Share

15. KEMARAHAN REAGAN

Penulis: Allina
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-18 20:08:56

Begitu semua orang keluar, seketika kedua kaki Erik gemetar. Tubuh-tubuh besar dengan tato naga dan hewan buas itu sungguh menakutkan. Siapa pun akan berpikir dua kali untuk berurusan dengan mereka. Entah keberanian apa yang dimiliki ibu Nayla sampai mau meminjam uang pada mereka, tapi seseorang yang sedang terdesak masalah keuangan, pasti akan mengesampingkan rasa takutnya.

"Reagan, lebih baik kita segera pergi sekarang," bisik Erik, tatapannya tidak lepas dari para pria bertubuh besar itu.

"Kamu diam saja di sana. Biar aku yang mengurusnya." Seringai tipis muncul di wajah Reagan.

"Aku memang akan diam saja, tapi jika kamu mati, apa yang bisa kulakukan di tengah orang-orang menyeramkan ini?" Erik gemetar sampai rasanya tidak sanggup berdiri.

Namun, bukannya mengikuti perkataan Erik, Reagan malah mengabaikannya. Dia berjalan mendekati pria yang tubuhnya lebih besar di antara yang lain. Terdapat sebuah tatto naga di lengan kanan dan kirinya.

"Reagan," panggil Erik berbisik, set
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Divya Gauri
Reagan bantu orang gak tanggung2
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   16. SUASANA MENCEKAM

    Reagan memberikan pukulan ke salah satu anak buah si bos ketika mendengar seorang pria yang merupakan adik si bos kredit berkata dengan marah, dia begitu ingin membunuh Reagan dengan tangannya sendiri. Namun, Reagan sama sekali tidak merasa takut. Dia malah tersenyum dan itu semakin membuat adik bos itu marah. "Membunuhku? Kamu yakin bisa membunuhku?" Senyum meledek Reagan adalah provokasi yang berhasil membuat adik bos itu menggeram marah. "Kurang ajar!" Pria gemuk itu beralih pada anak buahnya yang masih tersisa, "Bunuh dia! Jangan biarkan dia hidup setelah hari ini!" perintah adik bos itu, dia kembali mengobarkan semangat membunuh di hati anak buahnya. Matanya menyala-nyala, siap untuk melenyapkan keberadaan Reagan.Erik hanya berharap dirinya bisa menghilang dari tempat itu. Ketegangan masih terasa mencekam. Adik bos itu, dengan mata penuh amarah, bertekad membalaskan dendam kakaknya yang telah dilumpuhkan Reagan.Pertarungan kembali terjadi, mereka menyerang Reagan dengan b

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-19
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   17. DADA YANG RATA

    Wanita itu memiliki rekaman pembicaraan mereka saat di kantor dalam ponselnya. Awalnya dia merekam itu hanya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu, tidak disangka dia akan mengeluarkan rekaman itu secepat ini.“Sejujurnya, wanita tua itu tidak terlalu cantik, tapi putrinya sangat cantik. Aku sedikit tidak tega saat memukulnya, aku sangat ingin membawanya ke kamar dan mencintainya dengan sekuat tenaga.”Setelah mendengarkan itu, Reagan langsung menolehkan kepalanya, dan berjalan ke arah pria gemuk satu langkah demi satu langkah.“Aku … aku hanya mengikuti perintah kakak dan istrinya. Mereka lah yang menyuruhku untuk melakukan ini!” Mereka saling menyalahkan seperti orang gila.“Tangan mana yang melakukannya? Aku yang potong atau kamu yang lakukan sendiri?”“Aku … aku lakukan sendiri.” Pria gemuk itu tahu dia tidak akan bisa kabur dari situasi ini. Dia dengan terpaksa memotong satu jarinya.“Aku bilang satu tangan.” Reagan bahkan tidak mengedipkan matanya, suara Reagan seperti raungan

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-20
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   18. KASUS PENGANIAYAAN

