Beranda / Fiksi Remaja / Berebut Pantas / Bab 6. Terlalu Peduli

Share

Bab 6. Terlalu Peduli

Penulis: BintangAeri
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-29 19:42:56

Arash menarik lengan Varen hingga ke tepian jalanan besar, dekat gerbang utama kampus. Kurang lebih jarak yang sudah ditempuh adalah seratus meter. Sejauh itu pula Varen hanya manurut saat Arash menarik lengan kirinya. Dia hanya diam, tanpa menyuarakan protes seperti biasanya. Padahal, Arash tak henti-hentinya mengomel di sepanjang perjalanan.

“Berhenti dulu!” tegas Varen sembari melepas cengkraman tangan Arash di lengan kirinya.

Varen tidak membiarkan tangannya bebas begitu saja. Dia justru ganti menggenggam tangan Arash, bahkan kedua tangan gadis itu digenggam. 

“Kau ngapain, sih, Ren?” Arash melepas genggaman tangan Varen.

Di luar dugaan, Varen justru melakukan tindakan lain. Dia ganti menyentuh kedua pipi Arash. 

“Varen! Kau nggak sopan!” protes Arash seraya mundur beberapa langkah ke belakang.

“Diam di situ sebentar!” titah Varen, dan kali ini dia menyentuh bagian kening Arash. “Kau demam,” ungkapnya kemudian.

Arash menepis lengan Varen, lantas memalingkan wajahnya ke sebelah kanan.

“Hanya sedikit hangat. Aku baik-baik saja,” terang Arash dengan nada suara yang di telinga Varen justru terdengar seperti sebuah kebohongan.

“Ck. Sial! Gara-gara membantu si Vina, motorku jadi kutinggal di tempat cucian mobil! Sekarang, aku tidak bisa mengantarmu pulang ke kos-kosan,” sesal Varen.

Arash tertarik dengan kalimat Varen. Vina, dia adalah si cantik tinggi hati yang tak lain adalah rival Arash sejak masa orientasi mahasiswa baru. 

“Jadi, mobil yang tadi itu seriusan milik Vina? Dia dapat mobil dari mana?” tanya Arash spontan.

“Katanya, sih, hadiah dari calon mama barunya. Tadi itu dia tiba-tiba saja telepon minta bantuanku untuk mengambil mobilnya di tempat cucian mobil.”

“Tumben banget dia mau telepon? Bukankah kalian tidak akrab? Si Vina juga tahu kalau kau adalah sabahat dekatku.”

Arash masih tidak percaya dengan sikap Vina yang tiba-tiba saja berubah menjadi tidak biasa.

“Kalau aku, sih, ogah mikir ribet, Rash. Aku iyakan saja, sekalian nyenengin hati ibu di rumah. Ibu senang sekali waktu melihatku mengantar nasi bungkus pakai mobilnya si Vina,” aku Varen.

Arash bersedekap tangan, lantas menatap Varen dengan tatapan penuh keheranan. 

Fix, si Vina mau pamer mobil barunya!” simpul Arash seraya menjentikkan jemarinya.

Satu sentilan mendarat di kening Arash. 

“Jangan bebani dirimu dengan pikiran yang macam-macam, apa lagi kau dalam kondisi demam! Kalau memang si Vina niat pamer, biarkan saja! Abaikan! Yang terpenting, kita harus tetap baik kepada teman,” nasihat Varen dengan bijak.

“Dari dulu aku selalu berusaha menganggap dia sebagai teman, tapi dia selalu saja berkata kasar, menyindirku, dan … ya, kau tahu sendiri bagaimana sikap Vina kepadaku.”

Kembali Varen mendaratkan sentilan tangan di kening Arash, membuat gadis cantik yang sedang demam itu spontan mengerucutkan bibirnya.

“Mau sampai kapan kau menyentil keningku, ha? Bisa-bisa aku makin demam gara-gara ulah tanganmu!” protes Arash.

