Bab 21Persimpangan TakdirPagi itu, suasana di ruang kerja Evan terasa tegang. Saraswati, ibunya, duduk di sofa dengan tatapan tajam mengarah padanya. Wajah Evan menunjukkan kelelahan, dan mungkin juga sedikit frustrasi. Baru saja ia selesai rapat penting dengan klien, namun Saraswati tetap menunggu di ruangannya, jelas dengan maksud tertentu."Evan, hari ini kamu harus menemani Chintya mengurus keperluan pernikahan kalian," ujar Saraswati dengan nada tegas. Tidak ada ruang untuk penolakan dalam suaranya.Evan mendesah pelan, mencoba meredam emosinya. “Bu, saya tidak bisa hari ini. Jadwal saya penuh dengan rapat dan pekerjaan yang tidak bisa ditunda.”Saraswati mengangkat alisnya, ekspresi wajahnya tak berubah. "Saya tidak peduli dengan jadwalmu, Evan. Yang saya tahu, pernikahanmu dengan Chintya sudah semakin dekat. Jika kamu tidak mulai serius mengurus ini, semuanya bisa kacau. Dan saya tidak mau mendengar alasan apapun."“Tapi, Bu…” Evan mencoba membela diri.Saraswati memotongnya
Bab 23Jarak dan KetidakpastianPrewedding yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi medan ketegangan antara Evan dan Chintya. Sejak awal, Evan merasa terjebak dalam semua rencana besar yang didikte oleh ibunya dan Chintya. Ia bukan tidak peduli, tetapi hatinya berada di tempat lain. Lebih tepatnya, pada seseorang—Anya. “Evan, kamu ini kenapa sih? Seharusnya kita menikmatinya, bukan malah marah-marah seperti ini,” ujar Chintya dengan nada frustrasi. Evan hanya menatap Chintya dengan dingin, tidak ingin terjebak dalam pembicaraan lebih jauh. Ia tahu, jika ia bicara lebih banyak, amarahnya akan meluap. Tanpa sepatah kata pun, ia memanggil Roy dan memintanya mengakhiri sesi foto. “Roy, bawa mobil. Kita pergi sekarang.” “Tapi, Evan, masih ada beberapa foto lagi—” Roy mencoba menengahi, tetapi tatapan tajam Evan sudah cukup menjelaskan bahwa dia tidak ingin dibantah. Roy segera menuruti perintah Evan dan melangkah ke mobil. Namun, ia tahu bahwa keputusan
Bab 24Baru saja Evan sampai rumah, ia langsung mendapat teguran dari mamanya. Saraswati. "Evan!" Evan yang dipanggil menoleh. "Iya Ma.""Chintya bilang kalau kamu berulah lagi Evan. Kamu meninggalkan Chintya saat sesi prewedding. Kenapa Evan? Apa karena wanita itu?""Ma, berhenti menyangkut pautkan ini dengan Anya. Karena tidak ada hubungannya dengan Anya, Ma!"Saraswati menatap Evan dengan marahnya, lagi-lagi dia tidak sejalan dengan Evan. Padahal Sarawati berpikir kalau Evan menikah dengan Chintya. Maka akan berdampak baik pada perusahaan Evan, tapi nyatanya Evan tidak peduli dengan semua itu. Yang ia inginkan kini adalah kebahagiaannya dengan Anya. Namun, bagaimana akan bahagia. Kalau Anya sendiri tidak mau kembali ke perusahaan Evan. "Evan tidak suka Ma, kalau Mama lagi-lagi menyalahkan Anya.""Sudahlah Evan, capek kalau bicara denganmu. Yang Mama inginkan sekarang. Belajarlah untuk menerima Chintya, karena dia kelak yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu."Bukannya senang den
