Home / Fantasi / Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir / BAB 148: DYAH SULASTRI MENGORBANKAN DIRI LAGI

Share

BAB 148: DYAH SULASTRI MENGORBANKAN DIRI LAGI

last update Last Updated: 2025-03-12 07:00:06
Di tengah malam yang sunyi, Dyah Sulastri duduk di tepi altar suci di kuil bawah tanah istana. Udara dingin menyelimuti ruangan, dipenuhi aroma dupa kemenyan yang membakar perlahan-lahan. Cahaya lilin berkedip-kedip di sekitarnya, menciptakan bayangan panjang di dinding-dinding batu yang tertutup relief kuno. Relief-relief itu menggambarkan para leluhur kerajaan Gilingwesi yang melakukan ritual serupa—ritual pengorbanan diri untuk melindungi kerajaan.

Dyah menatap artefak pusaka yang tergeletak di atas altar: sebuah piringan perunggu berukir simbol-simbol gaib. Ia tahu bahwa nasib kerajaan bergantung pada keputusannya malam ini. Meskipun hatinya berat, ia telah memutuskan untuk melanjutkan ritual suci yang telah lama menjadi beban garis keturunan keluarganya.

"Aku tidak punya pilihan lain," gumamnya pelan, suaranya hampir tersapu oleh desiran angin yang masuk melalui celah-celah kuil. "Jika aku tidak melakukannya, kerajaan ini akan hancur."

Namun, di balik keteguhan ekspresinya, ada ra
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 149: RITUAL SUKSES, TETAPI HARGA MAHAL

    Dalam kegelapan malam yang sunyi, para pendeta kerajaan berkumpul di kuil suci yang terletak di tepi sungai mistis. Udara di sekitar kuil dipenuhi aroma dupa kemenyan dan bunga kenanga yang menyengat, menciptakan atmosfer magis yang mendalam. Nyala api obor berkedip-kedip, memantulkan bayangan panjang di dinding-dinding batu yang dihiasi ukiran kuno. Di tengah-tengah kuil, Dyah Sulastri berdiri di atas altar batu, wajahnya pucat namun teguh.Raka berdiri di luar kuil, tangannya mengepal erat saat ia menyaksikan ritual itu dari kejauhan. Matanya penuh dengan kecemasan, tetapi ia tahu bahwa ia tidak bisa menghentikannya lagi. Rakai Wisesa dan Resi Agung Darmaja berdiri di sisi lain kuil, wajah mereka penuh keteguhan meskipun ada rasa berat di hati mereka."Apakah ini benar-benar satu-satunya cara?" gumam Raka pelan, suaranya penuh penyesalan.Resi Agung Darmaja menatapnya dengan mata bijaksana. "Ini adalah harga yang harus dibayar untuk melindungi kerajaan ini. Dyah Sulastri adalah jemba

    Last Updated : 2025-03-12
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 150: PENYIHIR GELAP MENGIRIM ANCAMAN TERAKHIR

    Malam itu, Raka terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, jantungnya berdebar kencang seolah baru saja melarikan diri dari bahaya nyata. Namun, ia tahu bahwa apa yang baru saja dialaminya bukan sekadar mimpi biasa—itu adalah peringatan dari dunia lain.Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah hutan lebat yang dipenuhi kabut hitam pekat. Udara di sekitarnya terasa dingin dan menusuk tulang, seolah-olah kehidupan telah lenyap dari tempat itu. Di kejauhan, sosok tinggi besar dengan jubah hitam berkabut muncul, wajahnya tertutup bayangan sehingga tidak terlihat jelas. Mata merah menyala menatapnya dengan intens, penuh ancaman."Kau pikir kau bisa melindungi mereka?" suara rendah dan menggelegar itu bergema di sekitarnya, membuat Raka merinding. "Jika kau tidak menyerahkan Dyah Sulastri kepadaku, seluruh kerajaan ini akan hancur."Raka mencoba melawan, tetapi tubuhnya seperti terkunci di tempat. Ia hanya bisa menatap makhluk itu dengan mata penuh kem

    Last Updated : 2025-03-12
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 151: STRATEGI PERANG AKHIR