“Aku akan berhenti ketika pikiranmu jernih. Masih mau menganggap si Vina rival?” tanya Varen.

“Iya. Dan, kau tidak perlu ikut campur dengan itu! Itu urusanku dengan Vina!” tegas Arash, lantas dia pun bergegas balik kanan dan melangkah menjauhi Varen.

Sikap Arash yang demikian sama sekali tidak membuat Varen terkejut. Seorang Arash yang kepala batu, dengan sendirinya akan kembali luluh. Bahkan, menurut pengakuan beberapa teman di kampus, Arash memiliki hati yang mudah tersentuh. Mudah kasihan pula, dan jarang sekali memperpanjang masalah. Namun, ada pengecualian untuk si Vina, karena gadis cantik rival Arash itu memang terus-terusan mencari gara-gara.

“Aku akan mengantarmu pulang,” tutur lembut Varen sembari menyejajarkan langkahnya dengan Arash.

“Aku baik-baik saja, Ren. Bisa pulang sendiri. Lagi pula, motormu ada di tempat cucian mobil, tuh! Ambil, gih!” 

“Akan aku ambil setelah kau sampai di kos-kosan. Yuk, aku temani naik angkutan!”

“Aku mau naik ojek saja.”

“Oke, deh. Biar aku bantu panggilkan ojeknya, ya?”

“Bisa pakai aplikasi ojol, Varen!” Arash spontan menunjukkan aplikasi ojol di ponselnya.

“Kalau begitu, aku bantu memesankan ojol untukmu.”

“Cukup! Kau terlalu peduli padaku! Jangan khawatirkan aku lagi!” tegas Arash sembari menampilkan mimik wajah tidak suka atas sikap Varen.

Arash balik kanan, lantas melangkah dengan cepat meninggalkan Varen. Dia langsung menghentikan sebuah angkutan umum. Pilihan tersebut sebagai penegas pula bahwa dia tidak jadi menggunakan jasa ojek online.

“Sepertinya demam telah mengacaukan pikiranmu,” ujar Varen dengan lirih, lantas dia pun mengalah dan tidak mengejar Arash lagi. 

Dengan lesu, Varen duduk di tepian trotoar. Kalimat terakhir yang dilontarkan Arash, sedikit banyak telah memengaruhi suasana hati dan pikiran. 

Terlalu peduli, ya, Varen pun menyadari. Bukan tanpa sebab pula dia bersikap demikian kepada Arash. Sebuah kisah masa lalu telah mencipta tameng tersendiri, bahkan memicu sikap yang memang pantas dianggap terlalu peduli.

“Aku tahu rasanya menjadi seorang diri. Rasanya begitu sepi. Tanpa ayah dan ibu, bahkan saudara pun seolah menjauh dan tidak mau tahu,” batin Varen seraya melambungkan ingatan kembali ke beberapa tahun lalu ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, yakni ketika dia belum mengenal Arash.

Kedua orangtua Varen pernah menghadapi ujian rumah tangga yang menyebabkan mereka selalu bertengkar, bahkan di hadapan sang putra semata wayang. Mereka juga sempat pisah ranjang tanpa adanya proses perceraian. Setahun lamanya Varen tidak mendapat kasih sayang, bahkan minim perhatian. Sang ayah terus-terusan di luar kota, sementara sang ibu menyibukkan dirinya dengan bekerja sampai kadang lupa bertanya kabar sang putra.

“Beruntungnya aku, karena ayah dan ibuku tidak sampai berpisah. Keharmonisan keluargaku kembali usai goyah setahun lamanya. Berkaca dari itu, kurang lebih aku bisa merasakan kesepianmu, Arash. Aku hanya tidak ingin kau merasa sendiri. Maaf jika aku terlalu peduli,” kembali Varen membatin. Disusul dengan satu tarikan nafas dalam yang sama sekali tidak melegakan hati.

“Halah! Bomat, dah! Bodoh amat! Risiko jadi sahabat penuh nasihat ya begini, deh!” 

