Share

Arfan Lolos

Author: Nabila Gemoy
last update Last Updated: 2024-10-29 19:42:56

Kami semua keluar dari rumah itu dan melihat siapa yang tertembak. Kami terkejut melihat siapa yang tergeletak di rerumputan.

Dua polisi mengejar Mas Arfan, yang satu menelfon seseorang. Ternyata yang tertembak adalah salah satu polisi yang berusaha menangkap Mas Arfan.

"Apa yang terjadi, Pak?" tanya Papa.

"Arfan berhasil merebut pistol teman kami, saat rebutan teman kami tertembak," jawab polisi.

Tidak berapa lama ambulan datang, polisi yang tertembak langsung di larihan ke rumah sakit.

"Kalian harus tetap waspada! Jika Arfan tertangkap nanti saya kabari," kata polisi.

Kami pulang namun masih was-was. Mas Arfan masih dalam pengejaran polisi.

"Kenapa kalian bisa datang?" tanyaku.

"Putra berhasil mengikuti kamu, jadi papa bawa polisi," jawab papa.

Kami pulang, tapi aku melihat Kiara masih tampak trauma.

***

Esoknya polisi memberi kabar bahwa Mas Arfan berhasil lolos dari kejaran polisi. Dia bahkan masih membawa senjata milik polisi yang tertembak.

"Pa, bagaimana kalau Mas Arfan datang
Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Pria Bisu Cabul

    Pria tersebut bukan Mas Arfan, yang kami tahu dari pihak petugas kebersihan kemungkinan dia adalah pria bisu cabul yang biasa melakukan pelecehan di sekitar pengadilan."Sepertinya dia pria bisu itu yang suka melakukan pelecehan," kata petugas kebersihan.Kami membawa orang tersebut, namun ternyata dia bisu sehingga tidak bisa diajak komunikasi dengan mudah."Siapa namamu?" tanya petugas."Aku Deni," jawabnya. Dia menulis di kertas yang di sediakan oleh petugas."Kenapa kamu masuk ke toilet perempuan? Apa kamu pria yang diisukan sering melakukan pelecehan?" tanya petugas."Iya, saya pelakunya. Naasnya kali ini aku ketahuan," jawabnya lagi dia tulis dalam kertas."Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu," kata petugas."Maafkan aku. Aku janji tak akan mengulangi lagi," kata pria bisu itu dalam kertas.Kami memilih jalur hukum, kami tidak mau ada korban selanjutnya. Pria itu marah pada kami. Tapi kami tak peduli, yang salah tetap harus dihukum.Pria itu berusaha berteriak walau

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Singel Parent

    Ternyata yang memegang bahuku adalah tangan mama. Aku sampai hampir berteriak."Mama, bikin takut aja," kataku."Ngapain kamu di sini bengong?" tanya mama."Aku tadi lihat orang di dekat pohon sana, Ma," jawabku. "Tapi pas aku lihat lagi udah gak ada, eh malah mama pegang bahuku kan jadi takut," kataku."Belum tidur kamu?" tanya mama."Gak bisa tidur, Ma. Makanya Kinan bikin kopi," jawabku."Kinan, kamu sekarang single parent. Tapi mama yakin kamu kuat dan bisa membesarkan Kiara," kata mama.Aku duduk bersama mama di meja makan. Kami mengobrol sebentar."Jadi single parent memang berat, tapi kamu masih punya mama dan papa yang akan selalu support kamu. Jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan sama kami," tutur mama."Iya, Ma. Kinan hanya punya kalian, kalau bukan ke kalian Kinan minta tolong pada siapa lagi," kataku.Aku memeluk mama, aku memang sudah besar. Tapi di saat seperti ini aku juga butuh pelukan dan pundak mama untuk bersandar. Bukan berarti sudah dewasa aku tidak butuh m

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Arfan Tiada, kasus ditutup

    Kotak itu berisi fotoku dan Kiara namun sudah dicoret-coret dengan spidop berwarna merah. Bahkan dalam foto tersebut wajah kami dibuat sangat menyeramkan."Siapa yang melakukan ini?" tanyaku.Erina masuk ke ruangan ku, dia terkejut melihat isi kotak yang ada di depanku.Sepulang kerja aku langsung ke kantor polisi. Aku takut jika paket itu ada kaitannya dengan Mas Arfan."Baik, Bu. Kami akan usahakan agar cepat menangkap Pak Arfan," kata polisi.Aku langsung pulang, namun dalam perjalanan aku melihat seorang pria mirip dengan Mas Arfan. Dia tengah menaiki sebuah motor."Apa mungkin dia Mas Arfan?" tanyaku bingung.Aku tak mau terus bengong, aku segera pulang. Sampai di rumah, Kiara memelukku."Mama, tadi aku lihat orang mirip papa berada di sekitar sekolahanku," kata Kiara."Benatkah? Apa yang aku lihat tadi juga sama?" tanyaku."Mama juga melihat orang mirip papa?" tanya Kiara.Aku mengangguk pelan, ku ajak Kiara masuk ke dalam rumah. Situasinya belum aman, aku masih butuh penjaga.*

