Genre: Action, Misteri, Romansa, ThillerTagar: Detektif, Mafia, Dokter Otopsi, Action, Misteri, Romansa, Thiller***Langit Ravenwood mulai cerah setelah ledakan besar menghancurkan gudang pusat Damian, tetapi suasana hati Leon dan Evelyn tetap suram. Meskipun formula telah dihancurkan, mereka sadar bahwa ancaman yang lebih besar masih mengintai di balik bayangan.Dr. Hayes duduk di sudut ruangan persembunyian mereka, wajahnya penuh rasa bersalah. Tangannya memegang dokumen yang berhasil ia selamatkan dari server sebelum formula itu hilang. Dokumen tersebut penuh dengan kode-kode aneh, simbol, dan frasa membingungkan.“Aku menemukan ini sebelum server itu hancur,” ucap Hayes lirih. “Tampaknya ini adalah petunjuk menuju lokasi Sokolov dan rencana berikutnya.”Leon mengambil dokumen itu dengan hati-hati, matanya membaca setiap detail yang tertera di sana. Evelyn mendekat, memperhatikan simbol-simbol Yunani kuno yang terlihat familiar baginya.“Στίγμα,” gumam Evelyn, menunjuk salah satu
***Lorong gelap di bawah Elysium Park terasa dingin dan sunyi, seolah menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin ditemukan siapa pun. Langkah kaki Leon, Evelyn, dan Dr. Hayes bergema di sepanjang dinding batu yang lembap, suara mereka menggema dengan samar. Cahaya dari senter kecil mereka hanya cukup untuk menerangi beberapa meter ke depan, menciptakan bayangan panjang yang tampak bergerak sendiri.“Ini pasti lorong menuju laboratorium rahasia,” ujar Evelyn sambil memeriksa simbol-simbol di dinding yang tampaknya memiliki pola tertentu. “Tapi saya tidak yakin kita bisa melewatinya begitu saja.”Leon berhenti sejenak, memperhatikan lorong dengan cermat. “Kalau Sokolov menghabiskan banyak uang untuk ini, pasti ada sistem keamanan yang menunggu.”Hayes mengangguk setuju. “Aku pernah melihat desain seperti ini sebelumnya. Lorong seperti ini biasanya dipenuhi jebakan otomatis. Kita harus sangat berhati-hati.”Leon mendesah pelan, lalu melanjutkan langkahnya. Namun, beberapa meter kemudian, l
***Laboratorium besar yang tersembunyi di bawah Elysium Park terbuka di depan mereka. Cahaya dingin dari lampu neon menerangi ruangan yang dipenuhi berbagai peralatan canggih, tabung-tabung berisi cairan misterius, dan layar komputer yang menampilkan data yang terus bergerak.Di tengah ruangan, sebuah meja besar berdiri dengan peta dunia yang ditandai dengan lingkaran merah di beberapa lokasi. Evelyn berjalan mendekat, matanya memperhatikan tanda-tanda itu. “Ini rencana mereka,” gumamnya. “Mereka ingin menyebarkan virus ini di beberapa lokasi penting. Tapi ada yang aneh... mereka belum memulai pengiriman.”Dr. Hayes, yang segera duduk di depan salah satu komputer, mulai mengetik cepat. “Aku bisa mengakses data ini. Jika kita beruntung, kita bisa mendapatkan semua informasi tentang rencana mereka, termasuk lokasi Sokolov.”Leon berdiri di dekat pintu, menjaga mereka tetap aman. “Cepat, Hayes. Tempat ini tidak terasa aman.”Evelyn memeriksa dokumen-dokumen yang tersebar di meja. Salah
***Ruangan itu remang-remang, diterangi hanya oleh cahaya dari layar besar yang menampilkan rekaman langsung dari laboratorium rahasia di bawah Elysium Park. Victor Sokolov duduk dengan tenang di kursi kulitnya yang besar, jemarinya mengetuk pelan sisi meja. Di layar, ia melihat Leon Ardian, Evelyn Selene, dan Dr. Richard Hayes bergerak hati-hati melewati lorong-lorong jebakan yang dirancang dengan sangat cermat. Victor Sokolov tersenyum dingin di balik meja kerjanya, matanya terpaku pada layar besar di hadapannya. Semua bergerak sesuai rencana, dan bidak-bidak itu bermain tepat seperti yang diinginkannya. Leon Ardian mungkin berpikir dirinya menang, tapi itu hanya ilusi.