Alya menelan ludah, mencoba membaca ekspresi Raditya.
Konsekuensi? Apa maksudnya?
Alya dengan suara sedikit gemetar, bertanya, "Konsekuensi seperti apa yang kamu maksud, Radit?"
Raditya tidak langsung menjawab. Ia menatap Alya sejenak, lalu menghela napas pelan.
"Jika kamu menerima tawaran ini, hidupmu tidak akan sama lagi," ujar Raditya.
Alya semakin penasaran. Ia menggenggam tangannya sendiri, mencoba menenangkan diri.
"Kamu membuatku semakin penasaran, Radit. Katakan saja langsung," ucap Alya.
Raditya tersenyum tipis, lalu mengambil ponselnya. Ia mengetik sesuatu dengan cepat sebelum menaruhnya di meja.
"Aku ingin kamu bergabung dengan perusahaanku. Bukan hanya sebagai mitra bisnis, tapi sebagai bagian inti dari tim inovasi kami," tawar Raditya.
Alya terkejut. Ia tidak menyangka akan mendapat tawaran sebesar ini.
"Bagian inti? Maksudnya… aku akan bekerja di perusahaanmu?" tanya Alya.
Raditya mengangguk.
"Bukan sekadar bekerja. Aku ingin kita mengembangkan EduLearn bersama, mengembangkannya dengan dukungan penuh dari timku. Tapi..." ungkap Raditya mengambang.
Raditya menatap Alya lebih serius.
"Jika kamu setuju, kamu harus meninggalkan kendali penuh atas usaha yang kamu jalankan sekarang. Kamu akan masuk ke dunia yang lebih besar, lebih kompetitif… dan lebih berisiko," ungkap Raditya.
Alya tercekat. Tawaran ini sangat menggiurkan, tapi juga menakutkan. Apakah ia siap melepas semua yang telah ia bangun sendiri?
Alya berbisik pada diri sendiri, "Apa aku siap untuk ini?"
Raditya mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat.
"Jadi, Alya… apakah kamu siap menghadapi konsekuensinya?" tanya Raditya kembali.
Alya menatap ponsel Raditya yang masih menyala di meja, berisi dokumen yang baru saja dikirimkan. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu keputusannya kali ini akan mengubah segalanya.
***
Raditya baru saja turun dari panggung kehormatan ketika ponselnya bergetar. Ia melirik layar dan membaca pesan singkat dari Alya.
Alya: Setelah acara selesai, ada waktu untuk ngopi? Ada yang ingin aku bahas lebih lanjut. :)
Raditya tersenyum tipis sebelum membalas.
Raditya: Tentu. Café di pusat kota, 20 menit lagi?
Tak butuh waktu lama, selesai acara Raditya langsung mengajak Alya menuju Café Amour.
Kini mereka sudah duduk berhadapan di café yang elegan. Suasana hangat, aroma kopi menggoda penciuman, dan percakapan mereka mengalir lancar.
"Jadi, kamu benar-benar tertarik dengan tawaran ini?" tanya Raditya.
"Iya, aku sudah memikirkannya. EduLearn punya potensi besar, dan kolaborasi ini bisa membawa perubahan signifikan," ujar Alya.
"Aku senang mendengarnya. Dengan pengalaman kamu di dunia IT dan visiku untuk EduLearn, ini bisa jadi kemitraan yang luar biasa," ungkap Raditya.
Alya mengangguk, lalu menatap Raditya dengan ekspresi ragu.
"Ngomong-ngomong… Aku tadi benar-benar terkejut. Aku baru tahu kalau kamu itu CEO PT. Nathan Wijaya Teknologi. Perusahaan teknologi terbesar di Nusantara? Serius?"
Raditya terkekeh. "Aku tak menyangka kamu belum mengetahuinya. Aku pikir kamu sudah melakukan riset sebelum bertemu denganku."
"Aku memang riset tentang pengusaha teknologi, namun aku sama sekali tak tahu ada kamu," ujar Alya.
Raditya menatapnya dengan ekspresi main-main. "Jadi sekarang, apa kamu makin tertarik atau justru ragu?"
