Di rumah Linggar, ayahnya tiba-tiba mengamuk, membanting gelas dan menendang meja hingga kaca meja pecah. Tak jelas apa yang memicu amarahnya, tapi yang pasti, ia benar-benar kehilangan kendali. Linggar berusaha menahan dan menarik ayahnya keluar dari ruang tamu.
Selena, Ustadz Sholeh, dan Rangga saling memandang, melihat kejadian itu. Bagi orang biasa, mungkin itu hanya ayah Linggar yang tengah marah, namun sebenarnya, ada sesuatu yang mengendalikan dirinya. Itu bukanlah ayah Linggar sepenuhnya. Sosok Ratu yang mungkin terbangun dan terusik sedang menguasai tubuhnya. "TIDAK!!!" Ayah Linggar tiba-tiba berlari dengan cepat, mencoba menyerang Ustadz Sholeh, namun langkahnya terhenti seolah ada penghalang yang tak terlihat di antara mereka. Wajah ayah Linggar berubah, matanya kini tampak seperti mata reptil, tubuhnya bergerak seakan melayang. "Jangan campuri urusan kami!" teriak ayah Linggar, dengan tatapan tajam ke arah Ustadz Sholeh. Suara yang keluar dari mulutnya terdengar aneh, bukan hanya satu suara, melainkan suara campuran laki-laki dan perempuan, menambah kesan mengerikan. Suara itu semakin membuktikan bahwa bukan hanya satu sosok yang ada di dalam tubuh ayah Linggar. Bisa jadi ada beberapa entitas yang saling berbaur dalam satu tubuh. "Karena kau sudah mengganggu orang tak bersalah, ini jadi urusanku. Tugas saya adalah mengalahkan makhluk seperti kamu yang menyesatkan." jawab Ustadz Sholeh dengan tegas. Mendengar itu, ayah Linggar hanya tersenyum sinis, wajahnya penuh kebencian, seakan meremehkan Ustadz Sholeh. "Hah! Berani kamu?!" teriaknya, kemudian tatapannya beralih kepada Selena. Selena dan ayah Linggar yang tengah dirasuki sosok itu saling beradu pandang. Ayah Linggar tersenyum, namun senyumnya seperti menyimpan pesan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. "Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak ikut campur, tapi rupanya kamu keras kepala. Anak manis, jangan menyesal kalau nanti kamu jadi salah satu budakku," ujar sosok itu dengan nada mengancam. "Astagfirullah…" gumam Selena, merasa terkejut. Linggar langsung berdiri di depan Selena, mencoba melindunginya dari tatapan penuh ancaman itu. Sosok yang menguasai ayah Linggar kembali menatap Ustadz Sholeh, namun tubuhnya seolah terkunci, tak mampu bergerak. Akhirnya, sosok itu keluar dari tubuh ayah Linggar, dan tubuh ayah Linggar pun terjatuh pingsan. "Brugh!" "Papa!" Linggar berusaha menahan tubuh ayahnya yang terjatuh. "Rangga, bantu Linggar untuk angkat ayahnya." Ujar Ustadz Sholeh, dan Rangga segera mengangguk. Rangga pun membantu Linggar mengangkat ayahnya dan meletakkannya di sofa, sementara Ustadz Sholeh mulai membaca doa dan memeriksa sekitar ruangan itu, begitu juga Selena yang ikut waspada. "Linggar, jagalah papamu, jangan sampai kamu tinggalkan. Rangga, temani Linggar, jika terjadi sesuatu." Ujar Ustadz Sholeh, sambil memakai sarung tangan. "Iya, Ustadz." Jawab Rangga. Ustadz Sholeh meminta pelayan rumah untuk menunjukkan sumber titik air, lalu dengan air yang sudah dibacakan doa, ia mulai menyemprotkan air ke setiap sudut rumah sambil melantunkan ayat-ayat Ruqyah. Selama Ustadz Sholeh melantunkan doa, Selena merasakan energi