"Ah, karena gelang yang Bapak pake itu ya Pak? Satu gelang kayu gaharu, satunya gelang hitam. Siapa yang berani bikin Pak Ryu semati rasa ini sampe random banget ngajak nikah saya?" Ryu memalingkan wajahnya, "Ada," jawabnya getir., 'kamu, Azura.' Ia isap lagi dalam-dalam rokoknya, "Jangan nyari tau yang nggak perlu kamu tau," cegahnya. "Semoga lekas sembuh deh buat hatinya Pak Ryu, jadi bisa kali nanti ngelirik ke saya. Seumur hidup itu lama lho, siapa tau tertarik nyobain suka atau cinta ke saya sebagai istrinya," kekeh Rara. Ryu tertawa juga mendengar ucapan Rara, "Seumur hidup juga saya bakalan tahan," katanya yakin. "Tapi kalau ada yang nanyain anak gimana? Kita harus bikin kan?" "Heh! Bikin, bikin, ngawur," hampir Ryu tersesak ludahnya. "Maksudnya, bakalan aneh kalau kita nikah tapi nggak punya anak
Ryu mengangguk lemah, "Ada peristiwa besar yang bikin kamu begini, Azura," katanya memejamkan mata, tidak mau terlihat lemah dan rapuh di depan Rara. Setitik air mata Rara jatuh. Hening yang semula menyelimuti sekitar keduanya, diisi isak Rara yang menyayat. Satu hal yang membuat Rara begitu merasa jatuh ke dasar samudera, ia lupa pada apa yang membuatnya menjadi semenyedihkan ini. Selama ini yang ia yakini sebagai kecelakaan justru tak pernah terjadi. "Apa orang gila yang bikin Pak Ryu mati rasa itu saya?" bisik Rara memberanikan diri. Ia menahan napasnya sendiri, takut dikatai sok percaya diri oleh sang atasan. "Boleh saya sepercaya diri ini dan merasa penting buat orang sehebat Bapak?" Ryu tampak memijat pelipisnya, "Ayo balik hotel, bentar lagi sahur. Kita cari makan buat sahur sekalian," ajaknya tak menjawab pertanyaan Rara. "Pak," Rara meraih pergelangan tan
SMP Harapan Kita, 11 tahun lalu .... "Bang Ryu sering-sering main kebun ya, jengukin Mama Ayang ke sini," ucap Mayang, mengusap lengan Ryu lembut. "Iya Tante," jawab Ryu singkat, seperti biasanya. "Mana mau dia ke sini jengukin Mbak Mayang, kecuali ketemu sama yang itu tuh Mbak," ledek Mika mengedikkan dagunya pada seorang gadis berseragam SMP yang datang dari arah kelasnya. "Rara, Ketua OSIS cantik kita," bisik Mayang takjub. "Anak kamu udah gede ya Mik," gumamnya gemas. "Bentar ya Ma," pamit Ryu sadar bahwa Rara mendekat untuk mendatanginya. "Mas," senyum Rara terkembang, ia ikuti Ryu yang mengajaknya ke taman samping kelas 9C di mana ada beberapa kursi kayu yang diletakkan di sana. "Pulang Jakarta hari ini Mas?" tanyanya. Ryu mengangguk, "Pesawat jam 2 siang," ujarnya lalu duduk di kursi kayu. "Bawa apaan itu?" tunjuknya pada bungkusan di pangkuan Rara. "Kroket
"Bang! Bang Ryu!" Reiga, anak bungsu dari pasangan Mika dan Rain, si tampan tengil yang mewarisi kepribadian ibunya ini mengguncang pundak sang kakak sulung kencang. "Apaan?" Ryu mengangkat kepalanya malas-malas. "Lo tinggal di hutan begini? Betah?" gumam Reiga mengitarkan pandangan, "ih, gue ogah nerima warisan kebun, lo aja," tukasnya. "Makanya, biar lo betah, lo belajar tinggal di sini," ujar Raya, si cantik anak kedua. "Lo aja Kak, gue yang pegang udud," gumam Reiga nyengir. "Gue lahir duluan, menang milih ya! Dan gue milih pabrik rokok! Nggak bisa diganggu!" sengal Raya tak terima. "Mau berdebat apa mau turun kalian?" tanya Ryu bangun dari posisi setengah berbaringnya. "Mas Jaka jangan langsung pulang, saya udah minta Mbak Susi nyiapin makan," ujarnya pada sang sopir. "Bang, udah mau maghrib emang sehoror ini rumah lo?" tanya Reiga b