"Lebih ke… terkejut. Aku seperti merasa kecil di hadapan seseorang sekelas kamu," ungkap Alya jujur.
"Jangan pernah berpikir begitu. Kamu adalah Alya, pemilik startup teknologi yang sedang berkembang pesat. Dan aku menginginkan kerja sama ini justru karena aku melihat potensi besar dalam dirimu," ujar Raditya.
Alya tersenyum, tetapi perasaan canggung masih tersisa. Ia pun beranjak untuk mengambil kopi yang baru saja dipesannya.
Namun, tanpa sengaja kakinya tersandung ujung meja.
"Aduh!"
Tubuhnya terhuyung ke depan. Raditya yang refleks langsung berdiri dan menangkapnya tepat waktu. Dalam sekejap, tubuh Alya bersandar ke dada Raditya. Tangan Raditya dengan sigap menahan pinggangnya agar tidak jatuh.
Mata mereka bertemu. Keheningan di antara mereka begitu intens. Jantung mereka berdegup lebih cepat dari biasanya.
Raditya tersenyum nakal, menatap Alya dengan tatapan menggoda. "Kalau kamu mau dalam pelukanku, Alya, kamu nggak perlu cari alasan untuk tersandung. Aku bisa menangkapmu kapan saja."
Alya merasakan wajahnya semakin panas. "Aku... itu nggak sengaja!"
Raditya masih belum melepaskan tangannya, matanya memperhatikan Alya dengan penuh minat. "Hmm, kalau begitu, sepertinya aku harus lebih sering berada di dekatmu. Siapa tahu kamu tersandung lagi."
Beberapa detik kemudian, Raditya akhirnya melepaskan genggamannya, tetapi senyum genitnya masih tertinggal. Alya buru-buru merapikan rambutnya, wajahnya memerah.
"Aku… aku nggak sengaja. Maaf, aku ceroboh. Terima kasih sudah menolong."
Raditya tersenyum kecil, mencoba meredakan ketegangan. "Aku hanya refleks. Kamu baik-baik saja?"
"Iya, cuma malu saja," ucap Alya.
Raditya tertawa pelan. "Tak masalah. Setidaknya, ini pertemuan bisnis yang… unik."
Alya ikut tertawa, meski sedikit canggung. "Benar. Aku tidak menyangka pertemuan kita akan seperti ini."
Raditya mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya perlahan. "Tapi ini membuat pertemuan kita lebih menarik. Aku semakin yakin kalau keputusan memilih kamu untuk proyek ini adalah langkah yang tepat."
Alya tersenyum, perasaannya mulai lebih tenang. "Kalau begitu, kita bahas lebih lanjut tentang strategi yang akan kita jalankan."
Raditya mengangguk, tetapi sebelum ia bisa berkata apa-apa, ponselnya tiba-tiba bergetar. Ia melirik layar dan ekspresinya langsung berubah. Tatapan matanya mengeras.
"Ada apa?" tanya Alya.
Raditya menghela napas, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku baru saja mendapat pesan… dari seseorang yang seharusnya sudah tidak muncul lagi dalam hidupku."
Alya mengernyit. "Maksudmu?"
Raditya menyerahkan ponselnya kepada Alya. Di layar, terdapat sebuah pesan singkat:
Pesan: Aku tahu kau di sini. Kita perlu bicara. Sekarang.
Jantung Alya berdegup lebih cepat. "Siapa ini?"
Raditya tersenyum tipis, tapi ada ketegangan dalam matanya. "Seseorang dari masa lalu. Dan sepertinya dia tidak akan pergi begitu saja."
Tiba-tiba, bel pintu café berbunyi, dan seorang wanita berambut panjang melangkah masuk. Tatapannya langsung mengarah ke Raditya, lalu ke Alya.
Alya merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Raditya mengepalkan tangannya pelan, seolah bersiap menghadapi sesuatu yang tak terhindarkan.
Wanita itu berjalan mendekat, dengan senyum misterius di wajahnya. "Lama tak berjumpa, Raditya."
