Tawa Maher meledak seketika. Dia menatap kakak iparnya dengan bahu terguncang. Bahkan Hafsah mengulum senyum melihat tingkah dua lelaki itu. "Cari pacar sanaaa!'' ujarnya setelah tawanya mereda."Dasar Payah!" balas Hanan meninggalkan Maher dan memilih duduk di sofa dekat Halimah.Salah satu pegawai meminta Maher mencoba baju untuk pernikahannya. Lelaki itu menuju ruang ganti dan mencoba jas dengan warna hitam serta dalaman kemeja putih. Seorang pegawai lelaki membantunya dan Maher menatap pantulan dirinya di cermin. Seulas senyum terbit dari bibirnya. Ada binar bahagia yang tersirat dari matanya. Meski memakai jas bukanlah hal yang asing baginya, tapi kali ini jas hitam dengan kemeja putih menampakkan aura yang berbeda dari lelaki berusia tiga puluh tahun itu.Maher keluar dari ruang ganti dan menghampiri Hafsah yang tengah berswafoto bersama Halimah dan juga Hanan. Lelaki itu tersenyum dan menyebut nama Hafsah dengan lembut membuat perempuan itu menatapnya."Masyaallah kalian tam
Maher menatap Hafsah."Niat baik tidak boleh ditunda-tunda, Hafsah. Pernikahan adalah hal baik, maka mari kita menikah dua hari lagi." Maher menatap Hafsah yang menunduk sekilas lalu menatap Hanan dan Halimah."Aku tahu kamu pasti bertanya siapa Lavina dan Rania. Aku akan jelaskan!" Dia menatap Hanan. "Biarkan kami pergi berdua!""Tidak bisa!" jawab Hanan tegas."Kita akan tetap pergi bersama tapi kami akan menjauh dari kalian. Bicaralah di tempat yang aman, misal di cafe atau taman," ujar Halimah tersenyum. Maher mengangguk dan kembali mengganti pakaiannya, begitupun Hafsah. Setelah itu dia meminta beberapa diperbaiki dan minta diantar besok ke apartemennya. Adnan dan Vass berbagi tugas. Sementara anak buahnya yang lain bertugas menjaga keamanan, ada yang memesan makanan serta minuman. Pernikahan tertutup hanya di hadiri oleh beberapa orang rekan bisnis saja. Meski kabar dia akan menikah sudah langsung tersebar di sosial media dengan cepat. Sebagai seorang pengusaha muda yang sukses
"Setiap orang punya masa lalu, Hafsah. Aku juga." Maher melirik Hanan yang berdiri tak jauh darinya. Lelaki itu tengah bicara melalui sambungan seluler pintar miliknya."Aku bukan menyesali ini, Maher. Tapi rasanya sakit sekali ketika diabaikan oleh ibu kandung sendiri dan ditolak oleh ayah yang telah membuat aku ada," ungkap Hafsah menangis."Jangan menangis, Hafsah. Aku mohon," pinta Maher dengan tangan menggantung di udara ingin menghapus air mata itu tapi dia merasa sungkan karena Hafsah bukanlah mahramnya.Mahram sendiri dalam Islam adalah seseorang yang haram dinikahi karena hubungan kekerabatan, perkawinan, atau persusuan. Mahram juga bisa berarti laki-laki yang dianggap dapat melinduni perempuan. Mahram juga terbagi dua, yaitu mahram muabbad dan mahram qhairu muabbad.Mahram muabbad, yaitu orang yang haram dinikahi selamanya. Contohnya, orang tua kandung, saudara kandung, saudara sesusuan, dan mertua. Sedang mahram ghairu muabbad, yaitu orang yang haram dinikahi untuk sementa
