Bab 64
Nun jauh di Hamburg sana, Abraham memejamkan mata. Berdoa dan berharap agar yang kuasa melenyapkan rasa cintanya untuk Mera. Ingatannya melayang jauh. Mengingat lingkaran cincin bermata berlian yang dulu pernah ia siapkan untuk sang kekasih tercinta. Kotak kecil perhiasan tersebut senantiasa ia simpan dalam tas pribadi yang biasa ia bawa kemana-mana. Seperti orang gila? Ya, Abraham sadar itu. Namun itulah jadinya apabila menyimpan cinta terlalu besar untuk seorang wanita yang pada akhirnya pergi meninggalkannya. "Brandy!" panggil Abraham sebelum kemarin Brandy melangkah meninggalkan ruangan rumah sakit. "Ya, Kak." Brandy menghentikan langkah. "Coba buka tasku. Di dalamnya ada sebuah cincin yang dulu pernah ingin kuhadiahkan kepada seseorang yang pernah singgah di hatiku. Tapi ternyata dia sudah memilih pria lain."Bab 65Merah memandang cincin yang melingkar pada jarinya. Entah mengapa ia begitu mengagumi benda kecil tersebut. Seakan ada ikatan batin yang kuat yang menempel pada cincin tersebut. "Aku sangat menyukai cincin ini, Brandy. Kalau boleh tahu di mana kamu membelinya?" Mera bertanya penasaran. Brandy membalikkan tubuh. "Apakah aku harus menyebutkan tempat tokonya, Sayang?" Brandy menggoda. "Ah tidak juga. Hmm ... Aku cuma ingin mengucapkan terima kasih banyak. Cincin ini sangat bagus. Kau memang sungguh mengerti akan seleraku." Mera tersenyum. "Bngomong-ngomong, bagaimana keadaan Kak Abraham? Apa dia sudah baikan?" Mera bertanya. Brandy menyeruput minuman teh hangat di hadapannya. "Sudah lebih baik daripada sebelumnya.""Sayang, sini mendekat."
Bab 66 "Halo, Kak Abraham? Bagaimana keadaan Kakak sekarang? Kuharap Kakak akan sembuh dengan segera seperti sedia kala." suara Mera terdengar perlahan. "Ya, syukur-syukur dalam waktu dekat Dokter akan memperbolehkanku untuk pulang." Abraham menjawab serak. "Maaf jika Brandy akhirnya harus pulang lebih cepat. Seharusnya sekarang dia masih ada di sana bersama ibu menjaga Kakak." lanjut Mera. "Tidak apa-apa, Mera. Memang aku yang menyuruhnya pulang lebih cepat. Aku mengkhawatirkan keadaanmu jika di tinggal terlalu lama." ujar Abraham. Ada desah nafas berat dari nadanya berbicara. Sedangkan Mera tak segera bersuara. Otak wanita itu menangkap jika Abraham memang mengkhawatirkan keadaannya selama kepergian Brandy. Mera telah mengenali betul sikap Abraham yang tak mudah untuk mengucapkan keboh
Bab 67"Tolong ambil ponselku di dalam laci kamar, Bi. Biar aku saja yang menghubunginya." Ucap Mera. "Nyonya tetap ingin bersikeras menelpon Tuan Brandy?" Bi Sumi bertanya. "Ya udah Bi. Tidak usah banyak tanya! Ini perutku udah tidak nyaman sekali." Merah mulai kesal dengan sikap Bi Sumi yang terkesan bertele-tele dan abai akan kesakitan Mera. "Maaf Nyonya. Lebih baik tidak usah telepon Tuan Brandy. Nanti dia bisa mengira kalau aku tidak becus mengurus Nyonya." Bi Sumi tetap bersikukuh. "Tidak becus bagaimana maksudnya, Bi? Brandy tidak seburuk itu. Apalagi ini menyangkut kandunganku." kilah Mera. "Bukan begitu, Nyonya. Bukankah Tuan Brandy sudah menaruh kepercayaan padaku untuk menjaga Nyonya? Aku tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan yang Tuan Brandy berikan." "Sudahlah, Bi. sepertinya k
Bab 68"Ah tidak. Saya tidak bermaksud untuk mencegah Nyonya buat menghubungi Tuan Brandy. Maaf ... Maafkan aku nyonya. Karena sikapku membuat nyonya berpikiran hingga ke sana." Dari nada suaranya, terdengar sekali jika Bi Sumi mengelak dari ucapannya sendiri. Bukankah dari tadi ia mencegah Mera untuk menghubungi Brandy, lalu mengapa sekarang malah mengatakan hal sebaliknya? Sungguh sesuatu yang memgundang curiga Mera. Namun Mera bisa memaklumi, mungkin saja Bi Sumi adalah wanita yang sudah mulai menua, hingga mungkin saja sifatnya kembali labil dan kekanak-kanakan. "Lupakan saja, Bi." Mera mengisyaratkan Bi Sumi untuk keluar ruangan. Mera menutup pintu.***"Nyonya Brandy, sepertinya Anda harus lebih memperhatikan asupan makanan. Jangan sampai memakan sesuatu yang bisa membahayakan kandungan. Jika ingin kepa