    Tidak tahu hal apa yang membuat gadis yang berdiri di kasir itu tergila-gila kepada Reagan. Mangkuk yang dihidangkan di depan Reagan itu dipenuhi oleh daging sapi hingga membentuk kerucut dan mie yang ada di dalam mangkuk itu sangatlah sedikit.Wajah gadis itu memerah dan dia langsung berlari meninggalkan Reagan setelah menatapnya beberapa saat.Pembeli lain yang berada di sekeliling mereka juga merasa begitu terkejut akan hal ini.Erik tidak tahu harus berkata apa, “Wah, kenapa dagingmu begitu banyak dan aku hanya mendapat dua potong saja?”“Mungkin karena aku ganteng?” Reagan memegang dagunya dan menyantap daging itu sebagaimana mestinya.Erik hanya menatap mangkuknya yang dipenuhi oleh mie dan kembali menatap mangkuk Reagan yang dipenuhi oleh daging sapi. Amarah di dalam dirinya semakin membara.Pada akhirnya Erik menghela napas dan langsung merebut mangkuk milik Reagan, lalu menyantapnya tampa ragu.“Hei, kamu …”“Ada apa denganku? Bukankah kamu masih bisa memesan mie lagi, bukank

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-21
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   19. CIUMAN SEPASANG KEKASIH

    “Kalian pihak kepolisian tidak akan karena aku tidak punya saksi lantas menuduh aku sebagai buronan, kan?” Reagan berkata dengan cemberut.“Tuan Reagan, jangan kamu pikir kami pihak kepolisian tidak tahu kota New York, kamu yang orang desa datang ke kota, jangan harap bisa mengelabui kami hanya dengan beberapa patah kata.” Kepala interogasi berkata dengan suara dingin.Reagan mengeluarkan ekspresi tidak mengerti, “Inspektur, aku tidak mengerti apa maksudmu?”Polisi lalu menceritakan bagaimana Reagan datang ke rumah Nayla, lalu beranjak ke rumah judi dan terakhir ke lembaga perkreditan.“Tidak heran kalian mencurigaiku, aku memang melakukan itu, tapi atas dasar kebenaran,” kata Reagan penuh percaya diri.Reagan lantas menceritakan duduk perkaranya, bahkan jika kasus ini harus berlanjut, dia sudah siap dengan konsekuensinya.Namun, pihak kepolisian hanya meminta keterangan darinya, lalu membiarkan dia pergi.Di luar kantor kepolisian, Claire menunggunya, sebenarnya Reagan tidak menyangk

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-22
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   20. TINGGAL BERSAMA

    Pada saat itu, tiba-tiba muncul sepasang tangan yang mendorongnya dengan keras, untuk menghindari tabrakan mobil.Tidak terasa rasa sakit dari tabrakan yang sudah dia perkirakan, ini membuat Claire merasa ada yang aneh.Dia membuka matanya dan melihat seorang pria terbaring di atas lantai yang tidak jauh darinya, saat ini dia melihat dengan jelas siapa pria itu, seketika hatinya tertegun, ternyata Reagan.“Astaga, Reagan?!”“Kenapa dia?”Saat ini Reagan terbaring di atas lantai, entah hidup atau mati.Dua kali berturut-turut gagal menabrak, orang itu sama sekali tidak ingin menyerah begitu saja. Dia kembali menyalakan mobil, lalu mundur beberapa meter. Saat masih bersiap ingin menyerang kembali, datang beberapa satpam berjalan menghampiri ke samping mobil.Melihat pemandangan ini, orang itu dengan kasar memutar setir mobil, tidak lagi ada keinginan untuk kembali menyerang, menginjak pedal gas melajukan mobil dengan kencang.Claire saat ini baru seperti tersadar dari mimpi, berjalan de

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-24
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   21. TATAPAN SEKRETARIS

    Claire membelalakkan matanya, dia memang menyanggupi untuk disampingnya merawat Reagan, tapi … sama sekali tidak menyanggupi untuk tinggal bersama sebelum mereka menikah.Reagan begitu melihat langsung mengetahui pikirannya, matanya berputar, menutupi lengannya dengan ekspresi kasihan melihat Claire, seperti sedang menyalahkan dia yang tidak punya hati.Erik melihat pemandangan ini, matanya berkedip, sembari menundukkan mata tidak tega melihatnya.Claire bertatapan dengan matanya, terakhir mengikuti hati nuraninya dan berkata, “Baiklah!”“Tapi, Reagan, aku tidak ingin tinggal di tempatmu yang kumuh itu. Aku terus terang saja, papa bisa marah besar jika tahu akan hal ini. Dan dia pasti akan menyuruh orang untuk selalu mengintai aku.”“Baiklah, tempatnya kamu yang pilih. Asal kamu suka, aku juga suka.”Claire melihat Reagan yang terlihat gembira, seperti ada perasaan ditipu, dia yang seperti ini mana mirip seperti orang yang terluka.Keesokan harinya.“Mengenai property, rumah seperti a