Maher duduk tepat di hadapan Hafsah, gadis itu merasa hatinya berdegup kencang saat Maher memandangnya dengan mata yang penuh cinta. Dia menundukkan kepala, merasa wajahnya panas. Hafsah tidak bisa menatap calon suaminya langsung, merasa bahwa dia akan meleleh jika dia melakukannya. Maher tersenyum dan mengangkat wajahnya dengan jari-jari yang lembut."Apa yang salah?" tanya Maher dengan suara yang lembut."Hey! aku memantaumu!" teriak Hanan dengan keras.Maher tertawa sambil menggelengkan kepala, merasa bahwa dia tidak mendengarkan Hanan dan memilih untuk tidak menjawabnya. Dia hanya menatap sang pujaan dengan mata yang berbinar merasa bahwa dia sedang terapung di awan cinta. Perlahan dia memundurkan jemarinya.Maher tersenyum dengan lembut, "aku cinta kamu," katanya dengan suara yang penuh cinta.Hafsah merasa hatinya meleleh, ada sesuatu yang hangat dan lembut tengah menyeruak di sana, gadis itu ingin mengungkapkan bahwa dia tidak bisa menahan perasaannya lagi. Tangannya terkep
"Terserah apa yang akan kamu lakukan! Aku tidak peduli!" teriak Hayati meremas jemarinya saat bicara melalui sambungan telepon."Aku hanya butuh support dan ridho Mama. Butuh dukungan Mama ... hanya itu," jelas Hafsah mulai terisak.Hayati menatap foto ketiga anaknya, lalu tatapan kebencian terpancar saat menatap foto Hafsah. Perempuan itu tak pernah menunjukkan kasih sayang padanya."Doakan aku, Ma." Hafsah memohon dengan menahan tangis di rantau orang. "Aku tidak akan mendoakanmu! Tidak akan menyebut namamu di dalam doaku. Meskipun kamu anakku tapi kamu penyebab segala kehancuran ini, Hafsah! Sampai kapanpun itu tidak akan berubah! Jadi ... jangan mengemis untuk hal yang mustahil aku lakukan!"Sambungan telepon terputus. Hafsah menangis di ruang rias sendirian. Malam ini adalah malam peluncuran brand terbaru miliknya. Semua model memakai baju rancangan gadis dua puluh tiga tahun itu. Semua tampak bahagia menyaksikan pencapaiannya. Namun, yang mencapainya tak merasa bahagia. Perih i
"Hafsah!" panggil seorang perempuan berlari menghampiri Hafsah yang sedang duduk di hadapan polisi."Umma," sahut Hafsah lemah."Pak, ada apa dengan dia?" tanyanya pada polisi."Gadis ini kami temui di hotel dalam keadaan mabuk. Ditanya dia tidak tahu kenapa sampai ada di sana dan bersama siapa. Dia menangis terus dan menolak menjawab pertanyaan kami." Polisi menatap Hafsah dengan tajam.Malini menarik napas panjang lalu menatap mantan muridnya. Dia tahu apa yang dialami gadis ini, tapi untuk ke hotel dia ingin segera mengetahuinya."Pak, saya akan jadi jaminan gadis ini. Lepaskan dia! Dia hanya dijebak dan tak bisa mengendalikan masalahnya. Atau ... ini." Aryan menyodorkan amplop ke hadapannya.Polisi menatap Aryan dan Malini lalu Hafsah. Dia menarik napas dan menggeleng. Setelah itu kembali memberikan amplop pada Aryan."Tanda tangani berkas ini. Hanya itu! Setelahnya kalian boleh membawa gadis ini." Polisi itu menatap Hafsah. "Jangan ulangi kesalahan yang sama. Pergilah!“"Terima k
"Masyaallah, tentu boleh, Sayaaang," jawab Malini tersenyum."Aku mandi dulu. Umma tunggu aku," kata Hafsah.Malini mengangguk dan Hafsah menuju ke kamarnya. Gadis itu mandi dan mencoba menghanyutkan masalahnya bersama air yang turun dari tubuhnya. Usai mandi Hafsah kembali ke kamar dan membuka lemari pakaian di sana. Mata indah itu tertegun melihat satu set gamis lengkap dengan cadarnya. Tangannya gemetar menyentuh baju dalam yang telah beberapa kali Malini meminta Hafsah memakainya."Sebagai perempuan kita wajib menutup aurat. Semakin tertutup aurat kita semakin mahal dan berakhlak pribadi seorang perempuan. Malu jika sudah berjilbab masih melakukan dosa. Malu sama jilbab jika masih tak beribadah padahal Allah sudah amat baik memberikan kesehatan dan kecantikan pada kita. Berlian harus ditutup agar tak terlihat murahan."Ucapan Malini seketika melintas di benaknya. Sering kali dia meminta Hafsah menutup aurat demi keselamatan dirinya. Keselamatan dari pandangan lelaki dan api neraka