Bab 25."Kenapa gaya bicara mu. kurang sopan dengannya Anya? Bukankah seharusnya kamu menghormati nya sebagai seorang, bos?" Nathan sedikit penasaran dengan sikap Anya pada Evan. Apalagi saat melihat tatapan mata Anya, yang menyorot kan kebencian saat melihat kedatangan Evan. Jelas seperti Anya menaruh rasa dendam pada Evan. "Kamu tidak perlu tahu, Nathan. Tapi aku tidak suka kamu ikut campur dengan urusan pribadi mu. Sebab kamu tidak tahu siapa itu Evan dan siapa itu mamanya.""Kalau begitu ceritakan, Anya. Aku dengan senang hati akan mendengar mu."Anya menatap dingin ke Nathan, belum cerita saja hatinya sudah sakit, apalagi mengingat kejadian lima tahun lalu. Sungguh Anya tidak sanggup. Sehingga Anya mengalihkan pembicaraan dengan berkata, "Sudah malam, Nathan. Apa tidak sebaiknya kamu pulang?" yang parahnya lagi, sampai Anya pura-pura menguap. "Aku begitu ngantuk sekali, aku tidur Evan. Apa tidak sebaiknya kamu pulang?""Apa kamu mengusirku, Anya?" "Mmmmm, terserah kamu berpiki
Bab 26Anya melangkah keluar dari ruang kerja Evan dengan dada yang sesak. Kata-kata yang ingin ia lontarkan sebenarnya jauh lebih banyak dari apa yang ia tahan tadi. Evan tidak pantas mendapatkan penjelasan lebih dari apa yang sudah ia ucapkan dalam hati. Bukan hanya karena luka lama yang terus menganga, tetapi juga karena Anya tahu, berbicara lebih banyak hanya akan memperlihatkan bahwa ia masih peduli—sesuatu yang tak ingin Evan tahu."Kenapa aku harus kembali ke sini? Aku bodoh sekali!" Anya merutuki dirinya sambil berjalan menuju meja kerjanya. Roy sempat melirik Anya, lalu tersenyum kecil seolah ingin menunjukkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi Anya tidak butuh itu. Ia tidak butuh hiburan dari siapapun, terutama dari orang-orang yang dekat dengan Evan.Sementara itu, di ruangan lain, Evan merapikan berkas terakhir sebelum meninggalkan kantornya. Ia melirik jam di tangannya. "Kurang dari 20 menit. Kalau aku terlambat, Mama pasti akan membuat drama besar-besaran," gumamny
Bab 27"Selamat, Chintya. Kamu sekarang sudah resmi menjadi menantu Mama. Mama sangat senang," Saraswati memeluk Chintya erat, wajahnya dipenuhi senyum puas."Terima kasih, Tante. Maksud saya, Mama," jawab Chintya dengan senyum yang lebar. "Saya juga senang. Akhirnya, Evan telah sah menjadi suami saya." Namun, di antara percakapan mereka, hanya Evan yang tampak kaku. Wajahnya datar, tanpa emosi, dan matanya bahkan tidak menatap ke arah Chintya. Saat acara berakhir, tanpa sepatah kata, Evan langsung berjalan ke kamar, meninggalkan istrinya yang masih berbicara dengan Saraswati.Melihat hal itu, Saraswati mengarahkan pandangannya ke Chintya dan berkata, "Sana, ikuti suamimu. Dia sepertinya sudah tidak sabar menunggu malam ini."Chintya tersipu, lalu tersenyum. "Iya, Ma. Terima kasih," katanya penuh semangat sebelum mengikuti Evan ke kamar mereka.Saat Chintya masuk ke kamar, ia menemukan Evan berdiri di dekat jendela, memandang ke luar dengan tatapan kosong. "Evan," panggil Chintya sa
Bab 28 Bulan Madu yang DipaksakanMatahari bersinar dengan indah, cahayanya menyelusup ke sela-sela tirai rumah keluarga Saraswati. Udara pagi yang segar seharusnya mampu menciptakan suasana hati yang ceria, tapi tidak demikian dengan Evan. Ekspresi wajahnya datar, menandakan hatinya yang berat. Pagi itu, Saraswati mengeluarkan sesuatu dari tas kulitnya yang elegan—sebuah tiket pesawat yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari. “Ini, Evan,” Saraswati menyodorkan tiket itu dengan senyum penuh arti. “Mama harap kamu bersenang-senang, Nak.” Evan mengambil tiket itu dengan dahi mengernyit. Matanya membaca cepat, lalu membulat penuh keheranan. “Apa ini, Ma?” “Itu tiket ke Paris,” Saraswati menjelaskan dengan lembut. “Mama sengaja belikan untuk kamu dan Chintya. Sebagai hadiah pernikahan kalian. Mama ingin kalian menikmati bulan madu yang indah, Nak.” Evan langsung meletakkan tiket itu di meja, seolah benda itu adalah barang tak berguna. “Ma, Evan nggak punya waktu untuk ini. Evan
