Seketika Kazumi berusaha bangkit, tapi tangannya terasa kebas hingga ia hanya menggulingkan tubuhnya ke samping agar tidak terlalu lama di atas tubuh Syena. Ketika Kazumi menggulingkan tubuhnya ke samping, ia tidak bisa lagi menahan pergerakan tubuhnya akibatnya, kepalanya terbentur lantai, ini membuat Kazumi mengernyit menahan sakit, dan ringisannya membuat Syena yang ada di sampingnya buru-buru berusaha untuk menepis semua perasaan gugupnya karena insiden tersebut lalu gadis itu segera memeriksa keadaan Kazumi. "Zumi, kamu enggak papa?" tanyanya khawatir. "Diam!" bentak Kazumi sambil menyingkirkan tangan Syena yang mencoba untuk membantunya untuk bangun. "Itu, aku minta maaf, aku tadi cuma mau bantu kamu untuk pindah ke tempat tidur, enggak bermaksud melakukan hal-hal aneh, kok." Dengan terbata, Syena berusaha untuk menjelaskan, khawatir Kazumi marah lantaran tadi bibir mereka saling bersentuhan, dan rasanya sekarang terasa nyeri. Syena meraba bibirnya untuk memastikan
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?""Aku bisa memperkarakan ini ke jalur hukum! Aku akan menuntut kamu suami yang tidak adil memperlakukan istri, terutama, kamu akan terkena pasal karena kamu enggak pernah menyentuh aku!""Kalau begitu, aku juga akan melakukan hal yang sama, aku akan menuntut kamu karena kamu berselingkuh, Rachel, jangan lupa, aku memiliki bukti bahwa kamu ke tempat hiburan malam dengan si Radit itu, dan Radit sendiri bilang padaku, bahwa, kau dan dia memang memiliki hubungan khusus!""Apa sekarang kau sedang cemburu?""Apa?""Ya! Kau cemburu! Itu sebabnya kamu melakukan tindakan brutal dengan Syena?""Cemburu katamu? Aku cemburu? Yang benar saja! Aku tidak pernah cemburu! Sudahlah, kau keluar aku mau mandi!"Kazumi mendorong Rachel dengan paksa agar istrinya itu keluar dari kamar, tapi Rachel yang sudah terlanjur cemburu karena Kazumi dan Syena dinilainya sudah berciuman melakukan perlawanan hingga Kazumi diam-diam terkejut sendiri.Tidak menyangka Rachel akan melaku
Untuk sesaat, Syena terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Kazaya. Ia bingung harus menjawab seperti apa, karena khawatir Kazaya tahu bahwa ia dan Kazumi hanya terlibat pernikahan kontrak.Salah menjawab, ia pasti akan mendapatkan masalah sebab itulah, Syena berpikir keras untuk mencari jawaban yang tepat. "Aku menyukainya."Akhirnya, sebuah kebohongan diucapkan oleh Syena meskipun ia berat untuk melakukan hal itu. Namun, apa boleh buat, ia terpaksa melakukannya karena memikirkan Kazumi yang marah itu jauh lebih menyeramkan."Menyukai? Benarkah? Jadi, lu dan Kazumi kawin itu saling cinta?""Ya!""Lu yakin?""Kalau tidak, buat apa aku bersedia menikah dengan dia?"Wanita ini demen sama Kazumi? Benar-benar pelakor ternyata....Hati Kazaya bicara demikian setelah mendengar jawaban yang diucapkan oleh Syena atas berbagai macam pertanyaannya."Apa lu tau Kazumi sudah punya istri?""Enggak.""Kazumi kagak ngomong kalo dia udah punya istri, kah?""Aku tidak tahu, saat sudah men
