Dia lalu menyeret Reagan untuk pergi.Sesampainya di mobil, Reagan melajukan mobil itu dengan tenang.Dia berhenti di sebuah taman, kemudian bertanya lagi pada Claire, “Masalah keluargamu sudah selesai, lalu ada masalah apa lagi yang butuh bantuanku?”Claire terkekeh sinis, sorot matanya menajam, “Kamu serius mau aku jadi kekasihmu? Oke, anggaplah masalah hari ini selesai. Anggap juga aku sudah gila karena menarikmu untuk menjadi pacar pura-pura.”“Lalu, kalau rencana selanjutnya adalah mengambil akta nikah, kamu mau kasih aku makan pakai apa? Pakai uang dari kiriman orang tuamu yang tidak seberapa itu?”Reagan tetap teguh dan tersenyum, “Pertama, yang dikirimkan oleh orang tuaku bukan uang mereka, tapi uangku pribadi. Kedua, aku gak seburuk yang kamu bayangkan.”Claire bertanya lagi dengan ekspresi tak percaya bertanya, “Apa yang membuatmu yakin bahwa aku memang serius mengajakmu mengambil akta nikah? Apa kamu percaya aku akan mengorbankan segalanya untukmu yang miskin dan mempertaru
Melihat ketegangan yang terus terjadi diantara Claire dan gadis itu, Reagan lantas menyeret Claire untuk pergi dari sana.“Siapa dia?” tanya Reagan setelah dia berhasil membawa Claire pergi.“Bukan urusan kamu!” Claire yang duduk di kursi kemudi langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.“Kamu gila? Kita bisa mati kalau kamu ugal-ugalan seperti ini!” seru Reagan dengan nada tinggi.“Sudah tahu rasanya mati?” tanya Claire sembari menurunkan laju mobilnya.“Akta nikah, bagaimana cara menghidupiku. Tuan Reagan harus memikirkan itu sesampainya di rumah.”Claire menurunkan Reagan di depan sebuah kontrakan kumuh, dia bergidik ngeri karena ternyata masih ada tempat seperti ini di New York. Sungguh pemandangan yang kontras dengan hiruk-pikuk kotanya yang ramai dan besar.“Sampai jumpa, Nona Claire,” ucap Reagan sambil memanyunkan bibirnya membentuk tanda kiss.Claire membuang wajahnya jijik, dan itu mampu membuat Reagan tertawa terbahak-bahak.Setelah kepergian Claire, Reagan Kembal
“Kamu hanya perlu mengikutinya.”“Siap, Bos!” Erik segera menganggukkan kepala.“Panggil aku Reagan saja, aku tidak suka mengintimidasi orang dan menggunakan kekayaan untuk mendapatkan hal yang tidak tulus.” Reagan berkata.“Baik, Reagan, aku tuangkan lagi teh untukmu.” Erik tersenyum gembira.Tengah malam, Reagan dan Erik pulang ke rumah. Tapi di Tengah jalan, mereka mendengar ada keributan dari salah satu rumah.Reagan masih membawa karakter orang desa-nya, yang selalu peduli pada lingkungan sekitar yang membutuhkan.“Bagaimana kalau kita lihat, barangkali mereka membutuhkan bantuan,” ucap Reagan pada Erik.“Ini kota besar, orang tidak suka jika urusannya dicampuri orang lain, apalagi orang asing seperti kita. Pulang saja!” Erik menarik tangan Reagan.Suara keributan semakin intens terdengar, Reagan tidak bisa pulang begitu saja.Dia semakin mendekat karena rasa penasaran yang membuncah. Saat tiba di depan pintu karena gerbang yang terbuka, Reagan semakin merasa ada yang tidak beres
Mungkin ini hanya perasaannya saja, tapi dia merasa bahwa pria yang datang memiliki aura jahat, dia takut bahwa pria ini datang dengan maksud tidak baik.Reagan membuka pintu dan melirik beberapa pria yang merokok di atas sofa, dia tidak bertele-tele dan bertanya, “Siapa bos kalian?”“Siapa kamu? Untuk apa mencari bos kami?” Seorang pria berdiri tegak.“Aku hanya akan mengatakan sekali, suruh dia keluar!”“Sialan, kamu mau mencari masalah!” Pria itu mengayunkan kakinya ke arah Reagan.Reagan menangkap pergelangan kakinya dan meninju kakinya hingga tulang kaki pria itu patah.Pria berambut panjang itu jatuh ke lantai, dia memegangi kakinya yang sudah berubah bentuk dan menjerit seperti seekor anjing.“Siapa bos kalian?” Ekspresi wajah Reagan tidak berubah, dia meraih orang lain lagi sebagai mangsa jika salah satu dari mereka masih tidak mau bicara.“Aku … tidak … ah …”Reagan mematahkan salah satu jarinya, “Sekarang sudah bisa bicara belum?”“Itu … dia … iya benar dia!” Pria itu langsu