Bab 29. "Apa yang kurang dari diriku? Kenapa Evan menolak untuk menyentuhku? Bukankah aku ini sekarang istrinya?"Chintya kesal, karena Evan begitu menjaga diri agar tidak sampai jatuh ke pelukan Chintya. "Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memancing nya? Sekuat apa dia menahan gairah nya, dan sial nya. Seharusnya dia yang melakukan ini padaku," lanjut Chintya yang bergumam sendiri di dalam hatinya, sesekali ia melirik ke arah Evan yang tidak justru sibuk dengan ponselnya, tanpa menghiraukan Chintya sebagai seorang istri. "Evan," panggil Chintya. "Mmmm." Evan memang menjawab, tapi tidak menoleh ke Chintya, sebisa mungkin Evan mengalihkan pandangannya dari Chintya. Chintya jenuh, ia memutuskan untuk lebih berusaha lagi agar mendapat perhatian Evan. Dengan cara ia berpura-pura terjatuh ke atas lantai. "Aduh," erangnya, sambil ia memijat pelipis kakinya. "Apa dia juga tidak peduli?" tanya Chintya di dalam hatinya, ia sesekali melirik ke arah Evan. Ingin melihat reaksi Evan. "
Bab 7 Laura terisak di atas ranjang dengan kedua tangan masih terborgol. Rasa dingin dari es yang tadi digunakan Zaky mulai menghilang, digantikan dengan tubuh yang lelah dan gemetar. Matanya basah oleh air mata, sementara pikirannya berputar mencari jalan keluar dari neraka ini. Entah sejak kapan, ia akhirnya tertidur karena kelelahan menangis. Dalam tidurnya, wajah ibunya kembali muncul, seperti mencoba meraih dan menenangkannya. "Mama...," bisiknya lirih dalam mimpi. Namun, ketenangan itu hanya sementara. Sebuah suara lirih terdengar dari pintu kamar yang kembali terbuka. Langkah kaki perlahan mendekatinya. Zaky, pria keji yang menculiknya, kini berdiri di samping tempat tidurnya, menatap wajahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu cantik... dan kamu akan menjadi milikku," gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan setan di tengah kegelapan. Tangan Zaky terulur, mengelus pipi Laura yang masih basah oleh air mata. Sentuhan itu membuat Laura terbangun seketika. Matan
BabKeesokan paginya, Anya bangun dengan semangat yang sedikit berbeda dari biasanya. Setelah perbincangan panjang dengan ibunya, ia memutuskan untuk bertemu dengan sahabatnya, Dewi, guna mencari pekerjaan. Ia tahu bahwa jika ingin merebut kembali hak asuh Kenzo, ia harus bekerja keras dan menyisihkan uang untuk menyewa pengacara terbaik. Ini bukan perkara mudah, tetapi Anya siap menghadapi segala rintangan.Dengan langkah mantap, Anya menemui Dewi di sebuah kafe kecil tempat mereka biasa bertemu. Begitu melihat Anya datang, Dewi langsung melambaikan tangan dan tersenyum lebar. "Anya! Duduk sini, aku sudah pesan kopi untukmu."Anya duduk dan menarik napas dalam. "Terima kasih, Dewi. Aku benar-benar butuh bantuanmu. Aku harus segera mendapatkan pekerjaan. Aku ingin menyewa pengacara dan merebut kembali Kenzo."Dewi menatap sahabatnya dengan penuh simpati. "Aku mengerti, Anya. Kebetulan di tempatku bekerja sedang membuka lowongan. Kamu bisa melamar di sana. Gajinya lumayan dan kamu bisa