“Mereka lebih cerdas dari yang aku kira,” kata Sokolov, suaranya dalam dan dingin, menembus keheningan ruangan.Di sampingnya, seorang pria berseragam hitam dengan wajah keras berdiri tegak. Dia adalah Nikolai Orlov, komandan pasukan khusus pribadi Sokolov. “Seharusnya mereka tidak bisa sejauh ini, Tuan. Jebakan di
***Malam itu, udara dingin menyelimuti mereka saat Leon, Evelyn, dan Hayes bersembunyi di sebuah bangunan terbengkalai yang terletak jauh dari keramaian kota. Baru saja mereka berhasil melarikan diri dari laboratorium rahasia yang tersembunyi di bawah Elysium Park—tempat yang penuh dengan peralatan canggih, virus yang dapat menghancurkan dunia, dan jebakan yang dirancang oleh Victor Sokolov.Evelyn duduk di meja, matanya terfokus pada laptop yang dibawa Hayes. Mereka berhasil mengunduh data penting, namun satu hal yang terus menghantui mereka: Sokolov. Meskipun mereka telah mendapatkan petunjuk besar, mereka tahu Sokolov selalu berada selangkah lebih maju.“Data ini... sulit dipercaya,” kata Hayes, suaranya penuh ketegangan. “Virus ini dimodifikasi untuk menyerang target genetik tertentu—dan mereka bahkan sudah menyiapkan lokasi-lokasi untuk menyebarkannya.”Evelyn mengangguk, matanya tetap terfokus pada layar. “Mereka ingin memusnahkan orang-orang tertentu—mungkin mereka tahu siapa
***Udara di dalam fasilitas riset semakin menyesakkan, seperti cengkeraman maut yang perlahan mendekat. Leon, Evelyn, dan Hayes bertahan dengan segala cara, tetapi hujan peluru dari pasukan Sokolov yang terus berdatangan membuat tekanan tak tertahankan.Evelyn menggigit bibirnya keras-keras, berusaha menenangkan napasnya yang semakin cepat. “Leon, mereka semakin banyak!” serunya, suaranya nyaris pecah oleh ketakutan yang ia coba sembunyikan.Leon membalas dengan tembakan presisi yang menjatuhkan salah satu penjaga. Wajahnya berkeringat, tapi tatapannya tajam, tak pernah goyah. “Hayes, cepat buka pintu itu! Kita kehabisan waktu!”Hayes mengetik cepat dengan tangan gemetar, matanya terpaku pada layar yang penuh dengan kode rumit. “Aku hampir selesai, tapi sistem ini seperti benteng! Sokolov pasti sudah memperkirakan kita akan datang.”Evelyn mencuri pandang ke arah Leon. Ia terlihat begitu tenang dalam kekacauan ini, namun ia tahu bahwa detektif itu sama tertekannya seperti dirinya. Ta
***Matahari pagi menyelinap di antara ranting-ranting pohon, menerangi tempat persembunyian sementara mereka. Leon, Evelyn, dan Hayes telah menemukan sebuah kabin kecil di pinggir kota untuk beristirahat setelah kejadian mengerikan di fasilitas riset. Namun, mereka tahu waktu mereka tidak banyak.Evelyn duduk di kursi kayu dekat jendela, tatapannya kosong memandangi hutan lebat di luar. Matanya masih merah, bekas tangis semalam. Di sudut ruangan, Leon memeriksa senjatanya, memastikan semuanya siap jika musuh menemukan mereka.