"Sayang, Ibu pulang!"Reza memang melihat ibunya pulang, tetapi respon dia tidak seperti biasanya. Hari ini dia terlihat cuek dengan Kiara yang baru saja sampai di rumah.Anak kecil itu hanya menoleh sebentar sebelum kembali fokus dengan mainan mobil-mobilanya."Kamu udah pulang Ki? Gimana pekerjaan di kantor, apa semuanya baik-baik saja?" tanya bu Marwah yang sedang menemani si kecil bermain.Entah mengapa hari itu terasa melelahkan untuk Kiara, selain setelah makan siang dengan Sean yang sempat membuatnya sebal, musibah yang mengenai Aland pun turun membuatnya lelah.Kiara menyenderkan tubuhnya di senderan sofa dengan sedikit kasar sebelum menjawab pertanyaan ibunya."Tadi ada sedikit tragedi Mah, Pak Aland kejatuhan kayu dari atas di proyek.""Loh, kok bisa?"Cerita dari Kiara sepertinya menarik untuk di dengarkan menurut bu Marwah."Dia melindungi aku Bu, seharusnya aku yang kena! Tapi dia ..., dia berkorban, tubuhnya luka itu gara-gara aku!"Semua yang terjadi hari ini Kiara ceri
"Ada apa ini kak?""Dek, Mas Satya pergi dari rumah! Dia marah sama Kakak Dek!"Kiara yang semula berada di kamarnya berlari keluar kembali saat melihat kakaknya yang menangis sambil mengejar mobil suaminya.Dia tidak menyangka kalau pertengkaran mereka berujung seperti ini, padahal selama menikah tak pernah ada pertengkaran sedikit pun dari mereka, rumah tangga mereka terlihat adem ayem tapi sekali muncul keributan membuat Satya pergi meninggalkan Kezia."Pergi? Kok bisa?""Memangnya apa yang terjadi pada kalian?"Sengaja Kiara menanyakan itu untuk mendengar cerita kakaknya dengan jelas, karena yang dia dengar tadi hanya samar-samar yang kemungkinan berbeda dari yang dia dengar.Sambil menenangkan Kiara mengajak Kezia untuk duduk dan menceritakan semua duduk permasalahan dengan suaminya itu."Kakak yang sabar yah, kalau Mas Satya benar-benar mencintai Kakak, pasti dia akan kembali kesini.""Tapi Kakak takut Dek! Kakak takut kalau Kakak benar-benar tidak bisa punya anak! Mas Satya pas
"Kamu boleh kembali ke rumah istri kamu, tapi kamu harus tegas sama dia. Ingat! Kamu butuh keturunan untuk meneruskan bisnis yang kamu kelola."Omongan Nasya membuat Satya bimbang, pikirannya kini terpecah menjadi 2 dengan apa yang bu Citra katakan dan kakaknya katakan.Niat yang semula ingin kembali ke rumah Kezia mendadak malas.Melihat putranya yang mulai bimbang bu Citra bicara kembali untuk memberi semangat pada Satya.Antara bu Citra dan Nasya memang sering ada perbedaan prinsip. Dari awal Nasya memang keberatan jika adiknya menikah dengan wanita yang umurnya 2 tahun lebih tua darinya.Akan tetapi tekat Satya membuat Nasya akhirnya menuruti apa yang adiknya mau."Nggak Satya, kamu jangan dengarkan omongan Kakak kamu. Pulanglah dan temui istrimu baik-baik! Dia pasti sedang cemas memikirkan kamu di rumah."Walau tidak sesuai dengan apa yang ada di otaknya Nasya, tetapi dia membiarkan adiknya pulang sesuai apa yang ibunya perintahkan.Satya kembali menaiki mobilnya dan pulang kemba