    Di balairung istana yang luas, cahaya lampu minyak berkedip-kedip, memantulkan bayangan panjang di dinding-dinding batu yang dihiasi ukiran kuno. Udara di ruangan itu terasa tegang, dipenuhi aroma dupa kemenyan yang menyengat dan desiran angin malam yang membawa aroma belerang dari sungai suci. Rakai Wisesa duduk di singgasananya, wajahnya penuh keteguhan namun juga kelelahan. Di sampingnya, Arya Kertajaya berdiri dengan sikap waspada, meskipun luka-lukanya belum sepenuhnya sembuh. Raka, dengan artefak perunggu di tangannya, berdiri di tengah ruangan, matanya penuh tekad."Kita tidak punya banyak waktu," kata Rakai Wisesa dengan suara tegas, namun nada khawatir terdengar jelas dalam setiap katanya. "Pasukan bayangan Ki Jagabaya sudah mendekati perbatasan kerajaan. Jika kita tidak bertindak cepat, mereka akan menghancurkan segalanya."Arya Kertajaya melangkah maju, mengepalkan tinjunya erat-erat. "Kita harus memanfaatkan kekuatan spiritual kita sebaik mungkin. Pasukan bayangan tidak bis

    Last Updated : 2025-03-12
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 152: BUTO IJO BERGABUNG

    Di tepi hutan suci yang dipenuhi kabut tipis, Raka berdiri di bawah naungan pohon beringin raksasa. Udara di sekitarnya terasa dingin dan misterius, dengan aroma tanah basah dan daun-daun yang membusuk menciptakan atmosfer mistis. Suara angin malam berdesir pelan, membawa bisikan halus yang seolah-olah mengamati setiap gerakannya. Artefak perunggu di tangannya bergetar lemah, seolah merespons kehadiran makhluk gaib yang sedang mendekat.Tiba-tiba, tanah di sekitarnya mulai berguncang. Daun-daun berguguran dari pepohonan, dan bayangan besar muncul di balik kabut. Dari balik bayang-bayang itu, sosok Buto Ijo melangkah maju. Tubuhnya yang tinggi menjulang, kulit hijau kebiruan yang bersinar redup di bawah cahaya bulan, dan matanya yang tajam seperti api menyala menatap Raka dengan intens."Kau memanggilku, manusia dari masa depan?" suara Buto Ijo bergema, dalam dan menggelegar, membuat tanah di bawah kaki Raka bergetar.Raka mengangguk, mencoba menahan ketegangan di dadanya. "Ya. Aku memb

    Last Updated : 2025-03-13
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 153: RESI AGUNG DARMAJA IKUT CAMPUR

    Di tengah malam yang sunyi, Raka melangkah masuk ke kuil kuno di tepi istana. Udara di dalam kuil terasa dingin dan lembap, dipenuhi aroma dupa kemenyan yang menyengat. Cahaya lampu minyak berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang di dinding-dinding batu yang dihiasi ukiran simbol-simbol spiritual. Di tengah ruangan, Resi Agung Darmaja duduk bersila di atas alas sutra hitam, matanya tertutup seolah-olah ia sedang memasuki dunia lain."Kau datang," kata Resi Agung Darmaja tanpa membuka mata, suaranya tenang namun mengandung kekuatan yang tidak bisa diabaikan. "Aku sudah menunggumu."Raka mendekat dengan hati-hati, matanya penuh rasa hormat tetapi juga keraguan. "Aku butuh nasihatmu, Resi. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."Resi Agung Darmaja akhirnya membuka matanya, tatapannya tajam seperti mata elang yang mampu membaca jauh ke dalam jiwa manusia. "Keputusanmu tidak hanya akan memengaruhi dirimu sendiri, Raka. Itu akan menentukan takdir seluruh kerajaan ini."Angin malam berd

    Last Updated : 2025-03-13
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 154: PASUKAN ASING MENDEKAT