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Penelfon Misterius

    Kami senang bisa pindah rumah. Kami merasa keadaan sudah aman. Jadi aku tidak perlu khawatir lagi.Siang itu hari minggu, Ana menelfonku."Mbak Kinan apa kabar?" tanya Ana."Alhamdulillah baik," jawabku."Mbak, bisakah hari ini kita bertemu?" tanya Ana. "Bagaimana kalau kita bertemu di luar saja?" tanya Ana. "Aku gak enak kalau ke rumah mama Mbak Kinan," kata Ana."Oh ya, nanti jam dua ya," jawabku. "Soalnya ini Kiara masih tidur siang," kataku."Iya, Mbak," kata Ana.Pukul 13.45 aku mengajak Kiara menemui Ana di restoran milik Putra. Bukan karena aku ingin ketemu Putra. Hanya saja itu tempat terdekat dari rumah ibu mertua.Lagi pula, Putra belum tentu ada di restorannya. Dia pasti sedang di toko baju."Maaf ya, Mbak kalian jadi nunggu aku," kata Ana."Oh ya An, kamu masih tinggal sama mama?" tanyaku."Iya, Mbak," jawab Ana. "Tapi aku sih pengen kala tinggal di rumah Mas Arfan saja, mungkin bulan depan aku pindah," kata Ana."Ya ada baiknya memang begitu," kataku. "Oh ya ada apa kamu

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Bodyguard Baru

    Aku mendadak takut jika orang itu mau mencelakaiku dan Kiara. Nyatanya dia terus mengikutiku.Aku langsung menelfon Putra, aku meminta bantuannya untuk mencarikan bodyguard sekaligus supir untukku."Kenapa kamu berubah pikiran?" tanya Putra."Penelfon misterius itu ternyata sudah tahu rumah baruku, aku takut dia mau celakai aku dan Kiara, Put," jawabku."Ya sudah, aku akan hubungi temanku," kata Putra.Aku berharap Putra segera menemukan penjaga yang tepat untukku. Sebenarnya aku ingin memberitahu papa, tapi pasti papa panik dan memintaku balik ke rumahnya.Ponselku berdering, panggilan dari Mama."Halo Kinan, apa kabar?" tanya mama."Alhamdulillah baik, Ma," jawabku."Oh ya siapa yang jemput Kiara?" tanya Mama."Putra, Ma," jawabku."Oh ya udah berarti aman. Kamu gak kenapa-kenapa, kan?" tanya Mama. "Soalnya beberapa hari ini mama merasa khawatir dengan kalian," kata mama."Sebenarnya Kinan mendapat telfon misterius, Ma. Penelfon itu tahu rumah baru Kinan," ucapku.Aku harus jujur de

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Ada Apa Dengan Putra?

    Sudah satu minggu sejak Ilham kerja denganku. Aku tak pernah bertemu dengan Putra. Kami hanya berkirim pesan saja. Dia juga tak pernah menelfon."Ham, Putra baik-baik aja, kan?" tanyaku."Mbak Kinan kangen ya sama Mas Putra?" tanya Ilham balik."Gak gitu, biasanya dia gak pernah telat ke rumah. Ini udah seminggu gak ke rumah. Udah gitu gak pernah nelfon hanya berkirim pesan saja," jawabku."Bilang aja kangen, Mbak. Setahu aku dia sibuk, Mbak. Dia sedang buka cabang resto baru," kata Ilham."Ya udah kalau emang dia sibuk," kataku.Aku memaklumi jika Putra sibuk dia kan pengusaha dengan banyak usaha yang dia geluti. Bukan seperti aku yang hanya karyawan biasa. Ku lihat Pak Wilii juga jarang masuk ke kantor. Semua urusan sering dilimpahkan pada asistennya dan Mbak Indah."Mbak, Pak Willi gak datang lagi?" tanyaku."Ngapain sih kamu tanya Pak Willi melulu. Dia kan bos jadi suka-suka dia," jawab Mbak Indah."Iya kamu kaya pacarnya Pak Willi aja sih, Nan," tegur Erina.Aku mengirim pesan pa