"Lalu, bagaimana dengan kamu? Bukankah kamu juga ke tempat hiburan malam dengan si Radit itu?" "Itu salah paham, Zumi! Aku bisa menjelaskan hal itu, aku dan-""Sudahlah, aku tidak mau mendengar apapun yang kamu katakan, Rachel, aku capek!"Kazumi menghempaskan tangan Rachel yang memegang lengannya. Lalu pria itu berbalik dan melangkah meninggalkan Rachel tanpa perduli lagi dengan reaksi Rachel yang tidak menyangka ia bisa setenang itu padahal Rachel sangat yakin, bahwa Kazumi akan marah jika mendengar Syena sedang bersama Kazaya.Kazumi sudah sampai di dalam kamarnya dan menyandarkan tubuhnya ke pintu.Ucapan Rachel tentang Syena lumayan mengganggu pikirannya. Ada perasaan panas yang dirasakannya sekarang dan rasa panas itu membuat ia geram. Apakah Kazaya dan Syena benar-benar sedekat itu?Kazumi segera keluar dari kamar dan melangkah ke arah lantai atas. Ia tidak sadar, Rachel melihatnya dan tersenyum penuh arti. Tadinya ia pikir Kazumi tidak terpancing dengan apa yang diucapkannya,
Pertanyaan Syena cukup membuat Kazumi untuk sesaat sulit menjawab, tapi, bukan Kazumi jika tidak pandai menguasai diri. Pria itu dalam sekejap bisa mengontrol perasaannya yang tadi sempat sedikit kacau lantaran apa yang diucapkan oleh Syena.Tangannya terulur dan mencekik leher Syena disertai pandangan matanya yang terlihat sangat marah. "Aku sedang serius, Syena! Siapa yang jatuh cinta padamu? Siapa yang sedang cemburu? Sudah jelas aku melakukan itu karena aku tidak mau orang di rumah ini tahu hal yang sebenarnya, kurang jelas?"Syena tidak bisa menanggapi perkataan pedas Kazumi karena lehernya dicekik. Setengah mati gadis itu berusaha untuk melepaskan tangan Kazumi di lehernya, tapi Kazumi yang terlanjur marah tidak mau membiarkan itu terjadi.Tangannya tetap di leher Syena hingga Syena panik khawatir kehabisan napas dan perempuan itu langsung menggigit pergelangan tangan Kazumi sekuat yang ia bisa dan itu membuat Kazumi berteriak keras sehingga langsung melepaskan tangannya di leh
Alex langsung pamit dari hadapan Kazumi ketika Kazumi mengucapkan perintah itu padanya. "Jadi pria itu pernah disukai Syena tapi Syena ditolak, aku penasaran, apa yang membuat pria itu menolak Syena."Kazumi bicara sendiri seolah tidak sabar untuk memberikan interogasi pada pria bernama Bertrand tersebut.***"Mau apa kalian ke sini?" tanya Bertrand ketika ia membuka pintu gubuk di mana ia dan orang tuanya tinggal seorang pria yang tidak lain adalah Alex berdiri di hadapannya. Bertrand masih ingat wajah Alex tapi karena Alex tidak datang sendiri, ia tidak kenal dengan pria yang lain hanya Alex saja yang wajahnya masih diingat oleh Bertrand, wajah pria yang memberikannya uang waktu itu juga ia tidak melihat dengan jelas karena yang turun dari mobil menghampirinya hanya Alex saja. "Kau mau pekerjaan tidak?" tanya Alex pada Bertrand dan wajah Bertrand berubah mendengar tawaran tersebut. Semenjak ia dituduh mencuri, Bertrand kebingungan mencari pekerjaan baru sampai ia sendiri memut
"Kalau kau belum melakukan apa yang seharusnya kau lakukan tidak perlu bicara tentang anak emas di sini, karena kau tidak pantas untuk mengucapkan itu di hadapanku!" bentak Kazumi setelah melakukan itu pada Kazaya. Kazaya tersenyum kecut mendengar apa yang diucapkan oleh sang kakak kembar. Ia berusaha berdiri dengan benar sambil mengusap pipinya yang panas karena telapak tangan Kazumi yang menamparnya tadi."Ya, si paling bisa melakukan semua fungsi anak, gue cuma sampah yang numpang hidup di sini, jadi kayaknya kagak perlu juga gue ikut lu!"Setelah bicara demikian, Kazaya langsung berbalik dan pergi meninggalkan Kazumi dan ia tidak peduli dengan Kazumi yang memanggilnya berulang kali untuk memintanya agar menghentikan langkahnya."Tuan, sudahlah, biarkan Tuan Kazaya menenangkan diri dahulu, Tuan juga demikian, mungkin lain kali, Tuan Kazaya akan menengok tuan besar."Alex mencoba untuk menenangkan Kazumi yang benar-benar emosi melihat sikap Kazaya yang tidak mau peduli dengan ayah