"Kamu juga minum," ucap Ryu datang dari dapur seraya membawa satu nampan es teh untuknya dan Rara. Di jemari kirinya ia menenteng kroket buatan Rara, kroket yang sangat dirindukannya. "Bapak nggak buka puasa dulu bareng adek-adek?" tanya Rara. "Abis perjalanan jauh juga, Pak." "Saya biasa ngemil doang, nanti setelah salat tarawih baru makan berat," jawab Ryu. "Kamu ke sini cuma mau nganter makanan? Nggak ada hal laen? Urusan kerjaan?" tanya Ryu curiga. "Saya denger Bapak mau dateng bareng Mbak Raya dan Mas Reiga, makanya saya sengaja masak rendang daging rusa," jawab Rara. "Saya bareng Mas Jaka aja Pak," pamitnya berdiri buru-buru karena ia melihat Jaka sudah masuk ke dalam mobil, "Permisi ya Pak," ujarnya. "Hei," sigap, Ryu lagi-lagi menahan pergelangan tangan Rara. "Ada apa? Kamu ada yang mau disampein?" tanyanya sangat peka. Rara terdiam, ditatapnya Ryu sebentar, bibirnya bergetar, air mata itu akhirnya tu
"Makasih Pak," ucap Rara menyempatkan diri untuk berbalik. "Bapak jadi harus repot nganter saya," katanya jauh lebih tenang dari sebelumnya. "Kamu udah lebih baik?" tanya Ryu sambil duduk di ruang tamu rumah dinas Rara. "Jauh lebih baik. Pak Ryu mau saya bikinkan es kopi?" tawar Rara. "Boleh." Rara mengangguk, bergegas ke dapur untuk membuatkan Ryu minuman. Tak sempat menikmati makanan berat untuk berbuka puasa, Ryu lebih dulu mengantar Rara pulang ke rumahnya. Ia tahu Rara berusaha keras untuk tidak terlihat rapuh, tapi gadis ini pasti syok karena pernyataan ibu tirinya. Apalagi perkataan Bu Endah benar-benar tidak terprediksi. Beruntung Rara tidak kalut dan histeris karena syok. "Silahkan Pak," Rara kembali dari dapur dengan segelas es kopi kesukaan Ryu. Ada satu toples kue sagu keju melengkapi jamuannya. "Makasih," balas Ryu segera mengambil gelas yang Rara ulurkan. "Pencuri nggak neror lagi ka
"Sudah pernah makan daging rusa sebelumnya, Pak?" tanya Rara penasaran. "Sudah, tapi nggak diolah begini," jawab Ryu. "Enak nggak Pak masakan saya?" "Hem?" Ryu sibuk mengunyah. "Enak enggak?" "Rasa rendang." Rara berdecak, "Ambigu artinya." "Saya nggak mungkin bilang rasa soto kan?" gumam Ryu gengsi, padahal ia sudah hampir menuntaskan isi piringnya tanpa sisa. "Ngolah daging rusa itu tricky sih Pak, makanya saya takut nggak sesuai sama lidah mewah Pak Ryu." "Lidah mewah?" dahi Ryu berkerut, ia dorong piring kosongnya ke tengah meja, "daging rusa itu hidangan mewah, Azura," tandasnya. Jadi nggak terkira harganya karena kamu yang masak. "Kroket kentangnya, saya mau lagi," tambahnya menunjuk dua buah kroket kentang yang tersisa. "Cuci mulut?" Rara sigap mengambilkan piring kroketnya untuk Ryu. "Pengganti rokok," ungkap Ry