Pagi harinya Kiara memandang Satya yang tiba-tiba sudah berada di rumah, Kiara sendiri tidak tau kapan kakak iparnya itu pulang.Pasangan suami istri itu terlihat romantis dengan Kezia yang berambut basah sambil bergelayut manja di lengan kekar Satya.Mereka menghampiri Kiara yang masih berada di meja makan sambil menyuapi Reza.Ingin rasanya dia pergi dari tempat itu, tetapi apa kata mereka kalau tiba-tiba saja dia pergi."Hai Dek, udah siap mau ke kantor pagi ini?""Hem," jawab Kiara singkat.Kezia tau kalau adiknya itu sedang kesal dengan sikap suaminya, akan tetapi dia yakin kalau rasa kesal adiknya itu hanya berjalan sebentar. Tak lama Kiara pasti kembali seperti sediakala."Makan yang cepat Sayang, Ibu takut terlambat sampai di kantor," gumam Kiara beralasan agar segera pergi dari tempat itu."Ups, makannya hati-hati Sayang, nanti kamu tersedak."Kiara membelalakkan matanya saat Satya ikut bicara dan memanggil Reza dengan sebutan Sayang, tetapi Kezia hanya mengira kalau panggila
"Apa lagi? Kamu mau mencari alasan supaya tidak mendapat hukuman dariku, hah?""Bu- bukan itu Pak. Em permisi Pak!"Kornea mata Aland menyusuri setiap gerakan Kiara yang berjalan ke belakang tubuhnya, dia mengerutkan alisnya heran sambil bertanya-tanya apa yang akan di lakukan oleh sekretarisnya itu dan ternyata.Aland merasakan suatu gerakan seperti ada yang menarik sesuatu dari belakang celananya."Maaf Pak, saya hanya mau mengambil ini! Kertas ini tadi menempel di celana Bapak. Sekali lagi maaf Pak."Masih saja datar wajah Aland saat Kiara memperlihatkan sebuah sobekan kertas berperekat menempel di celana bagian belakang Aland tanpa dia sadari, mungkin kertas itu menempel pada saat dia duduk bersama Pak Bandi barusan.Tetapi kenapa tidak ada yang memberitahukan sebelumnya, kenapa harus Kiara yang melihat dan mengambil kertas itu dari balik celananya.Semua staf yang melihat adegan itu spontan menyembunyikan senyumnya sambil terkekeh pelan, mereka mengira kalau pemandangan seperti i
"Se, aku memang senang bisa mengenalmu! Aku nyaman berada di dekatmu! Dan aku juga senang kita bisa dekat seperti ini."Wajah Sean spontan berbinar bahagia, dia berfikir kalau sebentar lagi status jomblonya akan berubah menjadi berpasangan.Dengan ucapan Kiara sekarang Sean sangat yakin kalau wanita ini bakal menerimanya karena setiap kali mereka bertemu, Kiara terlihat sangat bahagia di bersamanya.Sambil memainkan bibirnya, Sean seolah siap mendengarkan apa yang akan menjadi keputusan Kiara sekarang."Hidupku jadi semakin berwarna, apalagi kamu selalu memanjakan aku dalam hal apapun.""Aku memang suka sama kamu! Tapi maaf, rasa suka itu hanya bisa sebagai teman atau sahabat, tidak bisa lebih dari itu karena aku punya alasan sendiri. Maaf Se, kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari pada aku. Aku permisi."Coklat batangan yang Kiara pilih membuat Sean tertunduk lesu seketika.Ternyata dugaannya salah, Sean mengira kalau Kiara bakal menerimanya dan ternyata dia menolak d
Sekitar jam 7 malam Aland terus saja menelepon Kiara yang masih di rumah sedang bersiap, dia memilah milih baju mana yang cocok di gunakan untuk acara dengan CEO-nya itu.Pertemuan dengan Pak Rustam tentu harus terlibat special karena kolega bisnis itu memang suka dengan kemewahan.Kiara berusaha membuat agar Aland tidak malu membawanya untuk bertemu dengan Pak Rustam."Dimana kamu, aku perintahkan kamu ke kantor sekarang."Suara Aland mulai meninggi setelah beberapa kali panggilan tak terjawab darinya.Kiara yang kebetulan berada di kamar mandi tak mendengar kalau ponselnya berdering dan untuk yang terakhir kalinya dia melihat nama pak bos tertera di layar ponsel milikinya pun segera mengangkat."Iya Pak, beri saya waktu 15 menit untuk sampai di kantor.""Kamu memang selalu saja membuatku kesal! 15 menit mulai dari sekarang. Aku nggak mau sampai kamu terlambat lagi!"Bunyi tut tut yang membuat pengang gendang telinga Kiara menandakan kalau panggilan itu sudah berakhir.Setelah memili