Hafsah menarik napas panjang dengan kepala berdenyut merdu. Ternyata lelaki itu bukan berasal dari Kalimantan. Gadis itu menutup laptop lalu bersiap untuk ke butik miliknya. Siang ini dia ada acara pertemuan dengan model baru yang akan memakai rancangannya di sebuah hotel.Hafsah bersiap masih dengan pakaian yang sama. Gadis itu melaju dengan mobil menuju hotel yang tak jauh dari kediamannya. Sesampainya, dia parkir di tempat khusus yang telah disediakan. Dua pegawainya telah menunggu di sana."Pak Gio?" Sapa Hafsah mengangguk sopan pada suami Malini itu.Lelaki itu menatap tajam seolah menelisik siapa yang memanggilnya. Aryan yang juga ada di sana menatap tersenyum."Hafsah, Pa," jelas Aryan menunjuk gadis didepannya."Masyaallah, Hafsah! Ini kamu?" katanya tak percaya tapi dengan raut wajah bahagia, "saya pangling lihat kamu. Berasa menatap berlian.""Nah lihat kan? Kamu semakin mempesona dengan hijab dan cadar ini," goda Aryan membuat Hafsah langsung menunduk.Dua pegawainya juga t
Maher duduk tepat di hadapan Hafsah, gadis itu merasa hatinya berdegup kencang saat Maher memandangnya dengan mata yang penuh cinta. Dia menundukkan kepala, merasa wajahnya panas. Hafsah tidak bisa menatap calon suaminya langsung, merasa bahwa dia akan meleleh jika dia melakukannya. Maher tersenyum dan mengangkat wajahnya dengan jari-jari yang lembut."Apa yang salah?" tanya Maher dengan suara yang lembut."Hey! aku memantaumu!" teriak Hanan dengan keras.Maher tertawa sambil menggelengkan kepala, merasa bahwa dia tidak mendengarkan Hanan dan memilih untuk tidak menjawabnya. Dia hanya menatap sang pujaan dengan mata yang berbinar merasa bahwa dia sedang terapung di awan cinta. Perlahan dia memundurkan jemarinya.Maher tersenyum dengan lembut, "aku cinta kamu," katanya dengan suara yang penuh cinta.Hafsah merasa hatinya meleleh, ada sesuatu yang hangat dan lembut tengah menyeruak di sana, gadis itu ingin mengungkapkan bahwa dia tidak bisa menahan perasaannya lagi. Tangannya terkep
"Setiap orang punya masa lalu, Hafsah. Aku juga." Maher melirik Hanan yang berdiri tak jauh darinya. Lelaki itu tengah bicara melalui sambungan seluler pintar miliknya."Aku bukan menyesali ini, Maher. Tapi rasanya sakit sekali ketika diabaikan oleh ibu kandung sendiri dan ditolak oleh ayah yang telah membuat aku ada," ungkap Hafsah menangis."Jangan menangis, Hafsah. Aku mohon," pinta Maher dengan tangan menggantung di udara ingin menghapus air mata itu tapi dia merasa sungkan karena Hafsah bukanlah mahramnya.Mahram sendiri dalam Islam adalah seseorang yang haram dinikahi karena hubungan kekerabatan, perkawinan, atau persusuan. Mahram juga bisa berarti laki-laki yang dianggap dapat melinduni perempuan. Mahram juga terbagi dua, yaitu mahram muabbad dan mahram qhairu muabbad.Mahram muabbad, yaitu orang yang haram dinikahi selamanya. Contohnya, orang tua kandung, saudara kandung, saudara sesusuan, dan mertua. Sedang mahram ghairu muabbad, yaitu orang yang haram dinikahi untuk sementa