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-25
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   22. AKAN DIPERMALUKAN

    Tergagap, si petugas keamanan pun mengubah sikapnya kepada Reagan, dari menghina jadi sangat hormat. Dia mengambil uang yang disodorkan Reagan dan langsung memasukkannya ke saku celananya.“Baik, Tuan. Mari ikut saya,” kata si satpam.Dengan senyum menyanjung, satpam itu mengulurkan tangan untuk memimpin jalan. Reagan menanggapinya dengan dingin.Si satpam berjalan di depan. Reagan dan sekretarisnya mengikutinya dengan jarak satu meter.Sesekali, si satpam menoleh dan tersenyum disertai anggukan. Sikapnya kali ini benar-benar jauh berbeda. Di detik dia tahu Reagan bisa memberinya uang ratusan dolar seolah-olah itu tak ada artinya baginya, di detik itu pula si satpam tahu kalau Reagan, meski penampilannya tak meyakinkan, sebenarnya adalah orang kaya.Kadang ada saja orang kaya yang memilih untuk tak berpenampilan mewah, dan Reagan mungkin saja salah satu di antaranya. Begitulah si satpam berpikir.Reagan sendiri menyadari perubaha

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   23. TRANSAKSI GAGAL

    “Mungkin dia orang kaya baru yang tak tahu apa-apa soal properti. Kan banyak yang seperti itu. Mungkin dipikirnya, uang yang dia miliki itu cukup banyak untuk bisa membeli penthouse tadi. Aku berani bertaruh, dia salah menghitung angka nol di saldo tabungannya. Hahhaha…” lanjutnya.“Benar, benar! Pasti begitu! Dasar! Beda banget memang orang yang benar-benar kaya dengan orang yang sok kaya!” Wanita simpanan yang bersama Astor juga ikut berbicara sambil tersenyum.Jelas sekali orang-orang di sini tidak mempercayai ucapan Reagan. Terutama Astor, dia telah bertahun-tahun menerima pelayanan VIP di agent property ini, sama sekali tidak ingin ada orang lain yang mencuri pusat perhatiannya.Astor memasang ekspresi seperti seorang pengusaha senior, dengan ekspresi tenang dan tak terkendali, dia datang menghampiri Reagan.“Anak muda, sebagai manusia kita sebaiknya rendah hati. Ini adalah kota besar, ada ribuan pemuda sepertimu.

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27

Bab terbaru

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    67. TAMPANG POLOS MANIPULATIF

    Pada saat ini Reagan sedang berkutat dengan layar laptopnya. Pikirannya terfokus pada laman website perusahaan Jordan Consisto, kliennya. Perusahaan itu adalah perusahan tambang batubara bonafit di kelasnya. Sudah berdiri sejak dua puluh tiga tahun lamanya namun empat tahun belakangan, diketahui bahwa Jordan Consisto berada di ambang kebangkrutan. Dan kini, mereka sedang membangun kembali perusahaan itu di bawah kepemimpinan Pricilla. Direktur sekaligus CEO baru Jordan Consisto. Reagan membuka setiap bar di laman itu. Membaca profil hingga informasi pendapatan empat tahun terakhir dan perkembangan saham perusahaan itu. Mata Reagan bergerak semakin awas dari kiri ke kanan. Memicing sesekali irisnya membola tiap kali melihat beberapa data yang terasa rancu. Tanpa Reagan sadari, seseorang telah mengisi kursi di sampingnya. Seorang pria mengenakan hoodie hitam mengisi kursi yang selalu kosong itu tanpa ragu. “Hai! Kamu Reagan ‘kan?” sapa pria itu. Reagan menoleh ke samping. Sosok pri

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    66. CLAIRE, LARI!