"Hei, kita seumuran tauk, jangan curiga gitu ngeliatnya!" tegur Raya menunjuk wajah kakak tampannya. "Terus kalau seumuran kenapa? Rara ada di dunia yang berbeda dari lo," ucap Ryu berkacak pinggang. "Tapi selera drama Korea kita sama kok Pak," sanggah Rara ikut bersuara. "Pak? Mbak, kamu calon istrinya Bang Ryu lho, nggak ada panggilan yang lebih mesra?" sela Raya merasa aneh. "Ini di jam kantor, kami profesional!" sergah Ryu membela calon istrinya. "Halah, halah, ngomong aja lo menindas Mbak Rara kan Bang? Nggak boleh begitu! Nggak di kantor ini, lagi di pusat perbelanjaan dan ini udah buka puasa, udah sore, jam kerja udah abis, jangan diktator amat sama calon istri!" larang Raya galak. "Pak Ryu, maksudku Mas Ryu baik kok," bela Rara. "Dahlah, kalian berdua emang cocok." Raya beranjak, "Ayok Mbak, kita cari kebutuhan seserahannya dulu," ajaknya. Rara i
"Aku nggak ngerti," lirih Rara, tatapannya nanar ke arah jalanan di luar sana di mana pintu utama memang sudah sengaja dibuka oleh Susi. "Aku nggak ngerti," ucapnya lagi, memegangi kepalanya. "Kepalaku sakit," rintihnya tiba-tiba menangis, kesulitan bernapas. Cepat-cepat Ryu membopong istrinya. Namun, bukannya dibawa masuk ke dalam kamar, Ryu justru membawa istrinya keluar rumah menuju dermaga kecil di dekat guest house. Beruntung ini adalah akhir pekan, tetangga sekitar banyak yang sudah turun ke Sampit sore kemarin. Jadi, suasana di sekitar rumah Ryu cukup sepi dan Rara tak mendapat banyak perhatian. Air danau yang sedikit surut juga membuat tak banyak pencari ikan mendatangi sekitar guest house. "Yang tenang ya, kamu nggak harus memaksa diri kamu, Azura," ucap Ryu menurunkan Rara di ujung dermaga. Ia ikut duduk di lantainya sambil memeluk sang istri. "Liat, duniamu luas Azura, kamu nggak boleh terjebak sama masa lalu gila yang nggak perlu kamu inget," ujarnya. Rara masih ber
"Pagi Pak!" sapa Rara ketika Ryu keluar dari kamar tamu, kamar yang sebelumnya ditempati oleh Rara. Ryu menggaruk kepalanya, masih berusaha menyadarkan dirinya. Hari masih gelap, Ryu bangun agak kesiangan karena semalam ia menunggui Rara terlelap hingga pukul 00.30. Rara tampak duduk di ruang tamu, senyumnya terkembang. "Pagi," jawab Ryu sekenanya. Ia meregangkan tubuhnya sambil menguap santai. "Pak?" teriaknya kaget tiba-tiba. "Barusan manggil aku apa? Pak?" ulangnya reflek berbalik ke arah Rara. Senyuman Rara masih terpatri, ia mengangguk, "Pak GM kan?" tebaknya. "Kamu inget?" Ryu langsung mendekat. "Kata Mbak Susi," jawab Rara. "Mbak Susi cerita tadi ke aku kalau Mas yang udah nolongin aku selama aku hancur sejauh ini. Aku juga ditampung di sini di saat Ayah nggak peduli," tambahnya. Ryu lemas seketika, "Kukira kamu inget," desahnya kecewa. "Makasih Pak GM, udah bantu aku buat bertahan sampe sekarang. Padahal ini bukan tanggung jawab perusahaan," ucap Rara sangat po
"Ayah ke mana?" tanya Rara tersadar. "Pak Darwis di Sampit, kamu lupa Ayah udah nikah lagi?" tanya Ryu balik, pelan-pelan menuntun ingatan Rara. Rara terpana, untuk beberapa saat ia terdiam sambil menutup mata. Tidak ada yang bisa ia ingat dari lelaki di depannya ini, tapi kenapa memori tentang ayahnya yang menikah lagi juga tidak ia temui? Meninggalnya sang bunda menjadi luka yang tak bisa Rara lupakan, dan kehadiran Bu Endah adalah luka lain baginya tapi masih bisa ia atasi. "Ayah nikah sama perempuan yang udah ngasih aku minuman aneh itu kan?" gumam Rara, tatapannya tampak kosong sekarang. "Kamu inget itu?" "Aku nggak bakalan lupa. Mas, kenapa dia beginiin aku? Kenapa dia jahat?" Ryu menghela napas sabar, ia raih jemari Rara dan digenggamnya jemari istrinya itu. "Aku boleh cerita?" tanya Ryu meminta ijin. "Boleh," jawab Rara lagi-lagi mengangguk. "Namanya Bu Endah, dulu satu SMA sama ayah kamu, mantan pacar lebih tepatnya," mulai Ryu hati-hati. Ia menghela napas sebentar,