yang tidak asing baginya, seperti energi kiriman teluh atau santet. Selena pun menatap sebuah kamar di lantai dua dan bertanya pada pelayan rumah yang mengikuti mereka. "Bi, kamar ini milik siapa?" tanya Selena. "Oh, ini kamar Tuan," jawab pelayan. Selena menoleh ke arah Ustadz Sholeh yang masih membaca doa di dekat jendela, kemudian ia menghampirinya. "Ustadz, aku merasakan energi kiriman." Ujar Selena dengan serius. "Dari arah mana?" tanya Ustadz Sholeh. "Dari kamar ayahnya Linggar," jawab Selena. Ustadz Sholeh lalu berjalan menuju depan kamar di lantai dua, sambil membaca doa. Ia meminta pelayan rumah untuk membuka pintu kamar itu. Saat pintu dibuka, kamar itu tampak rapi dan teratur, namun itu hanya yang terlihat oleh mata telanjang. Selena yang memperhatikan dari sudut lain merasa kamar itu sangat gelap, penuh tekanan, dan seolah menantang kehadirannya. Baru saja Selena melangkahkan kaki memasuki kamar itu, tiba-tiba pelayan wanita yang berdiri di belakangnya, yang tadinya menunduk, mulai berjalan mendekat dengan langkah yang aneh. Selena menoleh, merasakan sesuatu yang tidak biasa di belakangnya. Ia menatap pelayan Linggar yang terus menunduk, dengan rasa curiga yang semakin mendalam. 'Hati-hati, Selena...' Sebuah bisikan terdengar jelas di telinganya, membuat Selena segera siaga. "Bi?" panggil Selena pada pelayan Linggar, tetapi tidak ada jawaban. "HAHAHAHAHA!!!" Tiba-tiba, pelayan itu tertawa keras dan langsung berusaha menyerang Selena. Beruntung, Selena sudah siap dan berhasil menangkap tangan pelayan yang hendak mencekiknya. Ustadz Sholeh segera menahan tangan pelayan itu sambil melantunkan doa, dan pelayan tersebut berteriak kesakitan. Selena tidak tinggal diam. Ia ikut membantu Ustadz Sholeh sambil membaca doa dalam hati, karena ia merasakan energi yang sangat kuat tak jauh dari mereka. "Katakan siapa tuanmu!" perintah Ustadz Sholeh. Pelayan Linggar hanya bisa menggeram kesakitan dan perlahan-lahan terjatuh ke lantai. "Hhhmmm... Lepas!" teriaknya dengan suara penuh amarah, namun Ustadz Sholeh tetap melanjutkan doa tanpa henti. "Ampun... Huhuhu... Pak Ustadz, ini saya..." Pelayan tua itu akhirnya seperti sadar, namun Ustadz Sholeh dan Selena tidak terpedaya. Mereka tahu sosok yang merasuki pelayan itu sedang berusaha membodohi mereka dengan berpura-pura sadar, padahal sebenarnya ia belum sepenuhnya keluar. Tipu daya ini bisa membuat siapa saja lengah, memainkan titik lemah manusia agar mereka terjebak. "Jika sudah sadar, katakan siapa tuanmu. Apa yang kamu inginkan di sini? Kenapa mengganggu keluarga ini?" tanya Selena tegas. Pelayan itu bergeliat di lantai, seperti ular yang kesakitan, namun Selena sadar bahwa sosok yang merasuki tubuhnya bukanlah yang dia cari. Energi yang ada dalam diri pelayan ini tidak sebesar energi sosok Ratu yang ia rasakan sebelumnya. "Hmmm!!! Lepas! Lepaskan aku!" teriak pelayan itu sambil menggeram kesakitan. Sosok yang merasuki tubuh pelayan itu tidak mau kalah. "Kalian sudah menyinggung sosok yang salah! Kalian akan menjadi makanan kami! Hahahaha!" serunya dengan tawa mengerikan. "Bukan kamu yang saya cari, tapi maaf, saya harus membinasakanmu." ujar Ustadz Sholeh, masih melantunkan