Tanpa membuang waktu, empat pria bertubuh kekar dan bersenjata tajam langsung maju menyerang Hanan dan Maher. Namun, bukannya merasa takut, dua lelaki itu malah tersenyum miring menantikan momen yang telah lama ditinggalkannya.Tidak ada yang tahu bahwa keduanya tanpa saling memberi tahu mereka dulunya adalah seorang yang amat ditakuti. Namun, kali ini terpaksa kembali ke dunia itu ketika ada orang yang berniat buruk kepada perempuan yang amat dicintai versi mereka.Maher langsung mengamati dua pria yang langsung mengelilinginya dengan mengayunkan tongkat dan senjata tajam. Sementara debu dan daun kering berterbangan akibat kesekan kaki di tanah membuat cahaya lampu mobil menjadi temaram.Salah satu lelaki berbaju kemeja putih menerjang lebih dulu, mengayunkan tongkat dengan penuh emosi. Namun, Maher dengan cepat menghindar dengan memiringkan tubuh ke kanan hingga serangan mengenai angin."Sialan!" teriaknya kembali menyasar perut tapi Maher menendang tangannya hingga tongkat terjat
Sonu dan satu lelaki menghindar dengan mundur ke belakang saat melihat satu temannya tumbang. Malam gelap tanpa cahaya semakin mencekam dengan angin yang bertiup bak malaikat maut yang siap menjemput pulang.Sonu berdiri dengan goyah, nyalinya mulai ciut, tapi orang bayarannya masih setia ingin menyelesaikan tugasnya menghabisi Hanan dan Maher."Matilah kalian!" teriak lelaki itu menyerang Maher dengan menggunakan senjata tajam.Maher pun bergeser lalu menendang tangan lelaki itu hingga senjatanya terjatuh. Namun, lelaki itu mengeluarkan pisau dari balik sepatunya dan menyabetkan ke arah perut Maher hingga dia mundur dengan satu kaki terangkat dan tangan terentang ke depan lalu tangan kanan mengayun indah melepaskan satu senjata yang tersimpan di bawah siku hingga menusuk perut lelaki itu."Aakhh!" teriaknya merasakan sesuatu mengalir dari balik bajunya.Hanan dan Maher saling menatap lalu mendekati Sonu dengan wajah dingin."Aku tetap tidak akan meminta maaf! Kamu menyebabkan aku dip
"Aku salah dan aku khilaf saat itu." Gio menatap dengan menggeleng. "Aku sedang hamil Aryan saat itu," jelas Malini mengusap air matanya. Gio maju dan langsung memeluk perempuan yang selalu setia selama ini padanya. Mengerjakan kewajibannya meski dia sendiri sibuk sebagai dosen. Malini tidak pernah mempercayai pelayan untuk mengurus suaminya. Demi bakti sebagai seorang istri, Malini begitu menghormati suaminya. Aryan yang berdiri di balik tirai begitu terpukul mendengar kenyataan itu. Sedari kemarin dia menahan diri agar tidak bertanya lebih lanjut karena takut membuat ibunya sedih. Namun, kenyataannya Malini sudah tahu semua kebenaran itu. Aryan mundur dan duduk di atas ranjang dengan memegang jantungnya. Dua perempuan yang sangat dicintainya terluka oleh satu orang lelaki yang selalu dihormatinya. Aryan benar-benar kecewa yang sangat dalam untuk pertama kali dalam hidupnya. "Hafsah ... Mama!" bisik Aryan merebahkan diri diatas ranjang lalu menutup seluruh tubuhnya dengan seli
"Sudah, Hanan!" ujar Halimah tersenyum dan mengusap lengan Maher."Dia yang mulai, Oma!" adu Maher memasang wajah memelas.Hanan berdecih, "sekarang dia merayu Oma!""Istirahatlah, Maher, Hanan! Kalian pasti lelah dan masih banyak yang akan dikerjakan hari ini kan?" Halimah tersenyum menatap kedua lelaki seumuran itu."Aku akan kembali ke apartemenku. Pagi aku akan ke sini lagi. Please!" "Iya, sarapan di sini, ya. Hafsah akan memasak untukmu," jelas Halimah dan Hafsah menatap neneknya."Gak usah, Oma. Pesan aja nanti. Aku gak mau Hafsah masuk dapur. Kasihan dia harus bangun pagi hanya untuk hal yang tidak penting," jawab Maher tersenyum menatap pujaannya.Maher melangkah mendekati Hafsah dan Hanan langsung menghalangi dengan merentangkan tangan."Aku pulang, Beb!" ucap Maher menyikut perut Hanan yang langsung menangkisnya.Hafsah tertawa begitupun Halimah. Mereka pulang dengan kembali ke setelan awal. Padahal baru saja berkelahi dan saling melindungi dari serangan musuh. Tidak ada ya