Begitu semua orang keluar, seketika kedua kaki Erik gemetar. Tubuh-tubuh besar dengan tato naga dan hewan buas itu sungguh menakutkan. Siapa pun akan berpikir dua kali untuk berurusan dengan mereka. Entah keberanian apa yang dimiliki ibu Nayla sampai mau meminjam uang pada mereka, tapi seseorang yang sedang terdesak masalah keuangan, pasti akan mengesampingkan rasa takutnya."Reagan, lebih baik kita segera pergi sekarang," bisik Erik, tatapannya tidak lepas dari para pria bertubuh besar itu. "Kamu diam saja di sana. Biar aku yang mengurusnya." Seringai tipis muncul di wajah Reagan."Aku memang akan diam saja, tapi jika kamu mati, apa yang bisa kulakukan di tengah orang-orang menyeramkan ini?" Erik gemetar sampai rasanya tidak sanggup berdiri.Namun, bukannya mengikuti perkataan Erik, Reagan malah mengabaikannya. Dia berjalan mendekati pria yang tubuhnya lebih besar di antara yang lain. Terdapat sebuah tatto naga di lengan kanan dan kirinya. "Reagan," panggil Erik berbisik, set
Reagan memberikan pukulan ke salah satu anak buah si bos ketika mendengar seorang pria yang merupakan adik si bos kredit berkata dengan marah, dia begitu ingin membunuh Reagan dengan tangannya sendiri. Namun, Reagan sama sekali tidak merasa takut. Dia malah tersenyum dan itu semakin membuat adik bos itu marah. "Membunuhku? Kamu yakin bisa membunuhku?" Senyum meledek Reagan adalah provokasi yang berhasil membuat adik bos itu menggeram marah. "Kurang ajar!" Pria gemuk itu beralih pada anak buahnya yang masih tersisa, "Bunuh dia! Jangan biarkan dia hidup setelah hari ini!" perintah adik bos itu, dia kembali mengobarkan semangat membunuh di hati anak buahnya. Matanya menyala-nyala, siap untuk melenyapkan keberadaan Reagan.Erik hanya berharap dirinya bisa menghilang dari tempat itu. Ketegangan masih terasa mencekam. Adik bos itu, dengan mata penuh amarah, bertekad membalaskan dendam kakaknya yang telah dilumpuhkan Reagan.Pertarungan kembali terjadi, mereka menyerang Reagan dengan b
Wanita itu memiliki rekaman pembicaraan mereka saat di kantor dalam ponselnya. Awalnya dia merekam itu hanya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu, tidak disangka dia akan mengeluarkan rekaman itu secepat ini.“Sejujurnya, wanita tua itu tidak terlalu cantik, tapi putrinya sangat cantik. Aku sedikit tidak tega saat memukulnya, aku sangat ingin membawanya ke kamar dan mencintainya dengan sekuat tenaga.”Setelah mendengarkan itu, Reagan langsung menolehkan kepalanya, dan berjalan ke arah pria gemuk satu langkah demi satu langkah.“Aku … aku hanya mengikuti perintah kakak dan istrinya. Mereka lah yang menyuruhku untuk melakukan ini!” Mereka saling menyalahkan seperti orang gila.“Tangan mana yang melakukannya? Aku yang potong atau kamu yang lakukan sendiri?”“Aku … aku lakukan sendiri.” Pria gemuk itu tahu dia tidak akan bisa kabur dari situasi ini. Dia dengan terpaksa memotong satu jarinya.“Aku bilang satu tangan.” Reagan bahkan tidak mengedipkan matanya, suara Reagan seperti raungan
Tidak tahu hal apa yang membuat gadis yang berdiri di kasir itu tergila-gila kepada Reagan. Mangkuk yang dihidangkan di depan Reagan itu dipenuhi oleh daging sapi hingga membentuk kerucut dan mie yang ada di dalam mangkuk itu sangatlah sedikit.Wajah gadis itu memerah dan dia langsung berlari meninggalkan Reagan setelah menatapnya beberapa saat.Pembeli lain yang berada di sekeliling mereka juga merasa begitu terkejut akan hal ini.Erik tidak tahu harus berkata apa, “Wah, kenapa dagingmu begitu banyak dan aku hanya mendapat dua potong saja?”“Mungkin karena aku ganteng?” Reagan memegang dagunya dan menyantap daging itu sebagaimana mestinya.Erik hanya menatap mangkuknya yang dipenuhi oleh mie dan kembali menatap mangkuk Reagan yang dipenuhi oleh daging sapi. Amarah di dalam dirinya semakin membara.Pada akhirnya Erik menghela napas dan langsung merebut mangkuk milik Reagan, lalu menyantapnya tampa ragu.“Hei, kamu …”“Ada apa denganku? Bukankah kamu masih bisa memesan mie lagi, bukank