    Di bawah langit malam yang gelap dan penuh awan kelabu, para prajurit kerajaan berdiri tegak di menara pengawas perbatasan. Udara dingin menusuk tulang, dipenuhi aroma tanah basah dan asap dari api unggun yang menyala-nyala di sepanjang garis pertahanan. Suara angin malam berdesir pelan, membawa bisikan halus yang terdengar seperti jeritan dari kejauhan. Di kegelapan hutan lebat yang mengelilingi perbatasan, bayangan-bayangan hitam mulai bergerak—pasukan asing yang dipimpin oleh penyihir gelap akhirnya tiba."Gerakan mereka semakin cepat," lapor seorang prajurit kepada Arya Kertajaya, yang sedang memeriksa barisan pasukan di garis depan. "Mereka tidak lagi menyembunyikan diri."Arya Kertajaya mengepalkan tinjunya erat-erat, matanya penuh kemarahan dan keteguhan. "Mereka ingin menghancurkan kita dalam satu serangan besar," katanya dengan suara rendah namun tegas. "Tapi kita tidak akan membiarkan itu terjadi."Raka, yang berada di samping Arya, menatap kegelapan hutan dengan mata penuh w

    Last Updated : 2025-03-13
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 155: Darah dan Belerang: Awal dari Akhir

    Fajar mulai menyingsing di cakrawala, sinar matahari yang lembut menembus kabut tebal yang menyelimuti lembah kerajaan Gilingwesi. Udara pagi terasa dingin dan berat, dipenuhi aroma tanah basah dan asap dari api unggun yang masih menyala di perkemahan pasukan loyalis. Di luar istana, ribuan prajurit berkumpul dalam formasi rapi, bersiap untuk pertempuran besar yang akan segera dimulai. Makhluk gaib seperti Buto Ijo, Banaspati, Genderuwo, dan Naga Niskala juga hadir, wujud mereka yang mengerikan namun megah menciptakan atmosfer mistis yang mendominasi medan perang.Di garis depan, Raka berdiri dengan tegap, artefak perunggu di tangannya memancarkan cahaya redup yang berdenyut pelan, seolah-olah benda itu merespons ketegangan di udara. Matanya tertuju ke arah hutan lebat di kejauhan, tempat pasukan bayangan Ki Jagabaya dan pasukan asing bersembunyi. Ia tahu bahwa ini adalah saat yang menentukan—pertaruhan hidup dan mati bagi seluruh kerajaan."Kita tidak punya pilihan lain," kata Arya Ke

    Last Updated : 2025-03-13
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 156: PERTEMPURAN DIMULAI

    Langit pagi yang tadinya cerah kini berubah kelabu, dipenuhi awan hitam yang bergulung-gulung seperti ombak lautan. Udara terasa semakin tebal, dipenuhi aroma belerang dan energi spiritual yang menggelegak. Di luar istana, ribuan prajurit loyalis berdiri tegak dalam formasi rapi, bersiap untuk menghadapi pasukan bayangan Ki Jagabaya dan pasukan asing yang mulai menyerbu dari hutan lebat. Makhluk gaib seperti Banaspati, Buto Ijo, dan Genderuwo juga hadir, wujud mereka yang mengerikan namun megah menciptakan atmosfer mistis yang mendominasi medan perang.Tiba-tiba, sebuah ledakan keras memecah keheningan. Pasukan bayangan meluncurkan serangan pertama dengan panah api dan mantra sihir hitam yang menyala-nyala di udara. Prajurit loyalis segera merespons dengan melepaskan anak panah dan tombak, sementara makhluk gaib mulai bergerak maju untuk melindungi garis depan.Di garis depan, Raka berdiri tegap, artefak perunggu di tangannya memancarkan cahaya terang yang berdenyut pelan, seolah-olah

    Last Updated : 2025-03-13

Latest chapter

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 215: KEPUTUSAN TERAKHIR

    Malam itu, angin dingin berdesir melalui reruntuhan istana Gilingwesi. Raka berdiri di ruang bawah tanah yang gelap, tempat portal waktu kini aktif kembali. Cahaya biru keperakan dari artefak perunggu memancar dengan intensitas yang membuat udara di sekitarnya bergetar seperti gelombang energi kosmik. Ia merasakan tarikan kuat dari portal itu—sebuah panggilan yang sulit diabaikan.Namun, suara lain juga terdengar di kepalanya. Suara-suara halus dari masa lalu dan masa depan bergema bersamaan, membisikkan pilihan-pilihan yang saling bertentangan. "Kembalilah... duniamu menantimu," bisik salah satu suara. "Tetaplah... hanya kau yang bisa menyelamatkannya," balas suara lainnya.Raka menutup matanya erat-erat, mencoba menghalau keraguan yang mulai memenuhi pikirannya. "Apa

