Share

36. MENYELIDIKI

Penulis: Allina
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-17 21:22:20

Tapi Reagan seperti sudah memprediksi serangannya, dia memutar badannya dan menendang dengan sangat kuat.

“Buukk!” Tonjokan orang itu tidak mengenainya dan malah terkena tendangan dari Reagan yang membuatnya mundur beberapa langkah.

Sekarang pria itu justru masuk ke dalam jebakannya sendiri, jalannya sudah dicegat oleh Reagan. Kalau dia mau kabur, maka dia harus melewati rintangan darinya.

“Siapa yang menyuruhmu ke sini?” tanya Reagan.

Orang itu tidak bersuara.

“Kalau kamu tidak mau bilang, maka aku akan menghajar kamu sampai kamu mau mengatakannya!" teriak Reagan, dia membuka kepalan tangannya. Menusuk pria itu dengan jarinya yang seperti pisau.

Saat ini, pria itu justru menurunkan badannya. Tangan Reagan terlepas, tapi bukan berarti pria ini bisa selamat.

Reagan menarik lengan pria itu hingga muncul bunyi, “Kraakk!”

Bisa dipastikan jika pria itu kini sudah patah di lengan kirinya, setelah terkena banyak serangan, dia lalu menundukkan badannya dan langsung melewati bawah tubuh Rea
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   37. PERFECT HUSBAND

    Reagan merasa bingung, dia duduk di meja makan dan bertanya, “Bi, dia kenapa?”Bibi menggelengkan kepalanya, “Apa lagi kalau bukan karena kamu.”“Aku?”“Iya, nona di depan orang luar selalu terlihat sangat kuat. Tapi kemarin dia malah menangis di depan kamu, tentu saja dia merasa sedikit malu. Setelah beberapa saat pasti akan membaik.”Bicara sampai di sini, pelayan itu menghela nafasnya dan berkata, “Nona adalah gadis yang baik, kamu harus baik dengannya.”“Iya!” jawab Reagan, orang lain selalu melihat Claire adalah gadis yang sempurna. Tidak ada yang tahu jika ternyata dia adalah wanita yang rapuh.Rasa masakan bibi di depannya ini sangat enak, ada sebuah kehangatan di dalamnya, yaitu kehangatan seorang ibu. Reagan memakan habis semangkuk bubur buatan pelayan.Pukul 10 pagi, handphone Reagan berdering. Saat itu dia sedang jalan-jalan di sekitar villa untuk melihat-lihat situasi. Kemarin dia belum jelas tahu tentang villa ini, ketika ada musuh menyerang, dia sedikit kelabakan.Dia me

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-18
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   38. TRAGEDI PESTA ULANG TAHUN

    Keduanya berdiri sejajar, yang pria tinggi dan tampan dalam ketenangan. Terlihat kharismanya yang angkuh. Yang wanita cantik memukau, seperti Dewi yang turun ke bumi.Pria dan wanita seperti ini menjadi pasangan yang paling mencolok di acara itu. Bahkan si empunya acara juga belum muncul sampai saat ini.Senyum di wajah Elenio perlahan-lahan menghilang. Melihat tampang Reagan dan Claire yang begitu mesra, rasa suka di wajahnya semakin jelas dan berkata dengan nada tidak baik."Kamu bukan putra dari keluarga kaya dan terhormat, berani menunjukkan dirimu dilingkaran kami. Benar-benar tidak tahu malu, hanya seorang kacung rendahan tapi dengan bangganya berdiri di samping majikan sebagai pendamping. Ada 10 pria di kota kami, maka Tuan Muda seperti kami merasa sangat terhina.""Bukankah itu putri Tuan Delanny, pengusaha batubara yang terkenal kejam itu? Bagaimana bisa dia membawa pelayannya untuk mendampingi, sangat memalukan, seperti dilingkaran kita tidak ada pria kaya saja!" Sebagian ta

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-19
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    39. TAK TERKALAHKAN