doa dengan penuh keyakinan. Tanpa memberi ampun, ia terus mengusir sosok jahat itu. Pelayan rumah itu menjerit kesakitan, namun Ustadz Sholeh tidak memberikan kesempatan sedikitpun bagi sosok yang merasuki tubuh pelayan Linggar untuk melarikan diri. Bahkan ketika pelayan itu berteriak dan meronta, Ustadz Sholeh terus melantunkan doa tanpa ampun sampai akhirnya pelayan itu jatuh pingsan, lemas. Selena segera membantu merapikan pakaian pelayan tersebut sambil terus berdoa. Di sisi lain, Ustadz Sholeh kembali fokus pada titik yang ia curigai sebagai sumber dari teluh tersebut. Dengan penuh keyakinan, Ustadz Sholeh melanjutkan membaca doa, dan mulai memindahkan barang-barang dari sebuah lemari hias. Selena membantunya memindahkan barang-barang itu dengan hati-hati. Setelah semuanya dipindahkan, Ustadz Sholeh berusaha menggeser lemari tersebut, meski ia merasa kesulitan. "SubhanAllah, lemari ini nggak besar, tapi kenapa susah banget digeser?" gumamnya, penuh keheranan. Selena memandangnya, "Mungkin kita perlu bantuan, Ustadz. Panggil Rangga?" "Tidak perlu, biarkan Rangga menjaga ayahnya Linggar. Linggar lebih bisa membantu," jawab Ustadz Sholeh, dan Selena pun mengangguk. Selena turun ke lantai dua untuk memanggil Linggar. Rangga ingin ikut, namun ia harus tetap menjaga ayah Linggar, jadi ia tetap duduk cemas di sofa. Setibanya di atas, Linggar terkejut melihat kamar ayahnya berantakan dan pelayan rumah yang tergeletak pingsan di lantai. "Ustadz, ada apa dengan kamar ini?" tanya Linggar bingung. "Kita akan tahu setelah berhasil menggeser lemari ini. Ayo, bantu saya," jawab Ustadz Sholeh, dan Linggar segera mengangguk tanpa banyak bertanya lagi. Tubuh Linggar yang terawat dan kekar berkat latihan fisik yang rutin, membuatnya cukup kuat untuk membantu Ustadz Sholeh. Bersama-sama, mereka berusaha menggeser lemari kayu besar itu, dan perlahan-lahan lemari itu mulai bergerak. Namun, saat lemari itu akhirnya bergeser sedikit, terdengar suara letusan keras dari bawah, seolah-olah sebuah petasan meledak di tanah. Suara itu diikuti oleh suara barang pecah yang menggema. "DUARRRRR!!!" "Astagfirullah! Apa itu!?" teriak Selena dan Ustadz Sholeh serentak, terkejut.Ustadz Sholeh memperhatikan sebuah pintu yang tersembunyi di balik lemari hias. Pintu itu dicat hitam, terkunci rapat, dan besinya tampak berkarat, menandakan bahwa pintu itu tidak pernah dibuka sebelumnya."Tolong cari alat untuk membuka gembok ini," kata Ustadz Sholeh."Iya, Ustadz." Linggar segera keluar dari kamar dan kembali tak lama kemudian dengan palu besar di tangannya.Namun, langkah Linggar terlihat aneh. Wajahnya tampak datar tanpa ekspresi, namun tangannya menggenggam erat gagang palu dan berjalan menuju Ustadz Sholeh. Selena, yang sebelumnya berada di bawah, terkejut saat kembali masuk ke kamar ayah Linggar dan melihat Linggar bersiap melayangkan palunya ke arah Ustadz Sholeh."Ustadz, hati-hati!" teriak Selena, dan dengan cepat Ustadz Sholeh menghindar, meskipun tetap terkena pukulan di pelipisnya.Pelipis Ustadz Sholeh berdarah, dan rasa pusing langsung menyusul akibat hantaman palu itu. Linggar terus menyerang tanpa kontrol, sementara Ustadz Sholeh berusaha menghindar