Sementara di depan Aland duduk menunggu dengan cemas, sesekali dia melihat jam yang ada di pergelangan tangannya menunggu wanita yang sedang berdandan cukup lama di dalam sana.Tak lama setelah itu, pelayan keluar sambil kasak kusuk berbicara dengan seseorang yang belum terlihat siapa dia yang membuat pandangan Aland menjadi lesu kembali.Namun pandangannya mendadak terpesona saat Kiara keluar dengan dandanan yang sudah berubah total, tidak di pungkiri oleh Aland betapa cantiknya wanita itu sampai dia kesulitan untuk mengedipkan matanya sendiri.Akan tetapi untuk mengakui hal itu di depan Kiara rasanya enggan yang hanya akan membuat sekretarisnya itu terasa terbang melayang."Jadi kapan kita akan berangkat Pak?""Pak, Pak Aland!"Lambaian tangan Kiara di depan wajahnya spontan menyadarkan Aland dari lamunannya, dia terlihat salah tingkah setelah ketahuan melakukan sesuatu."Oh iya, kita berangkat sekarang."Aland berjalan lebih dulu di depan Kiara, pak sopir segera membukankan pintu u
Keesokkan harinya Kiara benar-benar tak menyangka kalau Aland benar-benar datang untuk menemui ke dua orang tuanya.Bahkan dengan beraninya Aland memanggil bu Marwah dan pak Susanto untuk duduk dalam satu meja di ruang tamu tanpa menunggu dua yang memanggil.Bu Marwah dan pak Susanto seketika menghampiri mereka di depan."Ada apa ya, Nak Aland memanggil kami? Apa ada yang bisa kami bantu?""Oh, tidak Om, Tante. Saya cuma mau mengatakan sesuatu pada kalian." Kedua orang tua itu duduk siap mendengarkan apa yang akan Aland sampaikan."Em, jadi begini, Om, Tante. Sebelumnya saya minta maaf kalau saya terlalu lancang memanggil kalian kesini. Kedatangan saya kemari untuk meminta restu dari kalian untuk memperistri Kiara menjadi milik'ku." Kedua orang tua itu tampak begitu bahagia mendengarnya."Semenjak aku mengenal Kiara, aku merasakan hal yang berbeda, aku memantapkan diri dan sekarang aku yakin kalau Kiara-lah yang cocok untuk menjadi pendamping hidupku.""Apa Nak Aland yakin? Nak Aland p
"Loh, Kakak mau kemana?" Malam itu Kezia begitu cantik mengenakan dress panjang berwarna coklat muda."Aku di minta Pak Sean untuk menemani di acara undangan klien bisnisnya. Kamu sendiri mau kemana Dek?" Sama halnya dengan Kiara yang tak kalah cantik dari kakaknya."Jangan bilang klien itu, Pak Dimas?""Loh, kok kamu tau, Dek? Jangan-jangan kamu mau ke tempat yang sama?""Astaga, Mas Aland juga mengajak'ku ke sana. Kebetulan sekali kita bisa pergi bersama." Tapi tidak menjamin pada diri Aland, apakah dia mau dekat kembali dengan Sean setelah apa yang dia lakukan padanya?Mereka terkekeh karena sama-sama tidak mengatakan sebelumnya. Kalau begitu Kakak pergi dulu, Dek. Pak Sean mengatakan aku jangan sampai terlambat sampai ke sana." Sementara Kiara masih menunggu kekasihnya datang menjemput. Tak berapa lama kemudian mobil Aland terlihat berhenti di depan rumah, dengan gagahnya pemuda itu turun."Kiara, apa kamu sudah sia