Tiga hari lamanya, Ryu berperan sebagai orang asing untuk Rara. Praktis, selama 3 hari itu pula, Rara tidak bisa bekerja hingga Ryu terpaksa memberi istrinya cuti tahunan. Ryu juga meminta HRD untuk menugaskan Elok, personal assistant manajer operasional untuk menggantikan posisi Rara sementara. Kabar cepat merebak tapi Ryu tidak menganggapnya dan memilih fokus pada proses penyembuhan Rara. "Sudah makan, sudah mandi dan sepertinya, Mbak Rara suasana hatinya baik sekali hari ini, Pak," lapor Susi saat Ryu pulang dari GMO menjelang senja. "Dia nggak ngaco lagi kan Mbak ngomongnya?" tanya Ryu sambil melepas jasnya, ia langsung menuju ke kamar, melihat keadaan sang istri. "Enggak Pak, seperti kemarin, Mbak Rara udah nggak bilang mau mati lagi," jawab Susi. "Oke Mbak, biar saya yang temenin Rara. Mbak bisa bersih-bersih, kalau Mbak pengin mandi dan makan," ujar Ryu. Susi mengangguk, ia segera ke dapur meletakkan bekas piring yang tadi ia gunakan untuk membawakan Rara camilan, lal
"Mbak Rara sudah saya lap tubuhnya Pak, sudah tiduran dan sudah tidak menangis," lapor Susi sekembalinya Ryu dari pinggir danau. "Oke, makasih Mbak," jawab Ryu lega. "Saya masakin untuk makan malam ya Pak, seadanya bahan," ucap Susi lagi, meminta ijin. "Tadi saya minta Jaka belikan makanan untuk siang ini Mbak, sebelum masak, tolong suapin Rara dulu," pinta Ryu. "Oh, iya Pak, siap," Susi segera berbalik menuju dapur. Ryu mengekor Susi yang masuk ke kamarnya untuk menyuapi Rara. Ia sengaja menjaga jarak agar Rara tidak histeris melihatnya. Wajah Rara sudah lebih cerah, Susi sudah merapikan rambut dan mengganti pakaiannya. "Mbak Rara, makan dulu ya," bujuk Susi ceria. Rara spontan menggeleng, "Mau mati aja," katanya. "Heh, mau apapun itu, harus makan dulu, Mbak Susi bantu ya," kata Susi tak menyerah. Sorot mata Rara yang tadinya kosong menatap keluar jendela, akhirnya berpindah menatap pada Susi. Air matanya mengalir, tapi ia tidak meracau, hanya bibirnya saja yang bergetar me
"Kenapa kamu pengin mati?" Luna, dokter jiwa yang sejak bertahun-tahun lalu menangani Rara akhirnya didatangkan Ryu ke kebun. Mengingat kondisi Rara yang tidak mungkin untuk dibawa perjalanan jauh ke Sampit, Ryu meminta Jaka untuk menjemput Luna. Rara masih mengisolasi diri dan tak mau didekati lelaki, ia melempar apapun yang bisa dijangkaunya untuk menghalau Ryu saat berusaha mendekat. Baru ketika Luna datang, Rara menjadi lebih tenang. "Mau mati," jawab Rara lirih, pandangannya kosong, penampilannya sangat berantakan. "Kamu takut hidup sendiri ya?" tebak Luna berusaha untuk bertanya dengan santai. "Aku nggak mau hamil, nggak mau hidup, nggak mau semuanya," ucap Rara. "Tapi ada yang pengin kamu tetep hidup dan ada di sisinya," Luna menghela napas panjang. "Coba kamu inget Ra, ada seseorang yang sangat bisa kamu andalkan, sangat mencintai kamu. Ada nggak di ingatanmu tentang orang itu?" pancingnya. "Nggak! Dia nggak boleh tau! Dia nggak boleh liat aku begini. Aku kotor, menjiji