Selena dan Rangga membawa Ustadz Sholeh ke rumah sakit untuk perawatan luka terbuka di pelipisnya, sementara Linggar dan ayahnya diminta untuk menginap di hotel demi keselamatan mereka. Rumah itu dibiarkan kosong sementara waktu. Selena dan Ustadz Sholeh berencana melanjutkan pembersihan rumah Linggar begitu Ustadz Sholeh pulih."Kenapa bisa kepala kamu sampai bocor dihantam palu, Ustadz?" tanya ayah Nicholas dengan tawa kecil, karena Selena membawa Ustadz Sholeh ke rumah sakit tempat ayah Nicholas bekerja, dan kebetulan ayahnya yang menangani Ustadz Sholeh."Usia makin tua, tenaga juga makin berkurang, nggak secepat dulu," jawab Ustadz Sholeh sambil menyeringai, merasakan sakit di kepalanya.Di luar, Selena dan Rangga sedang berdiskusi tentang langkah selanjutnya untuk menangani siluman ular tersebut, ketika Selena kembali melihat sosok pria yang menangis di hari itu. Ternyata dia masih ada di sana, dan kelihatannya proses penyembuhannya belum menunjukkan perkembangan."Rangga, sosok
Selena menghubungi Rangga untuk pulang lebih dulu bersama Ustadz Sholeh, karena ia perlu pergi dengan perempuan yang baru ditemuinya di rumah sakit. Kini, Selena sudah tiba di rumah perempuan itu, yang terasa sangat nyaman.Di dalam rumah, terlihat foto pernikahan mereka yang menunjukkan kebahagiaan. Banyak foto kebersamaan yang tersebar di setiap sudut rumah, memperlihatkan cinta yang mendalam antara pasangan itu. Wanita tersebut keluar membawa dua cangkir teh dan menyajikannya kepada Selena."Minum, nak," ucap wanita itu."Terima kasih, tante," jawab Selena, disertai senyum dari wanita itu.Selena menikmati teh yang disajikan, sementara wanita tersebut tampak memperhatikan sekeliling rumahnya."Apakah suami saya ikut pulang?" tanya wanita itu."Ya, suami tante ada di belakang tante sekarang," jawab Selena."Tante, papaku bilang... kemungkinan suami tante untuk sadar sangat tipis, bahkan untuk bertahan hidup. Namun sepertinya dia masih belum bisa pergi karena ada urusan yang belum se
Keesokan harinya, Selena kembali ke rumah Linggar bersama Linggar dan ayahnya. Hanya dalam satu hari, rumah itu yang semula terlihat biasa saja kini terasa sangat berbeda, seperti rumah yang telah lama ditinggalkan. Aura yang mengelilinginya semakin suram, lebih berat dari sebelumnya. Ketika Selena bertanya pada ratu siluman ular, makhluk itu mengaku bahwa ia bukan pelakunya, melainkan ada sosok lain yang bertanggung jawab.Sementara itu, Ustadz Sholeh sedang melakukan pencarian benda gaib yang mungkin telah dikubur atau dikirim oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab, seseorang yang syirik terhadap keluarga Linggar."Li, papa kamu beli rumah ini?" tanya Selena ketika Linggar tidak bersama ayahnya."Enggak, kita cuma numpang tinggal sementara di sini. Mungkin tahun depan kami pindah," jawab Linggar."Kalau begitu, mendingan kalian pindah aja dari rumah ini. Rumah ini nggak bisa dibiarkan begitu saja, harus ada pembersihan total," saran Selena."Selena benar, apalagi ada banyak kir