Alya menoleh ke Raditya, mencari jawaban. Raditya menatap wanita itu dengan ekspresi dingin.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Raditya sinis.
Wanita itu terkekeh pelan. "Aku rasa sudah saatnya kita menyelesaikan urusan yang belum selesai."
Alya merasakan ketegangan di udara. Siapa wanita ini? Dan apa hubungannya dengan Raditya?
Sebuah rahasia besar tampaknya akan segera terungkap…
***
~ Bersambung ~
Wanita itu berdiri di depan meja, menatap Raditya dengan tatapan penuh arti. Alya bisa merasakan ketegangan di udara."Kenapa kamu ada di sini?" tanya Raditya dengan nada dingin.Wanita itu tersenyum tipis. "Kita perlu bicara. Urusan kita belum selesai."Alya melirik Raditya, mencoba membaca ekspresinya. Namun, pria itu tetap menjaga ketenangannya."Aku tidak melihat ada urusan yang belum selesai di antara kita, Rena," ujar Raditya tegas.Alya tersentak. Nama itu… Ia merasa pernah mendengarnya."Oh, Radit, kamu selalu berusaha mengabaikan sesuatu yang tidak nyaman bagimu. Tapi kali ini, kamu tidak bisa lari." Rena menarik kursi dan duduk tanpa diundang.Alya menyadari bahwa ini bukan sekadar pertemuan bisnis biasa. Ada sesuatu di antara mereka yang lebih dalam."Apa sebenarnya yang kamu inginkan, Rena?" Raditya bersedekap, matanya tajam menusuk wanita itu."Aku ingin kesempatan kedua," jawab Rena tanpa ragu.Alya merasakan ketegangan makin meningkat. Ia mencoba untuk tetap tenang, tet
Suasana pagi di depan gedung megah PT. Nathan Wijaya Teknologi dipenuhi aktivitas. Sebuah Lamborghini Urus hitam berhenti tepat di depan pintu masuk utama, menarik perhatian karyawan yang baru tiba. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria bertubuh tegap dengan jas hitam turun dengan karisma yang sulit diabaikan. Raditya Nathan Wijaya, CEO perusahaan, melangkah dengan percaya diri, pandangannya tajam menelusuri area depan sebelum akhirnya masuk ke dalam.Di dalam, suasana kantor berubah begitu Raditya muncul. Para karyawan bergegas kembali ke meja mereka, pura-pura sibuk meskipun rasa penasaran mereka masih menggelayuti. Tak jauh dari sana, Alya terduduk di ruang tunggu, merapikan ujung blazernya dengan gugup. Sejak tadi, dia bisa merasakan tatapan penuh tanya dari para karyawan. Bisik-bisik yang muncul tak bisa dia abaikan sepenuhnya."Jadi dia karyawan baru? Kenapa perusahaan sekelas NW Tech mau menerima orang cacat?" bisik seorang wanita di pojok."Mungkin ada k
Hari-hari berlalu dengan kesibukan Alya mengembangkan EduLearn. Setiap hari, ia menghabiskan waktunya di depan layar, menyusun kode, memperbaiki bug, dan memastikan sistem berjalan dengan lancar. Tak jarang Raditya datang ke ruangannya untuk berdiskusi."Bagaimana progress-nya?" tanya Raditya suatu sore, bersandar di pintu dengan tangan di saku celana.Alya menatap layar laptopnya, lalu berbalik ke arah Raditya. "Fitur interaktifnya hampir selesai. Saya hanya perlu melakukan beberapa uji coba lagi sebelum kita rilis versi beta."Raditya mengangguk, lalu melangkah masuk dan duduk di kursi di seberang Alya. "Bagus. Kamu memang luar biasa."Alya terkekeh, mencoba meredam rasa gugupnya. "Saya hanya melakukan pekerjaan saya."Raditya menatapnya dengan mata berbinar. "Dan kamu melakukannya dengan sangat baik. Aku kagum dengan semangatmu."Alya merasa pipinya sedikit memanas. "Terima kasih. Kalau tidak ada yang lain, saya akan lanjut bekerja."
