Share

Bab 571

Penulis: Aku Suka Uang
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-29 19:42:56
Yvonne melihat lembaran foto yang terjatuh ke lantai. Ketika menundukkan kepala, Yvonne terkejut melihat sosok yang berada di dalam foto tersebut.

Yvonne tercengang selama beberapa saat. Kenapa Shawn menyelipkan foto ini di dalam buku catatannya?

Kemudian Yvonne memungut foto tersebut, dia mengamati sosok yang berada di dalam foto. Benar, Yvonne tidak salah lihat! Yvonne tidak mungkin salah mengenali sosok tersebut.

Yvonne bergegas menyelipkan kembali foto tersebut dan meletakkan bukunya ke tempat semula, lalu buru-buru meninggalkan ruang kerja.

Yvonne berjalan tergesa-gesa, dia tidak menyadari keberadaan Samantha yang berdiri di depan pintu.

"Yvonne, kamu kenapa?" tanya Samantha dengan khawatir. "Kok kamu kelihatan panik?"

"Ng-nggak, nggak ada apa-apa." Yvonne bergegas mengatur kembali suasana hatinya saat melihat Samantha.

"Ada yang mencarimu," kata Samantha.

Ketika hendak menanyakan siapa yang mencarinya, Yvonne telah melihat Neil yang berdiri di ruang tamu.

"Aku pulang kerja lebih
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 572

    Niko merasa seperti disambar petir saat mendengar kata-kata Neil. Niko sangat marah, matanya yang seakan mengeluarkan semburan api tampak memelototi Neil.Niko berlari ke arah Neil, lalu menarik kerah kemejanya dan melayangkan sebuah tinjuan. "Bugh!"Sudut bibir Neil terluka dan berdarah. Niko belum puas, dia menindih tubuh Neil yang tersungkur di lantai dan lanjut memukulinya.Yvonne buru-buru melerai mereka. "Niko, tenangkan dirimu!""Bagaimana aku bisa tenang?" Niko membentak Yvonne. "Semua ini gara-gara dia! Sudah menikah, tapi masih mengganggu kehidupan Anas. Dia yang mencelakai Anas, semua ulahnya."Niko telah kehilangan akal sehat. Saat ini, dia hanya ingin menghabisi Neil."Minggir!" Niko menepis tangan Yvonne.Yvonne yang kehilangan kestabilan pun terjatuh ke atas sofa. Luka perutnya terasa seperti ditarik, Yvonne kesakitan sampai mengerutkan alis. Akan tetapi, Niko tidak menyadari Yvonne yang tengah kesakitan, dia tetap menghajar Neil sampai babak belur.Neil tidak memberikan

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 573

    Walaupun Yvonne berusaha menyembunyikan kesedihannya, Shawn langsung menyadari suara Yvonne yang agak terisak."Kamu nangis?" tanya Shawn.Yvonne tidak ingin mengakuinya, dia berusaha menutupi kesedihannya. "Nggak, aku baik-baik saja."Shawn terdiam sejenak, lalu menjawab, "Baiklah, kamu tidak menangis."Yvonne menunduk sambil menatap kakinya. "Aku ... kangen kamu."Yvonne merasa sangat terpukul setelah mengetahui masalah Anas. Yvonne berusaha tegar, tetapi saat berhadapan dengan Shawn, Yvonne jadi lemah dan membutuhkan sandaran.Shawn terdiam cukup lama, lalu baru menjawab, "Istirahatlah.""Kapan kamu pulang?" tanya Yvonne."Ada sedikit masalah ...."Yvonne agak kecewa mendengar jawaban Shawn. "Baiklah, aku mengerti."Genangan air mata tampak membasahi bulu matanya. "Kamu meneleponku untuk memberi tahu nggak jadi pulang?""Em."Yvonne menarik napas panjang, dia berusaha mengontrol emosinya. "Aku baik-baik saja. Kalau ada informasi, segera kabari aku.""Em."Yvonne menggenggam erat pon

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 574

    Yvonne bangun dan ke kamar mandi, sementara Shawn pergi menemui Dio.Semua orang di rumah sudah sarapan, kecuali Shawn dan Yvonne. Saat ini, hanya mereka berdua yang berada di ruang makan."Nanti aku harus pergi ke kantor sebentar," kata Shawn.Yvonne mengangguk. Shawn baru pulang, pasti ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."Hmm ...." Sebenarnya Yvonne ingin menanyakan perihal foto kepada Shawn."Ada apa?" Shawn memandang Yvonne.Yvonne malah menggelengkan kepala. "Nggak ada apa-apa."Yvonne memercayai Shawn. Cepat atau lambat, Shawn pasti akan memberikannya penjelasan.Sebelum pergi, Shawn berpesan kepada Yvonne untuk beristirahat.Hari ini Yvonne terlihat lebih segar.Dio duduk di ruang tamu sambil bermain dengan anjing peliharaannya. Yvonne menghampiri Dio dan mengusap kepalanya sambil bertanya, "Seru?"Dio mengangkat kepalanya dan tersenyum sambil menatap Yvonne.Yvonne menggendong Dio, lalu mengecup pipinya.Samantha merebut Dio dari pelukan Yvonne. "Kembali ke kamarmu, i

