Selena mengantar Linggar pulang sebelum kembali ke rumahnya sendiri. Sepanjang perjalanan, pikirannya penuh dengan cara untuk membantu Linggar. Sesekali, ia melirik Rangga yang masih tertidur lelap di sebelahnya.
"Non, tadi bapak nelpon. Katanya, Non Selena diminta datang ke rumah sakit bawain jas ganti bapak sama amplop coklat di meja kerja," ujar sopirnya. "Oh, iya. Terima kasih, Pak," jawab Selena singkat. Setibanya di rumah, Selena membangunkan Rangga yang terlihat terkejut karena tertidur terlalu lelap. "Ra, kamu istirahat aja di rumah. Aku mau ke rumah sakit," ujar Selena. "Hah? Siapa yang sakit, Sel?" tanya Rangga terkejut. "Nggak ada, aku cuma mau anter jas Papa," jawab Selena sambil tersenyum. "Aku ikut," kata Rangga tegas, tak ingin lengah lagi. "Baiklah. Aku ganti baju dulu," sahut Selena. Rangga mengangguk. Selena pun segera naik ke kamarnya. Setelah berganti pakaian kasual, Selena turun ke ruang kerja ayahnya untuk mengambil jas dan amplop yang diminta. Ketika keluar, Rangga sudah siap menunggu di depan pintu. "Yuk, kita berangkat," ajak Selena. Rangga mengangguk dan mereka pun berangkat bersama. Sepanjang perjalanan, Rangga terpesona melihat sisi lain Jakarta yang padat dengan lampu-lampu kota yang berkelap-kelip menjelang malam. Itu kali pertama ia melihat kota dengan begitu ramai dan megah. Mereka akhirnya tiba di rumah sakit besar. Selena segera turun dari mobil, diikuti Rangga yang terkesima melihat bangunan megah tersebut. "Om Basuki tugas di sini, Sel?" tanyanya takjub. "Yap," jawab Selena santai, tanpa sadar menggandeng tangan Rangga. Rangga terdiam, terpesona oleh sentuhan sederhana itu, meskipun Selena melakukannya tanpa maksud apa pun. Om Basuki adalah ayang angkat Selena, ayah kandung Nicholas. Selena terus menggandeng tangan Rangga hingga mereka masuk ke dalam lift. Bagi Selena, rumah sakit adalah tempat yang menyimpan banyak kesedihan. Ia sering melihat orang-orang yang tampak tegar namun sebenarnya menahan tangis. Mereka yang ditinggalkan, penuh penyesalan dan rasa kehilangan yang mendalam. Seperti saat ini, di depan Selena terlihat sosok pria yang berjalan sambil terisak, mengiringi seorang perempuan. Ia terus memanggil nama perempuan itu, namun panggilannya tak terjawab. Wajar saja, perempuan itu sudah tiada. Sosok pria itu tampak begitu menyedihkan, tubuhnya berlumuran darah. Yang paling mengerikan adalah luka menganga di kepalanya, jelas bekas kecelakaan. "Sayang... maafkan aku..." rintih pria itu dengan suara parau, penuh penyesalan. Selena hanya melewatinya dengan wajah datar, seolah tidak melihat apa pun. Ia mempererat genggamannya pada tangan Rangga, mencoba menguatkan diri. Ia tahu, ada banyak yang bisa ia bantu, tapi menghadapi begitu banyak jiwa tersesat di rumah sakit ini, rasanya mustahil. Mereka akhirnya sampai di lantai lima, tempat kamar ayah Nicholas berada. Tok, tok, tok. "Assalamualaikum, Papa," ucap Selena, mengetuk pintu perlahan. "Waalaikumsalam, masuk saja, Nak," sahut ayah Nicholas dari dalam. Selena masuk dan mendapati ayah Nicholas duduk di meja kerja, sibuk dengan tumpukan laporan. "Maaf ya, Nak, Papa jadi merepotkanmu. Papa nggak sempat pulang, pasien masih banyak," katanya dengan nada lelah. "Enggak apa-apa, Pa. Ini yang Papa minta," ujar Selena, meletakkan jas dan amplop coklat di meja. "Terima kasih, anak Papa," balas ayah Nicholas sambil tersenyum dan meraih barang-barang itu. Selena mengangguk, membalas senyuman sebelum duduk di salah satu kursi. "Ini laporan pasien yang Papa operasi