Alya menegang di balik pintu. Ketukan pelan itu membuatnya semakin gelisah."Alya, buka pintunya. Ini aku." Suara Raditya terdengar tegas namun menenangkan.Tanpa pikir panjang, Alya langsung membuka pintu. Begitu melihat Raditya berdiri di sana dengan tatapan khawatir, ia langsung melangkah maju dan memeluknya erat. Jantungnya masih berdebar kencang akibat ketakutan yang dirasakannya.Raditya terkejut sejenak, tapi kemudian ia membalas pelukan Alya, menepuk punggungnya lembut. "Tenang, aku di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu."Alya merasakan ketenangan dalam dekapan Raditya. Tangannya yang semula gemetar perlahan mulai stabil. Setelah beberapa saat, Raditya menuntunnya ke sofa yang ada di ruangan itu. Ia duduk di samping Alya, menatapnya dengan serius."Coba jelaskan, sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya pelan, tapi ada nada tegas dalam suaranya.Alya menarik napas dalam, lalu mulai bercerita. Ia menceritakan semua yang terjadi sejak
Keesokan harinya, Alya berangkat bekerja seperti biasa dengan menaiki taksi. Setibanya di NW Tech, beberapa karyawan menyapanya dengan lebih ramah dibanding sebelumnya. Kini, keberadaannya sudah diterima, terlebih karena mereka tahu bahwa Alya cukup dekat dengan CEO mereka, Raditya. Meski begitu, ada juga yang lebih menunjukkan rasa segan daripada akrab.Sementara itu, di ruangannya, Raditya terbangun dari tidurnya. Semalam, ia memilih menginap di kantor, beristirahat di ranjang yang terdapat di ruangan khusus di kantornya. Setelah melihat jam, ia menebak Alya sudah tiba di kantor.Tanpa membuang waktu, ia menghubungi Tasya, sekretaris Alya. "Tasya, tolong sampaikan ke Alya untuk datang ke ruanganku sekarang.""Baik, Pak Raditya, saya segera menyampaikan pesan Anda," jawab Tasya sigap.Beberapa menit kemudian, Alya berdiri di depan ruangan CEO. Namun, langkahnya terhenti, merasa ragu. Aldo, asisten pribadi Raditya, yang kebetulan melihatnya, langsung ters
Setelah rapi dengan setelan kantornya, Raditya duduk di samping Alya. Ia bertanya, "Apakah kamu siap mengetahui siapa yang mengancammu?"Alya menatapnya dengan waspada. "Siapa yang mengancamku dan aku salah apa sehingga ada yang mengancamku?" tanyanya kembali.Raditya menghela napas panjang. "Pelakunya adalah Reza Mahendra. Dia mengancammu dan mengirimimu email ancaman karena satu hal.""Satu hal apa?" tanya Alya penasaran."Sebelumnya dia adalah salah satu dari tim IT yang kemampuannya cukup baik kurasa, namun sepertinya kehadiranmu membuatnya iri hati, hingga ia merasa tersaingi," ujar Raditya.Alya mengerutkan kening. "Astaga, kenapa demikian?""Karena selama ini dia selalu mengincar posisi kepala tim di setiap proyek. Aku juga baru tahu setelah kemarin observasi. Selama ini aku gak tahu ada anak buahku yang seperti itu," ujar Raditya."Lalu apa langkah kamu selanjutnya, Radit?" tanya Alya.Raditya menarik napas panjang sebe
Kekacauan mulai terjadi di ruangan itu. Beberapa anggota tim IT panik saat layar komputer mereka tiba-tiba mati dan alarm berbunyi nyaring di seluruh perusahaan. Namun, Raditya tetap tenang. Dengan tatapan tajam, ia segera memberi perintah."Tangkap Reza! Jangan biarkan dia kabur!" suaranya tegas dan menggema di seluruh ruangan.Dua bodyguard yang selalu siaga langsung bergerak cepat. Reza berusaha melawan, tetapi mereka lebih sigap. Dalam hitungan detik, tangannya telah terkunci di belakang kursi, dan tubuhnya diikat erat."Lepaskan aku! Kalian pikir aku takut?!" teriak Reza dengan wajah penuh amarah. Ia meronta-ronta, tetapi sia-sia.Raditya menatapnya dingin sebelum beralih ke seluruh tim IT yang masih berdiri di tempat masing-masing. "Kembali ke meja kalian sekarang! Segera amankan semua data di laptop dan PC kalian sebelum sistem penghancur menyebar lebih jauh ke jaringan utama!"Mereka langsung bergegas tanpa bertanya. Suara ketikan cepat ter