    Reagan menyingkirkan tubuh Claire perlahan ke samping. Masih sempat memastikan istrinya di zona nyaman. Saat ini, Reagan berdiri tegak, melonggarkan kancing jas, disaat yang bersamaan tongkat baja terayun ke arahnya menargetkan titik vital. Dua orang pertama maju, sebelum tongkat baja di tangan mereka menghantam kepala Reagan, Reagan menundukkan tubuhnya kontan membalas serangan dengan sapuan kaki dalam sekali hentakan. “Arrgh!!” Dua orang itu tumbang dalam posisi terduduk, teriakan melolong, bergema seperti rengekan anak kecil yang kehilangan mainan. Posisi mereka jatuh, menghantam tulang ekor. Wajah mereka seperti tersengat ribuan watt listrik, merah padam menahan sakit. Reagan pastikan, minimal separuh tubuh mereka lumpuh dan berakhir menjadi beban. Kini Reagan beralih pada tiga orang lain, yang sebelumnya ikut menyerang di belakang dua orang itu. “Majulah! Bosmu memerintahmu untuk menyerangku,” tantang Reagan sambil tertawa kecil. Ekspresi wajah mereka semakin marah melihat k

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-20
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   40. GAIRAH YANG TERABAIKAN

    “Reagan?” Claire berkata lirih ketika Reagan sudah berdiri di sampingnya, menatap Elenio tajam. “Kamu baik-baik saja?” Reagan mengangguk kecil, tersenyum tipis sebelum menjawab. “Ya, aku akan selalu baik-baik saja. Bukankah aku sudah berjanji untuk melindungimu?” Hawa panas menjalar di wajah Claire, dia tersipu. Perasaan ingin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Reagan begitu kuat, namun masalah di hadapan mereka belum selesai. Elenio berdiri diantara mereka, dengan raut tegang yang berusaha disembunyikan. Kini Reagan beralih lagi pada Elenio, setelah sekian detik berlalu ia habiskan untuk menikmati pemandangan indah di wajah Claire. Bibir merah ranum milik Claire membuat Reagan ingin melahapnya saat itu juga. “Untuk apa kamu masih di sini?” Pundak Elenio meremang, meski dia memiliki kekuasaan besar di tangannya, dia tahu Reagan bukan tandingan. Elenio mendekati Reagan hingga kini wajah mereka berhadapan. Sengit Elenio menatap, “kamu tidak pantas bersama Claire. Tidak akan pern

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-20
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   41. GODAAN WANITA LAIN

    Halaman Georgia University hari ini tampak lengang. Reagan baru saja keluar dari mobilnya, beralih ke sisi lain untuk membukakan pintu di bagian kursi penumpang yang ditempati oleh Claire.Claire tersenyum tipis. Kemudian berjalan bersisian dengan Reagan. Pemandangan itu mengundang perhatian banyak mata. Banyak mahasiswi mendesah kecewa serta menduga-duga ada hubungan apa antara Claire dan pria kharismatik macam Reagan.Ketika sampai di persimpangan antara dua gedung, Reagan menarik pelan pundak Claire hingga wanita itu terhenyak kaget. “Kamu..!” Claire mendengus kesal.“Plakk!” Tamparan panas melandas di bisep kekar milik Reagan, sialnya, pria itu malah terkekeh.&ldq

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-21
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   42. SIARAN LANGSUNG YANG VIRAL

    Reagan masih diam memaku, namun napasnya teratur. Saat ini gairahnya sedang diuji karena ada wanita yang dengan sukarela menjajakan tubuhnya untuk Reagan. “Aku.. menginginkanmu, Reagan.” Suara Nayla lirih. Tepat di samping telinga Reagan yang menegang. Orang-orang, dari berbagai latar belakang jurusan yang ada di kantin itu, tangannya terangkat memegang ponsel. Mereka semua merekam momen langka sang idola kampus berlutut di hadapan Reagan. Reagan tidak berkutik. Mustahil gairahnya tak tergoda, tapi ada satu nama dan bayang satu wanita yang mengisi setiap sudut Ventral Tegmental Area di otaknya yaitu Claire. Di tempat lain, Claire baru saja menyelesaikan kelas pertamanya hari ini ketika orang-orang mulai berbisik dan berkumpul membentuk beberapa kelompok. Bisik mereka dari pelan hingga riuh perlahan mengganggu ketenangan Claire yang sedang membereskan buku-buku ke dalam tas. “Claire, apakah kamu sudah melihat siaran langsungnya?” Salah satu teman sekelas Claire yang duduk jarak d

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-21
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    43. PENGUNTIT BERDARAH DINGIN