"Pi, aku mencintai Kazumi, aku ingin mempertahankan pernikahan kami, karena aku yakin suatu saat Kazumi akan mencintai aku dan tahu kalau aku tulus padanya....""Sampai kapan? Setahun kamu mencintai dia dengan sepihak, bukannya dia balik mencintaimu, tapi dia justru menikah lagi, dia menduakan kamu, Rachel, dengan alasan yang benar-benar tidak masuk akal, dia bilang kamu membuat kesalahan? Itu hanya akal-akalan dia saja karena dia memang ingin menduakan kamu!""Aku yang salah, Pi. Waktu itu aku tidak memikirkan hal lain, aku hanya memikirkan apa yang dijanjikan oleh Radit, tapi ternyata kami bertengkar.""Radit mencintai kamu, Papi berpikir lebih baik kau menikah dengan Radit daripada dengan Kazumi yang tidak pernah mencintai kamu!""Tapi, ayah Kazumi sudah menyelamatkan nyawa Papi, jadi, apa yang aku lakukan sekarang bukan hanya karena aku mencintai Kazumi, tapi juga karena tahu balas budi.""Kamu bisa menunggu sampai dua tahun lagi?""Insya Allah.""Meskipun keadaannya seperti ini?"
Awalnya, Syena tidak berani membalas ciuman yang diberikan oleh Kazaya. Namun beberapa saat kemudian, rasa ragu Syena akhirnya musnah. Ia membalas ciuman yang diberikan oleh Kazaya padanya dengan penuh perasaan pula hingga akhirnya keduanya sama-sama tenggelam dalam perasaan mereka satu sama lain dan ketika perasaan itu ingin mendorong mereka melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman, buru-buru Syena dan Kazaya saling menarik diri dengan napas mereka yang memburu.Kazaya mengusap wajahnya yang terasa panas dan ia yakin sekarang ini wajahnya merah begitu juga dengan Syena. "Jadi, apa sekarang kita jadian?" tanya Syena dengan suara perlahan khawatir apa yang dialaminya tadi adalah sebuah mimpi atau hanya sebuah canda Kazaya saja karena pemuda itu biasanya juga sering melakukan sesuatu yang tidak dipikirkan dahulu."Asalkan kamu mau menunggu dulu sebelum akhirnya aku bisa melamar kamu, untuk sekarang aku masih harus menyelesaikan kekacauan yang sedang terjadi."Mendengar Kazaya meru
"Gue suka sama lu, Syena tapi gue tau, itu terlambat, dan-""Kenapa menyukaiku? Dan kenapa kamu baru mengatakan sekarang?" potong Syena hingga membuat Kazaya tidak bisa bicara untuk sejenak karena tidak tahu apa yang akan ia katakan untuk menjawab pertanyaan perempuan tersebut."Gue kagak tau kenapa gue suka sama lu, tapi mungkin karena lu begitu peduli sama keluarga gue, gue jadi merasa lu itu menganggap penting keluarga gue."Akhirnya, Kazaya menjawab pertanyaan Syena tapi Syena tidak puas dengan jawaban itu. Hingga ia melontarkan pertanyaan yang serupa tentang mengapa Kazaya baru mengatakan hal itu sekarang. "Karena gue benci, Kazumi bilang gue pecundang dan gue kagak suka dikatakan seorang pecundang karena ucapan itu membuat gue kagak berguna.""Jadi, Kazumi yang membuat kamu berpikir kayak sekarang?""Si bodoh itu kagak pernah jatuh cinta tapi dia lebih peka dari gue.""Sebenarnya, aku tahu kamu juga suka sama aku waktu kamu mencium aku di hutan itu."Wajah Kazaya berubah ketika