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 214: PORTAL WAKTU AKTIF KEMBALI

    Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, suasana di istana Gilingwesi mulai mereda. Namun, ketegangan masih menyelimuti udara. Raka berdiri di tepi sungai suci, artefak perunggu di pinggangnya bergetar lemah. Ia tidak bisa menyingkirkan perasaan bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi—sesuatu yang melampaui kemenangan sementara atas pasukan asing dan penyihir gelap.Saat ia memandangi artefak itu, cahaya biru keperakan tiba-tiba memancar dengan intensitas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Getarannya semakin kuat, hingga nyaris terlepas dari genggamannya. Suara gemuruh rendah bergema di udara, seperti desiran energi kosmik yang membangunkan seluruh istana."Raka!" seru sebuah suara di belakangnya. Arya Kertajaya berlari mendekat, wajahnya dipenuhi oleh kekhawatiran. "Apa yang terjadi? Apakah itu cerminmu?"

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 213: KEMENANGAN SEMENTARA

    Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, pasukan asing akhirnya mundur. Penyihir gelap telah dikalahkan oleh kekuatan spiritual Raka, dan pasukan loyalis berhasil menekan sisa-sisa pasukan bayangan Ki Jagabaya. Namun, kemenangan ini tidak datang tanpa harga mahal. Kerajaan Gilingwesi terlihat seperti reruntuhan—istana utama hancur sebagian, desa-desa di sekitarnya luluh lantak, dan banyak korban jiwa berjatuhan.Angin dingin berembus di medan perang, membawa aroma darah dan abu yang masih menyelimuti udara. Asap tebal mengepul dari bangunan-bangunan yang terbakar, menciptakan suasana kelabu yang suram. Prajurit loyalis berkumpul di lapangan istana, wajah mereka lelah namun penuh rasa syukur atas kemenangan yang diraih dengan susah payah.Namun, bagi Raka, kemenangan ini terasa kosong. Ia berdiri di tengah-tengah kerumunan prajurit, tetapi pikirannya jauh dari perayaan. Matanya tertuju pada reruntu

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 212: KI JAGABAYA DITANGKAP

    Pertempuran besar di luar istana mulai mereda setelah kekalahan penyihir gelap. Pasukan loyalis berhasil menekan pasukan bayangan Ki Jagabaya, yang kini tercerai-berai tanpa pemimpin mereka yang menghilang bersama penyihir gelap. Namun, Arya Kertajaya tidak puas dengan hasil ini. Ia tahu bahwa Ki Jagabaya adalah otak di balik serangan mematikan terhadap kerajaan, dan ia bertekad untuk menangkap pria itu sebelum ia melarikan diri. Di tengah kekacauan medan perang, Arya Kertajaya memimpin pasukan kecil menuju lokasi rahasia di hutan lebat tempat Ki Jagabaya diketahui bersembunyi. Ia telah mendengar desas-desus dari beberapa prajurit bayangan yang tertangkap bahwa Ki Jagabaya sedang mempersiapkan langkah selanjutnya—rencana yang lebih berbahaya daripada serangan pertama. Setelah berjam-jam mencari, Arya Kertajaya dan pasukannya akhirnya menemukan Ki Jagabaya di sebuah gua tersembunyi di tepi sungai suci.

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 211: KEKUATAN BARU RAKA

    Setelah Dyah Sulastri jatuh ke dalam koma, medan perang terasa semakin sunyi bagi Raka. Tubuhnya masih gemetar karena kelelahan dan emosi yang memuncak. Ia berlutut di tanah, memegang tubuh tak berdaya sang putri dengan erat, air mata mengalir deras di pipinya."Kenapa harus seperti ini?" gumamnya pelan, suaranya penuh rasa bersalah dan kemarahan. "Kenapa aku tidak bisa melindungimu?"Pasukan loyalis mencoba mendekat untuk membawa Dyah Sulastri ke tempat aman, tetapi Raka menolak mereka dengan gerakan tangan yang tegas. Matanya kosong, namun di dalam dirinya, api kemarahan mulai menyala. Ia merasakan sesuatu yang baru—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Angin dingin berdesir, membawa aroma belerang yang semakin kuat. Penyihir gelap muncul kembali, tertawa dingin di tengah kabut hitam yang menyelimuti medan perang. "Lihatlah dirimu, Raka," ejeknya. "Kau

