Hingga hari ini, setelah terakhir aku melihat Pak Bagas tempo hari, Lelaki tampan itu belum lagi mengajar di sekolah. Memang Pak Bagas hanya guru sementara, hanya menggantikan Pak Arif. Hari-hari ku galau, konsentrasiku buyar, aku merindukan Pak Bagas. Mungkin inilah sebabnya, Emak wanti-wanti dari dulu, anak-anaknya di larang pacaran sebelum memiliki pekerjaan mapan dan siap menuju pelaminan. Kata Emak kalo udah siap langsung nikah, gak usah pacar-pacaran, udah 'mah dosa, bisa bikin pikiran ga karuan, buang buang waktu. Nggak bosen Emak ngingetin anak-anaknya jangan pada pacaran. Maksud Emak, bikin pikiran nggak karuan, ini kali ya? yang aku rasakan sekarang. Dan ternyata perkataan emak bayak benernya. Sekarang di pikiranku cuma ada si Arjuna Bagaskara. Aku mengacak rambut frustasi. Mak, Emak kok top banget sih kalo nasehatin anak, gimana ini Mak, hati Laras kepincut guru ganteng, Laras kangen berat sama Pak Bagas, Mak. Hatiku mereog nggak karuan. "Ma, gue main ke rumah elo y
Bab 8“Gimana Laraass ... Sudah berhasil menaklukan Pak Bagas? “ tanya Alya di dekat telingaku saat aku sedang melamunkan pak Bagas di pembatas pagar.“Hhmmm ...." Aku bergumam, menatap bola mata Alya yang berbinar. "Dan elo, gimana? Sudah bisa menaklukan-nya?" tanyaku menaik turunkan alis.“Mungkin selangkah lagi,” ucapnya percaya diri.“Dan gue gak percaya,” jawabku. “Karna Pak Bagas sudah punya pacar.” Alyaa sedikit terperanjat mendengar ucapanku “Masa, gak tau?” ujarku lagi, dengan percaya diri, kini aku memasang wajah kemenangan."Apa sih yang Alya nggak tau tentang Pak Bagas??" Gadis di depanku melipat tangan di dada, senyumnya mencibir. Berusaha menetralkan keterkejutannya."Oh, ya?" "Hm ... Jadi kamu sudah siap kalah??" Alya berbicara pelan. Dari senyumnya terpancar aura kemenang. Bibirnya tersungnging sepertinya dia benar-benar akan mendapatkan Pak Bagas. Setelah mengatakan hal itu Alya berlalu dari hadapanku melenggang dengan angkuh, meninggalkan aku yang kini semakin g
Bab 9 “Ikutin yu Ma,” ku tarik tangan Irma, dia masih asik makan ayam krispi kesukaannya. “Aduh ... ini belum abis, mubazir Laras!” Dia tak bergeming dari kursi. Netraku masih awas melihat ke arah mana Pak Bagas berjalan. “Nanti balik lagi,” ucapku, tapi Irma tak juga mengangkat bokong. Aku langsung beranjak dari duduk, mengikuti arah pergi Pak bagas, sedikit berlari karna lelaki pujaanku sudah tak terjangkau pandangan mata. Ku cari-cari keberadaannya tapi tak ku temukan. Aku berjalan lunglai ke arah Irma yang sudah mencuci tangan. “Siapa tadi ya, Ma? Anggun. Kayanya cantik deh mukanya. Maksud gue, gue pengen berpenampilan kaya gitu. Biasanya cowok-cowok modelan kaya abang elo itu sukanya cewe kaya gitu, “ ucapku antusias. “Tapi kita kan masih SMA, ntar elo dipanggil ukhti,” ucapnya sotoy. “Ya ga ada salahnya juga, ukhti-ukhti kan cantik-cantik dan anggun. Demi dapetin arjuna apa sih yang nggak,” ucap ku bersemangat. “Niat awal udah ga bagus.” Irma mencibir. “Biarin,