"Aku selalu fokus dengan urusan dan perkataanku. Tapi kamu mengacaukannya!" balas Maher kesal dan langsung mematikan telepon.Seketika tawa Hanan meledak melihat layar ponsel Hafsah langsung redup. Dia duduk di sisi adiknya sambil menatap dan terus tertawa. Padahal dia hanya iseng saja dan merasa senang mengerjai Maher, tapi lelaki itu langsung menanggapinya dengan serius."Hanan, jangan terus mengerjai Maher. Belajarlah untuk menghormati dia dan merelakan Hafsah menikah dengannya. Dia lelaki yang baik. Oma tahu kecemasan kamu," ujar Halimah menatap cucu lelakinya.Hanan menarik napas lalu menatap Hafsah. Gadis itu pun menatap kakaknya dengan lembut dan tersenyum. Lelaki itu menarik tangan Hafsah, memeluknya erat. Hanan memejamkan mata dengan berdoa agar dia bahagia di pernikahannya."Aku sangat menyayangimu, Hafsah. Maaf sejak kecil tidak bisa membelamu. Maafkan aku," bisik Hanan penuh penyesalan.Hafsah mengangguk sambil mengusap punggung kakaknya."Aku tidak pernah menyalahkan, A
"Lavina?" Maher menatap tajam seolah dia sangat membenci bahasan itu."Iya," jawab Lukman tetap menatap lawan bicaranya."Jangan seperti perempuan, Pak. Aku rasa pernikahanku tidak ada maslahah dengan Lavina. Datanglah esok jika anda sudah menerima undangan pernikahanku," ujar Maher."Lavina sangat mencintaimu, Maher. Dia rela menceraikan suaminya hanya demi kamu!" ungkap Lukman.Maher menarik napas panjang dan dalam. Keheningan menyergap ruangan full AC itu. Sementara Lukman tetap berdiri menunggu jawaban dari Maher yang seolah tak punya jawaban dari pertanyaannya. Lelaki itu menatap penuh harap bahwa jawaban Maher sesuai keinginannya."Saya sudah jelaskan pada putri, Anda. Saya harap Anda paham dan Saya tak harus mengulanginya. Keputusan saya tepat dan bulat tak bisa diganggu gugat. Saya dan Lavina teman dari masa SMA sampai kuliah. Tidak ada cinta antara kami. Hanya teman! Jelaskan padanya bahwa saya akan menikah dengan gadis pilihan yang sangat saya cintai." Maher menatap sekilas
"Aku menuruti keinginannya karena ini wajar. Dia mencintaimu dan pantas bersanding denganmu, Maher! Lavina dan kamu telah lama seling kenal maka sudah seharusnya kalian menikah!" jelas Lukman menatap Maher dan Hanan hanya menyimak saja."Panggil satpam!" titahnya pada Reo yang langsung bergerak."Jangan sampai sisiku yang lain bangkit karena kecerobohanmu, Lukman. Pergilah!" bisik Maher dengan tatapan seperti kilat membuat Lukman terpaksa mundur dan memilih pergi."Siapa dia?" tanya Hanan menatap kepergian Lukman yang disambut oleh dua satpam di pintu ruangan Maher."Papa Lavina!" jawab Maher menuju mejanya.Hanan menarik bibir ke samping sambil mengangkat kedua bahunya. Dia tahu ada sisi lain dalam diri Maher yang selalu dia redam saat emosi. Hanan pun tak berkata lagi selain duduk di hadapan Maher. "Apa kita bisa bicara sekarang?" tanya Hanan duduk lebih tegap lagi.Maher mengangguk."Maher, aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu yang sangat penting," kata Hanan dengan suara
