Share

03. istri siri

Penulis: Auristella
last update Terakhir Diperbarui: 2023-07-26 08:50:41

Siang ini Mauren tengah menyuapi kekasihnya dengan telaten. Sementara kekasihnya tersenyum nakal padanya. Hal itu membuat pipinya merona.

"Kamu lucu!" puji Mahen sambil mengusap pucuk rambut kekasihnya. Kehadiran Mauren membuatnya melupakan kemarahannya pada Maura tadi pagi.

"Ish, apaan sih Yang. Jadi berantakan ini," keluh Mauren kesal.

Mahen malah tertawa kecil. "Abis kamu ngegemesin," godanya disertai senyuman nakal.

Blush

Pipi Mauren merona lagi. Memang hanya Mahen yang bisa membuatnya terbang melayang. Ia terkejut ketika tubuhnya melayang dan berpindah tempat berada di pangkuan Mahen. Sekarang ia berada di hadapan Mahen.

Mauren sedikit memberontak karena takut kalau ada orang yang tiba-tiba masuk. "Ish Yang, ini kantor. Jangan macam-macam deh," katanya sambil memberontak minta turun.

"Jadi kalau bukan di kantor boleh begitu?" goda Mahen.

"Y-ya nggak gitu juga Yang," elak Mauren.

"Jadi mau nggak? Aku menginginkanmu, istriku." Mahen sengaja mengendus ceruk leher Mauren kekasihnya.

Mauren melenguh Karena deru napas Mahen di ceruk lehernya. Sebagai wanita dewasa tentu ia mengerti apa maksud Mahen. Ia merasakan sesuatu yang menegang di bawah sana. "Tapi 'kan kemarin udah Yang."

Mahen dan Mauren memang sering melakukan hal 'itu'. Apalagi setelah Mereka menikah. Ah, perlu diketahui kalau mereka sudah menikah siri karena sempat ketahuan berbuat yang tak pantas di kamar.

Untungnya, keluarga Mahen masih menerima Mauren sebagai menantu. Meski itu harus menjadi istri siri dan kini baik Mauren maupun Maura itu statusnya sama. Yaitu sama-sama istri yang disembunyikan.

"Kurang dong sayang... Mau ya?" goda Mahen sambil menggerakkan bagian bawahnya. Ia juga menyesap ceruk leher Mauren penuh napsu sehingga Mauren melenguh kecil.

"Tapi ini dikantor Yang. Malu kalau ada yang tiba-tiba masuk," tolak Mauren.

"Dosa loh menolak keinginan suami."

Mauren mendengus kesal. Bibirnya mengerucut lucu. "Huh, ya udah."

Mahen tertawa, ia langsung mengunci pintu dengan remote yang ada. Ia juga membawa Mauren ke dalam kamar pribadi Mahen dengan menggendongnya ala koala. Lelaki tampan itu merebahkan Mauren di ranjang yang tersedia. Mauren sendiri hanya bisa pasrah karena ia juga menikmati semua permainan kekasihnya-ralat suaminya itu.

Tanpa basa-basi Mahen langsung menyambar bibir manis Mauren. Siang yang panas makin panas karena kegiatan mereka. Bahkan suhu AC pun tak bisa meredamkan panas di ruangan itu. Padahal baru sebuah kecupan di bibir, tetapi panasnya sudah menyebar ke seluruh ruangan.

Bunyi kecipak Saliva memenuhi ruangan itu. Baju-baju berserakan di lantai. Sambil menyesap lidah Mauren, tangan Mahen bergerak liar di gunung kembar milik Mauren. Hingga Mauren melenguh dan pagutan liar mereka terlepas.

Berbeda dengan Mahen yang tengah berperang di ranjang, kini Maura sedang berada di Citos Kafe bersama Viana, temannya yang berprofesi sebagai pengacara.

"Kamu yakin mau gugat Mahen? Nggak sayang gitu?" tanya Vian tak yakin.

Ia menatap sendu temannya sejak SMA itu. Walau hubungan mereka tak bisa di sebut sahabat, namun ia tahu sedikit tentang Maura.

Vian, tahu kalau hidup Maura tak seindah yang orang tahu. Terkadang, ia menemukan Maura yang sedang menangis diam-diam di belakang sekolah entah karena apa.