    “Berikan kunci mobilnya!” Claire menengadahkan tangan di depan wajah Reagan. Reagan menggeleng cepat tak terima. Tempo hari, Claire sama keras kepalanya seperti saat ini dan berakhir mereka celaka. Reagan tidak akan membiarkan itu terjadi.“Tidak, aku yang akan menyetir!” tegas Reagan memutuskan. Dia menarik tangan Claire, membimbing sang istri menempati kursi penumpang. Claire berdecak kesal. Dia hendak berdiri lagi setelah Reagan mendudukkannya di sana. “Jangan sentuh aku, Reagan!” Tetapi dia kalah cepat. Dua tangan Reagan yang kokoh sudah membenamkan bahu kecil Claire ke jok mobil. “Kita akan lebih aman jika aku yang menyetir,” kata Reagan. Kemudian memutari mobil duduk di balik kemudi. Ucapan Reagan barusan membuat Claire menelan ludah berat. Setelahnya dia tertawa miris, “Ya, aku akui kecelakaan kemarin adalah salahku.” Tangan Reagan sudah menutup pintu mobil, menggantung di udara. “Tolong jangan salah paham, aku tidak bermaksud menyalahkanmu,” kata Reagan merasa bersalah. “

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-22
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   44. ANCAMAN MISTERIUS

    Kedua tangan Reagan melindungi kepalanya. Masih dalam posisi terikat dengan sabuk pengaman di balik kemudi, dia baru berniat untuk membuka mata. Dia bukan pengecut, tetapi melibat insiden kecelakaan langsung di depannya, adalah hal yang mengejutkan. Dari balik kaca film depan yang retak sedikit, Reagan melihat sebuah truk tronton berhenti di depan mobilnya, menghalangi jalan dan pandangan dalam keadaan penyok di bagian muka. Tronton itu menghantam bagian depan mobil Reagan setelah menyeruduk empat mobil lain di jalurnya. Kepulan asap keluar berterbangan dari kap mobil, tetapi Reagan tidak peduli. Dia turun dari mobilnya dengan sedikit kesulitan, karena sedikit lagi tronton itu lebih dalam menabrak, dipastikan setengah dari kaki Reagan remuk. Reagan mengabaikan keberadaan truk itu. Sekilas melihat siapa sosok di balik kemudinya namun dia tidak menemukan siapapun.“Pengecut!” Reagan mengutuk. Karena truk ini, Reagan kehilangan jejak Mini Van misterius itu. Ketika Reagan berjalan menj

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-22

Bab terbaru

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    68. MEREBUT REAGAN

    Nayla berdiri tak jauh dari Reagan dan Delia. Dia menatap Delia dengan sorot tak suka sejak semalam. Nayla tidak mengerti apa yang sebenarnya Delia pikirkan sampai dia bisa membuat Reagan terlihat frustasi saat ini. “Semalam aku melihat kalian berdua kompak keluar dari bilik penggemar rahasia. Sekarang kalian diam-diam bersembunyi di sini. Apa kalian benar-benar punya hubungan spesial?” tanya Nayla terdengar menghakimi. Matanya nyalang menatap Delia. “Kamu, aku pikir kamu tidak punya cukup nyali untuk mengejar Reagan,” cibirnya lagi. “Apa perlu aku memberitahu dunia tentang skandal kalian berdua?” Wajah Delia sontak memucat. Dia sangat menjaga reputasinya sebagai Mahasiswi berprestasi. “Aku hanya bicara pada Reagan dan mengakui aku mengaguminya karena dia …” Saat ini Reagan tidak akan membiarkan Delia dengan mudah mengungkap identitasnya sebagai sosok di balik SpectraVant. Dia melempar tatapan dingin pada Delia sebagai bentuk peringatan namun, nampaknya Delia tidak cukup peka unt

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    67. TAMPANG POLOS MANIPULATIF

    Pada saat ini Reagan sedang berkutat dengan layar laptopnya. Pikirannya terfokus pada laman website perusahaan Jordan Consisto, kliennya. Perusahaan itu adalah perusahan tambang batubara bonafit di kelasnya. Sudah berdiri sejak dua puluh tiga tahun lamanya namun empat tahun belakangan, diketahui bahwa Jordan Consisto berada di ambang kebangkrutan. Dan kini, mereka sedang membangun kembali perusahaan itu di bawah kepemimpinan Pricilla. Direktur sekaligus CEO baru Jordan Consisto. Reagan membuka setiap bar di laman itu. Membaca profil hingga informasi pendapatan empat tahun terakhir dan perkembangan saham perusahaan itu. Mata Reagan bergerak semakin awas dari kiri ke kanan. Memicing sesekali irisnya membola tiap kali melihat beberapa data yang terasa rancu. Tanpa Reagan sadari, seseorang telah mengisi kursi di sampingnya. Seorang pria mengenakan hoodie hitam mengisi kursi yang selalu kosong itu tanpa ragu. “Hai! Kamu Reagan ‘kan?” sapa pria itu. Reagan menoleh ke samping. Sosok pri

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    66. CLAIRE, LARI!