kemarin. Kondisinya sangat kritis, sekarang dia koma. Kemungkinan untuk bertahan hidup sangat kecil, tapi entah kenapa dia masih bertahan... seolah ada yang membuatnya enggan pergi," ungkap ayah Nicholas sambil membaca laporan. "Menurut Selena, mungkin dia punya janji yang belum terpenuhi?" Selena menatap ayahnya serius. Ayah Nicholas terdiam sejenak, tampak merenung. "Memang, Papa juga merasakan hal yang sama. Bahkan jiwa pasien itu sudah mulai meninggalkan tubuhnya, tapi tetap saja dia bertahan." "Apa kita bantu saja, Pa?" usul Selena. Ayah Nicholas menghela napas dalam. "Masalahnya, waktu Papa sangat terbatas. Membantu jiwa yang tersangkut butuh proses panjang." "Kalau begitu, biar Selena yang bantu, Pa. Kasihan kalau dia terus terjebak di antara hidup dan mati. Kalau janji itu terpenuhi, dia pasti bisa pergi dengan tenang," ujar Selena dengan mantap. "Anak Papa memang selalu peduli... Tapi jangan, Nak. Itu bisa menarik perhatian makhluk yang lebih kuat," ujar ayah Nicholas dengan nada khawatir. Jika Selena membuka komunikasi dengan mereka yang ada di rumah sakit, makhluk-makhluk lain akan menyadarinya. Mereka mungkin saja mengikuti Selena, dan ayah Nicholas tidak ingin hal itu terjadi. Mendengar kekhawatiran ayahnya, Selena akhirnya menurut. Bersama Rangga, ia pun meninggalkan ruangan itu. Saat tiba di lobi rumah sakit, pandangan Selena kembali tertuju pada pria yang ia lihat sebelumnya. Pria itu kini memeluk perempuan yang menangis tersedu-sedu, wajahnya tertutup tangan. Pria tersebut terus meminta maaf sambil menangis, seolah menanggung beban yang amat berat. ‘Kasihan…’ batin Selena. Ia mengalihkan pandangannya dengan perasaan berat. Ketika mobil mereka tiba, Selena masuk ke dalam bersama Rangga. "Kamu kenapa, Sel? Kelihatan sedih," tanya Rangga, memperhatikan Selena yang terus menatap jendela. "Kamu lihat perempuan yang tadi nangis di lobi?" Selena bertanya pelan. "Iya, kenapa?" Rangga menoleh penasaran. "Ada pria yang meluk dia sambil nangis, minta maaf terus-terusan," ujar Selena lirih. Rangga refleks menoleh ke belakang, berusaha mencari sosok yang Selena maksud, tapi tentu saja ia tidak melihat apa-apa. "Aku kadang takut, Ra... Takut Allah mengambil nyawaku saat aku belum siap. Saat aku masih penuh dosa, kesalahan, dan janji-janji yang belum terpenuhi. Aku pasti akan menangis seperti dia, tanpa ada yang tahu..." Selena berkata lirih, membuat Rangga terdiam. Ya, tidak ada yang tahu kapan ajal akan datang. Tak ada yang tahu kapan nyawa kita akan diambil atau dalam keadaan seperti apa kita dipanggil oleh Allah. Bahkan dengan segala persiapan terbaik sekalipun, hanya Dia yang tahu kapan waktunya tiba. "Haihh... Udah terlanjur di luar, gimana kalau kita jajan aja?" usul Selena mencoba mencairkan suasana. Rangga tersenyum dan mengangguk setuju. Mereka menuju tempat makan di pinggiran jalan yang penuh dengan keramaian. Suasana layaknya festival makanan kaki lima, ramai dan meriah. Rangga terlihat bingung melihat banyaknya orang serta jajanan yang beragam. Selena tersenyum kecil, mengingat tempat itu ia ketahui dari Nicholas. Nicholas memang suka menjelajahi kota, menemukan tempat makan enak dan menarik, lalu mengajak Selena ke sana. "Sel, ramai banget di sini! Kok kamu bisa tahu ada pasar malam kayak gini?" tanya Rangga heran. Selena hanya terkekeh kecil, senang melihat reaksi Rangga. "Kayak pasar malam, ya? Tapi ini bukan, soalnya nggak ada yang jual baju atau wahana. Di sini cuma ada makanan," ujar Selena sambil tersenyum. "Bang Nicholas yang sering ngajak aku ke sini. Katanya, lidahku masih lidah kampung, hehe..." Selena terkekeh, membuat Rangga ikut tertawa kecil. ‘Banyak yang sudah berubah dari Selena,’ batin Rangga. ‘Dia jadi lebih ceria dan tampak menikmati hidupnya. Sepertinya Nicholas benar-benar memperlakukan Selena dengan baik.’ "Ayo, aku ajak kamu makan sempol ayam, enak banget!" ajak Selena penuh semangat sambil menarik tangan Rangga. Rangga hanya tersenyum, membiarkan Selena menggandengnya. ‘Selena... tetaplah bahagia seperti ini,’ pikirnya. Ia senang melihat senyum Selena yang kini selalu menghiasi wajahnya, sesuatu yang jarang ia lihat saat Selena masih kecil.Beberapa hari setelahnya, Selena dan Rangga tiba di sekolah. Sejak Rangga mulai bersekolah di sana, banyak yang memperhatikan bahwa ia selalu turun bersama Selena, dan gosip pun mulai berkembang bahwa mereka berpacaran.Terlebih lagi, Rangga tampak selalu melindungi Selena dalam segala hal dan tidak pernah jauh darinya kemanapun Selena pergi.Namun, Selena sama sekali tidak terganggu dengan gosip tersebut. Baginya, Rangga hanyalah sahabat. Bahkan, menurutnya, gosip itu bisa menguntungkan karena sekarang tidak ada lagi siswa yang berani mengganggunya."Selena, kamu sudah dengar gosip tentang kita?" tanya Rangga dengan khawatir."Mereka semua hanya tukang gosip, tiap hari pasti ada yang baru," jawab Selena sambil berjalan menuju kelas."Selena, tapi aku bukan pacarmu, aku...""Kenapa kalau aku bukan pacarmu?" potong Selena, menatap Rangga. Rangga pun sedikit gugup dan langsung menundukkan pandangannya.Selena merasa ada yang berbeda dengan Rangga. Ia tidak lagi menatapnya seperti dulu,
Di rumah Linggar, ayahnya tiba-tiba mengamuk, membanting gelas dan menendang meja hingga kaca meja pecah. Tak jelas apa yang memicu amarahnya, tapi yang pasti, ia benar-benar kehilangan kendali. Linggar berusaha menahan dan menarik ayahnya keluar dari ruang tamu.Selena, Ustadz Sholeh, dan Rangga saling memandang, melihat kejadian itu. Bagi orang biasa, mungkin itu hanya ayah Linggar yang tengah marah, namun sebenarnya, ada sesuatu yang mengendalikan dirinya. Itu bukanlah ayah Linggar sepenuhnya. Sosok Ratu yang mungkin terbangun dan terusik sedang menguasai tubuhnya."TIDAK!!!" Ayah Linggar tiba-tiba berlari dengan cepat, mencoba menyerang Ustadz Sholeh, namun langkahnya terhenti seolah ada penghalang yang tak terlihat di antara mereka.Wajah ayah Linggar berubah, matanya kini tampak seperti mata reptil, tubuhnya bergerak seakan melayang."Jangan campuri urusan kami!" teriak ayah Linggar, dengan tatapan tajam ke arah Ustadz Sholeh.Suara yang keluar dari mulutnya terdengar aneh, buka
Ustadz Sholeh memperhatikan sebuah pintu yang tersembunyi di balik lemari hias. Pintu itu dicat hitam, terkunci rapat, dan besinya tampak berkarat, menandakan bahwa pintu itu tidak pernah dibuka sebelumnya."Tolong cari alat untuk membuka gembok ini," kata Ustadz Sholeh."Iya, Ustadz." Linggar segera keluar dari kamar dan kembali tak lama kemudian dengan palu besar di tangannya.Namun, langkah Linggar terlihat aneh. Wajahnya tampak datar tanpa ekspresi, namun tangannya menggenggam erat gagang palu dan berjalan menuju Ustadz Sholeh. Selena, yang sebelumnya berada di bawah, terkejut saat kembali masuk ke kamar ayah Linggar dan melihat Linggar bersiap melayangkan palunya ke arah Ustadz Sholeh."Ustadz, hati-hati!" teriak Selena, dan dengan cepat Ustadz Sholeh menghindar, meskipun tetap terkena pukulan di pelipisnya.Pelipis Ustadz Sholeh berdarah, dan rasa pusing langsung menyusul akibat hantaman palu itu. Linggar terus menyerang tanpa kontrol, sementara Ustadz Sholeh berusaha menghindar