Bab 10 “Ras bangun,” Emak menggoyang-goyang kakiku yang terlelap di kasur king size dengan buku berserakan. Ada pepatah mengatakan rumahku istanaku. Kalo pepatahku mengatakan, kamarku istanaku. “Uuuhhh,” ku renggangkan tangan ke atas dan menatap orang yang membangunkanku. “Kenapa Mak?” tanyaku, parau. “Itu ada Excel datang, ganteng pisan, bawa martabak kesukaan emak lagi, buruan keluar tapi solat isya dulu tadi kamu belom solat,” ucap emak sumringah, bibirnya klimis bekas menggigit martabak sepertinya. Excel yang ngapelin gue, kenapa emak yang girang banget ya, pikirku. “Iya Mak,” aku bangkit langsung menuju kamar mandi berwudhu dan melakukan ibadah kepada sang pencipta. “Niihh, Nak exel liat nih, ini laras waktu masih bayi, lucu yaa,” terdengar suara Emak menemani Exel di teras, entah sedang mengobrol apa. Aku dekati bangku Emak duduk, netraku membeliak melihat benda yang sedang ditunjukkan ke arah lawan bicaranya. “Ya ampun Mak,” aku langsung merebut foto memori ket
“Exeeelll !” teriakku, saat melihat lelaki bertubuh jangkung itu melintas di depan kelasku.Seketika dia menoleh ke arahku.“Eehhhh ... Yayang Laras yang manggil.” Dia tersenyum sumringah.“Mau kemana? “ tanyaku.“Mau ke kantor dulu, nanti pulang sekolah tunggu gue dulu,” ucapnya terlihat terburu-buru menuju kantor entah ingin melakukan apa. Aku hanya mengangguk tak enak mengajaknya berbicara lebih lama.“Ma nanti pulang sekolah main duu yuk. Refresing sebelum ujian dimulai, “ ajakku pada Irma.“Hayo aja gue mah kalo diajakin,” ucapnya slowww.“Iyaaa ngerti gue, ntar kita ajak ATM aja, biar bisa seneng-seneng ga modal,” ucapku menaik turunkan alis.“Halahhh gue jadi obat nyamuk,” ucapnya. “Sebenernya loe itu mau ama abang gue apa sama Exel? tanya Irma, lagi.“Laahh Exel kan temenan doang,” ucapku.“Tapi dia suka sama elo Laraass, elo bego apa pura-pura bego,” tanya Irma sambil menoyor
Bab 12“Oohhh itu kaka gue, tar kapan-kapan gue kenalin ya,” jawab Exel sambil menghidupkan mobil dan melajukannya. “cantik,” gumamku. "Oohhh jadi itu kakanya Excel, mungkinkah dia ada hubungan special dengan pak Bagas? atau Pak Bagas ngajar di sini karna kakaknya Exel?" Aku terus bermain dengan pikiranku.Selama perjalanan pikiranku makin runyam. Mau mengorek keterangan dari Excel tapi harus menunggu waktu yang tepat, biar ngga disebut ‘kepo’. Duh Laras emang harus kepo biar tau informasi.“Irmaaaa ... Pelor banget loo.” Teriakku, saat ku tengok kebelakang, Irma sudah merebahkan tubuh dan terlihat pulas.“Ishh ... berisik, tar Kalo udah nyampe bangunin,” ujarnya, meraih bantal kecil, lalu menindih dengan kepalanya.“Kakanya Excel itu dokter, wisudanya bareng ama kaka gue, Ras, baru inget gue," ucap Irma yang sambil melanjutkan tidurnya.“Iya Bang?” ku tengok ke arah Exel yang fokus mengemudi.“Iya, dia
Bab 13"Perlu saya cium?" Aku menganga, menatap manik mata Pak Bagas, terpancar keseriusan di sana, dan aku tak menyangka guru kulkasku mengatakan hal ini.Teman-temanku bersorak mendengar penuturan Pak Bagas. Lelaki ini mendekatkan wajah ke arahku.Netraku membulat, semakin tak menyangka dia melakukan aksi ini di depan murid -muridnya. Sorak sorai mengikuti aksi guru kulkasku."Jangan Pak." Tanganku menahan pundak Pak Bagas agar tak semakin mendekat. kepalaku menggeleng pelan. Aku menelan saliva susah payah. Jarak kami sudah sangat dekat bahkan aku bisa merasakan hembusan nafas Pak Bagas. Jantungku bertalu, hatiku mereog, embat Laras biar nggak penasaran. Aku menatap bibir kemerahan milik lelaki yang wajahnya hanya satu centi didepanku. Ya Tuhan malu Laras masa di depan temen-temen, hati baikku berkata."Ayo, ayo, sedikit lagi Laras," Suara-suara teman laknatku menyemangati kegiatan yang tak seharusnya terjadi ini.
