu itu, dia juga sudah menghajar aku, tunggu saja pembalasanku!"Pak Boris bicara demikian sambil segera pergi dengan kemarahan yang meluap.Sementara itu, Alex yang membawa mobil Kazumi meminta satpam penjaga gerbang untuk menjaga mobil tersebut sementara ia masuk dahulu ke rumah Kazumi karena ada sesuatu yang harus ia ambil sebelum memberikan mobil itu pada Kazumi.Beb
Ayah Tuan Kazumi sepertinya tahu apa yang direncanakan oleh Tuan Kazumi, hubungan batin antara ayah dan anak pastinya, semoga saja ketika semuanya sudah berakhir, Tuan Kazama tidak terlalu terpuruk....Hati Alex menanggapi perkataan yang diucapkan oleh Tuan Kazama, sampai untuk sesaat ia hanya bisa diam saja sebelum akhirnya ia menanggapi seadanya apa yang dikatakan oleh ayah Kazumi. Beberapa saat kemudian, Alex pamit untuk melakukan tugas yang diberikan oleh Kazumi, tanpa memberitahukan apa yang akan dilakukannya secara rinci pada Tuan Kazama. Sementara itu, Rachel yang sudah sampai ke rumah orang tuanya terburu-buru mencari orang tuanya ketika ia sudah sampai di rumah besar tersebut.Kedua orang tua Rachel heran melihat anaknya yang seperti dikejar setan masuk ke rumah mereka hingga keduanya meminta Rachel untuk duduk dengan tenang."Ada apa? Kenapa kamu sampai tersengal-sengal seperti itu?" tanya sang ayah pada putrinya. "Pi, Mami, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Kaz
"Iya, aku tahu, tapi izinkan masalah ini aku yang mengatasi, aku berjanji akan menyelesaikannya dengan baik, aku juga berjanji tidak akan menyiksa diri sendiri, jadi tolong berikan aku kesempatan itu." Mendengar permohonan sang anak untuk yang kesekian kalinya, kedua orang tua Rachel saling pandang. Mereka sebenarnya tidak mau menerima permohonan tersebut tapi melihat kesungguhan di wajah sang anak, keduanya akhirnya meloloskan permintaan Rachel dengan satu catatan, kesempatan yang diberikan itu adalah kesempatan terakhir. Jika sang anak masih terus diabaikan oleh Kazumi, ayah dan ibu Rachel ingin Rachel tidak lagi berusaha untuk memaksakan diri meneruskan pernikahan tersebut, dan Rachel menyanggupinya. Kesempatan terakhir, aku berharap di kesempatan terakhir ini, Kazumi akhirnya aku dapatkan, setidaknya dia menepati janji untuk menyentuhku. Biarlah, aku dianggap wanita tidak punya harga diri, aku hanya ingin ada jejak Kazumi sebelum dia benar-benar membuangku.... Hati Rachel
Awalnya, Syena tidak berani membalas ciuman yang diberikan oleh Kazaya. Namun beberapa saat kemudian, rasa ragu Syena akhirnya musnah. Ia membalas ciuman yang diberikan oleh Kazaya padanya dengan penuh perasaan pula hingga akhirnya keduanya sama-sama tenggelam dalam perasaan mereka satu sama lain dan ketika perasaan itu ingin mendorong mereka melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman, buru-buru Syena dan Kazaya saling menarik diri dengan napas mereka yang memburu.Kazaya mengusap wajahnya yang terasa panas dan ia yakin sekarang ini wajahnya merah begitu juga dengan Syena. "Jadi, apa sekarang kita jadian?" tanya Syena dengan suara perlahan khawatir apa yang dialaminya tadi adalah sebuah mimpi atau hanya sebuah canda Kazaya saja karena pemuda itu biasanya juga sering melakukan sesuatu yang tidak dipikirkan dahulu."Asalkan kamu mau menunggu dulu sebelum akhirnya aku bisa melamar kamu, untuk sekarang aku masih harus menyelesaikan kekacauan yang sedang terjadi."Mendengar Kazaya meru