    “Itu akibat kamu berani membentak Claire!” teriak Reagan dari dalam kamar. Baru saja Reagan memberikan tendangan keras pada tubuh Elenio sebab, saat Reagan menginjakkan kakinya di kamar itu, Elenio tertangkap basah hendak melayangkan tamparan pada wajah Claire. Reagan tidak bisa diam melihat itu, sehingga, dia lekas menarik kerah kemeja Elenio dan menghempaskan tubuh pria itu dalam sekali tendangan. Di lantai yang dingin, Elenio meringis kesakitan. Punggungnya nyeri bukan main setelah menghantam pintu kayu yang cukup tebal hingga membuat benda itu hancur berkeping-keping. Saat ini, Reagan melangkah menghampiri Elenio dengan sorot mata merah menyala. Ada api amarah yang siap membakar Elenio kapanpun pria itu berulah lagi. “Apakah telinga keturunan bangsawan seperti dirimu mengalami masalah?” tandas Reagan sinis. Tubuhnya menjulang tinggi tepat di hadapan Elenio yang merangkak mundur menjauh. “Apa kamu tidak dengar ribuan kali Claire mengatakan tidak dan dengan keras menolak tuntuta

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   65. MENYELAMATKAN CLAIRE

    Sebelumnya…Ketika sampai di salah satu rumah elit di kawasan Cobbham, Reagan memarkirkan mobilnya di salah satu sisi pelataran rumah itu. Pria disampingnya nampak gugup. Melihat ke arah rumah itu dan Reagan bergantian. “Kamu serius membawaku kemari?!” katanya dengan ekspresi wajah terkejut-kejut. “Aku sudah mengatakannya, kamu yang tidak percaya,” sahut Reagan. Dia membuka sabuk pengamannya, juga milik pria itu sebelum benar-benar turun dari mobil. “Kamu akan menemui ajalmu hari ini.” Setiap ucapan yang keluar dari mulut Reagan terdengar santai sekaligus menusuk. Pria itu gelagapan diserang panik seakan ucapan Reagan saat ini adalah ancaman nyata yang tidak bisa dielak. Kini Reagan sudah turun dari mobil, dan beralih ke kursi penumpang untuk melepas ikatan tangan pria itu. “Ayo turun! Kamu harus menunjuk siapa di antara mereka yang telah mengusik ketenangan aku dan Claire.”Tubuh lemah penuh lebam itu diseret paksa keluar dari mobil. Langkahnya terseok-seok karena Reagan tidak c

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    64. SIAPA DALANGNYA?

    Satu tangan terkilir dan diputar ke belakang. Gagang pisau yang masih di tangan pria itu, menyisakan sedikit patahan besi runcing. Jika pria itu cukup cerdik, dia bisa menghunus perut Reagan dengan itu. Sayangnya, dia tidak cukup pintar. Seringai di wajah Reagan membuat pria itu merinding. “Kamu tidak akan bisa mematahkan satupun tulangku, bajingan! Pria rendahan sepertimu sebentar lagi akan takluk pada kematian!” ucapnya. Berusaha menggoyahkan Reagan dengan kalimat-kalimat intimidasi. “Berhenti mengatakan omong kosong! Sekarang katakan padaku siapa yang menyuruhmu atau kamu memang sengaja memintaku mematahkan tulang ekor!” Ketika Reagan melayangkan ancamannya, pria itu bungkam seketika. Antara hidup dan mati saat ini nyawanya dipertaruhkan. Dia melirik ke arah temannya yang tergeletak mengenaskan. Tidak bergerak pun tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Apakah dia sudah mati? Sialan! Bahkan di sisa hidupnya saja dia menyebalkan! Pria itu kini hanya bisa berdialog dengan diri

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   63. TEROR MISTERIUS

    Saat ini Reagan mengusap wajahnya frustasi. Di depannya, Delia menatapnya dengan penuh harap. “Bagaimana? Kamu mau ‘kan, Reagan?” Delia bertanya lagi. Dia meluruskan pandangannya pada Delia. Benar-benar serius. “Kita akan bahas masalah ini lain kali,” ujar Reagan dengan nada dingin. “Aku harus mencari seseorang.” Reagan hendak pergi, tetapi Delia menahannya, “Kamu mau cari Claire?” Niat Reagan tertahan. Raut wajah Delia kini berubah murung. “Apakah kamu… ada hubungan dengannya?” Kali ini dia terdengar sangat kecewa.Reagan menghela napas berat. Dia tidak merasa harus mengklarifikasi apapun pada siapapun. Delia bisa merasakan dinginnya sikap Reagan. Sesuatu yang tidak pernah dia temukan sebelumnya. “Tolong berhenti mencari tahu,” ucap Reagan. Dia hanya melontarkan beberapa kata, tetapi ucapannya cukup menusuk dada. Setelah mengatakan itu dan menyisakan kebekuan di hati Delia, Reagan pergi dengan cepat. Siapapun yang berpapasan dengannya, lekas menyingkir karena aura kuat yang pe