Bab 69"Jangan diminum dulu, Mera!" "Kenapa?" "Barusan saya lihat ada kecoa merayap di gelasmu!" jawab Abraham. Sesaat mata mereka beradu pandang. Ada detak lebih cepat di dada keduanya. Bergegas Mera mengalihkan pandangan. Berharap tatapan itu tak terlalu menusuk netra. "Kau kembali, Abraham?" Mera berkata dengan tatapan yang masih enggan untuk melirik. Bukan enggan, tepatnya tak mampu. Mera merasa tak mampu untuk menatap sepasang mata berwibawa di hadapannya. "Brandy di luar, Kak." Ada rasa canggung Mera rasakan ketika harus memanggil Abraham dengan sebutan Kakak.Di samping itu, Mera mulai tak enak. Pasalnya dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua. Mera khawatir hal tersebut akan mengundang fitnah di mata orang lain. "Ya aku tahu dia di luar. Dia sedang mengurus bebe
Bab 70"Halo Brandy!" "Ya. Haloo! Kamu kenapa sih tidak pernah angkat telepon aku? Ntar aku bisa ngambek lhoo!" suara Kirana dari seberang panggilan. "Kamu mau apa lagi?" "Ah seperti tidak tahu ajah. Aku kangen kamu, Brandy!" "Apa? Kangen? Kirana, aku ini sudah punya istri. Kamu nggak usah nempel-nempel terus sama aku donk." protes Brandy.Brandy semakin penuh tanya. "Kirana, aku tidak pernah mengusik kenyamanan hidupmu. Jadi tolong jangan urusi hidupku." "Maaf tadi aku masih belum bisa melupakanmu. Aku masih mencintaimu. Apa kau tidak bisa melihat? Bagaimana aku datang ke rumahmu mengharap kau masih bisa melihatku seperti pandangan yang biasa kau berikan di masa lalu. Tapi apa yang aku dapatkan? Kau hanya menambah luka. Kau bahkan memperlakukan aku bak seorang musuh. Seolah kau t
Bab 71"Aku tidak perlu tahu kau ada di mana. Sudahlah! Bicara denganmu hanya buang-buang waktuku saja." Brandy mematikan telepon lalu memasukkan kembali handphone tersebut ke dalam tas dengan muka semrawut dan tak suka. Brandy melangkah meninggalkan area kantor . Hatinya tak sabar ingin segera menemui sang istri yang pernah berbaring di klinik hari ini.Kalau saja tidak ada pekerjaan mendesak yang harus diselesaikan dengan segera, tentu saja takkan rela baginya untuk meninggalkan Mera di ruang klinik perawatan. Mengingat soal Kirana, itu adalah sesuatu yang menjijikkan bagi Brandy. "Keterlaluan dia! Tidak puas-puasnya ingin berlaku licik. Mengaku-ngaku atas sesuatu yang tidak pernah aku lakukan. Kau pikir aku akan terkena bujuk rayu dan jebakanmu, Kirana? Tidak akan." Gumam Brandy. "Halloo? Benarkah ucapanmu barusan?" sebuah suara wanita men
Bab 72"Kak Abraham?" Kirana tersadar siapa yang datang."Kakak tahu sendiri apa yang laki-laki ini lakukan bersamaku, Kak. Bisa di tebak kan." Kirana berucap dengan mata berkaca-kaca.Usai berucap demikian, Kirana berlalu dengan wajah yang menyiratkan sejuta kepiluan. Langkah Kirana menjauh meninggalkan dua insan tampan di aula kantor utama.Abraham menatap pungguung Kirana penuh tanda tanya. Hati Abraham bertanya-tanya, ia merasa ada yang tidak beres dengan wanita yang pernah ia kenali beberapa waktu yang telah terlewati. Abraham sangat tahu jika Kirana adalah seorang wanita yang pernah mempunyai hubungan khusus dengan sang adik. Mengingat itu, sedikit banyak hati Abraham merasa perih, " Akankah Brandy kembali mengulang masa lalu dengan bersama wanita dari masa lalu? jika begitu, apa yang akan di rasakan oleh Mera jika seandainya dia tahu diam-diam sang suami menemui Kirana?" Pikiran Abraham panas membayangkan kenyataan itu.