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Buku Diary Putra

    Sampai di rumah aku segera mandi. Ku tutup pintu kamar rapat-rapat agar tak ada yang mengganggu.Ku buka halaman awal, menceritakan waktu dia pertama kali bertemu dan Kiara di taman.Halaman ke dua sampai sepuluh masih seputar hubungan dia dan dan Kiara. Ternyata dia mulai menyukaiku sejak Mas Arfan menuduhku selingkuh dengan Putra.Ku baca sampai halaman terakhir. Air mata ini seketika menetes begitu saja. Bagaimana tidak ternyata Putra mengidap penyakit kanker. Selama ini dia juga sudah menaruh hati padaku namun lebih memilih diam. Apalagi saat proses perceraianku dengan Mas Arfan.Ada hal yang tidak aku kira dari Putra. Dia meminta Ilham untuk menjagaku. Pantas dia mencarikan akh bodyguard. Ternyata Ilham tidak hanya diamanahkan untuk menjagaku saja tapi mendampingiku.Dalam buku itu, tertulis jika Ilham menolak tapi Putra terus mendesaknya karena umurnya tak bertahan lama hingga akhirnya Ilham menyetujui permintaan Putra.Ku simpan buku itu lalu keluar kamar karena sudah waktunya

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Putra Meninggal

    Aku sampai di rumah sakit langsung berlari menuju ruangan Putra. Di sana sudah ad Pak Willi dan istrinya."Putra, aku di sini. Kamu harus sembuh," ucapku. Air mataku tak terbendung lagi, Putra sudah kejang-kejang tak karuan.Sesaat dia tak kejang,"Kinan, aku mencintaimu," ucap Putra."Aku juga mencintaimu," ucapku.Dokter mengambil tindakan, Putra sudah tak dapat berbicara lagi. Aku menunggu di sampingnya. Sementara Kiara aku pasrahkan pada Ilham."Kinan, ini sudah sore. Apa tidak sebaiknya kamu minta jemput Ilham?" tanya Pak Willi."Gak, Pak. Biarkan malam ini aku yang jaga Putra. Kalian pulang saja," jawabku.Aku ingin menemani Putra di saat terakhir hidupnya. Dia sudah banyak menolongku selama ini.Sebelum Pak Willi pulang, Mama dan papa menjeguk Putra. Mereka menguatkan Pak Willi agar tetap sabar."Kinan, kalau kamu di sini. Mama akan ke rumah nemenin Kiara," kata mama."Iya, Ma. Kinan titip Kiara ya," kataku.Mama pulang, begitu juga dengan Pak Willi dan istrinya. Aku mengambil w

Latest chapter

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Indah Pada Waktunya

    Ternyata Allah menjawab doa anak-anak selang dua bulan kemudian aku hamil lagi. Mereka bergembira saat tahu aku tengah mengandung adiknya."Hore... hore punya adik," seru Kiara diikuti dengan Marvel sambil lompat-lompat.Kehamilan aku dan Dina beriringan, tentu aku tak akan bisa menemani dia lahiran. Namun, keluarga Brian sudah siap menemani Sofia lahiran.Papa senang melihat aku bahagia bersama Mas Ilham. Rasa sakit hati yang dulu diciptakan Mas Arfan seketika hilang sudah. Digantikan dengan kebahagiaan yang diberikan Mas Ilham.Tak hanya diriku, Ana juga merasakan hal yang sama. Dia mencurahkan semuanya padaku. Bahkan dia sempat menangis saat kami bercerita dan ingat saat-saat masih bersama Mas Arfan."Semua hanya masa lalu," kataku. "Sekarang kebahagiaan kita sudah di depan mata, meskipun bukan dengan Mas Arfan," kataku."Iya, Mbak. Hanya saja aku masih merasa bersalah pernah masuk dalam rumah tangga Mbak Kinan," katanya."Semua sudah berlalu, dulu memang aku sempat membencimu. Nam