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 575

    “Yura yang membelinya? Kok Yura yang membelinya?" Yvonne sulit memercayai apa yang didengarnya.Jika Yura yang membeli anjing tersebut, semua yang terjadi langsung terasa masuk akal. Yura bukanlah orang yang baik hati.Leah segera menceritakan semuanya, "Yura mendengar pembicaraanku dengan sopir. Dia memaksa ingin membelinya sendiri, katanya dia lebih memahami jenis hewan peliharaan. Aku merasa Bu Yura adalah salah satu orang kepercayaan Tuan, jadi aku membiarkan dia membelinya."Yvonne sangat marah, tetapi dia tahu Leah tidak sengaja. Buktinya, selama ini Leah menjaga Yvonne dengan setulus hati.Yvonne berusaha mengontrol emosinya. "Bawa anjingnya ke dokter hewan, lakukan pemeriksaan menyeluruh."Melihat reaksi Yvonne, Leah pun bertanya, "Apakah bintik merah di tubuh Dio ada hubungannya dengan anjing yang dibeli?"Yvonne mengangguk. "Sudahlah, biar aku dan sopir yang membawanya ke dokter."Yvonne tidak tenang menyerahkan masalah ini kepada orang lain.Sebelum Yvonne pergi, dia berpesa

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 576

    "Kenapa mencelakai Dylan? Dylan yang merekomendasikanmu untuk menjadi sekretarisku. Bukankah seharusnya kamu berterima kasih kepada Dylan?" Shawn sengaja menanyakan masalah Dylan meski telah mengetahui kebusukan Yura.Shawn ingin tahu apakah Dylan mengetahui rahasia Yura sampai Yura tega ingin menghabisinya."Aku menyukai perhiasan yang kamu belikan untuk Yvonne. Aku membayangkan kamu memberikan perhiasan itu untukku. Dylan memergokiku saat mencoba perhiasannya. Dylan mulai mencurigaiku, aku takut ketahuan, makanya aku menyingkirkannya."Yura terdiam selama beberapa saat, lalu lanjut berkata, "Benar, Dylan sudah membantuku, aku sangat bersyukur. Tapi sekarang dia menjadi batu sandunganku, aku harus menutup mulutnya. Daripada membawa masalah, aku terpaksa menyingkirkannya. Siapa sangka umurnya panjang, dia malah selamat dari kecelakaan.""Kalau kamu tidak ingin Dylan membocorkan rahasiamu, kenapa sekarang kamu malah menceritakan semuanya padaku? Apa yang membuatmu yakin kalau aku akan m

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 577

    Walaupun Yvonne tidak marah, Shawn sama sekali tidak merasa lega.Yvonne tidak salah paham, dia justru memercayai Shawn. Shawn semakin bertekad untuk menghabisi Yura.Meskipun kejam, Shawn tidak pernah tega menghabisi nyawa seseorang. Ini adalah pertama kalinya Shawn ingin membunuh seseorang tanpa memedulikan akibatnya."Aku akan berusaha mencari cara untuk menyelamatkan anak kita," bisik Yvonne di ujung telepon."Em," jawab Shawn. Mereka memahami pikiran satu sama lain meski tidak banyak bicara....Yvonne menatap ke luar jendela, dia perlahan-lahan meletakkan tangannya ke atas paha.Mobil melaju dengan stabil di tengah jalan, tetapi hati Yvonne terasa gelisah.Yvonne merasakan sekumpulan ombak yang bergejolak di dalam hatinya.Sesampainya di lokasi, Yvonne berusaha tegas dan menenangkan diri untuk menghadapi masalah yang ada di depan mata.Sekarang Yvonne dan Shawn harus bekerja sama untuk menuntaskan semua masalah ini. Shawn mengurus Yura, sedangkan Yvonne menyelidiki virus yang dit