"Gue suka sama lu, Syena tapi gue tau, itu terlambat, dan-""Kenapa menyukaiku? Dan kenapa kamu baru mengatakan sekarang?" potong Syena hingga membuat Kazaya tidak bisa bicara untuk sejenak karena tidak tahu apa yang akan ia katakan untuk menjawab pertanyaan perempuan tersebut."Gue kagak tau kenapa gue suka sama lu, tapi mungkin karena lu begitu peduli sama keluarga gue, gue jadi merasa lu itu menganggap penting keluarga gue."Akhirnya, Kazaya menjawab pertanyaan Syena tapi Syena tidak puas dengan jawaban itu. Hingga ia melontarkan pertanyaan yang serupa tentang mengapa Kazaya baru mengatakan hal itu sekarang. "Karena gue benci, Kazumi bilang gue pecundang dan gue kagak suka dikatakan seorang pecundang karena ucapan itu membuat gue kagak berguna.""Jadi, Kazumi yang membuat kamu berpikir kayak sekarang?""Si bodoh itu kagak pernah jatuh cinta tapi dia lebih peka dari gue.""Sebenarnya, aku tahu kamu juga suka sama aku waktu kamu mencium aku di hutan itu."Wajah Kazaya berubah ketika
"Zaya. Enggak ada yang salah dengan pikiran kamu itu. Cari uang dengan mengandalkan bakat itu lumrah, yang enggak boleh dilakukan itu adalah, apapun akan dilakukan demi uang, pikiran kamu waktu dulu itu kan, karena kamu sulit mendapatkan uang, yang penting sekarang kamu udah sadar kalau seni itu juga penting."Dengan bijak, Syena menanggapi apa yang diucapkan oleh Kazaya agar pria itu tidak berlarut-larut dalam keterpurukannya.Kazaya diam tidak menanggapi apa yang diucapkan oleh Syena, hingga situasi di antara mereka senyap untuk beberapa saat.Dan kemudian...."Sampai sekarang, Alex aja kagak bisa melacak keberadaan Kazumi, padahal dia sangat andal melakukan pelacakan, semua sistem informasi yang diberikan oleh Alex pada Kazumi kayaknya kedeteksi, jadi keberadaan Kazumi kagak bisa diketahui di mana, yang jadi masalah, kalo bokap gue nanya dia di mana gue harus bilang apa? Gue benar-benar pusing sekarang.""Jujur aja.""Apa?"Kazaya seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh
"Ah, enggak! Aku enggak mikir kayak gitu! Aku cuma ingin kamu lebih melakukan persiapan aja kalau ternyata kamu benar-benar hamil, kan?" kata Moa buru-buru menjelaskan.Wajah Rachel seketika suram mendengar apa yang diucapkan oleh Moa, hingga Moa mengira Rachel jadi seperti itu karena dirinya."Rachel, apa aku salah bicara?" tanya Moa dengan nada suara yang terdengar sangat hati-hati."Enggak. Enggak ada yang salah. Aku hanya berpikir bagaimana bisa aku mengatakan pada Kazumi bahwa dia ternyata tetap sehat meskipun pernah meminum obat anti kesuburan itu di masalalu? Dia aja enggak bisa dihubungi, rasanya menyedihkan."Mendengar apa yang diucapkan oleh Rachel, Syena mengusap punggung perempuan itu untuk sekedar menenangkan perasaan Rachel yang pasti terguncang karena kabar Kazumi yang bergabung dengan organisasi mafia tersebut."Yang penting itu kesehatan kamu dan bayimu dulu, kalau kamu sudah yakin kamu itu hamil, kamu bisa menjaga bayi ini dengan baik, masalah Kazumi, Kazaya pasti ak
Rachel terlihat salah tingkah mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh Moa, hingga Moa tertawa kecil melihat ekspresi mantan istri pertama Kazumi tersebut. "Aku bercanda. Kau tidak perlu ambil hati, sejujurnya aku memang masih merasa cinta sama Kazumi, tapi aku tahu diri, Kazumi tidak pernah suka padaku, jadi aku tidak akan memikirkannya lagi, hanya saja kurasa itu perlu proses, jadi untuk sekarang aku ya masih memikirkan dia, maaf."Moa bicara dengan wajah yang terlihat sangat serius."Kazumi bukan milik siapapun lagi, jadi enggak ada yang bisa melarang siapapun untuk memikirkannya."Rachel menanggapi perkataan Moa, tapi Moa bisa melihat, itu hanya sesuatu yang sekedar diucapkan oleh Rachel saja. Ia bisa melihat, Rachel terlihat cemburu mendengar apa yang diucapkannya tadi hingga Moa sangat yakin, perempuan itu pasti masih sangat mencintai Kazumi."Rachel. Kazumi itu mencintai kamu, jadi kurasa kamu harus memperjuangkan perasaan kamu itu kalau memang kamu masih mencintai dia."Moa b
