“Apa kamu bilang?” Devran mendengar Nayra menggerutu saat melewatinya lalu dia menarik lengan gadis itu.“Oh, apa? Enggak kok, Mas. Aku...” Nayra terkejut sendiri bagaimana bibirnya secablak itu mengutarakan isi hatinya. Hingga membuat Devran terlihat begitu kesal. Sudah macam orang yang ingin makan orang saja.Dia mending segera beranjak masuk kamar dan menguncinya. Besok saja minta maafnya. Mudah-mudahan Devran sudah melupakan ucapannya. Nanti dia alasan sakit perut atau apalah.Namun Devran sudah tidak terima. Gadis ini harus diperingatkan dengan keras. Padahal ini juga untuk kebaikannya sendiri. Bisa-bisanya malah mengatakan dirinya berotak mesum.Tanpa banyak bicara, bibirnya sudah menempel di bibir Nayra dan memagutnya.“Umpphhhh...”Terlepas dari ciuman Devran, gadis itu langsung berlari ke kamar dan menuntup pintu.Devran berjalan dengan cepat membuntuti Nayra namun terhalang pintu yang tertutup dengan cepat itu.Seperti ada yang menyadarkannya, dirinya langsung kembali ke
“Jangan munafik, kau menikmatinya bukan?”“Tidak!” sahut Nayra cepat menyangkal pemikiran Devran. Gadis baik-baik sepertinya mana bisa menikmati ciuman pria asing?Devran menutup sarapannya dengan meneguk air putih.Sebagai mantan play boy, sebenarnya kata-kata menyangkal dari Nayra yang begitu bersemangat membuatnya tidak terima.Jaman di awal usia 20 tahunan, gadis yang mendapat ciumannya langsung klepek-klepek dan merasa menjadi orang yang paling beruntung.Lalu, bagaimana bisa gadis bau kencur seperti Nayra, mendapat ciumannya secara cuma-cuma, tapi malah mengatakan tidak menikmatinya?Asal anak ini tahu, Dosen perempuannya yang mantan model terkenal itu bahkan tidak menolak saat ditawarinya kencan. Membuktikan bahwa pesona sang donjuan pada diri Devran begitu sulit ditolak.Kemudian, melihat Nayra yang menolaknya, Devran malah jadi tertantang.“Mau apa, Mas?”Nayra menolak tangan Devran yang bergerak hendak menarik lengannya.Tidak mendapatkan lengan Nayra untuk ditarik, Devran
Lagi-lagi jadi terkenang ciuman-ciumannya bersama Devran. Pipinya bersemu merah dan bibirnya tak berhenti menyinggungkan senyum.Ketika menyapu lantai, Nayra melihat potret Devran berukuran 4 x 6 dalam kumpulan sampah.Sepertinya foto formal untuk ID card.Nayra memungutnya dan sejenak mengagumi bahwa, pria yang jutek dan menyebalkan itu ternyata bisa juga terlihat menggemaskan di pas fotonya.Diambilnya benda itu dan dimasukan dalam saku bajunya. Sayang sekali kalau wajah tampan ini harus tercampur dengan debu dan sampah di lantai.Pria itu memang tampan. Seperti pangeran yang datang dalam hidupnya. Menyelamatkan seorang Cinderella malang ini dari ibu dan saudari tirinya.Tanpa sadar kembali diambilnya foto itu dan ditangkupkannya di dadanya sembari senyum-senyum sendiri. “Terima kasih ya, suamiku...” tukasnya sembari malu-malu sendiri kala
“Itu bukan barangmu, kenapa kau lancang membukanya?”Devran yang sudah penuh masalah di kantor itu tentu kesal dan marah ketika pulang-pulang melihat Nayra di kamarnya dan membongkar isi koper milik mamanya.Apa yang dicari gadis itu?“Aku hanya merapikannya, Mas.” Nayra menangkap aura kesalahpahaman.Apa Devran tidak bertemu pria yang datang tadi di depan? Kedataangannya tidak selang lama dengan kepergian pria itu.“Seharusnya kau tidak menyentuh barang-barangku!” suara Devran terdengar makin ketus. Membuat Nayra semakin meringsut.“Ma-maaf, Mas. Itu tadi, aku hanya...” Nayra tampak belibet.Pria ini menatapnya dengan dingin, membuatnya seketika takut hingga tidak bisa berkata-kata dengan baik.Devran menghampiri Nayra dengan kepercayaan yang mulai memudar.