    “Itu akibat kamu berani membentak Claire!” teriak Reagan dari dalam kamar. Baru saja Reagan memberikan tendangan keras pada tubuh Elenio sebab, saat Reagan menginjakkan kakinya di kamar itu, Elenio tertangkap basah hendak melayangkan tamparan pada wajah Claire. Reagan tidak bisa diam melihat itu, sehingga, dia lekas menarik kerah kemeja Elenio dan menghempaskan tubuh pria itu dalam sekali tendangan. Di lantai yang dingin, Elenio meringis kesakitan. Punggungnya nyeri bukan main setelah menghantam pintu kayu yang cukup tebal hingga membuat benda itu hancur berkeping-keping. Saat ini, Reagan melangkah menghampiri Elenio dengan sorot mata merah menyala. Ada api amarah yang siap membakar Elenio kapanpun pria itu berulah lagi. “Apakah telinga keturunan bangsawan seperti dirimu mengalami masalah?” tandas Reagan sinis. Tubuhnya menjulang tinggi tepat di hadapan Elenio yang merangkak mundur menjauh. “Apa kamu tidak dengar ribuan kali Claire mengatakan tidak dan dengan keras menolak tuntuta

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   65. MENYELAMATKAN CLAIRE

    Sebelumnya…Ketika sampai di salah satu rumah elit di kawasan Cobbham, Reagan memarkirkan mobilnya di salah satu sisi pelataran rumah itu. Pria disampingnya nampak gugup. Melihat ke arah rumah itu dan Reagan bergantian. “Kamu serius membawaku kemari?!” katanya dengan ekspresi wajah terkejut-kejut. “Aku sudah mengatakannya, kamu yang tidak percaya,” sahut Reagan. Dia membuka sabuk pengamannya, juga milik pria itu sebelum benar-benar turun dari mobil. “Kamu akan menemui ajalmu hari ini.” Setiap ucapan yang keluar dari mulut Reagan terdengar santai sekaligus menusuk. Pria itu gelagapan diserang panik seakan ucapan Reagan saat ini adalah ancaman nyata yang tidak bisa dielak. Kini Reagan sudah turun dari mobil, dan beralih ke kursi penumpang untuk melepas ikatan tangan pria itu. “Ayo turun! Kamu harus menunjuk siapa di antara mereka yang telah mengusik ketenangan aku dan Claire.”Tubuh lemah penuh lebam itu diseret paksa keluar dari mobil. Langkahnya terseok-seok karena Reagan tidak c

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    64. SIAPA DALANGNYA?

    Satu tangan terkilir dan diputar ke belakang. Gagang pisau yang masih di tangan pria itu, menyisakan sedikit patahan besi runcing. Jika pria itu cukup cerdik, dia bisa menghunus perut Reagan dengan itu. Sayangnya, dia tidak cukup pintar. Seringai di wajah Reagan membuat pria itu merinding. “Kamu tidak akan bisa mematahkan satupun tulangku, bajingan! Pria rendahan sepertimu sebentar lagi akan takluk pada kematian!” ucapnya. Berusaha menggoyahkan Reagan dengan kalimat-kalimat intimidasi. “Berhenti mengatakan omong kosong! Sekarang katakan padaku siapa yang menyuruhmu atau kamu memang sengaja memintaku mematahkan tulang ekor!” Ketika Reagan melayangkan ancamannya, pria itu bungkam seketika. Antara hidup dan mati saat ini nyawanya dipertaruhkan. Dia melirik ke arah temannya yang tergeletak mengenaskan. Tidak bergerak pun tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Apakah dia sudah mati? Sialan! Bahkan di sisa hidupnya saja dia menyebalkan! Pria itu kini hanya bisa berdialog dengan diri