Varen dengan mudahnya kembali menguatkan hati. Dia sudah lama mengenal Arash, sehingga sikap tadi pun tidak sampai larut diambil hati.

Detik berikutnya, Varen memesan ojek online. Dia akan menuju tempat cucian mobil guna mengambil motor miliknya. Saat menunggu, tiba-tiba saja ada telepon masuk. 

Varen tidak langsung menerima telepon itu. Jika dia angkat, maka dia harus benar-benar mengambil sikap. Harus berkata jujur atau justru berbohong menutupi keadaan yang sebenarnya.

Lama menimbang, membuat telepon terabaikan. Namun, tak lama setelahnya, nomor telepon yang sama kembali membuat panggilan suara. 

Varen putuskan untuk menerima telepon itu. Segera terdengar pula sebuah suara yang tegas tapi masih tetap terdengar merdu. Sang penelepon, dia tak lain adalah sosok yang menambah alasan bagi Varen untuk terus menampilkan kepedulian kepada Arash.  Bahkan, Varen pernah diminta untuk menjaga Arash. 

Siapakah si penelepon itu?

Bab terkait

  • Berebut Pantas   Bab 7. Pengakuan Tak Terduga

    Tubuh yang semula hanya terasa hangat, kini bertambah suhunya. Tenaga yang semula terjaga, seketika melemah. Akan tetapi, Arash berusaha menahan dirinya hingga angkutan umum sampai di depan gang kos-kosan. Arash berjalan gontai, lantas berhenti untuk mengatur nafasnya yang mulai terasa berat. Suhu tubuhnya pun semakin meningkat. Kaki-kaki jenjang terbalut celana jeans keabuan lekas diayunkan kembali hingga tepat di seberang kos-kosan. Ada sebuah warung yang juga menjual obat-obatan sederhana. Arash membeli sebotol air mineral, sebungkus roti tawar, juga beberapa tablet obat penurun panas.“Lagi nggak enak badan, ya, Mbak?” tanya ibu pemilik warung.Arash hanya tersenyum, lantas mengangguk ringan. Rasa-rasanya tubuhnya semakin melemah sampai-sampai tak sanggup berucap kata.“Tunggu sebentar, ya. Ibu punya sesuatu untukmu,” pinta ibu pemilik warung.Sebenarnya tubuh Arash sudah tidak kuat, tapi dia tetap menghargai ibu pemilik warung. Sekitar lima menit lamanya dia berdiri di depan wa

  • Berebut Pantas   Bab 8. Kalau Cinta, Ya Cinta

    Dua lelaki gagah di tepian jalan raya tampak saling terdiam. Tatapan keduanya menyiratkan keseriusan. Varen serius dengan ucapannya, sementara Dio serius menyimak kabar berita.“Arash tidak mungkin menyukaiku. Dia cerdas dan berkelas. Dia lebih pantas dicintai oleh lelaki yang lebih romantis. Bukan lelaki humoris semacam aku.” Dio menanggapi panjang lebar.“Tahu apa kau tentang pantas, ha? Kalau cinta, ya cinta. Tidak peduli seperti apa sosoknya.” Mimik wajah Varen mengeras.“Maksudmu, Arash benar-benar mencintaiku?’ tanya Dio.“Apa kau kira aku sedang bercanda?” “Kalau begitu, kau mungkin salah paham. Yang tampak di mataku, Arash seperti bersimpati terhadapku karena tahu aku terbeban dan dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam. Aku terlihat seolah telah merebut Ayah Zen dari Arash.”Varen menangkap pengakuan Dio. Entah sengaja atau tidak, tapi pengakuan barusan cukup rasional. Sedikit banyak, Dio pasti menyimpan perasaan tidak enak hati atas perpisahan kedua orangtua Arash.“Lagi