Mobil terus melaju menuju sebuah salon milik temannya Maher. Dia fokus ke layar ponselnya menanyai Hafsah yang sedang perawatan di rumah. Sementara Hanan asik berkirim pesan dengan teman wanitanya. Aku pikir dia tidak normal! Ternyata dia kelewat normal.Maher melirik Hanan sesekali sambil menatap foto Hafsah. Setelah itu mobil berhenti dan Adnan membukakan pintu untuk keduanya. Hanan menatap bangunan dengan tatapan biasa. Dia penasaran salon seperti apa yang dipilih oleh calon adik iparnya.Maher mendorong pintu dan langsung disambut oleh lelaki dengan syal di lehernya. Tangannya terangkat lembut dengan sorot mata manja menatap kedatangan Maher."Akhirnya yey datang juga kemari! Aaa senengnya eyke!" teriaknya merentangkan tangan menyambut Maher."Bersikap normal, Aldi!" titah Maher menatap tajam, "atau kututup salonmu!""Ih garang pisan kamu mah!" balasnya berusaha menormalkan sikapnya."Aku ingin segala macam perawatan yang ada di sini, aku mau nikah! Besok!" jelas Maher membuat
Adnan terjaga karena dering ponsel yang begitu nyaring di sisinya. Lelaki itu masih di apartemen lama milik Maher, dia bangkit dan menatap layar dengan mengusap mata, mengusap dan berjalan ke jendela menyibak tirai, membiarkan cahaya masuk menyinari kamarnya."Ada apa?" tanyanya menatap langit biru."Perempuan itu kabur, Boss!" ungkap anak buahnya."Apa!" Adnan terperanjat dan berpaling dengan cepat, "bagaimana bisa!" "Tiba-tiba ada asap setelah itu kami semua pingsan. Saya memeriksa botol yang dilempar ternyata asap bius, Boss. Perempuan itu kabur saat kami pingsan," jelasnya."Cari Lavina! Temukan dia atau sesuatu yang buruk akan terjadi!" Adnan mengusap wajah dengan kasar."Baik, Boss!"Adnan duduk dengan cemas tapi otaknya terus berpikir. Lavina bukan gadis lemah seperti yang Maher pikirkan. Lavina bukan gadis lima tahun lalu yang begitu mengharapkan dan siap mati untuknya. Sekarang ada seseorang yang membantunya untuk balas dendam."Bagaimana cara memberitahu, Tuan. Apa kutelep
"Maher," rengek Hafsah mendadak mendayukan suaranya."Ah, merduanya suara itu menyebut namaku." Maher menyentuh dada dan memejamkan mata sambil tersenyum membuat Hafsah tersipu malu."Mandilah!" titah Hafsah sambil menyodorkan handuk baru ke hadapan suaminya.Maher menarik pergelangan tangan Hafsah hingga gadis itu menabrak dada bidang lelaki tinggi putih itu. Hafsah terkesiap dan langsung memeluk Maher karena takut jatuh membuat Hafsah memejamkan mata. "Maher." Hafsah berusaha melepaskan dekapan suaminya tapi Maher tetap mempertahannya."Aku selalu menggenggam angin saat Hanan memelukmu. Berharap waktu cepat berlalu dan tiba di mana aku dan kamu halal. Kini ... aku akan selalu memelukmu. Tidak akan kubiarkan Hanan memelukmu," katanya dengan tegas."Dia kakakku," kekeh Hafsah membuat Maher mengangkat wajahnya."Aku tahu," katanya tersenyum, "tapi aku akan balas dendam padanya. Tenang saja aku sudah mengundang Hanan dan oma untuk makan siang. Sekalian perkenalan rumah baru kita.""Ma
Suara desir angin dari balkon bertiup samar hingga menggoyangkan tirai. Menyebarkan wangi dari aroma lilin yang berkelip manja di sudut ruangan."Malam ini ... aku Rajanya," bisik Maher, suaranya terdengar rendah tapi cukup menggema di ruangan yang hanya ada mereka saja.Hafsah merasakan jemari Maher menyentuh pundaknya. Menariknya dalam kehangatan yang belum pernah dirasakan selama ini. Hafsah menahan napas saat Maher mengikis jarak antara mereka. Hafsah hanya bisa diam, tidak bisa melawan"Aku membelenggumu dengan cinta dan kesetiaan, Hafsah. Malam ini dan seterusnya aku dan kamu menjadi kita. Aku akan menjadi pelindung dan penjagamu, Istriku. Aku akan selalu menjadi garda terdepan dalam hidupmu," bisiknya seperti mantra yang mengalun indah sekaligus membunuh keberanian Hafsah untuk menatap suaminya.Hafsah menunduk dan membeku saat bayangan Maher tertangkap di mata indahnya. Napasnya berembus di permukaan kulit membuat bulu kuduknya berdiri. Hafsah ingin lari saja tapi kakinya sepe