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Bahagia Itu Sederhana

    Ku lihat banyak orang berkerumun, bahkan orang yang berada di dalam gedung pernikahan Sofia ada yang ikut melihat.Ku dengar dari beberapa orang bahwa yang kecelakaan adalah orang yang tadi diusir di pesta pernikahan Sofia."Aduh dia pasti kena karma," kata seseorang.Aku kembali ke gedung, ku lihat Mas Ilham sedang bersama Brian."Ada apa, Mbak?" tanya Sofia."Wanita itu kecelakaan sepertinya," jawabku. "Ku lihat tadi mereka bertengkar," ucapku."Ya ampun!" ucap Sofia.Acara pernikahan Sofia telah selesai. Kini Sofia akan tinggal di rumah ibu. Rumahku kembali sepi, karena hanya kami sekeluarga yang tinggal di sana.Rumah kembali seperti semula, hanya ada aku, Mas Ilham dan anak-anak."Mas, sepi ya?" tanyaku."Ya memang begitu, kan mereka udah punya keluarga sendiri-sendiri," jawab Mas Ilham. "Bagaimana kalau kita liburan?" tanya Mas Ilham."Liburan kemana, Mas?" tanyaku."Ke tempat yang sederhana saja," jawab Mas Ilham. "Nanti aku akan siapkan semua," ucapnya.Kamu akhirnya pasrah de

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Di Lamar Di depan Mantan

    Kamu semua terkejut saat pria itu menyatakan niatnya untuk menikahi Sofia di atas panggung.Sofia mengangguk pelan," Ya aku menerima kamu," ucap Sofia.Ku lihat kedua mempelai merasa malu melihat Sofia mendapatkan jodohnya di depan mata mereka. Padahal baru satu menit yang lalu dia diejek."Nah, lihat kan kalau aku bisa dapat yang lebih baik," kata Sofia.Sofia lalu mengajak aku dan pria itu keluar dari acara tersebut. Aku terheran-heran, aku kira pasti Sofia tengah membuat drama."Akting kalian bagus," ucapku setelah sampai di tempat parkir."Akting, siapa yang akting Mbak?" tanya pria itu. "oh ya aku Brian, teman SMA nya Sofia," jawab Brian memperkenalkan diri."Jadi kamu beneran melamar Sofia?" tanyaku."Iya benar," jawab Brian."Sofia, Mbak gak mau kejadian kemarin ke ulang lagi. Lebih baik kamu pikirkan matang-matang, setidaknya sebelum menikah kalian memantapkan hati kalian dulu," kataku.

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Suami Yang Diminta Kembali

    Sofia dan suaminya langsung pamit pulang. Kami tak bisa mencegahnya. Kamu hanya mendoakan kehadiran teman Sofia tidak membuat rumah tangga Sofia yang baru seumur jagung menjadi hancur."Aku jadi Sofia gak mau gantiin," kata Dina. "Sekarang dia kembali, bagaimana kalau sampai dia tidak terima dan merebut suami Sofia lagi?" tanya Dina."Kita berdoa saja semoga tidak seperti itu," jawab Mas Ilham.Aku merasa kasihan pada Sofia, dia harus menjalani asmara yang begitu rumit.Seharian Dina main di rumah, dia sedang libur. Dia bermain dengan anak-anak. Sorenya dia pulang di jemput Seno."Loh katanya Sofia ada di sini kok udah sepi," kata Seno."Udah pulang waktu aku datang," kata Dina."Mereka baik-baik saja, kan?" tanya Seno."Kamu tidak tahu, Sen," ucapku.Dina hendak pulang tapi dia melihat Sofia datang naik taksi."Loh katanya mau tinggal sama mertua kamu," kataku."Suamiku diminta sama t

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Pengantin Pengganti

    Siang itu ku lihat Sofia pulang dengan wajah kusut. Dia terlihat memikirkan sesuatu."Ada apa, Dek? Temanmu sudah pulang?" tanyaku.Dia menggeleng, sepertinya masalahnya semakin rumit."Kak, aku mau nikah," kata Sofia."Hah," aku terkejut mendengar apa yang barusan dia katakan."Menikah dengan siapa?" tanyaku."Aku disuruh menggantikan pengantin perempuan besok, Mbak," jawabnya."Bukankah itu keinginan kamu, menikah dengan orang yang kamu cintai?" tanyaku heran melihat sikap dia yang justru lemas."Justru itu, aku merasa hanya sebagai tempat pelarian saja karena pengantin wanitanya kabur,' jawab Sofia. "Kak Ilham pasti kaget kalau aku akan menikah besok," kata Sofia."Itu sih tentu, nanti aku bantu bicara sama Mas Ilham," ucapku.Aku segera menelfon Mas Ilham, agar dia pulang lebih awal. Biar bagaimanapun, kami harus menemui keluarga calon mempelai putra."Mas, pulang sekarang! Ada hal