  • Berebut Pantas   Bab 9. Mendadak Baik

    “Aku bau badan,” ucap Arash sembari mulai turun dari ranjang.Suhu tubuhnya sudah turun setelah istirahat semalaman. Akan tetapi, hidungnya mengeluarkan cairan bening, sering bersin, dan terbatuk ringan.“Syukurlah karena ini hanya flu. Aku tidak akan memaafkan diriku bila harus berlama-lama terbaring lemah di atas kasur,” ujar Arash yang kini berniat mandi.Kamar mandi di kos-kosan Arash adalah kamar mandi berbagi. Sehingga, dia harus antri. Dan, antriannya panjang sekali. Di jeda waktu setengah jam menunggu, tubuh Arash hangat lagi. Kepalanya juga terasa pening.“Hari ini ada kuis dari dosen. Kalau aku tidak masuk, aku harus menyusul sendirian,” batin Arash penuh pertimbangan.Tiba-tiba saja ada yang menyodorkan tas kresek tepat di depan wajah Arash. Tidak hanya itu, kening Arash pun disentuh olehnya.“Kamu masih sakit. Lebih baik izin dulu kuliahnya. Ini ada titipan dari temanmu yang semalam,” ujar tetangga kamar kos Arash yang semalam mengantar titipan obat dan vitamin.“Terima ka

  • Berebut Pantas   Bab 10. Satu Pelukan Hangat

    Vina datang menengahi Varen dan Dio yang sudah bersiap adu bogem. Si Cantik tinggi hati yang mendapat sebutan nenek lampir dari beberapa temannya itu tak segan menjewer telinga Varen dan Dio secara bergantian. Dio bersikap biasa saja, sementara Varen segera menepis tangan Vina.“Bocah kalau lagi bertengkar ya begini, nih. Sukanya main tangan. Tidak pikir panjang. Tunjukkan kalau kalian adalah mahasiswa yang bisa meredam emosi tanpa saling menyakiti!” tegas Vina tanpa rasa takut. Vina sudah bersiap dengan ceramahnya yang panjang, tapi Varen dan Dio tidak berminat mendengarkan. Mereka kompak memilih tempat duduk masing-masing tanpa memedulikan apa yang Vina katakan. Bahkan, Varen terang-terangan menyumpal kedua telinganya dengan tangan.“Kalian sungguh tidak sopan! Awas kalau ….”“Silakan duduk di kursimu!” tegur seorang dosen yang akan mengajar, tapi jalannya terhalang oleh Vina yang kini berkacak pinggang.Seketika tidak lagi ada suara, apa lagi keributan. Semua terdiam dan bersiap m

  • Berebut Pantas   Bab 11. Kabar Kehamilan

    Kehadiran Kristal yang tak lain adalah mamanya Dio, cukup membuat dada Arash berdebar-debar. Dia masih teringat momen ketika diusir tanpa ada satu pun yang membela. Belajar dari pengalaman, kali ini dia mengambil sikap yang berbeda. Dia tampak lebih tegar.“Aku sudah menyingkir dari suami Tante Kristal,” ucap Arash usai minggir dua langkah ke samping kanan dengan tenang.“Dasar bocah tengil! Minggir!”Arash terpaksa harus membuat jarak beberapa langkah lagi dari sang ayah. Kini, dia berdiri tepat di samping Varen. Tentu saja sahabat Arash itu hendak membela, tapi lekas dicegah melalui tatapan mata.“Tolong, jangan membuat keributan di sini!” tegas Zen dengan setengah memelankan suaranya. “Aku datang dengan damai, sampai aku melihat dia memelukmu dengan tidak wajar,” alasan Kristal sembari menatap tidak suka ke arah Arash.“Sikap mama yang tidak wajar. Arash itu putrinya Ayah Zen. Wajar bila dia memeluk ayahnya karena rindu,” celetuk Dio.“Tapi dia bukan putri kandung Zen. Harusnya di