Bab 123"Aku tidak peduli apa yang kakak katakan. Jika kakak ingin mengatakan aku egois dan ingin menyalahkan aku atas semuanya, maka aku tidak akan mencegah."Sikap Brandy benar-benar berubah hari ini. Hingga Abraham pun memilih diam. Ia sendiri tidak mengerti ada apa dengan sang adik.Apakah Brandy berkata seperti itu karena lantaran sakit hati? Atau ada hal lain yang melatarbelakanginya? Abraham tak tahu itu. Yang pastinya Abraham merasa prihatin.***Sedangkan Brandy sendiri meluncurkan mobilnya meninggalkan Abraham begitu saja. Ia sama sekali benar-benar tidak peduli lagi dengan Abraham.Kali ini ego benar-benar Brandy utamakan."Aku akan menemuimu Mera! Aku akan mengajakmu pulang!"Tengah meluncurkan mobil, ponsel Brandy kembali bergetar, seseorang menghubunginya.Dengan cepat brandy menjawab. Ia sudah tahu siapa sosok yang tengah menghubunginya saat itu."Ada apa, Kirana? Mengapa kamu kembali menghubungiku?""Mampirlah ke apartemenku, Brandy! Kita bicarakan masakah ini baik-bai
Bab 122 "Kau benar-benar sudah menduakan Mera Brandy! Mengapa kau lakukan ini?" Abraham berkata dengan sorot mata tajam. Brandy tak bisa berkata apa-apa."Maafkan aku, Kak! Aku akui jika aku salah. Tapi, tapi apakah Kakak tidak jika aku hanya khilaf melakukannya. Benar-benar khilaf, Kak." jawab Brandy.Brandy tak berani menatap pandangan dari kedua mata kakaknya yang terlihat benar-benar kesal."Bisa-bisanya kamu mengatakan jika kamu tengah khilaf, Brandy! Jika kamu khilaf, apakah mungkin kamu bisa melewati masa-masa khilaf itu hingga semalaman suntuk? Itu sama sekali tidak bisa disebut dengan khilaf, Brandy. Sesuatu bisa disebut dengan Khilaf, apabila hal tersebut terjadi dalam waktu yang cuma sesaat. Tapi yang kalian lakukan sama sekali tidak dalam waktu sesaat. Maka aku sangat tidak percaya jika kau sebut kelakuan kalian dengan sebutan khilaf."Brandy membisu. Memang benar apa yang diucapkan oleh sang kakak."Kak. Bagaimana kalau kita lupakan saja soal ini. Aku ingin segera m
Bab 121"Brandy! Kirana? Apa yang kalian bicarakan?" Abraham menghampiri keduanya.Keduanya sontak terkejut.Mereka menoleh."Kak Abraham? Se... Sejak kapan Kakak berada di sini?" Brandy benar-benar dibuat terkejut luar biasa."Aku berdiri di sini sejak awal kalian ada di sini. Aku mendengar semua perkataan kalian!""A... apa?" Brandy tergagap."Apa yang sudah kamu lakukan terhadap wanita ini, Brandy?" Abraham menunjuk ke arah Kirana."A... apa yang kamu maksud? Aku tidak melakukan apapun?""Kalau kalian tidak pernah melakukan apapun, lalu apa yang kalian bicarakan barusan? Aku mendengar semua yang kalian bicarakan. Kalian tak bisa lagi berbohong!"Kirana gugup. Perlahan ia melepaskan pelukannya terhadap Brandy dan sedikit ia melangkah menjauh. Mukanya merah. Ada rasa malu menyelimuti perasaannya. Tapi entahlah, ada juga sesuatu yang membuat wanita itu malah bersyukur dengan adanya keberadaan Abraham di sana."Mungkinkah Kakak salah mendengar?" Brandy masih berusaha untuk berkilah.
