Share

Bab 18

Author: Maria Anita
Sudut Pandang Aditya.

Aku sedang makan siang bersama Peter, ceritakan semua yang terjadi padanya. Dia pun menatapku dengan ekspresi kaget.

"Aku nggak percaya dia nggak pakai dalaman di balik gaun kecil yang menggoda itu?"

Saat dia mengatakan itu, aku baru sadar, dia sangat terbuka dan bisa saja berada dalam situasi yang memalukan saat jauh dariku. Itu jelas bukan hal yang bagus. Tapi aku yang robek celana dalamnya. Walaupun nggak robek, aku juga nggak akan mengembalikannya.

"Hei, wanita ini bikin aku gila. Hari ini kayaknya dia putuskan buat nguji batas kesabaranku."

"Jangan ngeluh. Kamu sendiri yang mulai. Kamu mau apa sebenarnya?"

"Aku suruh dia datang pagi-pagi cuma buat gangguin dia sedikit, dan ya, niatnya emang mau ngerjain dia dikit. Tapi aku nggak akan sentuh dia. Aku nggak nyangka dia bakal datang siap untuk berperang. Dia pakai gaun ketat yang tiap duduk, pahanya terlihat. Apalagi sepatu hak tingginya seksi banget. Begitu lihat dia, otakku langsung kosong. Frustrasi banget. A
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 19

    Sudut Pandang Aditya.Dia mengambil tas dari tanganku dengan ekspresi bingung. Aku memanfaatkan momen itu untuk menyuapinya sepotong kue, langsung ke mulutnya. Dia tak sempat bereaksi, hanya bisa menutup bibir di sekitar garpu sementara aku tersenyum makin lebar. Aku sendiri memakan sepotong lagi sambil mengamati dia perlahan mengunyah kue yang tadi kumasukkan, lalu membuka tas itu. Dia mengeluarkan kotak dari dalam tas, meletakkannya di pangkuan, dan membuka penutupnya. Mulutnya menganga lebat saat melihat sehelai kain kecil mungil di dalamnya. Ini sungguh menyenangkan. Saat dia menatapku, aku buru-buru menyuapinya lagi, mencegahnya bicara. Matanya makin membelalak. Aku benar-benar menikmati momen ini. Aku makan lagi sepotong kue sambil melihat dia ambil celana dalam dari kotak, berdiri, lalu duduk di atas meja kopi tepat di depanku, dan mulai memakainya. Aku nyaris tersedak. ‘Dia benar-benar mau pakai di depanku? Gila! Ini bisa kacau banget!’Dengan gerakan sangat halus dan menggoda

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 20

    Aku keluar dari kantor Aditya dengan kaki gemetar. 'Dasar bajingan, dia hampir membuatku orgasme lagi!’ Dia benar-benar meninggalkanku terbakar oleh hasrat, dasar pengecut. Tapi aku nggak akan menyerah. Aku harus cari cara supaya dia tak lagi bisa pengaruhi aku dan nggak akan pernah dekati celana dalamku seumur hidupnya. Aku harus rencanakan sesuatu yang sepadan dengan apa yang dia lakukan padaku, toh aku juga sudah melangkah terlalu jauh. Setelah itu, aku bakal undurkan diri dan kembali ke pekerjaan lamaku.Aku frustrasi dan marah. Ketika Peter masuk ke kantorku, aku sedang berjuang mengutak-atik dataku. Dia tak berani berkata apa-apa, langsung berjalan melewatiku dan masuk ke kantor sahabatnya.Lalu Carisa datang dan bilang dia akan keluar sebentar. Pada saat itu, sebuah ide muncul di kepalaku. Ide yang nakal, bahkan bisa dibilang jahat, tapi sangat menggoda."Carisa, bisakah kamu mampir ke toko kue di seberang jalan dan belikan aku sepotong kue cokelat? Yang ada parutan cokelat susu

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 21

    Aku sedang koordinasi dengan Robin tentang rapat laporan keuangan rahasia untuk besok, dan sambil ngetik cepat di ponsel, aku kirim pesan ke Maya, pastikan apa waktu tersebut cocok untuknya. Setelah semuanya beres, aku kembali tenggelam dalam tugas-tugas lain yang menumpuk di mejaku.Satu jam kemudian, suara pintu kantor dibuka dengan kasar membuatku refleks menoleh. Bosku, Aditya membungkuk ke arahku, kedua tangannya mencengkeram sandaran kursiku, dan wajahnya begitu dekat sampai aku bisa merasakan panas napasnya. Tatapannya menyala-nyala, dan suaranya yang biasanya berat kini terdengar lebih serak dan tegas.“Cit, dengar baik-baik. Masalah ini harus selesai hari ini, dan aku nggak ingin dengar satu pun alasan. Batalin semua janji yang kamu punya. Setelah jam kerja, kita pergi dari kantor ini dan duduk untuk diskusikan hal ini seperti orang dewasa.”Tanpa menunggu jawabanku, dia menatapku satu detik lebih lama, lalu berdiri tegak, berbalik badan, dan menutup pintu dengan keras, hingga