  • Berebut Pantas   Bab 12. Kesepakatan Rahasia

    “Antar aku pulang!” pinta Arash tanpa berniat menjawab pertanyaan Varen. Ekspresi wajahnya pun berubah. Tidak lagi sendu apa lagi sampai berlinang air mata.Varen terdiam sebentar. Dia melihat ke arah Arash dengan lekat untuk sekian detik lamanya. Hingga dirasa tidak ada lagi kelanjutan obrolan, dia pun memutuskan untuk mengalah dan mengantar Arash pulang.Sepanjang jalan menuju ke kos-kosan Arash sama sekali tidak ada obrolan. Arash hanya diam, duduk tenang di boncengan belakang. Varen pun menghargai kondisi Arash. Dia tetap tenang sembari fokus ke jalanan.“Besok tidak perlu menjemputku. Aku tidak masuk kuliah. Mau istirahat hingga sembuh,” ungkap Arash begitu sampai di depan gerbang kos-kosan.“Oke,” jawab Varen singkat. Sebenarnya dia berat untuk mengiyakan, tapi itulah yang terbaik untuk kondisi sekarang.Kini, lelaki berkacamata yang tampak begitu peduli pada Arash itu pun hanya bisa memandang dalam diam sampai Arash menghilang dari pandangan. Setelahnya, dia melajukan motornya

  • Berebut Pantas   Bab 13. Panggilan Sayang

    “Pil pahit ini tak sepahit kisah hidupku,” ucap Arash usai gagal menelan sebutir pil pereda flu. Sudah masuk ke mulut, tapi termuntahkan kembali karena terasa pahit.Arash kembali menelan obat dari dokter tanpa mengulang kesalahan. Tadi, begitu dia sampai di kos-kosan, Arash memang makan dengan tergesa-gesa, lantas gagal menelan obatnya. Pikiran Arash sungguh kacau, hingga tidak fokus dengan apa yang ada di depan mata. Bahkan, ketika makan pun pikirannya melambung jauh ke mana-mana.“Ibu, aku ingat betul isi pesanmu, tapi aku masih tidak rela bila ayah mengabaikanku. Belasan tahun dia menyaksikan aku tumbuh, masa iya sama sekali tidak ada kasih sayang untukku?”Arash bertanya-tanya sendiri sembari terus terngiang-ngiang isi pesan sang ibu. “Lupakan ayahmu dan jalani takdirmu! Jatuh cintalah pada lelaki yang tepat, sehingga tidak akan kamu temui kisah gagal seperti ibu dan ayahmu!” “Ah! Bagaimana aku bisa melupakan ayah sementara aku semakin rindu akan kasih sayangnya? Oh Tuhan, maaf

  • Berebut Pantas   Bab 14. Adu Ganteng

    Malam begitu cepat menyapa, menyisakan banyak kisah di sepanjang hari yang terasa lelah. Arash tidak tertidur. Dia tengah mengecek jadwal mata kuliah untuk besok. Sempat terbersit dalam hatinya untuk urung izin kuliah lagi, tapi tiba-tiba niatan itu berganti karena teringat dengan kesehatan diri.“Andai ibu tau kalau aku sakit, pasti dia akan memaksaku untuk rawat inap di rumah sakit meski hanya flu. Ibu tidak boleh tahu,” ucap Arash lirih ketika teringat ucapan sang ibu.Bu Lestari, saat ini beliau hanya memiliki Arash sebagai orang terdekat dan satu-satunya yang begitu dipedulikan. Itu sebabnya dia giat bekerja demi mendapat banyak uang guna membantu kebutuhan kuliah Arash. Akan tetapi, yang Arash butuhkan bukan hanya uang, melainkan juga kasih sayang. Bahkan, Arash sering merasa kesepian.“Aku harus bagaimana? Aku sayang ayahku meski dia bukan ayah kandungku. Melihat sikap Tante Kristal yang seperti itu, aku jadi tidak yakin kalau ayah bisa bahagia. Masih lebih baik ketika bersama

Bab terbaru

  • Berebut Pantas   Bab 17. Tabok, Nih!