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    62. MOMEN GENTING DAN JEBAKAN

    Tidak hanya penonton dan tamu yang datang ke acara itu yang terkejut. Reagan juga diam mematung di tempatnya. “Delia! Penggemar rahasia wanita terbaik malam ini!” Suara pembawa acara semakin membuat kesadaran Reagan hilang.“Delia?” Reagan bergumam lirih. Terlalu terkejut untuk menerima kenyataan. Di tempatnya berdiri Delia melempar senyum tipis nan malu-malu ke arahnya. Dia bahkan tidak segan menghampiri Reagan dan meraih tangan pria itu. “Hai, Reagan! Aku tidak menyangka kamu yang akan menjadi pasangan penggemar rahasiaku,” ujar Delia girang. “Dan aku akan menjaga rahasia tentang kita,” ucap Delia. Dia kini sudah mendekatkan wajahnya ketika mengatakan itu. Tubuh Reagan langsung menegang, tetapi dia juga tidak ingin terlihat lemah di hadapan Delia. Detik itu juga Reagan menyadari, dia telah salah langkah. “Ikut aku,” ucap Reagan tegas. Dia meraih tangan Delia kemudian memboyong gadis itu meninggalkan bilik. Semua orang melempar pandang ke arah mereka, penuh tanya. Bisik-bisik

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    61. BILIK PENGGEMAR RAHASIA

    Bilik penggemar rahasia berisi dua pintu. Akan ada satu orang pria dan satu orang wanita yang dipilih secara acak dari nomor gelang yang mereka pasang dengan sistem. Saat ini, panitia sedang mempersiapkan dua orang yang akan masuk ke dalam bilik. Keduanya tidak akan mengetahui siapa yang akan keluar jadi pasangannya dari bilik itu. “Nomor gelang tiga belas!” Satu panitia laki-laki bertugas memanggil kandidat lelaki di barisan. Merasa nomornya dipanggil, Reagan mengangkat tangan. “Kamu nomor tiga belas? Kemarilah!” kata pria itu. Reagan menurut. Berjalan santai mendekatinya. Dia tahu ini terlalu beresiko. Apalagi dia membawa Claire bersamanya. Bagaimana jika nantinya bukan Claire yang ditemui di bilik itu? Dia cukup khawatir ketika memikirkannya, tetapi, di sinilah tantangannya. “Kamu siap untuk masuk ke bilik?” tanya sang panitia. Reagan mengangguk. “Semoga orang di balik bilik itu adalah orang yang memang kamu harapkan,” sambungnya lagi. Panitia menyuruh Reagan masuk ke dalam bi

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah   60. PEMENANG TERKUAT

    “TRING”Tambahan angka seribu muncul di kredit salah satu finalis. Para penonton tercengang dengan hasil yang terpampang di layar besar.Terdengar wanita hologram bersuara lagi. “Selamat! Tambahan seribu poin untuk SpectraVant!”“SpectraVant, kamu telah memenangi kompetisi peretas internasional. Berikan ucapan selamat untuknya!”Kemenangan telak telah diumumkan. Suara pendukung Reagan mulai bergemuruh menyorakkan kemenangan. Sedang Reagan sendiri di balik topengnya tersenyum tipis.Dia tahu dia bisa mendapatkan nilai sempurna dalam lima tugas itu, tetapi dia tidak berniat untuk memamerkan kemampuan

  • Bos Besar Di Balik Meja Kuliah    59. PERTARUNGAN SEMAKIN SENGIT

    Poin diungguli oleh Black Code. Kompetisi menjadi semakin sengit. Hanya perlu menambahkan poin sempurna di tugas terakhir untuk Black Code, dia menjadi kandidat terkuat untuk menang saat ini.“Tidak masalah, SpectraVant. Sejauh ini Anda sudah melakukan yang terbaik. Selesaikan salah satu tugas untuk mendapatkan poin dan menyeimbangkan lawan!” Wanita hologram itu menyemangati Reagan yang masih berkutat dengan perintah di perangkat lunak.Saat ini kamera membidik Reagan. Menaruh fokus dunia padanya. Topeng anonim yang dia pakai semakin mempersulit massa untuk menduga, siapa sosok jenius di baliknya.Di tempat lain, di Universitas Georgia, para Mahasiswa membentuk beberapa kelompok. Mereka menatap layar laptop, sedang di kelas lain lebih kreatif me

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status