Beberapa hari kemudian, kondisi Alya semakin membaik. Wajahnya yang sebelumnya pucat kini mulai kembali berseri. Dengan istirahat yang cukup dan perawatan yang intensif, dokter akhirnya menyatakan bahwa Alya sudah sehat dan siap untuk menjalani terapi kaki secara rutin mulai besok.
Di dalam kamar rumah sakit, Raditya duduk di samping tempat tidur Alya, menggenggam tangannya dengan lembut. Ia menatap istrinya dengan penuh perhatian.
"Sayang, sekarang kamu sudah lebih baik. Aku ingin bertanya, setelah keluar dari sini, kamu mau pulang ke mansion atau ke penthouse-ku saja?" tanya Raditya, suaranya lembut namun penuh harap.
Alya tersenyum kecil, menatap suaminya dengan penuh kasih. Ia tahu Raditya ingin menjaganya lebih dekat, namun ia telah memikirkan sesuatu.
"Aku ingin pulang ke mansion saja, Radit. Untuk sementara ini, aku ingin lebih dekat dengan Bunda Liliana," jawabnya dengan nada tenang.
Raditya terdiam sejenak, kemudian mengangguk. "Baiklah, k
Hari-hari Alya kini lebih banyak dihabiskan di mansion bersama Bunda Liliana. Ia merasa nyaman berada di tengah keluarga yang kini menerimanya dengan penuh kasih sayang. Namun, terkadang ia merasa bosan karena tidak bisa terlalu aktif seperti sebelumnya. Meski begitu, ia tetap bersyukur karena setiap tiga hari dalam seminggu, ia keluar untuk menjalani terapi kakinya.Suatu pagi, saat sarapan bersama di ruang makan, Alya melirik Raditya yang duduk di sampingnya. Ia tahu ini adalah saat yang tepat untuk memulai rencana ‘Misi Mendekatkan’nya."Radit, bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama keluarga? Aku ingin kita semua berkumpul," ujar Alya sambil menatap Raditya dengan harapan.Raditya mengangkat alis. "Kita selalu makan malam bersama, Sayang. Apa bedanya kali ini huum..?"Alya tersenyum kecil. "Aku ingin suasananya lebih santai. Hanya keluarga kita saja, tanpa formalitas. Mungkin kita bisa mengobrol lebih banyak?"Raditya mel
Malam yang seharusnya menjadi momen mendekatkan hati, kini berubah menjadi malam penuh kepanikan.Di rumah sakit, Raditya berjalan mondar-mandir di depan ruang IGD. Wajahnya tampak tegang, sesekali ia melirik ke arah ruangan tempat Pak Darian dirawat. Jantungnya berdetak kencang, dadanya terasa sesak melihat pria yang selama ini ia anggap sebagai orang asing kini terbaring lemah.Alya yang duduk di bangku menatap suaminya dengan penuh perhatian. Ia memahami gejolak perasaan Raditya saat ini. Perlahan, ia bangkit dan menghampiri Raditya, menggenggam tangannya lembut."Radit, duduklah sebentar. Kamu sudah berjalan mondar-mandir sejak tadi," ujar Alya dengan suara lembut.Raditya menggeleng, menatap Alya dengan mata yang sedikit merah. "Aku tidak bisa tenang, Alya. Aku tidak menyangka Bapak bisa jatuh sakit seperti ini."Bunda Liliana yang sejak tadi duduk terdiam akhirnya angkat bicara. "Bunda juga tidak menyangka. Padahal, tadi sore dia terlihat bai
Pagi itu, Alya duduk di kursi taman belakang rumah Kakek Bakhtiar. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, tetapi hatinya terasa berat. Raditya duduk di sampingnya, ekspresi waspada terpampang jelas di wajahnya. Kakek Bakhtiar, pria tua yang selalu bijaksana, menatap mereka dengan sorot mata berat. Alya bisa merasakan sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang akan mengubah segalanya."Kek, ada apa sebenarnya?" Alya bertanya, suaranya dipenuhi kegelisahan.Kakek Bakhtiar menarik napas panjang, seakan berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara. "Alya, ada sesuatu yang selama ini kusimpan darimu. Dan aku rasa, ini saatnya kamu tahu." Ia menatap Raditya sejenak sebelum melanjutkan. "Ini tentang ayah dan ibumu," terang Pak Bakhtiar.Alya menelan ludah, hatinya mulai dipenuhi kecemasan. "Apa maksud Kakek? Aku tahu ibu meninggal saat aku masih kecil, dan ayah..." Ia terdiam, dadanya terasa sesak mengingat sosok yang begitu ia rindukan.Kakek Bakhtiar mengangguk p