    Varen. Dialah yang datang ke ruang perawatan. Mulanya lelaki sahabat Arash itu tampak khawatir, tapi kemudian dia bersikap tengil.“Gimana rasanya ketusuk jarum infus? Enak?” tanya Varen.“Enak, kok. Kau mau coba?” Dio balik bertanya. “Rasa apa?”“Kau sukanya rasa apa, Ren?”“Cappucino cincau.”“Bungkus! Sekarang, kau pergi ke ruang perawat jaga, lalu minta diinfus sepertiku! Jangan lupa bilang yang rasa Cappucino cincau ya.”Varen dengan tanpa sungkan menepuk lengan kiri Dio, lantas tertawa dengan kencangnya.“Karena aku baik, gimana kalau buat kau saja. Ini nih, punggung tanganmu yang satunya masih nganggur,” canda Varen. Hanya candaan biasa, tapi rupanya cukup berhasil membuat Dio jadi ikutan tertawa. Kini, tiada kecanggungan yang tergambar di sana. Suasana menghangat, diikuti sikap Varen yang melembut. “Gimana keadaanmu?” tanya Varen kemudian.“Aku masih beruntung. Hanya luka ringan. Tuh, lihat!”Luka ringan yang dimaksud Dio bukanlah luka lecet biasa, melainkan luka yang sudah

  • Berebut Pantas   Bab 16. Blak-Blakan

    Dio menepis tangan Vina dengan kasar. Dia sungguh tidak nyaman. “Ah, kau nggak asik banget, sih. Yang romantis dikit, dong. Niatku baik, nih, mau bikin tenang,” protes Vina yang tak segan memberondong kata sembari menampilkan wajah jutek.“Bomat! Bod*oh amat!” sahut Dio tanpa melihat ke arah Vina.Sementara Dio masih bersikap cuek dan kukuh pada pendirian, Vina bersedekap tangan. Dia mencoba memahami keadaan, khususnya memahami keadaan Dio yang seolah tengah banyak pikiran.“Kalau misalkan hanya Arash yang aku beri tahu, gimana?” tanya Vina tiba-tiba.Dio langsung menoleh sembari melebarkan bola mata.“Jangan lakukan!”“Ah, ternyata memang benar. Kau memang ada apa-apa sama si Arash sia*lan itu!”“Jaga bicaramu, Vin! Kau tidak tahu apa-apa!”“Aku memang tidak tahu apa-apa, tapi satu hal yang aku tahu, kau sering memperhatikan Arash dari kejauhan dan diam-diam.” Bidikan telak. Tebakan Vina tidak asal. Semua itu berdasar pengamatan, dan benar. Buktinya, ekspresi wajah Dio menunjukkan

  • Berebut Pantas   Bab 15. Jangan Sampai Ada yang Tahu

    Zen mendapati meja makan kosong tanpa makanan. Satu-satunya yang tertutupi oleh tudung saji hanyalah bungkus nasi goreng sisa semalam. Ya, benar-benar hanya tinggal bungkus kertas minyaknya saja. Isinya telah tandas dihabiskan Kristal sejak semalam. “Kau tidak memasak?” tanya Zen begitu melihat sang istri keluar dari kamar mandi.“Malas,” jawab Kristal singkat.“Malas karena tidak ada uang? Bukankah semalam aku sudah membagi 50% keuntungan penjualan es tebu?”Kristal menatap tidak suka ke arah suaminya. Dia tidak suka dibantah. “Perhitungan sekali, sih? Semalam yang kau berikan padaku masih belum cukup untuk mengganti jatah harian yang tidak kau berikan selama seminggu penuh.” Yang dimaksud Kristal adalah ketika Zen mengalami krisis keuangan karena bisnisnya bangkrut. Kedai kopi yang kini mendapat keuntungan banyak karena penjualan es tebu, menjadi satu-satunya bisnis yang memberi harapan bagi Zen untuk mengembalikan kondisi keuangannya yang sempat jatuh. Sayang sekali, respon Kri

