Share

Penghasut

last update Huling Na-update: 2025-03-20 11:18:39

"Kau hanya akan sia-sia jika terus memikirkan Wanita itu," ucap Aquilina.

Adriel langsung menoleh ke arah Aquilina. "Apa maksudmu?" tanya Adriel dingin.

Aquilina takut memandang kedua pandangan dingin Adriel tapi Aquilina terus membujuknya. "Pikirkan lagi, kenapa dia mau kembali ke bumi? pasti dia punya alasan sendiri, bagaimana misalnya dia punya lelaki lain yang masih jadi bagian dari hatinya?" Aquilina sengaja menghasut Adriel.

Kedua mata biru Adriel langsung membelalak. Teringat akan sosok Pria lain yang pernah menjalin asmara dengan Rigel. "Tidak mungkin, itu mustahil," ucap Adriel menggeleng.

"Karena kau tidak disana saat ini, kau bahkan tak tahu dia ada dimana, Adriel," hasut Aquilina.

Adriel terdiam sejenak. Teringat akan pertemuannya dengan Rigel. Pertemuan mereka bukan yang pertama melainkan saat Adriel bersama Rigel dalam keadaan yang buruk. Pertemuan pertama saat Adriel mengekori Rigel. Sebuah ledakan misterius yang nyaris mencelakakannya. Adriel sendiri yang bergerak un
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Sang Pengantin Bulan Jadi Rebutan   Season II: Permaisuri Bulan dan Permatanya

    "Di Bumi kau dianggap peri," celetuk Arun."Ha?" "Benar, semua orang menganggapmu sosok suci dan penolong tapi siapa sangka kau malah ketus," ucap Arun sambil beranjak berdiri. Tubuhnya yang dua kali lipat lebih kekar dan tinggi dari Cassiel berdiri dihadapannya. "Kau tahu soal Pria Terinfeksi itu bukan? jangan katakan kau sengaja membawa virus itu Ke New Neoma?""Aku tidak tahu, sudah kukatakan dengan jujur." Arun memandangi kedua mata Cassiel yang menyalang terang. Ia tak merasa takut akan ancaman dan sumpah serapah Cassiel padanya bahkan tuduhan itu tak berarti jika Cassiel seindah seperti rumor dari bumi. Cassiel menarik napas cukup panjang setelah itu menggelengkan kepalanya. Kedua mata biru Cassiel tenang dari biasanya saat ini. "Kau! oh Ya Tuhan ... isi kepalaku penuh, betapa aku mendambakan bumi sampai kalian datang padaku untuk harapan yang tak pernah kutahu," ucap Cassiel frustasi. "Yang Mulia, aku akan melakukan apapun yang kau minta jika kau menerima ajakanku," sahut A

  • Cinta Sang Pengantin Bulan Jadi Rebutan   Season II : Sang Pangeran Bulan

    "Ibu aku masuk ya," ucap Cassiel sambil menyelinap masuk ke dalam ruangan isolasi itu. Cassiel sudah mengenakan jubah pelindung khusus lengkap dengan maskernya. Rigel yang memakai pakaian serupa segera menoleh menatap Sang Putera. "Cassiel, kupikir kau pergi tidur setelah menghantar Anak itu," celetuk Rigel. Cassiel langsung memutar kedua bola matanya malas. "Aku mulai membencinya," ketus Cassiel sambil mendekati Sang Ibu. "Kenapa? kau tak boleh seperti itu memperlakukan tamu kita," sahut Rigel."Itu karena bisa-bisanya dia mengiraku perempuan," ucap Cassiel sambil menahan malu.Sebelah alis Rigel menaik setelah itu dia terkekeh geli. Ia tatap anaknya itu sejenak. "Cassiel hanya masih dalam masa pertumbuhan, jadi jangan tersinggung." Rigel berucap lembut agar menenangkan Cassiel yang sedang merajuk. Memang benar jika Cassiel itu tumbuh dengan indah, ia memiliki rambut hitam panjang yang berkilau, paras menuruni Sang Ayah yang tak digubris ketampanannya namun Cassiel memiliki energi

  • Cinta Sang Pengantin Bulan Jadi Rebutan   Season II : Harus Berteman

    "Jadi Harlan memintamu kemari untuk pesan ini?" tanya Rigel sambil memegang secarik amplop surat. Rigel sudah mendengarkan ucapan Cassiel yang datang dengan seorang Pemuda Besar itu. Sejenak Rigel memandangi Pemuda itu. Ia lihat dari atas hingga bawah. "Kenapa anak ini familiar sekali," batin Rigel sambil menghela napas."Namamu Arun Mintaka, bukan?""Benar Yang Mulia.""Mintaka itu yang kukenal hanya Corrie, sahabat lamaku." "Itu ... benar Yang Mulia." "Terus katamu pada Cassiel jika kau anak dari Harlan.""Benar Yang Mulia."Rigel menghela napas cukup panjang. Ia memijat kepalanya sendiri. "Sersan katamu ya, apa kau regu penyelamat?" tanya Rigel.Pemuda itu langsung mendelik terkejut. "B-bagaimana Anda tahu Yang Mulia?""Begini Arun, bisa kusimpulkan kau berasal dari bumi, aku juga berasal dari sana dan pernah ada diregu yang sama denganmu ... katakan saja sejujurnya apa misimu?" tanya Rigel bernada lembut. Arun tertegun pada pertanyaan Rigel. Ia menatap Rigel yang duduk berdamp