"Mau apa lagi kau ke sini? Udah nggak ada hubungan lagi kamu dengan keluarga ini, Mas!""Kiara, Kiara tunggu!" Kiara berhenti sejenak memberi sedikit Satya waktu untuk bicara."Aku ..., aku ke sini untuk minta maaf. Tolong maafkan semua kesalahanku! Mana Kakakmu? Aku mau minta maaf pada Kezia." Laki-laki itu sudah seperti memohon untuk ketemu dengan kakaknya."Nggak ada! Kak Kezia lagi pergi. Dia sudah tidak mau melihat kamu lagi," jawab Kiara ketus, dia melanjutkan langkahnya kembali, tetapi Satya kembali mengejarnya."Kiara, kamu tidak bisa seperti ini! Izinkan aku bicara dulu dengan Kezia!""Sudahlah Mas. Lebih baik kamu lupakan Kak Kezia. Biarkan dia bahagia dalam kesendiriannya!" Namun sepertinya laki-laki itu kekeh ingin bertemu mantan istrinya.Dia menerobos masuk walau Kiara sudah melarangnya."Kezia, Kezia dimana kamu. Kezia, Sayang dimana kamu?" "Mas, apa yang kamu lakukan? Tolong jangan buat keributa
"Syukurlah kamu sudah boleh pulang, Sayang. Ibu senang mendengarnya. Sebentar lagi Om tampan datang menjemput kita.""Benarkah Om tampan akan menjemput kita, Ibu? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya."Setelah di rawat dua hari di rumah sakit kini dokter menyatakan kalau Reza sudah di perbolehkan untuk pulang."Iya, Sayang. Om Aland mengatakan hari ini akan mengantar kita pulang.""Hore, pulang dengan Om tampan." Reza begitu antusiasnya.Dadi tempat yang berbeda Aland berjalan begitu cepat berjalan sambil mengangkat teleponnya, dia begitu buru-buru keluar dari kantor untuk menepati janjinya bahwa hari ini dia yang akan mengantar pulang.Aland tidak mau sampai Kiara dan Reza kecewa karena menunggu dia yang tak kunjung datang.*****"Lebih baik Ibu berkemas sambil menunggu Om Aland datang. Sayang, kamu duduk saja di sini, jangan kemana-mana.""Baik, Ibu."Reza menurut untuk duduk di atas
"Hari ini aku mulai bekerja, aku harus semangat." Kezia duduk di ruang kerjanya yang beru dengan penuh semangat. Pengalam kerja yang dulu dia peroleh menjadi bekal untuk di perusahaan barunya.Beberapa dokumen penting tertumpuk di atas meja. Walau tumpukan itu serasa bikin pusing kepalanya namun dia harus mengerjakannya dengan semangat.Satu persatu tugas itu dia kerjakan sampai siang hari namun belum sepenuhnya selesai. Masih banyak lagi tugas yang harus dia kerjakan selanjutnya."File ini sudah selesai dari setengahnya. Lebih baik aku bawa ke Pak Sean untuk di tanda tangani."Sesaat sebelum beranjak ke ruang direktur, Kezia membereskan sisa pekerjaannya terlebih dahulu.Tok!Tok!"Permisi, Pak.""Iya masuk," jawab Sean dari dalam ruangannya.Begitu pintu di buka, Kezia mendapati Sean sedang menelepon seseorang, samar-samar dia mendengar seseorang mengatakan kalau ada perusahaan yang akan di lelang sua