Suara motor semakin dekat, dan Raditya segera menarik tangan Alya. "Kita harus masuk ke dalam rumah!" suaranya tegas, penuh urgensi."Tunggu! Tapi mereka- " Alya menoleh, melihat wajah Kakek Bakhtiar yang tetap tenang meskipun situasinya mencekam."Jangan khawatir, Nak. Rumah ini aman. Ada pengawal yang berjaga di setiap sudut." Kakek Bakhtiar menatap Raditya. "Kita masuk sekarang."Raditya mengangguk, lalu menggenggam tangan Alya erat, membawanya masuk ke dalam rumah mewah milik Kakek Bakhtiar. Begitu mereka melewati pintu utama, dua pria bertubuh kekar segera menutupnya dengan cepat dan mengunci dari dalam. Pintu kayu jati itu berat dan kokoh, memperkuat kesan bahwa rumah ini memang bukan tempat yang mudah ditembus.Rumah Kakek Bakhtiar dipenuhi kemewahan yang klasik. Langit-langit tinggi dengan lampu kristal bergantungan, lantai marmer yang bersih mengkilap, serta aroma kayu cendana yang menyebar di seluruh ruangan. Namun, meskipun megah, suasana saat ini terasa begitu mencekam. Se
Suara langkah kaki yang cepat menggema di lorong rumah. Alya menahan napas, tubuhnya menegang di samping Raditya. Apakah penyusup sudah berhasil masuk ke dalam rumah?Namun, sebelum kecemasan semakin menyelimuti, seorang pria bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam muncul dari balik lorong. Salah satu pengawal Kakek Bakhtiar. Napasnya sedikit memburu, tetapi wajahnya tetap tenang."Pak, penyusup sudah berhasil dilumpuhkan," lapor pria itu dengan suara mantap. "Dia sekarang berada di ruangan bawah tanah."Alya mengerutkan kening, masih berusaha mencerna informasi tersebut. "Ruangan bawah tanah?" Ia menoleh ke arah Kakek Bakhtiar. "Kakek punya ruangan bawah tanah di rumah ini?"Kakek Bakhtiar hanya tersenyum tipis, ekspresinya tenang seperti biasa. "Ada banyak hal yang belum kamu ketahui tentang rumah ini, Nak."Alya masih terpaku, pikirannya berputar cepat. Ruangan bawah tanah? Seberapa besar tempat itu? Untuk apa dibangun? Dan... mengapa penyusup
Suara alarm masih menggema di seluruh rumah, tetapi Kakek Bakhtiar tetap berdiri tenang di depan penyusup yang terikat di kursi besi. Raditya, di sisi lain, mencoba menahan emosinya. Matanya menatap tajam pria di hadapan mereka, yang meskipun terluka, masih berani menyeringai."Aku akan bertanya sekali lagi," suara Raditya terdengar dingin dan mengancam. "Siapa yang mengirimmu?"Pria itu mendengus kecil, kepalanya sedikit menunduk seolah berpikir. "Apa aku terlihat seperti orang yang mudah bicara?" tanyanya dengan nada mengejek.Raditya menggeram, nyaris kehilangan kesabaran, tetapi Kakek Bakhtiar mengangkat tangan, memberi isyarat agar ia tetap tenang. Lalu, dengan suara rendah dan terkontrol, Kakek Bakhtiar berbicara, "Nak, aku sudah lama berurusan dengan orang seperti dia. Jika kau ingin seseorang berbicara, kau harus tahu titik lemahnya."Kakek Bakhtiar kemudian berjalan mendekat, menatap dalam ke mata penyusup itu. "Kau mungkin berpikir bisa bertahan