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   63. TEROR MISTERIUS

    Saat ini Reagan mengusap wajahnya frustasi. Di depannya, Delia menatapnya dengan penuh harap. “Bagaimana? Kamu mau ‘kan, Reagan?” Delia bertanya lagi. Dia meluruskan pandangannya pada Delia. Benar-benar serius. “Kita akan bahas masalah ini lain kali,” ujar Reagan dengan nada dingin. “Aku harus mencari seseorang.” Reagan hendak pergi, tetapi Delia menahannya, “Kamu mau cari Claire?” Niat Reagan tertahan. Raut wajah Delia kini berubah murung. “Apakah kamu… ada hubungan dengannya?” Kali ini dia terdengar sangat kecewa.Reagan menghela napas berat. Dia tidak merasa harus mengklarifikasi apapun pada siapapun. Delia bisa merasakan dinginnya sikap Reagan. Sesuatu yang tidak pernah dia temukan sebelumnya. “Tolong berhenti mencari tahu,” ucap Reagan. Dia hanya melontarkan beberapa kata, tetapi ucapannya cukup menusuk dada. Setelah mengatakan itu dan menyisakan kebekuan di hati Delia, Reagan pergi dengan cepat. Siapapun yang berpapasan dengannya, lekas menyingkir karena aura kuat yang pe

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    62. MOMEN GENTING DAN JEBAKAN

    Tidak hanya penonton dan tamu yang datang ke acara itu yang terkejut. Reagan juga diam mematung di tempatnya. “Delia! Penggemar rahasia wanita terbaik malam ini!” Suara pembawa acara semakin membuat kesadaran Reagan hilang.“Delia?” Reagan bergumam lirih. Terlalu terkejut untuk menerima kenyataan. Di tempatnya berdiri Delia melempar senyum tipis nan malu-malu ke arahnya. Dia bahkan tidak segan menghampiri Reagan dan meraih tangan pria itu. “Hai, Reagan! Aku tidak menyangka kamu yang akan menjadi pasangan penggemar rahasiaku,” ujar Delia girang. “Dan aku akan menjaga rahasia tentang kita,” ucap Delia. Dia kini sudah mendekatkan wajahnya ketika mengatakan itu. Tubuh Reagan langsung menegang, tetapi dia juga tidak ingin terlihat lemah di hadapan Delia. Detik itu juga Reagan menyadari, dia telah salah langkah. “Ikut aku,” ucap Reagan tegas. Dia meraih tangan Delia kemudian memboyong gadis itu meninggalkan bilik. Semua orang melempar pandang ke arah mereka, penuh tanya. Bisik-bisik

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    61. BILIK PENGGEMAR RAHASIA

    Bilik penggemar rahasia berisi dua pintu. Akan ada satu orang pria dan satu orang wanita yang dipilih secara acak dari nomor gelang yang mereka pasang dengan sistem. Saat ini, panitia sedang mempersiapkan dua orang yang akan masuk ke dalam bilik. Keduanya tidak akan mengetahui siapa yang akan keluar jadi pasangannya dari bilik itu. “Nomor gelang tiga belas!” Satu panitia laki-laki bertugas memanggil kandidat lelaki di barisan. Merasa nomornya dipanggil, Reagan mengangkat tangan. “Kamu nomor tiga belas? Kemarilah!” kata pria itu. Reagan menurut. Berjalan santai mendekatinya. Dia tahu ini terlalu beresiko. Apalagi dia membawa Claire bersamanya. Bagaimana jika nantinya bukan Claire yang ditemui di bilik itu? Dia cukup khawatir ketika memikirkannya, tetapi, di sinilah tantangannya. “Kamu siap untuk masuk ke bilik?” tanya sang panitia. Reagan mengangguk. “Semoga orang di balik bilik itu adalah orang yang memang kamu harapkan,” sambungnya lagi. Panitia menyuruh Reagan masuk ke dalam bi

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   60. PEMENANG TERKUAT

    “TRING”Tambahan angka seribu muncul di kredit salah satu finalis. Para penonton tercengang dengan hasil yang terpampang di layar besar.Terdengar wanita hologram bersuara lagi. “Selamat! Tambahan seribu poin untuk SpectraVant!”“SpectraVant, kamu telah memenangi kompetisi peretas internasional. Berikan ucapan selamat untuknya!”Kemenangan telak telah diumumkan. Suara pendukung Reagan mulai bergemuruh menyorakkan kemenangan. Sedang Reagan sendiri di balik topengnya tersenyum tipis.Dia tahu dia bisa mendapatkan nilai sempurna dalam lima tugas itu, tetapi dia tidak berniat untuk memamerkan kemampuan

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status