Setelah sesi pembersihan pada ayah Linggar selesai, kehidupan mereka mulai berubah. Linggar kini telah pindah ke rumah baru yang lokasinya tidak jauh dari rumah Selena. Bahkan, rumah barunya terletak tepat di seberang rumah ayah Nicholas. Berkat rutin melakukan ruqyah, hubungan ayah dan ibu Linggar yang sempat renggang kini telah pulih, dan Linggar pun resmi menjadi bagian dari geng trio Selena dan Rangga di sekolah.Suatu malam, Selena sedang berbaring tengkurap di ranjangnya, asyik video call dengan Nicholas yang saat itu berada di luar negeri."Yah... aku kangen sama abang," keluh Selena."Nanti kalau kamu sudah bangun, aku telpon lagi. Sekarang tidur dulu, anak nakal," jawab Nicholas dengan suara lembut.Karena perbedaan waktu, komunikasi mereka kadang agak terhambat, ketika siang di tempat Nicholas, malam di tanah air. Namun, mereka berusaha tetap menjaga komunikasi itu."Hehe... iya deh, tidur dulu," jawab Selena.Tiba-tiba, wajah seorang pria muncul dari belakang Nicholas, samb
Setelah sesi pembersihan pada ayah Linggar selesai, kehidupan mereka mulai berubah. Linggar kini telah pindah ke rumah baru yang lokasinya tidak jauh dari rumah Selena. Bahkan, rumah barunya terletak tepat di seberang rumah ayah Nicholas. Berkat rutin melakukan ruqyah, hubungan ayah dan ibu Linggar yang sempat renggang kini telah pulih, dan Linggar pun resmi menjadi bagian dari geng trio Selena dan Rangga di sekolah.Suatu malam, Selena sedang berbaring tengkurap di ranjangnya, asyik video call dengan Nicholas yang saat itu berada di luar negeri."Yah... aku kangen sama abang," keluh Selena."Nanti kalau kamu sudah bangun, aku telpon lagi. Sekarang tidur dulu, anak nakal," jawab Nicholas dengan suara lembut.Karena perbedaan waktu, komunikasi mereka kadang agak terhambat, ketika siang di tempat Nicholas, malam di tanah air. Namun, mereka berusaha tetap menjaga komunikasi itu."Hehe... iya deh, tidur dulu," jawab Selena.Tiba-tiba, wajah seorang pria muncul dari belakang Nicholas, samb
Selena berjalan menuju kantin setelah jam istirahat tiba, seperti biasa ditemani oleh dua teman tampannya, Rangga dan Linggar. Namun, ketika mereka sampai di kantin, suasana tiba-tiba berubah mencekam. Terlihat riuh di antara kerumunan siswa, semua berlarian dengan ketakutan seolah menghindari sesuatu."AAaa!" teriak seorang siswi dengan suara melengking, semakin menambah kepanikan di sekitar mereka."Lari! Dia kerasukan setan!" teriak seorang siswa lain, hingga beberapa anak terjatuh dan terinjak oleh yang lainnya yang berlari ketakutan."Astaghfirullah... Ada apa ini? kenapa?" tanya Selena, saat salah seorang anak menabraknya karena berlari panik."Itu, ada yang kerasukan," jawab anak itu, membuat Selena terkejut. Namun, alih-alih menghindar, ia justru merasa terdorong untuk mendekati siswi yang sedang kerasukan itu.Siswi yang kerasukan itu berbicara dengan suara aneh, mengucapkan kata-kata yang tidak jelas sambil mengusap-usap rambutnya yang seolah terlihat sangat panjang."Tak le