Bab 120"Kak aku serius, Mera hilang Kak. Dia pergi sambil membawa Keano. Bagaimana ini? Aku benar-benar bingung. Apa aku harus ke rumah orang tuanya sekarang? Atau... atau adakah dia menghubungi Kakak sebelum pergi?" tanya Brandy berharap-harap cemas."Sudah kubilang padamu Brandy, Mera tidak pernah menghubungiku sama sekali. Aku aja nggak menyimpan nomor kontak Mera, begitu juga dengan merah. Semenjak pernikahan kalian, Kami tidak ada kontak-kontakan lagi. Bagaimanakah bisa kamu berpikir kalau Mera menghubungiku. Sudah Kubilang padamu, jangankan menghubungiku, berbicara secara langsung aja sama aku Mera terlihat malas dan enggan. Tidakkah kau lihat dan tidakkah kau perhatikan jika dia benar-benar menjaga jarak denganku?"Fyuuh!Brandy mengalah nafas panjang.Brandy menyadari betul Apa yang diucapkan oleh kakaknya adalah benar. Selama ini ia tak pernah melihat Abraham dan merah berbicara serius. Kalaupun berbicara, mereka terkesan seperlunya saja.Brandy memutuskan untuk mengakhiri p
Bab 119 "Mera! Dimana dirimu sekarang?" Brandy nampak gelisah. Hatinya galau tidak menentu.Brandy mulai memikirkan kemungkinan yang tidak tidak terjadi pada istri dan putranya. Sekalipun pada awalnya Brandy meragukan Keano sebagai darah daging, tapi sepertinya kasih sayang yang terlanjur ia curahkan pada Keano begitu lengket dan benar-benar telah membentuk sebuah ikatan batin yang demikian kuat.Ya, Brandy mengakui ia mencintai dan menyayangi anak itu setulus hati."Keano, pulanglah, Nak! daddy merindukanmu?" Brandy berguman lirih dan tertahan. "Aku harus mencarinya! Dia istri dan anakku!" tekad Brandy.Brandy memutuskan untuk memberanikan diri menghubungi keluarga mera.Kembali Brandy sibuk dengan ponselnya, mencari-cari nama kontak yang bersangkut-paut dengan seseorang yang ingin ia hubungi.Brandy bingung melihat tak satupun ada seseorang yang bersangkut-paut dengan keluarga Lia di kontak ponselnya."Kemana larinya nomor kontak mertuaku?" Brandy merasa heran.Untuk memasti
Bab 118[Brandy, sesuai dengan apa yang kamu katakan aku melakukan apa yang aku inginkan. Tolong jangan cari aku! Karena ini adalah salah satu yang aku inginkan darimu!]Sebelum melangkah meninggalkan rumah, sebuah catatan dengan tinta hitam yang Mera torehkan di atas kertas putih sengaja wanita itu tinggalkan di atas Bantal di kamarnya.Sebelum beranjak Mera memperbaiki letak gendongan Keano."Jangan nakal ya, Nak! Sayang Mama." sebuah kecupan lembut mendarat di kening bayi mungil tersebut.Dengan langkah pasti, Mera melangkah meninggalkan rumah dan tanpa menolehkan kepala lagi.Sebuah taksi online yang sengaja ia pesankan dari sebuah aplikasi khusus telah menunggu di hadapan rumah. Tanpa bicara sepatah kata pun Mera naik ke taksi pesanannya.Mobil meluncur ke arah yang telah diberitahukan oleh Mera sebelumnya."Semoga saja kepergianku kali ini akan menyelesaikan semua masalah yang ada. Semoga dengan ketidak adanya aku di sana akan membuat dua orang itu kembali akrab sebagaimana sed