Dulu waktu SMA. Maura sempat berpacaran dengan salah satu kakak kelas yang paling tampan. Hubungan mereka bahkan awet sampai si kakak kelas lulus. Ia kira Maura akan menikah dengan si kakak kelas itu. Tetapi ternyata dengan Mahen.

Mahen itu kekasih Mauren sejak SMA. Siapa yang tak tahu kisah Mauren dan Mahen. Pasangan fenomenal itu terkenal di seluruh sekolah seantero Jakarta karena mereka sangat serasi. Mereka berdua bahkan terkenal disekolahnya.

Dulu, Vian bahkan tak tahu siapa Maura. Wajahnya yang selalu datar membuat siapa saja enggan berdekatan dengan Maura. Tetapi siapa sangka, ternyata Maura adalah salah satu anak dari keluarga Sagara yang terkenal dengan kekayaannya. 

Kembali ke saat ini, Maura mengangguk yakin setelah menceritakan semua pada Vian. Setidaknya beban di hatinya sedikit terangkat.

"Tapi, kita butuh tanda tangan Mahen Ra."

***

I* : @auristella.riska

Bab terkait

  • Bukan Istri Impian   04. Rencana Maura

    Maura tak tahu harus bagaimana untuk mendapatkan tanda tangan Mahen. "Biar aku yang urus ya Vi. Semoga aja Mahen mau langsung tanda tangan." "Oke, besok aku kirim dokumennya ke kamu." Vian menghela napasnya. "Terus rencana kamu gimana?" "Mau cari rumah sama bikin usaha gitu," jawab Maura tak yakin. Alis Vian mengernyit melihat ekspresi Maura yang tak yakin. "Aku punya saudara yang jual rumahnya di Jogja. Kira-kira kamu mau nggak?" Maura langsung mendongak antusias mendengarnya. Matanya sedikit berbinar karena merasa mendapat angin segar. "Apa kamu bisa bantu aku buat beli?" "Bisa banget. Nanti sekalian aku urusin balik namanya. Rumahnya lumayan gede, dua lantai. Di perumahan lagi. Jadi tetangga nggak ada yang usil, atau julid. 'Kan mereka sibuk kerja. Menurutku harganya nggak terlalu mahal buat holkay kaya kamu," ujar Vian menambahkan. "Tapi, kandunganku udah gede. Kalau rumah di pinggiran Jakarta ada Vi?" Vian

    Terakhir Diperbarui : 2023-07-26
  • Bukan Istri Impian   05. Ngidam

    Mahen memasuki kamarnya dengan hati yang mengganjal. Walaupun begitu, ia menepis semua perasaan itu. Ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia bergegas ke ruang kerja untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Beberapa menit berkutat dengan berkas-berkasnya, tiba-tiba ia kepikiran sate kambing dan jus wortel campur dengan seledri. Mahen menepis keinginannya itu. Berkali-kali ia meneguk ludahnya karena kepikiran dengan kedua makanan itu. Tetapi semakin ia menepis, semakin ia ingin memakan makanan itu. Lelaki tampan itu bangkit menuju dapur. Mencari makanan lain agar bisa menghilangkan keinginannya yang tiba-tiba. "Loh, Aden!" "Astaga!" Mahen sedikit tersentak karena suara orang yang memanggilnya. Sambil mengelus dadanya pelan. "Bi, aku kaget Bi." "Lah Aden ngapain malem-malem kayak maling begitu? Mana gelap." Bi Murni segera menyalakan lampu dapur. Mahen sendiri men

    Terakhir Diperbarui : 2023-07-26
  • Bukan Istri Impian   06. Ngidam 2

    Sinar matahari telah mengintip dari celah-celah awan. Burung-burung berkicau ria menyambut hari yang cerah. Sedari subuh Maura sudah membersihkan paviliun tempatnya tinggal. Beberapa pelayan yang baik masih mau menyapanya, tetapi ada juga yang enggan menyapanya karena tidak menyukai Maura. Memang rumah Mahen itu besar. Bahkan saking besarnya rumah itu tidak patut disebut rumah. Mungkin Mansion yang lebih tepat. Beruntungnya Maura tinggal di paviliun, karena jika ia tinggal di mansion depan. Bisa pingsan jika ia harus membersihkan rumah sebesar itu. Lain halnya dengan Maura, Mahen kini tengah membuat bingung semua orang di kediaman utama. Bagaimana tidak bingung. Sedari subuh ia meminta rujak dan es kacang merah khas Palembang. "Saya mau rujak sama es kacang merah. Pokoknya saya tidak mau makan kalau belum ada itu!" rajuk Mahen seperti anak kecil. Bi Murni dan Pak Rus saling pandang karena tak tahu harus mencari