"Zaya. Enggak ada yang salah dengan pikiran kamu itu. Cari uang dengan mengandalkan bakat itu lumrah, yang enggak boleh dilakukan itu adalah, apapun akan dilakukan demi uang, pikiran kamu waktu dulu itu kan, karena kamu sulit mendapatkan uang, yang penting sekarang kamu udah sadar kalau seni itu juga penting."Dengan bijak, Syena menanggapi apa yang diucapkan oleh Kazaya agar pria itu tidak berlarut-larut dalam keterpurukannya.Kazaya diam tidak menanggapi apa yang diucapkan oleh Syena, hingga situasi di antara mereka senyap untuk beberapa saat.Dan kemudian...."Sampai sekarang, Alex aja kagak bisa melacak keberadaan Kazumi, padahal dia sangat andal melakukan pelacakan, semua sistem informasi yang diberikan oleh Alex pada Kazumi kayaknya kedeteksi, jadi keberadaan Kazumi kagak bisa diketahui di mana, yang jadi masalah, kalo bokap gue nanya dia di mana gue harus bilang apa? Gue benar-benar pusing sekarang.""Jujur aja.""Apa?"Kazaya seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh
"Ah, enggak! Aku enggak mikir kayak gitu! Aku cuma ingin kamu lebih melakukan persiapan aja kalau ternyata kamu benar-benar hamil, kan?" kata Moa buru-buru menjelaskan.Wajah Rachel seketika suram mendengar apa yang diucapkan oleh Moa, hingga Moa mengira Rachel jadi seperti itu karena dirinya."Rachel, apa aku salah bicara?" tanya Moa dengan nada suara yang terdengar sangat hati-hati."Enggak. Enggak ada yang salah. Aku hanya berpikir bagaimana bisa aku mengatakan pada Kazumi bahwa dia ternyata tetap sehat meskipun pernah meminum obat anti kesuburan itu di masalalu? Dia aja enggak bisa dihubungi, rasanya menyedihkan."Mendengar apa yang diucapkan oleh Rachel, Syena mengusap punggung perempuan itu untuk sekedar menenangkan perasaan Rachel yang pasti terguncang karena kabar Kazumi yang bergabung dengan organisasi mafia tersebut."Yang penting itu kesehatan kamu dan bayimu dulu, kalau kamu sudah yakin kamu itu hamil, kamu bisa menjaga bayi ini dengan baik, masalah Kazumi, Kazaya pasti ak
Rachel terlihat salah tingkah mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh Moa, hingga Moa tertawa kecil melihat ekspresi mantan istri pertama Kazumi tersebut. "Aku bercanda. Kau tidak perlu ambil hati, sejujurnya aku memang masih merasa cinta sama Kazumi, tapi aku tahu diri, Kazumi tidak pernah suka padaku, jadi aku tidak akan memikirkannya lagi, hanya saja kurasa itu perlu proses, jadi untuk sekarang aku ya masih memikirkan dia, maaf."Moa bicara dengan wajah yang terlihat sangat serius."Kazumi bukan milik siapapun lagi, jadi enggak ada yang bisa melarang siapapun untuk memikirkannya."Rachel menanggapi perkataan Moa, tapi Moa bisa melihat, itu hanya sesuatu yang sekedar diucapkan oleh Rachel saja. Ia bisa melihat, Rachel terlihat cemburu mendengar apa yang diucapkannya tadi hingga Moa sangat yakin, perempuan itu pasti masih sangat mencintai Kazumi."Rachel. Kazumi itu mencintai kamu, jadi kurasa kamu harus memperjuangkan perasaan kamu itu kalau memang kamu masih mencintai dia."Moa b
Jemari tangan Rachel yang sedang merangkai bunga terhenti seketika mendengar apa yang diucapkan oleh Radit. Radit merasa puas melihat perubahan yang terjadi pada wajah Rachel hingga laki-laki itu melangkah semakin mendekati posisi Rachel berada. "Kamu tidak tahu?" tanyanya setelah ia berada tepat di hadapan Rachel."Kamu ke sini hanya ingin membahas itu? Masih enggak suka juga kamu sama dia?" tanya Rachel beruntun."Rachel, aku peduli sama kamu, aku cuma enggak mau kamu kenapa-kenapa," kata Radit penuh dengan perasaan khawatir yang ia perlihatkan lewat sorot matanya."Aku dan Kazumi sudah bercerai, Radit. Urusan dia bukan urusanku lagi, jadi tolong pergi saja, jangan ganggu aku lagi!" pinta Rachel tanpa memberikan kesempatan pada pria itu untuk lebih banyak bicara lantaran ia sejak dulu memang sudah muak dengan pria tersebut.Namun, tidak bisa dipungkiri, apa yang dikatakan oleh Radit cukup membuat ia jadi kepikiran juga. Kazumi bergabung dengan organisasi mafia? Sepertinya tidak