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 22

    Peter memberiku segelas air dan aku menerimanya dengan tangan yang masih gemetar. Aku baru sadar kalau aku menangis waktu Aditya menyapukan jemarinya di wajahku."Tenang, Cit. Dia nggak punya kuasa untuk nyakitin kamu. Jangan takut, kamu nggak akan kehilangan kerjaan hanya karena pria bodoh itu." Bosku berbicara dengan lembut sambil mengusap punggungku agar aku tenang."Benar tuh, Cit. Jangan pedulikan Jodi, dia memang nyebelin. Kamu perempuan kuat, jangan biarkan dia nakutin kamu," kata Peter memberi dukungan."Sejak kapan kamu bebas panggil asistenku pakai nama panggilan?""Sejak kami jadi teman. Dan kamu juga jangan jadi bos yang nyebelin!"Aku tertawa mendengar candaan mereka, lalu bosku berdiri dan pegang daguku agar aku menatapnya."Bukan nyebelin, tapi mungkin agak sedikit bajingan," katanya sambil mengedip dan tersenyum. 'Astaga, kenapa sih pria ini harus setampan itu!'"Astaga, kalian berdua malah kabur dari kenyataan!" Peter berkata sambil menyeringai. "Tapi Cit, aku baru saj

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 23

    Aku kembali ke mejaku menjelang akhir jam kerja. Aku menyelesaikan semua tugas harianku dan mendengar Robin masuk sambil menyanyikan lagu “Kamu Cantik Kamu Baik.”“Robin, kamu bisa jadi penyanyi terkenal itu.” Aku tersenyum padanya.“Mungkin, mungkin, tapi aku suka suasana di kantor ini. Carisa sudah cerita semuanya. Aku tadi ada di lantai tiga buat ngeprint. Kamu nggak apa-apa?” Dia menatapku, menunggu jawaban.“Aku nggak apa-apa. Terima kasih.”“Kalau gitu, aku pulang dulu yah. Istriku telepon, katanya dia pulang lebih awal dan punya kejutan buatku. Aku suka banget kejutan-kejutannya, sudah nggak sabar!”“Wah, beruntung banget kamu. Semoga malam kalian menyenangkan yah!”“Terima kasih. Besok waktu makan siang aku bakal cerita ke kamu tentang kejutannya. Eh, gimana kalau akhir pekan ini kita ketemuan? Aku sudah cerita ke istriku tentang kamu, dan dia pengen banget ketemu kamu.”“Eh, itu ide bagus! Boleh nggak aku bawa temanku?”“Boleh boleh saja. Sampai ketemu besok, Cantik!”Aku ters

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 24

    Aku masuk ke rumah dengan kata-kata terakhir bosku yang masih terngiang di kepala. Dia akan terus godain aku. Sebenarnya dia mau apa dariku? Hari ini benar-benar terjadi banyak hal. Apa kerjaanku di kantor bisa makin tenang dan normal?Aku pergi lihat anakku, yang sudah tidur pulas seperti malaikat, sambil peluk boneka beruang kesayangannya.Aku kepikiran untuk ajak Minda jalan-jalan di taman waktu hari Minggu, pasti senang banget. Aku lewat kamar temanku yang juga sudah tidur, lalu ambil monitor bayi darinya.Aku mandi untuk hilangkan semua stres hari ini, lalu tidur di ranjang, tidur sambil mikirkan bosku. Aku pasti sudah gila.Pagi harinya aku bangun dan siapkan si kecil untuk diantar ke tempat penitipan sebelum berangkat kerja. Dia selalu bangun dengan suasana hati bagus, tersenyum padaku dan cerita tentang betapa dia suka sekolahnya. Saat aku kasih dia pakai baju, dia cerita banyak hal tentang semua yang dia pelajari. Aku tersenyum seperti orang bodoh, rasanya luar biasa bisa meli

