Share

Part 4

Penulis: Ida Saidah
last update Terakhir Diperbarui: 2022-07-28 11:39:51

“Apa-apaan, ini, Imel? Tolong jangan peluk-peluk!” Mas Bima mendorong tubuh Imelda menjauh, membuat perempuan berambut sebahu itu langsung melebarkan mata seperti tidak percaya.

Pun dengan diriku saat melihat adegan itu. Apakah sekarang ini Mas Bima sedang bersandiwara seolah-olah tidak mau disentuh oleh adikku, ataukah memang di antara mereka tidak ada hubungan spesial seperti yang selama ini aku tuduhkan?

Sepertinya aku tidak boleh langsung percaya begitu saja dengan apa yang dilihat saat ini. Tidak boleh gegabah juga mudah tertipu. Biasanya para pengkhianat itu licik dan penuh tak-tik.

“Ini, kenapa koper Imel ada di luar semua, Vel?” Kini mata elang laki-laki yang menyandang gelar suami itu terpantik ke wajahku.

“Aku ingin dia keluar dari sini, Mas. Pokoknya, mulai hari ini aku tidak lagi mengizinkan dia tinggal seatap dengan kita. Sudah cukup kasih sayang serta perhatian yang aku berikan selama ini. Dia sudah besar, mempunyai gaji lumayan juga. Jadi, sekarang saatnya dia hidup mandiri tanpa harus bergantung sama aku!” sahutku seraya melipat tangan di depan dada.

“Aku nggak mau pergi dari rumah ini, Mbak. Tolong jangan usir aku!” pinta perempuan itu dengan wajah memelas.

Aku segera memalingkan wajah menghindari tatapannya, tidak mau kembali luluh karena merasa kasihan kepada dirinya. Pokoknya tekadku sudah bulat. Ingin menjauhkan Imelda dari Mas Bima, sebab sepertinya dia memang ada bakat menjadi seorang perusak rumah tangga.

“Betul, Velly. Lagian ini sudah malam. Memangnya kamu nggak kasihan sama Imel. Jangan bertingkah kekanak-kanakan lah. Kamu itu sudah dewasa!” bela suami. Kayaknya dia juga tidak rela gundiknya pergi dari rumah kami.

“Pokoknya keputusan aku sudah bulat. Imel harus pergi dari rumah ini!” lugasku.

“Nggak bisa. Kamu tidak bisa main usir-usir seenaknya hanya gara-gara kesalahan pahaman. Bukannya aku dan Imel sudah menjelaskan kalau antara kami memang tidak ada hubungan apa-apa?”

“Lah, kalau memang Mas tidak mempunyai hubungan dengan Imel, kenapa Mas keberatan dia pergi dari rumah ini. Apa Mas mau aku usir juga dari sini?”

Kini kedua manik legam Mas Bima membulat tidak percaya. Mungkin karena dia pikir aku terlalu mencintainya dan tidak akan melepaskannya walaupun dia bersalah.

Kamu salah mengira, Mas. Aku memang mencintai kamu, tetapi cinta juga harus pakai logika. Jika kamu berkhianat, apalagi sampai melakukan hal di luar batas, aku tidak akan segan-segan meninggalkan kamu. Aku juga berhak bahagia. Pun dengan anak-anak.

Imelda menarik kopernya lalu berusaha masuk ke dalam kamar. Untung saja pintunya sudah aku kunci, sehingga wanita itu tidak bisa masuk dan hanya bisa berdiri di luar sambil mengomel panjang lebar.

“Dasar perempuan jelek. Wanita nggak laku. Kalau saja dulu bukan karena desakkan ayah, kamu juga tidak akan pernah menikah dengan Mas Bima, Velly!” racunnya panjang lebar, bahkan sekarang berani menyebut namaku tanpa embel-embel mbak di depannya.

“Mas Bima itu nggak cinta sama kamu. Dia menikahi kamu karena hutang budi. Jadi jangan sok-sokan. Mas Bima juga berhak bahagia dengan orang yang dia cintai!”

“Imel, sudah. Sebaiknya kamu segera pergi dari rumah ini. Mungkin saat ini mbak kamu sedang emosi. Api jangan dilawan dengan api.” Mas Bima menimpali.