    Terakhir Diperbarui : 2023-07-26
  • Bukan Istri Impian   07. Maura VS Rani

    Maura sedang asik memakan nasi gorengnya ketika Dara masuk ke paviliun dan mengamati menantunya dari balik tembok di dekat dapur, karena ia masuk lewat pintu belakang. Sebenarnya Dara sendiri penasaran mengapa Maura tidak kelihatan di rumah bagian depan. Lalu ia masuk ke paviliun sambil mengecek apa saja yang ada di paviliun. Tetapi ia malah melihat menantunya-Maura sedang asik makan. Ada rasa benci melihat menantunya itu. Sungguh, ia begitu membenci cara murahan Maura mendapatkan Mahen. Apalagi, Maura merebut Mahen dari adik kembarnya sendiri.Maura terkesan murahan dan licik secara bersamaan. Namun melihat Maura sekarang, sebagai wanita ia sedikit iba. Bagaimana wanita hamil itu masih bisa tersenyum disaat diperlakukan begitu buruk oleh semua orang bahkan keluarganya sendiri. Dara menyembunyikan wajahnya ketika salah satu pelayan bernama Rani datang dengan wajah tak bersahabat. Yang membuatnya terkejut, pelayan itu melemparkan sebua

    Terakhir Diperbarui : 2023-07-26
  • Bukan Istri Impian   08. Dara Tahu

    Tubuh Maura langsung luruh setelah Rani pergi. Wanita dengan rambut sebahu itu menangis tergugu sambil memukul dadanya keras agar tak terlalu sesak. Tetapi percuma. Perkataan Rani begitu menamparnya.Ia memang salah, menikah dengan Mahen adalah salahnya. Itu semua ia lakukan agar Mauren terluka, agar Mauren tak bahagia seperti dirinya. Karena kehidupan Mauren begitu sempurna. Dilimpahi kasih sayang dari orang tuanya.Berbeda dengannya yang sudah seperti anak tiri. Kadang, ia sendiri berpikir kalau dirinya hanyalah anak angkat keluarga Sagara. Mungkin, ia bukan kembaran Mauren karena mereka sangat berbeda. Maura iri pada Mauren. Mauren selalu dilimpahi kasih sayang mereka. Semua keluarga Sagara menyanjung Mauren dan mengabaikannya. Itu sangat menyakitkan. Dara yang melihat Maura menangis, ikut menangis dari balik tembok. Sementara itu Maura masih menangis sambil membekap mulutnya sendiri. Berharap isakannya tidak terdengar pelayan lain.

    Terakhir Diperbarui : 2023-07-26
  • Bukan Istri Impian   09. Usaha Maura

    Maura berjalan pelan menuju ruangan Mahen. Ia tidak mempedulikan tatapan penuh pertanyaan dari para pegawai yang menatapnya penasaran. Mungkin saja mereka heran, ada wanita hamil yang ingin menemui pimpinan mereka. Satu hal yang pasti, ia ingin meminta tanda tangan Mahen untuk bercerai lalu memulai kehidupan baru di tempat yang baru. Rasanya ia sudah tak sanggup untuk menghadapi dunia yang kejam ini. Saat memasuki lift, seorang lelaki bertubuh tegap ikut masuk lelaki lain juga ikut masuk. Aroma parfum milik lelaki itu menggelitik hidung sensitif Maura. Aromanya begitu maskulin dan menenangkan. Tidak mencolok tetapi tidak terlalu kalem juga. Seketika ia merasakan tendangan bayi di perutnya. Sepertinya si kembar menyukai aroma lelaki ini, batinnya pelan.Pada saat lift terbuka di lantai lima belas, semua keluar dan secara tidak sengaja mereka menuju ruang yang sama. Yaitu ruangan Mahen. "Selamat pagi Pak Liam dan Pak Yudha juga dan..."