Selena dan Rangga membawa Ustadz Sholeh ke rumah sakit untuk perawatan luka terbuka di pelipisnya, sementara Linggar dan ayahnya diminta untuk menginap di hotel demi keselamatan mereka. Rumah itu dibiarkan kosong sementara waktu. Selena dan Ustadz Sholeh berencana melanjutkan pembersihan rumah Linggar begitu Ustadz Sholeh pulih."Kenapa bisa kepala kamu sampai bocor dihantam palu, Ustadz?" tanya ayah Nicholas dengan tawa kecil, karena Selena membawa Ustadz Sholeh ke rumah sakit tempat ayah Nicholas bekerja, dan kebetulan ayahnya yang menangani Ustadz Sholeh."Usia makin tua, tenaga juga makin berkurang, nggak secepat dulu," jawab Ustadz Sholeh sambil menyeringai, merasakan sakit di kepalanya.Di luar, Selena dan Rangga sedang berdiskusi tentang langkah selanjutnya untuk menangani siluman ular tersebut, ketika Selena kembali melihat sosok pria yang menangis di hari itu. Ternyata dia masih ada di sana, dan kelihatannya proses penyembuhannya belum menunjukkan perkembangan."Rangga, sosok
Selena menghubungi Rangga untuk pulang lebih dulu bersama Ustadz Sholeh, karena ia perlu pergi dengan perempuan yang baru ditemuinya di rumah sakit. Kini, Selena sudah tiba di rumah perempuan itu, yang terasa sangat nyaman.Di dalam rumah, terlihat foto pernikahan mereka yang menunjukkan kebahagiaan. Banyak foto kebersamaan yang tersebar di setiap sudut rumah, memperlihatkan cinta yang mendalam antara pasangan itu. Wanita tersebut keluar membawa dua cangkir teh dan menyajikannya kepada Selena."Minum, nak," ucap wanita itu."Terima kasih, tante," jawab Selena, disertai senyum dari wanita itu.Selena menikmati teh yang disajikan, sementara wanita tersebut tampak memperhatikan sekeliling rumahnya."Apakah suami saya ikut pulang?" tanya wanita itu."Ya, suami tante ada di belakang tante sekarang," jawab Selena."Tante, papaku bilang... kemungkinan suami tante untuk sadar sangat tipis, bahkan untuk bertahan hidup. Namun sepertinya dia masih belum bisa pergi karena ada urusan yang belum se
Keesokan harinya, Selena kembali ke rumah Linggar bersama Linggar dan ayahnya. Hanya dalam satu hari, rumah itu yang semula terlihat biasa saja kini terasa sangat berbeda, seperti rumah yang telah lama ditinggalkan. Aura yang mengelilinginya semakin suram, lebih berat dari sebelumnya. Ketika Selena bertanya pada ratu siluman ular, makhluk itu mengaku bahwa ia bukan pelakunya, melainkan ada sosok lain yang bertanggung jawab.Sementara itu, Ustadz Sholeh sedang melakukan pencarian benda gaib yang mungkin telah dikubur atau dikirim oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab, seseorang yang syirik terhadap keluarga Linggar."Li, papa kamu beli rumah ini?" tanya Selena ketika Linggar tidak bersama ayahnya."Enggak, kita cuma numpang tinggal sementara di sini. Mungkin tahun depan kami pindah," jawab Linggar."Kalau begitu, mendingan kalian pindah aja dari rumah ini. Rumah ini nggak bisa dibiarkan begitu saja, harus ada pembersihan total," saran Selena."Selena benar, apalagi ada banyak kir