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 25

    Semua orang sudah datang, jadi bosku suruh aku untuk kunci pintu ruanganku dan tutup pintu ruangannya setelah aku masuk. Kami pun duduk di sofa dan Aditya pun mulai berbicara.“Begini, kalian berempat adalah satu-satunya orang yang bisa aku percaya saat ini, jadi topik pertemuan ini rahasia dan nggak boleh diketahui siapa pun. Enam bulan lalu, aku mulai sadar ada yang nggak sesuai antara laporan keuangan, akuntansi, dan laporan komersial. Jadi Peter dan aku mulai periksa lebih teliti. Dari laporan keuangan terakhir, kami yakin ada yang nggak beres saat kami cocokkan data. Menurutku ada orang yang korupsi dana perusahaan.”Aku merasa tidak nyaman. Ini benar-benar serius. Aku melirik Robin yang tampak setegang aku. Lalu Peter ikut bicara.“Benar, teman-teman, tapi bukan cuma uang yang dialihkan, tapi ada sumber daya lain juga yang diselewengkan. Selain itu, beberapa klien mengurangi frekuensi kerja sama dengan kita, dan beberapa lainnya langsung putusin kontrak.”“Kalau gitu, ini serius

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 26

    Aku mendengar bosku memanggil, lalu menoleh. Aku kira dia bakal kasih aku tugas tambahan.“Ya, Pak Aditya?”“Tolong tutup pintunya dan ke sini.”Aku menutup pintu, kembali melangkah, dan berdiri di hadapannya. Dia duduk di sofa yang sama, sofa yang selalu mengingatkanku pada banyak hal tak masuk akal.Aditya tampak sedikit murung, dengan kedua siku bertumpu di lutut dan kepalanya tertunduk. Aku ingin mengusap rambutnya dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja, tapi aku tidak melakukannya.Setiap kali dia menyentuhku, rasanya seperti akal sehatku lenyap begitu saja. Sentuhan paling sederhana darinya pun bisa buat kulitku panas, buat tubuhku merindukannya. Apa yang pria ini timbulkan dalam diriku sungguh tak bisa dijelaskan.Dia berdiri di hadapanku dan menarik pinggangku, memelukku dengan hangat. Pelukannya lembut, tenang, dan penuh kasih sayang. Rasanya berbeda dari interaksi kami sebelumnya, namun entah mengapa, tetap terasa akrab dan membuat hatiku nyaman.Aku merasakan kecup hang

Latest chapter

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 50

    Aku memandang sekeliling ruangan itu, nggak mengerti apa-apa. Selain aku dan bosku, Pak Guntur, ada juga Minda, Heru, Aditya, Peter, Robin, Maya, dan Alex.‘Apa maksudnya semua ini?’ Aku menatap Minda, dan dia mengangkat bahu, sama bingungnya denganku. Heru menarik sebuah kursi dan memberi isyarat agar aku duduk di sebelah Aditya. Dia bercanda?'Aku mulai curiga kalau ini hanyalah trik Aditya lagi supaya bisa bicara denganku. Tentu saja dia nggak sungguh-sungguh mau beli sistem itu. Tapi aku akan tetap profesional dan lakukan yang terbaik, setidaknya bosku bisa menilai kinerjaku.“Citra, tolonglah, aku tahu kamu profesional hebat dan bisa atasi ini.” Heru berkata seolah-olah membaca pikiranku. “Aku minta kamu datang karena kamu pernah kerja di Grup Mahadi dan paham dengan masalah yang sedang mereka hadapi.”“Baik, Pak. Saya akan bantu sebisa mungkin.” Aku pun duduk dan menjaga sikap profesional.Pak Guntur mulai mempresentasikan aplikasinya, dan aku menambahkan beberapa pandangan dan o

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 49

    Aku benar-benar capek. Minggu ini terasa kacau dan aku nggak bisa tidur dengan nyenyak, setiap malam menangis hingga tertidur. Bicara dengan Aditya kemarin juga nggak membantu, justru buat aku semakin hancur.“Selamat pagi, Citra! Apa kabar?” Minda masuk ke dapur dan memegang wajahku dengan kedua tangannya, menatapku dengan seksama.“Aku benar-benar berantakan, Min. Riasan ini cuma tutupin lingkaran hitam di bawah mata. Aku capek banget!”Saat ini kami mendengar bel rumah berbunyi, dan Minda pergi menjawabnya sementara aku menyuapi Panji sarapan. Aku teralihkan memperhatikan si kecil, dia adalah cinta terbesarku, dan hanya dengan menatapnya saja, hatiku bisa tenang. Aku tahu aku akan kuat dan terus maju karena dia. Dia menatapku dengan senyum lebar serta mata hitam kecokelatan itu, membuat hatiku meleleh oleh cinta.“Kamu anak tercinta ibu, Nak!” Aku berkata padanya dan dia bertepuk tangan sambil mengirim ciuman. Senyumku semakin lebar.“Cit, ini untukmu.” Minda datang dari pintu memba