Setelah membantu para murid yang mengalami kerasukan massal, Selena pulang dengan tubuh yang kelelahan parah. Langkahnya berat, dan tanpa sadar, ia tertidur di tepi jalan. Rangga hanya bisa memandangnya dengan cemas, pikirannya dipenuhi kekhawatiran. Ia sadar bahwa sosok yang kini dihadapi Selena semakin berbahaya, lebih dari yang bisa dibayangkannya.Dalam tidurnya, Selena memasuki mimpi yang terasa begitu nyata. Ia mendapati dirinya di rumah lama almarhum Raka, tempat yang penuh kenangan. Kakinya melangkah menaiki tangga, menuju lantai dua, ke kamar yang dulu ia tempati bersama Raka.“Kenapa aku disini? Bukankah Papa melarangku masuk ke rumah ini?” gumamnya ragu. Namun, dorongan tak terlihat membuatnya terus berjalan hingga akhirnya berdiri di depan pintu kamar lamanya.Kenangan masa lalu berkelebat satu per satu, membawa Selena larut dalam nostalgia. Di antara semua memori, bayangan Raka paling kuat terpatri, mengingat ia sering menghabiskan waktu bersama almarhum kakaknya itu.“Go
Selena sedang sarapan dengan ayah Nicholas, dan ayah Nicholas menceritakan pada Selena apa yang kemudian Pak Hasan lakukan pada Faaz. Faaz sudah berhasil diselamatkan hanya tinggal pembersihan saja, dan Selena senang mendengarnya."Alhamdulillah ketemu sama Om Hasan, dia orang yang tepat." Ujar Selena."lya, tapi papa lebih bangga sama kamu, karena kamu sudah berhasil menyelamatkan sukmanya Faaz. Om Hasan bilang, nanti siang akan melakukan pembersihan di rumah Faaz." Ujar ayah Nicholas."Siang ya, pa? Aku nggak bisa bantuin dong." Ujar Selena."Nggak apa-apa, nak.. nggak semua hal harus kamu yang lakuin." Ujar ayah Nicholas, akhirnya Selena mengangguk."Tapi semalem bener-bener serem pa, di alam sana itu bukan kayak alam astral yang biasanya, bukan alam kosong, tapi kayak kota Jakarta asli." Ujar Selena."Mungkin yang kamu lihat memang asli, cuma mereka tidak melihat kamu. Ada sebutannya dulu, orang jawa kuno menyebutnya itu adalah merogo sukmo" Ujar ayah Nicholas, Selena pun mengerny
Selena masuk kedalam kamar-kamar yang ada di ruangan itu, tapi Selena tak menemukan keberadaan Faaz, Selena terus memanggil Faaz, berharap akan ada sahutan. Dan saat itu Selena melihat nenek tua itu sedang muntah-muntah darah."Kak Faaz!" Panggil Selena dengan keras.Selena melihat Intan juga berubah menjadi mengerikan, Intan merangkak kesakitan, seluruh wajah nya berdarah-darah. Nenek tua itu tampak ngesot di lantai dan menuju ke sebuah pintu yang belum Selena masuki, Selena mengikutinya dan dia melihat Faaz."Kak Faaz!" Selena bergegas masuk dan langsung menghampiri Faaz yang sedang tak sadarkan diri."Kak Faaz! Bangun kak!" Selena menepuk Faaz tapi Faaz tetap tidak sadarkan diri."Kak Faaz, bangun ini Selena." Ujar Selena, dan saat itu Faaz membuka matanya."Kak, ayo kita pergi dari sini." Ujar Selena, dia menggandeng tangan Faaz tapi Faaz kebingungan."Kita dimana?" Tanya nya."Aku jelasin ntar, ayo sekarang kita pergi." Ujar Selena, dan menarik tangan Faaz.Faaz menutup mulut nya
Faaz duduk dan keheranan karena semua orang sedang mengaji, dan dia diletakkan di tengah seperti mayit. Tapi dari tatapan nya, Faaz terlihat seperti bukan Faaz.Ibunya hendak bangun dan menghampiri Faaz tapi dilarang oleh Selena."Jangan tante, tante harus tetap duduk." Ujar Selena."Kalian ngapain ngaji kayak gini!?" Faaz marah."Karena kami ingin mengeluarkan kamu, dari tubuh kak Faaz." Ujar Selena."Hei! Kamu pikir siapa kamu!? Suruh mereka berhenti!" Ujar Faaz, tapi tentu Selena tidak mendengarkan nya."Kamu nggak kenal dia, Fa? Dia Selena, bukan nya lo sering bahas dia?" Ujar Doni, dan Faaz tampak mengalami sakit kepala.'Selena?' Faaz seolah berpikir keras, siapa gerangan Selena yang dimaksud. "Kak Faaz nggak bakal inget, dia bukan dia karena di otak nya cuma dipenuhi oleh Intan." Ujar Selena, seketika Faaz menatap Selena."Mana pacar gue! Kalian apain pacar gue!" Faaz hendak menghampiri Selena tapi langkah nya terhenti karena dia seolah menabrak pembatas."Om, tante.. semuanya