Bab 14"Elo kenapa Ras? Kok tangan elo keringetan begini?" tanya Alya, ketika merasakan genggaman tangan Laras berkeringat."Nggak kenapa-kenapa, gue cuma!" Laras mencoba berfikir. "Ayo mikir Laras gimana caranya nggak kedeteksi itu cctv.""Al, elo duduk di sini dulu ya, gue kebelet banget." wajah Laras meringis, tangannya memegangi perut. Dengan sengaja dia kentut di hadapan Alya. "Ihh ... Jorok banget Ras?" Alya menutup hidung karna bau tak sedap yang dia hirup. "Sorry Al, gue nggak tahan, dari tadi gue tahan-tahan, tap --""Udah buruan sana!" Alya mengusir Laras. Laras terbirit menuju kamar mandi, di dalam kamar mandi dia tebahak-bahak, nih pantat mendukung banget lagi, pas kebetulan pengen kentut.Segera Laras mengirim pesan pada Exel, panjang lebar. [Xel tolongin gue ya, plis. Apapun yang elo minta nanti gue kabulin deh. Ini rahasia kita berdua ya] send. Setelah meminta tolong Exel p
Excel berjalan mengikuti langkah lelaki bersetelan jas rapih. Si lelaki membukakan pintu mobil yang sudah menunggu di parkiran. Wajah Excel berubah ketika mengetahui di dalam mobil ada Nata sudah menunggu sejak tadi. Lelaki jangkung ini berniat meninggalkan mobil tapi di hadang seorang lelaki bertubuh besar. Dengan terpaksa Excel masuk ke dalam mobil. Nata menatap Excel tajam. "Papah sudah atur pernikahan kamu, kalau kamu terus-terusan bikin masalah begini kamu hanya akan membuat reputasi Papah hancur. setidaknya dengan menikah kamu akan ada yang mengatur. Ada yang menunggu. Dengar, kali ini kamu tidak boleh menolak. Papah nggak mau ada masalah di luar kendali Papah, apalagi masalah dengan wanita.""Terserah, walau aku menikah tak akan ada perempuan manapun yang bisa buat aku jadi baik kecuali ..." Nata menicingkan mata, menunggu kelanjutan ucapan anaknya. "Kecuali apa?" Excel mengibaskan tangan enggan menjawab, menjawab pun pasti tak akan ada gunanya, mana pernah Nata mengabulka
Laras semakin tak bergairah begitu mendengar nama Excel di sebut. Kresss ... Suara kunyahan di mulut Irma terdengar melambat. "Lo kenapa lagi? Kok di tekuk lagi itu muka. Udah relain aja Mas Bagas, lagian ada Excel yang famous dan tajir melintir, nanti lo punya ipar julid." Irma terbahak, membuat wajah Laras semakin suram. "Tadi gue kesel banget sama Excel, Ma." Suara Laras lesu tak bergairah. "Kenapa?" "Wajar nggak sih, gue nggak percaya sama Excel kalo dia bilang cinta sama gue, secara! dia cewenya banyak, sering ngajakin cewe-cewe pergi, apalagi Niken." Laras kembali mengingat Niken. "Apa Niken yang ngerjain gue," gumam Laras. "Ngerjain apa?" "Gue belum cerita ke elo, ya?? Cerita nggak ya? Malu gue kalo cerita." Suara Laras pelan, khawatir ada yang mendengar. Irma menaruh gelas minuman. "Kayanya serius, masalah apa? Cerita dong." Irma mendekatkan kepala ke wajah Laras, terlihat sangat penasaran. "Ma, ini rahasia kita berdua ya." Laras mencoba memastikan Irma tak meny