Bip Bip Biip...Suara klakson mobil mengejutkan Nayra yang hampir saja terserempet.Padahal dia sudah berjalan di trotoar tempat pejalan kaki.Mungkin karena melamun dan terlalu menepi hingga membuat pengendara mobil itu harus memperingatkannya.“Kalau melamun jangan di jalan! Membahayakan orang saja,” teriak seorang wanita saat kaca mobilnya terbuka.Nayra membungkuk untuk meminta maaf lalu kembali melanjutkan langkahnya. Tapi dia masih mendengar suara klakson mobil tadi.Apa lagi?“Kau, kemarilah!” teriak wanita dari dalam mobil itu.Nayra ragu. Kenapa dia dipanggil kembali. Walau begitu, dia datang juga.“Bukankah kau putri Pak Danial?”Mengetahui wanita itu mengenalnya, bukannya senang Nayra malah resah dan tidak nyaman. Bagaimana nanti kalau wanita ini memberi tahu ibu tirinya?Nayra tak menjawab. Dia pun langsung melipir pergi dan mempercepat langkahnya. Takut saja diintrogasi dan malah diantar ke rumah.Sepertinya dia harus mencari cara agar pergi dari kota ini.“Pak, bisa anta
“Minum dulu, Mbak!”Wanita itu menyodorkan gelas pada Nayra yang sudah didandani cantik itu.Nayra mengabaikan pembantu itu. Dia tidak lagi merasa haus maupun lapar. Rumah ini sudah seperti neraka karena dua wanita kejam itu.Walau ini rumahnya sendiri, Nayra tidak punya kuasa untuk mengusir Sintia dan Misca. Mereka sudah mengamankan sertifikat rumah dan yang lainnya. Bahkan mungkin sudah dijadikan anggunan untuk meminjam bank.Percuma juga berdebat pada dua manusia yang tidak punya aturan itu. Karenanya, yang ada dalam benaknya kini hanya ingin melarikan diri lagi saja.“Makan dulu ya, Cah Ayu. Biar kuat, Nak. Mbak Nayra harus tetap kuat, ya...” bujuk wanita itu. Air matanya sudah menetes saja dari sudut mata yang mulai berkeriput itu. Memandangi Nayra yang hanya diam membeku.Meski tak mendapat reaksi, w
Sepi...Devran menyeduh kopinya sendiri dan menyandarkan punggungnya di kursi malas sembari menonton pertandingan bola yang disiarkan secara live.Selintas-selintas bayangan gadis itu muncul. Membuatnya menghela napas panjang. Dia tidak mengerti mengapa masih harus memikirkannya setelah tahu tentang kelakuan buruknya tadi.Walau begitu, sebenarnya ada rasa kehilangan yang kini dirasanya.Beberapa hari tinggal bersamanya, hidupnya mulai merasa ramai. Sementara setahun ini hanya sibuk mengisi ambisi yang lain selain asmara.Kerja, kerja dan kerja. Hari-harinya dilewati dengan memasang wajah dingin seperti kulkas 6 pintu.Tapi begitu kedatangan gadis itu, bisa juga dia menjadi bawel.“Ternyata hanya penipu...” gumamnya sendiri.Tak menyangka, Devran sekecewa itu. Merasa bodoh saj
“Biar aku lihat pengantinku!” Pria itu ingin memastikan Sintia tidak membohonginya lagi.Sudah lama dia terobsesi pada gadis muda yang memikat hatinya itu. Tidak sabar ingin segera membawanya pergi ke rumahnya dan memilikinya.“Masih di dalam, sebentar lagi akan keluar.” Sintiya menahannya.Misca sedang mengurusnya di dalam. Gadis pembangkang itu harus diberi sedikit ancaman agar tidak lagi punya niatan mempermalukannya lagi.“Aku mau melihatnya” Hanggoro mendesak, seolah curiga bahwa wanita yang di depannya itu selicik rubah. Bisa saja mengelabuhinya.“Apa yang Anda takutkan, Tuan? Nayra sudah menyetujui pernikahan ini.”“Lalu apa yang kau takutkan? Aku juga hanya melihatnya, kok.”Sintia menghela. Jadi, daripada pria tua ini terus-terusan