Akhirnya pada sore harinya ketika kuliah berakhir, Doni langsung mencegah Faaz yang hendak keluar kelas. Faaz juga sudah mendapat panggilan dari ayah nya tapi Faaz menolak pulang dengan alasan dia ada tugas yang harus dikerjakan. "Fa, bokap lu nelpon gue, dia bilang minta lu pulang." Ujar Doni, Faaz menatap Doni dengan tatapan yang sangat dingin. "Lu yang minta, kan? Mau ngapain si lu!?" Ujar Faaz dan Doni sedikit tertegun. "Fa, lu tuh dalam bahaya dan kita semua sedang berusaha nyelamatin elu. Kita semua care sama nyawa lu jadi please pulang ya, Fa." Ujar Doni, Faaz hanya tersenyum dingin. "Nggak! Jangan ikut campur urusan gue, jangan deket-deket gue, jangan ganggu gue, lu paham!?" Ujar Faaz dengan penuh penekanan. Faaz hendak melangkah pergi tapi Doni akhirnya melakukan hal nekat. "BUGH!!" "UKH!" Doni memukul kepala Faaz sampai pingsan. "Sorry, Fa. Kalo nggak gini, lu nggak slamet." Ujar Doni, lalu menyeret tubuh Faaz. Selena sedang berjalan menuju ke kelas Faaz dan
Selena tiba di universitas dengan langkah cepat. Kini, ia sudah bersama Linggar. Matanya langsung menangkap sosok Doni di kejauhan, dan tanpa ragu, ia menghampirinya sambil membawa sebotol air putih di tangannya, air yang telah didoakan."Kak..." panggil Selena lembut.Doni mengangguk tanpa banyak bicara, menerima air itu dengan ekspresi tenang. Tanpa menunggu lama, Selena berbalik dan melangkah masuk ke dalam kelasnya bersama Linggar.Sementara itu, Doni juga berjalan menuju kelasnya. Begitu masuk, ia melihat Faaz duduk sambil memegangi kepalanya. Raut wajahnya tampak kesakitan."Lu kenapa, Fa?" Doni bertanya dengan nada khawatir.Faaz menghela napas berat. "Nggak tahu kenapa… kepala gue sakit banget."Tanpa berpikir panjang, Doni mengulurkan botol air yang baru saja diberikan Selena. "Nih, minum dulu."Faaz, yang tengah kesakitan, langsung meneguknya tanpa curiga sedikit pun. Seteguk, dua teguk… Air itu mengalir melewati tenggorokannya, memberikan sensasi dingin yang aneh.Doni mena
Kenzi dan Selena menaiki eskalator menuju lantai tempat Kenzo dirawat. Sepanjang perjalanan, Kenzi terus menunduk, seolah tak ingin dunia melihat luka yang menggores hatinya. Rasa sakit yang selama ini ia pendam, kini mengalir begitu dalam, membanjiri pikirannya.Sesampainya di depan kamar Kenzo, Kenzi mengambil nafas dalam sebelum mendorong pintu. Begitu masuk, ia langsung disambut pemandangan ibunya yang tengah menangis dalam pelukan sang ayah."Kenzi!" seru ibunya dengan suara bergetar. "Kenzi sayang… maafin Mama, Nak."Dengan cepat, ia bangkit dan langsung memeluk putranya erat, seakan takut kehilangan lagi.Sayang… Ibunya baru saja memanggilnya dengan kata itu. Sesuatu yang selama ini tak pernah ia dengar."Kenzi… maafin Mama," lanjutnya, suaranya terisak. "Mama nggak tau kalau selama ini kamu udah melakukan banyak hal buat kami."Tapi Kenzi hanya diam. Bibirnya melengkung dalam senyuman tipis, tapi hatinya tetap terasa hampa. Tak ada kebahagiaan yang menyeruak, tak ada kehangata