    Terakhir Diperbarui : 2023-07-26
  • Bukan Istri Impian   10. Sebuah Syarat

    "Ini untuk ongkos pulang. Perusahaan akan mentransfer uangnya setelah ini," katanya datar. Bukannya menerima, Maura membuang uang itu hingga berserakan di lantai. Ia menatap Mahen penuh amarah. Namun ia tidak dapat berbuat apapun. "Saya bukan pengemis Tuan." Setelah mengatakan itu ia pergi begitu saja. Semua yang ada di situ hanya menatap punggung Maura dengan tatapan berbeda. Mahen sendiri tampak begitu acuh meski melihat Maura yang berjalan kesusahan. Maura menangis sepanjang jalan. Ia berhenti di sebuah kursi kecil di sebuah taman. Di situ ia menumpahkan tangisannya. Lagi-lagi dadanya sesak karena begitu perih luka yang Mahen torehkan. Jika bertemu dengannya saja Mahen tidak mau, maka bagaimana ia bisa meminta tanda tangannya? Selesai menumpahkan emosinya, Maura segera pulang. Saat ia menunggu taksi, sebuah mobil hitam merk Alphard berhenti di depannya. Ternyata itu adalah ibu mertuanya. "Masuk," titah Dara tegas. Maura

    Terakhir Diperbarui : 2023-07-26
  • Bukan Istri Impian   01. Ditolak Lagi

    "Sudah saya bilang kamu tidak usah membuatkan saya makanan. Saya biasa sarapan sama Mauren. Apa kamu tuli?" Suara bariton itu menggema ke seluruh ruangan. Para pelayan menunduk takut, beberapa yang lain berpura-pura tidak mendengar bos mereka yang sedang marah. Sementara itu, seorang wanita dengan perut buncitnya hanya menghela napas pelan. Ini sudah ke seribu kalinya suaminya menolak 'makanan' yang sudah susah payah ia buat. "Oke--" "Jalang. Berkali-kali saya bilang. Kalau saya tidak mau melihat kamu di pagi hari! Saya muak melihat wajah kamu! Kamu itu pembawa sial!" maki Mahen cepat. "Mas, tap--" "Diam kamu! Diam! Saya sudah pernah bilang bukan, kalau setiap pagi saya tidak ingin melihat wajah kamu." "Maaf." "Mulai besok, jangan muncul di hadapan saya lagi. Entah itu pagi, siang atau sore!" titah Mahen tak bisa dibantah. Wanita itu hanya bisa menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Dadanya sesak menahan luka yang terus tergores, bak tergores sembilu. "Dengar pelay

    Terakhir Diperbarui : 2023-03-13

Bab terbaru

  • Bukan Istri Impian   10. Sebuah Syarat

    "Ini untuk ongkos pulang. Perusahaan akan mentransfer uangnya setelah ini," katanya datar. Bukannya menerima, Maura membuang uang itu hingga berserakan di lantai. Ia menatap Mahen penuh amarah. Namun ia tidak dapat berbuat apapun. "Saya bukan pengemis Tuan." Setelah mengatakan itu ia pergi begitu saja. Semua yang ada di situ hanya menatap punggung Maura dengan tatapan berbeda. Mahen sendiri tampak begitu acuh meski melihat Maura yang berjalan kesusahan. Maura menangis sepanjang jalan. Ia berhenti di sebuah kursi kecil di sebuah taman. Di situ ia menumpahkan tangisannya. Lagi-lagi dadanya sesak karena begitu perih luka yang Mahen torehkan. Jika bertemu dengannya saja Mahen tidak mau, maka bagaimana ia bisa meminta tanda tangannya? Selesai menumpahkan emosinya, Maura segera pulang. Saat ia menunggu taksi, sebuah mobil hitam merk Alphard berhenti di depannya. Ternyata itu adalah ibu mertuanya. "Masuk," titah Dara tegas. Maura

  • Bukan Istri Impian   09. Usaha Maura

    Maura berjalan pelan menuju ruangan Mahen. Ia tidak mempedulikan tatapan penuh pertanyaan dari para pegawai yang menatapnya penasaran. Mungkin saja mereka heran, ada wanita hamil yang ingin menemui pimpinan mereka. Satu hal yang pasti, ia ingin meminta tanda tangan Mahen untuk bercerai lalu memulai kehidupan baru di tempat yang baru. Rasanya ia sudah tak sanggup untuk menghadapi dunia yang kejam ini. Saat memasuki lift, seorang lelaki bertubuh tegap ikut masuk lelaki lain juga ikut masuk. Aroma parfum milik lelaki itu menggelitik hidung sensitif Maura. Aromanya begitu maskulin dan menenangkan. Tidak mencolok tetapi tidak terlalu kalem juga. Seketika ia merasakan tendangan bayi di perutnya. Sepertinya si kembar menyukai aroma lelaki ini, batinnya pelan.Pada saat lift terbuka di lantai lima belas, semua keluar dan secara tidak sengaja mereka menuju ruang yang sama. Yaitu ruangan Mahen. "Selamat pagi Pak Liam dan Pak Yudha juga dan..."