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 48

    Sudut Pandang Aditya.Aku benar-benar kaget ketika Heru kasih aku segelas bir.“Minum ini, bisa buat kamu tenang. Setelah kamu tenang, kamu bisa cerita ke aku apa yang terjadi,” kata Heru dengan nada serius sambil mengambil telepon. “Guntur, aku kasih Citra libur untuk sisa hari ini. Terima kasih ya.”Heru menutup telepon, duduk di depanku, dan minum bersamaku. Setelah tiga kali tegukan, akhirnya aku bisa berkata, “Aku kacaukan semuanya, Heru, aku ngerusak satu-satunya kesempatan yang aku punya untuk bahagia. Aku cinta Citra tapi aku malah kacaukan semuanya. Sekarang dia benci aku.”Heru menyesap birnya lagi dan berbicara dengan lembut, “Sejak kapan kamu jadi pengecut yang nyerah hanya karena satu pintu tertutup?”Aku memandangnya seolah-olah mendadak dia jadi aneh. Dia benar-benar nggak mengerti kalau Citra membenciku.“Nanti aku akan telepon Peter dan kita bertiga akan minum sampai mabuk di rumahku,” katanya sambil berdiri. “Mana kunci mobilmu?”Sambil menyerahkan kunci mobilku, Heru

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 47

    “Citra, Pak Heru mau kamu segera ke kantornya,” kata bos baruku yang muncul di bilik kerja tempatku duduk. “Kamu bisa pergi sekarang. Tugas yang aku kasih sudah selesai?”Aku memandang pria bertubuh pendek dan berisi itu, dengan kacamata bulat bergagang motif kura-kura, lalu tersenyum. Dia memang sedikit nyentrik, tapi sangat baik dan sering bersenandung seharian di kantor.Aku ditempatkan di departemen pemasaran, di mana seluruh lantainya terbuka dengan bilik kerja yang diatur berkelompok berisi empat orang. Satu-satunya ruangan tertutup hanya milik atasanku. Suasananya sibuk dan penuh warna, dipenuhi dengan suara, semua orang sibuk berbicara, entah lewat telepon atau satu sama lain. Aku merasa lingkungan ini santai dan menarik, sepertinya aku akan bisa beradaptasi dengan baik. Bahkan aku sudah punya satu teman. Tapi sekarang, setelah dipanggil oleh Pak Heru, aku mulai khawatir kalau dia berubah pikiran dan nyesal mempekerjakanku.Aku mendongak dan menyerahkan beberapa folder kepada b

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 46

    Sudut Pandang Aditya.Aku kembali ke kantor dengan perasaan terluka seperti binatang yang terkurung. Aku benar-benar putus asa. Aku pengen banget kejar Citra dan mohon agar dia maafin aku. Tapi aku nggak bisa begitu saja melakukannya. Dia sedang kerja di perusahaan Heru dan aku nggak bisa sembarangan masuk ke sana. Itu nggak sopan dan dia akan makin benci aku.Tapi aku juga nggak sanggup tunggu sampai jam kerja selesai. Jadi, aku putusin untuk kejar dia. Aku keluar kantor dan kasih tahu Carisa kalau aku nggak akan kembali hari itu. Aku ingin menyeret ular itu keluar dan usir dia dari gedungku, tapi aku nggak bisa lakukan itu juga. Aku harus tunggu... Itu membuatku gila.Aku pergi ke perusahaan Dunia Liantar dengan ribuan pikiran berputar dalam kepalaku. Tapi aku berniat minta bantuan Heru agar bisa bicara dengan Citra tanpa buat dia malu.“Selamat siang, Pak Aditya. Ada yang bisa saya bantu?” Sekretaris Heru selalu bersikap profesional, meski dia kelihatan heran karena aku tiba-tiba da