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 578

    Pak Tera selaku wakil direktur telah dihukum atas perbuatannya tempo hari. Data yang dipublikasikan Pak Tera telah menyeret Yvonne ke dalam masalah besar.Simon datang menemui Direktur Pusat Penelitian Prato untuk membahas data yang telah didapatkan Yvonne dengan susah payah. Simon berharap Pusat Penelitian Prato dapat memanfaatkan data-data tersebut untuk mengembangkan penelitian jantung demi kepentingan masyarakat dalam negeri.Direktur Pusat Penelitian Prato menyetujui pendapat Simon. Di saat bersamaan, Direktur juga merasa bersalah karena terlalu memercayai Pak Tera. Kecerobohannya memberikan dampak yang cukup buruk.Setelah berdiskusi, Pak Tio selaku direktur Pusat Penelitian Prato mengantar Simon ke lobi. Tidak disangka, Yvonne yang beruntung pun berpapasan dengan Simon.Simon mengetahui kondisi kesehatan Yvonne, dia buru-buru menghampirinya dan bertanya, "Kenapa kamu ada di sini? Harusnya kamu beristirahat di rumah."Yvonne menghela napas tak berdaya. "Aku ada urusan mendesak."

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 579

    "Tentu saja aku punya hak, kamu yang nggak punya hak!" Yura menatap Samantha dengan tatapan merendahkan. "Kamu pikir aku sengaja datang untuk mempermalukan diri sendiri? Shawn yang menyuruhku datang untuk mengusir kalian!""Jangan omong kosong!" Samantha tidak memercayai ucapan Yura."Sekarang Dio sedang sakit, aku tidak percaya Shawn tega menelantarkan darah dagingnya sendiri ....""Sebentar lagi Shawn akan menikahiku, jadi kalian harus meninggalkan rumah ini. Mengerti?" Yura bersikap seperti nyonya besar, dia duduk sambil menyilang kaki. "Aku kasih 1 jam. Kalau kalian masih nggak pergi, aku bakal membuang semua barang-barang kalian."Saking marahnya, kaki Samantha sontak terasa lemas. Samantha mundur beberapa langkah, dia hampir pingsan. Untungnya Leah cekatan, dia bergegas menahan tubuh Samantha.Leah memelototi Yura. Lonjakan emosi membuat Leah tak dapat menahan emosinya, dia berlari ke hadapan Yura dan mencakar wajahnya. "Wanita jahat! Kamu membelikan anjing yang sakit untuk mence

Bab terbaru

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 674

    Shawn menunduk dan menatap Yvonne lekat-lekat.“Kenapa? Kok pandangin aku kayak begitu?” tanya Yvonne sambil tersenyum. Kemudian, dia berjinjit dan merangkul leher Shawn sebelum menciumnya.Begitu bibir mereka bersentuhan, tubuh Shawn langsung menjadi tegang. Yvonne pun melepaskannya, lalu bertanya, “Kamu masih marah?”Sebelum Shawn sempat menjawab, Yvonne berkata lagi, “Mengenai diari yang kutulis ....”Shawn mengerutkan keningnya dengan terkejut. Dia tidak menyangka Yvonne akan mengungkit hal ini terlebih dahulu.Yvonne berjinjit, lalu membenamkan kepalanya di pundak Shawn. Dia mengelus leher seksi Shawn sambil berkata, “Waktu menulis diari itu, aku baru berumur sekitar 14-15 tahun dan nggak mengerti apa itu rasa suka maupun cinta. Biarpun pernah tertarik pada lawan jenis, aku langsung melupakannya setelah melewati masa-masa itu.”“Benarkah?” tanya Shawn dengan kurang percaya.“Tentu saja! Berhubung sikapmu tiba-tiba jadi aneh, aku menebak kamu seharusnya marah karena sudah membaca d

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 673

    Selesai menangani masalahnya, Shawn pun kembali dengan buru-buru. Tak disangka, dia malah menyaksikan kejadian ini dalam perjalanan pulang. Setelah itu, dia menutup kembali jendela mobil dan berkata sambil menahan amarahnya, “Jalan.”Sopirnya Shawn pun segera mengendarai mobilnya meninggalkan tempat ini. Begitu Shawn tiba di rumah, Dio langsung melemparkan diri ke dalam pelukannya sambil berseru, “Papa!”Shawn menggendong Dio, lalu bertanya, “Apa kamu merindukan aku?”“Rindu!” jawab Dio sambil mengangguk.“Rindu di mana?” tanya Shawn.“Di sini,” jawab Dio sambil menepuk-nepuk dadanya. Kemudian, dia juga mengecup pipi Shawn.Pipi Shawn pun berlumuran air liur yang memiliki aroma unik. Dia mengerutkan keningnya dan bertanya, “Apa yang kamu makan malam ini?”Dio memiringkan kepalanya untuk berpikir, lalu menjawab, “Makan nasi dan sup.”Jawaban Dio pun membuat Shawn tertawa. Siapa yang tidak tahu Dio makan nasi? Dia pun bertanya lagi, “Selain itu?”Setelah berpikir sejenak, Dio menjawab, “