Raditya duduk dengan ekspresi serius di depan layarnya. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard, menyusun serangkaian kode untuk melacak dan menetralisir virus yang baru saja diaktifkan Reza. Setiap detik begitu berharga, dan ia tahu tidak ada ruang untuk kesalahan.Alya tadi mengikuti Raditya dibelakangnya, ia penasaran akan apa yang dilakukan Raditya. Mengetahui Alya mengikutinya, Raditya menginstruksikan Alya untuk menutup pintu ruangannya.Kini Alya berdiri di belakangnya dengan napas tertahan. "Radit, kita bisa menghentikannya, kan?"Raditya tak menjawab langsung, matanya tetap fokus pada layar. "Aku harus menelusuri sumber virus ini dan menghentikannya dari akarnya. Jika aku hanya memblokirnya, Reza mungkin punya backdoor lain yang bisa mengaktifkan ulang programnya."Sementara itu, di ruangan utama, para anggota tim IT masih sibuk memastikan sistem mereka tetap stabil. Mereka tidak menyadari bahwa sosok yang telah menyelamatkan mereka adalah CEO
Siang itu, Kakek Bakhtiar, Alya, dan Raditya berjalan menuju ruang perawatan Nenek Aiko di rumah sakit. Wajah Nenek Aiko terlihat lebih segar dari sebelumnya, meski masih terlihat lelah."Bagaimana perasaanmu hari ini, Nek?" tanya Alya lembut sambil menggenggam tangan Nenek Aiko.Nenek Aiko tersenyum tipis. "Jauh lebih baik, sayang. Apa kita benar-benar akan pulang hari ini?"Kakek Bakhtiar mengangguk. "Tentu saja. Aku sudah siapkan semuanya. Kita akan pulang ke mansion."Raditya membantu merapikan barang-barang Nenek Aiko. "Kami sudah menyiapkan sesuatu yang istimewa di rumah, Nek.""Sesuatu yang istimewa?" Nenek Aiko menatap mereka dengan bingung."Nanti juga Nenek akan tahu," kata Alya dengan senyum penuh arti.Setelah semua siap, mereka meninggalkan rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Nenek Aiko terlihat lebih bersemangat, meskipun hatinya masih dipenuhi rasa penasaran. Mobil yang membawa mereka melaju dengan tenang di jalanan kota
Malam semakin larut di mansion Raditya. Hanya suara ketikan keyboard dan hembusan napas Alya yang terdengar di ruangan itu. Raditya menatap layar dengan penuh konsentrasi, jari-jarinya bergerak cepat menulis barisan kode yang akan menjadi pukulan terakhir bagi Reinhardt."Radit, mereka sedang mencoba reboot sistem mereka," lapor Alya.Raditya mengangguk. "Bagus. Itu berarti mereka masih mencoba bertahan. Aku sudah menyiapkan kejutan terakhir. Kali ini, aku akan benar-benar mengakhiri semuanya."Alya mengamati layar dengan seksama. "Apa yang kamu rencanakan?"Raditya tersenyum tipis. "Aku akan menyusup ke server utama mereka dan menanamkan worm yang tidak hanya akan melumpuhkan AI mereka, tetapi juga menghapus seluruh jejak digital mereka. Semua data, semua koneksi- akan musnah dalam hitungan detik."Alya mengangkat alisnya. "Kamu yakin tidak akan ada yang tersisa?"Raditya mengangguk. "Aku tidak akan memberinya kesempatan lagi. Kali ini, Rei