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 210: DYAH SULASTRI MENGORBANKAN DIRI LAGI

    Pertempuran besar di luar istana mencapai puncaknya. Suara senjata yang beradu, teriakan prajurit, dan raungan makhluk gaib menggema di udara malam. Api melahap beberapa sudut benteng, sementara asap hitam membumbung tinggi ke langit, menyelimuti medan perang dalam kabut pekat. Pasukan bayangan Ki Jagabaya dan sekutunya dari dunia gaib terus menyerang tanpa henti, memanfaatkan setiap celah dalam pertahanan kerajaan.Di tengah medan perang yang kacau, Raka berdiri di garis depan, menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Meskipun ia berhasil menahan serangan-serangan awal, kekuatannya mulai terasa melemah. Ia merasakan energinya terkuras habis dengan cepat, membuat tubuhnya semakin goyah.Penyihir gelap muncul di tengah medan perang, dikelilingi oleh kabut hitam yang pekat. Matanya bersinar seperti bara ap

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 209: PENYIHIR GELAP MENGAMUK

    Medan perang yang sudah penuh dengan kekacauan semakin memanas saat penyihir gelap muncul di tengah-tengah pertempuran. Tubuhnya dikelilingi oleh energi hitam pekat yang mengintimidasi, dan matanya berkilat merah seperti bara api. Ia melangkah maju dengan gerakan anggun namun menakutkan, seolah-olah seluruh dunia ada dalam kendalinya."Kalian semua telah bermain cukup lama," katanya dengan suara dingin yang menusuk. "Sekarang, saatnya kalian membayar harga atas perlawanan kalian."Penyihir itu mengangkat kedua tangannya, menciptakan pusaran energi hitam besar di udara. Pusaran itu mulai melepaskan serangan sihir yang menghantam barisan pasukan loyalis, menyebabkan banyak prajurit terpental dan jatuh tak bernyawa. Para makhluk gaib yang setia kepada kerajaan pun terlihat kesulitan menghadapi kekuatan gelap ini.

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 208: ARYA KERTAJAYA MENYELAMATKAN MEREKA

    Langit di atas medan perang mulai menghitam, tertutup awan tebal yang menandakan kemarahan alam. Angin dingin berhembus kencang, membawa aroma darah dan belerang yang menebal seiring dengan intensitas pertempuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya terus melancarkan serangan brutal, sementara makhluk gaib dari kedua pihak saling bertarung tanpa ampun.Di tengah kekacauan, Raka masih mencoba mengatur napasnya setelah menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Namun, energinya hampir habis, dan ia merasa dirinya tidak lagi mampu melawan jika serangan baru datang. Dyah Sulastri berdiri di sampingnya, mata hijaunya penuh dengan kekhawatiran."Kau harus istirahat," bisik Dyah pelan. "Kekuatanmu sudah mencapai batasnya."Raka menggeleng lemah. "Aku tidak bisa berhenti sekarang. Jika aku berhenti, kita semua akan mati."Sebelum mereka sempat melanjutkan percakapan, sebuah suara raungan keras memenuhi udara. Sebuah Genderuwo raksasa muncul dari

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 207: RAKA MENGGUNAKAN KEKUATANNYA

    Pertempuran di luar istana telah berubah menjadi badai kehancuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya yang dipersenjatai dengan senjata mistis dan sihir hitam terus menggempur pertahanan kerajaan. Makhluk-makhluk gaib seperti Banaspati, Buto Ijo, dan Genderuwo juga turut berperang, masing-masing memilih pihak mereka. Di tengah kekacauan itu, Raka berdiri di garis depan, masih mencoba memahami situasi yang semakin tak terkendali. Angin malam membawa aroma belerang yang menusuk, sementara cahaya bulan redup tertutup awan kelabu. Suara gema tombak dan pedang bergesekan dengan energi spiritual memenuhi udara. Raka merasakan tubuhnya bergetar hebat. Dalam beberapa hari terakhir, ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh terjadi padanya. Sejak ritual gaib yang dipimpin Dyah Sulastri di bab sebelumnya, ia merasakan aliran energi aneh di dalam dirinya—seperti gelombang panas yang melingkupi seluruh tubuhnya. Awalnya, ia mengabaikannya sebagai efek sam

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status