“Kita tidak bisa terus begini,” kata Evelyn tiba-tiba, memecah keheningan. Suaranya tegas, meskipun ada kelelahan di dalamnya.Leon mendongak, menatapnya dengan serius. “Aku tahu. Tapi kita butuh rencana, dan kita tidak bisa sembarangan. Sokolov akan mencarimu, Evelyn. Kau target utama sekarang.”Hayes, yang duduk di sofa dengan perban di bahunya, mencoba memberikan masukan. “Aku menemukan sesuatu di data yang kita unduh. Ada pulau kecil di Laut Mediterania—Pula
***Matahari pagi yang lembut memancarkan sinarnya ke atas laut biru yang tenang, menciptakan kilauan halus yang memantulkan cahaya. Di atas pulau kecil yang terpencil ini, dunia terasa seakan berhenti sejenak. Semua yang ada hanyalah udara segar, ombak yang bergulung pelan dan rumah sederhana yang sudah satu hari ini menjadi tempat persembunyian sementara.Di dalam rumah, suasana masih tenang. Leon bangun lebih pagi dari yang lain, seperti biasa, untuk memulai hari dengan membuat sarapan. Walaupun tempat ini jauh dari kenyamanan yang biasa ia nikmati, ada semacam kedamaian yang bisa ia rasakan di sini—sebuah ketenangan yang tidak bisa ia temukan di tengah kekacauan yang mereka hadapi.Evelyn masih terlelap di tempat tidurnya, selimut tipis menutupi tubuhnya yang tampak rapat, berusaha melawan dinginnya pagi. Leon berdiri di dekat jendela, memandang keluar dengan pandangan kosong. Pikirannya masih terjebak pada masa lalu—pada kehidupan yang telah berubah begitu drastis sejak pertemuan
Cahaya pagi perlahan menyentuh permukaan laut, memecah kegelapan malam yang menyelimuti kapal penyelamat. Suara ombak yang tenang seakan menjadi pengingat bahwa, meskipun mereka selamat dari serangan sebelumnya, badai baru mungkin saja akan segera datang.Di ruang medis kapal, Hayes duduk di samping ranjang Evelyn. Matanya tetap tertuju pada layar monitor, seolah memastikan bahwa detak jantung Evelyn yang lemah masih bertahan. Wajah Evelyn tampak pucat, tetapi tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Leon, yang telah mendapatkan perawatan dasar, bersandar di tandu dengan tangan terbalut perban, matanya tetap memandangi Evelyn dengan penuh harapan.“Dia kuat,” kata Leon dengan suara serak, memecah keheningan.Hayes mengangguk pelan. “Dia selalu begitu. Tapi ini baru permulaan, Leon. Kita tidak bisa berhenti di sini.”Leon menarik napas dalam, mengabaikan rasa sakit yang menusuk di dadanya. “Apa yang kita miliki sekarang? Data itu... apakah cukup untuk mengalahkan Sokolov?”Hay
Hayes berdiri di tengah kekacauan, darah yang mengalir dari lukanya tak lagi terasa karena rasa sakit yang jauh lebih besar memenuhi hatinya. Ia menatap tubuh Claire Vega yang tergeletak tak bernyawa di sisi, wajahnya yang pernah dipenuhi dengan kebohongan kini tak bisa lagi memungkinkannya untuk menduga apa yang sebenarnya ada di balik tindakan pengkhianatannya. Kematian Claire terasa seperti sebuah pengingat betapa rapuhnya batas antara kebenaran dan kebohongan.Tim penyelamat berlarian mengelilinginya mencoba menenangkan kekacauan yang terjadi, tetapi dalam hatinya Hayes tahu tak ada yang bisa memperbaiki apa yang telah terjadi. Leon dan Evelyn telah hilang, tenggelam ke dalam kegelapan laut yang luas dan bahkan alam pun tidak memberikan kesempatan untuk mereka bertahan.Sementara itu, di kedalaman laut Leon merasakan tubuhnya melayang tanpa kendali. Kesadaran yang mulai memudar dan pikiran yang kabur, namun satu hal yang jelas terbayang dalam benaknya—Evelyn. Tubuhnya yang seharus