Satu tangan terkilir dan diputar ke belakang. Gagang pisau yang masih di tangan pria itu, menyisakan sedikit patahan besi runcing. Jika pria itu cukup cerdik, dia bisa menghunus perut Reagan dengan itu. Sayangnya, dia tidak cukup pintar. Seringai di wajah Reagan membuat pria itu merinding. “Kamu tidak akan bisa mematahkan satupun tulangku, bajingan! Pria rendahan sepertimu sebentar lagi akan takluk pada kematian!” ucapnya. Berusaha menggoyahkan Reagan dengan kalimat-kalimat intimidasi. “Berhenti mengatakan omong kosong! Sekarang katakan padaku siapa yang menyuruhmu atau kamu memang sengaja memintaku mematahkan tulang ekor!” Ketika Reagan melayangkan ancamannya, pria itu bungkam seketika. Antara hidup dan mati saat ini nyawanya dipertaruhkan. Dia melirik ke arah temannya yang tergeletak mengenaskan. Tidak bergerak pun tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Apakah dia sudah mati? Sialan! Bahkan di sisa hidupnya saja dia menyebalkan! Pria itu kini hanya bisa berdialog dengan diri
Saat ini Reagan mengusap wajahnya frustasi. Di depannya, Delia menatapnya dengan penuh harap. “Bagaimana? Kamu mau ‘kan, Reagan?” Delia bertanya lagi. Dia meluruskan pandangannya pada Delia. Benar-benar serius. “Kita akan bahas masalah ini lain kali,” ujar Reagan dengan nada dingin. “Aku harus mencari seseorang.” Reagan hendak pergi, tetapi Delia menahannya, “Kamu mau cari Claire?” Niat Reagan tertahan. Raut wajah Delia kini berubah murung. “Apakah kamu… ada hubungan dengannya?” Kali ini dia terdengar sangat kecewa.Reagan menghela napas berat. Dia tidak merasa harus mengklarifikasi apapun pada siapapun. Delia bisa merasakan dinginnya sikap Reagan. Sesuatu yang tidak pernah dia temukan sebelumnya. “Tolong berhenti mencari tahu,” ucap Reagan. Dia hanya melontarkan beberapa kata, tetapi ucapannya cukup menusuk dada. Setelah mengatakan itu dan menyisakan kebekuan di hati Delia, Reagan pergi dengan cepat. Siapapun yang berpapasan dengannya, lekas menyingkir karena aura kuat yang pe
Tidak hanya penonton dan tamu yang datang ke acara itu yang terkejut. Reagan juga diam mematung di tempatnya. “Delia! Penggemar rahasia wanita terbaik malam ini!” Suara pembawa acara semakin membuat kesadaran Reagan hilang.“Delia?” Reagan bergumam lirih. Terlalu terkejut untuk menerima kenyataan. Di tempatnya berdiri Delia melempar senyum tipis nan malu-malu ke arahnya. Dia bahkan tidak segan menghampiri Reagan dan meraih tangan pria itu. “Hai, Reagan! Aku tidak menyangka kamu yang akan menjadi pasangan penggemar rahasiaku,” ujar Delia girang. “Dan aku akan menjaga rahasia tentang kita,” ucap Delia. Dia kini sudah mendekatkan wajahnya ketika mengatakan itu. Tubuh Reagan langsung menegang, tetapi dia juga tidak ingin terlihat lemah di hadapan Delia. Detik itu juga Reagan menyadari, dia telah salah langkah. “Ikut aku,” ucap Reagan tegas. Dia meraih tangan Delia kemudian memboyong gadis itu meninggalkan bilik. Semua orang melempar pandang ke arah mereka, penuh tanya. Bisik-bisik
Bilik penggemar rahasia berisi dua pintu. Akan ada satu orang pria dan satu orang wanita yang dipilih secara acak dari nomor gelang yang mereka pasang dengan sistem. Saat ini, panitia sedang mempersiapkan dua orang yang akan masuk ke dalam bilik. Keduanya tidak akan mengetahui siapa yang akan keluar jadi pasangannya dari bilik itu. “Nomor gelang tiga belas!” Satu panitia laki-laki bertugas memanggil kandidat lelaki di barisan. Merasa nomornya dipanggil, Reagan mengangkat tangan. “Kamu nomor tiga belas? Kemarilah!” kata pria itu. Reagan menurut. Berjalan santai mendekatinya. Dia tahu ini terlalu beresiko. Apalagi dia membawa Claire bersamanya. Bagaimana jika nantinya bukan Claire yang ditemui di bilik itu? Dia cukup khawatir ketika memikirkannya, tetapi, di sinilah tantangannya. “Kamu siap untuk masuk ke bilik?” tanya sang panitia. Reagan mengangguk. “Semoga orang di balik bilik itu adalah orang yang memang kamu harapkan,” sambungnya lagi. Panitia menyuruh Reagan masuk ke dalam bi