Suara tembakan menggema di seluruh rumah. Raditya segera menarik Kakek Bakhtiar ke sudut ruangan, memastikan posisi mereka aman sebelum melangkah lebih jauh."Kita harus keluar dari sini," kata Raditya cepat. "Mereka pasti datang untuk membebaskan orang ini!"Kakek Bakhtiar mengangguk tegas, lalu menoleh pada salah satu pengawalnya yang baru masuk. "Kondisi di luar bagaimana?""Mereka mencoba masuk lewat gerbang belakang, Pak. Tapi pasukan kita sudah menghadang mereka. Beberapa dari mereka bersenjata lengkap," lapor pengawal itu dengan suara tegang.Raditya mengepalkan tangannya. "Kita tidak bisa biarkan mereka menang. Siapkan tim untuk mengamankan penyusup ini. Aku akan lihat situasi di atas.""Raditya," panggil Kakek Bakhtiar. "Jangan gegabah. Mereka datang bukan hanya untuk menyerang, tapi juga menyampaikan pesan."Raditya mengangguk singkat sebelum berlari keluar ruangan, meninggalkan Kakek Bakhtiar dan pengawal di dalam ruangan bawah ta
Asap hitam masih mengepul dari mobil yang terbakar, menciptakan aroma menyengat yang menusuk hidung. Suara alarm rumah terus berbunyi, bercampur dengan teriakan dan langkah kaki para pengawal yang segera mengamankan situasi. Raditya menatap sisa-sisa kendaraan yang meledak, matanya menyipit, pikirannya penuh pertanyaan. Cahaya api yang memantul di wajahnya semakin menegaskan amarah yang mulai membara di dadanya."Dia benar-benar nekat," gumam Alya, masih terengah-engah, tangannya sedikit gemetar. "Hans lebih memilih mati daripada tertangkap," lanjut Alya kemudian.Kakek Bakhtiar menghela napas berat, tatapannya redup. "Atau lebih tepatnya, dia takut bicara," ujar sang kakek.Raditya mengangguk pelan, rahangnya mengeras. "Pertanyaannya sekarang adalah... siapa yang begitu menakutkan sampai Hans lebih memilih bunuh diri?" tanya Raditya.Seorang pengawal datang menghampiri mereka, wajahnya penuh kehati-hatian dan keringat dingin membasahi pelipisnya. "Pak, k
“Akhirnya sampai juga.”Alya melangkah keluar dari pesawat jet pribadi yang baru saja mendarat di Bandara Nusant. Ia merapatkan coat tipisnya saat angin malam menyapu kulitnya. Raditya turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan untuk membantunya.“Lelah?” tanyanya sambil menggenggam jemari Alya erat.Alya mengangguk kecil. “Sedikit. Tapi aku lebih ingin segera sampai di rumah.”Raditya tersenyum, lalu melingkarkan lengannya di bahu Alya, membawanya berjalan menuju mobil mewah yang sudah menunggu di landasan.Di dalam mobil, Alya menyandarkan kepalanya ke jok dengan nyaman. “Kangen juga sama Nusant.”“Dan penthouse kita,” tambah Raditya. Ia melirik Alya yang sudah memejamkan mata. “Tidurlah sebentar, sayang. Aku akan membangunkanmu kalau sudah sampai.”Tak butuh waktu lama, mobil mereka meluncur melewati jalanan kota Nusant yang berkilauan oleh lampu-lampu gedung pencakar langit. Dalam hitungan menit, mereka sudah memasuki area eksklusif tempat penthouse mereka berada. Raditya menggoyan
Matahari pagi menyinari Mansion keluarga Wiranagara dengan lembut, seakan ingin menghangatkan suasana yang penuh haru. Di ruang keluarga, Alya dan Raditya duduk bersama Bunda Clarissa, Kakek Bakhtiar, dan Nenek Aiko. Hari ini, mereka akan berpamitan.Nenek Aiko menggenggam tangan Alya erat, matanya berkaca-kaca. "Sayang, seminggu terasa begitu cepat. Nenek masih ingin bersama kalian lebih lama."Alya tersenyum lembut. "Aku juga, Nek. Rasanya belum cukup waktu untuk menghabiskan momen bersama kalian. Tapi... ini bukan perpisahan selamanya."Raditya menatap neneknya dengan penuh kasih. "Nenek harus menjaga kesehatan. Jangan lupa minum obat dan makan makanan sehat, ya."Nenek Aiko mengangguk pelan. "Tentu sayang, tentu. Jika nenek sudah sehat, nenek akan ke Nusant mengunjungi kalian."Alya menggenggam tangan neneknya. "Semoga kondisi nenek semakin sehat, hingga kita bisa bertemu kembali di Nusant ya, Nek."Bunda Clarissa menatap menantunya dengan penuh kehangatan, lalu tersenyum jahil. "