“Dari Devran?” tanya Renata pada sang putra.Mereka minum teh bersama di teras rumah menikmati kebersamaan di waktu yang singkat ini.“Benar, Ma.”“Kukira Nayra sibuk sehingga jarang datang ke rumah, ternyata dia selalu bermasalah dengan Tamara.”Renata juga baru tahu hal ini. Dia penasaran dengan apa yang terjadi dalam rumah tangga cucunya. Jadi meminta Musa yang baru datang untuk mencarikan informasi. Dirinya sama sekali tidak tahu apa-apa.Yang mengejutkannya, kasus pembulian viral itu, yang menyeret nama mantan kekasih Devran, ternyata korbannya adalahh Nayra.Renata ikut geram melihat video yang viral itu. Walau wajah Nayra disamarkan, entah bagaimana Renata bisa mengenali gestur tubuh gadis malang itu. Lalu diperkuat oleh informasi yang baru di dapat Musa tentang kebenarannya. Musa tentu dengan mudah mengetahuinya dari Yas. Anak muda itu juga adalah anak buahnya sebelum ini. Dia juga secara rahasia diberi tahu Yas bahwa semua kejadian ini atas inisiatif sang nyonya besar, Tamar
Di dalam kamar yang dulu difungsikan sebagai ruang kerjanya, Devran menerima pesan dari Musa dan Yas.Pesan dari Musa memintanya menghubungi papanya yang baru datang, sementara pesan dari Yas menyampaikan tentang Akte pernikahan mereka yang sudah diambilnya.Kemarin saat bertelponan dengan Nayra yang meminta maaf dan berterima kasih padanya dengan perasaan yang manis, Devran jadi merindukan istrinya dan tak menunda untuk pergi ke Kota tempat istrinya berada. Padahal hari itu papanya juga akan datang. Jadi mereka belum sempat bertemu.Sekarang Devran sedang menghubunginya. “Halo, Pa!”“Dev? Kau tidak di Jakarta?” suara papanya terdengar.“Maaf, Pa. Devran ke Kota Diraja sebentar. Nayra ada di sini sudah seminggu yang lalu.”“Kenapa? Kalian bermasalah?”Alana masih dengan perhatiannya menanyakan apakah putranya itu punya masalah? Mungkin karena itu, Devran lebih bisa menurut pada sang papa daripada mamanya yang bahkan jarang memperhatikan hal kecil begini. “Ada sedikitlah, Pa. Its o
“Enggak di sana enggak di sini, kenapa orang di kotamu ini suka sekali menganggu orang yang begituan?” Devran melenguh dalam lelahnya.Ternyata mengeluarkan benih itu menguras tenaganya sekali. Apalagi sejak kemarin dia tidak makan dengan baik lantaran kurang berselera. Hanya sekedar makan seadanya untuk menghormati yang masak saja.Nayra tersenyum lucu. “Jangan perhitungan begitu, kita sudah selesai, lho, Mas.”“Selesai untuk babak pertama. Belum babak-babak selanjutnya.” Devran masih protes. Tidak rela sekali ada yang menganggu kebersamaannya dengan Nayra walau itu teriaakan tetangganya sendiri.“Aku buka dulu, deh. Tahu tuh, ada apa?” Nayra baru bangkit dari pelukan Devran. Sejenak merapikan penampilannya.Untung Devran hanya mengusik bagian intinya dan tak melepas bajunya. Jadi Nayra tak berlama-lama membuka pintu itu.“Iya , Umi?” Nayra tersenyum menyapa wanita itu. Walau wajah lelahnya mungkin tertangkap di netra wanita sepruh baya itu.“Kaya ngos-ngosan begitu, Mbak? Beres-bere