Ketika pagi hari Aland terlihat sampai di kantor dia mendapati pak Bandi yang tengah sibuk mengurus sesuatu.Dia melepas pekerjaannya sebentar untuk menyapa bos-nya datang."Selamat pagi, Pak Aland.""Pagi. Apa yang sedang Pak Bandi lakukan?""Ini, Pak menyiapkan berkas Pak Aland untuk meeting nanti siang." Aland memicingkan matanya."Kemana Kiara? Kenapa Pak Bandi yang menyiapkan semuanya?" Padahal Aland berharap sesampainya dia di kantor, orang yang pertama dia lihat adalah Kiara. Namun pada kenyataannya wanita itu justru kini tidak ada di tempat."Saya tidak tau, Pak. Mungkin Nona Kiara cuti hari ini.""Cuti?" Aland rasa sepertinya tidak mungkin karena kemaren dia tidak mengatakan apa-apa tentang pekerjaan.Untuk menjawab rasa penasarannya maka Aland mengambil ponsel dan menghubungi Kiara yang kini masih di rumahnya.Ponsel Kiara yang tergeletak di atas meja, mendadak berdering. Sudah Kiara
Di samping kolam renang rumahnya Aland berjalan pelan sambil senyum-senyum sendiri.Betapa senangnya dia bisa membuat Kiara dan Reza begitu bahagia. Bayangan ketika dia membopong tubuh sintal itu masih kian terasa berat di pundaknya, lucunya saat Reza berlari mengejar seolah tidak terima ibunya di culik pun membuat Aland ingin sekali tertawa lepas.Tapi dia tahan sebisa mungkin. Apa kata mereka jika melihat dia tertawa sendiri. Mungkin bik Inah dan teman-teman seperti pak sopir mengira kalau Aland sudah tidak waras lagi."Kalian memang lucu. Kalian bisa membuat aku senang, membuat aku bahagia dan membuat hidupku lebih berwarna.""Kiara. Aku tidak salah memilihmu untuk jadi pendamping hidupku. Akan aku pertahankan sebisa mungkin apapun rintangannya, karena aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu.""Cie, yang sedang jatuh cinta." Tiba-tiba bik Inah bersuara dari belakang yang membuat Aland kaget. Rupanya dia mendengar semua yang dia katakan
Puas berwisata, sore hari mereka pulang membawa lelah tapi juga bahagia.Reza yang begitu antusias kini tidur di dekapan ibunya saat di dalam perjalanan. Menyusuri jalan yang sama saat mereka berangkat, Kiara menoleh kembali pada apa yang dia lihat tadi."Ah, sudah tidak ada. Semoga aja apa yang aku lihat itu salah," gumamnya dalam hati.Sampai tiba di rumah, Aland turun lebih dulu yang menggantikan posisi Kiara untuk membawa Reza masuk.Tindakannya itu seperti ayah yang membopong anaknya sendiri. Tidak ada ragu dalam diri Aland sedikit pun pada Reza."Ya ampun, Reza tidur?" Aland hanya tersenyum saat bu Marwah menyapanya.Namun Kiara yang menjawab dengan lirih sengaja agar putranya itu tidak bangun.Aland membaringkan tubuh mungil itu di atas tempat tidur susun yang bermotif Doraemon.Tak lupa dia mencium pipi chubby si anak kecil."Sepertinya dia lelah sekali, dan kamu juga pasti lelah, isti
"Nggak, nggak ada apa-apa." Merasa belum yakin dengan apa yang dia lihat maka Kiara lebih baik mengatakan tidak ada apa-apa.Aland hanya menjawab singkat. "Oh."Mobil terus melaju ke tempat tujuan dan berhenti di sebuah wisata alam bernuansa pantai."Kita sudah sampai." Begitu riangnya Reza meloncat turun dari mobil dan berlari ke pinggiran pantai."Reza hati-hati, Sayang." teriak Kiara khawatir.Dan yang membuat Kiara bangga terhadap Aland, dia menghampiri Reza untuk memastikan kalau dia aman."Mas Aland begitu perhatian pada Reza, aku berharap dia sosok yang selama ini aku cari."Dari kejauhan terlihat Meraka berbisik sambil menunjuk ke arahnya. Tak lama setelah itu Reza berlari menghampiri ibunya da menarik tangan Kiara."Ibu, ayok kita ke sana. Kita ke pinggir pantai di sana, Ibu!""Eh, nggak. Ibu tunggu di sini aja, kamu mainlah sama Om tampan." Tapi Reza terus saja menarik tangannya.Mau