Alya menyandarkan kepalanya di bahu Raditya, menikmati semilir angin pagi yang menyentuh kulitnya dengan lembut. Sementara itu, Raditya menggenggam tangannya erat, seakan meyakinkan bahwa kebahagiaan ini akan bertahan selamanya."Radit, sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Alya, mencoba mencari tahu rahasia yang disimpan suaminya.Raditya tersenyum penuh misteri. "Kalau aku kasih tahu sekarang, nggak seru dong. Yang jelas, kamu pasti suka."Alya mengerucutkan bibirnya. "Kamu selalu suka bikin aku penasaran."Raditya tertawa kecil dan mencubit ujung hidung Alya. "Karena kamu selalu terlihat lucu kalau penasaran."Alya mendengus pelan, tapi tak bisa menahan senyum. "Baiklah, aku ikut saja. Tapi kalau ternyata aku nggak suka tempatnya, siap-siap ditagih kompensasi.""Siap, Nyonya Raditya," jawab Raditya santai.Setengah jam kemudian, mereka sudah bersiap dan masuk ke dalam mobil. Raditya yang menyetir, sementara Alya duduk di sebelahnya, sesekali melirik ke arah suaminya yang terlihat ten
Setelah cukup lama berendam dalam kehangatan, Alya menyandarkan kepalanya ke dada Raditya, merasa begitu nyaman dalam pelukannya."Radit..." panggilnya pelan."Hmm?" Raditya merespons sambil mengusap lembut lengan istrinya di bawah air."Kita bisa seperti ini terus nggak?" tanya Alya, suaranya terdengar sedikit mengantuk.Raditya terkekeh kecil. "Maksudmu berendam terus di bathtub? Bisa sih, tapi nanti kita jadi ikan," canda Raditya.Alya tertawa kecil dan mencubit lengan suaminya. "Bukan itu maksudku. Maksudnya, bisa nggak kita terus bahagia kayak gini?"Raditya menghela napas, lalu mencium puncak kepala Alya. "Tentu bisa. Aku akan pastikan itu terjadi."Alya tersenyum puas. "Kalau begitu, ayo keluar. Aku sudah cukup segar."Raditya mengangguk, lalu membantu Alya bangkit. Setelah membungkus tubuh istrinya dengan handuk, ia sendiri mengeringkan tubuhnya dengan santai.Saat mereka keluar dari kamar mandi, Raditya lebih dulu mengenakan pakaian santainya. Sementara itu, Alya sibuk memili
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah tirai membuat Alya menggeliat pelan. Tubuhnya terasa sedikit lelah setelah malam panjang yang mereka lalui semalam. Ia merenggangkan kedua tangannya di atas kepala, mendesah pelan. Raditya yang duduk di tepi ranjang hanya tersenyum, merasa istrinya begitu menggemaskan."Sayang, kamu sudah bangun?" suara serak Alya terdengar manja.Raditya mengulurkan tangan, mengusap lembut pipi istrinya. "Sudah dari tadi. Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk kita."Alya membuka matanya perlahan, menatap Raditya yang sudah tampak segar. "Apa itu?"Raditya tersenyum kecil. "Bathup sudah aku isi air hangat. Aku tahu kamu butuh merilekskan tubuh setelah..." ia berhenti sejenak, menatap Alya dengan penuh arti, "setelah gemuranku semalam, bahkan kita semalam sama- sama mencapai pelepasan tiga kali, apa kamu ingat sayang?" goda Raditya.Alya yang masih dalam keadaan setengah sadar langsung memerah wajahnya. Ia menarik selimut m