Langkah kaki Maher mendekat menyongsong Hafsah yang masih menatap dalam diam. Hafsah menoleh dan langsung panik saat melihat Maher berdiri di depannya dengan sorot mata penuh kelembutan dan cinta. Menatap tersenyum.Hafsah menunduk dengan meremas jemarinya. Dia merasa gugup saat tangan besar itu menarik jemarinya yang lentik. Hafsah menoleh ke samping saat Maher menariknya lebih ketengah. Menampakkan Hafsah seutuhnya di antara cahaya lilin yang berkelip tertiup angin.Maher menatap Hafsah dengan mata menyipit. Dadanya berdegup lebih kencang dan kakinya gemetar. "Hafsah, kamu?" Maher menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lelaki itu mengangkat dagu istrinya agar lebih tegap lagi."Aku tidak percaya ini, Hafsah?" ujar Maher mengitari Hafsah dengan keterkejutan yang tidak bisa disembunyikannya.Tampilan Hafsah mirip dengan malam itu. Malam di mana dia berani duduk dipangkuan Maher dengan rambut panjang dan dress yang lebih pendek meski yang dipakai saat ini lebih pendek da
Aryan mengumpat kesal karena panggilannya diabaikan. Aryan masuk ke dalam mobil dan menatap layar ponsel yang masih menampilkan notifikasi panggilan telepon yang diabaikan oleh Maher. Tak patah semangat, dia kembali menekan nomor Maher dengan cemas tapi juga kesal.Aryan merasa kesal dan kecewa. Dia tidak mengerti mengapa Maher mengabaikan panggilan telepon darinya. Apakah dia tidak ingin berbicara dengan aku? Apakah dia tidak peduli dengan perasaanku?Aryan memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada lelaki yang tengah tersenyum bahagia menyambut kedatangan Hafsah pasca dirinya usai mengucapkan ijab kabul. Aryan berharap dia akan membalas dan menjelaskan mengapa dia mengabaikan panggilannya.Tapi Adnan hanya diam menyimpan ponsel di saku jasnya."Tidak apa-apa, Oma. Aku hanya ingin tahu mengapa kamu tidak menjawab panggilanku," tulisnya lalu mengirimkan pesan kepada Maher.Tapi hingga beberapa jam kemudian, lelaki yang dipanggil Oma atau Om Maher itu masih belum membalas pesan darin
Hafsah mengangguk dengan menggigit bibirnya. Bersiap untuk segala kemungkinan yang akan terjadi malam ini. Maher melepaskan jarum pengait di kerudung Hafsah. Satu persatu dengan pelan tangan itu menarik jarum dan meletakkan ditempat khusus di meja rias yang telah dipenuhi bedak milik Hafsah.Azan ashar berkumandang membuat Hafsah secara reflek menghentikan pergerakan tangan Maher."Kita salat dulu," katanya menatap suaminya."Sendiri-sendiri dulu ya. Aku merasa belum pas takut salah," jelas Maher."Pelan-pelan kita belajar bareng. Gak papa kita coba," ajak Hafsah meyakinkan suaminya yang mengangguk juga pada akhirnya."Tapi mukenaku," bisik Hafsah menyadari dia tidak datang dengan membawa satu barang apa pun.Maher mengusap pipi itu untuk pertama kalinya membuat Hafsah membeku merasakan sesuatu dalam dirinya mengalir lebih cepat. Lelaki itu melangkah menuju walk-in closet. Tak lama dia kembali dengan mukena putih di tangannya."Ini," katanya menyodorkan kehadapan Hafsah, "pakailah!