"Aku tidak menyangka dia masih punya nyali untuk melawan," ujar Alya sambil menyeruput teh hangatnya, matanya tak lepas dari layar laptop Raditya.Raditya tersenyum tipis, jari-jarinya kembali menari di atas keyboard. "Orang seperti Reinhardt tidak akan tinggal diam begitu saja. Aku sudah memperkirakan ini.""Jadi, apa rencanamu sekarang?" Alya menatap suaminya dengan penuh rasa ingin tahu.Raditya menghela napas ringan. "Aku sudah memasang sistem pertahanan yang lebih kuat. Kali ini, aku tidak hanya akan menunggu serangan. Aku akan bergerak lebih dulu."Alya menyipitkan matanya. "Kamu mau menyerang balik? Bukankah itu berisiko?"Raditya menoleh ke arah Alya, jemarinya menyentuh lembut pipi istrinya. "Risiko selalu ada, tapi aku tidak bisa hanya bertahan. Jika kita ingin menyingkirkan Reinhardt sepenuhnya, aku harus membuatnya tidak punya kesempatan untuk kembali."Alya terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Aku percaya padamu. Kalau begitu, apa yang bisa aku bantu?"Raditya tersenyum pen
Raditya mengatur strategi dengan cepat. Ia tahu bahwa Reinhardt bukan lawan sembarangan, tetapi ia juga memiliki keunggulan sebagai hacker nomor satu di dunia. Jari-jarinya menari di atas keyboard, memasukkan kode yang akan menjadi pukulan telak bagi lawannya.Jantungnya berdegup cepat, tetapi bukan karena takut- melainkan karena adrenalin yang membakar semangatnya. Ia menikmati tantangan ini."Aku akan menyerang inti sistemnya," kata Raditya dengan penuh keyakinan. "Jika aku bisa masuk ke pusat kendali mereka, aku bisa menonaktifkan seluruh jaringan yang mereka gunakan," terang Raditya.Alya mengangguk, mempercayai setiap langkah suaminya. Namun, dalam hatinya ada kekhawatiran yang sulit ia sembunyikan. Ia menggigit bibir, berharap Raditya tidak meremehkan lawannya."Apa yang bisa aku bantu?" tanyanya, suaranya sedikit gemetar meski ia berusaha terdengar tegar.Raditya tersenyum tipis, mencoba menenangkan Alya. "Pantau respon mereka. Jika ada peru
Keesokan harinya, sejak pagi buta, Raditya kembali sibuk di depan layar laptopnya. Ia tidak bisa berhenti memikirkan pesan misterius yang muncul semalam. Dengan keahliannya, ia mulai melacak alamat IP yang mencoba menyusup ke dalam sistemnya."Aku menemukan sesuatu," gumam Raditya dengan mata tetap fokus pada layar.Alya yang duduk di sebelahnya langsung menoleh. "Apa itu?"Raditya mengetik cepat, lalu menampilkan hasil pelacakannya. "IP ini berasal dari jaringan yang dimanipulasi, tapi aku berhasil menembus lapisan enkripsinya. Ini berasal dari Reinhardt."Alya menghela napas panjang. "Jadi memang dia... Apa yang dia coba lakukan?""Dia mengamati pergerakan kita, terutama siapa yang mengakses kode Elvaretta. Dia ingin tahu siapa yang mencoba menjalankan kode ini," jawab Raditya. "Dan sekarang... dia mulai menyerang."Tiba-tiba, layar laptop Raditya dipenuhi oleh serangkaian notifikasi ancaman. Serangan cyber besar-besaran sedang berlangsung
Ketika malam hari, Raditya masih terduduk di meja kerjanya. Layar laptop andalannya menyala terang, menampilkan ribuan baris kode kompleks yang terus ia analisis. Wajahnya serius, matanya tajam meneliti setiap detail kode Elvaretta.Alya yang baru saja datang membawakan secangkir kopi tersenyum mendengar ucapan suaminya. "Jadi bagaimana? Kamu menemukan sesuatu?" tanya Alya.Raditya mengambil kopi itu dan menyeruputnya sedikit. "Iya. Aku pikir kode ini tidak perlu dihancurkan. Aku bisa sedikit memodifikasinya agar bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat," terang Raditya.Alya mengangkat alisnya, tertarik. "Bermanfaat seperti apa?" tanya Alya."Ini bisa dikembangkan untuk aplikasi pendidikan. Bayangkan sistem keamanan tingkat tinggi yang bisa melindungi data siswa, mencegah kebocoran informasi, dan bahkan membantu pembelajaran digital lebih aman," ungkap Raditya.Mata Alya berbinar. "Itu ide yang luar biasa, Radit! Tapi, bagaimana dengan ancam