Irma mengantarkan Laras pulang, karna khawatir di jalan, keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Entah apa yang sudah terjadi pada Laras siang ini, pikir Irma. “Assalamu’alaikum.“ salam dua gadis ini.“Waalaikumsalam,” jawab Dewi dari dalam.“Eehhh Irma, tumben Irma main? Udah lama ga pada main ke sini? Mamih rindu loohhh,” ucap Dewi, ramah. Memang pembawaan Dewi yang ramah membuat anak-anak betah main di rumah Laras.“Iyaa Mam, kan abis ujian baru beres,” jawab Irma sambil mencium tangan Dewi. “Lohhhh anak Emak kenapa ini sendu banget, pulang sekolah ko kaya lemes begini? “ Dewi menyambut mereka dengan berondongan pertanyaan.“Laras masuk kamar dulu, Mak, nanti Laras cerita ke Emak," ucap Laras langsung menuju kamar.Irma suka tergelitik tak dapat menyembunyikan senyum mendengar panggilan Laras kepada Dewi. ‘Emak', Beneran kalo liat penampilan Laras sama Mamih itu kontras banget kalo panggil 'emak.“Ayu Ma, di kamar aja,” ajak Laras. Di dalam kamar Irma langsung menaruh bobot tub
Hingga beberapa waktu Laras bangkit dari duduk. gadis ini mendongak ke atas, memperhatikan sesuatu di atas pohon. Perlahan dia membuka sepatu, dan mulai menaiki pohon besar ini. Excel yang memperhatikan dari jauh mengernyitkan kedua alis. Gegas lelaki ini menghampiri Laras. "Kamu mau ngapain Ras? Jangan gila, kamu mau bunuh diri?" Excel panik di bawah pohon karna Laras sudah ada di atas dahan lumayan tinggi."Bang, elo ada di sini?" Bang gue nolongin kucing, kakinya kejepit dahan barusan," Laras panik begitu melihat kebawah ternyata dia sudah berada di ketinggian. Kakinya bergetar, tangannya memegangi dahan erat, kucing tadi sudah melompat entah kemana setelah Laras berhasil mengeluarkan kakinya dari jepitan dahan. Kini dia yang terjebak di sini. Tanpa pikir panjang Excel melepas sepatu, dan dengan cepat menaiki pohon meraih tubuh Laras, perlahan mereka turun. "Lagian kamu tuh, ngapain di sini sendirian, untung ada aku," gumam Excel setelah mereka sampa
pucuk dicinta ulam pun tiba. Netra Laras mendapati Bagaskara sedang menikmati segelas kopi dingin di pojokan kantin. “Assalamualaikum, Pak. “ Salam Laras pada sosok tampan di depannya yang sedang fokus pada buku yang dipegang. “Waalaikumsalam,” jawab Bagas menengok ke asal suara. “Eehhh Laras,” ucapnya lagi, menatap Laras yang berdiri di hadapannya. “Ada apa? Kamu nggak ada kelas lagi?” tanyanya. “Eemmm, ada Mas. Emm ... saya mau bicara boleh? “ tanya Laras gerogi, jari-jari tangan saling menaut. Gadis ini tak berani menatap Bagaskara. “Silahkan duduk. Mau tanya apa?” Bagas mempersilahkan Laras duduk di kursi yang berada dihadapannya, menutup buku yang dia pegang lalu menyeruput es kopi yang terlihat begitu segar. Laras melirik pada Bagas, kerongkongannya seketika ikut terasa segar melihat yang segar-segar meminum minuman segar. Ji ahhhh Laras, tau aja sama yang seger-seger. “Maaf Mas, Mas beneran nggak ngajar di kelas saya lagi setelah ini?” "Iya, Pak Arif sudah aktif ngaj
Alya melambaikan tangan pada Laras yang menengok padanya. Laras menghampiri Alya. "Kenapa, Al??" tanya Laras. Alya mengajak Laras sedikit menepi dari keramaian. Ras. Lo udah ada pilihan kampus?" tanya Alya. Laras mengangguk. "Lo pilih di mana?" "Belum pasti juga, gue mau kompromi sama Abang gue dulu." "Iya tapi lo mau pilih di mana kira-kira," tanya Alya penasaran. Pilihannya tiga, palingan gue pilih, yang ini, ini, sama ini." Laras memberikan gambaran pada Alya. "Ya ampun." Alya uring-uringan. "Kenapa lo uring-utingan begitu? Emang kenapa kampus pilihan gue??" "Ras, lo udah lupa taruhan kita? Kita batalin aja, ya." Wajah Alya terlihat memelas. "Oh. No." Laras menyilangkan tangan di depan dada. "Lo bakal kalah makanya minta di batalin, coba gue yang kemungkinan kalah pasti di kepala lo udah bejibun rencana buat ngerjain gue." "Ya udah buruan kita realisasikan, kapan kita nembak Pak Bagas biar pasti. Kita harus segera milih kampus," ujar Alya. Tetapi raut wajahnya begitu ter