Maher menatap pantulan dirinya dicermin. Dia tampak gagah dengan balutan jas hitam serta rambut yang tertata rapi. Berulangkali dia menarik napas guna mengurangi kegugupan. Maher begitu gugup untuk menjalani hari ini."Rasanya menghadapi penjahat tidak segugup ini!" katanya menarik napas.Maher keluar dari kamar melewati kilauan cahaya dan kebahagiaan para tamu undangan. Ruangan dipenuhi bunga-bunga yang wanginya samar terbawa angin tapi mampu menusuk hidung ditambah lampu kristal yang menggantung mewah di langit-langit ruangan. Para tamu tersenyum dan berbisik kagum saat Maher melewatinya. Aura positif begitu menguar dari dirinya. Tampan dan berkelas. Halimah, Hanan, Puti dan Vass tersenyum menikmati pemandangan dua insan yang akan bersatu dalam ikatan suci."Kuharap setelah ini anda selanjutnya, Boss," bisik Vass yang langsung mendapat tatapan tajam dari Hanan. Maher duduk di hadapan penghulu dengan Hanan sebagai saksi dari pihak Hafsah dan Adnan dari pihak Maher. Halimah berdoa
Hayati diam. Dia sadar sebagai ibu sudah sangat keterlaluan kepada putrinya. Namun, di balik sikap keras dan tidak pedulinya, perempuan itu menyimpan luka dan kesedihan yang tidak bisa dibaginya dengan siapa pun. Sejak dia mengetahui hamil Hafsah, suaminya langsung berubah dan menanyakan tentang kehamilan. Hayati yang tidak pernah disentuh suaminya sejak beberapa bulan lalu tiba-tiba hamil tentu saja menjadi pertanyaan oleh suaminya. Suaminya jadi curiga, dingin, dan menolak satu ranjang dengannya. Bahkan saat Hayati jujur bahwa dia telah berselingkuh, suaminya memilih menceraikannya sesaat setelah melahirkan.Hayati menjadi marah dan terhina diceraikan didepan dokter dan perawat yang membantu proses melahirkannya. Namun, mereka tidak tahu penyebab perceraian itu. Andai saat itu Hayati bisa menjaga diri dan marwah rumah tangganya maka segalanya tidak akan terjadi. Di dalam kehidupan sehari-hari dan pergaulan antara lelaki dan perempuan ada batasan dan aturannya dalam Islam. Terutam
"Aryan," isak Malini menutup bibir dengan kedua tangannya."Pemahaman agamaku lemah, Pa. Tapi aku tahu bahwa setetes saja seorang suami membuat air mata istrinya jatuh, maka disetiap langkahnya akan dilaknat oleh para malaikat." Aryan menatap Gio dengan kepala terangkat. "Aku sangat kecewa kepadamu, Papa. Sangat!"Aryan meninggalkan Gio yang membeku dan tidak menyangka akan ucapan Aryan. Selama ini lelaki itu selalu menunjukkan cinta dan hormat padanya. Tak pernah mengatakan hal buruk padanya. Tapi kali ini, Aryan bicara dengan tegas dan kepala terangkat. Lelaki itu menyesali segala perbuatannya tapi segalanya telah menjadi masa lalu yang tidak bisa diubah.Aryan mengambil dompet dan jaketnya di lemari lalu keluar bersama Vino menggeret koper miliknya. Lelaki itu melewati Gio begitu saja. Tapi dia memeluk Malini dan mencium keningnya. Sama setiap kali dia akan pergi, Aryan akan melakukannya. Malini hanya diam dan sedikit mengangguk saat Aryan meminta izin padanya."Aku berangkat, Ma,"