“Tapi, Mas? Bukannya kamu bilang...”

“Sudah! Nurut sama aku!” potong pria itu dengan menaikkan nada bicara satu oktaf.

Sang pemilik bulu mata lentik mengentakkan kaki lalu segera pergi. Mas Bima hendak mengantar, akan tetapi aku melarang. Bukan tidak memiliki perasaan, tetapi sengaja tidak mau mereka terlalu sering jalan berdua.

 *****

[Mas, Danis sakit. Badannya panas tinggi. Kamu bisa pulang dulu sebentar, nggak? Aku mau minta tolong anterin Danis ke dokter.] Mengirimkan pesan kepada suami, memberitahu keadaan anak kami sekarang ini.

[Aku sibuk. Kamu kan tahu aku ini hanya seorang karyawan. Bukan bos yang bisa pergi kapan saja saat jam kerja. Kamu bawa sendiri lah dia ke dokter. Masa begitu saja nggak bisa. Harus ngandelin suami.] Balasannya begitu menyakitkan hati.

Entahlah. Mas Bima itu terlihat tidak pernah menyayangi anak-anak. Tidak ada naluri kebapakannya sama sekali. Dia selalu cuek juga masa bodoh dengan apa yang terjadi kepada anak-anak, bahkan jika sedang berada di rumah dan kedua buah hati kami membuat keributan, ia tidak akan segan-segan memarahi, bahkan tidak jarang juga memukul Dariel yang sekarang sudah berumur empat setengah tahun. Makanya baik Danis maupun Dariel tidak ada yang dekat dengan ayah mereka.

Karena suami tidak mau mengantar, akhirnya lagi-lagi harus merepotkan Leticia. Untung saja perempuan cantik paripurna itu selalu siap siaga, mau membantu kapan saja setiap kali aku membutuhkan dirinya.

“Aku itu bener-bener gedeg sama si Sim-Salabim itu. Masa anaknya sakit masih nggak peduli? Padahal kalau minta izin sebentar ke Ramon juga pasti diizinin. Karena setahuku, Ramon itu selalu baik dan pengertian sama semua pegawainya,” omel Leticia sambil membantu memakaikan sabuk pengaman di pinggang Dariel.

Ramon adalah pemilik perusahaan tempat di mana suamiku bekerja, dan kebetulan juga dia sepupu sahabatku. Bahkan Mas Bima bisa bekerja di sana juga atas bantuan perempuan itu. Tapi ya seperti itulah Mas Bima. Dia selalu seperti kacang yang lupa akan kulitnya. Tidak pernah mengingat kebaikan Leticia, bahkan tidak jarang juga dia melarangku bergaul dengan sahabat masa kecilku itu, dengan alasan yang tidak masuk akal. Leticia membawa pengaruh buruk kepadaku, begitulah katanya selalu.

Padahal, justru dia yang selama ini ada untukku serta sering membantu menyelesaikan masalah yang tengah mendera.

Karena Danis sedang sakit, hampir seharian ini jagoan kecil itu tidak lepas dari gendongan. Ia selalu saja merengek, uring-uringan, bahkan hanya sekedar ditinggal ke kamar kecil saja tidak mau.

Deru mesin kendaraan roda empat terdengar memasuki pekarangan rumah. Gegas diri ini keluar, menyambut kepulangan suami berharap Mas Bima mau menggantikan diriku menjaga putra ke dua kami.

“Ya Tuhan, Velly. Apa-apaan ini? Suami pulang bukannya disambut dengan pakaian rapi dan wangi, ini kamu malah masih pake daster tadi pagi. Rambut acak-acakan, muka kucel, badan bau asem pula. Bagaimana suami mau betah di rumah kalau lihat kamu begini terus?” protes suami ketika aku berjalan menghampiri.