Puncak tebing itu terasa seperti ujung dunia. Angin laut yang keras memukul wajah Leon menggigit kulitnya yang sudah terluka, dan melontarkan suara riuh yang terasa jauh dari kenyataan yang ia hadapi. Di punggungnya, Evelyn terkulai lemah, hanya bisa menggenggam bahunya dengan cemas. Rasa sakit dari tubuhnya yang terluka semakin menggerogoti kekuatannya, tetapi Leon tidak bisa berhenti. Tidak sampai Evelyn aman.Leon mengangkat senjatanya sambil menatap pasukan Sokolov yang semakin mendekat, setiap gerakan mereka seperti bayangan kematian yang menunggu untuk menghabisinya. Matanya berkilat dengan kebencian yang tak terhingga dan meskipun tubuhnya hampir hancur, ia tidak akan membiarkan mereka menang."Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan apa yang kau inginkan, Sokolov!" pikir Leon, giginya bergemeretak saat ia menghadap musuhnya yang sudah siap menyerang.Tembakan pertama dari pasukan Sokolov meledak, tetapi Leon sudah siap. Ia bergerak cepat, memutar tubuhnya yang sedang menggendo
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Evelyn. Tidak pernah, bahkan jika itu berarti aku harus merangkak menuju keselamatanmu."-Leon ArdianUdara di dalam gua semakin terasa berat dan lembap, seolah menekan mereka dengan ancaman yang tak terlihat. Evelyn berbaring lemah di sudut, tubuhnya menggigil meskipun keringat dingin membasahi wajahnya. Ia memandang langit-langit batu yang gelap, mencoba mengatur napas yang terputus-putus. Rasa sakit di perut dan kakinya seperti bara yang terus membakar, membuat setiap tarikan napas menjadi perjuangan."Aku menyusahkan mereka." Pikiran itu terus menghantui Evelyn, menggema di kepalanya seperti sebuah mantra yang menyiksa. Ia ingin berbicara, ingin meyakinkan Leon bahwa ia baik-baik saja, tetapi tubuhnya seolah tak lagi mendengarkan.Leon duduk bersandar di dinding gua, mengamati Evelyn dengan mata yang penuh rasa bersalah. Luka di pinggangnya berdenyut tajam, tetapi rasa sakit fisik itu nyaris tak berarti dibandingkan dengan beban yang menghimpit dada
Udara di dalam gua terasa berat, dingin, dan lembap. Bayangan dari cahaya bulan yang menerobos masuk dari celah di mulut gua menciptakan pola-pola gelap di dinding batu. Suara langkah kaki musuh terdengar samar dari kejauhan, seperti lonceng kematian yang terus mendekat.Leon berdiri di mulut gua, tubuhnya tegang seperti kawat yang ditarik terlalu kencang. Napasnya pendek-pendek, luka di pinggangnya semakin terasa menyakitkan, tetapi ia tidak peduli. Matanya menatap tajam ke arah hutan di luar, mencoba menangkap setiap gerakan yang mencurigakan.Di belakangnya, Evelyn terbaring di tanah dingin dengan napas berat. Tubuhnya menggigil, wajahnya pucat seperti kertas, dan kain yang membalut lukanya sudah mulai merah pekat oleh darah. Hayes berlutut di sisinya, tangan gemetar saat ia mencoba memperbaiki balutan pada luka di perut Evelyn.“Kita butuh sesuatu untuk menghentikan pendarahannya,” kata Hayes dengan nada putus asa. “Dia tidak akan bertahan lama seperti ini.”Leon tidak menjawab. R
***Hutan itu tak lagi terasa seperti tempat perlindungan. Bayangan pepohonan yang biasanya memberi ketenangan kini seperti jerat yang terus menghimpit, mengurung mereka dalam ketakutan yang tak terucapkan. Langkah kaki Leon, Evelyn, dan Hayes menyatu dengan gemerisik dedaunan, berpacu dengan suara langkah berat para pemburu di belakang mereka.