"Bundaaa," rintih Rara tak berdaya. Saat ia membuka mata, tubuhnya diseret begitu saja melewati semak, meski tak kuat, ia masih memiliki keinginan untuk melawan. "Pukul aja kepalanya!" perintah sebuah suara lain yang baru saja datang. Perlahan Rara mencoba membuka matanya, seragamnya sudah compang-camping sobek, roknya susah tersingkap. Saat itulah ia juga sadar bahwa ada 5 orang lelaki di sekitarnya, mengerubunginya. Satu orang sudah berlutut di depan Rara, siap menindih Rara yang setengah sadar. Air mata Rara mengalir, suaranya sudah tenggelam dalam rasa nelangsa yang tanpa akhir. Pening di kepalanya semakin terasa saat ia mendengar tawa dan obrolan vulgar orang-orang yang merudapaksanya. Tak ada lagi kekuatan Rara untuk sekadar membuka mata, tubuhnya digerayangi pun Rara seperti mati rasa. Kepalanya lalu dihantam sebuah benda keras, kesadaran Rara menghilang. *** "Bunda!" seru Rara seketika bangun dari posisi tidurnya dengan mata nyalang ketakutan. "Azura," panggil Ryu
"Kenapa motornya, Dek?" Jepi, buruh panen lepas berbadan kurus kecil tapi bertato ini mendekat ke arah Rara yang tengah mengamati motor mogoknya. "Kayaknya habis bensin, Om," jawab Rara tanpa rasa curiga. "Lhoh? Emang mau ke mana?" Randu, si tambun dengan kumis tipis dan menenteng 'dodos' di tangannya ikut keluar dari sawitan, menghampiri Rara. "Mau ambil paketan ke GMO, Om," balas Rara ramah. "Lha kok sendirian, nggak takut? Rumahnya mana?" tanya Jepi lagi, pura-pura ikut mengamati motor yang dibawa Rara. "Rumahnya di Borneo Capital Om," gumam Rara. "Oh, iya, habis ini bensinnya. Kami ada bawa tapi motornya di blok I, mau dipake?" tawar Randu. "Boleh kah ulun pake, Om?" tanya Rara mengakrabkan diri. "Boleh, tapi kamu ambil sendiri ke sana ya, kami mau panen sawit lagi ini," ucap Jepi. Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Rara mengangguk setuju. Kondisi di tengah hutan sawit, masih setengah jalan sampai ke tujuan, bantuan dari Jepi dan Randu adalah keajaiban yang tidak
Rara menggigit bibir bawahnya sensual saat Ryu menegakkan tubuh untuk melepas kemejanya. Tubuh Ryu selalu menarik, apalagi hiasan tato nama Rara yang terpatri di dadanya itu, sungguh lambang kesetiaan yang tiada duanya."Tato ini, namaku kan Mas?" tanya Rara meraba dada Ryu hati-hati. "Emang ada lagi perempuan bernama Lembayung selain kamu? Nama itu khas dan langka, jelas itu nama kamu. Mau kubikin pake nama lengkap kepanjangan, sakit," ujar Ryu setengah bercanda. Dikecupinya leher Rara lembut, mengembus napas hangatnya. "Ih, gitu deh," Rara mencembikkan bibirnya. Tak menanggapi sang istri, Ryu bergerak lagi. Ia loloskan t-shirt yang Rara kenakan hingga menampilkan bra warna abunya yang penuh. Kecupannya di leher Rara perlahan semakin turun, tulang selangka, kemudian menghirup aroma manis tubuh istrinya dalam-dalam. Baru setelahnya, tangan Ryu terampil melepas kaitan bra hingga Rara spontan menopang lenga