Andreas menghela napas panjang mendengar apa yang diucapkan oleh Kazaya.Sebenarnya ia sekarang terpancing emosi, akan tetapi, ia tidak mau bertindak gegabah, meladeni kemarahan Kazaya hingga akhirnya pemuda itu bisa saja membuat galerinya hancur."Sebenarnya ada apa? Kamu marah marah seperti ini padaku? Apakah ada yang terjadi pada Kazumi?"Andreas tidak menanggapi ucapan mengandung emosi yang dikatakan oleh Kazaya tadi karena sebenarnya ia yakin bukan itu yang sedang bergolak di otak Kazaya.Kazaya bungkam mendengar pertanyaan Andreas. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan untuk sesaat ia tidak tahu harus bicara darimana untuk membeberkan segalanya."Asal kau tahu saja, Zaya. Aku memang dahulu pernah mendapatkan tawaran yang cukup menggiurkan dari Ernesto, bisa membuat lukisanku lebih meluas lagi ke seluruh dunia, namun, aku tidak menerima tawaran itu karena kupikir, aku tidak tega menodai sebuah karya seni."Karena Kazaya tidak kunjung bicara meskipun ia sudah melontarkan pertanyaa
Alex tidak langsung menjawab apa yang diucapkan oleh Kazaya dan berujung pertanyaan tersebut, karena ia memang sesuai yang diucapkan oleh Kazaya, merasa khawatir dengan apa yang sudah diputuskan oleh Kazumi tadi secara tiba-tiba.Hanya saja, karena ia tahu Kazumi tidak akan berbuat sembarangan tanpa berpikir dahulu resikonya, ia percaya apa yang dilakukan oleh Kazumi adalah hal yang memang harus dilakukan oleh majikannya tersebut."Ternyata, lu juga sama aja dengan gue, panik dengan apa yang dilakukan oleh Kazumi," sinis Kazaya yang membuat Alex menghela napas panjang mendengarnya."Iya. Aku akui aku juga sama khawatirnya dengan Tuan, tapi aku yakin, Tuan Kazumi tidak akan sembarangan bertindak, Tuan. Dia pasti sudah merencanakan hal itu dengan baik dan tahu resikonya."Alex akhirnya menanggapi apa yang dikatakan oleh Kazaya, dan itu membuat Kazaya memajukan bibirnya."Meskipun resikonya dipenggal?""Semoga Tuan Kazumi baik-baik saja."Alex tidak berani berpikir bahwa Kazumi akan dipe
"Gue cuma kagak mau ada orang lain yang terkena masalah karena keluarga kita!" jelas Kazaya dan itu membuat Kazumi tersenyum kecut meskipun ia sesekali mengerenyit menahan sakit karena luka yang dideritanya membuat punggungnya terasa perih."Peduli juga tidak apa-apa, kau memang harus melakukan hal itu padanya, sebelum terlambat.""Berisik!""Tuan. Ada laporan dari rekanku, katanya mereka sedang bentrok dengan anak buah Yurata."Saat Kazumi dan Kazaya bertengkar, Alex bicara seperti itu hingga pertengkaran yang terjadi pada saudara kembar itu terhenti seketika."Di mana mereka sekarang?"Baru saja Kazumi melontarkan pertanyaan itu pada Alex, tiba-tiba saja dari arah atas mereka terdengar suara seseorang memanggil, hingga mereka mendongakkan kepala mereka untuk mencari tahu siapa yang sedang memanggil mereka."Itu mereka!" kata Alex sambil mengarahkan telunjuknya ke atas. Sebuah tali terjulur dari atas dan tali itu bukan tali biasa tapi tali yang biasa digunakan oleh seseorang yang se