Maher menatap Hafsah."Niat baik tidak boleh ditunda-tunda, Hafsah. Pernikahan adalah hal baik, maka mari kita menikah dua hari lagi." Maher menatap Hafsah yang menunduk sekilas lalu menatap Hanan dan Halimah."Aku tahu kamu pasti bertanya siapa Lavina dan Rania. Aku akan jelaskan!" Dia menatap Hanan. "Biarkan kami pergi berdua!""Tidak bisa!" jawab Hanan tegas."Kita akan tetap pergi bersama tapi kami akan menjauh dari kalian. Bicaralah di tempat yang aman, misal di cafe atau taman," ujar Halimah tersenyum. Maher mengangguk dan kembali mengganti pakaiannya, begitupun Hafsah. Setelah itu dia meminta beberapa diperbaiki dan minta diantar besok ke apartemennya. Adnan dan Vass berbagi tugas. Sementara anak buahnya yang lain bertugas menjaga keamanan, ada yang memesan makanan serta minuman. Pernikahan tertutup hanya di hadiri oleh beberapa orang rekan bisnis saja. Meski kabar dia akan menikah sudah langsung tersebar di sosial media dengan cepat. Sebagai seorang pengusaha muda yang sukses
Tawa Maher meledak seketika. Dia menatap kakak iparnya dengan bahu terguncang. Bahkan Hafsah mengulum senyum melihat tingkah dua lelaki itu. "Cari pacar sanaaa!'' ujarnya setelah tawanya mereda."Dasar Payah!" balas Hanan meninggalkan Maher dan memilih duduk di sofa dekat Halimah.Salah satu pegawai meminta Maher mencoba baju untuk pernikahannya. Lelaki itu menuju ruang ganti dan mencoba jas dengan warna hitam serta dalaman kemeja putih. Seorang pegawai lelaki membantunya dan Maher menatap pantulan dirinya di cermin. Seulas senyum terbit dari bibirnya. Ada binar bahagia yang tersirat dari matanya. Meski memakai jas bukanlah hal yang asing baginya, tapi kali ini jas hitam dengan kemeja putih menampakkan aura yang berbeda dari lelaki berusia tiga puluh tahun itu.Maher keluar dari ruang ganti dan menghampiri Hafsah yang tengah berswafoto bersama Halimah dan juga Hanan. Lelaki itu tersenyum dan menyebut nama Hafsah dengan lembut membuat perempuan itu menatapnya."Masyaallah kalian tam
Gio menatap Maher dengan mata memerah dan tajam. Tangannya terkepal erat dengan gigi saling beradu hingga menimbulkan bunyi. Lelaki itu maju dengan tegas dan tangan terkepal erat. Meski begitu, Maher tak gentar, dia tetap berdiri dan membalas tatapan kakak iparnya. Bahkan tatapan itu lebih tajam dan mengiris jantung."Bertindak sopanlah, Maher! Aku kakak iparmu! Suami kakakmu!" katanya pelan nyaris berbisik."Kamu ayah dan suami yang gagal, Gio! Lelaki pecundang yang hanya bermodalkan wajah dan kekayaan yang bermodalkan keberuntungan saja! Aku sangat membencimu dan tidak akan pernah memaafkanmu!" Maher menoleh ke samping seraya berdecih dan menarik napas. "Apa yang kamu pikirkan saat bersenang-senang dengan perempuan itu? Tentu kamu melupakan kakakku yang tengah hamil anakmu dan kamu menciptakan anak lain dari perempuan selingkuhanmu. Menyenangkan bukan saat kamu menikmati banyak perempuan sementara di rumah kamu punya yang setia dan tak kalah cantik dari selirmu!""Cukup, Maher! Kamu
Mobil membawa Hanan dan Hafsah menuju bandara Sukarno Hatta. Menjemput Halimah yang datang bersama Puti-asistennya. Sepanjang perjalanan Hafsah berpikir tentang pernikahannya kelak. Dia belum sempat bicara banyak dengan Maher karena Hanan selalu menganggunya. Hatinya gelisah membayangkan akan masuk kekeluarga besar Gio Adelardo yang mana dia adalah ayah kandung Hafsah. Ayah yang menolak mengurus dan mengakuinya sebagai putri.Tiba di bandara, mereka langsung parkir lalu duduk menunggu kedatangan Halimah. Tak lama sosok perempuan sepuh itu keluar bersama Puti dengan banyak barang. Halimah tampak anggun dengan gamis dan jilbab instan lebar dengan menenteng tas mahal di tangan kirinya."Selamat datang di Jakarta, Omaa!" Hafsah merentangkan tangan dan memeluk Halimah dengan erat dan hangat."Oma sering ke sini kok," katanya mencium kening sang cucu lalu masuk kedalam mobil.Hafsah bergelayut manja di lengan sang Oma. Sedangkan Halimah mengusap kepala sang cucu dengan lembut sambil memb