Bab 117"Sebaiknya kamu jangan bersikap seperti itu kepada istrimu, Brandy! Sebab bagaimanapun sebagai seseorang yang telah mengenal Mera jauh sebelumnya, maka aku sudah tahu bagaimana sikap Mera yang sebenarnya. Dia sama sama sekali bukan wanita yang buruk. Kau tahu, Brandy, setelah dia menjadi istrimu, sama sekali Mera tak pernah bersikap tak wajar padaku, meskipun kami pernah memiliki masa lalu bersama. Bahkan bicara denganku saja dia tak pernah terkesan tak wajar, justru ia tak pernah ingin mengobrol denganku lagi, kemudian Mera tak pernah melemparkan senyum padaku. Apalagi senyum yang menyiratkan ketidakwajaran. Dia benar-benar menjauhiku. Aku yakin sekali, itu adalah bentuk cintanya padamu dan bagaimana usahanya dalam menjaga perasaanmu sebagai suami." ucap Abraham. Dalam hati laki-laki itu sangat menyayangkan sikap Brandy yang terlihat cuek dan tak peduli dengan kejujuran dari wanita sebaik Mera."Aku tahu Kakak memang jauh lebih mengenal Mera daripada aku. Bagaimana tidak, to
Bab 116"Mera apa yang kau katakan? Aku tidak pernah menyalahkanmu dalam hal ini. Aku sudah bilang jika akulah yang bersalah, Mera!Bukan kamu! Jika ada hal buruk yang harus ditimpakan atas semua ini, maka timpakan saja semuanya padaku, bukan pada kalian!" Abraham bangun dari duduknya."Kau tidak perlu membelaku, Abraham! Akulah yang bersalah! Sebenarnya sudah lama aku merasakan ini, menyadari kesalahanku sendiri. Jujur saja aku merasa benar-benar tak pantas memasuki keluarga kalian. Tepatnya tak pantas berdiri di antara kalian berdua, menghancurkan persaudaraan kalian, dan membuat kalian hampir saja bercerai-berai seperti ini. Membuat kalian berselisih paham. Aku hanya orang lain yang datang dan tanpa sengaja merusak sebuah ikatan persaudaraan kalian." Mera berkata lirih tanpa ekspresi."Tidak Mera! Tolong jangan katakan itu!" Abraham kembali bersuara.Sedangkan Brandy tetap diam. Meski hatinya tak bisa berbohong jika tengah gundah gulana. Sebenarnya hatinya pilu mendengar ucapan Mera
Bab 115"Patutkah kau mempertanyakan itu padaku Brandy?" Abraham mempertanyakan sebuah pertanyaan."Kak, aku bertanya karena aku memang merasa patut mengutarakan pertanyaan ini. Kalau aku merasa tak patut, tentu saja aku tidak akan mengutarakannya." Brandy mencoba menjawab."Brandy, bagaimana jika aku katakan bahwa seseorang yang aku ceritakan padamu dulu padamu, kamu tak mungkin mengenalnya. Karena dia adalah orang yang ada di masa laluku dan aku tidak ingin mengingatnya kembali. Pertanyaanmu sama saja dengan mengulang luka yang dulu pernah ia torehkan." Abraham menjawab pertanyaan sang adik.Itulah jawaban yang terbersit di benak Abraham saat ini.Meski Abraham sendiri merasa berdosa telah kembali mengukang sebuah kebohongan, tak bisa nicara dengan kejujuran. Karena jujur akan memberi peluang luka lebih besar untuk Brandy. Itulah secuil pertimnangan yang Abraham pikirkan untuk sementara ini."Jujurlah, Kak! Apakah wanita yang kakak sebutkan telah menyakiti Kakak dahulu bukan Mera is