  • Berebut Pantas   Bab 14. Adu Ganteng

    Malam begitu cepat menyapa, menyisakan banyak kisah di sepanjang hari yang terasa lelah. Arash tidak tertidur. Dia tengah mengecek jadwal mata kuliah untuk besok. Sempat terbersit dalam hatinya untuk urung izin kuliah lagi, tapi tiba-tiba niatan itu berganti karena teringat dengan kesehatan diri.“Andai ibu tau kalau aku sakit, pasti dia akan memaksaku untuk rawat inap di rumah sakit meski hanya flu. Ibu tidak boleh tahu,” ucap Arash lirih ketika teringat ucapan sang ibu.Bu Lestari, saat ini beliau hanya memiliki Arash sebagai orang terdekat dan satu-satunya yang begitu dipedulikan. Itu sebabnya dia giat bekerja demi mendapat banyak uang guna membantu kebutuhan kuliah Arash. Akan tetapi, yang Arash butuhkan bukan hanya uang, melainkan juga kasih sayang. Bahkan, Arash sering merasa kesepian.“Aku harus bagaimana? Aku sayang ayahku meski dia bukan ayah kandungku. Melihat sikap Tante Kristal yang seperti itu, aku jadi tidak yakin kalau ayah bisa bahagia. Masih lebih baik ketika bersama

  • Berebut Pantas   Bab 13. Panggilan Sayang

    “Pil pahit ini tak sepahit kisah hidupku,” ucap Arash usai gagal menelan sebutir pil pereda flu. Sudah masuk ke mulut, tapi termuntahkan kembali karena terasa pahit.Arash kembali menelan obat dari dokter tanpa mengulang kesalahan. Tadi, begitu dia sampai di kos-kosan, Arash memang makan dengan tergesa-gesa, lantas gagal menelan obatnya. Pikiran Arash sungguh kacau, hingga tidak fokus dengan apa yang ada di depan mata. Bahkan, ketika makan pun pikirannya melambung jauh ke mana-mana.“Ibu, aku ingat betul isi pesanmu, tapi aku masih tidak rela bila ayah mengabaikanku. Belasan tahun dia menyaksikan aku tumbuh, masa iya sama sekali tidak ada kasih sayang untukku?”Arash bertanya-tanya sendiri sembari terus terngiang-ngiang isi pesan sang ibu. “Lupakan ayahmu dan jalani takdirmu! Jatuh cintalah pada lelaki yang tepat, sehingga tidak akan kamu temui kisah gagal seperti ibu dan ayahmu!” “Ah! Bagaimana aku bisa melupakan ayah sementara aku semakin rindu akan kasih sayangnya? Oh Tuhan, maaf

  • Berebut Pantas   Bab 12. Kesepakatan Rahasia

    “Antar aku pulang!” pinta Arash tanpa berniat menjawab pertanyaan Varen. Ekspresi wajahnya pun berubah. Tidak lagi sendu apa lagi sampai berlinang air mata.Varen terdiam sebentar. Dia melihat ke arah Arash dengan lekat untuk sekian detik lamanya. Hingga dirasa tidak ada lagi kelanjutan obrolan, dia pun memutuskan untuk mengalah dan mengantar Arash pulang.Sepanjang jalan menuju ke kos-kosan Arash sama sekali tidak ada obrolan. Arash hanya diam, duduk tenang di boncengan belakang. Varen pun menghargai kondisi Arash. Dia tetap tenang sembari fokus ke jalanan.“Besok tidak perlu menjemputku. Aku tidak masuk kuliah. Mau istirahat hingga sembuh,” ungkap Arash begitu sampai di depan gerbang kos-kosan.“Oke,” jawab Varen singkat. Sebenarnya dia berat untuk mengiyakan, tapi itulah yang terbaik untuk kondisi sekarang.Kini, lelaki berkacamata yang tampak begitu peduli pada Arash itu pun hanya bisa memandang dalam diam sampai Arash menghilang dari pandangan. Setelahnya, dia melajukan motornya