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Rumah Seno Dan Dina

    Dua hari setelah pernikahan Dina dan Seno, mereka akan pindah ke rumah baru Seno. Kami mengantar Dina ke sana dengan membawa barang-barang Dina."Aku pasti akan sering kangen kak Kinan," kata Dina."Kalau kangen ya datang kemari lah," ucapku."Insyaallah ya, Kak," ucap Dina.Sampai di rumah Seno, di sana sudah ada keluarga Seno. Pembantu Seno membantu membawakan barang milik Dina ke kamar.Aku ikut melihat kamar Dina, kamarnya sangat luas hampir sama dengan kamarku di rumah. Rumahnya juga bagus dan sangat modern."Wah bakal betah nih kalau rumahnya sebagus ini," pujiku.Dina hanya tersenyum, setelah itu kami ke ruang tamu menyusul yang lain. "Dina, sekarang kamu udah sah istrinya Seno. Jadi mama harap kamu harus saling jaga sama Seno," kata Mama Seno."Iya, Ma," kata Dina.Anak-anak bermain, mereka suka karena rumah Seno ada kolam renangnya. Mereka bermain air di sana."Seno,kamu udah

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Pernikahan Hampir Ditunda

    Pagi itu Dina tampak pergi dengan terburu-buru. Aku melihat ada wajah kecemasan pada dirinya."Kamu kenapa?" tanyaku."Tadi keluarga Mas Seno menelfon, katanya Mas Seno kecelakaan, Mbak," jawab Dina."Ya sudah kalau gitu aku ikut," ucapku.Aku dan Dina ke rumah sakit di mana Seno di rawat. Pernikahan mereka tinggal satu Minggu lagi tetapi Seno malah kecelakaan.Sampai di rumah sakit, kami bertemu dengan keluarga Seno."Dina, Seno belum sadar," kata Mama Seno.Dina langsung lemas, ku ajak dia duduk. Aku tahu Dina pasti terpukul."Din, sepertinya pernikahan kalian harus ditunda kalau Seno tidak sadar juga," kata Papa Seno.Dina Kembali lemas, harapannya segera menikah pupus. Dia harus menunggu Seno sembuh dulu.**Dina menunggui Seno di rumah sakit, selang satu jam kemudian Seno sadar. Lukanya tidak terlalu parah hanya saja dia perlu waktu untuk dirawat beberapa saat."Sayang, a

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Dimanja Suami

    Pagi itu Mas Ilham membangunkan diriku, setelah pertempuran semalam aku sampai bangun kesiangan."Sayang, bangun!" Perintahnya.Di tak lupa mengecup keningku dengan penuh kasih sayang. Aku yang baru setengah sadar dari tidurku hanya tersenyum melihat perlakuan Mas Ilham."Hari ini aku antar kamu ke salon ya," ucap Mas Ilham."Ngapain ke salon?" tanyaku heran. Mas Ilham tak pernah mengantarku ke salon sama sekali. Tapi pagi ini dia ingin mengantarku ke salon."Cepat mandi!" Suruhnya.Aku segera mandi, setelah itu sarapan berdua saja dengan Mas Ilham. Ternyata yang lain sudah sibuk dengan urusan masing-masing."Mbak, nitip Marvel ya. Aku mau ajak mamanya ke salon," kata Mas Ilham saat melihat baby sitter Marvel."Baik, Pak," ucapnya lalu berlalu meninggalkan kami.Selesai makan kami berangkat ke salon, Mas Ilham memilihkan perawatan terlengkap untuk diriku."Mas, ini perlu waktu beberap

  • Bidadari di Dalam Rumahku   Vira Marah-marah

    "Apa Pak Willi tersangka utamanya?" tanya Sofia saat mendengar jawabanku.Aku mengangguk, mereka sangat marah karena apa yang dilakukan Pak Willi sudah diluar batas."Dia harus dihukum," ucap Sofia."Mas Ilham tidak akan membiarkan dia hidup tenang," kataku.Pagi itu kami tengah sarapan, Mas Ilham belum pulang dari kantor polisi. Aku meminta Bi Sri pesan makanan untuk acara tahlilan nanti malam."Kinan...Kinan...keluar kamu!" Suara Vira terdengar.Setelah aku membuka pintu, Vira menyerang ku. Dia langsung saja menjambak rambutku."Aku sudah peringatkan kamu, kan. Kalau Mas Willi punya rencana kamu sih gak mau dengar. Sekarang aku mau kamu bujuk Ilham untuk mencabut laporannya," ucap Vira."Maaf gak bisa, yang salah harus tetap mendapat hukuman," balasku.Dina dan Sofia langsung menyusulku, melihat yang datang Vira, emosi mereka meluap."Masih gak punya malu kamu, udah jelas suami kamu salah mas

DMCA.com Protection Status