Setelah sesi pembersihan pada ayah Linggar selesai, kehidupan mereka mulai berubah. Linggar kini telah pindah ke rumah baru yang lokasinya tidak jauh dari rumah Selena. Bahkan, rumah barunya terletak tepat di seberang rumah ayah Nicholas. Berkat rutin melakukan ruqyah, hubungan ayah dan ibu Linggar yang sempat renggang kini telah pulih, dan Linggar pun resmi menjadi bagian dari geng trio Selena dan Rangga di sekolah.Suatu malam, Selena sedang berbaring tengkurap di ranjangnya, asyik video call dengan Nicholas yang saat itu berada di luar negeri."Yah... aku kangen sama abang," keluh Selena."Nanti kalau kamu sudah bangun, aku telpon lagi. Sekarang tidur dulu, anak nakal," jawab Nicholas dengan suara lembut.Karena perbedaan waktu, komunikasi mereka kadang agak terhambat, ketika siang di tempat Nicholas, malam di tanah air. Namun, mereka berusaha tetap menjaga komunikasi itu."Hehe... iya deh, tidur dulu," jawab Selena.Tiba-tiba, wajah seorang pria muncul dari belakang Nicholas, samb
Setelah sesi pembersihan pada ayah Linggar selesai, kehidupan mereka mulai berubah. Linggar kini telah pindah ke rumah baru yang lokasinya tidak jauh dari rumah Selena. Bahkan, rumah barunya terletak tepat di seberang rumah ayah Nicholas. Berkat rutin melakukan ruqyah, hubungan ayah dan ibu Linggar yang sempat renggang kini telah pulih, dan Linggar pun resmi menjadi bagian dari geng trio Selena dan Rangga di sekolah.Suatu malam, Selena sedang berbaring tengkurap di ranjangnya, asyik video call dengan Nicholas yang saat itu berada di luar negeri."Yah... aku kangen sama abang," keluh Selena."Nanti kalau kamu sudah bangun, aku telpon lagi. Sekarang tidur dulu, anak nakal," jawab Nicholas dengan suara lembut.Karena perbedaan waktu, komunikasi mereka kadang agak terhambat, ketika siang di tempat Nicholas, malam di tanah air. Namun, mereka berusaha tetap menjaga komunikasi itu."Hehe... iya deh, tidur dulu," jawab Selena.Tiba-tiba, wajah seorang pria muncul dari belakang Nicholas, samb
Selena sedang sarapan dengan ayah Nicholas, dan ayah Nicholas menceritakan pada Selena apa yang kemudian Pak Hasan lakukan pada Faaz. Faaz sudah berhasil diselamatkan hanya tinggal pembersihan saja, dan Selena senang mendengarnya."Alhamdulillah ketemu sama Om Hasan, dia orang yang tepat." Ujar Selena."lya, tapi papa lebih bangga sama kamu, karena kamu sudah berhasil menyelamatkan sukmanya Faaz. Om Hasan bilang, nanti siang akan melakukan pembersihan di rumah Faaz." Ujar ayah Nicholas."Siang ya, pa? Aku nggak bisa bantuin dong." Ujar Selena."Nggak apa-apa, nak.. nggak semua hal harus kamu yang lakuin." Ujar ayah Nicholas, akhirnya Selena mengangguk."Tapi semalem bener-bener serem pa, di alam sana itu bukan kayak alam astral yang biasanya, bukan alam kosong, tapi kayak kota Jakarta asli." Ujar Selena."Mungkin yang kamu lihat memang asli, cuma mereka tidak melihat kamu. Ada sebutannya dulu, orang jawa kuno menyebutnya itu adalah merogo sukmo" Ujar ayah Nicholas, Selena pun mengerny
Selena masuk kedalam kamar-kamar yang ada di ruangan itu, tapi Selena tak menemukan keberadaan Faaz, Selena terus memanggil Faaz, berharap akan ada sahutan. Dan saat itu Selena melihat nenek tua itu sedang muntah-muntah darah."Kak Faaz!" Panggil Selena dengan keras.Selena melihat Intan juga berubah menjadi mengerikan, Intan merangkak kesakitan, seluruh wajah nya berdarah-darah. Nenek tua itu tampak ngesot di lantai dan menuju ke sebuah pintu yang belum Selena masuki, Selena mengikutinya dan dia melihat Faaz."Kak Faaz!" Selena bergegas masuk dan langsung menghampiri Faaz yang sedang tak sadarkan diri."Kak Faaz! Bangun kak!" Selena menepuk Faaz tapi Faaz tetap tidak sadarkan diri."Kak Faaz, bangun ini Selena." Ujar Selena, dan saat itu Faaz membuka matanya."Kak, ayo kita pergi dari sini." Ujar Selena, dia menggandeng tangan Faaz tapi Faaz kebingungan."Kita dimana?" Tanya nya."Aku jelasin ntar, ayo sekarang kita pergi." Ujar Selena, dan menarik tangan Faaz.Faaz menutup mulut nya