“Lho, Mbak Nayra toh ini? Ya Allah, pangkling, Mbak. Tambah cantik saja!”Umi Salamah menyambut kedatangan Nayra dan Devran di rumahnya. Acara pernikahan putrinya masih minggu depan, tapi Nayra mengirim kabar bahwa mereka akan datang hari ini karena minggu depan mereka berencana sudah balik ke Jakarta lagi.“Sudah ada isi belum, Mbak Nay?” Umi Salamah mengelus perut Nayra yang rata itu.“Ahaha, belum Umi. Saya juga masih kuliah,” tukas Nayra.“Enggak apa-apa, Mas Devran kan pengusaha sukses, kalaupun Mbak Nayra punya anak, yang merawat pasti juga banyak. Tidak akan mengganggu kuliah Mbak Nayra juga.”“Iya, Mas. Jangan ditunda. Enaknya kalau masih muda sudah punya anak, kita berasa punya banyak waktu membersamainya. Sampai mereka menikah, punya anak dan bahkan ikut merawat cucu-cucu kita.” Ustaz Muh menyahut memberi meraka nasihat.Devran dan Nayra hanya mengangguk saja.Sebenarnya Devran juga tidak keberatan kalau Nayra langsung hamil. Tapi, istrinya ini yang terus ingin menunda punya
“Aku angkat ya, Mas?” Nayra meminta pendapat Devran yang sudah berwajah muram itu melihat nama Ananda di layar ponselnya.“Ambilkan aku teh tawar hangat lagi, ya? Perutku masih eneg.” Devran mencoba mengalihkan Nayra dari panggilan itu.“Oh, baik, Mas.”Nayra meletakkan lagi ponsel itu setelah merijeknya dan bergegas ke dapur membuatkan suaminya teh tawar. Kasihan dia, gara-gara menjaga perasaan mamanya sampai memaksakan makan makanan yang paling tidak disukainya.Ketika beberapa saat ponsel Nayra kembali berpendar. Devran tahu, Ananda pasti mencoba menghubungi kembali.“Getol amat nih laki ganggu istri orang?” Devran menggerutu.Tadinya hendak merijek lagi panggilan itu. Tapi otak usilnya jadi keluar. Diusapnya tombol terima namun dibiarkan tergelatak di atas nakas. Saat itu Nayra sudah berjalan masuk ke kamar.“Sayang, buruan. Udah enggak tahan ini!” Devran sengaja berkata begitu. Dia mondar-mandir di kamar menunggu Nayra datang sembari memegangi perutnya.“Oh, iya, Mas. Sabar...” N
“Terima kasih ya, Mas Devran. Karena Mas, saya dan putri saya bisa kembali bersama.” Farah tampak berlinang air mata bertemu langsung dengan suami putrinya yang sudah melakukan banyak hal dalam hidup sang putri.Dia senang mengetahui seperti apa suami putrinya itu. Meski Nayra menikah muda, tapi kalau pasangannya lebih dewasa baik secara finansial dan sikap, Farah tidak akan menyesalinya.“Sampai kapanpun, saya akan berhutang budi pada Mas. Sekali lagi terima kasih banyak.”“Ma, jangan panggil Mas. Dia kan mantu mama?” Nayra nyelutuk mengoreksi ucapan Farah.“Panggil saja Devran. Ya kan, Mas?” Nayra beralih pada suaminya.Devran hanya mengangguk membenarkan. Farah tampak formal sekali padanya. Membuatnya juga sedikit segan.Apa karena dia adalah mertuanya jadinya Devran tampak segan?“Memastikan hidup Nayra baik-baik saja itu sudah tanggung jawab saya, Ma. Mama tidak berhutang apa-apa ada saya.”Devran menyampaikan itu agar Farah tak merasa berhutang budi padanya. Devran juga tidak me