Selena duduk bersama kedua orang tua Kenzo serta saudara kembarnya, Kenzi. Ia telah menyampaikan semua yang dikatakan Kenzo, tanpa ada yang ditutupi. Kini, keheningan menyelimuti ruangan. Ibunya terdiam sesaat sebelum akhirnya membuka suara."Tapi tetap saja, dia itu bawa sial sejak lahir," ucapnya dingin.Kenzi menunduk. Tatapannya kosong, tapi hatinya penuh luka yang selama ini tak pernah sembuh.Selena menghela napas, mencoba tetap tenang meski dadanya bergejolak. "Tante, nggak ada satu anak pun yang bisa memilih dari rahim siapa dia dilahirkan. Lahirnya seorang anak itu anugerah, rezeki. Itu titipan Allah untuk Tante dan Om." Ucapannya lembut, penuh pemahaman, namun tegas.Kenzi menahan napas, matanya berkaca-kaca. Sementara itu, sang ayah menatap Kenzi dengan ekspresi sulit diartikan."Kenzi bukan pembawa sial," lanjut Selena, suaranya sedikit bergetar. "Cap yang Tante kasih ke dia itu doa dari Tante sendiri. Kenapa bisa Tante sebenci itu sama anak kandung Tante? Anak yang Tante
Selena berdiri di dalam ruangan rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Matanya terpejam, tubuhnya sedikit gemetar, dan kedua tangannya terangkat seolah sedang menarik sesuatu yang tak terlihat. Bagi orang biasa, ia mungkin tampak seperti sedang melakukan gerakan aneh seperti seseorang yang kesurupan atau berhalusinasi. Tapi di dunia astral, sesuatu yang mengerikan sedang terjadi.Asap hitam pekat merayap keluar dari punggungnya, menggeliat liar seperti makhluk hidup. Selena menggenggam asap itu dengan erat, memaksanya untuk berkumpul di telapak tangannya. Tiba-tiba, asap itu mulai membentuk sosok.Sebuah wajah mengerikan muncul, seorang perempuan dengan mata cekung yang bersinar merah, mulut sobek hingga ke telinga, dan deretan gigi runcing yang meneteskan cairan hitam pekat."Khhk! Khhhk! Lepas!!!" jerit sosok itu, tubuhnya menggeliat kesakitan dalam genggaman Selena.Tapi Selena tetap kuat. Ini bukan pertama kalinya dia menghadapi sesuatu seperti ini."Siapa yang mengirimmu?" tanyanya,
Saat jam istirahat tiba, akhirnya Selena mengizinkan sosok bernama Roy untuk berbicara. Wajah hantu itu dipenuhi kecemasan, matanya memohon dengan putus asa."Tolongin dia, Selena."Selena menatapnya lekat. Ia sudah tahu kekhawatiran Roy. Sudah sejak lama ia menyadari bahwa Faaz berada dalam bahaya besar."Iya, aku tahu," ujar Selena, suaranya tenang tapi tegas. "Tapi ini nggak mudah."Selena menarik napas, menatap lurus ke arah Roy yang kini menunduk. "Masalahnya, apa yang ada di belakang Intan itu bukan sekadar sosok biasa. Intan jelas-jelas sudah melakukan perjanjian sama setan."Ucapan itu membuat udara di sekitar mereka terasa lebih dingin. Roy mengepalkan tangannya."Selain Kak Roy, siapa teman Kak Faaz yang paling dekat sama dia?" tanya Selena."Doni! Kamu ingat wakil ketua BEM, kan?" jawab Roy cepat.Selena mengangguk. "Oke, aku bakal minta bantuan Kak Doni. Semoga dia gampang diajak ngomong."Setelah itu, Selena kembali ke alam nyata. Begitu kesadarannya kembali, ia langsung