Faaz duduk dan keheranan karena semua orang sedang mengaji, dan dia diletakkan di tengah seperti mayit. Tapi dari tatapan nya, Faaz terlihat seperti bukan Faaz.Ibunya hendak bangun dan menghampiri Faaz tapi dilarang oleh Selena."Jangan tante, tante harus tetap duduk." Ujar Selena."Kalian ngapain ngaji kayak gini!?" Faaz marah."Karena kami ingin mengeluarkan kamu, dari tubuh kak Faaz." Ujar Selena."Hei! Kamu pikir siapa kamu!? Suruh mereka berhenti!" Ujar Faaz, tapi tentu Selena tidak mendengarkan nya."Kamu nggak kenal dia, Fa? Dia Selena, bukan nya lo sering bahas dia?" Ujar Doni, dan Faaz tampak mengalami sakit kepala.'Selena?' Faaz seolah berpikir keras, siapa gerangan Selena yang dimaksud. "Kak Faaz nggak bakal inget, dia bukan dia karena di otak nya cuma dipenuhi oleh Intan." Ujar Selena, seketika Faaz menatap Selena."Mana pacar gue! Kalian apain pacar gue!" Faaz hendak menghampiri Selena tapi langkah nya terhenti karena dia seolah menabrak pembatas."Om, tante.. semuanya
Akhirnya pada sore harinya ketika kuliah berakhir, Doni langsung mencegah Faaz yang hendak keluar kelas. Faaz juga sudah mendapat panggilan dari ayah nya tapi Faaz menolak pulang dengan alasan dia ada tugas yang harus dikerjakan. "Fa, bokap lu nelpon gue, dia bilang minta lu pulang." Ujar Doni, Faaz menatap Doni dengan tatapan yang sangat dingin. "Lu yang minta, kan? Mau ngapain si lu!?" Ujar Faaz dan Doni sedikit tertegun. "Fa, lu tuh dalam bahaya dan kita semua sedang berusaha nyelamatin elu. Kita semua care sama nyawa lu jadi please pulang ya, Fa." Ujar Doni, Faaz hanya tersenyum dingin. "Nggak! Jangan ikut campur urusan gue, jangan deket-deket gue, jangan ganggu gue, lu paham!?" Ujar Faaz dengan penuh penekanan. Faaz hendak melangkah pergi tapi Doni akhirnya melakukan hal nekat. "BUGH!!" "UKH!" Doni memukul kepala Faaz sampai pingsan. "Sorry, Fa. Kalo nggak gini, lu nggak slamet." Ujar Doni, lalu menyeret tubuh Faaz. Selena sedang berjalan menuju ke kelas Faaz dan
Selena tiba di universitas dengan langkah cepat. Kini, ia sudah bersama Linggar. Matanya langsung menangkap sosok Doni di kejauhan, dan tanpa ragu, ia menghampirinya sambil membawa sebotol air putih di tangannya, air yang telah didoakan."Kak..." panggil Selena lembut.Doni mengangguk tanpa banyak bicara, menerima air itu dengan ekspresi tenang. Tanpa menunggu lama, Selena berbalik dan melangkah masuk ke dalam kelasnya bersama Linggar.Sementara itu, Doni juga berjalan menuju kelasnya. Begitu masuk, ia melihat Faaz duduk sambil memegangi kepalanya. Raut wajahnya tampak kesakitan."Lu kenapa, Fa?" Doni bertanya dengan nada khawatir.Faaz menghela napas berat. "Nggak tahu kenapa… kepala gue sakit banget."Tanpa berpikir panjang, Doni mengulurkan botol air yang baru saja diberikan Selena. "Nih, minum dulu."Faaz, yang tengah kesakitan, langsung meneguknya tanpa curiga sedikit pun. Seteguk, dua teguk… Air itu mengalir melewati tenggorokannya, memberikan sensasi dingin yang aneh.Doni mena