  • Bukan Istri Impian   08. Dara Tahu

    Tubuh Maura langsung luruh setelah Rani pergi. Wanita dengan rambut sebahu itu menangis tergugu sambil memukul dadanya keras agar tak terlalu sesak. Tetapi percuma. Perkataan Rani begitu menamparnya.Ia memang salah, menikah dengan Mahen adalah salahnya. Itu semua ia lakukan agar Mauren terluka, agar Mauren tak bahagia seperti dirinya. Karena kehidupan Mauren begitu sempurna. Dilimpahi kasih sayang dari orang tuanya.Berbeda dengannya yang sudah seperti anak tiri. Kadang, ia sendiri berpikir kalau dirinya hanyalah anak angkat keluarga Sagara. Mungkin, ia bukan kembaran Mauren karena mereka sangat berbeda. Maura iri pada Mauren. Mauren selalu dilimpahi kasih sayang mereka. Semua keluarga Sagara menyanjung Mauren dan mengabaikannya. Itu sangat menyakitkan. Dara yang melihat Maura menangis, ikut menangis dari balik tembok. Sementara itu Maura masih menangis sambil membekap mulutnya sendiri. Berharap isakannya tidak terdengar pelayan lain.

  • Bukan Istri Impian   07. Maura VS Rani

    Maura sedang asik memakan nasi gorengnya ketika Dara masuk ke paviliun dan mengamati menantunya dari balik tembok di dekat dapur, karena ia masuk lewat pintu belakang. Sebenarnya Dara sendiri penasaran mengapa Maura tidak kelihatan di rumah bagian depan. Lalu ia masuk ke paviliun sambil mengecek apa saja yang ada di paviliun. Tetapi ia malah melihat menantunya-Maura sedang asik makan. Ada rasa benci melihat menantunya itu. Sungguh, ia begitu membenci cara murahan Maura mendapatkan Mahen. Apalagi, Maura merebut Mahen dari adik kembarnya sendiri.Maura terkesan murahan dan licik secara bersamaan. Namun melihat Maura sekarang, sebagai wanita ia sedikit iba. Bagaimana wanita hamil itu masih bisa tersenyum disaat diperlakukan begitu buruk oleh semua orang bahkan keluarganya sendiri. Dara menyembunyikan wajahnya ketika salah satu pelayan bernama Rani datang dengan wajah tak bersahabat. Yang membuatnya terkejut, pelayan itu melemparkan sebua

  • Bukan Istri Impian   06. Ngidam 2

    Sinar matahari telah mengintip dari celah-celah awan. Burung-burung berkicau ria menyambut hari yang cerah. Sedari subuh Maura sudah membersihkan paviliun tempatnya tinggal. Beberapa pelayan yang baik masih mau menyapanya, tetapi ada juga yang enggan menyapanya karena tidak menyukai Maura. Memang rumah Mahen itu besar. Bahkan saking besarnya rumah itu tidak patut disebut rumah. Mungkin Mansion yang lebih tepat. Beruntungnya Maura tinggal di paviliun, karena jika ia tinggal di mansion depan. Bisa pingsan jika ia harus membersihkan rumah sebesar itu. Lain halnya dengan Maura, Mahen kini tengah membuat bingung semua orang di kediaman utama. Bagaimana tidak bingung. Sedari subuh ia meminta rujak dan es kacang merah khas Palembang. "Saya mau rujak sama es kacang merah. Pokoknya saya tidak mau makan kalau belum ada itu!" rajuk Mahen seperti anak kecil. Bi Murni dan Pak Rus saling pandang karena tak tahu harus mencari