Komen (2)
goodnovel comment avatar
Evie Novita
ceritanya seru
goodnovel comment avatar
Veronika Purwandon
ceritanya sungguh mengharukan begitu kejam pelakor dan suaminya. semoga endingnya happy
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 5

    Memang aku akui belum sempat membersihkan diri sejak pagi. Bukan karena malas dan tidak mau terlihat cantik di depan suami. Tetapi anakku tidak mau turun dari gendongan. Pundak saja rasanya sudah mau lepas saking pegalnya.“Danis rewel seharian, Mas!”“Anak terus dijadikan alasan. Coba kamu lihat istrinya Pak Ramon. Anaknya empat dan masih kecil-kecil. Tapi dia tetap kelihatan masih kaya ABG. Nggak kaya kamu. Umur masih tiga puluh tiga tahun, sudah seperti nenek-nenek!”“Wajar dia cantik kaya ABG. Dia itu selalu perawatan. Pembantunya aja ada lima di rumah. Dia nggak pernah pegang kerjaan sama sekali. Kerjaannya Cuma nyalon. Beda sama aku yang udah kaya b4bu di rumah ini!”Lelaki berkemeja slim fit itu tidak menjawab. Dia segera mengayunkan kaki lebar-lebar masuk ke dalam, dan kembali berteriak ketika melihat rumah yang masih berantakan. Apalagi saat dia hendak makan malam dan belum ada makanan tersedia di atas meja makan.“Kamu itu kerjanya Cuma ngapain, sih, Velly? Pasti seharian in

    Terakhir Diperbarui : 2022-07-28
  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 6

    Aku menghela napas dalam-dalam ketika melihat seisi rumah yang terlihat begitu berantakan. Mainan berserakan dimana-mana, pun dengan bantal sofa yang teronggok sembarangan di sudut-sudut ruangan.“Mama...,” teriak Dariel ketika melihat kedatanganku.Aku melekuk senyum, merentangkan tangan menyambut pelukan jagoan kecil itu.Sementara Mas Bima, wajah suamiku itu terlihat begitu kacau. Dia berkacak pinggang, menarik kasar lenganku lalu menyeretku masuk ke dalam kamar.“Kamu benar-benar keterlaluan, Velly. Istri durhaka. Kamu itu tugasnya ngurus anak dan rumah. Bukan ngelayap seperti ini. Dasar bebal!” omelnya sambil menunjuk wajahku dengan mimik geram.“Lepas! Nggak usah kasar sama perempuan. Jangan sampai anak-anak aku mengikuti tabiat buruk ayahnya. Kasar, temperamental, egois, juga nggak punya hati!” Menepis kasar cengkeraman lelaki berstatus suami itu.“Aku kasar seperti ini karena kamu, Velly. Kamu itu susah diatur. Tidak bisa dikasih tahu. Ngelawan terus sama suami!”“Kamu itu seb

    Terakhir Diperbarui : 2022-07-28
  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 7

    "Vel, kamu lagi ngapain sih? Dipanggil-panggil dari tadi nggak nyaut?" Leticia berjalan menghampiri diriku yang masih berdiri memaku menatap ponsel rahasia Mas Bima."Velly!" Dia menepuk pundakku."Coba kamu lihat, Ci." Menyodorkan benda pipih persegi berukuran tujuh inci itu kepada Leticia."Astaga. Bener-bener si ulet bulu itu. Padahal tadinya aku berharap kalau dugaan kita salah. Ternyata, kamu sudah memelihara macan di rumah ini. Diberikan limpahan kasih sayang, giliran sudah besar dan tumbuh taring malah menerkam. Awas saja dia. Aku nggak bakalan diam saja melihat sahabat aku diperlakukan seperti ini. Aku akan memastikan kalau perempuan gatel itu akan hancur!" sembur wanita bergaun soft pink dengan emosi berapi-api.Aku segera men-screeshot pesan yang dikirim adikku ke ponsel Mas Bima, juga mengirimkan foto-foto tidak berbusananya untuk berjaga-jaga jika dia bertindak semakin keterlaluan. Aku tidak akan segan-segan menyebarluaskan foto tersebut ke sosial media."Sudah, nggak usah

    Terakhir Diperbarui : 2022-08-05
  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 8