Jemari tangan Rachel yang sedang merangkai bunga terhenti seketika mendengar apa yang diucapkan oleh Radit. Radit merasa puas melihat perubahan yang terjadi pada wajah Rachel hingga laki-laki itu melangkah semakin mendekati posisi Rachel berada. "Kamu tidak tahu?" tanyanya setelah ia berada tepat di hadapan Rachel."Kamu ke sini hanya ingin membahas itu? Masih enggak suka juga kamu sama dia?" tanya Rachel beruntun."Rachel, aku peduli sama kamu, aku cuma enggak mau kamu kenapa-kenapa," kata Radit penuh dengan perasaan khawatir yang ia perlihatkan lewat sorot matanya."Aku dan Kazumi sudah bercerai, Radit. Urusan dia bukan urusanku lagi, jadi tolong pergi saja, jangan ganggu aku lagi!" pinta Rachel tanpa memberikan kesempatan pada pria itu untuk lebih banyak bicara lantaran ia sejak dulu memang sudah muak dengan pria tersebut.Namun, tidak bisa dipungkiri, apa yang dikatakan oleh Radit cukup membuat ia jadi kepikiran juga. Kazumi bergabung dengan organisasi mafia? Sepertinya tidak
Andreas menghela napas panjang mendengar apa yang diucapkan oleh Kazaya.Sebenarnya ia sekarang terpancing emosi, akan tetapi, ia tidak mau bertindak gegabah, meladeni kemarahan Kazaya hingga akhirnya pemuda itu bisa saja membuat galerinya hancur."Sebenarnya ada apa? Kamu marah marah seperti ini padaku? Apakah ada yang terjadi pada Kazumi?"Andreas tidak menanggapi ucapan mengandung emosi yang dikatakan oleh Kazaya tadi karena sebenarnya ia yakin bukan itu yang sedang bergolak di otak Kazaya.Kazaya bungkam mendengar pertanyaan Andreas. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan untuk sesaat ia tidak tahu harus bicara darimana untuk membeberkan segalanya."Asal kau tahu saja, Zaya. Aku memang dahulu pernah mendapatkan tawaran yang cukup menggiurkan dari Ernesto, bisa membuat lukisanku lebih meluas lagi ke seluruh dunia, namun, aku tidak menerima tawaran itu karena kupikir, aku tidak tega menodai sebuah karya seni."Karena Kazaya tidak kunjung bicara meskipun ia sudah melontarkan pertanyaa
Alex tidak langsung menjawab apa yang diucapkan oleh Kazaya dan berujung pertanyaan tersebut, karena ia memang sesuai yang diucapkan oleh Kazaya, merasa khawatir dengan apa yang sudah diputuskan oleh Kazumi tadi secara tiba-tiba.Hanya saja, karena ia tahu Kazumi tidak akan berbuat sembarangan tanpa berpikir dahulu resikonya, ia percaya apa yang dilakukan oleh Kazumi adalah hal yang memang harus dilakukan oleh majikannya tersebut."Ternyata, lu juga sama aja dengan gue, panik dengan apa yang dilakukan oleh Kazumi," sinis Kazaya yang membuat Alex menghela napas panjang mendengarnya."Iya. Aku akui aku juga sama khawatirnya dengan Tuan, tapi aku yakin, Tuan Kazumi tidak akan sembarangan bertindak, Tuan. Dia pasti sudah merencanakan hal itu dengan baik dan tahu resikonya."Alex akhirnya menanggapi apa yang dikatakan oleh Kazaya, dan itu membuat Kazaya memajukan bibirnya."Meskipun resikonya dipenggal?""Semoga Tuan Kazumi baik-baik saja."Alex tidak berani berpikir bahwa Kazumi akan dipe
"Gue cuma kagak mau ada orang lain yang terkena masalah karena keluarga kita!" jelas Kazaya dan itu membuat Kazumi tersenyum kecut meskipun ia sesekali mengerenyit menahan sakit karena luka yang dideritanya membuat punggungnya terasa perih."Peduli juga tidak apa-apa, kau memang harus melakukan hal itu padanya, sebelum terlambat.""Berisik!""Tuan. Ada laporan dari rekanku, katanya mereka sedang bentrok dengan anak buah Yurata."Saat Kazumi dan Kazaya bertengkar, Alex bicara seperti itu hingga pertengkaran yang terjadi pada saudara kembar itu terhenti seketika."Di mana mereka sekarang?"Baru saja Kazumi melontarkan pertanyaan itu pada Alex, tiba-tiba saja dari arah atas mereka terdengar suara seseorang memanggil, hingga mereka mendongakkan kepala mereka untuk mencari tahu siapa yang sedang memanggil mereka."Itu mereka!" kata Alex sambil mengarahkan telunjuknya ke atas. Sebuah tali terjulur dari atas dan tali itu bukan tali biasa tapi tali yang biasa digunakan oleh seseorang yang se