Keesokan harinya, Raditya memulai analisisnya terhadap kode Elvaretta. Sejak pagi hingga menjelang sore, ia terduduk di meja kerjanya, di depannya layar laptop andalannya masih menyala. Jari-jarinya terus mengetik dengan cepat, ekspresi wajahnya menunjukkan konsentrasi penuh."Huft, ternyata Bu Clarissa pintar juga bisa membuat kode serumit ini," gumam Raditya sambil meregangkan tubuhnya sejenak. "Pantas saja Alya punya bakat dalam membuat aplikasi pendidikan, ternyata ada faktor genetik dari ibunya," lanjutnya kemudian.Raditya kembali fokus pada layar. Ia mempelajari setiap baris kode yang ditulis Clarissa bertahun-tahun lalu. Kode itu bukan hanya sistem keamanan, tetapi juga memiliki potensi besar."Kalau aku amati ini bisa dilakukan sedikit perubahan tanpa harus menghancurkannya," ujarnya lagi. "Aku bisa buat agar kode Elvaretta ini bisa bermanfaat untuk banyak orang saja. Ini bisa juga diterapkan dan dikembangkan untuk aplikasi pendidikan. Tapi nanti dulu,
Raditya mengetik dengan kecepatan luar biasa di atas keyboardnya. Semua mata tertuju padanya, memperhatikan setiap gerakan jemarinya yang seakan menari di layar hitam penuh dengan kode yang bergerak cepat."Aku akan membuktikannya sekarang," ujar Raditya tenang.Clarissa dan Kakek Bakhtiar saling berpandangan, masih sulit mempercayai bahwa pria di depan mereka adalah Mr. Ranwy, hacker nomor satu dunia."Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Alya, meskipun ia sudah tahu suaminya akan menunjukkan kemampuannya."Aku akan membobol data kependudukan kakek di negara ini," jawab Raditya.Kakek Bakhtiar mengangkat alisnya. "Data kependudukan? Nak, itu hanya bisa diakses oleh petugas khusus. Tidak sembarang orang bisa membukanya," ujar Kakek Bakhtiar.Raditya hanya tersenyum tipis, tidak menjawab, dan terus mengetikkan sederet perintah di sistemnya. Dalam hitungan detik, layar komputernya menampilkan berbagai kode enkripsi yang kompleks. Ia dengan mudah
Raditya, Alya, bukan maksud bunda meremehkan kalian, tapi yang kalian hadapi ini Reinhardt bukan sembarang orang. Yang bisa mengatasinya hanya hacker nomor satu dunia si master hacker Mr. Ranwy," ungkap Bunda Clarissa.Alya tersenyum, sementara Raditya hanya diam saja, tetap dengan gaya cool-nya. "Jika kami bisa menemukan Mr. Ranwy, apa yang akan Anda lakukan?" tanya Raditya."Bunda akan meminta pendapatnya. Kode Elvaretta ini harus kita pertahankan, tapi dengan konsekuensi ada yang mengincarnya. Namun, jika kita hancurkan, maka hanya Mr. Ranwy yang bisa menghancurkannya," ujar Clarissa."Kenapa hanya dia yang bisa menghancurkannya?" tanya Alya."Karena bunda sendiri tak bisa menghancurkan kode Elvaretta. Kelebihan bunda adalah bisa membuatnya, namun kelemahan bunda sebagai salah satu cacat teknologi adalah bunda dulu telah memasang pengaturan agar kode itu tak bisa dihancurkan," ungkap Clarissa dengan kepala tertunduk."Sebenarnya keinginan Anda s