    “Menjijikkan. Jadi selama ini kamu memang benar-benar ada main dengan ulet bulu itu, bahkan sudah melakukan zina di rumah ini. Berapa kali kamu melakukannya dengan dia Mas? Sekali, dua kali, atau, bahkan sudah tidak terhitung lagi?!”Wajah lawan bicaraku yang tadinya memerah karena sudah dikuasai amarah mendadak pucat saat aku menunjukkan bukti perselingkuhan mereka. Kali ini dia tidak akan bisa mengelak lagi karena buktinya sudah jelas.“Kenapa diam? Kenapa kamu tega melakukan itu sama aku, Mas? Apa kurangnya aku selama ini? Aku selalu berusaha menjadi istri yang baik. Apa pun kemauan kamu selalu dituruti. Tapi seperti ini balasan kamu?!” Susah payah merangkai kata agar air mata tidak menetes di depan lelaki pengkhianat itu. Air mataku terlalu berharga untuk menangisi dia.“Aku khilaf, Vel. Maaf!”“Mudah banget kamu bilang maaf. Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan aku? Apa kamu tidak takut kena karma, Mas? Kamu punya adik perempuan. Bagaimana perasaan kamu nanti jika adik kamu

    Terakhir Diperbarui : 2022-08-06
  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 9

    “Dariel, Danis, ayo bangun jagoannya Mama. Sudah siang. Mama mau berangkat kerja dulu.” Membangunkan kedua malaikat kecil yang masih terlelap di atas peraduan.“Dariel nggak mau Mama kerja. Dariel maunya Mama di rumah nemenin Dariel main,” rengek bocah berusia empat setengah tahun itu manja, membuat hati ini mencelos hingga ke dasar. Sedih karena harus selalu berjauhan dengan anak-anak.“Sayang, Mama harus bekerja. Cari uang buat Abang Dariel sama dedek Danis.” Menggendong tubuh gembul anakku, membawanya ke kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya perlahan menggunakan air hangat.“Mama, Mama, masa Tante Imel waktu masih tinggal di sini suka manja kaya dedek Danis. Minta dipangku sama Papa. Abang sama dedek aja kalau minta dipangku sama Papa malah dicubit.”“Kapan, Sayang?”“Setiap kali Mama belanja di pasar dan Papa libur kerja.”Aku menggelengkan kepala mendengar penuturan anakku. Ternyata selama ini Mas Bima suka bermesraan di depan anak-anak jika aku tidak ada di rumah. Sungguh keterlal

    Terakhir Diperbarui : 2022-08-06
  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Bab 10

    “Ayo, Vel. Jangan ladeni mereka. Kasihan anak-anak kalau harus liat ibu dan tantenya berkelahi,” ajak Pak Bahrudin seraya menarik tanganku menjauh dari dua insan menjijikkan itu.Aku terus mengikuti langkah pria berusia empat puluh delapan tahun itu, dan sesekali menoleh ke arah Mas Bima yang masih berdiri mematung sambil menatap kami. Bisa kulihat juga Imelda tengah marah-marah tetapi karena apa aku kurang tahu.Biarlah. Sudah bukan urusanku lagi sekarang. Terserah, mulai detik ini aku tidak akan pernah lagi peduli. Anggap saja mereka itu orang asing dalam hidupku.“Pak, maaf ya, atas ucapan saya tadi. Saya hanya kesal saja sama suami dan adik saya yang sudah mengkhianati saya, jadi berkata seperti itu di depan mereka. Sekali lagi saya minta maaf!” ucapku ketika kami sudah berada di stand gamis karena merasa tidak enak hati kepada Pak Bahrudin. Takut dia berpikir yang tidak-tidak tentang diriku karena ucapanku tadi.“Ucapan yang mana, Vel?” Dia malah balik bertanya.“Soal Bapak punya

    Terakhir Diperbarui : 2022-08-08
  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 11