“Siapa?!”Nayra melangkah dengan ragu-ragu.Diingat-ingatnya lagi. Apa tadi dia lupa mematikan shower saat mandi?Sepertinya tidak. Nayra ingat saat masuk lagi untuk mengambil sesuatu, shower sudah dalam keadaan mati.“Apa aku panggil Kiki atau Pak Parmin saja?” Nayra jadi takut. jangan-jangan ada maling yang masuk rumahnya.Namun saat hendak melangkah pergi, suara shower itu sudah tidak terdengar. Dia malah mendengar suara gagang pintu kamar mandinya diputar.Jantungnya berdetak keras ketika pintu itu terbuka. Namun melihat siapa yang sedang membuka pintu itu, Nayra terkejut senang. “Mas Devran?!” teriaknya, dan seperti biasa dia suka sekali melompat kepelukan pria ini. Dengan sigap Devran akan selalu menangkapnya.“Ya ampun, ini beneran Mas Devran, kan?” Nayra membelai wajah Devran untuk memastikan dia tidaklah sedang berkhayal.Devran hanya memutar bola matanya malas karena Nayra sekonyol itu. Masa masih tidak percaya kalau dirinya yang saat ini ada di hadapannya.“Bukan. Aku Do
“Kita ke makam ayah bundamu, ya?” Farah mengajak Nayra. Masih dengan bijaknya memanggilkan kakak dan kakak iparnya itu sebagai ayah bundanya Nayra, walaupun semua sudah tahu yang sebenarnya.Seminggu yang lalu mereka sudah berziarah ke makam mereka tapi tidak bersamaan. Kali ini Farah mengajak Nayra barengan.“Baik, Ma. Aku ambil selendang dulu," ujar Nayra yang langsung melangkah ke kamar mengambil selendang untuk menutupi rambutnya.Nayra mengenakan tas selempang untuk membawa ponsel. Saat memasukan benda pipih itu dia melihat notifikasi pesan dari temannya Aulia.“Masih lama, Nay?” Farah melongok ke dalam kamar Nayra.“Ada pesan dari temanku, aku hubungi dulu enggak apa-apa kan, Ma?”Farah tersenyum, “Baik sayang. Take your time!” Kemudian menutup pintu itu tidak mengganggu Nayra. Nayra langsung menghubungi Aulia. Seminggu ini dia memang jarang melihat ponselnya. Hanya sesekali kalau butuh menghubungi Devran saja.“Ada apa, Ul?”“Dokter Ananda mencemaskanmu, Nay. Dia beberapa ka
Pria di seberang sana mencoba mengelus dada. Dia tidak pernah sesabar ini pada seorang manusia kecuali manusia yang selalu membuatnya gemas satu itu.“Coba kalau kau ada di sini, aku jinjing kerah bajumu, lalu aku tendang bokongmu biar terlempar sejauh mungkin.”“Mas Devran ih. Kan tinggal bilang, iya atau enggak. Begitu doang, Mas?” “Lelaki tidak bicara sayang!”“Tapi terkadang sebuah ungkapan itu juga penting, Mas.”“Oke, oke... Jangan bawel lagi. Kau mau aku bilang apa?”“Mas cinta sama aku tidak?”“Iya”“Beneran, Mas?”Sedikit delay, Devran kemudian mengatakan. “Enggak!”“Tuh, kan. Maaas!?”Lalu keduanya sudah melupakan bahwa sebelum ini mereka bertengkar. Bahkan Nayra sampai ingin bercerai. Keduanya melanjutkan mengobrol sampai larut, seolah dua insan remaja yang baru kasmaran dan tak ingin berpisah.Saat lelah menyergap dan suara Nayra tak terdengar lagi menyahut, Devran tahu, Nayra pasti ketiduran.“Sialan, aku ditinggal tidur!” gerutu pria itu.Walau begitu, Devran merasa