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 45

    Sudut Pandang Aditya.Kemarin, aku datang ke kantor dengan kepala pusing akibat mabuk parah dan sama sekali nggak pengen lakuin apa pun. Maya, Alex, Patrick, dan Robin seharian bela Citra. Mereka bilang nggak percaya kalau Citra yang kirim email-email itu dan khianati aku seperti itu. Mereka bahkan tegur aku karena nggak mau dengar dia dulu, dan sekarang semuanya lagi tunggu hasil audit untuk lihat apa yang akan terungkap. Maya pergi ke departemen keuangan untuk ambil dokumen-dokumen yang katanya sedang diverifikasi. Saat dia di sana, Jodi telepon aku marah besar, bicara ngawur di telingaku. Tapi aku terlalu lelah untuk peduli. Aku cuma bilang, serahkan semua pada Maya kalau dia masih mau pertahankan pekerjaannya.Maya bawa dokumen-dokumen itu ke auditor. Aku bilang ke Alex semua ini percuma karena dokumennya memang ada dan Jodi sudah kasih itu semua, artinya Carisa nggak mungkin bocorin informasi. Tapi Alex peringatkan aku kalau dia sudah punya salinan dokumen sebelumnya, lebih baik

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 44

    Keesokan harinya, kami berangkat pagi-pagi. Saat tiba di kantor, Pak Heru memanggil kami masuk ke ruangannya.“Citra, apa kabar? Aku sudah bicara dengan Peter, dan dia sangat khawatir. Dia cerita sedikit tentang apa yang terjadi, nggak terlalu rinci, tapi sepertinya Aditya memang bertindak bodoh.”“Aku nggak yakin dia bodoh atau nggak, Pak Heru. Tapi yang jelas, aku nggak lakuin hal yang dituduhkan padaku,” jawabku. Aku mulai membayangkan beliau berubah pikiran tentang mempekerjakanku.“Aku yakin kamu nggak lakuin itu, Citra. Aku sudah lama kenal Keluarga Lurdi. Mereka nggak akan bela kamu kalau mereka nggak yakin sepenuhnya dengan kejujuranmu! Dan kalau Omar bilang kamu orang paling jujur di dunia, aku percaya itu.” Heru tersenyum hangat padaku. “Sayangnya, aku nggak bisa kasih posisi sebagus sebelumnya, tapi aku butuh orang tambahan di departemen penjualan. Gajinya cukup baik dan aku yakin kamu bisa tangani pekerjaannya dengan mudah. Jadi kalau kamu mau, pekerjaan ini milikmu.”Aku t

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 43

    Aku merasa benar-benar kehilangan arah, nggak tahu harus berbuat apa. Minda pergi pagi-pagi, bersikeras untuk antar Panji ke tempat penitipan anak, sementara Lina bersikeras menemaniku seharian. Aku merasa itu ide yang bagus, dia orang yang luar biasa, memberiku banyak nasihat dan berkata bahwa tidak ada kesulitan yang berlangsung selamanya.Minda sempat bilang sebelum pergi kalau aku tak perlu melakukan apa-apa hari ini. Katanya dia akan bicara dengan ayahnya, dan malam ini kami akan putuskan langkah selanjutnya. Tapi entah kenapa, aku merasa nggak nyaman. Rasanya aku sudah terlalu sering ngerepotin Keluarga Lurdi.Aku dan Lina makan siang bersama, dan dia bercerita tentang anak-anak serta cucu-cucunya, yang ternyata nggak tinggal di Kota Pekanida. Semuanya tinggal terlalu jauh, jadi dia nggak bisa bertemu mereka setiap minggu. Makanya dia bilang betapa bahagianya dia bisa merawat Panji.Sore harinya, dia pergi ke pasar dan bilang akan jemput Panji setelah itu. Dia menyuruhku istiraha

  • Cinta Diam-Diam Sang Bos   Bab 42

    Sudut Pandang Jodi. Aku bersandar di ranjang dan menyalakan sebatang rokok, meniupkan asapnya sambil memandangi gimana asap itu menghilang di udara. Aku tersenyum dan berkata pada wanita di sampingku, “Selamat, sayang. Lagi-lagi kamu luar biasa banget. Nanti aku transfer uang ke rekeningmu, beli sesuatu yang kamu suka.” Aku tersenyum geli, membayangkan suaminya yang percaya dia wanita suci. “Aku cuma heran, gimana suami bodohmu itu nggak curiga dari mana asal uangmu?”Aku menatap selingkuhanku yang berbaring telanjang di sampingku. Ini bukan pertama kalinya dia memberiku informasi dan bantuan kecil. Kami sudah jadi kekasih gelap selama bertahun-tahun, dan nggak ada satu pun orang pernah curiga. Dia penuh tipu daya dan aku suka itu. Dia tertawa saat aku sebut suaminya, lalu mengambil rokok dari tanganku, mengisapnya, dan berkata, “Suamiku memang bodoh. Dia pikir semua yang aku beli itu palsu dan dia percaya aku cuma pakai perhiasan imitasi. Dia sebodoh Aditya, yang nggak sadar apa ya

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status