    “Lancang kamu mengatai suami kamu lalat dan mengusir aku dari rumah ini?!” Dia kembali mengangkat tangannya hendak menampar, akan tetapi dengan sigap kutangkis tangan tersebut lalu memelintirnya dengan sekuat tenaga.“Jangan terus sakiti hati dan fisik aku, karena Velly sekarang bukan seperti Velly yang dulu. Mataku sudah terbuka dan tidak akan lagi bucin juga nurut sama kamu. Aku juga sudah tidak lagi takut sama kamu, Mas!” Menendang senjata pamungkasnya lalu segera masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.***Suara alarm di ponsel terus menjerit-jerit, membangunkan diriku dari istirahat malam. Gegas membuka mata, mengerjap-ngerjap sambil mencoba mengumpulkan informasi yang aku bawa dari alam mimpi.Tidak lupa juga membaca doa setelah tidur dan segera turun dari tempat peraduan untuk memulai aktivitas seperti biasa.Kebetulan hari ini sedang kedatangan tamu bulanan, sehingga aku bisa langsung berjibaku di dapur walaupun jarum pendek jam masih menunjuk ke angka 04:30 pagi.Sep

    Terakhir Diperbarui : 2022-08-09
  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 12

    “Ada apa, Vel?” tanya Pak Bahrudin saat melihatku sedang duduk terpekur sambil memijat pelipis.“Mas Bima datang ke rumah. Aku takut dia membawa anak-anak pergi. Apa saya boleh izin libur hari ini, Pak? Kalau tidak begini saja, saya bawa berkas-berkas yang harus saya selesaikan dan akan saya kerjakan di rumah. Saya mohon pengertian Bapak, sebab saya begitu mengkhawatirkan anak-anak.” Aku berujar sambil menahan air mata yang sudah menggelayut di pelupuk. Semoga saja pak bos mengizinkan.Pak Bahrudin menghela napas dalam-dalam, menatapku sekilas lalu berlalu begitu saja dari hadapanku tanpa berkata sepatah kata pun.Ya Allah, Pak. Aku pikir Bapak seorang pria berhati malaikat. Ternyata sama saja dengan Mas Bima. Tidak ada pengertiannya sama sekali.“Ayo kita jalan sekarang. Jangan buang-buang waktu. Nanti keburu suami kamu pergi membawa anak-anak!”Aku mendongak menatap pria yang berdiri mengenakan jaket di hadapanku, menerbitkan senyuman sambil menitikkan air mata bahagia.Ah, ternyata

    Terakhir Diperbarui : 2022-08-12

Bab terbaru

  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 50(Ending)

    Sesuai permintaan suaminya, Velly merubah penampilan menjadi lebih tertutup. Ia mulai mengenakan hijab sebab Bahrudin selalu mengatakan kalau semua dosa yang dia lakukan akan dipertanggung jawabkan oleh suaminya di akhirat kelak, termasuk jika Bahrudin terus membiarkan istrinya tetap membuka aurat.Makanya ia secara perlahan mulai mengubah tampilan, bukan karena keterpaksaan tetapi karena kesadaran juga dorongan hati untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi. Velly juga mulai berhenti bekerja dan lebih fokus mengurus anak-anak serta bunda sebagai tanda baktinya kepada sang suami.“Mbak, sebelumnya aku minta maaf, aku sama Mas Rofiq niatnya pengen cari rumah kontrakan yang baru. Nggak enak kalau terus menerus numpang sama Mbak,” kata Imelda ketika mereka sedang santai bersama di ruang keluarga.“Lho, memangnya kenapa kalau kalian tinggal di sini? Kami nggak pernah merasa keberatan kok. Lagian saya sama Dek Velly juga mau

  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 49

    “Mel, aku mohon. Aku janji akan berubah. Aku mencintai kamu. Aku menderita hidup bersama Arzerti.”“Silakan nikmati hidup kamu bersama dia. Bukan kah kamu yang memilih untuk hidup bersama dia dan sudah membuang aku?”“Aku khilaf waktu itu.”“Tetapi aku sudah tidak percaya lagi sama kamu.”Bima mendesah kecewa mendengar jawaban dari Imelda. Padahal, tadinya dia berharap masih ada kesempatan kedua dari istrinya, sebab Bima merasa sudah tidak tahan dengan perlakuan Arzerti kepadanya dan ingin kembali merajut asa bersama Imelda serta putri mereka.“Tolong talak aku, Mas,” pinta Imelda lagi.“Tidak, Imel. Kalau kamu tidak mau kembali sama aku, aku juga tidak akan pernah menjatuhkan talak sama kamu. Biar status kamu menggantung terus dan tidak bisa menikah lagi dengan siapa pun!” jawab Bima dengan lugas.Imelda menggelengkan kepala sambil menangis. Melihat kejadian itu, Bahrudin segera menghubungi Arzeti, memberi