Pagi itu, suasana di kediaman keluarga terasa hangat. Alya dan Raditya bersiap untuk berangkat honeymoon ke salah satu daerah di Jepang, tepatnya ke Shirakawa-go, desa tradisional dengan pemandangan salju yang romantis. Mereka berpamitan kepada Kakek Bakhtiar, Nenek Aiko, dan Bunda Clarissa."Kalian hati-hati di sana. Nikmati bulan madu kalian, jangan lupa kabari kalau sudah sampai," ujar Kakek Bakhtiar."Raditya, jaga Alya baik-baik. Jepang itu indah, tapi tetap waspada, ya," kata Nenek Aiko.Raditya menggenggam tangan Alya erat, "Tentu saja, Nek. Aku nggak akan membiarkan Alya sedikit pun terluka," jawab Raditya.Bunda Clarissa tersenyum lembut, "Alya, sayang. Jangan terlalu manja sama Raditya, nanti dia makin posesif," ujar Bunda Clarissa.Alya yang mendengarnya otomatis tertawa kecil, "Sudah terlanjur, Bun. Radit memang posesif dari dulu," kata Alya.Raditya hanya menatap Alya dengan mata tajam penuh arti, membuat Alya tersipu.**
Malam itu, suasana di kediaman keluarga Bakhtiar terasa berbeda. Setelah perbincangan serius siang tadi, Kakek Bakhtiar akhirnya mengambil keputusan."Kita akan bertemu dengan Haruto nanti malam di ruang khusus," ucap Kakek Bakhtiar dengan suara mantap. "Rei, pastikan dia dalam kondisi yang pantas untuk berbicara dengan kita. Suruh dia mandi dan bersihkan diri. Aku yakin keadaannya sekarang tidak baik-baik saja."Rei mengangguk dengan hormat. "Baik, Tuan. Saya akan mengurusnya."Beberapa jam kemudian, Rei memasuki ruang bawah tanah tempat Haruto ditahan. Haruto tampak duduk diam di sudut ruangan, tubuhnya terlihat lelah, dengan wajah yang penuh dengan bekas luka dan kotoran. Rei melipat tangannya di depan dada, menatap pria itu dengan ekspresi netral."Bangun. Tuan Bakhtiar ingin bertemu denganmu malam ini. Tapi sebelum itu, kau harus mandi dan membersihkan diri. Pakaiannya sudah disiapkan."Haruto mengangkat kepalanya, menatap Rei dengan sorot mat
Alya menarik napas dalam, hatinya berdebar kencang. Ia tahu ini bukan keputusan yang mudah, tetapi ia harus mengatakannya. Ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya suara angin lembut dari luar jendela yang berbisik pelan. Dengan suara pelan namun tegas, ia mulai berbicara, “Nenek, Kakek, Bunda, sebenarnya kami ingin kembali ke Nusant.”Ruangan mendadak membeku. Semua mata tertuju padanya. Clarissa yang tadinya masih menggenggam tangan Nenek Aiko terdiam, sementara Kakek Bakhtiar mengerutkan keningnya, mencoba memahami maksud Alya lebih dalam. Nenek Aiko, yang baru saja merasakan kebahagiaan bertemu kembali dengan putrinya, kini menatap Alya dengan pandangan penuh kebingungan dan kesedihan.“Sayang, kenapa tiba-tiba? Apa ada sesuatu yang mengganggumu di sini?” tanya Nenek Aiko dengan suara penuh harap, sedikit gemetar.Alya menggeleng, senyum lembut tetapi sendu terukir di wajahnya. “Bukan begitu, Nek. Aku sangat bahagia bisa
Siang itu, Kakek Bakhtiar, Alya, dan Raditya berjalan menuju ruang perawatan Nenek Aiko di rumah sakit. Wajah Nenek Aiko terlihat lebih segar dari sebelumnya, meski masih terlihat lelah."Bagaimana perasaanmu hari ini, Nek?" tanya Alya lembut sambil menggenggam tangan Nenek Aiko.Nenek Aiko tersenyum tipis. "Jauh lebih baik, sayang. Apa kita benar-benar akan pulang hari ini?"Kakek Bakhtiar mengangguk. "Tentu saja. Aku sudah siapkan semuanya. Kita akan pulang ke mansion."Raditya membantu merapikan barang-barang Nenek Aiko. "Kami sudah menyiapkan sesuatu yang istimewa di rumah, Nek.""Sesuatu yang istimewa?" Nenek Aiko menatap mereka dengan bingung."Nanti juga Nenek akan tahu," kata Alya dengan senyum penuh arti.Setelah semua siap, mereka meninggalkan rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Nenek Aiko terlihat lebih bersemangat, meskipun hatinya masih dipenuhi rasa penasaran. Mobil yang membawa mereka melaju dengan tenang di jalanan kota