“Cepat! Mereka sudah dekat!” bisik Leon sambil menoleh ke Evelyn dan Hayes. Ia menunjuk semak tebal di depan mereka. “Kita sembunyi di sana.”Mereka bertiga merunduk di balik semak-semak, menahan napas. Evelyn mencengkeram tasnya erat-erat, tubuhnya bergetar tak terkendali. Tubuhnya sudah terlalu lelah, dan rasa pening yang menyerang membuat pandangannya sedikit kabur.Hayes, yang bersembunyi di sebelah Evelyn, mencoba meredam napasnya yang memburu. Wajahnya basah oleh keringat, dan matanya melebar karena rasa takut yang tak terhindarkan.Leon, di sisi depan semak, menggenggam senjatanya dengan kekuatan yang hampir menyakitkan. Matanya tajam, m
***Lorong panjang di fasilitas itu menjadi saksi bisu perjuangan Leon, Evelyn dan Hayes yang berlari dengan napas memburu. Suara langkah kaki mereka berpacu dengan bunyi alarm yang memekakkan telinga, menciptakan suasana yang hampir tak tertahankan. Setiap detik terasa seperti ancaman dan setiap langkah seolah membawa mereka lebih dekat pada bahaya yang tak terlihat.“Ayo cepat!” Leon berteriak, menoleh ke belakang untuk memastikan mereka tetap bersama. Matanya penuh ketegangan, dan genggaman pada senjatanya semakin erat.Evelyn berlari di belakangnya, tas kecilnya terayun-ayun di pundaknya. Kepala yang masih berdenyut dan pandangan yang sedikit kabur membuat setiap langkah terasa lebih berat. Namun, ia memaksa dirinya untuk tetap bergerak. Tidak ada waktu untuk ragu, tidak ada ruang untuk berhenti.Hayes, dengan napas yang tersengal-sengal mencoba mengikuti langkah mereka. “Berapa jauh lagi?” tanyanya, suaranya penuh kecemasan.“Lorong ini harus menuju keluar,” jawab Leon tanpa meno
***Lampu merah berkedip-kedip seperti tanda bahaya yang hidup, menambah ketegangan yang sudah menyesakkan udara di ruangan itu. Evelyn berdiri di depan terminal di dinding, jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, tetapi otaknya terasa seperti dikejar waktu. Pandangannya mulai kabur, kepala terasa berat, dan setiap suara langkah kaki di luar lorong seperti gema yang membesar di kepalanya.“Cepat, Evelyn!” Leon berteriak di belakangnya, napasnya kasar setelah menembak ke arah musuh yang terus mendekat. “Mereka sudah terlalu dekat!”“Aku mencoba, Leon!” balas Evelyn dengan suara bergetar. Tangannya gemetar, sulit untuk tetap stabil di bawah tekanan. Setiap kode yang ia masukkan terasa seperti pertaruhan antara hidup dan mati. Ia tahu ia tidak bisa membuat kesalahan—tidak sekarang.Keringat mengalir di pelipisnya, matanya terasa pedih karena terus menatap layar. Cahaya merah yang memantul dari lampu darurat semakin membuat pikirannya kacau. “Aku... aku hampir selesai,” gumamnya, su
***Pagi yang berat berubah menjadi siang yang menyengat. Pulau Leros masih dikelilingi ketenangan yang menipu, tetapi bagi Leon, Evelyn, dan Hayes, setiap detik terasa seperti hitungan mundur. Udara yang hangat semakin terasa menekan, memaksa mereka untuk segera bertindak sebelum terlambat.Evelyn duduk di meja dengan peta terbentang di depannya. Ia menggambar garis-garis kasar, menunjukkan jalur keluar dari pulau itu. Matanya penuh dengan ketegangan, tetapi tangannya tetap stabil. Di sebelahnya, Hayes sibuk mencatat informasi yang mereka butuhkan untuk menyerang fasilitas terdekat—simpul yang menjadi bagian dari jaringan Sokolov.Leon berdiri di sudut ruangan, memperhatikan mereka berdua. Wajahnya serius, penuh dengan kecemasan yang ia coba sembunyikan. Ia tahu bahwa setiap keputusan yang mereka buat sekarang akan membawa konsekuensi besar.“Aku masih berpikir ini terlalu berisiko,” kata Leon akhirnya, suaranya memecah keheningan yang mencekam. “Jika kita salah langkah, kita semua a