  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 48

    Hari ini Imelda sudah diperbolehkan pulang karena keadaannya sudah semakin membaik.Velly mengajak sang adik untuk tinggal di rumahnya, sebab takut terjadi sesuatu jika Imelda tinggal sendiri di rumah kontrakan, apalagi paska operasi seperti sekarang ini.Awalnya Imelda menolak. Akan tetapi Velly terus saja mendesak dan tidak mau ditolak. Akhirnya mau tidak mau Imelda pun menyerah dan menuruti semua permintaan kakaknya.Danis dan Dariel terlihat begitu senang ketika tantenya datang menggendong adik bayi. Mereka segera mengerubungi anak Imelda, menciumi pipi bayi berusia tiga hari itu secara bergantian.“Mama, kapan Dariel punya dedek kaya Tante Imel?” tanya bocah berusia lima tahun itu dengan polos.“Insyaallah secepatnya. Abang jangan lupa sering-sering minta sama Allah supaya di perut Mama bisa ada dedek bayinya,” jawab Velly seraya mengusap lembut rambut anaknya itu.“Abang Dariel, Dedek, ayo ikut Papa ke masjid. K

  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 47

    “Mbak Imel kenapa? Sakit? Kok wajahnya pucet banget?” tanya Rofiq yang sejak tadi sibuk memasukkan barang-barang yang akan dia bawa ke dalam tas obrok di motornya.“Nggak tahu, Mas. Dari semalam perut aku sakit. Ini malah makin terasa nyeri banget!” jawab Imelda seraya meringis kesakitan.“Jangan-jangan Mbak Imel mau melahirkan?”“Nggak tau, Mas. Emang HPL-ku sudah lewat tiga hari sih, dan baru sekarang ada tanda-tanda kaya mau melahirkan.”“Sudah hubungi Mbak Velly?”“Belum. Nanti saja kalau sakitnya sudah mulai berasa banget. Kasihan dia kalau direpotin terus.”“Tapi kan, Mbak. Daripada nanti kenapa-kenapa, mendingan Mbak kabari saja Mbak Velly sekarang.”“Iya.”“Sini nomernya Mbak Velly. Biar saya yang menghubungi dia!” Rofiq mengeluarkan ponsel lalu menekan dua belas digit angka yang disebutkan ole

  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 46

    Cup!Bahrudin tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengecup. Gemas melihat bibir sang istri yang dimajukan beberapa centimeter.“Nyosor mulu kaya bebek!” protes Velly pura-pura merajuk.“Aku kecanduan nyium kamu, Sayang.”“Memangnya aku obat bikin candu?”“Iya. Obat luka di hati aku.” Mengambil tangan istrinya, Bahrudin menautkan telapak tangan Velly di dada sambil mengunci netra perempuan itu dengan tatapannya.“Udah, ah! Pagi-pagi udah menggombal. Ayo, sarapan dulu. Malu sama Bunda kalau di kamar terus. Nanti dikira lagi ngapa-ngapain lagi!”“Memangnya kalau lagi ngapa-ngapain kenapa? Bunda juga pernah muda dan menjadi pengantin baru. Pasti beliau paham lah.”“Tapi aku laper...”“Oke. Ayo kita keluar.” Tangan Bahrudin merangkul pundak istrinya lalu segera keluar dari dalam bilik.Bunda melekuk senyum bahagia melihat kemesraan anak serta menantunya. Ia juga sangat bersyuku