Kenzi dan Selena menaiki eskalator menuju lantai tempat Kenzo dirawat. Sepanjang perjalanan, Kenzi terus menunduk, seolah tak ingin dunia melihat luka yang menggores hatinya. Rasa sakit yang selama ini ia pendam, kini mengalir begitu dalam, membanjiri pikirannya.Sesampainya di depan kamar Kenzo, Kenzi mengambil nafas dalam sebelum mendorong pintu. Begitu masuk, ia langsung disambut pemandangan ibunya yang tengah menangis dalam pelukan sang ayah."Kenzi!" seru ibunya dengan suara bergetar. "Kenzi sayang… maafin Mama, Nak."Dengan cepat, ia bangkit dan langsung memeluk putranya erat, seakan takut kehilangan lagi.Sayang… Ibunya baru saja memanggilnya dengan kata itu. Sesuatu yang selama ini tak pernah ia dengar."Kenzi… maafin Mama," lanjutnya, suaranya terisak. "Mama nggak tau kalau selama ini kamu udah melakukan banyak hal buat kami."Tapi Kenzi hanya diam. Bibirnya melengkung dalam senyuman tipis, tapi hatinya tetap terasa hampa. Tak ada kebahagiaan yang menyeruak, tak ada kehangata
Selena duduk bersama kedua orang tua Kenzo serta saudara kembarnya, Kenzi. Ia telah menyampaikan semua yang dikatakan Kenzo, tanpa ada yang ditutupi. Kini, keheningan menyelimuti ruangan. Ibunya terdiam sesaat sebelum akhirnya membuka suara."Tapi tetap saja, dia itu bawa sial sejak lahir," ucapnya dingin.Kenzi menunduk. Tatapannya kosong, tapi hatinya penuh luka yang selama ini tak pernah sembuh.Selena menghela napas, mencoba tetap tenang meski dadanya bergejolak. "Tante, nggak ada satu anak pun yang bisa memilih dari rahim siapa dia dilahirkan. Lahirnya seorang anak itu anugerah, rezeki. Itu titipan Allah untuk Tante dan Om." Ucapannya lembut, penuh pemahaman, namun tegas.Kenzi menahan napas, matanya berkaca-kaca. Sementara itu, sang ayah menatap Kenzi dengan ekspresi sulit diartikan."Kenzi bukan pembawa sial," lanjut Selena, suaranya sedikit bergetar. "Cap yang Tante kasih ke dia itu doa dari Tante sendiri. Kenapa bisa Tante sebenci itu sama anak kandung Tante? Anak yang Tante
Selena berdiri di dalam ruangan rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Matanya terpejam, tubuhnya sedikit gemetar, dan kedua tangannya terangkat seolah sedang menarik sesuatu yang tak terlihat. Bagi orang biasa, ia mungkin tampak seperti sedang melakukan gerakan aneh seperti seseorang yang kesurupan atau berhalusinasi. Tapi di dunia astral, sesuatu yang mengerikan sedang terjadi.Asap hitam pekat merayap keluar dari punggungnya, menggeliat liar seperti makhluk hidup. Selena menggenggam asap itu dengan erat, memaksanya untuk berkumpul di telapak tangannya. Tiba-tiba, asap itu mulai membentuk sosok.Sebuah wajah mengerikan muncul, seorang perempuan dengan mata cekung yang bersinar merah, mulut sobek hingga ke telinga, dan deretan gigi runcing yang meneteskan cairan hitam pekat."Khhk! Khhhk! Lepas!!!" jerit sosok itu, tubuhnya menggeliat kesakitan dalam genggaman Selena.Tapi Selena tetap kuat. Ini bukan pertama kalinya dia menghadapi sesuatu seperti ini."Siapa yang mengirimmu?" tanyanya,
Saat jam istirahat tiba, akhirnya Selena mengizinkan sosok bernama Roy untuk berbicara. Wajah hantu itu dipenuhi kecemasan, matanya memohon dengan putus asa."Tolongin dia, Selena."Selena menatapnya lekat. Ia sudah tahu kekhawatiran Roy. Sudah sejak lama ia menyadari bahwa Faaz berada dalam bahaya besar."Iya, aku tahu," ujar Selena, suaranya tenang tapi tegas. "Tapi ini nggak mudah."Selena menarik napas, menatap lurus ke arah Roy yang kini menunduk. "Masalahnya, apa yang ada di belakang Intan itu bukan sekadar sosok biasa. Intan jelas-jelas sudah melakukan perjanjian sama setan."Ucapan itu membuat udara di sekitar mereka terasa lebih dingin. Roy mengepalkan tangannya."Selain Kak Roy, siapa teman Kak Faaz yang paling dekat sama dia?" tanya Selena."Doni! Kamu ingat wakil ketua BEM, kan?" jawab Roy cepat.Selena mengangguk. "Oke, aku bakal minta bantuan Kak Doni. Semoga dia gampang diajak ngomong."Setelah itu, Selena kembali ke alam nyata. Begitu kesadarannya kembali, ia langsung