“TRING”Tambahan angka seribu muncul di kredit salah satu finalis. Para penonton tercengang dengan hasil yang terpampang di layar besar.Terdengar wanita hologram bersuara lagi. “Selamat! Tambahan seribu poin untuk SpectraVant!”“SpectraVant, kamu telah memenangi kompetisi peretas internasional. Berikan ucapan selamat untuknya!”Kemenangan telak telah diumumkan. Suara pendukung Reagan mulai bergemuruh menyorakkan kemenangan. Sedang Reagan sendiri di balik topengnya tersenyum tipis.Dia tahu dia bisa mendapatkan nilai sempurna dalam lima tugas itu, tetapi dia tidak berniat untuk memamerkan kemampuan
Poin diungguli oleh Black Code. Kompetisi menjadi semakin sengit. Hanya perlu menambahkan poin sempurna di tugas terakhir untuk Black Code, dia menjadi kandidat terkuat untuk menang saat ini.“Tidak masalah, SpectraVant. Sejauh ini Anda sudah melakukan yang terbaik. Selesaikan salah satu tugas untuk mendapatkan poin dan menyeimbangkan lawan!” Wanita hologram itu menyemangati Reagan yang masih berkutat dengan perintah di perangkat lunak.Saat ini kamera membidik Reagan. Menaruh fokus dunia padanya. Topeng anonim yang dia pakai semakin mempersulit massa untuk menduga, siapa sosok jenius di baliknya.Di tempat lain, di Universitas Georgia, para Mahasiswa membentuk beberapa kelompok. Mereka menatap layar laptop, sedang di kelas lain lebih kreatif me
“Permintaanmu tentang rekam jejak para pejabat? Tenang, aku sudah merangkumnya. Akan aku kirimkan padamu malam ini.”Erik terlihat bangga dengan usahanya. Semalaman suntuk dia habiskan untuk mengulik setiap profil pejabat dari berbagai situs media. Tetapi, pria di sampingnya malah menggeleng.“Bukan hanya itu,” kata Reagan sambil menggelengkan kepala. “Permintaanku tentang Claire.”Saat ini Erik menjelajah setiap sudut kepalanya. “Oh, permintaan itu.” Dia mengingat sesuatu. “Sudah aku siapkan. Kamu hanya perlu membuatnya merasa spesial di malam Valentine nanti.”Reagan mengangguk puas. Senyumnya mulai terbit membayangkan bagaimana ekspresi
Di saat ini Reagan memasuki sebuah ruangan VIP yang berada tak jauh dari area lantai dansa. Dua orang penjaga yang sebelumnya mencegat Reagan di depan pintu ada di sana. Tambahan seorang pria mengenakan setelan jas rapi sedang menunduk malu di hadapan Erik. Dia juga memohon maaf pada wanita tadi. Berkali-kali seolah tahu jika tidak melakukan itu, dia akan kehilangan jabatan bahkan pekerjaannya.Ketika Reagan datang, semua orang menoleh padanya. Saat melewati dua pria bertubuh kekar, dia melengos tidak peduli. Kini Reagan menghampiri wanita itu, yang tertunduk lesu dengan pundak gemetar karena ketakutan.“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.Wanita itu mengangkat kepala. “Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku.”
Madison Bar mendadak berubah menjadi ring tinju dimana semua orang yang sebelumnya sibuk menghibur diri kini saling berteriak memberikan dukungan. Dibandingkan dengan pendukung pria pongah, beberapa orang yang mendukung niat baik Reagan tentu kalah jumlah. Di saat ini, pria pongah itu masih mencengkram batang leher wanita tadi hingga jejak jemarinya membekas di kulit mulus itu. Reagan melihat itu dengan sorot benci yang begitu dalam. “Pria miskin memang selalu besar kepala. Kamulah salah satunya,” ujar pria pongah mengejek. Kini dia menarik tubuh wanita itu dengan sekali hentakan. “Kalau kamu cukup percaya diri, lepaskan dia. Lawan aku satu lawan satu.” Reagan mengikis jarak dengan pria pongah dan wanita tadi. Aura mencekam dalam dirinya menguar bebas di udara. “Heh, kamu pikir siapa dirimu beraninya mengaturku?”“Kenapa? Kamu takut?” Reagan bertanya balik, itu berhasil membuat si pongah menelan ludah berat. “Kalau kamu menghindar dari tantangan yang aku berikan, harga dirimu se