Bab 96 - Cinta yang DiujiNathan yang baru sampai rumah langsung menatap ibunya dengan mata yang penuh kemarahan. Hatinya terasa seperti terbakar oleh kata-kata Bu Rina yang seolah-olah menganggap Anya sebagai sampah yang tidak pantas berada dalam hidupnya.'Kamu dari mana saja, Nathan? Tadi Citra menunggumu cukup lama disini, Nathan," ujar Bu Rina tiba-tiba, tapi Nathan memilih untuk tidak menanggapinya. Ia justru berjalan berlalu menuju arah kamarnya membuat Bu Rina kebingungan dengan apa yang terjadi pada anaknya Nathan. "Nathan, kamu kenapa sih? Nathan," panggil Bu Rina. Karena tidak ada jawaban, membuat Bu Rina justru berjalan menghentikan langkah Nathan dan tiba-tiba membalikkan badan Nathan menatap ke arahnya. "Nathan, kamu berani mengabaikan ibu?" pertanyaan itu membuat Nathan tidak tahan lagi, sampai akhirnya Nathan berkata, "Bu, sebenarnya apa yang Ibu mau?" tanya Nathan dengan suara bergetar menahan emosi.Bu Rina menghela napas panjang, lalu menatap putranya dengan taja
Bab 95 – Api yang Kian MembesarAnya masih berdiri di ambang pintu, dadanya naik turun menahan emosi setelah Chintya pergi meninggalkan apartemennya. Pipinya masih terasa panas akibat tamparan tadi, tetapi lebih dari itu, kata-kata Chintya terus terngiang di kepalanya. *"Aku peringatkan, Anya! Berhenti berpura-pura menjadi korban! Jangan berani lagi mengganggu rumah tanggaku, atau aku pastikan hidupmu akan lebih menderita!"* Anya mengeratkan genggamannya. Ia tidak akan mundur. Ia tidak akan menyerah. Jika Chintya berpikir ancaman itu bisa menghentikannya, maka dia salah besar. Namun, jauh di dalam hatinya, ada ketakutan yang mulai tumbuh. Chintya bukan hanya wanita biasa—dia istri Evan, seseorang yang memiliki posisi kuat dalam hidupnya. Jika Chintya benar-benar berniat menghancurkannya, ia harus siap menghadapi konsekuensi besar. Saat pikirannya masih kacau, suara ketukan pintu kembali terdengar. Anya menghela napas panjang, berharap itu bukan Chintya yang kembali untuk melan
Bab 94 – Luka yang Belum SembuhNathan menghela napas panjang sambil menggenggam erat tangan Anya. Amarahnya belum reda setelah pertemuan dengan Evan. Matanya masih menyiratkan kemarahan yang tertahan.“Anya, kamu harus melawan. Jangan biarkan Evan memperlakukanmu seperti ini.”Anya terdiam. Kata-kata Nathan menggema di kepalanya, tapi ada perasaan lain yang berkecamuk di hatinya. Hatinya terluka bukan hanya karena Evan merendahkannya, tetapi juga karena ia masih belum bisa sepenuhnya membenci pria itu.“Aku hanya ingin Kenzo kembali padaku, Nathan,” suara Anya bergetar. “Aku tidak peduli dengan Evan, tidak peduli dengan masa lalu, aku hanya ingin anakku.”Nathan mengepalkan tangannya. “Kalau begitu, kita harus melawan. Kalau dia tidak mau mengembalikan Kenzo dengan cara baik-baik, kita akan menggunakan cara lain.”Anya menatap Nathan dengan keraguan. “Maksudmu?”Nathan tersenyum tipis, tapi ada ketegasan di matanya. “Kita bisa membawa masalah ini ke pengadilan, Anya. Kamu ibunya. Kam
Bab 93 – Pertemuan yang MenyakitkanEvan duduk di dalam mobil dengan jantung berdegup kencang. Ia menatap layar ponselnya sekali lagi, memastikan bahwa pesan dari Anya memang benar-benar ada. Ia masih tidak percaya bahwa Anya ingin bertemu dengannya. Rasa bahagia mengalir di hatinya, seolah-olah ada harapan baru yang muncul. Mungkinkah Anya sudah memaafkannya? Apakah ini kesempatan baginya untuk memperbaiki semuanya?Dengan semangat yang sedikit berlebihan, Evan menghidupkan mesin mobil dan segera menuju kafe tempat mereka berjanji bertemu. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus membayangkan bagaimana pertemuan ini akan berjalan. Ia membayangkan Anya tersenyum padanya, mengatakan bahwa semua sudah berakhir dan mereka bisa kembali seperti dulu.Namun, begitu ia tiba di kafe dan melihat Anya turun dari mobil bersama Nathan, hatinya langsung mencelos. Senyumnya yang tadinya mengembang perlahan pudar. Evan mengepalkan tangannya di atas meja saat melihat bagaimana Nathan dengan santainya m