  • Berebut Pantas   Bab 11. Kabar Kehamilan

    Kehadiran Kristal yang tak lain adalah mamanya Dio, cukup membuat dada Arash berdebar-debar. Dia masih teringat momen ketika diusir tanpa ada satu pun yang membela. Belajar dari pengalaman, kali ini dia mengambil sikap yang berbeda. Dia tampak lebih tegar.“Aku sudah menyingkir dari suami Tante Kristal,” ucap Arash usai minggir dua langkah ke samping kanan dengan tenang.“Dasar bocah tengil! Minggir!”Arash terpaksa harus membuat jarak beberapa langkah lagi dari sang ayah. Kini, dia berdiri tepat di samping Varen. Tentu saja sahabat Arash itu hendak membela, tapi lekas dicegah melalui tatapan mata.“Tolong, jangan membuat keributan di sini!” tegas Zen dengan setengah memelankan suaranya. “Aku datang dengan damai, sampai aku melihat dia memelukmu dengan tidak wajar,” alasan Kristal sembari menatap tidak suka ke arah Arash.“Sikap mama yang tidak wajar. Arash itu putrinya Ayah Zen. Wajar bila dia memeluk ayahnya karena rindu,” celetuk Dio.“Tapi dia bukan putri kandung Zen. Harusnya di

  • Berebut Pantas   Bab 10. Satu Pelukan Hangat

    Vina datang menengahi Varen dan Dio yang sudah bersiap adu bogem. Si Cantik tinggi hati yang mendapat sebutan nenek lampir dari beberapa temannya itu tak segan menjewer telinga Varen dan Dio secara bergantian. Dio bersikap biasa saja, sementara Varen segera menepis tangan Vina.“Bocah kalau lagi bertengkar ya begini, nih. Sukanya main tangan. Tidak pikir panjang. Tunjukkan kalau kalian adalah mahasiswa yang bisa meredam emosi tanpa saling menyakiti!” tegas Vina tanpa rasa takut. Vina sudah bersiap dengan ceramahnya yang panjang, tapi Varen dan Dio tidak berminat mendengarkan. Mereka kompak memilih tempat duduk masing-masing tanpa memedulikan apa yang Vina katakan. Bahkan, Varen terang-terangan menyumpal kedua telinganya dengan tangan.“Kalian sungguh tidak sopan! Awas kalau ….”“Silakan duduk di kursimu!” tegur seorang dosen yang akan mengajar, tapi jalannya terhalang oleh Vina yang kini berkacak pinggang.Seketika tidak lagi ada suara, apa lagi keributan. Semua terdiam dan bersiap m

  • Berebut Pantas   Bab 9. Mendadak Baik

    “Aku bau badan,” ucap Arash sembari mulai turun dari ranjang.Suhu tubuhnya sudah turun setelah istirahat semalaman. Akan tetapi, hidungnya mengeluarkan cairan bening, sering bersin, dan terbatuk ringan.“Syukurlah karena ini hanya flu. Aku tidak akan memaafkan diriku bila harus berlama-lama terbaring lemah di atas kasur,” ujar Arash yang kini berniat mandi.Kamar mandi di kos-kosan Arash adalah kamar mandi berbagi. Sehingga, dia harus antri. Dan, antriannya panjang sekali. Di jeda waktu setengah jam menunggu, tubuh Arash hangat lagi. Kepalanya juga terasa pening.“Hari ini ada kuis dari dosen. Kalau aku tidak masuk, aku harus menyusul sendirian,” batin Arash penuh pertimbangan.Tiba-tiba saja ada yang menyodorkan tas kresek tepat di depan wajah Arash. Tidak hanya itu, kening Arash pun disentuh olehnya.“Kamu masih sakit. Lebih baik izin dulu kuliahnya. Ini ada titipan dari temanmu yang semalam,” ujar tetangga kamar kos Arash yang semalam mengantar titipan obat dan vitamin.“Terima ka

DMCA.com Protection Status