  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 45

    Jarum pendek jam sudah menunjuk ke angka sembilan malam. Seluruh tamu undangan sudah pulang ke rumah masing-masing, pun dengan Bunda yang sudah sejak habis isya masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan oleh menantunya. Velly masuk ke dalam bilik, membuka kebaya yang melekat di tubuhnya lalu menggantinya dengan daster seperti biasa setiap mau tidur. Tidak lupa juga membersihkan wajah dari sisa make-up yang menempel menggunakan miccelar water dan dilanjut dengan mengoles sedikit krim malam. Dari pantulan cermin terlihat Bahrudin masuk ke dalam kamarnya, menerbitkan senyuman membuat jantung perempuan berambut sebahu itu berdetak tidak karuan. Bahrudin terus menelisik tampilan sang istri dari ujung kaki hingga ujung kepala, merasa ada yang aneh melihat Velly yang biasa berpakaian rapi hanya mengenakan daster sebatas lutut, membuat jakun laki-laki bertubuh tambun itu naik turun kala melihat kaki jenjang istrinya. “Kenapa liatinnya seperti itu, Mas? Aku jelek ya

  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 44

    Velly turun dari sepeda motor dan lekas mengayunkan kaki menuju halaman taman kanak-kanak tempat dimana Dariel mulai menimba ilmu.Bocah berusia lima tahun itu sudah menunggu di ruangan guru bersama wali kelasnya, dan langsung berlari ke luar saat melihat ibunya datang menjemput."Bye...Bye, Miss Titi. Aku pulang dulu ya?" Dariel menyalami tangan ibu guru lalu segera naik ke atas motor."Duluan, Miss," pamit Velly kemudian."Iya Bunda. Hati-hati!" Mantan istri Bima itu kembali menyalakan mesin sepeda motornya, melajukannya membelah jalanan kota sambil mengobrol panjang lebar dengan Dariel.Mereka kemudian berhenti di sebuah minimarket untuk membeli beberapa camilan juga kebutuhan pokok yang sudah habis di rumah, serta membeli ice cream seperti biasa."Apa kabar, Vel?" Wanita berambut sebahu itu menoleh ke arah sumber suara ketika mendengar suara berat seorang laki-laki. Dia terus menelisik tampilan orang y

  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 43

    “Siapa kamu ikut campur urusan rumah tangga saya?” Bima menunjuk wajah si pria sambil menahan amarah luar biasa.“Saya memang bukan siapa-siapa. Tetapi saya tidak akan membiarkan kamu menyakiti Imelda!” jawab pria yang bekerja sebagai kurir ekspedisi yang biasa mengambil barang jualan Imelda.“Saya ini suami dari perempuan itu. Jadi kamu tidak usah sok jadi pahlawan kesiangan di sini!”“Oh, jadi ini suami tidak tahu diri dan tidak bertanggungjawab itu? Berani muncul juga kamu setelah sekian lama menghilang tanpa jejak. Sudah dibuang kamu sama istri baru kamu sampai akhirnya kembali mencari orang yang sudah kamu campakkan?!”“Tahu apa kamu tentang saya dan istri saya?!”“Saya tahu segalanya!”“Pasti kamu yang sudah menjelekkan aku di depan orang ini, Imel? Dasar perempuan murahan. Pela**r. Bisa-bisanya menjelekkan suami di depan orang lain!” Bima berjalan menghampiri Imelda, melayangkan tangan hendak menampar, akan tet

  • Bercak Darah di Seprai Adikku    Part 42

    “Coba ulangi sekali lagi ucapan kamu, Arzerti?” Bima mencengkram erat rahang istrinya.“Letoy!!” seru Arzeti sambil tertawa mengejek.Plak!Sebuah tamparan mendarat di pipi perempuan yang tengah dipengaruhi minuman beralkohol itu. Ini kali pertamanya Bima berbuat kasar kepada Arzeti, sebab ia merasa kalau istri barunya telah menginjak-injak harga dirinya.Imelda memang bar-bar. Tetapi dulu ketika dia masih hidup bersama, istri sirinya itu tidak pernah sekali pun menghina dia, apalagi sampai menjatuhkan harga dirinya seperti itu.Terlebih lagi Velly yang selalu menghormati dia juga memperlakukan ia dengan teramat baik hampir tanpa cela. Hanya saja karena sifat serakah juga tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki Bima akhirnya mengkhianati cinta wanita yang telah memberi dia dua orang jagoan itu.Pun ketika sudah bersama Imelda yang sekarang sedang mengandung benih cintanya. Bima merasa bosan karena semakin hari istr

DMCA.com Protection Status