  • Cinta Sang Pengantin Bulan Jadi Rebutan   Season II : Dia dari Musim Panas

    Dua Tahun Kemudian ... Langit cerah diawal pagi sudah perlahan-lahan memudar oleh petang yang akan tiba. Di sebuah Ruang Perpustakaan Istana New Neoma. Seorang Pemuda masih sibuk menulis dari pagi hingga senja. Tangan rampingnya menjabarkan tulisan dari beberapa buku-buku yang ditumpuk diatas meja. Tok ... Tok ...Rigel mengetuk pintu Perpustakaan dengan pelan. Dari ambang pintu ia memerhatikan sejenak Putra Kecilnya yang sudah tumbuh dewasa. Rigel mengulum senyuman manisnya. Dia tak berubah meski itu menyedihkan tapi ia bisa mengawasi pertumbuhan Putra satu-satunya. "Cassiel masih sibuk belajar?" tanya Rigel.Cassiel menghentikan kegiatan menulisnya. Ia beranjak berdiri dari tempat duduknya. Tubuhnya sudah tinggi dan tegap. Rambut hitamnya dibiarkan tumbuh panjang sebahu setelah itu diikat dengan pita biru tua. Kedua mata biru cerah itu menatap Sang Ibu. "Tahun ini Cassiel harus lulus tes masuk Akademi Kerajaan, jadi harus belajar," jawab Cassiel tersenyum.Rigel mengangguk. "Tap

  • Cinta Sang Pengantin Bulan Jadi Rebutan   Season II : Permintaan Maaf

    "Kau ingat aku Rigel?" tanya Adriel tak percaya.Rigel yang sedang menitikkan air matanya itu mengangguk. "Bodoh, tentu saja, apa itu hal yang kau ucapkan setelah aku pulih?" sindir Rigel dengan suara gemetar menahan isak tangisnya.Adriel langsung duduk dipinggiran ranjang setelah itu memeluk Rigel. "Maafkan aku, memang sulit percaya tapi aku senang akhirnya kau ingat lagi," ucap Adriel. Pria itu tak diragukan lagi menatap haru Rigel saat itu. Adriel mengusap puncak rambut Rigel setelah itu memeluknya lagi dengan erat. Di depan pintu, sosok Cassiel diam membeku mendengar perbincangan kedua orang tuanya. Ia tak mau mengacaukan kebahagian ini meski kedua mata biru miliknya sudah berkaca-kaca. Cassiel melangkah mundur agar memberi ruang waktu untuk kedua orang tuanya. "Yang Mulia, Anda menangis?" tanya Anna yang kebetulan lewat.Cassiel menggeleng sambil tersenyum simpul. "Bibi Anna kini aku sudah menentukan jalan hidupku," ucap Cassiel. "Kenapa Anak itu? aneh sekali tiba-tiba," cele

  • Cinta Sang Pengantin Bulan Jadi Rebutan   Season II : Jika Tetap Seperti Ini

    Jika Rigel tidak berpikir keras, dia mulai goyah sendiri. Ketika sampai didepan rumahnya. Ia melihat seorang Pria berjaket kulit hitam sedang bersandar disebuah mobil hitam. Ia sedang menikmati sepuntung rokok yang jarang ditemui di Negeri ini. Itu Harlan Zidane. Pria itu entah sudah berapa lama menunggu kehadiran Rigel. Ia menikmati rokoknya tanpa sadar jika sedari tadi Rigel sedang memerhatikannya. Rigel menelisik wajah dan paras Pria itu. Ia menyadari tanda-tanda usia menua Si Pria kekar itu."Kak, ada beberapa helai uban dan kerutan di wajamu, Kau ... berusia berapa saat ini?" tanya Rigel.Harlan terperanjat setengah mati. Ia sampai menjatuhkan puntung rokoknya. "Rigel! apa maksudmu?" tanya Harlan keheranan. Rigel segera menggelengkan kepalanya. "Tidak hanya saja, aku melihat diriku dan dirimu berbeda usia cukup jauh padahal bukankah usia kita hanya beda beberapa tahun saja?" tanya Rigel. Harlan menghela napas cukup panjang. Tangan kanannya meraih meraba wajah Rigel kemudian me

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status