Hilir mudik terlihat di area sekolah. Pagi ini terasa berbeda untuk Laras. Dia sangat bersemangat pagi ini, selain dia di beri lagi kebebasannya membawa motor kesayangannya sendiri, hari ini dia ada pelajaran olah raga, "kita ketemu lagi Mas Bagas." Semangat Laras. Walau ada yang mengganjal di hati tapi Laras tak ambil pusing. Menurut rumor yang beredar Bagaskara hari ini terakhir mengajar di kelas Laras. Laras ingin memastikannya bertanya langsung pada Bagaskara nanti. Laras memarkir motor apik. Gadis ini turun dan merapikan penampilan sebelum melenggang menuju kelas. Segerombolan anak-anak sedang mengamati di bawah pohon tanpa Laras sadari. Priwuiiitttt. Laras menengok ke asal siulan panjang. Bibirnya mencebik mendapati Boy menggodanya. Dengan cepat Laras memalingkan wajah kembali melangkahkan kaki. Tak lama kembali suara siulan seperti sengaja menggodanya. Kembali Laras menengok, dan mengepalkan tangan, "Awas, lo." Hanya bibirnya yang bergerak. Kembali dia berjalan menuj
Excel bangun dari dari tubuh Laras karna dengan membabi buta tangan dan kakinya meninju dan menjejek Excel. Hingga dengkul Laras mengenai sesuatu yang sangat di jaga Excel."Aduh ..." Excel meringis memegangi pejantanntangguhnya. Bibir Laras tertarik kebelakang, salah tingkah. "Ya ampun, Bar-bar banget tau begini, tadi gue embat aja kamu, Ras." gerundel Excel. Bangun perlahan duduk di tepi ranjang."Gue pecat jadi temen, kalo lo berani!" Salak Laras. Excel tersenyum miris, kapan statusnya berubah, udah di cium aja statusnya masih temen. Duh cinta susah banget di dapet, monolog Excel,sambil mengelus-elus kejantanannya."Bang, baju gue tadi pada kemana?" tanya Laras setelah rapih menggunakan pakaian lengkap tanpa daleman, dia merasa tak nyaman bergerak, jadi dia hanya duduk sambil merapatkan tangan di dada."Udah biarin nanti gue beresin. Ayo buruan pulang, keburu malam, untung Mamih nggak telpon terus." Mereka meninggalkan Apartemen."Mamih lagi ketemu sodara-sodaranya, lagi asik mak
Beberapa waktu sebelum ini. "Bang, gue kenapa ini?" Laras bertanya, bibirnya bergetar. Excel memberikan sebuah pil. "Ini minum dulu, biar kepala kamu nggak berat." Laras menerima gelas dan obat yang di berikan Excel, lalu meminumnya. Setelah meminum obat masih belum ada reaksi apapun, Laras masih terasa gelisah, jari-jari tangannya memijat pangkal hidung. Lelaki ini mengambil anduk dan bathrobe, lalu memakaikan ke tubuh Laras. "Ayo keringin badannya dulu." Excel mengangkat tubuh Laras, dia berusaha memejamkan mata melihat penampakan Laras, setelah bathrobe di pakai Excel membopong Laras."Bang." Mereka saling pandang. "Tenang, nanti juga nggak apa-apa. Ada aku," ucap Excel membawa Laras ke pembaringan. Excel gesit mengeringkan rambut Laras. Mengambil pakaian Laras yang tergantung di kamar mandi. Lelaki ini malu sendiri menatap pakaian dalam Laras. Tetapi tetap meraih dan membawa untuk di pakaikan ke Laras. Tubuh Laras mengigil. Bibinya bergetar, "Mak." Laras bergumam memangg