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 672

    Saat melihat kemunculan Anas, Nico segera menghampirinya dan langsung memeluknya. Dia bertanya, “Kamu ingat padaku, ‘kan? Kalau nggak, kamu nggak mungkin menatapku seperti itu hari ini. Aku kira itu hanya bayanganku, tapi ternyata bukan! Untung kamu keluar!”“Aku nggak ingat kamu!” jawab Anas.Jawaban Anas itu membuat Niko bagaikan disiram air dingin. Dia tidak percaya dan berkata, “Kamu boleh melupakan orang lain, tapi nggak boleh melupakanku!”Niko menahan bahu Anas dan menatapnya lekat-lekat. Sementara itu, Anas tidak menghindar. Dia menatap mata Niko dan menjawab, “Biarpun nggak mengingatmu, aku tahu kamu memikirkan kebaikanku dan berkata jujur padaku. Aku menyadari kegembiraanmu saat melihatku dan juga bisa merasakan amarahmu terhadap Neil. Jadi, aku tahu kamu itu orang baik.”“Aku bukan hanya adalah orang yang baik, tapi juga orang yang sangat mencintaimu dan ingin melindungimu. Ikutlah aku pergi,” ujar Niko dengan gembira. Kemudian, dia segera menarik tangan Anas.Anas menggelen

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 671

    Anas menggigit bibirnya dan berkata, “Jangan begitu ....”Namun, sebelum Anas menyelesaikan kata-katanya, Neil langsung mencium bibirnya dan mencengkeramnya dengan sangat kuat. Meskipun merasa jijik, Anas juga tidak bisa menolak secara terang-terangan. Dia pun bersikap pura-pura malu dan berkata, “Jangan ....”Neil mengusap wajah Anas, lalu menjawab, “Aku ini kekasihmu dan cuma mau menciummu kok.”“Aku sudah nggak ingat kamu itu kekasihku,” jawab Anas.“Kamu akan segera mengingatnya begitu sering dicium sama aku,” kata Neil.“Dasar mesum!” seru Anas sambil berpura-pura marah. Kemudian, dia pun melepaskan diri dari pelukan Neil.Neil tidak bisa terlalu mendesak Anas. Jadi, dia pun berkata dengan sabar, “Ini adalah tindakan yang  wajar dilakukan pasangan kekasih kok! Lagian, aku pasti akan bertanggung jawab. Aku bahkan bisa langsung menikahimu kalau kamu mau!”Anas tidak ingin membicarakan tentang hal ini lagi. Jadi, dia sengaja mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, “Kapan kerjaanmu

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 670

    Neil sangat waspada terhadap Niko. Terlebih lagi, sebelum kehilangan ingatannya, Anas memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Niko. Meskipun dia tidak yakin apakah Anas memiliki perasaan terhadap Niko, perasaan pria itu terhadap Anas telah diketahui oleh semua orang.Neil pun menarik Anas, lalu menatap Niko dengan penuh waspada. Dia bertanya dengan tidak ramah, "Kenapa kamu datang ke sini?"Niko langsung mengabaikannya dengan berkata, "Aku bukan datang untuk mencarimu."Neil tampak memicingkan mata dengan pandangan yang sangat tidak ramah. Dia menegaskan, "Biar kuperingatkan, jangan ganggu Anas."Namun, Niko malah tertawa dingin sebelum berkata, "Selagi dia kehilangan ingatan, kamu mau menipunya lagi? Biar kuberi tahu, aku bakal kasih tahu dia tentang segala sesuatu yang kamu lakukan padanya dulu ....""Dasar orang gila!" Usai berkata demikian, Neil langsung membawa Anas ke mobilnya sambil berkata, "Jangan percaya dengan omong kosongnya."Namun, Anas tidak berkata apa-apa, melainkan