Bab 92 – Kecurigaan Chintya dan Amarah yang Memuncak.Pagi masih terasa dingin ketika Evan melangkah masuk ke rumah. Wajahnya tampak letih, pikirannya masih dipenuhi kejadian semalam—Anya yang marah, Nathan yang nyaris menghajarnya, dan perasaan bersalah yang semakin menekan dadanya. Namun, sebelum sempat menghela napas lega, suara Chintya yang tajam menyambutnya. "Dari mana saja kamu semalaman?" Evan menoleh dan menemukan Chintya berdiri di depan pintu ruang tamu dengan tangan bersedekap. Matanya menatap tajam, penuh dengan kemarahan yang ditahan. "Aku…" Evan berusaha mencari alasan yang masuk akal, tetapi kepalanya masih terlalu lelah untuk berpikir jernih. Chintya melangkah mendekat, ekspresinya semakin tegang. "Kamu pikir aku bodoh, Evan? Aku menunggumu semalaman, menghubungimu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Lalu tiba-tiba kamu pulang pagi dengan wajah seperti itu?" Evan mengusap wajahnya. "Chintya, aku tidak ingin bertengkar sekarang." "Oh, kamu pikir aku akan
Bab 91 – Malam yang Penuh PenyesalanLangit malam tampak kelam, seolah ikut merasakan kehampaan di hati Anya. Ia berjalan tanpa arah di trotoar kota, membiarkan angin dingin menerpa wajahnya yang basah oleh air mata. Hidupnya terasa seperti kapal yang kehilangan arah, hanyut dalam ombak keputusasaan. Anya tidak punya siapa-siapa lagi. Ia kehilangan pekerjaan, kehilangan hak asuh Kenzo, dan bahkan kehilangan sahabatnya. Semua terasa begitu gelap dan tak ada cahaya harapan di ujungnya. Tanpa sadar, langkahnya membawanya ke depan sebuah klub malam. Lampu neon berkelap-kelip, musik menggelegar dari dalam, dan suara tawa orang-orang mabuk terdengar di sekitarnya. Tanpa berpikir panjang, Anya melangkah masuk. Di dalam klub, suasana begitu ramai dan bising. Anya berjalan menuju bar dan tanpa ragu memesan minuman keras. Ia ingin melupakan segalanya—rasa sakit, kehilangan, dan terutama Evan. Satu gelas... dua gelas... tiga gelas... Namun, bukannya menghilang, rasa sakit itu justru se
Bab 90 – Perang Hak AsuhDi ruang makan rumah Evan, suasana tampak tegang. Saraswati duduk dengan anggun di kursinya, menyesap teh dengan ekspresi penuh perhitungan. Evan, yang duduk di seberangnya, terlihat lelah dan frustasi. Ia baru saja pulang dari kantor dan ingin istirahat, tetapi ibunya tiba-tiba memulai pembicaraan yang membuatnya semakin terbebani. “Kau sungguh bodoh, Evan,” suara Saraswati terdengar tajam. Evan menghela napas, meletakkan sendok di atas piring. “Apa lagi kali ini, Ma?” “Kau bilang tidak akan memperjuangkan hak asuh Kenzo. Kau benar-benar ingin menyerahkan anakmu begitu saja pada Anya?” Saraswati menatapnya dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. Evan memijit pelipisnya. “Ma, sejak awal aku tidak ingin memperpanjang perkara ini. Kalau Anya ingin mengambil hak asuh Kenzo, biarkan saja. Itu memang haknya sebagai ibu.” Saraswati langsung menaruh cangkir tehnya dengan kasar di meja. “Kau benar-benar tidak berpikir panjang, Evan! Jangan jadi pria bodoh!”