  • Bukan Istri Impian   05. Ngidam

    Mahen memasuki kamarnya dengan hati yang mengganjal. Walaupun begitu, ia menepis semua perasaan itu. Ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia bergegas ke ruang kerja untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Beberapa menit berkutat dengan berkas-berkasnya, tiba-tiba ia kepikiran sate kambing dan jus wortel campur dengan seledri. Mahen menepis keinginannya itu. Berkali-kali ia meneguk ludahnya karena kepikiran dengan kedua makanan itu. Tetapi semakin ia menepis, semakin ia ingin memakan makanan itu. Lelaki tampan itu bangkit menuju dapur. Mencari makanan lain agar bisa menghilangkan keinginannya yang tiba-tiba. "Loh, Aden!" "Astaga!" Mahen sedikit tersentak karena suara orang yang memanggilnya. Sambil mengelus dadanya pelan. "Bi, aku kaget Bi." "Lah Aden ngapain malem-malem kayak maling begitu? Mana gelap." Bi Murni segera menyalakan lampu dapur. Mahen sendiri men

  • Bukan Istri Impian   04. Rencana Maura

    Maura tak tahu harus bagaimana untuk mendapatkan tanda tangan Mahen. "Biar aku yang urus ya Vi. Semoga aja Mahen mau langsung tanda tangan." "Oke, besok aku kirim dokumennya ke kamu." Vian menghela napasnya. "Terus rencana kamu gimana?" "Mau cari rumah sama bikin usaha gitu," jawab Maura tak yakin. Alis Vian mengernyit melihat ekspresi Maura yang tak yakin. "Aku punya saudara yang jual rumahnya di Jogja. Kira-kira kamu mau nggak?" Maura langsung mendongak antusias mendengarnya. Matanya sedikit berbinar karena merasa mendapat angin segar. "Apa kamu bisa bantu aku buat beli?" "Bisa banget. Nanti sekalian aku urusin balik namanya. Rumahnya lumayan gede, dua lantai. Di perumahan lagi. Jadi tetangga nggak ada yang usil, atau julid. 'Kan mereka sibuk kerja. Menurutku harganya nggak terlalu mahal buat holkay kaya kamu," ujar Vian menambahkan. "Tapi, kandunganku udah gede. Kalau rumah di pinggiran Jakarta ada Vi?" Vian

  • Bukan Istri Impian   03. istri siri

    Siang ini Mauren tengah menyuapi kekasihnya dengan telaten. Sementara kekasihnya tersenyum nakal padanya. Hal itu membuat pipinya merona. "Kamu lucu!" puji Mahen sambil mengusap pucuk rambut kekasihnya. Kehadiran Mauren membuatnya melupakan kemarahannya pada Maura tadi pagi. "Ish, apaan sih Yang. Jadi berantakan ini," keluh Mauren kesal. Mahen malah tertawa kecil. "Abis kamu ngegemesin," godanya disertai senyuman nakal. Blush Pipi Mauren merona lagi. Memang hanya Mahen yang bisa membuatnya terbang melayang. Ia terkejut ketika tubuhnya melayang dan berpindah tempat berada di pangkuan Mahen. Sekarang ia berada di hadapan Mahen. Mauren sedikit memberontak karena takut kalau ada orang yang tiba-tiba masuk. "Ish Yang, ini kantor. Jangan macam-macam deh," katanya sambil memberontak minta turun. "Jadi kalau bukan di kantor boleh begitu?" goda Mahen. "Y-ya nggak gitu juga Yang," elak Mauren."Jadi mau n

  • Bukan Istri Impian   02. Awal kisah

    Maura yang dipojokan seperti itu tak bisa berbuat apapun. Bahkan untuk mengangkat wajahnya ia tak sanggup. Ia hanya bisa menerima hinaan mereka dengan sabar. Karena pada kenyataanya memang seperti itu. "Nggak bisa jawab 'kan? Sekarang jangan salahkan kami kalau kami tidak menghormati Nona Maura. Karena dia tidak pantas dihormati. Tidak ada wanita baik yang merebut calon suami saudaranya sendiri." Setelah mengatakan itu, Dini pergi diringi pelayan yang lain. Hanya Bi Murni saja yang masih setia bersama Maura. "Nya--" "Aku tahu aku salah Bi. Bibi jangan membela aku. Aku salah Bi, nyatanya aku memang merebut Mahen dari Mauren." Maura kembali menangis. Rasa bersalah dan sesal menyelinap di hatinya. "Sekarang, tolong beresin semua ya Bi," pintanya pelan. Tanpa menunggu jawaban Bi Murni, Maura pergi ke kamarnya yang berada di belakang rumah besar Mahen. Wanita hamil itu tinggal di paviliun para pembantu. Jika kalian bertanya mengapa Maura

DMCA.com Protection Status