Maher membeku, tangannya gemetar dan suaranya melembut. Lelaki itu bingung harus jujur ataukah tetap diam dan tidak menjelaskan siapa perempuan yang akan dinikahinya. Tapi dia yakin, cepat atau lambat Malini akan mengetahui atau dia sendiri yang akan mengenalkannya pada keluarganya bahwa Hafsah adalah perempuan yang dia cintai saat ini."Nanti Teteh akan tahu! Akan kukenalkan jika sudah sah menjadi istriku nanti. Tapi dia gadis yang baik. Percayalah ... pilihanku tidak salah," jelas Maher dengan penuh keyakinan.Malini menghela napas panjang. "Baiklah, Teteh tidak akan memaksa!" "Aku tutup, Teh. Mau lanjut kerja," jelas Maher sambil mematikan sambungan telepon dengan kakaknya."Ya Allah semoga Maher bertemu dengan perempuan yang baik, yang bisa menerima segala kekurangannya, yang siap menerima masa lalunya," bisik Malini menutup wajah dengan kedua tangan.Malini kembali ke ruangan di mana Aryan di rawat dan masih dipantau dokter. Dia tersenyum lalu mengecup kening sang anak. Aryan m
"Aku sudah mengambil keputusan." Hanan menghela napas sambil menatap keduanya bergantian. "Hafsah akan resign sampai dia sah menjadi istrimu. Setelah kalian sah menjadi suami istri terserah kalian, aku juga akan kembali ke Padang. Tapi kali ini ... sebelum kamu berjabat tangan dengan mensahkan Hafsah dengan wali hakim. Aku tidak bisa membiarkan kalian berdua. Pahamilah!" katanya menatap Maher serius."Ikutlah pulang denganku, kita akan ke apartemen dan menyusun barang-barangmu dan menemui designer ternama untuk baju kalian nanti. Kamu fokuslah bekerja sebelum masa cuti honeymoon dan sebelum nikah! Banyak persiapan dan waktu semakin menipis."Maher akhirnya pasrah dan menerima keputusan Hanan. Lelaki itu tak bisa mencegah kepergian Hafsah pulang bersama kakaknya. Menemui klien pun terpaksa ditemani oleh yang lain dan untuk sementara waktu posisi Hafsah digantikan oleh Reo. Lelaki yang ditunjuk sebagai sekretaris meski dia belum ahli desain seperti Hafsah tapi Maher mencoba memberikan k
"Please, Hanan, jangan seperti ini. Di sini aku pemilik perusahaan jadi aku yang berhak memutuskan kontrak karyawan. Kamu gak berhak!" jelas Maher menghadang mereka."Jadi ini alasanmu tidak memberikan Hafsah ruangan sendiri?" tanya Hanan menatap Maher.Maher menunduk gelagapan. Matanya tak fokus sementara Hanan terus menatapnya dengan tatapan menghunus jantung. Dua lelaki itu saling serang melalui tatapan dan sikapnya. Meski pada akhirnya Maher menegakkan tubuh agar tampak tak kehilangan wibawa di hadapan karyawannya."Perhatian semua!" katanya bertepuk tangan, "minggu depan saya akan menikah dengan Hafsah! Hari tanggal dan waktunya bisa kalian lihat di website perusahaan nanti. Kalian harus datang tapi tidak perlu membawa hadiah. Cukup datang dan doakan saja!"Karyawan menggeleng frustasi dan penuh kecewa. "Pak, Kenapa harus Bu Hafsah? Kami juga mau!" celetuk salah satu karyawan dengan berderai air mata, "anda menghancurkan harapanku.""Hafsah ini bukan asal kenal yang saya tarik j