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 669

    Nyonya Sanchez masih belum menyelesaikan perkataannya, tetapi Neil telah menyela, "Ibu, apa yang kamu katakan?"Neil yang agak kesal menambahkan, "Dulunya, gimana Ibu mencelakai Anas? Aku bahkan nggak perhitungan dengan Ibu. Kalau bukan Anas yang kehilangan ingatan, mungkin kami nggak akan punya kesempatan bersama lagi. Dia sudah seperti ini, kenapa Ibu masih curiga padanya?" Nyonya Sanchez menatap putranya sambil berkata, "Ibu nggak bermaksud untuk curiga padanya, hanya saja kejadian ini terlalu kebetulan ....""Penyebab kebakarannya sudah jelas, itu masalah korsleting. Kebakaran itu hanya sebuah kecelakaan. Mana boleh Ibu curiga padanya dalam hal ini?" ucap Neil yang tidak menerima hal tersebut.Berhubung Neil merasa bersalah kepada Anas, dia selalu ingin menebus kesalahannya. Apabila mencurigai Anas pada momen seperti ini, apakah Neil masih dapat dianggap mempunyai hati nurani?Di luar pintu kamar, Anas segera pergi setelah mendengar kata-kata itu. Wajahnya tetap berekspresi datar.

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 668

    Samantha menjawab sambil tersenyum, "Bukalah semuanya, kamu akan tahu nanti."Yvonne sepertinya sudah memahami maksud ibunya. "Ibu suruh aku pulang, hanya untuk ini?" tanya Yvonne sambil menunjuk berbagai kotak hadiah mewah yang memenuhi seluruh ruang tamu.Samantha tampak mengangguk. Yvonne berjalan masuk dengan mengenakan sandal, lalu membuka kotak-kotak tersebut. Sementara itu, Samantha yang berdiri di samping terlihat sangat gembira. Dia berkata, "Pagi ini, banyak orang yang datang secara bergiliran untuk mengantarkan semua ini. Ibu mau memanggilmu, tapi kamu ternyata nggak ada di rumah.""Kamu sudah mau nikah, harus berpikir dua kali dulu sebelum bertindak. Lihatlah dirimu, baru selesai dioperasi berapa hari? Mukamu bahkan masih terbungkus perban, tapi malah keluar tengah malam begini, apa itu tindakan yang benar?" tanya Samantha.Yvonne mengakui kesalahannya sambil tersenyum. Dia juga berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Ketika membuka kotak yang dipegangnya, ternyata itu adal

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 667

    Mungkinkah itu telepon dari Shawn? Yvonne sontak bersemangat. Dia mengangkat telepon dan segera berkata, "Halo?"Namun, orang yang berbicara di ujung telepon adalah Samantha. "Yvonne, kamu pergi malam-malam begini?"Yvonne hanya mengiakan dengan suara rendah. Dia berusaha menutupi kekecewaannya. Sementara itu, Samantha menegur, "Kamu ada keperluan apa sampai keluar malam-malam? Kenapa kamu begitu bandel? Apa kamu nggak tahu gimana keadaanmu sekarang?"Yvonne berkata sambil tersenyum, "Baiklah, nggak akan kuulangi lagi.""Kamu selalu bilang seperti itu, tapi Ibu nggak pernah melihatmu menepati janjimu," ucap Samantha. Dia bukannya ingin memarahi Yvonne, melainkan karena terlalu khawatir. Yvonne sengaja mengalihkan pembicaraan dengan berkata, "Ibu, kamu meneleponku, pasti ada sesuatu, 'kan?""Iya, kamu sudah mau pulang, 'kan?" tanya Samantha.Yvonne menjawab, "Iya.""Kamu akan tahu begitu pulang," ucap Samantha.Yvonne berkata, "Aku sudah mau sampai rumah." Usai itu, dia langsung mengak

  • Cinta yang Candu: Gairah Panas sang Presiden   Bab 666

    Ketika Yvonne melihat Anas, ekspresinya memang terlihat sangat ketakutan dan wajahnya pucat. Melihat Anas yang seperti itu, Yvonne sontak merasa bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia mencurigai Anas, bahkan merasa dia seharusnya tidak mungkin akan pingsan karena situasi ini?Yvonne pun bertanya dengan nada lembut, "Apa kamu sudah merasa baikan? Nyaman nggak di rumah sakit? Gimana kalau pulang bersamaku dan tinggal beberapa hari di rumahku? Neil mungkin perlu dirawat inap selama beberapa hari ...."Namun, Anas malah menyela, "Nggak usah, aku baik-baik saja."Yvonne jelas merasakan sikap Anas yang menjauhinya. Dia memegang tangan Anas sambil berkata, "Anas, kita teman yang sangat akrab. Jangan sungkan denganku, ya. Dulu, kita bahkan tidur di satu ranjang."Anas bertanya, "Benarkah? Aku sudah lupa."Yvonne tidak kehilangan semangat. Dia tidak mempermasalahkan sikap dingin Anas, sebaliknya malah berkata sambil tersenyum, "Iya, benar!""Pulanglah, aku mau mencari Neil,"

DMCA.com Protection Status